Summary: no summary for this chapter, just read and review^^
Warning : maaf jika ada typo, karena typo itu manusiawi, jadi mohon dimaafkan wkwk. DON'T COPY PASTE or SHARE MY STORY IN OTHER BLOG. THIS IS MY STORY, AND I ONLY POST MY STORY ON FFN. ONLY FFN: evayesiu12. thx
COMPLICATED KIM'S 4
Changmin benar-benar kebosanan di dalam kamarnya. Kakinya masih belum sembuh, dan ia terpaksa dikurung di dalam kamarnya 2 hari ini. Banyak makanan berserakan di atas meja nakas dan meja belajarnya, namun tak satupun ia sentuh. Tidak ada yang bisa membuat Changmin berubah menjadi seorang pendiam seperti ini, kecuali satu orang. Kim Kyuhyun.
"Eomma, jebal ijinkan aku ke rumah Kyuhyunie nanti malam. Ijinkan aku menginap di sana," rengek Changmin sambil menggoyangkan badannya seperti anak kecil. Ny. Shim yang sedang mengupaskan buah untuk Changmin hanya tersenyum dan menjawab dengan gelengan kecil.
"Kakimu masih belum boleh terlalu banyak digerakan."
"Aishh. Jika seperti ini terus, kakiku justru akan menjadi kaku dan semakin lama pulihnya jika tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Kyuhyunnn, aku mau Kyuhyun. Eomma?"
Ny. Shim menoleh kearah Changmin yang tengah memandanginya dengan wajah memelas. Tak taukah Changmin bahwa orang yang pantas memasang wajah seperti itu hanyalah 'Kyuhyun'. Bukan orang lain, termasuk Changmin.
"Jangan memasang wajah menjijikkan itu, Changminie," tegur Ny. Shim kembali sibuk dengan buahnya.
"Yak! Aku hanya merindukan Kyuhyun. Dia pasti sedang kesepian di sekolah tanpaku. Dia juga pasti kerepotan di tempat kerja karena tidak ada aku. Pasti dia sangat lelah. Jika begitu aku takut..."
Ny. Shim menghentikan acara memotong buahnya saat melihat kepala Changmin yang menunduk. Selain merindukan Kyuhyun, anaknya itu pasti sangat mengkhawatirkannya. Kyuhyun tidak tau jika memiliki penyakit serius di dalam tubuhnya. Anak itu pasti akan bekerja sangat keras dan mengabaikan sakit yang bisa saja muncul di dalam tubuhnya, karena menganggap itu hanyalah sakit biasa yang semua orang bisa merasakannya saat kelelahan.
"Bagaimana jika penyakitnya kambuh dan aku tidak berada di sana? Kyuhyun pasti sangat ketakutan dan bingung."
"Aigooo.." Ny. Shim menarik kepala Changmin dan mengusapnya. Memperlakukan anak uniknya seperti anak kecil.
"Sudah 8 bulan semenjak vonis itu. Tidakkah kau melihatnya minie? Anak itu sangat kuat. Kau harus percaya bahwa Kyuhyunie akan selalu baik-baik saja. Sekarang, kau hanya perlu banyak istirahat dan fokus untuk kesembuhan kakimu. Karena jika dengan kaki pincang seperti ini, kau tidak akan bisa menjaga Kyuhyunie."
"Yak!" Changmin mendorong tubuh Ny. Shim, kemudian melipat tangannya di depan dada.
"Eomma mengataiku pincang, eoh?"
Ny. Shim tergelak, "Tentu saja. Kau tidak tau diri sekali mengkhawatirkan orang lain sementara dirimu amat sangat patut dikasihani."
Hangmin hampir mennagis. Kata-kata Ny. Shim benar-benar sangat menyakiti hatinya. Changmin baru ingat, mulutnya bahkan hampir sama dengan mulut tajam Eommanya. Apakah orang di luar sana juga banyak yang sakit hati dengan perkataannya selama ini?
"Dengarkan Eomma. Jika kau memang mau melidungi Kyuhyunie dan menjaganya, maka cepatlah sembuh dan jangan memaksakan diri untuk melakukan banyak hal dengan kondisimu sekarang. Jika kau sehat, kau juga bisa menjaganya dengan baik. Jika seperti ini, kau pasti akan membuatnya sangat repot dan tidak berhenti mengkhawatirkanmu."
