Merodine Vii Presented,
"Troubleful Love"
Warning :
OOC, gaje, abal, typo maybe, pair MiKuo, beberapa figuran tanpa nama, de el el.
Disclaimer :
Merodine Vii belongs to Crypton Media Future and Yamaha Corporation.
.
.
.
Jika suatu hari ku kan berubah,
Akankah ku masih mengenalmu?
Jika suatu hari ku kan berubah,
Apa kau juga akan berubah?
Jika aku tak mau berubah,
Akankah semua akan bertahan?
Jika perubahan itu menyeramkan,
Apakah diam juga menyenangkan?
.
.
.
C.4 "Best friend"
Seorang gadis berambut honey blonde dengan pita putih menggantung di kepalanya berlari menyusuri koridor dan menuju ke ruang kelas sahabat terbaiknya, Hatsune Miku.
"Miku~!" Gadis itu menjerit dengan riangnya sambil masih berlari ke arah sahabatnya itu dan melompat menabrak Miku yang sedang membaca buku.
Gedubrak!
Mereka berdua terjatuh karena gadis tadi terlalu bersemangat. Seisi kelas langsung membantu dua gadis itu berdiri dan merapihkan posisi mejanya.
"Terimakasih, terimakasih. Hihi..." Miku berterimakasih sambil menunduk-nundukkan kepalanya karena malu.
"Maaf telah membuat keributan! Hihi..." Gadis tadi terlihat agak malu juga menabrak Miku sedemikian rupa hingga terjatuh.
Setelah itu, dua siswi ini saling bertatapan. Miku mengeluarkan aura menyeramkan dan gadis tadi mengeluarkan aura sok imut. Dua detik kemudian,
"Riiin~!"
"Mikuuu~!"
Mereka berdua berpelukan dengan mesranya.
"Rupanya, kau sudah keluar dari rumah sakit, ya? Maaf, aku hanya beberapa kali menjengukmu, ya?" Miku manyun di depan sahabatnya.
"Penyakit typusku justru cepat sembuh karena ingin segera bertemu kau dan Len!" Jawab Rin ceria.
"Ngomong-ngomong tentang Len..." Miku mencari-cari Len di seluruh ruang kelasnya.
Len memasuki ruang kelasnya sehabis mengerjai Mikuo di kantin. Wajahnya terlihat sangat puas. Tapi, begitu melihat Rin berada di kelasnya, wajahnya berubah jadi terlihat malas.
Melihat Len memasuki ruang kelas, Rin langsung berlari menuju Len dan bertanya, "Len, kau tidak apa-apa, kan?! A-Apa lukamu parah?!"
"Mikane-san, aku baik-baik saja. Tolong, jangan berlebihan." Len mengacuhkan Rin dan berjalan menuju kursinya.
"Serius?! Ka-Kau bahkan menggunakan tongkat sekarang! Jika sakit, jangan memaksakan diri untuk masuk sekolah, Len!" Rin masih bersikeras bahwa Len membutuhkan perawatannya.
"Sekali lagi ku ulangi, Mikane-san. Aku baik-baik saja. Sana, menyingkir dari jalanku." Len dengan dinginnya mengusir Rin.
"Iya, iya. Tapi, kalau kau butuh bantuanku, bilang saja, ok?" Rin tersenyum.
"Hng." Len hanya merespon sedikit dan lalu duduk di kursinya.
Tak lama kemudian, masuklah Mikuo dengan membawa setumpuk buku. Ia menggerutu kesal sambil menuju ke tempat duduk Len.
"Argh! Kau benar-benar kutu buku terparah yang pernah ku temui! Apa kau akan memakan semua buku ini dan berubah menjadi kepompong, hah?!" Mikuo mengomeli Len.
"Lho, yang bilang aku mau makan siapa? Buku ini untuk dibaca, i-di-ot." Len meniru gaya bicara Mikuo yang mengatai Miku idiot.
"Whatever." Mikuo menahan amarahnya, menyadari tatapan kesal Miku dari kejauhan.
Rin menyadari bahwa cowok berambut toska itulah penyebab kaki Len jadi luka seperti sekarang ini. Jadi, ia berjalan menuju Mikuo, mengambil botol minum seorang siswi, dan menjitakkannya ke kepala Mikuo.
"KENA KAU, ANAK BERANDALAN!" Rin mengamuk, meyerang Mikuo seperti hewan buas.
"Whoa! Ampun! Ampun!" Mikuo melindungi wajahnya sebisa mungkin dari pukulan Rin. Tapi, Rin mengincar bagian lain. Dengan keras, Rin menendang bagian terlarang Mikuo.
Duagh!
