Unworthy

Bagian 4

Setiap orang yang ada di kelas memandangnya. Siswa kelas lain datang dan berkerumun di pintu kelasnya. Joo Haknyeon yang mulai memucat setiap kali berpapasan dengannya (sejak insiden kecil kemarin) kini terlihat seperti melihat pencabut nyawa.

Semua itu terjadi hanya karena seorang Kang Daniel datang menemuinya tanpa disangka-sangka.

Jihoon tak bisa membantah kalau ia sedikit terkejut. Sebenarnya, sangat terkejut. Ia bahkan tak bisa berkata-kata selama beberapa saat. Mulutnya sedikit membuka dan matanya melebar. Orang-orang di sekitarnya mulai berbisik satu sama lain, mencoba menebak mengapa siswa paling populer di sekolah repot-repot datang menemui Park Jihoon yang tak pernah terlihat berinteraksi dengannya.

(Karena mereka tak tahu Jihoon telah mengacaukan acara Daniel sebelumnya.)

"Jihoonie."

Ekspresi Jihoon langsung berubah masam. Sepersekian detik kemudian, ia menggantinya dengan sebuah senyum. "Maafkan aku. Aku hanya terkejut karena sunbae bersedia membuang waktuberharganya untuk datang menemui orang sepertiku."

"Justru karena aku tak bisa menolak permintaan orang sepertimu, Jihoonie," balas Daniel sambil tertawa kecil. "Kau memintaku datang, bukan?"

Ujung mata Jihoon berkedut. "Kalau aku tak salah ingat, bukankah sunbae yang punya kepentingan denganku?"

"Aku rasa itu juga berlaku untukmu, Jihoonie." Senyum Daniel tak berubah, tapi ada sesuatu yang terasa ganjil di balik senyumnya itu. Jihoon tak menjawab. Ia sadar bahwa mereka sama-sama punya sesuatu untuk dibahas bersama, karena itu ia tak menyangkalnya. Ia sendiri masih belum menemukan alasan mengapa Daniel ingin berbicara dengannya. Ia tak boleh bertindak seenaknya, terutama karena ia tak tahu apa-apa soal pemuda itu.

Tapi itu bukan berarti ia harus diam saja. Jihoon memiringkan kepalanya, lalu berkata, "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, sunbae?"

Hal itu mengundang kerutan samar di dahi Daniel, "Kau yakin ingin membicarakan hal itu disini?"

"Tentu saja~" jawab Jihoon ceria, sadar bahwa semua mata di kelas tertuju padanya. "Bukankah sunbae datang kesini untuk membahas mengenai apa yang kemarin sunbae lakukan?" tanya Jihoon dengan ekspresi polos. "Kupikir tak masalah kalau kita membicarakannya disini, karena kita hanya akan berdiskusi soal caramu bersenang-senang, bukan begitu, Sunbae?"

Jihoon tak berharap Daniel akan kehilangan kontrol seperti apa yang terjadi pada Taedong tadi siang. Ia hanya ingin melihat topeng sok ramah yang selalu ditampilkan pemuda itu hancur di depannya.

Tapi reaksi Daniel jauh melebihi apa yang ia bayangkan. Laki-laki itu terkekeh, tangannya bertumpu di pinggang. "Kau benar," jawabnya, membuat mata Jihoon memicing. Tidakkah Daniel takut kalau perbuatannya akan terbongkar di hadapan orang banyak? Ia mengatakannya dengan begitu bebas, tanpa ragu sedikitpun. Hal itu membuatnya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya Daniel rencanakan?

"Baguslah. Apa yang pertama-tama akan kita bahas, Sunbae?"

"Hm…" Daniel mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Mukanya mengerut, seolah sedang berpikir dengan keras. "Ah," katanya sesaat kemudian dengan wajah cerah, "Ceritakan padaku bagaimana kau mengetahui cara bersenang-senangku."

"Apa?"

"Aku penasaran dengan caramu bertanya tentang itu, Jihoonie. Menarik sekali, kurasa?" lanjut Daniel, tersenyum sangat lebar.

Dan Jihoon tersedak salivanya sendiri.