"Kau lebih mengenal Kyuhyunie daripada kami. Pikirkan itu baik-baik." Ny. Shim tersenyum sambil mengusak rambut Changmin kemudian beranjak keluar setelah sebelumnya menaruh potongan buah di atas piring di atas tempat tidur Changmin.
"Changmin bodoh! Bagaimana kau menganggap Kyuhyun sahabat sementara kau tidak bisa memahami bagaimana sifat Kyuhyun?" Changmin merutuki diri sendiri. Tangannya terkepal dan beberapa kali memukul kepalanya.
"Aishh..aku jadi lapar. Aigo sudah berapa jam waktu yang ku buang untuk mengabaikan kalian para 'kekasihku'?" Chnagmin tersenyum lebar. Menyentuh satu persatu kekasihnya dan mengambilnya satu. Roti coklat.
"Kyuhyunie, haruskah aku memakanmu?"
Roti coklat. Makanan kesukaan Kyuhyun. Changmin sering sekali menggambarkan Kyuhyun dengan beberapa jenis makanan dan kebanyakan adalah makanan kesukaan Kyuhyun.
"Aku merindukanmu. Jadi aku harus memakanmu. Jangan menangis jika ku makan, arra?"
-CK-
Kyuhyun sedang fokus mengerjakan tugas yang diberikan Jung Seosangnim di mejanya di jam istirahat saat tiba-tiba kepalanya berdenyut. Refleks Kyuhyun meletakkan alat tulisnya dan memijat kedua pelipisnya dengan kedua tangannya.
"Aku kenapa lagi?"
Kyuhyun tau tubuhnya sedang tidak sehat semalam. Tapi, tadi pagi dia sudah merasa baik-baik saja. Lalu kenapa tiba-tiba ia kembali diserang rasa pusing?
Vitamin? Kyuhyun sudah meminumnya. Sarapan pagi? Kyuhyun sudah memakannya. Makan siang? Memang belum, tapi Kyuhyun memang sering mengabaikan makan siangnya, dan itu tidak berpengaruh apapun. Tapi..kenapa sekarang menjadi seperti ini?
"Mungkin kelelahan?" tanyanya pada ruang hampa di kelasnya yang memang hanya tersisa 2 sampai 3 orang siswa. Kibum sendiri sedang bimbingan intensif dengan Minji Seosangnim untuk Olimpiade minggu depan.
Kyuhyun diam beberapa saat sebelum merebahkan kepalanya di atas meja. Rasa pusing itu semakin melumpuhkan kinerja tubuhnya. Kyuhyun sempat merintih sebentar sebelum semuanya gelap.
-CK-
Kibum masuk kelas sedikit terlambat, bahkan guru pengajar sudah memulai menerangkan pelajarannya. Kibum sempat menoleh ke bangku belakang dan menemukan adiknya tengah tertidur –sepertinya- dengan kepala merebah di atas meja.
"Kau akan berdiri saja Kim Kibum?" tegur Jung Seosangnim. Kibum membungkuk meminta maaf, kemudian duduk dan memulai fokus dengan pelajaran yang disampaikan gurunya. Beberapa menit berlangsung Kibum kembali melirik ke arah meja Kyuhyun, adiknya itu masih dalam posisi yang sama. Beruntung Jung Seosangnim mengabaikannya.
Jam sekolah hampir selesai dan Kyuhyun masih juga tak bergeming dari posisinya. Kibum yang sedari tadi mengawasi menjadi khawatir. Kakinya bergerak gelisah. Ia ingin berlari ke meja adiknya dan memastikan kondisi adiknya itu baik-baik saja.
Sama dengan Kibum, Kyuhyun yang sebenarnya sudah 'sadar' dari pingsannya tengah kebingungan dengan tubuhnya yang sangat lemas. Untuk mengangkat kepala saja rasanya sangat berat. Samar Kyuhyun mendengar suara Jung Seosangnim yang sedang menjelaskan beberapa hal tentang perhitungan fisika, namun kembali lagi, Kyuhyun benar-benar lemas.
Bum-bum Hyung, eottoke?
Di bangku depan, Kibum menoleh. Sepertinya Kyuhyun sedang memanggilnya tadi. Tapi saat menoleh, adiknya itu masih saja duduk dengan posisi kepala menelungkup sama seperti 3 jam yang lalu.
