MOCHI JIMIN
PARK JIMIN AND BTS MEMBERS
HUMOR. ROMANCE.
PART 4 : JIMIN IN NAMJOON'S EYES
FCKBYEOLOUS
2017
.
.
Kim Namjoon baru saja akan pulang ke apartementnya ketika Yoongi meneleponnya dengan singkat dan padat. Tipikal Yoongi sekali suka memerintah dan tidak suka di bantah. Ia hanya mengatakan 'ke apartemenku sekarang' tanpa tetek bengek yang lain.
Namjoon hanya menghela nafas. Jika Yoongi meneleponnya berarti itu sangat-sangat penting. Entah menyangkut tugas mereka atau proyek mereka, Namjoon tidak tahu dan ia memutuskan untuk tetap pergi ke apartemen Yoongi.
Yang paling Namjoon sesali, kakinya terkilir karena kemarin ia jatuh di lantai kamar mandi. Sialnya lagi apartemen Min Yoongi itu berada di lantai 17. Ia hanya bisa menyumpahi Yoongi dalam hati.
Ketika tiba didepan apartemen Yoongi ia memencet bel dengan tidak sabaran. Seorang pemuda manis muncul dari balik pintu. Ia memakai kaos putih kebesaran yang lengannya menutupi hingga ke jemari mungilnya. Ia tersenyum sangat ramah pada Namjoon.
"Namjoon Hyung, masuk lah. Yoongi hyung ada didalam." Ucapnya sambil memberi jalan masuk untuk Namjoon.
Sesaat Namjoon terpukau melihat penampilan pemuda manis itu, hingga ia bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
"Namjoon Hyung baik-baik saja?" Jimin memiringkan kepalanya bingung. Ia memperhatikan Namjoon yang tampaknya baru saja sadar.
"Ah iya, aku baik-baik saja. Terima kasih, Jim." Namjoon mengulas senyum lembut dan masuk ke apartemen Yoongi.
Ia melihat Yoongi yang sibuk dengan laptopnya. Raut wajahnya yang datar tidak bisa dibaca Namjoon. Tetapi satu hal yang Namjoon tahu. Yoongi sedang kesal.
"Ada apa Hyung?" Namjoon berjalan sedikit pincang kearah sofa didekat Yoongi duduk. Ia mengintip monitor laptop Yoongi sebelum menatap pria pucat itu.
"Kau menjual lagu yang kita buat?" Suaranya pelan, tapi Namjoon bisa melihat urat-urat ditangan Yoongi mengencang.
Alis Namjoon bertaut bingung. "Apa yang kau maksud dengan menjual?"
Yoongi menyerahkan kertas yang Namjoon ingat adalah lagu yang ia buat dengan Yoongi. Lalu menyusul sebuah kertas yang sampulnya asing dimata Namjoon. "Tugas kita di tolak karena sama persis dengan punya Kim Jiwon."
Namjoon terdiam mencerna semuanya. "Kenapa.. bisa?"
Sangat cepat, tangan Yoongi meraih kerah baju Namjoon dan menariknya hingga Namjoon menunduk kearah Yoongi. "Satu-satunya bajingan yang menyimpan salinan filenya adalah kau. Katakan, apakah aku salah menuduhmu?"
Belum sempat Namjoon memberi pembelaan, sebuah tangan melingkupi jemari Yoongi yang menarik kerah baju Namjoon. Park Jimin dengan mudah melepaskan tangan Yoongi dari Namjoon.
"Hyung tenangkan dirimu. Dengarkan dulu penjelasan Namjoon Hyung." Jimin duduk disebelah Yoongi dengan kedua tangannya menggenggam tangan Yoongi yang terkepal.
Sesaat Namjoon bersyukur Jimin berada disekitar mereka. Walaupun Namjoon tahu sebenarnya Jimin lebih takut pada Yoongi yang sedang marah. Ia bisa melihat tangan Jimin yang bergetar. Ia juga tidak berani menatap Yoongi dan memilih bersembunyi dibahu Yoongi.
Namjoon menggigit bibir bawahnya melihat tingkah Jimin. Ia seperti melihat bocah kecil yang sedang bergelayutan pada Yoongi. Membuat Namjoon bahkan lupa dengan Yoongi yang sedang marah padanya.
"Jelaskan." Tuntut Yoongi.
Mata Namjoon bergulir menatap Yoongi. Ia tahu benar Yoongi menuduhnya karena ia memang pernah menjual lagu mereka ke agensi besar ternama di Seoul. Tetapi kali ini ia tidak tahu apa-apa.
