Tittle : Love or Lust

Author : Momo

Genre : Romance, Drama, etc.

Rate : M

Warnings! : Yaoi, OOC, typos, LEMON, Rape scene, HardYaoi (may be), etc.

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

Balasan reviews:

-Saiyuki ayaseharu: Momo sering dipanggil 'mon..' juga kok ^^ Sas or Happy end? Diliat aja nanti ya. Eh, Momo juga baru nyadar kalau Sasu mirip jaka tingkir, lho bukan jaka tarub ya? hehehe...

-miss uchiha: Ini lemonnya, silahkan menikmati ^^

-Z: Gomen, baru update..

-Dako Chan: Memang singkat sih, itu ketikan sekali duduk. Akan coba lebih dipanjangin lagi. Ini lemonnya, sudah dipersiapkan baik-baik kok.

-sasunaru4ever: Kenyal? Momo dapet ide itu dari pict nista di internet! Bukan sharingan kok, lagian yang bisa ngeluarin sharingankan mangenkyo.

-Naruuke Lovers: Di tempat momo emang lagi panas, jadi muncul ide ini. Chapter full lemon nih. Maaf belum masukin BDSM. Sasukan masih amatir.

-Akira Ezakiya Phantomthief: Pennamenya panjang nian~ ini dah update.

-Missha: ini sudah cukup panjang g'? momo sering lupa, akan momo perbaiki lagi.

-satsuki hatsune: Ini dah update lhoh, jangan bawa-bawa golok dong~

-2min lovers: Rame apanya? thanks for read..

-LiaUzuPot: Gomen pendek... ini dah asem belum ya?

-Eive Nu: Arigatou...

-Namikaze toki: Momo lagi hobi mangkir tugas kuliaan, maklum masih semester 1. Keren? Hontou?

-ndok: Gomen dah buat penasaran, semoga chap ini sudah cukup panjang.

-Ryu: Arigatou atas dukungannya ^^ Mpreg? Akan momo pikirkan.

-icha22madhen: Thanks atas sarannya, momo memang sering bingung dengan hal seperti itu. Semoga chap ini sudah lebih baik. Sasu masih amatir, jadi belum bisa kasar-kasar.

-kyu's neli-chan: setiap adegan di fic ini asli dari hasil otak momo, beberapa memang terinspirasi dari hal yang diliat momo, tapi momo g' pernah baca doujin itu. Momo cuman pernah baca doujin sasunaru dari Animephile. Kalo boleh kasih momo alamat webnya dong~

-darklucifer88: Thanks... ini hot belum ya?

This is chapter 4, douzo...

_######****Sasu'momo'Naru****######_

Di sebuah ruangan berukuran 5x4 meter, terlihat sesosok remaja laki-laki yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Hanya cahaya dua buah lilin yang menerangi ruangan itu. Tubuh polosnya dibalut dengan selembar selimut tipis berwarna coklat, rambut pirang yang membingkai wajahnya sangat kontras dengan kulit tan dan 3 garis halus di masing-masing pipinya. Dadanya bergerak teratur mengikuti kebutuhan paru-paru akan udara.

Beberapa saat kemudian, satu-satunya pintu masuk di ruangan itu terbuka perlahan. Menampilkan sosok lain yang hanya mengenakan hakama berwarna ungu gelap serta tali pinggang dengan warna senada. Pemuda dengan rambut berwarna hitam kebiruan itu berjalan mendekati tempat tidur. Langkah kakinya menggema di dalam ruangan tanpa ventilasi itu. Iapun duduk di pinggir tempat tidur. Bola asap pembius yang diberikan Kabuto ternyata sangat ampuh, hingga membuat pemuda ini tertidur cukup lama. Diarahkannya jemari lentik miliknya menuju wajah pemuda yang masih terlelap. Permukaan kulit yang halus menyambut syaraf-syaraf perasa di jemarinya. Sungguh ia tak menyangka pemuda berisik yang selalu mengganggunya bisa memiliki kulit sehalus gadis perawan seperti ini, padahal dia adalah shinobi yang tentunya akan sering mendapat luka baru setiap pulang dari misi. Ah, ia lupa. Bukannya pemuda ini memiliki Kyuubi? Rubah tua pemiliki cakra besar yang diperebutkan banyak orang, termasuk Akatsuki. Rubah itu pastilah yang telah melindungi dan menyembuhkan setiap luka di tubuh pemuda ini. Diam-diam ia tersenyum, bersyukur pemuda ini memiliki Kyuubi.