"Saem." Kibum mengangkat tangannya, tak tahan dengan kekhawatirannya sedari tadi.
"Ya, Kibum-ssi?"
Kibum diam sebentar. Sepertinya akan sangat berlebihan jika menginterupsi guru yang sedang mengajar hanya karena ingin pindah tempat.
"Saya..bolehkah saya.."
Kringgggg
"Jam pelajaran sudah selesai, silahkan jika ingin ke kamar kecil Kibum-ssi." Jung Saem terlihat membereskan beberapa bukunya dan mengakhiri kelasnya. Kibum yang tidak sabar segera berdiri dan berlari menuju meja adiknya. Hal itu tak luput dari pandangan heran teman-teman satu kelasnya.
"Kyuhyunie." Kibum mengangkat kepala adiknya. Mata Kibum membulat, terdengar pekikan keras dari teman kelasnya yang juga melihat seperti apa kondisi Kyuhyun saat ini.
"Kyu..gwaenchana?"
Kibum meraba wajah adiknya yang sudah sangat pucat dengan bibir membiru. Napas adiknya masih terdengar tapi sangat cepat dan berat. Persis seperti orang sekarat. Namun yang lebih mengejutkan adalah Kyuhyun masih sadar.
"B-bum, Hy-yunghh."
"Kalian, panggil Ambulance!" Teriak salah satu siswa.
Kibum tidak menghiraukan kepanikan di sekitarnya karena dirinya sendiri sudah dilanda kepanikan lebih dari siapapun. Kejadian seperti ini pernah terjadi. Kibum sangat mengingatnya, bagaimana tubuh adiknya hampir terbujur kaku tidak bisa bergerak sama sekali ketika ia dan Heechul menjemputnya di tempat laknat 2 tahun yang lalu. Bahkan Kyuhyun butuh waktu hampir 5 minggu untuk bisa menggerakan otot tubuhnya secara normal. Itu dulu, saat tubuh Kyuhyun penuh dengan luka dan otot yang kaku akibat dari kerja rodi yang ia jalani terlebih setelah kedua Hyungnya lebih dulu pergi dari rumah.
"Kibum, Ambulance sudah datang. Cepat bawa adikmu!"
Kibum terus memeluk adiknya erat-erat, seseolah tidak ada orang lain di sekitarnya. Kibum bahkan tidak mampu mendengar suara panik yang terus meneriakinya untuk segera membawa Kyuhyun ke dalam Ambulnace. Hingga sebuah tangan berhasil melepas pelukannya pada Kyuhyun. Kibum dengan pandangan kosong berjalan dengan tangan yang di tarik oleh seseorang. Ramainya koridor oleh para haksaeng yang penasaran dengan kedatangan Ambulance di sekolah mereka juga tidak dihiraukan oleh Kibum. Dengan pandangan kosong, ia terus berjalan mengikuti seseorang yang menuntunnya. Ntah siapa itu. Yang Kibum fokuskan sekarang adalah keadaan Kyuhyun yang begitu mengejutkannya.
-CK-
Kibum terlihat duduk di salah satu bangku di depan ruang UGD bersama dengan 2 orang guru pengajar yang tadi turut menemaninya di dalam Ambulance. Kedua kakinya benar-benar tidak bisa diam. Kebiasaan seorang Kibum jika sedang dilanda khawatir. Park Minji dan Go Il Sung, kedua gurunya juga melakukan hal yang sama. Walaupun sesekali menepuk pundak Kibum untuk menguatkan. Tapi melihat kondisi Kyuhyun tadi membuat kedua guru pengajar itu merasakan kekhawatiran yang sama dengan apa yang dirasakan Kibum.
Pintu ruang UGD terbuka tepat di menit ke 47. Seorang dokter yang dikenal Kibum tersenyum hangat begitu melihat ketiga orang yang menuggu dengan wajah panik.
"Kyuhyun-ssi baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Kalimat penenang itu sukses membuat pertahanan seorang Kim Kibum runtuh. Namja stoic itu menangis. Rasa khawatir dan takut yang berlebihan langsung membuncah begitu mendengar sederet kalimat penenang dari Uisa yang dulu juga menangani Kyuhyun dengan kondisi yang sama.