Tunggu.

Daniel tidak mungkin tahu tentang… tentang itu, kan? Jihoon yakin tak ada siapapun kecuali mereka berdua saat itu di kelas. Mustahil Daniel tahu apa yang terjadi, kecuali seseorang tak sengaja memergokinya dan kemudian melaporkannya ke—

Tunggu sebentar.

Mata Jihoon melesat ke spot terakhir kali ia melihat Joo Haknyeon. Laki-laki itu masih berdiri di tempat yang sama, di dekat pintu yang terhalang kerumunan siswa. Ia terlihat ingin sekali keluar, namun kerumunan siswa itu tak membiarkannya lewat dengan mudah. Keringat membanjiri wajahnya yang tegang.

Ketika ia menyadari pandangan Jihoon padanya, Haknyeon tersentak dan menundukkan kepalanya sedalam mungkin, seakan-akan hal itu bisa membuat wajahnya tersembunyi.

Oh. Oh. Entah Haknyeon yang berinisiatif untuk memberi tahu Daniel atau Daniel yang memaksanya mengatakannya, Jihoon tak terlalu memikirkannya. Topeng anak baik yang telah ia bangun sejak awal masuk akan hancur kalau berita soal caranya mengancam Haknyeon tersebar ke setiap siswa, padahal Jihoon sudah berjanji pada Ayahnya kalau ia tak akan membuat masalah di sekolah.

Jihoon menatap Daniel yang masih memplester senyum di bibirnya, terlihat terhibur dengan reaksi yang diperlihatkan Jihoon sesaat sebelumnya. Dasar sialan. Pantas saja laki-laki itu terlihat tenang, karena ia punya kartu Jihoon dalam genggamannya.

Jihoon mengumpat beberapa kali dalam hati sebelum mengernyitkan kening. Tangannya terangkat menuju pelipisnya, dan ia memejamkan mata. "Oh, God," desahnya, memijat pelipisnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menghembuskan napas panjang.

Daniel mengangkat sebelah alisnya, "Kau baik-baik saja, Jihoonie?"

Jihoon membawa kedua telapak tangannya untuk menutupi mukanya. "Aku… entah kenapa aku tiba-tiba merasa pusing, Sunbae."

"Astaga," kata Daniel, terdengar khawatir. "Bagaimana kalau kita ke UKS saja?"

"Aku baik-baik saja, Sunbae," tolak Jihoon, tersenyum lemah.

Daniel menggelengkan kepalanya. "Jangan berbohong," tegasnya. Ia berjalan ke sisi Jihoon, lalu melingkarkan lengannya pada bahu Jihoon dan mengangkatnya berdiri. "UKS bisa membuatmu lebih baik. Ayo."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi-tapian." Daniel mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang mengelilingi mereka. "Maaf, tapi bisakah kalian memberi kami jalan?"

Semua orang serta merta mundur, merapat satu sama lain untuk memberi jalan pada Daniel dan Jihoon. Daniel melempar senyum terima kasih sebelum fokusnya kembali pada Jihoon. "Kau bisa berjalan sendiri, Jihoonie?"

Jihoon memegang pangkal hidungnya dengan ringisan, "Kurasa… ya, aku bisa—" baru saja ia mulai melangkah, Jihoon terhuyung. Ia oleng ke arah Daniel, lalu tak sengaja menginjak kaki pemuda itu dengan keras. Ia melihat Daniel mengernyit sekejap, dan Jihoon mati-matian berusaha untuk tidak tersenyum puas. Orang sakit tak tersenyum seperti itu. "A-astaga Sunbae, maafkan aku."

"Bukan masalah, Jihoonie," balas Daniel ringan. Lingkaran tangannya yang berada pada bahu Jihoon mendadak terasa lebih kuat dari sebelumnya. Jihoon tak terlalu peduli. Mereka berdua berjalan keluar diiringi tatapan bermacam-macam dari siswa lain. Beberapa terlihat mencemaskannya, namun sebagian besar sisanya hampir melihat Daniel seperti seorang malaikat yang lewat di depan mereka.

