Choi Minho masih tersungkur di atas tempat tidur. Ia mabuk semalam, dan pagi harinya kepala terasa berat dan pening bukan main. Suatu penyakit yang sengaja ia cari untuk menghibur hatinya yang dongkol.
Masalahnya berawal dari Kim Jongin. Mantan pacarnya yang tidur dengan rivalnya semasa di Universitas dulu. Suatu hal yang memalukan, karena lagi-lagi ia berhasil dikalahkan oleh pemilik nama Oh Sehun itu.
Tapi tunggu...
Ini bukan kamarnya, dan Minho merasa aneh karena tubuhnya terasa lengket dan terlalu minim bersentuhan dengan serat selimut.
Cklek...
"Kau kuat juga ya semalam" seorang namja bernama Lee Taemin berjalan dengan sebuah nampan.
Dia berpakaian kemeja longgar yang membuatnya terlihat sexy. Minho terus memperhatikan wajah Taemin. Sekilas nampak seperti Kim Jongin. Hanya saja Taemin sedikit lebih pendek, dan berkulit putih sementara mantan pacarnya itu berkulit tan dan memiliki lekuk tubuh yang sexy.
"Kau melakukan apa padaku?" Minho kelabakan.
"H..hey" Taemin berseru. "Aku tidak melakukan apa-apa, bodoh!"
Minho melotot begitu menyadari sekarang dia telanjang.
"Jangan seolah kau yang jadi bottom, Tuan Choi!" Taemin berseru kesal.
"Harusnya aku yang marah! Bisa-bisanya kau berlagak idiot setelah menggempur lubang virginku!"
Minho membulatkan kedua matanya. hah? Jadi semalam mereka...Ah, sudahlah..
.
.
.
.
Hari Sabtu adalah hari dimana Jongin bisa menikmati waktu weekendnya bersama putranya.
Kemarin ia baru saja menerima gaji bulanannya. Maka dari itu hari ini ia pun memutuskan berbelanja bulanan untuk mengisi kebutuhan mereka yang mulai menipis.
"Nanti Cooie mau beli ini..Telusc beli ini, beli ini, dan ini"
Ia tak bisa berhenti tersenyum ketika mendengar putra kecilnya itu berceloteh mengenai apa saja yang akan ia beli.
Kyungsoo naik di atas troli belanja sambil memeluk boneka beruangnya. Sementara ibunya tengah sibuk memilih keperluan mereka.
"Mommy, hello panda~"
"Boleh..Mau rasa apa, hm?"
Jongin mendorong troli mendekati area makanan ringan. Ia mengambil 2 kotak makanan manis kesukaan Kyungsoo kecil yang dengan lugunya lebih memilih rasa strawberry dibandingkan coklat.
"Jadi benar Kim Kai ya?"
Namja tan itu menoleh ke arah suara yang baru saja menyebutkan nama samarannya itu.
"Irene noona?"
Yeoja itu tersenyum ramah. Ia membawa sebuah keranjang yang baru beberapa barang terisi di dalamnya.
"Wah..Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini" kata Irene. Ia menyapa Kyungsoo dan mencubit pelan pipi anak manis itu.
Jongin meletakan satu ikat brokoli ke dalam troli belanjanya. Ia memang sedang memilih sayuran-sayuran yang akan ia masak untuk makan malam nanti.
"Kau tidak datang saat acara tunanganku ya?"
"Ano..Maaf ya, noona. aku sibuk sekali waktu itu" sahut Jongin.
Dia jadi tidak enak hati mengingat ia pernah memblokir nomor Irene. Padahal yeoja itu sama sekali tak ada sangkut pautnya diantara ia dan Sehun.
"Tidak apa-apa" Irene memaklumi. "Tapi saat nikahan harus datang lho ya" canda Irene.
Jongin mengangguk pelan dengan senyuman. Hal yang selalu ia lakukan di depan para pelanggannya dulu. Meski ia seorang Introvert, tetapi dunia malam telah mengajarkan padanya jika hidupnya hanya sebatas drama. Dimana ia akan memainkan peran yang baik sebagaimana Tuhan menuliskan takdirnya.
"Bagaimana dengan si muka datar itu?"
Namja berkulit tan itu mengerutkan keningnya. Ia berhenti dan memperhatikan Irene noona yang sedang asyik memilih daging domba.