Kelopak kecoklatan itu terbuka perlahan. Menampakkan 2 bola mata sebiru langit yang tak diragukan lagi keindahannya. Pemuda berambut kuning itu mengerang pelan, belum menyadari adanya sosok lain yang sedang menatapnya intens.

"Aku dimana?"

"Di tempat dimana kau tidak dapat melihat matahari" jawab sebuah suara baritone.

Reflek, pemuda berambut kuning itu menegakkan tubuhnya, mengambil tempat sejauh mungkin dari sosok dihadapannya. Meski akhirnya ia malah terperangkap di sudut tempat tidur.

"Ti..tidak mungkin! Kenapa ada Sasuke disini?" pekiknya kaget.

Pemuda bernama Sasuke itu hanya menyeringai melihat ekspresi bingung sang pemuda. Apalagi ketika ia menyadari kalau saat ini ia dalam keadaan telanjang bulat.

"Ke..kemana semua bajuku?"

Sasuke mencengkram kedua pergelangan tangan Naruto. Pemuda itu mulai memberontak, kedua tangan yang terkunci dan tanpa senjata ninja, iapun mengandalkan tendangan kakinya untuk menyerang Sasuke. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang menimpanya, meski selama ini dia tidak pernah mengandalkan firasat.

Naruto berhenti memberontak. Ditatapnya sepasang mata onyx itu. Hitam, kelam, lalu... ada yang sedikit berbeda, tapi Naruto tidak tahu apa.

"A..a..apa.. kau akan membunuhku... Sasuke?" tanyanya takut-takut.

Naruto memejamkan kedua kelopak matanya, bersiap mendengar kata 'iya' dari bibir tipis Sasuke.

Sasuke mendekatkan bibirnya pada telinga sebelah kanan Naruto.

"Tenang saja Naruto, aku tidak akan membunuhmu... tapi aku akan memberikan sesuatu yang lebih buruk dari pada kematian"

Naruto membuka kedua matanya, menatap Sasuke penuh tanya.

Sasuke menjulurkan lidahnya membasahi daun telinga Naruto.

Pemuda berambut kuning itu reflek mendorong tubuh Sasuke. Tapi bukannya dapat menjauhi sang bungsu Uchiha, tubuhnya malah tertarik ke depan, jatuh ke dalam pelukan Sasuke.

"He..hentikan Sasuke! Kau mau apa?"

Sasuke menyingkirkan selimut pengganggu dari tubuh Naruto, melemparnya entah kemana. Segera ia medorong tubuh itu kembali terlentang di atas tempat tidur.

"Sebaiknya kau simpan tenagamu untuk nanti Naruto" desisnya tepat di depan wajah Naruto.

"Le..lepaskan aku SASUKE?" teriaknya kencang.

PLAK!

Naruto bisa merasakan sebelah pipinya memanas. Sasuke menamparnya.

Naruto menjilat sudut bibirnya yang robek, asin. Entah kenapa matanyapun turut memanas. Kenapa? Padahal ini bukan pertama kalinya ia ditampar orang, ini juga bukan pertama kalinya bibirnya robek hingga berdarah, dan ini juga bukan pertama kalinya Sasuke melukai tubuh maupun perasaannya. Tapi kenapa dadanya terasa sesak begini?

"Sebenarnya.. ka..kau mau apa Sasuke?" tanyanya lagi, kali ini lebih lirih. Ia tidak mau mendapat tamparan dari Sasuke lagi.

Tak ada jawaban. Sasuke menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Naruto, menghirup wangi alami tubuhnya -yang diluar dugaan- yang dapat membangkitkan libido dirinya.

Tangan kiri Sasuke mencekik batang leher Naruto, tidak keras, namun mampu membuatnya tak dapat berkutik. Sedang tangan kanannya bergerak kebawah, mencengkram penis Naruto, meremasnya perlahan.

Naruto membelalakkan mata saphirenya.

"SASUKE!"

Sasuke menegakkan tubuhnya, ia duduk di samping Naruto yang mulai menggeliat tak nyaman. Tangan kirinya mencekik leher Naruto agak keras.

"Ah'k.."

"Diam!" perintahnya.

Mata saphire itu akhirnya mengalirkan cairan bening. Kedua tangannya terus berusaha melepaskan sebelah tangan Sasuke yang mencekik lehernya.

Tak mempedulikan penderitaan Naruto, Sasuke kembali menkonsentrasikan pergerakan tangannya pada batang penis Naruto. Dinaik-turunkan tangannya pada benda itu. Perlahan namun pasti penis Naruto mulai menegang, bersamaan dengan itu tubuh Naruto juga mulai menurunkan intensitas perlawanannya.