"Aku memang menyimpan salinan filenya. Tetapi aku tidak berniat menjualnya hyung." Namjoon menarik nafas, ia sebenarnya kesal dituduh tanpa bukti seperti ini. Tetapi ia tidak ingin ikut tersulut emosi dan berakhir bertengkar dengan Yoongi.
"Kau yang berteman dekat dengan Jiwon."
Namjoon membenarkan. "Ya, dan aku dekat dengan semua orang dikelas kita."
"H-hyung." Jimin menginterupsi percakapan mereka. Ia mengangkat kepalanya dari bahu Yoongi dan memainkan jemari Yoongi yang ia genggam. "Dimana Namjoon Hyung menyimpan filenya?"
Namjoon tidak bisa fokus pada pertanyaan Jimin. Ia terfokus pada wajah Jimin yang sepertinya ketakutan karena Yoongi bahkan tidak melunakkan ekspresinya. Ia tampak lucu. Seperti seseorang yang tersesat. Tapi lucu. Namjoon tidak bosan memandangi Jimin.
"Namjoon Hyung?" Sekarang Jimin menatapnya.
Namjoon gelagapan dan ia memasang tampang bingungnya. "Ya?"
"Dimana Hyung menyimpan filenya?" Jimin menggigit bibir bawahnya. "Tugas Jimin juga pernah dicuri dan itu karna kelalaian Jimin sendiri."
"Aku menyimpannya dengan sangat baik diflashdisk milikku. Tidak mungkin ada yang..."
Yoongi yang sedari tadi diam menatap Namjoon. "Ada apa?"
Namjoon memucat. "Aku menghilangkannya." Ia mengusap wajahnya frustasi. "Sialan Kim Jiwon. Aku akan menghajarnya."
"Tidak perlu, tugasnya juga ditolak." Yoongi mendengus. "Lagipula aku sudah mematahkan satu dari dua gigi kelincinya."
"Hyung~" Jimin menggoyangkan lengan Yoongi. "Hyung bertengkar dengan Jiwon?"
"Tidak."
"Hyung bohong!" Jimin mengerucutkan bibirnya. Ia sudah tidak ketakutan lagi seperti tadi. "Jangan berkelahi terus hyung."
Namjoon bisa melihat linangan air disudut mata Jimin. Namjoon tersenyum gemas melihatnya, Jimin dalam kondisi apapun selalu menggemaskan. Andai saja Jimin kekasihnya, ia akan menjaga Jimin dengan sepenuh jiwa raganya.
Yoongi menghapus airmata Jimin dan mengecup dahinya. "Aku bertarung dengannya di ring. Jadi aku tidak bertengkar dengannya." Lalu ia mengecup bibir Jimin.
Namjoon tak tahan melihatnya, jadi ia berdiri dan memutuskan untuk pulang. "Aku akan bertanggung jawab atas kelalaianku hyung. Aku akan mengganti tugas kita."
Namjoon berjalan keluar dari apartemen Yoongi. Tak lupa ia mendengus karena ia diabaikan oleh Yoongi yang sibuk menciumi wajah Jimin.
Ah, Namjoon ingin juga menciumnya.
.
.
[1] maaf aku menistakan Jiwon k.a Bobby, tapi itu karna aku suka dia banget-banget.
[2] spoiler; chap depan Jin ofc.
[3] chap ini kebanyakan konflik, gila aku kecewa sendiri bacanya.
[4] sebenernya udah 4 ff yang aku bikin buat Namjoon, tetapi cuma ini yang selesai.
[5] bonus omake dibawah.
.
.
Namjoon menghela nafasnya setelah tiba diapartemen. Kakinya ia naikkan ke meja sedangkan kepalanya menengadah keatas.
Denyutan dikakinya semakin menyakitkan, ia menyesal membuat kakinya pincang. Namjoon menghela nafas beberapa kali sebelum merasakan sepasang tangan melepas sepatunya. Namjoon yang kaget langsung duduk dengan tegap.
"Jangan membuat kakimu lebih sakit dari ini." Suaranya mengalun merdu ditelinga Namjoon.
Pijatan kecil terasa menyenangkan dikaki Namjoon hingga membuat pria itu melebarkan senyumannya. "Aku senang kau disini sayang."
"Tentu saja. Aku kekasihmu." Kim Seokjin tersenyum lembut sebelum menarik kaki Namjoon hingga pria itu memekik kesakitan.
.
.
.
Part 4; End.
