edit : Untuk Hikari-Kiddo, terima kasih buat koreksinya, kalau misalnya ada masalah lagi, kalian semua bisa langsung kasih tahu saya, okay? Dan karena baru-baru ini saya sedang disibukkan banyak proyek, jadi kadang lupa menuliskan hal detail, dan saya cuma bisa bergantung dari review kalian ^^
Buat perkataan Tsuna yang "Orang tuaku tidak ada" memang sedikit ambigu, gara-gara itu, saya edit sedikit di bagian sana supaya lebih jelas apa yang dipikirin sama Gokudera. Maafkan aku~, masih jadi penulis pemula soalnya dan otak juga masih overload, wkwkwkwk
Katekyo Hitman Reborn bukan punyaku! Karakternya juga bukan! KHR punya Akira Amano, fic ini cuma buat hiburan semata ^^;
Italic = pikiran
Normal =normal
underline = masa lalu
Chapter 4
"Kemarin kamu dengar? Ada suara tembakan!"
"Iya, aku dengar, sepertinya dekat sekali"
"Jangan-jangan di sekitar sini ada pembunuhan! Hiiy, seram!"
Begitu banyak yang bergosip mengenai tembakan yang dilepaskan Reborn kemarin, namun Tsuna tidak mempedulikan hal tersebut dan tetap berjalan menuju kelasnya. Sebenarnya hari ini ia kesal sekali, pertemuan kemarin malam yang mendadak dibuat oleh Reborn, ternyata tidak membuahkan apapun. Apalagi dengan absennya Hibari, para rekan mafia-nya yang lain menjadi lebih seenaknya dibanding sebelum-sebelumnya.
.
.
.
"Kalau tidak ketemu, ya sudah, biarkan saja"
"Lagipula, cepat atau lambat mafia lain akan mengetahuinya"
Dan seterusnya, Tsuna hanya dapat duduk di kursinya sambil memejamkan matanya dan mendengarkan keluhan para rekannya. Bila Hibari hadir sekarang, orang-orang ini pasti akan membungkam mulutnya. Sayangnya Hibari sedang terluka, dan ia sudah mengabarkan Reborn bahwa ia tidak bisa datang hari itu. Yamamoto menghela nafas di sebelahnya, kalau orang-orang ini berbicara lebih jauh lagi, mungkin Tsuna akan mengamuk.
"Hey, Boss. Daripada membuang tenaga, lebih baik kita menyerang musuh dan mengambil teritori mereka" Salah seorang dari mafia itu berkata kepada Tsuna.
"Betul, dengan begitu kekuatan kita akan bertambah, dan juga profit akan meningkat"
"Kau tahu..." Tsuna tiba-tiba berbicara tapi ia sama sekali tidak membuka matanya, ia sudah lelah mendengar apa yang dikatan oleh para mafia itu. "Kalau ia bergerak dengan bebas, akan terjadi sesuatu yang lebih parah"
"Oh, ya?"
"Mereka bisa menangkapnya dan membuat senjata yang lebih berbahaya, dan juga... mereka bisa menghancurkan Vongola" Kali ini Tsuna membuka matanya, dan mereka langsung disambut dengan mata warna oranye menyala. Semua yang melihat matanya, buru-buru mengalihkan pandangan mereka dan menelan ludah. Tapi apa yang dikatakan oleh Tsuna memang benar, kalau saja ada mafia lain yang berhasil menangkap orang itu, mereka bisa menyuruh orang tersebut untuk membuatkan mereka sebuah senjata ataupun teknologi yang tidak terkalahkan. Mencari profit pun tidak ada gunanya, bila pada akhirnya mereka akan dihabisi musuh mereka.
Sesudah berdebat dengan rekannya yang bisa dibilang cukup bodoh, pertemuan tersebut tidak menghasilkan sebuah keputusan yang pasti. Walaupun strategi awal mereka tetap dijalankan, yaitu menjadi bagian dari masyarakat sembari mencari keberadaan orang tersebut.
.
.
.
Tsuna duduk di kursinya dengan segera sesudah menyimpan tasnya disamping mejanya. Orang itu harus segera ditemukan, kalau tidak, para rekan mafia-nya akan semakin cerewet. Bila saja pada waktu itu Hibari hadir, pertemuan tersebut pasti akan beres lebih cepat.