"Sa..akh..uuuh~ hentikan.. ah Sasu..ke"

Sasuke kembali mengarahkan pandangannya pada wajah Naruto. Kembali ia menjilat bibirnya sendiri. Perasaannya saja atau ekspresi wajah Naruto memang semakin menggairahkan? Ekspresi wajah antara penderitaan dan kenikmatan. Benar-benar membuat celananya semakin menyempit. Ditambah suara desahan Naruto yang menjadikan libidonya makin terangsang.

Tangan kanannya bergerak makin cepat. Cairan precum mulai membasahi tangan Sasuke, membantunya memperlancar hand job pada Naruto.

"Sa..suke.. ah.. aku ma- AAAKKHHH!"

Tubuh Naruto menggelinjang hebat. Cairan putih menyembur deras dari ujung penisnya. Membasahi perutnya dan tangan Sasuke.

Sasuke menyeringai penuh kemenangan. Ia melepaskan kedua tangnnya dari leher dan penis Naruto. Dengan orgasme seperti tadi, ia yakin tubuh Naruto tidak akan dapat berbuat banyak.

Sementara Naruto masih merasakan sisa-sisa kenikmatan yang mulai meninggalkan tubuhnya, Sasuke mengambil kesempatan ini untuk melepaskan hakamanya.

Naruto hanya bisa menatap Sasuke -yang kini sama telanjangnya dengan dirinya- dengan tatapan sayu. Ia pernah beberapa kali melakukan onani, tapi ia tidak pernah mencapai orgasme sehebat tadi. Karena itu, wajarlah staminanya langsung terkuras habis, tubuhnya lemas seketika. Tapi Naruto belum bisa memahami apa maksud Sasuke melakukan hal ini padanya.

Sasuke merangkak maju mendekati kepala Naruto. Sebelah tangannya kini memegangi penisnya sendiri yang sudah setengah tegang. Diarahkannya penis itu ke mulut Naruto.

"Buka mulutmu Naruto!" perintahnya. Suaranya beratnya terdengar sedikit parau. Ia tak dapat menyembunyikan hasratnya yang sudah mencapai ubun-ubun kepala.

"Tidak! Kau sudah gila Sasuke!" pekik Naruto tidak terima. Dia itu laki-laki! Dan Sasuke memintanya mengulum penis? Demi seluruh Hokage di Konoha, Naruto masih N-O-R-M-A-L.

Naruto membelalakkan matanya melihat penis Sasuke yang dua kali..ah tidak, mungkin tiga kali lebih besar dari miliknya. Naruto meneguk ludah, meski ruangan ini tidak cukup terang, tapi Naruto bisa melihat detailnya dengan cukup jelas.

Sasuke mendecih kesal. Dicengkramnya kedua pipi Naruto hingga mulutnya sedikit terbuka. Sekali lagi Naruto berusaha melawan, tapi sayangnya hal itu sia-sia.

Tak ingin menghabiskan tenaganya hanya untuk berdebat dengan Naruto, Sasuke segera memasukkan penisnya ke dalam mulut Naruto.

"...EHMMM! mhahukheeee!"

"Jangan berani-berani menggigitnya Naruto.." ancamnya.

Sasuke memaju mundurkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri di dalam mulut yang hangat dan basah itu. Ia mendongakkan kepalanya, mulutnya yang terbuka menyalurkan desahan-desahan kenikmatan yang perlahan menjalari setiap sendi tubuh dan sarafnya.

"Ooh.. nikmat sekali Naruto, chikuso! Seharusnya aku melakukan ini dari dulu.. ah.."

Rasa asin dapat dirasakannya menyelimuti seluruh indra pengecapnya. Beberapa kali Naruto sempat tersedak dikarenakan benda gemuk dan panjang itu berusaha memasuki tenggorokannya. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari sepasang bola saphirenya. Rasa malu dan jijik bercampur menjadi satu memenuhi dadanya. Kenapa harus seperti ini? Rasanya, kematian kini mulai terlihat indah di matanya.

"AAARRGGHHH! Aku mau keluar Naruto.. sssshhhh... OOUUugghh..."

Cairan putih kental segera meluncur dengan cepat melewati tenggorokan Naruto, namun mulut kecil itu tak mampu menelan semuanya, cairan yang tak lagi tertampung mengalir melewati sela-sela bibir merahnya. Naruto mengernyitkan dahi merasakan sperma Sasuke.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Sasuke menarik kembali penisnya dari mulut Naruto. Ia duduk di samping tubuh Naruto dengan kaki kanan yang tergeletak diatas perut Naruto. Nafasnya masih memburu. Tubuh putih atletisnya di penuhi peluh. Seringaian terukir di wajah tampannya, melihat sebagian besar wajah Naruto dipenuhi sperma miliknya.