"Boleh saya berbicara dengan Kibum-ssi?"
Park Minji dan Go Il Sung tersenyum, memberikan jalan kepada Kibum untuk mengikuti langkah kemana Uisa pergi.
Kibum menundukkan kepalanya dalam begitu masuk ke dalam ruangan Uisa yang bernama Huang Bo. Seorang Uisa berdarah China yang juga pernah ia temui 2 tahun yang lalu.
"Uisa masih mengingat saya?" tanya Kibum sedikit...ragu.
"Tentu saja Kibum-ssi. Kasus adikmu dulu benar-benar membuatku tak habis pikir hingga sekarang. Dan apa yang ku khawatirkan dulu benar-benar terjadi hari ini."
Kibum terus menunduk tak berani menatap Uisa berwajah ramah itu secara langsung. Kibum juga terus meremas kedua tangannya untuk menghilangkan rasa gugup dan takutnya.
"Mianhamnida Uisa. Dulu, kami tidak mendengarkanmu."
"Aniya, sudah menjadi hak kalian untuk menolak. Bagaimanapun kami hanya bisa menyarankan."
Kibum diam-diam menghembuskan napasnya kasar, "Lalu, bagaimana keadaan adik saya?"
Huang Uisa ikut menghela napas kasar, "Kau tentu tau apa yang terjadi dengan adikmu, Kibum-ssi."
"Dan, cobalah angkat kepalamu itu," teguran Uisa berhasil membuat Kibum mengangkat kepalanya. Ohh..Kibum tengah menangis rupanya.
"Jika memang yang ku duga adalah benar. Kenapa Kyuhyunie bisa mengalami sesak napas hingga seperti itu?" Kibum mengusap air matanya kasar. Ia tau perbuatan kedua orang tuanya dulu masih menyisakan trauma berat ntuk Kyuhyun, tapi itu sudah lama. Dan Kyuhyun bahkan terlihat baik-baik saja. Kecuali untuk hari ini.
"Apa kau sudah tau tentang penyakit jantung yang diderita adikmu?"
Kibum mengangguk, "Ne, Huang Lei Uisa yang menanganinya."
Huang Lei adalah kakak kandung dari Huang Bo. Hal itu diketahui ketika dulu saat Kyuhyun lama dirawat di Rumah Sakit, mereka berdua sering berbincang dan Huang Bo memperkenalkan Huang Lei pada Kibum, Kyuhyun dan juga Heechul.
"Huang Lei juga mengatakannya padaku," terang Huang Bo.
"Jadi, apa sesak napas itu ada kaitanya dengan kondisi jantung adikku?" tanya Kibum tampak khawatir.
"Tentu saja. Ketakutan yang dialami adikmu dengan kondisinya yang tidak bisa bergerak secara tiba-tiba mempengaruhi kondisi jantungnya. Ketakutan yang berlebih dan keterkejutan yang ia alami terhadap kondisinya membuat jantung tidak bekerja secara normal. Oksigen yang berada di dalam darah ikut terhambat hingga menyebabkan Kyuhyun kesulitan bernapas."
Kibum menahan napasnya.
"Ketahuilah Kibum, Jantung dan pernapasan itu sangat berhubungan. Kau pasti sangat tau itu. Kami menyarankan Kyuhyun-ssi untuk menjalani terapi sesegera mungkin."
Terapi? Kyuhyun bahkan tidak mengetahui seperti apa kondisinya.
"Mianhamnida, Uisa. Untuk masalah terapi, kami harus membicarakan terlebih dahulu, terutama kepada Kyuhyun dan Hyung kami."
Huang Bo kembali menghela napas kasar. Anak muda di depannya ini, terutama adik kembarnya adalah pasien terkeras kepala yang pernah ia temui. Bahkan Huang Lei pernah bercerita bahwa Kibum dan Hyungnya memaksa Huang Lei untuk merahasiakan penyakit Kyuhyun kepada Kyuhyun sendiri. Huang Bo sempat memahari Huang Lei tentu saja. Tetapi mendengar alasanya, Huang Bo menjadi ikut pusing dan tidak tau harus memberi jalan keluar seperti apa. Kyuhyun, namja berkulit pucat itu mengancam akan bunuh diri jika ia mengetahui ada penyakit serius di dalam tubuhnya. Sungguh alasan yang klasik, walaupun terdengar memprihatinkan karena pemikiran tersebut berlandaskan atas kondisi ekonomi ketiganya yang memang sulit.