"Oh Sehun maksudnya?" Jongin membalas. Wajah manisnya nampak bingung hendak mengatakan apa.
Irene terkekeh pelan. Bahkan Jongin langsung mengenali 'muka datar' yang Irene maksud.
"Sudah..Kami sudah bertemu 1 minggu yang lalu"
"Oh iya?" Irene pura-pura tidak tahu. "Pantas saja ekpresinya cerah akhir-akhir ini"
maniks hitam itu membulat sempurna. Apa Irene hanya bercanda? Ya..Pasti Irene bercanda untuk mengatakan hal itu. Dia ingin berbicara, namun Kyungsoo merengek dengan mata yang mengantuk.
.
.
Jam-jam kosong tanpa kegiatan apapun telah membuat Oh Sehun merasa sedikit bosan. Ia sempat mengira jika waktu akhir pekannya akan berjalan baik-baik saja.
Tetapi Sehun juga tak bisa memprediksikan jika kedataran dalam hidupnya ini akan ia rasakan disaat ia benar-benar butuh istirahat dari semua pekerjaannya dari senin sampa jumat.
Berkunjung ke rumah neneknya saja juga tidak bagus. Kenapa? Karena neneknya akan berbicara, seperti:
"Makanya, cepatlah menikah" ujar Nenek Oh sembari merajut sebuah syal berwarna biru muda.
Menikah?
"Usiamu sudah matang kok. Finasial pun juga sudah cukup"
Masalahnya itu.
"Cari pendamping yang bisa jadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak"
Nah... itu dia. Yeoja mana yang mau dengan orang sekaku Sehun? Kalau diajak kencan saja juga dia pasif.
"Nenek" sebutnya. "Mencari pendamping itu tidak mudah"
Nenek Oh menyipitkan kedua matanya. "Kenapa harus mencari?"
Jemarinya masih handal merajut. Nenek pasti akan membuat banyak rajutan-rajutan yang bisa dikenakan di musim dingin. Dulu Sehun tak pernah membeli perlengkapan sandang di musim dingin karena neneknya akan senang hati membuatkan rajutan cantik untuknya.
Sekarang pun juga masih. Beberapa teman kantornya sangat menyukai hasil rajutan nenek yang klasik dan memiliki nilai jual tinggi. Tapi nenek sama sekali tidak kepikiran untuk menjualnya. Uang hasil pensiunan suaminya yang tentara itu masih lebih dari cukup baginya.
"Kai itu namja yang manis dan baik hati" Neneknya memulai lagi. Seperti memuji sosok sexy yang membuat Sehun nyaris kehilangan akal sehatnya.
"Apa nenek menyukainya?"
"Tentu saja" Nenek menyahut cepat. "Tapi selebihnya itu terserah padamu"
Sehun melirik sebuah sweater kecil berwarna biru muda. Rajutannya indah dan rumit. Sehun ingat, jika sweater itu menghabiskan waktu 1 bulan untuk bisa dikatakan benar-benar jadi.
"Sweaternya bagus" puji Sehun. Ia mengambil sweater rajut itu dan memperhatikannya dengan seksama.
"Nenek membuatnya untukmu. Tapi nenek baru saja sadar beberapa detik yang lalu jika kau sudah besar sekarang"
Sehun mendengus sebal. Neneknya memang pelupa terkadang.
"Lalu sweater ini buat siapa?"
Nenek mengulas senyum simpul.
"Untuk cucu nenek saja kalau begitu"
"Cicit?"
"Hey, kau membuatku terlihat sangat Tua"
Sehun tertawa terbahak-bahak. "Nenek memang sudah tua"
.
.
.
.
Jongin menarik napas pelan setelah membaca beberapa surat yang dikirimkan oleh keluarga Wu untuknya.
Para keluarga brengsek itu meminta Jongin untuk segera menyerahkan surat wasiat mendiang Wu Yifan aka Kris Wu, ayah kandung Kyungsoo.
Mereka bersumpah jika tidak akan memberikan sepeser pun harta warisan untuk Kyungsoo. Mengingat Kris yang lebih memilih Chanyeol, dibandingkan yeoja pilihan keluarganya.