Dan Mikuo pun merasakan bintang-bintang yang berada di langit berpindah ke atas kepalanya, kemudian ia tak sadarkan diri.
.
.
.
"Di mana aku...?" Mikuo memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia melihat sekelilingnya berwarna putih. Kemudian, ia tolehkan kepalanya ke kanan dan melihat Miku di sana.
"Miku...?" Mikuo menyipitkan matanya.
"Iya, ini aku. Kita di UKS saat ini, Mikuo." Jawab Miku dengan wajah lega.
Mikuo mengingat apa yang telah terjadi dan langsung melompat dari ranjangnya dan memegangi bagian vitalnya. "APA AKU BAIK-BAIK SAJA?!"
"Kyaaa!"
Nyaris saja Mikuo membuka resleting celananya di depan wajah Miku jika tadi Miku tidak berteriak. Pintu terbuka dan sebuah sepatu melayang ke wajah Mikuo.
"Pervert!" Rin berteriak.
Gedubrak!
Mikuo kembali terjatuh di ranjangnya dengan ceplakan sepatu di wajahnya. Segera Mikuo berdiri dan menggendong Rin, kemudian menyudutkan Rin di dinding.
"Beraninya kau menendang benda kesayanganku! Bagaimana kalau aku tidak bisa membuahi rahim perempuan setelah ini?!" Mikuo memarahi Rin.
"A-Apa yang kau katakan, pe-pervert?!" Rin menyangkal.
"Kau," Mikuo menunjuk bagian vitalnya. "Menendang 'anu'ku, kan?!" Mikuo menuduh Rin.
"Pervert! Hewan kotor, turunkan aku! Kau meracau, bicara porno! Turunkan aku!" Rin meronta-ronta.
Bugh.
Miku menjitak Mikuo dengan sebuah bantal, khawatir Mikuo berpikir jauh lebih parah daripada ini.
Mikuo menghentikan aksinya. Melihat Mikuo diam, Rin menjedotkan kepalanya sendiri ke kepala Mikuo hingga Mikuo jatuh duduk. Mikuo ingin membalas pelakuan Rin, tapi belakang kerah bajunya dipegangi oleh Miku.
"Dengarkan dulu, perv- eh, Mikuo." Miku menahan Mikuo.
"Apa?" Mikuo masih menatap kesal pada Rin.
"Yang kau alami sebenarnya bukan ditendang pada bagian vitalmu, tolong mengerti." Ucap Miku pelan. Miku sebenarnya agak heran juga, bagaimana cara Mikuo mendapatkan dugaan bahwa Rin menendang bagian vitalnya.
"Eh?" Mikuo terduduk di lantai, bingung.
"Yah, tadi Rin datang kepadamu dan memukul kepalamu dengan kursi hingga kau pingsan. Itulah yang sebenarnya terjadi." Sambung Miku.
"Jadi, aku bisa memiliki anak?" Mikuo bertanya dengan polosnya.
"Iya," Miku menjawab malas, tak habis pikir dengan jalan pikiran Mikuo.
"Baguslah..." Mikuo menghela nafasnya lega.
"Makanya, jangan asal tuduh, hewan kotor!" Rin berniat menendang punggung Mikuo, tapi Miku melemparnya dengan bantal hingga terjatuh juga di lantai seperti Mikuo.
Mikuo menoleh dan menatap Rin. "Siapa dia?" Tanya Mikuo pada Miku.
"Perkenalkan," Miku berjalan dan membantu Rin berdiri. "Namanya Mikane Rin, sahabat terdekatku."
Selanjutnya, Miku meraih tangan Mikuo dan membantunya berdiri. "Nah, Rin. Ini adalah siswa yang bertanggung jawab atas kondisi Len. Namanya Satzune Mikuo."
Mikuo dan Rin tak mau berjabat tangan karena sama-sama kesal. Miku mengelus-elus rambut Rin dan berkata, "Mikuo tak seburuk yang kau pikirkan, kok."
Rin menatap Miku dengan tatapan heran dan mulut ternganga. Rin menjawab, "Kalau kau yang bilang begitu, sih, ya, aku percaya, deh."
Lagi-lagi Mikuo jadi terheran dengan Miku. 'Kenapa Rin bisa jadi langsung percaya begitu saja pada Miku?'
"Hei, jangan geer. Selama ini, Miku selalu bisa membedakan mana orang baik dan mana orang jahat. Kalau ia bilang kau baik, aku sebagai sahabatnya, tentu saja akan percaya. Mengerti?" Rin memperingatkan Mikuo.
Mikuo menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap ke luar ruang UKS.
