"Seokjin! Seokjin!"

.

.

.

"AAAAHHHH!"

Dua namja tengah bergulingan masuk kedalam rumah Baekhyun dan Taehyung, sampai menyebabkan jendela yang berada di dekat mereka pecah.

Taehyung—masih dalam keadaan kaget—mencoba mengenali siapa yang baru saja memecahkan kaca rumahnya.

Yang berambut coklat itu Seokjin, dan satunya?

"Ayah! Lepaskan kukumu! Ayah! Argh sakit," Seokjin mendesis.

Taehyung terkesiap. "Seokjin!"

Keduanya langsung menoleh, mata Seokjin coklat tua yang ramah—seperti biasa—sedangkan mata namja yang dipanggilnya "ayah" itu berwarna merah darah, seaakan ingin menerkam Taehyung—well itu benar.

"Itukah manusia yang kau bicarakan, hm? Kau ingin melihat ia kujadikan vampir atau kumusnahkan di depanmu, Seokjin?" tanya si "ayah" sarkastik.

Si "ayah" menggeram, membuka kedua mulutnya, sehingga keempat taringnya memajang.

Taehyung kaget, membuka kedua matanya lebar-lebar. "S-Seokjin..."

"Ups, maaf, ya," suara namja yang tak tahu sejak kapan ada di belakang Baekhyun dan Taehyung, merangkul pinggang keduanya dan membawanya pergi dengan kecepatan tak manusiawi.

Taehyung masih menatap Seokjin, sorot matanya kosong. Tadi ia sempat bertatapan dengan Seokjin, dan melihat kekasihnya meringis dan terus menggumamkan kata "maaf" dan "aku cinta padamu" serta "kutemui kau nanti."

.

.

.

"CHAN?! APA-APAAN ITU?!"

Chanyeol menghela napas kesal. "Aku akan menjelaskannya nanti."

Baekhyun menangkap lengan Chanyeol yang sedang menyetir, membuatnya berhenti. "Aku butuh penjelasan sekarang, Chan," bisik Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun dan perlahan melepaskan tangan Baekhyun dari lengannya. "Terlalu rumit untuk dijelaskan dan dimengerti, Baby. Sekarang kita ke rumahku dulu, ya? Aku janji akan menjelaskan segala suatunya padamu dan adikmu nanti."

Mau tidak mau, Baekhyun mengangguk ringan. Chanyeol tersenyum dan mengecup bibir Baekhyun sebelum kembali mengemudikan mobilnya.

.

.

.

Baekhyun sudah tertidur sejak 15 menit yang lalu. Chanyeol dengan fokus tetap menyetir sambil mengumpat setiap saat mobil di depannya terhenti—macet. Sebenarnya rumah keluarga Seokjin tidak jauh, hanya saja ada macet yang menghambat mereka.

"Hyung," panggil Taehyung serak.

Chanyeol melirik Taehyung lewat cermin yang ada di atap mobilnya. "Ah, kupikir kau sudah tidur, Taehyung. Ada apa?"

Taehyung memainkan jari-jarinya. "Hyung... kakaknya Seokjin, ya?"

"Ah iya, aku lupa. Aku Kim Chanyeol, kakak Kim Seokjin," Chanyeol tersenyum.

Taehyung menaikkan bibirnya mengerti. "Seokjin... baik-baik saja kan, hyung?"

"Aku tidak bisa berkata ya ataupun tidak, Taehyung," jawab Chanyeol. "Yang tadi bertengkar dengan Seokjin itu ayah kami—yeah "ayah" dengan tanda kutip.

"Sebenarnya ayah dari awal tidak setuju dari dulu saat aku berpacaran dengan kakakmu, namun setelah aku menjelaskan segala halnya dan aku sudah sangat jatuh cinta pada kakakmu, ayah hanya bisa menyerah. Beliau sebenarnya ingin kami menikah dengan sesama vampir dan/atau seorang wanita.

"Setelah ia tahu Seokjin jatuh cinta juga kepada seorang manusia dan itu laki-laki, emosi ayah tersulut. Ayah biasanya lembut, pengertian, dan ramah. Tapi—sekali lagi—ayah tidak suka jika itu menyangkut tentang anak-anaknya ataupun ibuku."

Taehyung mengangguk bingung. "Jadi, Joonmyun-ssi bisa saja membunuh Seokjin karena hal ini? Karena aku?"

Chanyeol meringis. "Mungkin, tapi ia akan mempertimbangkannya dulu, pastinya."