Namun Jongin tidak peduli. Selama Kyungsoo ada bersamanya kebun apel berhektar-hektar tidak akan lebih berharga dibandingkan putra angkatnya itu.
Akan tetapi Jongin tetap ketar-ketir. Kalau-kalau keluarga Wu meminta Kyungsoo darinya. Itu hanya akan membuatnya terluka. Baginya, Kyungsoo adalah harta terindah yang pernah ia miliki.
Jongin meringis pelan ketika merasakan ngilu di area nipple-nya. "Pelan-pelan, baby" bisiknya, tanpa ada niat untuk mengganggu si kecil sooie yang sedang tertidur.
Malam ini mungkin ia akan tidur di ruang tamu dengan karpet tebal dan selimut. Tadinya ia sedang bermain dengan si kecil sebelum pada akhirnya Kyungsoo merengek ingin Yuyu dan berakhir tertidur di ruang tamu. Mengingat Kyungsoo yang agak rewel akhir-akhir ini, Jongin jadi tidak tega untuk membangunkan putra manisnya itu.
Ting..Tong..
Jongin melirik jam di dinding. Baru pukul 8 malam. Dan itu masih belum terlalu malam untuk bertamu.
Cklek..
"Hallo"
Namja manis itu menghela napas pelan. Dia pikir akan ada pelanggan Paradise yang meminta pelayanannya hari ini. Meskipun nyatanya akan ditolak secara halus oleh Jongin.
"Ada apa?" Tanya Jongin, To the point.
Sehun berdehem pelan. Ia memang sengaja tidak mengunjungi Jongin setiap hari supaya namja itu mau menerimanya sebagai tamu. Bahkan kalau boleh berharap bisa bercinta lagi seperti satu minggu yang lalu.
"Aku bawa hadiah untuk Sooie"
"Hadiah?"
"Dari nenek"
Jongin mengangguk pelan. Dia tak mau banyak berpikir darimana nenek Oh tahu mengenai dirinya yang sudah punya anak. karena pastinya mulut ember Sehun lah pelakunya.
"Ayo masuk!"
Matanya membulat sejenak saat melihat Kyungsoo kecil tengah tertidur di atas karpet sambil memeluk boneka beruangnya. Balita itu nampak menggemaskan. Entah mengapa seperti ada aliran asing dalam diri Oh Sehun yang awalnya terasa hampa beberapa hari ini.
"Akan ada badai pukul 10 malam nanti" Ujar Jongin, seraya meletakan secangkir kopi untuk Sehun di atas meja.
Sementara namja Oh itu duduk di atas karpet sambil memperhatikan Kyungsoo tidur.
"Aku tahu kok"
"Lalu kenapa kau keluar?"
"Hanya ingin memastikan" dengan senyum idiotnya.
Jongin berdecak sebal. Tidak bisakah namja ini berhenti membuatnya khawatir. Mengapa begitu reckless? Padahal dia bukan anak-anak lagi. sudah dewasa, kelewat dewasa malah.
"Orang bodoh yang nekad" cibir Jongin.
Sehun mengangkat bahunya dan mulai mencicipi kopi buatan Jongin.
"Kalau begitu aku boleh menginap?"
"Silahkan. Tapi akan ada pemadaman listrik saat badai nanti"
Namja kelahiran 29 tahun itu menaikan satu alisnya. Lalu menyeruput kopinya pelan-pelan.
"Suratnya banyak sekali" Oceh Sehun, matanya tak sengaja berjumpa dengan beberapa tumpuk surat yang dikirimkan oleh keluarga Wu.
"Dari keluarganya Kyungsoo" Jongin menyahut pelan.
Tapi Sehun tidak tuli. Ia masih bisa mendengar dengan jelas dan tahu apa yang dikatakan oleh namja manis itu. "Keluarga Kyungsoo?"
Kim Jongin menarik napas pelan. 3 bulan mengenal Sehun, dan 2 bulan mereka pernah bersama membuatnya tahu bagaimana sosok tunggal Oh itu.
"Apa kau akan mendengarkan jika aku bercerita?" Jongin bertanya, ia duduk di samping Sehun yang sama-sama duduk menyandar di bawah sofa.
"Always"
Ia mengulum senyum tipis di wajah gembilnya. "Aku dulu tinggal di sebuah panti asuhan di Busan" Jongin memulai ceritanya.
