Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku
Warning: OOC, Typo (s), EYD masih terus belajar
Pagi hari yang sangat cerah di rumah sakit konoha menampakkan beberapa orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing
"Apa kau sudah gila?" kata Ino sambil sibuk dengan beberapa kertas ditangannya dan tidak lupa mulut yang mengunyah roti sebagai sarapannya.
"Habiskan dulu makananmu itu!" seru Sakura yang tidak kalah sibuk dengan beberapa laporan yang berada di mejanya, Sakura membalikkan satu persatu kertas dalam laporan tersebut dan membacanya dengan teliti.
"Kau tau setidaknya butuh waktu satu bulan bagi wanita untuk mempersiapkan pernikahannya, bahkan meskipun pernikahan tersebut dilangsungkan dengan sederhana" kata Ino setelah menghabiskan roti yang berada di mulutnya dan masih serius memperhatikan kertas-kertas yang berada di tangannya.
"Kalau begitu kau dapat mengatakan pernikahanku di bawah kata sederhana." Kata Sakura sambil menatap Ino yang sedang fokus dengan kertas di tangannya.
"Tidak mungkin, aku mengetahui bagaimana keluarga Uchiha" kata Hinata tiba-tiba sambil menyeruput kopi di tangannya, berbeda dengan Ino dan Sakura yang sibuk Hinata justru terlihat santai pagi ini.
"Seberapa jauh kau mengetahui keluarga Uchiha?" Tanya Ino penasaran dengan apa yang dikatakan Hinata.
"Tidak terlalu dalam hanya saja Naruto kun adalah teman Sasuke" kata Hinata ragu.
"Benarkah!" seru Ino dan Sakura serempak dan bahkan tidak hanya itu Ino dan Sakura segera menghentikan kegiatannya dan segera menghampiri Hinata untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.
Pada dasarnya semua yang berhubungan dengan Uchiha Group merupakan hal yang sangat tertutup dan jarang sekali adanya publikasi dan dapat dikatakan hanya segelintir berita saja yang bisa di dapatkan mengenai Uchiha group jadi jika tidak mempunyai hubungan langsung dengan Uchiha group maka akan sulit untuk mendapatkan informasi tentang Uchiha group.
"Kenapa kau tidak memberi tauku sejak awal?" tanya Sakura sedikit kecewa
"Gomen, aku tidak pernah bertemu langsung dengan Sasuke dan kaliankan juga tau aku dan Naruto juga menjalani hubungan jarak jauh, jadi aku hanya tau sedikit tentang Sasuke" kata Hinata sedikit risih melihat temannya yang sangat fokus pada dirinya.
"Bagaimana bisa mereka berteman?" tanya Ino yang semakin penasaran.
"Entahlah! Selama ini Naruto kun hanya menceritakan hal-hal biasa saja tidak ada yang special karena Naruto kun tidak pernah menceritakan hal-hal yang serius mengenai Sasuke dan mungkin yang paling berkesan hanya panggilan mereka satu sama lain Naruto kun selama ini memanggil Sasuke dengan sebutan Teme" jelas Hinata yang langsung mendapat reaksi tidak menyenangkan dari Ino dan Sakura yang langsung meninggalkan Hinata begitu saja dan kembali pada kesibukannya masing-masing.
"Sakura apa kalian akan menikah diam-diam?" tanya Hinata dengan polosnya
"Entahlah! Aku hanya mengikuti apa yang Sasuke inginkan, lagi pula pernikahan seperti apapun seharunya itu tidak memiliki kesan apapun" kata Sakura pasrah. Mendengar perkataan Sakura justru membuat Ino dan Hinata merasa prihatin dengan nasib temannya itu karena mereka sangat tau bagaimana pernikahan impian Sakura yang sederhana dan penuh cinta.