Sasuke mengarahkan jemarinya ke wajah itu, menghapus air mata yang masih mengalir dari bola mata indah itu.

Tapi bukannya hilang, sepasang saphire itu malah mengalirkan lebih banyak lagi air mata.

"..hiks..hiks..ke..kenapa Sa..hiks...suke? kenapa..hiks..melakukan ini padaku?"

Sasuke mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto, menjilat spermanya sendiri yang belepotan di sekitar bibir itu.

"Pertama... aku ingin membuatmu menyerah untuk mengejarku," Sasuke menciumi leher Naruto, menghisapnya kuat hingga memunculkan bekas kemerahan. "dan kedua... aku ingin menikmati tubuhmu. Aku rasa tubuhmu lebih nikmat daripada para pelacur diluaran sana, dan tampaknya aku benar..."

Naruto memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat Sasuke mulai menyerang puting susunya. Naruto tidak tahu, tubuhnya menggelinjang hebat saat Sasuke menghisap bagian itu. Tampaknya itu adalah bagian tersensitive di tubuh Naruto.

Menyadari hal itu, Sasuke menghisap puting sebelah kanan Naruto lebih kuat, bagaikan bayi yang menuntut ASI dari ibunya, sedang sebelah tangannya memainkan putingnya yang sebelah kiri.

"HE...HENTIKAN SASUKE! Akh.. hah.. aku ti..dak..uu~h"

Perlahan, penis Naruto kembali menegang. Rasa geli di dadanya berhasil membangkitkan libidonya yang sempat meredup tadi. Suara desahan meluncur tak beraturan dari bibir mungilnya.

Sasuke menjilati puting susu yang sudah menegang sempurna itu, ia menyadari kalau tempat itu kini agak membengkak, tapi Sasuke menyukainya. Ia menghisapnya lagi, memuaskan seluruh hasratnya. Tak peduli meski Naruto kini sedang terangsang hebat.

Sasuke menegakkan tubuhnya, penisnya kembali membengkak. Pandangannya lalu tertuju pada penis Naruto yang sudah menegak sempurna, ia menyeringai senang. Ternyata Naruto juga mengalami nasib yang sama dengan dirinya.

Pemuda berkulit putih itu membuka kedua kaki Naruto lebar-lebar, menampakkan lubang sempit berwarna merah muda yang berkedut-kedut menahan nafsu yang makin memuncak. Tanpa pikir panjang, Sasuke membungkukkan tubuhnya, lidahnya meraih lubang sempit itu, menjilat dan menghisap cairan alami yang dikeluarkan rektum Naruto –yang anehnya- mengalir lebih banyak setiap Sasuke menghabiskannya. Ia memasukkan kedua jarinya ke dalamnya, mengorek lebih banyak cairan.

Tubuh Naruto bergetar hebat, rangsangan di area rektum membuat testisnya seakan siap meledak kapan saja. Meski tidak mau mengakuinya, tapi semakin lama Naruto mulai menikmati semua perlakuan Sasuke ini.

"Uuuh~...'Suke...kumohon hentikan...ah.. hah..ah.. aku tidak tahan lagi~"

Sasuke tak mempedulikan rintihan Naruto. Seluruh tubuh milik pemuda berambut kuning ini benar-benar menjadi candu bagi seorang Uchiha Sasuke. Ia ingin merasakannya lebih lama.

Beberapa menit kemudian, Sasuke menegakkan tubuhnya. Ia menjilati sudut bibirnya yang masih dibasahi cairan rektum milik Naruto. Pemuda berkulit tan yang masih berbaring tak berdaya itu bisa merasakan wajahnya yang kini memerah. Ia tak menyangka seorang missing nin seperti Sasuke bisa sangat menyukai cairan yang keluar dari daerah paling pribadi dari tubuhnya.

Sasuke mengarahkan ujung penisnya menuju lubang rektum Naruto, memasukkannya perlahan. Dia agak terkejut saat lubang kecil itu ternyata mampu dimasuki penis besarnya, sepertinya cairan tadi memang berguna untuk hal ini.

"AAARRGGHH...SASUKE! KELUARKAN! SAKIIIITT~"

"Cih, kau berisik Naruto!"

Sasuke mendorong keras pinggulnya hingga seluruh kejantanannya memasuki tubuh Naruto.

Kedua pemuda itu sama-sama berteriak. Sasuke merasakan penisnya diselimuti dinding daging hidup milik Naruto, menjepitnya dengan keras juga lembut di saat yang sama. Benar-benar kenikmatan yang belum pernah ia rasakan.