"Tapi, bagaimana? Bukankah kalian tidak bisa dibunuh? Kalian akan hidup selamanya, kan?" Taehyung masih terlalu kaget dengan seluruh hal ini.

"Seokjin menjadi vampir bukan karena ia berada di ambang kematian, Taehyung," jawab Chanyeol pelan. "Ayah bertemu Seokjin saat ia sedang melakukan dinas pekerjaan ke daerah Cina. Seokjin disukai banyak orang, dan salah satu yang menyukainya adalah ayahku."

Taehyung memotong perkataan Chanyeol, "Tunggu, Seokjin disukai calon ayahnya sendiri? Maksudku—dicintai?!"

Chanyeol tertawa keras dan Taehyung malah mengerucutkan bibirnya. "Bukan, maksudku bukan yang seperti itu." Taehyung hanya meggumamkan kata 'ah' sebelum mengangguk. "Saat itu, Seokjin menjadi direktur muda perusahaan yang sangat sukses kala itu. Ayah juga seorang presdir di perusahaan Cina yang ingin Seokjin ajak bekerjasama.

"Selain ramah dan tampan, ayah juga menekankan bahwa Seokjin itu cerdik, ambisius, konsisten, dan memiliki sense of humor. Yang sebenarnya adalah tipe idaman ayah—sebelum diruntuhkan semuanya oleh ibuku yang langsung membuat ayah jatuh cinta dalam satu lirikan.

"Tapi, sehari sebelum Seokjin kembali ke Korea, berita mengabarkan bahwa direktur muda itu diculik dan dibunuh oleh seseorang yang memiliki dendam padanya. Tapi, tentu saja, itu ayahku.

"Ayah berkata bahwa Seokjin harus dibuat abadi, bagaimanapun juga. Seokjin terlalu sempurna jika hanya untuk hidup dan mati pada akhirnya. Ayah menjelaskan segala sesuatunya tentang vampir, dan Seokjin mengatakan ia ingin menjadi abadi karena ingin bertemu seseorang yang ia cintai yang mungkin berada di zaman lain, padahal saat itu ia baru 26 tahun.

"Hari disaat ayah membawa Seokjin pulang, aku kesal sekali. Firasatku mengatakan bahwa ia akan mencuri seluruh perhatian ibu dan ayah, dan jika ia satu sekolah bahkan satu kelas, ia akan mencuri perhatian teman-temanku. Aku membencinya sampai 50 tahun ke depan.

"Tapi akhirnya aku sadar, meskipun kami abadi, sudah setengah abad berlalu dan zaman sudah banyak berubah. Aku tidak seharusnya membenci adikku sendiri. Mulai saat itu sampai sekarang, aku menyayanginya.

"Tapi satu hal yang baru kuketahui sekitar 5 tahun lalu, keadaanku dan Seokjin berbeda. Aku hidup abadi selama-lamanya tanpa ada syarat, karena aku dijadikan vampir karena aku terjangkit penyakit TBC dan di jam-jam terakhir hidupku, aku baru menyadari bahwa aku juga terkena penyakit miokarditis. Jadi karena saat itu belum ada penawar TBC apalagi miokarditis, ayah menyelamatkanku. Tapi Seokjin dijadikan vampir karena ayah menyukainya, bukan karena murni ia sudah menemui ajalnya atau karena penyakit yang memang menjadikan ia menuju akhirat.

"Ayah 'meminjamkan' sepertiga kekuatannya, awalnya Seokjin lemah tapi lama-kelamaan ia semakin kuat dan duapertiganya sudah terisi sendiri. Tapi tetap saja, jika ayah mengambil kekuatannya kembali, Seokjin akan setengah-sekarat, dan sewaktu-waktu ia bisa saja melemah dan akhirnya mati. Secara harfiah. Ia akan mati sungguh-sungguh."

"Hyung, Joonmyun-ssi tidak mungkin melakukan itu, kan? Ia juga yang berkata bahwa Seokjin terlalu sempurna jika pada akhirnya akan menemui ajalnya. Benar, kan, hyung?" Taehyung berbisik lirih.

Chanyeol meringis. "Aku tidak tahu, Tae. Maafkan aku."

Dan air mata langsung berlarian menuruni pipi Taehyung. Ia takut kekasih yang baru bersamanya selama dua setengah hari harus mati, meninggalkannya sendirian.

.

.

.

"Ayah! Dengarkan aku dulu, ayah!" teriak Seokjin marah.

"AKU HARUS MENDENGARKAN APA, SEOKJIN?!"