Sehun nampak mencermati.
"Tapi saat usia 15 tahun panti asuhanku harus terkena musibah kebakaran karena sabotase pembangunan gedung perkantoran"
Ya.. Teruslah bercerita Kim Jongin.
"Anak-anak panti yang sudah remaja terpaksa keluar dari sana. Untunglah kakakku yang lebih dulu keluar dari panti mau menampungku"
"Namanya Kim Chanyeol. Ibu Kim (kepala panti) meminta Chanyeol hyung untuk merawatku. Dan kebetulan Chanyeol hyung menyanggupi. Dia bekerja sebagai seorang anak buah kapal China"
Sehun pikir ceritanya masih panjang. Tapi ia masih setia untuk mendengarkan.
Sampai pada akhirnya Jongin menceritakan kisah cinta tragis seorang bernama Kris dan Chanyeol yang akhirnya meninggal dunia setelah kecelakaan yang lagi-lagi terjadi karena sabotase keluarga Wu. Jongin jelas mengetahuinya setelah Qian, kakak kandung Kris menceritakan hal yang sesungguhnya mengenai kejadian itu.
"Awalnya aku tak mau merawat Kyungsoo. Karena kau tahu kan kalau aku hanya seorang pelacur. Tapi Qian noona berkata jika dia akan membantuku secara diam-diam"
"2 tahun yang lalu Qian noona menulis surat jika keluarga Wu tahu jika selama ini ia menolongku. Dia minta maaf atas apa yang terjadi dan tidak bisa menolongku lagi"
"Kai"
"Panggil Jongin saja" sahut Jongin.
Sehun terkekeh pelan. "Oh iya..Jongin" ia mengoreksi lagi. "Lalu soal harta warisan Kyungsoo. Apa yang akan kau lakukan? Mereka tidak berhak atas apa yang dimiliki mendiang orangtua Kyungsoo"
"Selama mereka tidak meminta Kyungsoo, aku akan merelakannya"
Sehun tahu jika Jongin sangat menyayangi Kyungsoo. Meskipun nyatanya Kyungsoo bukanlah putra kandungnya.
Jongin menumpukan kepalanya di bahu Sehun. Membuat namja 4 tahun lebih tua itu menoleh. Pasti Jongin sangat lelah, pikirnya.
"Ku pikir tadinya dia anakmu dan Choi Minho" ujar Sehun.
"Ma..mana mungkin"
Sehun menyengir bodoh. "Mungkin aku terlalu berprasangka padamu"
Lampu mati setelah suara petir berbunyi keras.
"Hueeeee, mommy" tangisan Kyungsoo membuat Jongin buru-buru mendekati balita itu.
Kyungsoo takut gelap, Kyungsoo takut petir, dan tak ada mommy disampingnya membuat dirinya benar-benar ketakutan.
"Hey, mommy di sini, baby" Ia peluk tubuh mungil itu, seraya menepuk lembut punggung Kyungsoo.
"Hiks..mommy"
Sehun menyorot keduanya dengan lampu ponselnya. Wajahnya memerah ketika Jongin membuka beberapa kancing piyamanya dan membiarkan Kyungsoo mengulum nipplenya.
"Hun"
"I..iya?"
"Bisa tolong carikan lilin di dapur?"
"Oh..Ok"
...
Temaram sinar lilin membuat ruangan menjadi terasa sunyi dan dingin. Ia tidur di samping Kyungsoo yang masih belum bisa tidur meskipun sudah bersama mommynya.
"Didi" sebut Kyungsoo.
"Ada apa, Sooie?"
Balita menggemaskan itu mulai berceloteh tentang kucing peliharaan Mimi dan didinya yang baru saja menggigit jarinya. Sehun tanya apa itu sakit, tapi Kyungsoo kecil menggeleng dan menjawab rasanya geli dan Kyungsoo suka.
"Baby, ayo bobo!"
"tidak mau, mommy. Cooie mau ngoblol cama didi"
Ah..Kyungsoo sama sekali tidak tahu jika Jongin merona saat menyadari bagaimana posisi mereka bertiga sekarang.