"Sasuke merupakan President Direktur Uchiha Group jadi sepertinya tidak mungkin jika kalian akan melakukan pernikahan secara diam-diam meskipun keluarga Uchiha sudah terkenal dengan tidak sukanya publikasi, aku bahkan masih ingat bagimana mewahnya pernikahan Uchiha Itachi" kata Hinata berusaha membangkitkan semangat Sakura.
"Wah Hinata tak kusangka kau benar-benar mengikuti berita" kata Ino yang sebetulnya sedikit meledek Hinata. Hinata memang terkesan sangat peduli dengan hal apapun sedangkan Ino memang merupakan orang yang tidak peduli dengan kehidupan orang lain kecuali kehidupan orang-orang yang dianggap penting olehnya.
"Sakura sensei ada yang mencarimu!" panggil seorang perawat tiba-tiba menghentikan percakapan mereka.
"Aku akan segera menemuinya" kata Sakura sambil menutup semua laporan yang sedang dia baca dan segera berlari menuju pintu. Hal serupapun dilakukan Ino dan Hinata yang segera menyusul Sakura dengan hati-hati karena penasaran dengan seseorang yang mencari Sakura.
"Ohayou gozaimasu okasan" sapa Sakura sedikit canggung melihat orang yang mencarinya ternyata Mikoto.
"Ikut denganku!" printah Mikoto segera setelah Sakura selesai menyapanya.
"Gomennasai, hari ini adalah jadwalku tugas" kata Sakura menolak dengan halus
"Hey! Kau meremehkanku? Kau bahkan hanya dokter magang yang tidak memiliki pengaruh besar di rumah sakit ini" kata Mikoto menyindir Sakura. Namun hal tersebut seolah sudah menjadi hal yang biasa bagi Sakura meskipun sedikit menyakitkan namun Sakura hanya bisa menanggapinya dengan tenang.
"Justru karena aku hanya dokter magang jadi aku harus lebih giat untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi" kata Sakura percaya diri.
"Huh! Kau benar-benar! Aku sudah berbicara dengan atasanmu jadi sekarang cepat kau ikut denganku" kata Mikoto yang merasa kesal karena Sakura selalu menjawab ucapannya.
Tidak lagi berniat menjawab Sakura segera berlari menuju ruangannya untuk mengambil tasnya dan sedikit menyiapkan mentalnya karena akan pergi dengan Mikoto. Setelah itu mereka segera pergi meninggalkan rumah sakit menggunakan mobil mewah yang dikemudikan oleh seorang supir yang profesional yang bekerja hanya untuk Mikoto.
"Kau ingin bertanya?" tanya Mikoto yang merasa terganggu dengan diamnya Sakura, tentu saja merasa terganggu karena bagi Mikoto, Sakura merupakan gadis yang sangat cerewet yang mampu membuatnya kaget dengan ucapannya.
"Kemana kita akan pergi?" kata Sakura setelah mendapatkan kesempatan bertanya.
"Menyiapkan pernikahanmu" jawab Mikoto tanpa menatap Sakura langsung.
"Wah apa ini tandanya okasan menyetujui pernikahan kami?" kata Sakura dengan penuh semangat sambil sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Mikoto. Melihat sikap Sakura membuat Mikoto menaikkan salah satu tangannya dan mendorong jidat Sakura yang lebar dengan jari telunjuknya.
"Tentu saja tidak! ini demi nama baik keluarga kami" kata Mikoto yang langsung di respon oleh Sakura dengan tatapan sedikit lemas, tentu saja tatapan tersebut membuat Mikoto merasa puas.
"Ayo turun!" seru Mikoto begitu mereka sampai di sebuah butik yang menyediakan gaun pernikahan yang sangat mewah.
"Rekomendasikan kami gaun terbaik di butik ini" kata Mikoto pada seorang pelayan butik.
Melihat banyaknya gaun pengantin yang sangat indah membuat Sakura merasa kagum, Sakura bahkan tidak henti-hentinya tersenyum melihat gaun-gaun tersebut.