"Baiklah. Sekarang, temuilah adikmu. Anak itu pasti sedang merengek meminta pulang." Huang Bo menyunggingkan senyumnya, membuat suasana yang tadinya tegang sedikit mencair. Kibum memutuskan utuk berpamitan setelah mengucapkan terimakasih.
-CK-
Benar yag dikatakan Huang Bo Uisa. Kyuhyun saat ini sedang merengek kepada dua orang gurunya. Membuat seorang yeoja dan seorang namja berusia 27 tahunan itu frustasi.
"Kyuhyunie, berhenti merajuk seperti itu." Teguran Kibum berhasil mengalihkan atensi ketiganya.
"Bumie Hyung!" Kyuhyun memekik girang. Merentangkan kedua tangannya, menyambut tubuh Kibum yang langsung menangkup tubuhnya ke dalam pelukan hangat.
"Senang membuat Hyung khawatir, eoh?" Walaupun dengan nada menegur, Kibum masih terus mengusap punggung adiknya hingga membuat Kyuhyun mendusal, memeluknya semakin erat.
"Hyung," rengek Kyuhyun seperti anak kecil.
"Wae?"
"Aku ingin pulang."
Sudah Kibum duga. Kyuhyun begitu anti dengan Rumah Sakit. Selain biaya yang mahal dan bisa menghabiskan uang Hyungdeulnya, Kyuhyun juga takut jika di dalam tubuhnya terdapat penyakit serius yang membuatnya sering merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya akhir-akhir ini.
Kibum diam. Melepas rengkuhan pada tubuh kurus adiknya, "Aku baik-baik saja, Hyung. Aku ingin pulang," rengek Kyuhyun lagi.
"Kau mau pulang? Mau melihat Hyung mati melihatmu sekarat lagi, eoh?"
Kyuhyun membelalakkan matanya. Mati? Hyungnya? Kyuhyun menggeleng keras, "Kenapa Hyung berkata seperti itu?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
"Kibum benar, Kyu. Dia bahkan tidak sadar bagaimana bisa sampai di Rumah Sakit. Padahal dia berjalan dengan kakinya sendiri." Jelas Park Saem sambil menepuk kepala Kyuhyun.
"Apa Kibum Hyung tidur sambil berjalan?"
Kibum mendelik, sementara kedua gurunya tertawa. Berbeda dengan wajah Kyuhyun yang terlihat serius.
"Aku bertanya serius. Apa Kibum Hyung bejalan sambil tertidur?" Kyuhyun merengut, merebahkan tubuhnya kembali, menarik selimutnya hingga kepala.
"Yak, kau bisa sesak napas lagi, Kyu-kyu." Kibum kembali menarik selimut adiknya. Namun saat selimut berhasil dibuka yang terlihat justru membuat Kibum kembali mengurunkan niatnya untuk kembali menegur adiknya. Kyuhyun menangis.
"Ada apa? Kau kenapa eoh?" Ketiga orang di dalam ruang itu terdiam. Isakan Kyuhyun semakin terdengar jelas.
"Yak!"
"Kibum, sebaiknya cepat panggil uisa kemari."
Kibum hendak melangkah, menuruti perintah Seosangnimnya sebelum Kyuhyun memeluk tubuhnya dari belakang, "Kajima, jebal Hyungie." Kyuhyun memeluk Kibum semakin erat.
"Aku janji tidak akan membuat Hyung khawatir lagi. Aku janji.."
Kibum berbalik, menggenggam kedua tangan dongsaeng kembarnya yang wajahnya sudah digenangi air bening yang terus mengalir. "Yaksok?"
"Emm." Kyuhyun mengangguk cepat, membuat Kibum dan kedua wali dari sekolahan mereka kembali tersenyum.
"Tapi..apa boleh aku pulang sekarang?"
"Ne?"
-CK-
"Sudah menghubungi anak itu?"
"Dia tidak punya ponsel."
"Aishh menyusahkan saja."
"Yeobo, kau mau kemana lagi?" Ny. Kim melempar dengan kasar majalah yang tadi dibacanya, mengikuti kemana sang suami pergi.