Mungkin Jongin tidak terlalu peduli saat dirinya dan Sehun dalam keadaan naked dan tertidur di ranjang yang sama. Tapi kali ini ada Kyungsoo. Meski tidak naked, namun Jongin merasa jika mereka benar-benar seperti keluarga kecil saat ini.
"Mommy, yuyu"
Balita itu berbalik memunggungi Sehun dan menepuk pelan dada sang mommy.
Jongin terkekeh dan mengecup kening putranya. Lagi-lagi ia mendesis pelan ketika putingnya kembali bergesekan dengan gigi susu Kyungsoo.
"Yuyu itu apa?" Tanya Sehun, ia memiringkan tubuhnya, tanpa sadar memeluk pinggang Jongin.
"Yuyu itu susu. Bahasa bayi yang masih ia gunakan, Hun"
Sehun terkekeh mendengarnya. Kyungsoo kecil menoleh ke arahnya lagi. "Didi mau yuyu?"
Hah?
Sehun berdehem salah tingkah. "Nanti pagi saja didi minum yuyunya"
"Tidak boleh!" Seru Kyungsoo. "Nanti kalau Cooie hausc gimana? Kalau Cooie minum Yuyu cama Mimi pacti Didi malah"
Sehun nampak tidak mengerti bahasa planet para balita yang digunakan Kyungsoo.
"Kau harus bobo! Nanti didi ambil yuyunya"
"Ani" Kyungsoo kembali mengulum puting sang mommy.
Diam-diam Sehun melirik Jongin. Namja manis itu terlihat malu-malu.
.
.
.
.
Ada hal yang bisa Sehun bagi pada dunia, namun ada pula satu hal yang hanya dirinya sajalah yang harus tahu.
Bukan karena ia pelit bicara, tetapi memang tak seharusnya ia katakan. Lagipula juga tak ada orang yang tertarik dengan kehidupannya yang serba monoton dan membosankan.
"Ku pikir kau benar-benar lupa" ujar Sehun. Ia nampak sibuk di meja kerjanya dengan laptop yang menyala.
Namja dewasa di hadapannya itu mendengus pelan. Apa yang diharapkan namja 29 tahun itu sih?
"Apa yang kau harapkan sebenarnya?"
"Sebenarnya tidak ada" Sehun menjawab enteng.
Lagipula Sehun juga tidak berharap diingat. Tapi juga tidak minta untuk dilupakan.
Tak ada ayah yang melupakan putranya kan? Kibum pikir, tidak seharusnya putra semata wayangnya menatapnya penuh intimidasi seperti itu.
Kibum meletakan sebuah undangan pernikahan di atas meja. Lama hidup di Sydney, hari ini ia pun pulang menemui putra tunggalnya hanya untuk sebuah undangan yang mungkin bisa ia kirim lewat jalur pengiriman barang ke luar negeri.
"Kami akan menikah di Jeju. Ku harap kau datang"
"Aku senang mendengarnya. Ku harap kau bisa mencintai yeoja itu seolah-olah kau memangencintainya"
Namja yang lebih tua menutup kedua matanya dalam diam. Ayah dan anak itu adalah tipikal orang-orang pendiam yang tidak suka hal bertele-tele.
"Donghae yang terakhir"
Sehun mengulum senyum tipis. "Pastikan dia tidak seperti mendiang Younghwa, Presedir"
Kibum mengepalkan kedua tangannya. Selama berpuluh-puluh tahun ia musti menahan perasaan sedihnya pada mendiang istrinya itu.
Oh Younghwa meninggal karena sakit parah yang sudah ia derita sejak kecil. Lebih menyedihkan lagi, Kibum sama sekali tak ada di sampingnya hingga ajal menjemput. Selama mereka bersama, Younghwa adalah yeoja yang baik dan tak pernah mengeluh.
Ia sangat mencintai Younghwa lebih dari apapun, begitupun sebaliknya. Tapi Sehun kecil dulu tak tahu apa-apa, dan menilai jika ayahnya adalah ayah paling brengsek yang pernah ada di dunia.
Sehun bahkan pernah berharap jika kelak ia dilahirkan untuk kehidupan yang kedua, dia tak pernah lagi mengenal Oh Kibum, ayah kandungnya sendiri.
.
.
.
"Dia pulang dalam keadaan mabuk dan parfum perempuan semalam" Minseok mengakhiri ceritanya.