"Sakura! kita tidak memiliki waktu, cepat kau coba gaun-gaun ini!" seru Mikoto yang langsung menyadarkan Sakura dari kekagumannya. Sakura segera menghampir penata rias dan mencoba beberapa gaun.
Drrtttt Drrttttt
Melihat handphonenya yang bergetar Sakura segera mengangkatnya.
"Apa kasan bersamamu?" tanya seseorang di telfon, Sakura tau jelas pemilik suara tersebut.
"Hey! Sasuke, kau ingin membunuhku huh?" tanya Sakura sedikit kesal karena Sasuke mengirim ibunya pada Sakura.
"Kau dimana aku akan segera kesana!" kata Sasuke mengabaikan omelan Sakura padanya.
"Aku tidak tau ini dimana yang pasti di butik gaun pernikahan di pusat kota!" kata Sakura yang semakin frustasi begitu tiba-tiba Sasuke mematikan sambungannya.
"Ishhh menyebalkan" gerutu Sakura kesal atas sikap Sasuke yang selalu mematikan sambungan tanpa membiarkan Sakura menyelesaikan perkataannya.
Beberapa menit kemudian, tidak ada yang berubah dari Sakura, Sakura masih dalam proses mencoba gaun pernikahan sejujurnya Sakura sedikit merasa bosan karena sejak tadi Mikoto selalu menolak gaun yang Sakura coba.
"Yang ini bagaimana Kasan?" tanya Sakura begitu tirai yang menghalanginya dan Mikoto di buka. Berharap Mikoto akan setuju dan mengakhiri kegiatannya untuk mencoba lebih banyak gaun lagi.
"Tidak! terlalu sederhana" kata Mikoto yang tentu saja membuat Sakura sedikit kesal karena seolah di permainkan oleh Mikoto, pelayan kembali menutup tirai tersebut untuk membantu Sakura mengganti gaun yang lain.
"Kasan!" panggil Sasuke segera setelah memasuki butik tersebut.
"Sasuke! Kenapa kau berada di sini?" tanya Mikoto heran melihat Sasuke yang berada di butik karena sebetulnya Mikoto tidak memberi tau kepada Sasuke kalau dia akan membawa Sakura memilih gaun pernikahan.
"Tadi aku menelfon Sakura dan dia memberi tauku bahwa kasan membawanya kemari" jawab Sasuke sambil berjalan mendudukkan dirinya di bangku yang berlawanan dari bangku yang di duduki Mikoto.
"Seingatku aku hanya mengatakan bahwa minggu ini aku akan menikah dengan Sakura, aku tidak ingat bahwa aku meminta kasan untuk membantu menyiapkan pernikahan kami" lanjut Sasuke dengan nada yang santai namun penuh penekanan.
"Meskipun kau tidak memintaku tapi ini merupakan kewajibanku, aku tidak rela jika kau menikah dengan perayaan yang sederhana, apa kau lupa statusmu?" tanya Mikoto sedikit emosi.
"Kasan yang ini bagaimana?" tanya Sakura tiba-tiba menghentikan pembicaraan Sasuke dan Mikoto.
"Sasuke!" Seru Sakura senang karena akhirnya dia bisa bebas dari penyikasaan calon ibu mertuanya.
"YAK! Apa yang kau gunakan huh!" bentak Mikoto begitu melihat gaun yang Sakura kenakan panjangnya diatas lutut Sakura dan ini merupakan gaun pernikahan yang sangat seksi dan tentu saja membuat Mikoto kaget dan merasa kesal. Melihat reaksi Mikoto yang kesal entah mengapa membuat Sakura sedikit senang.
"Aku pilih gaun ini, kurasa gaunnya sangat cocok denganku" kata Sakura sedikit membuat panas keadaan. Sementara Sasuke hanya terdiam menatap Sakura yang terlihat sangat seksi.
"Tidak bisa! Ganti yang lain" kata Mikoto memaksa. "Gaun tersebut hanya akan membuat malu keluarga Uchiha" lanjut Mikoto yang masih kesal dengan Sakura.