"Tentu saja menyeret anak itu kemari, Yujin-ah."
"Dan membuat Heechul dan Kibum mencampuri urusan kita lagi?"
Tn. Han berbalik. "Kau tau bukan kedua anak itu yang menghambat kita selama ini. Mereka bahkan mengambil Kyuhyun dari kita dan membuat perusahaan pada akhirnya goyah dan semuanya menjadi sulit," jelas Ny. Kim.
"Lalu apa yang harus kita lakukan hari ini? Apa anak itu mencoba kabur lagi?"
"Anak itu tidak akan melakukan hal bodoh yang bisa mengancam orang terdekatnya."
"Lalu? Dia sudah terlambat lebih dari 2 jam. Tanganku benar-benar sudah gatal, Yujin-ah." Ny. Kim tersenyum melihat suaminya meremat kedua tangannya sendiri.
"Kau boleh menghukumnya jika dia datang."
Tn. Han tersenyum puas mendengar penuturan Ny. Kim, "Kau memang sangat mengerti diriku, Yujin-ah. Gomawo, chagi." Perdebatan itu berakhir dengan kemesraan keduanya, merangkul satu sama lain dan melakukan beberapa hal yang umum dilakukan oleh sepasang suami istri yang saling mencintai, hingga suara ketukan pintu berhasil menghentikan kegiatan keduanya.
Ny. Kim berjalan anggun menuju pintu ruang pribadinya. Lee Ahjumma membungkuk sebentar sebelum mengatakan maksud kedatangannya.
"Tuan muda Kyuhyun sudah datang."
Tn. Han langsung beranjak, membuat kedua wanita itu menoleh, "Waeyo, Yeobo?"
"Tentu saja memberi pelajaran pada anak itu." Tn. Han hendak beranjak sebelum Ahjumma Lee mencegahnya.
"Jeosonghamnida, Tuan. Tuan muda Kyuhyun sepertinya sedang kurang sehat, wajahnya sangat pucat dan lemas saat tiba di sini."
Bukannya merasa iba mendengar penjelasan Ahjumma Lee. Tn. Han justru merasa akan direpotkan jika anak itu datang dalam keadaan sakit.
"Dimana anak itu?"
"Ada di ruang kerjanya, Tuan."
Setelah mengetahui dimana anak itu berada, Tn. Han segera beranjak dan disusul oleh Ny. Kim dengan langkah terburu-buru.
"Semoga Tuan muda baik-baik saja."
Kyuhyun sedang menulis ulang proposal untuk pengajuan kerjasama dengan beberapa perusahaan yang sebelumnya bekerjasama dengan Perusahaan milik Eommanya. Ada banyak dokumen lain yang harus ia selesaikan hari ini, oleh karena itu ia memaksa datang, walaupun kurang dari 3 jam yang lalu dia masih berada di Rumah Sakit. Jika tidak mungkin Eommanya akan benar-benar melakukan ancamannya untuk mencelakai Changmin dan menghancurkan karier serta beasiswa Hyungnya.
Kyuhyun meringis mengingat betapa kerasnya usaha yang ia lakukan untuk membuat Kibum percaya bahwa dia sudah baik-baik saja. Bahkan menyuruh Hyungnya itu untuk segera berangkat bekerja. Semuanya tidak berjalan mudah karena Kibum justru menitipkannya di rumah Changmin. Beruntung Changmin sedang tertidur. Sedikit melakukan negosiasi dengan Shim Ahjumma –Eomma Changmin-, akhirnya Kyuhyun bisa di antar di café Shindong dan berangkat menuju rumah Eommanya diam-diam menggunakan bus. Untung saja Kibum mengatakan kepada Shim Ahjumma bahwa dia hanya mengalami dehidrasi. Jika tidak, maka Kyuhyun yakin, Shim Ahjumma juga akan mengurungnya di dalam rumah bersama Changmin.
BRAK
Suara bantingan pintu menyadarkan Kyuhyun untuk kembali ke dunianya. Dilihatnya Tn. Han mendekat dengan mata memerah dan rahangnya yang mengeras.