Baekhyun dan Jongin menatap sedih hyung mereka yang saat ini memutuskan untuk meninggalkan apartemennya dan malah mengungsi di apartemen Jongin. Kabur ke rumah orang lain yang hanya berjarak beberapa langkah dari apartemennya? Aneh sekali.
"Dia membuatku kecewa, hiks"
Baekhyun mengusap punggung Minseok, berharap namja itu tabah dan terhibur dengan tindakannya.
"Apa dia sudah menjelaskan semuanya?" Tanya Jongin, pelan-pelan.
Namja berpipi gembil itu mengangguk. Ingatan dimana ia menampar Luhan berkali-kali, hingga Luhan yang mencoba menjelaskan hanya akan membuat kepalanya berdenyut sakit.
"Kalau memang aku sudah tidak menarik lagi untuknya akan lebih baik kami bercerai" ujar Minseok, dia sudah pasrah dengan kelakuan liar suaminya semalam.
Orang bilang cemburu karena sayang, karena ada rasa cinta itulah muncul rasa cemburu. Jongin mau tidak mau berpikir jika rasa sesak ketika melihat Oh Sehun berciuman dengan seorang gadis itu pasti karena ia cemburu.
"Hyung" sebutnya.
Minseok berhenti berhiks-hiks sedu. Wajahnya yang sembab menyiratkan luka dan kekecewaan.
"Maaf agak melenceng, apa semua rasa cemburu yang kita rasakan itu karena kita sayang?" Tanyanya. Jongin kelihatan polos dan baru merasakan cinta.
"Tentu saja. Aku tidak akan menangisi si babbo Luhan kalau tidak mencintainya" Sahut Minseok.
Baekhyun berdehem pelan. Dia satu yang tidak pernah percaya cinta itu memang paling sensitif kalau sudah membahas mencintai dan dicintai.
...
Orang bilang Sehun terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya.
Memang iya sih. Bukannya gengsi, dia hanya terlalu takut untuk mengungkapkan isi hatinya.
Sebuah penolakan di SMP Membuatnya sedikit (banyak) trauma. Ia pernah jatuh cinta, cinta monyet kalau kata orang tua dulu.
Gadis tercantik di sekolahnya semasa SMP. Tapi setiap kelebihan memang pasti ada kekurangannya kan? Begitulah yang terjadi pada gadis itu. Sehun ingat betul, Namanya Park Nara. Terlalu banyak yang mengaguminya, membuat Nara jadi pongah dan bertingkah jika dialah satu-satunya yang paling cantik.
Apalagi saat si culun Oh Sehun menembaknya. Dia menolaknya mentah-mentah, ibarat daging steak setengah matang pun juga tidak ada.
Tetapi ketika tahu siapa sebenarnya Oh Sehun. Nara jadi sering kali cari perhatian dan malah membuat Sehun ilfeel. Tentu saja Sehun hilang rasa, gadis itu menunjukan betapa murahnya kehidupan gadis metropolitan seperti dirinya itu.
Sehun mendengus ketika membaca undangan reuni akbar yang harus ia hadiri pada tanggal 12 nanti. Sudah beberapa kali ia kerap absen kalau sudah menyangkut reuni-reuni seperti itu.
Kali ini tidak. Teman dekatnya langsung yang telah mengundangnya. Kim Namjoon memaksa Sehun untuk hadir ke acara tersebut, karena kali ini Namjoon lah yang menjadi ketua panitia acaranya.
Ia menekan bel apartemen Jongin. Tapi yang membuka pintu malah seorang namja berpipi gembul dan sedikit (banyak) lebih pendek dibanding Jongin.
"Kau siapa?"
"Aku Oh Sehun"
Namja itu meneliti wajahnya begitu jelas. "Oh..Silahkan masuk" kata namja itu.
Sehun mengekor, Namja itu berkata jika Jongin sedang mengantar Baekhyun ke bandara bersama putranya. Mungkin sebentar lagi pulang, mengingat sudah lebih dari 2 jam mereka pergi.
...
"Kau mau kan?"
Jongin hanya menatapnya ragu-ragu. Ingatan dimana Sehun meninggalkan dirinya di tengah pesta orang-orang kaya itu hanya akan membuatnya merasa dipecundangkan oleh namja bermarga Oh itu.