"Berapa banyak lagi gaun yang harus kucoba? Pada akhirnya kasan akan menolak semuanya" kata Sakura tidak terima dengan sikap Mikoto.
"Cepat ganti!" printah Mikoto sambil mengalihkan pandangannya dari Sakura karena merasa tidak sanggup melihat Sakura yang menggunakan gaun pernikahan yang sangat seksi.
"Berjanji dulu padaku ini akan menjadi gaun terkhir yang kucoba dan kasan akan setuju dengan gaun ini" kata Sakura yang sejujurnya sebagai cara untuk menghentikan sikap Mikoto yang memang ingin mengerjai Sakura.
"Terserah kau saja!" kata Mikoto yang langsung mendapatkan senyuman dari Sakura.
"Biar kubantu mencari gaunnya" Kata Sasuke sambil berjalan menghampiri Sakura.
"Kau tau ibumu benar-benar membully ku" Ucap Sakura begitu mereka sudah menjauhi Mikoto. Sasuke yang sedang memilih gaunpun hanya tersenyum tipis.
"Itulah alasanku meninggalkan rapat dan segera kemari" kata Sasuke santai sambil terus melihat beberapa gaun.
"Kufikir kau sengaja mengirim kasan untuk menyiksaku" kata Sakura sambil berjalan mengikuti Sasuke yang sedang fokus melihat gaun pengantin yang sesekali mengambil gaun tersebut dan mencocokkannya ke tubuh Sakura.
"Apa kau banar-benar akan menggunakan gaun itu jika kasan mengizinkannya?" tanya Sasuke sambil menunjuk gaun seksi yang sedang Sakura pakai.
"Tentu saja tidak, aku hanya kesal karena kasan menolak semua gaun yang kucoba!" seru Sakura sambil menatap Sasuke serius.
"Kenapa? Kau suka dengan gaun ini?" lanjut Sakura sedikit menggoda Sasuke.
"Kau tau banyak pria yang mengatakan aku memiliki kaki yang indah" kata Sakura sambil mengalihkan pandangannya menuju beberapa gaun yang terpajang di butik.
"Cih, gaun itu sama sekali tidak pantas buatmu! Apa kau tidak menyadari bagaimana bentuk tubuh mu huh!" kata Sasuke menyindir Sakura sambil menunjuk gaun yang sedang Sakura pakai dan menatap rendah Sakura, sementara Sakura langsung menatap tajam Sasuke tidak terima.
"Kalau begitu tidak perlu repot-repot memilihkan gaun untuk tubuhku ini, ambil saja secara acak toh hasilnya sama!" kata Sakura yang sedikit ngambek dengan Sasuke dan mengambil kasar gaun yang berada ditangan Sasuke.
"Hey! Aku belum selesai memilih" kata Sasuke berusaha mencegah Sakura yang pergi membawa sebuah gaun yang sebetulnya belum menjadi gaun pilihan Sasuke.
"Kasan kami pilih gaun yang ini!" kata Sakura begitu menghampiri Mikoto yang sedang fokus membaca majalah.
"Kau harus mencobanya!" seru Mikoto sambil menatap Sakura.
"Tidak perlu karena sesuai perjanjian ini akan menjadi gaun terakhir dan kasan sudah menyetujuinya" kata Sakura masih dengan tangannya yang membawa gaun yang tadi dia rampas dari tangan Sasuke.
"Yak! Apa semudah itu memilih gaun pernikahanmu huh?" tanya Mikoto sedikit kesal dengan sikap Sakura yang sangat keras kepala.
"Gomennasai, semua yang sedang kulakukan bukanlah hal yang nyaman untuk kulakukan, jika kasan tidak menyukainya kasan boleh membawa Karin untuk menggantikanku memilih gaun pernikahanku" Sakura membungkukkan tubuhnya hormat sementara Mikoto dan bahkan Sasuke kaget mendengar apa yang dikatakan Sakura.