"Ahh... sempit sekali Naruto..sssshhh...oh..apa kau bisa merasakannya Naruto? Apa kau bisa merasakan 'milikku' di dalam tubuhmu?"

Tak ingin menunggu lama, Sasuke mulai menggerakkan pinggulnya. Pergesekan antara penisnya yang keras dan dinding rektum lembut Naruto menimbulkan kenikmatan tersendiri bagi Sasuke. Ia terus 'menggempur' isi rektum Naruto demi merasakan kenikmatan yang lebih. Kedua tangannya bergerak menuju pantat Naruto, meremas-remasnya, merasakan kekenyalannya.

"Oouuh.. Kamiiii~ Sasuke...aahh..uh..uh...'Suke!"

Pupil mata Naruto membalik kebelakang, meninggalkan warna putih yang menggantikan saphire biru di matanya.

Ini terlalu berlebihan bagi Naruto. Ia tak pernah merasakan hal seperti ini. Mulutnya terbuka, desahan-desahan penuh kenikmatan meluncur dengan mulus dari sana. Naruto merasa dirinya kini tak jauh beda dengan wanita-wanita murahan yang memuja laki-laki demi mendapatkan kenikmatan seperti ini. Apalagi kenikmatan dari seorang Uchiha Sasuke, laki-laki yang selalu digilai oleh setiap wanita. Siapa yang tidak menginginkan Uchiha Sasuke? Para wanita lain mungkin rela menjadi budak nafsunya demi mendapatka setetes benih dari sang bungsu Uchiha. Tapi, kenapa sang bungsu Uchiha malah memilih Naruto yang notabene adalah laki-laki normal? Bahkan sudah bukan rahasia lagi kalau Sasuke sangat membencinya. Padahal, Naruto hanya menginginkan Sasuke kembali ke Konoha, kembali menjadi rival, sahabat, sekaligus saudara baginya. Ia ingin menyadarkan Sasuke yang tenggelam terlalu jauh dalam lautan kegelapan. Salahkah itu? Dan apakah hal ini yang menjadi harga atas keinginannya itu?

"Uh~uh~ Sasuke...hah..aaahh..akuu~h tidak..ah..kuat lagii! Oughh..."

"Sebentar lagi Naruto..ah..hah..tubuhmu nikmat sekali Naru~ ah.. aku tidak akan membiarkan..ah..merasakan tubuhmu ini Naruto! Tubuh ini hanya milikku! Ahh..."

Sasuke menjejalkan penisnya semakin dalam, 'menabrak' kelenjar prostat Naruto berkali-kali. Dapat dirasakannya otot-otot rektum Naruto mencengkram lembut 'dirinya' didalam sana. Ia tahu Naruto akan segera mencapai klimaksnya untuk yang kedua kali. Matanya terpejam, menikmati pijatan-pijatan lembut pada penisnya. Ah, rasanya Sasukepun tidak akan bertahan lama.

Beberapa detik kemudian, tubuh kecoklatan itu menggelinjang hebat. Spermanya kembali mengucur deras tak terkontrol dari ujung penisnya. Naruto melengkungkan tubuhnya keatas, tak kuasa menerima orgasme yang sedang mendera tubuhnya. Padahal, tak sedikitpun penisnya tersentuh. Sasuke benar-benar tahu bagaimana memuaskan Naruto.

"OOUURRGGGHHHH! AAAHHH~~SASUKEEE!"

Sasukepun segera menyusul Naruto. Ia menenggelamkan penisnya dalam-dalam kedalam tubuh Naruto, menanamkan benih-benih dirinya.

Naruto bisa merasakan cairan hangat yang membanjiri isi perutnya. Tapi sayang, perlahan kesadarannya menjauh. Tubuh remajanya masih terlalu lemah untuk menerima kenikmatan berturut-turut seperti ini. Kelopak matanya menutup perlahan...

Sasuke menjatuhkan tubuh atletisnya diatas tubuh Naruto. Senyum kepuasan masih terukir di wajah putihnya.

Ia melingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuh Naruto, memeluknya erat.

"Tubuh ini milikku, Naruto...kau adalah milikku... selamanya.."

TBC...

#Masihkah kurang panjang? Ini sudah full Lemon lho!

Untuk yang minta 'toys' momo nggak bisa masukin di lemon yang ini, soalnya ini Canon dan lagi Sasuke kan masih baru, jadi belum terlalu berpengalaman.

Well, momo nggak tahu apa ini sudah cukup hot atau nggak, soalnya menurut momo biasa-biasa aja.

Walau ini cuman lemon, tapi momo masukin beberapa clue.

#Mind to review or flame?