Tch. Kalau saja mereka tahu bagaimana Daniel sebenarnya, apakah mereka akan tetap bersikap seperti itu?

Jihoon membiarkan Daniel membawanya melewati koridor, menuruni tangga, dan melewati berbagai ruangan yang masih belum Jihoon hapal. Semakin lama mereka berjalan, semakin jarang siswa yang ia lihat. Jihoon menghentikan langkahnya, membuat Daniel ikut berhenti dan memandangnya bingung.

Oke. Jihoon memang belum mengenal lingkungan sekolahnya dengan baik, tapi ia yakin ini bukan jalan menuju UKS. Ini jalan yang sama yang ia lewati ketika ia mencari Woojin kemarin. Jihoon memutar matanya, lalu berkata, "Kemana kau akan membawaku, Sunbae?"

Daniel memberinya cengiran, "Mm... UKS?"

"Kau pikir aku bodoh, Sunbae?"

"Kupikir kau terlalu pusing untuk memperhatikan jalan, Jihoonie," timpal Daniel, melengkungkan senyum. "Aktingmu bagus sekali, omong-omong."

Jihoon balas tersenyum, "Itu kalimat yang seharusnya kau katakan pada dirimu sendiri, Sunbae." Jihoon melirik tangan Daniel yang masih berada pada bahunya, lalu melanjutkan. "Tolong, tanganmu, Sunbae. Aku tak mau membuat seragamku kotor."

"Kotor, eh?" Daniel mengangkat tangannya menuruti Jihoon. "Kejam sekali, Jihoonie."

"Berhenti memanggilku seperti itu," tukas Jihoon, senyum sepenuhnya luntur dari wajahnya. Ia menyisir rambutnya ke belakang, bersandar pada dinding dan melipat tangan. Ia mengangkat dagunya, menampakkan ekspresi jijik yang kentara tanpa segan di wajahnya.

Daniel tertawa, sama sekali tak terkejut dengan perubahan ekspresi Jihoon yang tiba-tiba. "Bukankah Woojin memanggilmu seperti itu kemarin?"

"Aku tahu kau sudah mengumpulkan informasi yang cukup tentangku, Daniel-sunbae."

"Heee~h." seolah ada tombol yang tak sengaja ia tekan, aura Daniel seketika berubah. Laki-laki itu masih tersenyum seperti biasa, tapi ada hal yang tak bisa ia jabarkan dari ekspresi Daniel saat itu, yang membuat Jihoon berkeringat dingin tanpa ia sadari. Intimidasi yang dipancarkan Daniel begitu kuat, menekannya untuk menyerah tanpa perlawanan. Daniel memaksanya berpikir bahwa Jihoon tak akan pernah menang darinya, bahwa Daniel bisa membuat orang bertekuk lutut di hadapannya semudah ia melengkungkan senyum di bibirnya

"Menurutmu mengapa aku mendatangimu, Park Jihoon?" tanya Daniel riang, seolah mereka hanya berbicara tentang cuaca. Tapi Jihoon tak melihat adanya keramahan di balik mata cokelat gelapnya itu.

Daniel berbahaya, Jihoon tahu itu. Otaknya menyuruhnya untuk menyerah, untuk tak macam-macam dengan orang seperti Daniel. Jihoon bisa melihat mengapa laki-laki seperti Taedong dan Sewoon mengikutinya tanpa protes. Ia teringat Woojin yang menyuruhnya untuk tak melibatkan diri, karena sepupunya tahu, bahwa Daniel bukan orang yang tepat untuk dijadikan lawan.

Jihoon menjawab, "Untuk… membuatku tutup mulut?" katanya dengan nada rendah. "Untuk membungkamku agar tak membeberkan rahasia kecilmu itu?"

Daniel menimpalinya dengan kekehan. "Jihoon-ssi, kau membuatnya terdengar seolah aku melakukan kesalahan saja."

"Seolah?" ulang Jihoon, tak percaya dengan apa yang telah didengarnya. "Membuat orang terluka bagimu bukan suatu kesalahan?"

Ada yang salah dengan otak laki-laki itu, batin Jihoon jengkel. Ia seharusnya masuk rumah sakit jiwa. Aku yakin ia pasti punya mayat terkubur di halaman rumahnya.