"Tidakkah sebaiknya kita kembali ke kelas?" Tanya Mikuo.
"Sekolah sudah berakhir, Mikuo. Sekarang waktunya kegiatan ekskul." Miku menjawab. Mikuo mengerutkan keningnya.
"Selama itukah aku pingsan?" Mikuo penasaran dengan lamanya ia pingsan tadi.
"Kami bahkan nyaris membawamu ke rumah sakit karena kau tak bangun-bangun. Untung saja, Rin anak dokter, jadi ia tahu kalau kau hanya pingsan saja, tak terlalu parah." Miku menunjuk sahabatnya yang kini sedang menepuk-nepuk dadanya sendiri, bangga.
"Apa yang perlu dibanggakan, huh? Kau kasar, tak berkeperimanusiaan, liar, buas, tak terkendali, menyeramkan, dan pendek." Mikuo habis-habisan mengatai Rin.
"HEH! Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri, tuan pembuat celaka?" Rin maju selangkah dan menatap nyolot pada Mikuo.
"Seandainya kau tahu, cowok ayam itulah yang dengan semangatnya minta diceburin ke sungai waktu itu!" Balas Mikuo.
"Sudah mencelakakan Len, kini kau juga memanggilnya ayam, hah?!" Rin berniat memukul Mikuo dengan kursi lagi kalau tidak ditahan Miku.
"Sudah ah, kalian ini bertengkar terus. Lebih baik, ikut ke ruang musik saja, yuk?" Miku menengahi perkelahian Mikuo dan Rin.
"Ayo, deh!" Rin menjawab semangat. Sementara, Mikuo terlihat bimbang.
"Kau sendiri, bagaimana, Mikuo?" Miku bertanya sambil tersenyum.
Mikuo sebenarnya ingin sekali ikut. Tapi, ia takut irama melodi Miku membuatnya terhanyut dan terbawa suasana hingga mencium bibir Miku lagi. Yang ia takutkan adalah, Rin sedang bersamanya.
"Aku titip salam saja pada Kagamine ayam, aku pulang duluan karena ada tugas dari orangtuaku." Jawab Mikuo.
"Sayang sekali... Aku baru mau kau mendengarkan lagu ciptaanku yang paling baru," Miku manyun.
"Lain kali, deh. Sorry, ya?" Mikuo ingin menepuk kepala Miku tapi batal karena dipelototi oleh Rin.
"Yaudah, deh. Aku pergi dulu, ya, Mikuo? Jaa nee!" Miku pun berjalan sambil menggandeng tangan Rin. Setelah agak jauh, Rin berbalik dan mengacungkan jari tengahnya kepada Mikuo.
Mikuo sweatdrop dan membalas dengan mengacungkan jari tengahnya juga. Rin mendengus lalu kembali menatap ke depan, sepandangan dengan Miku.
Mikuo masih berada di ruang UKS. Dia duduk di ranjangnya dan menghela nafasnya sesaat, merenungkan jumlah benturan di kepalanya dalam sehari ini. Bisa saja ia jadi idiot gara-gara kepalanya terus dihajar seharian ini?
"Aku harus jaga jarak dengan Mikane Rin itu, sepertinya..." Gumam Mikuo. "Tapi," ia terdiam sebentar.
Merasa malas menggantunginya, ia kembali merebahkan diri di ranjang dan bergumam kembali.
"Sepertinya, dia sangat menyukai si ayam, deh... Apa yang spesial dari Len coba...? Kenapa ia suka sampai sebegitunya...? Lebay," decak Mikuo.
Kembali ia renungkan seluruh waktu yang pernah ia lalui dan ia sadar bahwa tak ada yang memperdulikannya seperti Rin yang memperdulikan Len. Bahkan, teman-temannya pun meninggalkan dirinya saat Len nyaris meninggal pada malam itu. Dibandingkan dengan teman-temannya, Rin malah bisa percaya sepenuhnya pada Miku. Seakan-akan, Miku tak pernah dan tak akan berbohong kepadanya. Mikuo berpikir, jika saja dirinya punya satu sahabat seperti Miku, apakah hidupnya akan berubah? Tapi, berubah jadi seperti apa? Membosankankah?
.
.
.
Rizuka: Haha, agak gaje ya, chapter ini *sweatdrop*
Ririn: Bocoran dikit, deh. Chappie selanjutnya, ada adegan kissing lagi!
Chimi: Rizuka gila ciuman -_-
Rizuka: Abis, karakter Mikuo di sini tuh gimanaaa gitu~ xD
Michi: Ok, sekian dulu segmen bacotannya! Hihihi... Readers, Michi minta review, yaaa? Arigatou!