Seokjin meringis mendengar teriakan ayahnya. "Aku—maafkan aku. Kita bisa menyelesaikan ini dengan mudah, ayah. Tidak perlu bertengkar."

Sesaat, raut muka Joonmyun melembut—hampir kembali menjadi Joonmyun yang biasanya. Namun tidak sampai 5 detik, wajahnya kembali menjadi garang.

"Tidak bisa, Seokjin," jawabnya marah. "Kau tahu selama ini aku berharap banyak kepadamu tentang masalah pasangan hidup, dan kau memberiku ini sebagai hasilnya?!"

"Aku tidak bisa mengatur ini semua, ayah. Sekarang aku tahu rasanya seperti Chanyeol hyung, seberapa banyak pun kita berusaha menyukai wanita ataupun vampir, tetap saja tidak bisa. Aku tidak punya ketertarikan, sekalipun aku harus mengakui bahwa wanita itu cantik. Namun pada Taehyung, ini berbeda."

Joonmyun terdiam. Ia tahu rasanya seperti itu—tentu saja. Tapi ia tidak mau membiarkan anaknya seperti ini. Perlahan-lahan, ia mendekat. "Baiklah, aku terima ucapanmu. Tapi, sebagai gantinya agar jaga-jaga kau tidak melarikan diri..." Joonmyun mengarahkan telunjuknya ke leher Seokjin, "aku ambil kekuatanku."

"ARRGGGHHH!"

.

.

.

"Astaga!"

Chanyeol, Baekhyun, dan Taehyung yang sedang duduk di sofa putih di rumah keluarga vampir tersebut menoleh, menatap Yixing.

"Ada apa, Ma?" Chanyeol beranjak berdiri dari duduknya, menghampiri Yixing dalam kecepatan tak manusiawi—seperti biasa.

Lelaki berlesung itu menatap Chanyeol takut-takut. "S-Seokjin... aku mendengar teriakannya.."

Mata Chanyeol membulat. "Sial," umpatnya, langsung mengambil mantelnya dan memakainya. "Tae, ikut aku. Ma, jaga Baekhyun dulu ya. Aku pergi dulu."

"Chan, kau mau kemana?" ujar Baekhyun protes.

"Aku tidak akan lama, aku janji."

"Kalau begitu aku ikut denganmu!"

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan memohon. "Terlalu berbahaya, Baek. Aku tak mau kau terluka."

"Lalu kenapa kau mengajak Taehyung jika itu berbahaya, huh? Kau ingin membiarkan adikku mati begitu saja?"

"Demi apapun, Baek, dia pacarnya!" teriak Chanyeol. "Maksudku... dia memang seharusnya menemui pacarnya. Ini haknya, Sayang. Aku juga tidak ingin membahayakan nyawanya—karena itu akan membuatmu sedih dan membenciku."

Taehyung mungil beranjak dan memeluk hyung-nya erat. "Aku akan segera kembali, hyung. Tenang saja," bisiknya, mencoba menenangkan kakaknya itu.

Dan seakan-akan itu adalah mantra yang bisa mempengaruhi semua makhluk hidup, Baekhyun membalas pelukan adiknya. Merengkuh tubuh mungil itu dan tanpa sadar meneteskan airmata di bahu adiknya. Ia tidak boleh kehilangan Taehyung.

.

.

.

"Aggghhh—a-ayah," bisik Seokjin lirih, mencari-cari udara yang terasa semakin sedikit di paru-parunya. Sendi-sendinya kaku, semua organ tubuhnya serasa makin lama makin mengecil.

Joonmyun menatap anak bungsunya dengan tatapan yang bermacam-macam. Ia kasihan, merasa bersalah, dan ingin segera menolong anak bungsunya, namun amarah lebih menguasainya. "Kau yang membuatku melakukannya, Seokjin."

Lalu Joonmyun berlari meninggalkan Seokjin yang kesakitan—dalam tubuhnya, dan juga perasaannya. Seokjin merasa ajalnya akan datang, dia pasrah saja, berbaring di daun-daun kering. Tapi, ia ingat satu nama.

"Taehyung!" teriak Seokjin. Ia baru saja ingin bangun dan mencari kekasihnya, sebelum kaki, tangan, dan punggungnya seperti meleleh—ia lumpuh. Napasnya tersengal-sengal lagi, semua organ tubuhnya serasa dimakan dan hampir habis semuanya. "Maafkan aku."

.

.

.

"Hyung, kau tahu dimana Seokjin, kan?" tanya Taehyung was-was.