Kyuhyun tidak tau apa yang terjadi, yang jelas sekarang ini jantungnya tengah berdenyut dan berdetak begitu cepat akibat terkejut karena pintu yang tiba-tiba dibanting. Diam-diam Kyuhyun mengangkat tangannya, meremas dada kirinya. Sedikit menekan dengan tujuan agar rasa sakit yang muncul itu segera menghilang.
"Anyeonghaseyo, Tuan." Kyuhyun berdiri dan membungkuk 90 derajat. Sebelah tangannya bertumpu pada meja kerjanya. Keringat dingin merembes keluar saat rasa sakit di dadanya tak kunjung reda.
"Yak, aku tidak peduli kau sedang sakit atau apa. Selesaikan semua ini malam ini juga, atau kami akan benar-benar melakukan ancaman kami." Tn. Han menarik rambut Kyuhyun ke belakang hingga membuat namja pucat itu meringis.
"Yeobo, biarkan Kyuhyunie bekerja. Sebaiknya kita keluar saja dari sini. Lebih cepat selesai lebih baik."
"YAK, Yujin-ah aku belum selesai memberi pelajaran untuk bocah ini."
Kyuhyun meringis kesakitan. Tn. Han semakin keras menarik rambut Kyuhyun hingga kepala anak itu mendongak ke atas. Tak berhenti sampai di situ, Tn. Han kembali menarik kasar tubuh Kyuhyun saaat melepaskan tarikan kasar di rambut Kyuhyun. Tidak ada yang bisa dilakukan Kyuhyun selain memejamkan mata dan menerima apapun yang dilakukan oleh Tn. Han kepadanya.
PLAK
"KIM KYUHYUN."
Sesuatu yang panas menjalar di pipi kiri Kyuhyun. Tubuhnya tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan menariknya.
"Gwaenchana, gwaenchana. Aku di sini." Kyuhyun mengerjap beberapa kali, berusaha mengembalikan kesadarannya. Matanya menyapu seluruh ruangan yang ia tempati sekarang. Bukan ruang kerja di rumah orang tuanya, dan bukan juga kamar di rumah sewanya. Tapi…
Kamar Changmin?
"C-chang.." Kyuhyun baru sadar, orang yang tengah memeluknya saat ini adalah sahabatnya sendiri. Shim Changmin.
"Ne, ini aku. Kau kenapa eoh? Tertidur setelah diantar Kibum. Lalu berteriak meminta ampun dan meminta tolong. Sebenarnya apa yang kau impikan, eoh?"
Kyuhyun mengedipkan matanya bingung. Changmin terlalu memberondong pertanyaan untuk diajukan. Membuat kepala Kyuhyun mendadak sakit.
"Ekhh.."
"Waeyo, Kyuhyunie? Gwaenchana?" Changmin langsung melepas pelukannya begitu sang eomma menarik tubuhnya. Kyuhyun sedang memegangi kepalanya sambil meringis.
"Pusing."
"Tidurlah, nak. Kau sedang demam sekarang, wajar saja jika kau merasa pusing." Ny. Shim membantu Kyuhyun merebahkan tubuhnya kembali. Sementara Changmin tak hentinya menatap sahabatnya dengan raut wajah khawatir yang sangat kentara.
Sementara itu, Kyuhyun yang tengah berbaring dengan mata terpejam diam-diam bersyukur. Bersyukur bahwa yang dialaminya tadi hanyalah sebuah mimpi. Walaupun hal seperti itu sering kali ia alami dulu. Bahkan lebih parah dari yang ia impikan tadi.
Di samping itu, Kyuhyun merasa ketakutan itu kembali mengerayangi pikirannya. Ia takut jika besok ada salah seorang terdekatnya mengalami hal yang tidak baik karena ketidak datangan Kyuhyun hari ini di rumah orang tuanya. Padahal tadi selama perjalanan di Rumah Sakit, Kyuhyun sudah memikirkan banyak rencana untuk kabur dan datang ke rumah orang tuanya. Namun kembali lagi, semangat yang dimiliki Kyuhyun tidak sejalan dengan kondisi tubuhnya. Saat menunggu Kibum berpamitan terlebih dahulu dengan keluarga Shim. Kyuhyun justru jatuh tertidur dan melupakan rencana awalnya.
"Kau menangis lagi? Wae, Kyuhyunie?" Kyuhyun membuka kedua matanya. Terlihat Changmin tengah mengusap air matanya sambil tersenyum.