"Aku harus menjaga Kyungsoo nanti malam" Jongin menyahut.
Sehun mengerti, sudah seharusnya Jongin berpikir seperti itu. Mengingat betapa Jongin menyayangi sang anak lebih dari apapun.
"Kita bisa mengajaknya mungkin" Entah apa yang Sehun pikirkan kali ini, hingga ia bisa berkata begitu.
Tapi mungkin Jongin terlalu kecewa dengan apa yang sudah Sehun lakukan ketika di pesta pernikahan Jinri 2 bulan yang lalu.
"Apa kau takut aku meninggalkan dirimu lagi?" Tanya Sehun.
Jongin menggigit bibir bawahnya, wajahnya memperlihatkan jika sekarang ia tengah berpikir.
"Wajar jika manusia punya ketakutan untuk ditinggalkan, Oh Sehun" Jongin menjawab pelan.
Benarkan?
Jadi selama ini alasan Jongin menghindarinya karena kejadian ini. Memang terlihat sepele, tapi tidak untuk orang yang punya hati dan pikiran yang waras.
"Ternyata aku sejahat itu ya" Sehun bermonolog.
Jongin yang duduk di sampingnya hanya terdiam. Biarkan saja namja itu berpikir, jika ia sudah dewasa sekarang. Tidak seharusnya ia egois pada orang lain soal perasaan.
"Mommy"
Langkah kaki mungil Kyungsoo tertuju ke arah sang mommy. Bocah menggemaskan itu berjalan dengan tawa di wajah polosnya.
Kyungsoo anak yang pemalu meski sebenarnya dia sangat friendly dengan orang-orang yang sudah ia kenal. Tetapi saat bersama Sehun, Jongin bisa melihat putra kecilnya itu akan berkelakuan manja sebagaimana seorang anak pada ayahnya.
"Mana Mimi?" Tanyanya. Ia mendudukan tubuhnya di pangkuan sang ibu.
"Mimi sedang tidur. Kenapa Sooie tidak tidur siang?"
"Cooie mau cama mommy dan didi"
Jongin menarik napas pelan. Ia sama sekali tidak bisa berkutik kalau sudah menyangkut putra semata wayangnya itu.
"Kyungsoo" Sehun sebut nama anak itu.
"Napa didi?"
"Apa Kyungsoo mau ikut jalan-jalan?"
Kyungsoo mengangguk ceria. Ia suka jalan-jalan.
"Sehun?"
"Iya?"
Jongin menatap Sehun kesal. Jelas-jelas ia tidak akan mau ikut. Sehun malah mengajak Kyungsoo.
"Aku tidak mengajakmu kan?"
"Kyungsoo juga tidak akan pergi"
"Jongin" Sebutnya. "Katakan padaku, apa yang harus ku lakukan agar kau memaafkan aku?"
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/n :
Detik detik mau tamat nih. Seperti yang aku sering bilang ya..FF dilanjut kalo Review tembus 20. Gak tembus? Ya gak dilanjut huahahaha..ketawa jahat. Boleh dong bilang begitu? So far aku juga gak pelit2 amat kalo ngereview orang. meskipun cuma sekedar memuji. Well, aku bukan org yg bisa mengkritik org lain sementara ff ku juga masih punya kekurangan dan I'm not the best one diantara para author-author senior.
Joyiee, gimana soal ff Pedofilia nya? Hmm..Itu ff mesum bgt, dan menurut aku gak layak buat dibaca anak dibawah umur*plaked (tumben mikir huahaha).
Joyie, kenapa kamu sering nyelipin Little House buat alur FF kamu?
My family is broken. I lost everything since I was 4. and the reason way i love everything about lil house is I'm just missing something that has been missing of me. Sorry if you all people didnt like my works..I'm just writing based on my mind and my heart.
Joyie..Update sesuatu yg berbeda.
Sesuatu yg berbeda? Seperti ff pembunuhan pake Sianida gitu? Wahahaha..beda banget kan? beda banget. Btw ada yg ngasih saran ini lho ke aku.
(Note : Jangan tanya macam-macam dulu soal alur. Lagi mager buat jawab *lol. Kasih pertanyaannya jangan susah-susah ya, biar aku gampang jawabnya^^)