Chanyeol berpikir sebentar. "Bukannya aku tahu dan tidak tahu, tapi aku akan mencobanya."

"Caranya?"

Chanyeol tersenyum. Ia berhenti berlari dan menurunkan Taehyung yang tadi di gendongannya. Kepalanya terangkat sedikit, dan hidungnya mengendus-endus udara di sekitar dirinya ataupun yang jauh dari dirinya.

Taehyung yang melihat itu memiringkan kepalanya bingung. "Hyung, aku bau ya?" tanyanya.

Lelaki yang lebih jangkung tertawa. "Bukan kau, aku menemukan Seokjin," katanya. "Ayo pergi."

.

.

.

Yixing menggigit bibir bawahnya gelisah. Sudah tepat 3 jam sejak ia tidak bertemu Joonmyun dan itu membuatnya ketakutan akan kehilangan suaminya tersebut.

"Eomoni, ada masalah?" Baekhyun bertanya.

Yixing tersenyum. "Tidak, Baekhyunnie. Aku hanya takut saja. Aku ke toilet dulu, ya?"

"Mm," senyum Baekhyun sambil mengangguk.

Ibu dari keluarga Kim itu tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi dan menutupnya.

"Maafkan aku, Xing."

"Oh astaga!" lonjak Yixing dengan suara pelan. "Joonmyun! Tidak tahukah kau yang namanya pintu?!"

Joonmyun meringis. "Aku serius. Kau harus berjanji bahwa kau akan memaafkanku."

"Bisakah aku marah padamu?"

"Aku mengambil kekuatanku yang ada di tubuh Seokjin," helanya.

Mata Yixing melebar, mulutnya terbuka kaget. "Kau. Apa?"

"Mengambil kekuatanku."

"Joonmyun! Kau sudah gila?!" jerit Yixing.

Joonmyun menatap Yixing. "Kau sudah berjanji, Xing," satu helaan napas lagi. "Dan, ya, aku memang sudah gila. Emosiku melonjak. Maafkan aku."

"Lalu? Seokjin?"

"Ia di hutan. Terakhir kali kulihat Taehyung dan Chanyeol sudah mencari dan mungkin sekarang sudah menemuinya."

Yixing menatap Joonmyun. "Ia harus meminum darah orang yang disayangnya kan untuk tetap hidup?" Joonmyun mengangguk pelan. "Kalau begitu, korbankan Taehyung."

"Ap—Xing!"

"Aku hanya ingin anakku hidup, Joonmyun!"

"Taehyung akan menjadi anakmu juga, Xing!"

"Kalau Taehyung tahu ia pasti akan mengorbankan dirinya juga. Lalu, apa masalahnya?"

"Masalahnya adalah Seokjin sudah sayang pada Taehyung dan jika tidak mendesak ia tidak akan mau meminum darah kekasihnya setetes pun."

"Maka buatlah ia terdesak."

"Kim Yixing!"

"Kim Joonmyun," kata Yixing, "buat Kim Seokjin merasa terdesak dan meminum darah kekasihnya sendiri agar ia bisa hidup."

.

.

.

"Seokjin! Seokjin! Kim Seokjin!"

"T-Taehyung?" bisik Seokjin. "Aku sudah mati. Aku benar-benar sudah mati."

Taehyung memberengut kesal. "Jangan bilang begitu, bodoh! Jangan mati!"

Bahu Seokjin terangkat sedikit.

"Ada yang terasa sakitkah?"

Seokjin menatap Taehyung lama. Mungkin sekarang adalah saat terakhir ia bisa melihat kekasihnya dari dekat. "Semuanya," jawabnya pelan sambil tersenyum.

Taehyung mengiggit bibir bawahnya. "Hyung, bagaimana ini? Aku tidak ingin dia mati!"

"Seokjin, ingat tidak tadi ayah mengambil apa darimu?" Chanyeol bertanya.

"Semuanya hyung. Jiwa... kekuatan... perasaan."

"Gawat."

"Eh? Ada apa, hyung?" tanya Taehyung.

Chanyeol menatap Seokjin lalu Taehyung. "Ia membutuhkan darah manusia dalam pasokan yang banyak untuk bisa memulihkan keadaannya. Semakin sayang ia pada manusia itu semakin besar kemungkinan ia sela—"

"Aku bersedia!"

"Aku tidak akan menerimanya!" bantah Seokjin.

TBC

Waha._. ini udah selesenya lama tapi baru di post sekarang._. maap atuhlah ya maap. Sama merry Christmas dan happy new year buat kalian semua3

Review, yaaa~?

Love,

Me