"Apa kau bermain-main denganku?" tanya Mikoto dengan penuh penekanan.
"Tidak, aku hanya menghargai usaha Kasan yang ingin melibatkan Karin seperti apa yang terjadi saat makan malam keluarga" kata Sakura masih dengan sikap yang sangat hormat pada Mikoto.
"Ikut aku!" kata Sasuke tiba-tiba sambil menarik lengan Sakura kasar. Namun Sakura berusaha menghentikan apa yang Sasuke lakukan.
"Aku akan mengganti pakaianku dulu!" kata Sakura.
"Apa kau marah padaku?" tanya Sasuke begitu mereka berada di sebuah taman kota.
"Aku tidak memiliki alasan untuk marah padamu!" jawab Sakura tegas tanpa menatap wajah Sasuke. Sakura justru berjalan menghampiri sebuah bangku yang berada di taman.
"Kau mungkin tidak memiliki alasan untuk marah padaku tapi faktanya kau sedang marah, katakan saja kalau kau sedang marah!" kata Sasuke yang berusaha menyamakan langkahnya dengan Sakura.
"Kau benar, aku marah!" seru Sakura tiba-tiba sambil menghentikan langkahnya dan menatap Sasuke.
"Kau tau! Aku meninggalkan pasienku di rumah sakit karena aku ingin menghargai ibumu tapi faktanya apa? aku meninggalkan pasienku hanya untuk hal yang sia-sia, memilih gaun pernikahan untuk sebuah pernikahan yang tidak memiliki arti, bukankah suatu yang berlebihan jika harus meninggalkan pasienku di rumah sakit yang sedang berjuang bertahan hidup!" lanjut Sakura penuh dengan kekesalan. Melihat Sakura yang marah entah mengapa membuat Sasuke merasa bersalah.
"Gomen" kata Sasuke tiba-tiba yang tentu saja membuat Sakura sedikit kaget.
"Ah sudahlah! Aku hanya terbawa emosiku saja, sampaikan permintaan maafku kepada ibumu, kalu begitu aku pamit" kata Sakura sambil segera berjalan menjauhi Sasuke
"Biar kuantar!" kata Sasuke sambil berlari mengejar Sakura.
"Tidak perlu!"
"Ayolah Sakura!" Sakurapun akhirnya menurut apa yang di katakan Sasuke.
Hari demi hari berjalan sangat cepat, tibalah saat dimana pernikahan Sasuke dan Sakura berlangsung.
Seperti pada umumnya calon pengantin di hari pernikahannya, Sakura juga merasakan gugup dan juga keraguan atas pernikahannya, entahlah Sakura terkadang berfikir bahwa apa yang Sakura lakukan merupakan sebuah kesalahan yang tidak seharusnya dia lakukan karena biar bagaimanapun pernikahannya merupakan sebuah kebohongan bagi semua orang tapi di sisi lain Sakura berfikir bahwa hanya ini satu-satunya cara untuk membuat Sakura memiliki alasan untuk selalu bertemu dengan Sasuke karena tidak dapat dipungkiri bahwa Sakura masih mencintai Sasuke meskipun Sasuke sudah tidak mencintainya.
"Apa kau baik-baik saja Sakura?" tanya Ino yang tiba-tiba masuk ke ruangan rias Sakura bersama Hinata.
"Tidak" jawab Sakura jujur dengan nada yang sangat pelan namun masih dapat di dengar oleh Ino dan Hinata.
"Apa kau yakin bahwa kau tidak akan menyesali semua ini Sakura?" tanya Hinata sambil mendekati Sakura yang sedang duduk manis menatap cermin besar yang tergantung di tembok.
"Tidak! kurasa aku akan menyesalinya!" seru Sakura sambil menundukkan kepalanya dan menghembuskan nafas berat.