Daniel memandangnya geli, seakan-akan ia bisa membaca apa yang sedang dipikirkan Jihoon. "Ah, kau sepertinya salah paham, Jihoon-ssi. Maksudku bukan seperti itu," balasnya. "Kami tak melakukan penganiayaan. Kami bermain game."

"Game?"

Laki-laki itu mengangguk kecil, "Kau tahu permainan Master and Slave?"

Otak Jihoon berputar dengan cepat. Master and Slave—Tuan dan Budak. Ia sangat mengenal permainan itu, karena dulu ia dan Woojin sering memainkannya. Mereka mempertaruhkan hal-hal sepele, lalu siapapun orang yang kalah harus mengikuti perintah seharian penuh. Perintahnya tak macam-macam, hanya sekedar mentraktir minuman hingga membantu mengerjakan tugas sekolah.

Namun dalam konteks yang dibicarakan Daniel, permainan itu bukan lagi sekedar permainan.

Jihoon mendengus tak suka, "Jadi hanya karena itu kau bisa membuat orang babak belur sesukamu?"

"Jika seorang budak melakukan kesalahan, bukankah itu tanggung jawab tuannya untuk menghukumnya agar tak mengulang kesalahan yang sama, Jihoon-ssi?" kata Daniel ringan.

Seluruh otot wajah Jihoon mengerut. Ia tak suka bagaimana Daniel memandang sesuatu dengan cara yang kacau. "Kau gila."

"Begitukah?"

"Aku tak mengerti mengapa kau melakukan semua itu, Sunbae."

Daniel bersiul sebelum menjawab, "Bukankah sudah aku bilang kalau itu caraku bersenang-senang, Park Jihoon?"

Jihoon mendelik. "Cara bersenang-senang yang membosankan."

Hening mengambil alih suasana selama beberapa saat. Daniel tak menjawab. Kedua ujung bibirnya perlahan turun ke bawah. Ini pertama kalinya Jihoon melihat pemuda itu tanpa senyum di wajahnya. Mata cokelat-nya terlihat dengan jelas, merefleksikan figur Jihoon yang ada di depannya.

Jihoon bertanya-tanya apakah ekspresi itu menandakan bahwa Daniel telah kehilangan kesabarannya. Ia menunggu, mengobservasi situasi. Mata mereka saling bertubrukan, menilai satu sama lain. Aura Daniel terasa lebih kuat dari sebelumnya.

"Kau bilang caraku bersenang-senang itu membosankan, Jihoon-ssi." Daniel memulai, nadanya rendah dan berat. Jihoon menelan ludahnya tanpa ia sadari. "Karena itu, aku ingin menawarkanmu sesuatu." Ia mengayunkan kakinya mendekati Jihoon. Langkahnya menggema di telinganya. "Ingin bermain game denganku?"

Jihoon hampir mengumpat di wajah pemuda itu. "Kau pikir aku akan mengatakan 'ya' padamu?"

"Tidak. Aku tahu kau akan sulit untuk diajak bekerja sama." Daniel kembali maju satu langkah. Matanya lurus menatap Jihoon. "Tapi kurasa Park Woojin bisa meyakinkanmu, eh?"

Mata Jihoon melebar. "Ap—"

"Aku bisa melepaskan Woojin dari tugasnya, kalau kau mau. Asal kau bisa menghiburku sampai aku bosan, aku tak keberatan."

Jihoon tak tahu Daniel bisa sekejam ini.

"Bagaimana menurutmu?"

.

.

Bagian 4, selesai

a/n: Finally! Maafkan untuk keterlambatan update-nya. Saya harap chapter ini cukup memuaskan hahaha :') terima kasih untuk yang sudah mereview di chapter sebelumnya, saya tak sempat balas tapi saya benar-benar berterima kasih untuk yang sudah menyempatkan memberi kesannya terhadap Fanfic ini~

Anyway, terima kasih sudah membaca~ /tebar wanna one/ kritik dan saran saya terima dengan senang hati~ sampai jumpa chapter depaaan~

-red