Mengenai pertemuan tersebut, Tsuna menjadi teringat akan mimpinya itu, dimana ia dan Gokudera hampir melakukan seks dalam mimpinya. Belum pernah ia menginginkan seseorang seperti ini, ia ingin mengetahui bagaimana rasanya apabila melakukan seks dengan Gokudera. Selain itu, bila dilihat dari gerak-gerik maupun tingkah lakunya, Gokudera sepertinya masih perjaka. Tsuna mendengus ketika membayangkannya, kalau ia bisa menjadi yang pertama bagi Gokudera, berarti...
"Yo, Tsuna!" Yamamoto datang menghampirinya sesudah menyapanya. Tsuna hanya bisa menatapnya, tumben sekali Yamamoto bisa datang sepagi ini.
"Yamamoto... Apa... Hari ini ada sesuatu?"
"Eh? Kenapa? Tidak ada kok" Yamamoto menjawabnya sambil memberikan senyum yang memperlihatkan giginya. Yamamoto saja sudah datang, tapi Gokudera belum menunjukkan batang hidungnya. Apa ia sakit? Obat tidur yang terlalu kuat memang bisa menimbulkan sakit kepala yang berlebihan, kalau ia tidak datang hari ini, Tsuna berencana untuk menjenguknya sesudah pulang sekolah, walaupun ia tidak tahu secara pasti di mana apartemennya, tapi dengan adanya Reborn, ia bisa menanyai Reborn mengenai informasi yang ia butuhkan. Untungnya, tidak lama kemudian, Gokudera datang, dan penampilannya masih sama seperti kemarin, ia tidak mengikat rambutnya tapi tetap memakai kacamatanya. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi tidak terlalu parah seperti kemarin.
"Aaah! Sawada-san! Selamat pagi!"
"Selamat pagi, Gokudera-kun"
"Yo, Gokudera! Selamat pagi! Tumben, kau telat"
"Che, aku sibuk, tidak sepertimu, yakyuu baka"
Untuk sesaat Tsuna merasa lega Gokudera datang ke sekolah pagi ini, namun dalam lubuk hatinya ia sedikit kecewa karena ia tidak bisa melihat apartemen Gokudera. Mungkin kapan-kapan...
.
.
.
(*O*)
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, murid-murid pun berteriak kegirangan setelah jenuh belajar selama hampir 5 jam. Yamamoto masih ada latihan baseball sepulang sekolah, sedangkan Gokudera ingin ke perpustakaan sekolah untuk sebentar, ia ingin membaca beberapa buku, sekalian untuk mengejar pelajaran kemarin, soalnya, kemarin ia 'kan tertidur di UKS seharian. Tsuna memutuskan untuk menemaninya, lagipula hari ini ia tidak ada kerjaan, Reborn pun sedang sibuk mengurus hal-hal yang menyangkut sekolah ini.
Sesampainya di perpustakaan, Gokudera dengan cepat mengambil beberapa buku yang ia butuhkan dan langsung duduk di meja bersebelahan dengan Tsuna. Gokudera sangat senang karena Tsuna mau menemaninya, walaupun sebenarnya ia ingin bertanya ada apa dengan Tsuna kemarin, namun melihat Tsuna sudah tersenyum seperti biasa, ia tidak pernah berpikir untuk menanyakan sesuatu pada Tsuna. Tsuna meminjamkannya beberapa catatan untuk disalin olehnya, karena Gokudera adalah orang yang cerdas, ia jarang menanyakan apapun mengenai catatan yang Tsuna berikan, ia hanya menyalin kembali apa yang sudah Tsuna catat.
Saat Gokudera sedang sibuk mencatat, Tsuna memperhatikan wajahnya dari samping. Ia tidak pernah melihat Gokudera dengan wajah yang tentram seperti itu, apalagi bila ada Yamamoto di sebelahnya, alisnya pasti akan terus mengkerut. Gokudera tidak sadar ketika dirinya sedang diperhatikan Tsuna, ia terlalu sibuk untuk mencatat, bahkan ia tidak sadar ketika rambut depannya yang ia kesampingkan sebelumnya, terjatuh dari kupingnya. Namun Tsuna menyadarinya, ia mengulurkan tangannya untuk mengangkat kembali rambut peraknya yang menghalanginya untuk menatap wajah Gokudera. Gokudera secara otomatis kaget dan menghentakkan tubuhnya dengan segera.
"S-Sawada-san! J-Jangan mengagetkanku!"