"Aih! Jika kau tidak memiliki kepercayaan diri lalu buat apa kau melanjutkan semua ini?" tanya Ino kesal dengan jawaban Sakura yang terlalu jujur.
"Entahlah! Aku hanya berpegangan dengan kebodohanku yang mungkin nantinya akan membawaku ke jurang penyesalan" kata Sakura asal bicara karena terlalu dilema.
Sebagai Sahabat meskipun Ino dan Hinata sudah mengetahui semua alasan dari pernikahan ini namun biar bagaimananpun Ino dan Hinata ingin melihat Sakura yang sedikit berbohong seperti mengatakan 'aku baik-baik saja' atau hanya mengatakan 'tenang saja, kalian tidak usah khawatir' setidaknya dengan kalimat tersebut membuat Ino dan Hinata bisa sedikit rela melihat sahabatnya menjalanin keputusan yang gila menurut Ino dan Hinata, namun sikap Sakura yang saat ini membuat Ino dan Hinata kesal, ingin rasanya menarik Sakura dan membawanya lari.
"Semuanya belum terlambat Sakura jika kau ingin melarikan diri!" kata Ino masih dengan nada kesalnya.
"Semuanya sudah terlambat Ino" kata Sakura pasrah.
"Percaya padaku semuanya belum terlambat!" kata Ino sekali lagi meyakinkan Sakura.
"Ish, meskipun saat ini aku berpegangan pada kebodohanku bukan berarti aku menjadi bodoh" kata Sakura sambil menatap Ino tajam sementara Ino hanya mengernyitkan alisnya tanda tidak mengerti dengan maksud ucapan Sakura.
"Jika saat ini juga aku kabur dari pernikahan ini maka berapa banyak ganti rugi yang harus aku keluarkan untuk mengganti semuanya? Tidak hanya untuk biaya pernikahan ini tapi juga biaya untuk harga diri Uchiha yang secara tidak langsung telah ku injak-injak jika aku kabur dari pernikahan ini!" kata Sakura lemas sambil menundukkan kepalanya dan sedikit mengumpat kesal mengingat apa yang sudah dia lakukan.
"Aku bahkan telah menyombongkan diri di malam pertama bertemu dengan keluarga Uchiha dan tidak hanya itu aku sudah berkali-kali membuat keluarga Uchiha kesal, tidak bisa kubayangkan berapa banyak harga yang harus aku bayar!" lanjut Sakura sambil menghembuskan nafas kasar.
"Berada disini berarti menggali kuburanku sendiri tapi lari dari sini berarti menyiapkan nerakaku sendiri, tidakkah kalian berfikir bagaimana nasibku nanti jika aku kabur dari pernikahanan ini?" Sakura menatap Ino dan Hinata bergantian dengan tatapan melasnya seolah menunjukkan bahwa semua ucapan Sakura merupakan sebuah fakta yang tidak boleh diabaikan.
"Kau benar-benar sial!" seru Ino tidak menyelesaikan masalah dan bahkan terkesan sebagai ledekan untuk Sakura sementara Sakura semakin menghembuskan nafas kesalnya.
"Tenang saja Sakura aku akan membantumu melalui Naruto-kun!" kata Hinata sambil menepuk bahu Sakura.
"Masalah selesai! Sekarang kau bisa pergi Sakura" kata Ino begitu mendengar ucapan Hinata.
"Ish aku bukan akan membantu membayarkan kerugian yang telah kau lakukan tapi setidaknya aku akan membantu lewat Naruto-kun, aku akan meminta Naruto-kun untuk memberi pengertian pada Sasuke agar Sasuke tidak menyiksamu setelah kau menikah nanti!" kata Hinata tidak membantu sama sekali yang justru mendapat tatapan mematikan dari Ino dan Sakura karena secara tidak langsung Hinata setuju dengan fakta yang akan terjadi jika Sakura melarikan diri.
"Ah sudahlah! Membahas hal ini tidak akan pernah selesai" kata Sakura sambil menghembuskan nafas pasrah.