"Eh? Haha, maaf. Habis, rambutmu sepertinya mengahalngimu"
"T-Tidak, sama sekali tidak!" Gokudera bisa merasakan wajahnya terasa panas, ia pun cepat-cepat kembali ke aktivitasnya semula, mencatat. Sedangkan Tsuna, ia rasanya ingin sekali memukulkan kepalanya sendiri ke tembok terdekat, setiap kali Gokudera memasang wajah seperti itu, ia bisa merasakan sesuatu di bagian bawahnya. Dan karena itu juga, mimpinya yang kemarin kembali terbayang di otaknya. Sial... Akhirnya, selama di perpustakaan, Tsuna mengalami penyiksaan yang amat berat. Ia tidak bisa melakukan apapun ketika berada di sana, selain banyak orang, tempat itu juga sangat hening.
.
.
.
(*O*)
Mungkin duduk bersama dengan Gokudera merupakan sebuah ide yang buruk. Ia tidak bisa berhenti menatapnya, dan terus menerus membayangkan hal-hal kotor dipikirannya. Setelah Gokudera selesai mencatat semua catatan milik Tsuna, mereka pun berjalan bersama melalui lorong sekolah untuk menuju pintu keluar. Karena perpustakaan berada di lantai dua, perjalanan yang mereka tempuh pun cukup jauh. Selama dalam perjalanan mereka, Gokudera sama sekali tidak menyadari tatapan dengan penuh hasrat yang diarahkan kepadanya dari Tsuna.
Pikiran Tsuna terganggu saat mereka sedang melewati lapangan sekolah. Mereka berdua mendapati seseorang...? Dua orang sedang bertarung di lapangan sekolah mereka, debu tanah bertebaran dimana-mana dan suara senjata berselisih pun terdengar di telinga. Untuk beberapa saat, Tsuna dapat melihat kalau yang bertarung di lapangan adalah Hibari dan Reborn. Saat tonfa Hibari dan senjata Reborn (Leon) bertubrukan untuk yang kesekian kalinya, mereka masing-masing melompat ke arah yang berlawan dan menarik napas.
"Heh, kau semakin kuat, Hibari"
"Kau juga, akanbou... ... Mau apa kau, para herbivora" Hibari menyadari kehadiran Tsuna dan Gokudera yang sedang berdiri di samping lapangan. Dengan segera ia menatap kedua herbivora itu dengan tajam setelah mengacungkan tonfanya ke arah mereka.
"Hibari-san, kami sudah mau pulang kok, iya 'kan, Gokudera-kun? ... Gokudera-kun?"
Gokudera menatap Hibari terus menerus, ia mengenal orang ini, orang yang kemarin memberikannya air minum yang berisi obat tidur. Gara-gara Hibari, entah berapa banyak masalah yang telah ia hadapi kemarin.
"Hibari? Itu namamu? Brengsek"
"Berani sekali kau menghinaku, kau tahu hukuman apa yang akan kau dapat bila menghinaku?" Hibari berkata kepadanya sambil menyeringai.
"Aku tidak peduli siapapun dirimu, jangan kira aku tidak ingat wajahmu... Kau bajingan..." Gokudera menggeram, ia benar-benar kesal kepadanya, dan juga benci, rasanya ingin sekali menghapus senyum licik pria itu dari wajahnya.
"Gokudera-kun, sudah, hentikan" Tsuna mencoba untuk menenangkan Gokudera, ia yakin menantang Hibari adalah sebuah pilihan buruk, apalagi dengan orang awam seperti Gokudera, hanya dalam hitungan detik mungkin Hibari bisa menghabisinya.
"Tapi, Sawada-san! Orang ini... Dia telah memberikanku air minum yang berbahaya!"
"..."
"Dame-Tsuna, lebih baik kalian cepat pulang, lagipula ini sudah sore. Waktunya bagi para bocah seperti kalian untuk pulang"
"... K-Kepala sekolah?" Gokudera baru menyadari kehadiran Reborn saat ia berbicara, dengan cepat ia langsung menundukkan badannya berkali-kali, gawaaat! Pasti ia melihatku berkata kasar! Gokudera sangat panik dengan adanya Reborn di sampingnya, sekali saja ayahnya mendapat surat peringatan dari sekolah, selamat tinggal hidup bebas. Saat Gokudera sedang lengah, sebuah tonfa dilempar tepat ke arah kepala Gokudera dan...
DUAK
"Gokudera-kun!" Tsuna dengan sigap segera menangkap tubuh Gokudera yang goyah.