"Setidaknya Sasuke merupakan satu-satunya pria yang aku cintai, jika tidak menikah dengannya aku tidak tau apakah akan ada pria lain yang akan ku nikahi!" lanjut Sakura kali ini dengan sedikit senyuman yang mengembang di wajahnya.
"Tapi dia tidak lagi mencintaimu Sakura!" kata Ino mengingatkan.
"Aku akan membuatnya mencintaiku lagi" kata Sakura penuh dengan keyakinan yang tentu saja disambut dengan senyuman dari Ino dan Hinata.
"Jika kau mengatakan kata-kata tersebut dari awal mungkin aku tidak akan menyuruhmu untuk kabur, tapi aku akan mendukungmu untuk membuat Sasuke mencintaimu lagi!" kata Ino tulus.
Setelah acara pengucapan janji pernikahan selesai acara dilanjutkan dengan pesta pernikahan yang sangat mewah. pernikahan yang tadinya Sakura fikir akan berlangsung sangat sederhana ternyata berlangsung sangat mewah sungguh di luar dugaan, tamu-tamu yang datang sangat banyak dan bahkan sebagian dari mereka merupakan orang penting dan terkenal. Tidak bisa dipungkiri meskipun pernikahan yang sangat mendadak namun sudah pasti akan tetap di hadiri banyak tamu karena mengingat ini merupakan pernikahan Uchiha Sasuke presdir Uchiha Group.
Sejak pesta dimulai Sakura dan Sasuke seolah tidak memiliki waktu untuk duduk mereka terus berdiri menyapa tamu-tamu yang datang.
"Sasuke! Kira-kira alasan apa yang cocok untuk meninggalkan pesta ini?" tanya Sakura kepada Sasuke dengan berbisik, mendengar pertanyaan tersebut membuat Sasuke mengernyitkan alisnya "Kenapa?" tanya Sasuke sambil menatap Sakura heran.
"Kurasa sebentar lagi aku akan pingsan!" kata Sakura dengan wajah melasnya sementara Sasuke hanya menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan yang sukses membuat Sakura sedikit kesal namun sedetik kemudian Sasuke meraih tangan Sakura dan menuntunya untuk duduk di sebuah kursi yang memang disediakan untuk mereka.
Sasuke meraih sebuah gelas yang berisi air putih yang berada di meja depan mereka dan kemudian memberikannya pada Sakura.
"Meskipun sejak tadi aku berada di sampingmu tapi aku masih merasa bahwa aku sedang bermimpi" kata Sakura pelan sambil mengambil gelas berisi air putih yang diberikan oleh Sasuke dan kemudian meminumnya.
"Apa bermimpi dapat membuatmu lelah seperti ini?" kata Sasuke sambil ikut mendudukkan dirinya di kursi sebelah Sakura.
"Apa tidak sayang Sasuke mengelurkan banyak uang untuk pernikahan ini?" tanya Sakura masih dengan nada yang sangat pelan agar tidak ada yang dapat mendengarnya kecuali Sasuke.
"Kau fikir aku ingin mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan ini?" tanya balik Sasuke dengan nada yang sama pelannya dengan Sakura.
"Lalu kenapa harus semewah ini?" tanya Sakura sambil menatap Sasuke yang tidak menatapnya.
"Karena aku Uchiha Sasuke" jawab Sasuke sambil sedikit menyeringai dan menatap Sakura dengan tatapan sedikit menyombongkan diri.
Entah mengapa mendengar ucapan Sasuke membuat Sakura sedikit tidak nyaman, Sakura berfikir bahwa saat ini Sasuke sangat menyukai namanya tidak seperti dulu yang terkesan sangat tidak menyukainya, bukan Sakura tidak menyukai Sasuke yang membanggakan namanya namun Sakura hanya khawatir perasaan bangga Sasuke akan berubah menjadi sebuah kesombongan.
TO BE CONTINUE