"Hibari, apa yang kau lakukan" Reborn langsung memarahi Hibari, menyerang lawan saat lengah, itu seperti bukan Hibari. Hibari hanya diam saja, matanya tertutup oleh poni hitamnya. Karena pukulan tonfanya cukup kuat (apalagi diarahkan ke kepala), Gokudera pun tidak sadarkan diri. Tsuna hanya bisa menatap pria yang pingsan di... pelukannya? Tsuna tahu ini bukan saat yang tepat, tapi ia merasa senang bisa memeluk Gokudera seperti ini.
"Oi, Hibari" Reborn mencoba memanggil namanya kembali, namun Hibari tetap tidak menjawabnya. Tsuna merasa ada sesuatu yang aneh dengan Hibari, intuisinya berkata demikian. Sampai pada akhirnya, Hibari tiba-tiba jatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri seperti Gokudera.
"Hibari... Lukanya itu, apa itu yang menyebabkan ia kehilangan akalnya?"
"Bukan, Reborn. Ada sesuatu yang aneh, sebaiknya kau periksa lebih jauh mengenai keanehan pada Hibari" Tsuna berkata kepada Reborn, sambil sesekali menatap Gokudera yang berada di dalam pelukannya.
"Terserahlah, bagaimana dengan bocah itu?" Reborn menunjuk pada laki-laki berambut perak itu, atau dengan kata lain Gokudera.
"Serahkan saja ia padaku, kau yang urus Hibari... Dan sebelumnya Reborn, aku ingin minta tolong"
.
.
.
(*O*)
Ini kedua kalinya kepalanya terasa sakit setengah mati, tapi untuk alasan yang berbeda. Ia mendapati dirinya sedang tertidur disebuah kasur. Sebelum benar-benar membuka matanya, Gokudera mengedipkan matnya berkali-kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu di depan matanya. Ia mengerang sambil memegangi kepalanya, khawatir bila kepalanya berdarah karena serangan seorang Hibari.
"Gokudera-kun?"
"HUWAAAAA! S-S-Sawada-san?" Gokudera dengan sigap segera bangkit dari kasur, setelah melihat Tsuna duduk di kasur yang sama dengannya. Namun, Tsuna menahannya dengan memegangi kedua bahunya dan meletakkan kembali tubuh Gokudera ke kasur.
"Karena aku tidak tahu dimana rumahmu, jadi aku tidak punya pilihan lain selain membawamu ke rumahku. Kau juga perlu istirahat" Tsuna menjelaskan sambil tersenyum kepadanya. Entah kenapa, tetapi setiap melihat senyuman Tsuna, hatinya meleleh bagaikan mentega yang dipanaskan di penggorengan... Apa yang kau pikirkan, Hayato! Ia seorang laki-laki!
"Uuh, sebaiknya, aku pulang saja. I-ini sudah... gelap sekali..."
"Tidak apa-apa, menunggu berjam-jam pun aku rela kok, mau menginap pun tidak apa-apa"
"T-Tapi, o-orang tuamu?" Gokudera sama sekali tidak menyadari bahwa membicarakan soal kehidupan Tsuna adalah hal yang tabu. Tsuna menundukkan kepalanya dan memalingkan wajahnya dari pandangan Gokudera.
"Orang tuaku tidak ada"
"Eh?" Gokudera menjadi panik begitu mendengar suara Tsuna yang begitu lemah, dalam hatinya ia memarahi dirinya sendiri karena telah menayakan hal bodoh kepada orang nomor satunya, dan rumahnya pun memang sangat sepi, padahal baru kemarin ini Tsuna berkata sedang merawat ibunya. Apa orang tuanya sudah bercerai? Menanyakan masalah pribadi seperti itu memanglah tidak pantas. Ia berpikir keras apa yang harus dikatakan sebagai permintaan maaf.
"..."
"M-maafkan aku! A-Aku tidak bermaksud... Emm, uuuh, m-maaf!"
"Jangan khawatir, tidak apa-apa"
"T-tapi..." Gokudera terus terbata-bata dalam menyampaikan kalimatnya, ia sangat takut dan tidak ingin Tsuna memebencinya. Tsuna adalah teman pertamanya, berbeda dengan Yamamoto, Tsuna sangat memperhatikannya, walaupun cukup berlebihan tapi ia merasa senang berada di sisi Tsuna. Di pihak lain, Tsuna ingin tertawa melihat Gokudera terlihat panik. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Kau benar-benar ingin aku memaafkanmu ya?"
"I-Iya" Gokudera mengangguk dalam posisi tidurnya, karena kepanikannya tadi wajahnya berubah menjadi warna merah. Sambil menyeringai, Tsuna mendekatkan tubuhnya ke arah Gokudera dan meletakkan wajahnya tepat di depan muka Gokudera. Sampai-sampai Gokudera bisa merasakan nafas Tsuna di seluruh kulit mukanya saking dekatnya wajah mereka.
"Kalau begitu, ijinkan aku menciummu"
.
.
.
(*O*)
Reborn sedang duduk di kursi sebelah kasur Hibari, karena Reborn tidak mengetahui dimana rumah sang prefek itu, ia pun terpaksa menidurkannya di kasur UKS. Baru saja Reborn menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, akhirnya Hibari membuka matanya.
"Hibari"
"Akanbou, sedang apa kau... Apa yang terjadi padaku"
"Kau tidak ingat?" Reborn mengerutkan alisnya sambil bertanya kepada Hibari.
"... Tidak" Singkat, padat dan jelas, itulah Hibari, lagipula ia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi sampai ia tertidur di UKS seperti ini, seperti herbivora lemah.
"Ini tidak seperti biasanya, apalagi menyerang orang tidak membahayakan seperti itu..."
"Akanbou, apa kau belum mendengarnya"
Reborn dengan segera mengangkat fedora yang menutupi matanya, ia selalu mengetahui segala hal yang berhubungan dengan Vongola, apakah ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tsuna darinya?
"Sama sekali tidak melibatkan omnivora itu" Hibari mengalihkan pikiran Reborn, ia tahu Reborn pasti berpikir mengenai Tsuna.
"Lalu"
"Vindicare, mereka melepaskan orang itu... Dan kemarin malam, aku bertarung dengannya"
Mendengar kata 'Vindicare', Reborn teringat akan perkataan Tsuna tadi sore, mengenai permintaannya.
.
.
.
"Rokudou Mukuro, kau masih mengingatnya, Reborn?"
"Tentu saja, pria berambut nanas pembawa sial yang pernah mengkhianatimu"
Reborn tidak segan-segan untuk menghina pria bernama Rokudou Mukuro tersebut. Mukuro adalah seorang ilusionis cerdik, namun juga tipe orang yang menusuk dari belakang. Setahun yang lalu, ia pernah merencanakan sebuah penyerangan ke markas Vongola, untungnya hal tersebut diketahui oleh Hibari sehingga rencana penyerangannya pun gagal. Menurut kabar burung, Mukuro ingin merampas senjata berbahaya yang dimiliki Vongola untuk menguasai dunia Mafia. Pastinya juga, Mukuro memiliki tujuan untuk mencari orang tersebut.
"Ini hanya perasaanku, tapi... Bagaimana kalau ada seseorang yang membebaskannya dari sana"
"Jangan bodoh dame-Tsuna, tidak akan ada orang yang cukup berani untuk berhadapan dengan Vindice"
"Kalau ada?"
"..." Reborn tidak tahu harus marah atau apapun terhadap pernyataan yang menurutnya bodoh. Tapi intuisi Tsuna tidak pernah salah, setiap kali Tsuna mendapat suatu prasangka, cepat atau lambat prasangka itu akan terwujud.
"Aku mendapat firasat, Mukuro adalah penyebab keanehan Hibari. Oleh karena itu, Reborn, aku ingin kau mendapat konfirmasi dari Vindice mengenai Mukuro"
.
.
.
(*O*)
"A-APA?" Gokudera membuka matanya lebar-lebar, tapi wajahnya tetap merah, malah semakin merah sesaat ia mendengar perkataan Tsuna.
"Aku tidak bercanda, Gokudera-kun. Jadi?"
Gokudera menutup mulutnya rapat-rapat, ia takut Tsuna akan marah. Ini pertama kalinya juga ia melihat Tsuna seperti itu, ia seperti serigala yang sedang menunggu mangsanya dan mangsanya adalah Gokudera sendiri. Meneguk ludahnya sendiri pun tidak menghilangkan rasa khawatirnya, kalau ia mengangguk, ciuman pertanmanya akan direbut oleh seorang laki, tapi kalau ia tetap diam, Tsuna mungkin akan pergi meninggalkannya. Yang mana pun sama sekali tidak ada baiknya... Walaupun hati kecilnya sebenarnya penasaran, bagaimana rasanya dicium oleh seorang laki-laki sekeren Tsuna, tetap saja... Mata Tsuna yang berwarna orange seperti yang sedang mendominasinya, semakin lama ia menatapnya, matanya terasa semakin berat. Karena tidak tahu apalagi yang harus ia lakukan, Gokudera menutup erat-erat matanya dan mengangguk pelan.
End of Chapter 4