"Saat kau tidur tadi, kau bahkan tidak berhenti meneteskan air mata dan berteriak seperti orang kesetanan. Waeyo? Apa ada masalah yang tidak ku ketahui sebagai sahabatmu?" Changmin dengan lembut mengusap rambut Kyuhyun yang lembab akibat keringat yang terus keluar.
"Gwaenchana," jawab Kyuhyun menyerupai bisikan. Matanya kembali terpejam. Tubuhnya benar-benar lemas sekarang. Ditambah dengan suhu tubuhnya yang naik, membuat Kyuhyun merasa tak nyaman sama sekali.
"Istirahatlah. Eomma sedang mengambil plaster penurun demam sebentar," ujar Changmin sambil terus mengusak rambut Kyuhyun hingga namja pucat itu kembali tertidur.
Kau menyembunyikan sesuatu, Kyu. Kau berteriak meminta maaf kepada Papamu untuk tidak memukulmu lagi. Sebenarnya kejadian buruk seperti apa yang pernah kau alami hingga seperti ini, eoh?
Changmin mengusap kasar air matanya yang tiba-tiba mengalir. Melihat Kyuhyun ketakutan seperti tadi membuat Changmin diam-diam mengikrarkan janji di dalam hatinya untuk lebih menjaga sahabatnya lagi. Apapun akan Changmin lakukan agar Kyuhyun tak kembali sakit dan ketakutan seperti tadi.
-CK-
"Apa sudah ada kabar dari bocah itu Yujin-ah?"
"Hm, anak itu pingsan di sekolah dan dilarikan ke Rumah Sakit."
"Aishh.." San Xuo melempar majalah Yujin yang tergeletak di atas meja.
"Bocah itu masih saja lemah seperti dulu. Setelah melihatnya kemarin, aku kira dia sudah berubah. Ternyata tetap saja ringkih," San Xuo menyeringai. Itu berarti ia akan mempermudah lagi jalannya untuk kembali melihat salah satu keturunan gegenya itu menderita.
"Untung saja dia sudah tidak di rumah ini. Jika masih di sini, pasti dia akan menghabiskan banyak uangku untuk berobat," ucap Yujin yang tampak tak peduli sama sekali.
"Kau benar, Yujin-ah. Buat apa merawat anak dari orang yang sudah menipumu dan mengkhianati saudara kembarnya sendiri?" Emosi San Xuo sedikit menggebu saaat mengatakan kalimat tadi. Yujin yang mengerti segera mendekat dan merengkuh tubuh suami 'barunya'.
"Sekarang kita sudah bersama, yeobo. Walaupun aku sudah tidak bisa memiliki anak lagi setelah melahirkan si kembar yang salah satunya menyusahkan itu. Tapi aku sangat bahagia bisa kembali denganmu lagi."
Kalimat Yujin seolah menjadi mantra bagi San Xuo. Namja keturunan China itu mengembangkan senyumnya, seolah lupa dengan masalah yang sedang ia ributkan tadi.
"Nado, Yujin-ah. Aku juga sangat bahagia."
Malam itu kedua manusia berhati kejam itu pada akhirnya melupakan ketidak datangan Kyuhyun. Namun dipikiran masing-masing pasti sudah tersusun rencana lain untuk kembali melihat si bungsu Kim menderita.
-CK-
Kibum dan Heechul terpaksa ikut menginap di kediaman Shim malam ini. Demam Kyuhyun tak kunjung turun, hingga Ny. Shim memutuskan untuk memanggil dokter pribadi keluarganya. Dan berakhir dengan tangan kanan Kyuhyun yang kembali tertancam jarum infuse.
Pagi harinya, kediaman keluarga Shim tampak sangat ramai karena kehadiran ketiga Kim bersaudara di rumah mereka. Pagi-pagi sekali si bungsu sudah merengek ingin infusenya di lepas. Namun hal itu cepat teratasi saat Ny. Shim memperlihatkan mata berkaca-kacanya di depan Kyuhyun agar anak itu tidak melakukannya. Pagi tadi, sekitar jam 3 Tn. Shim terpaksa menambah satu kantong infuse lagi karena panas tubuh Kyuhyun benar-benar tinggi. Anak itu bahkan selalu mimpi buruk saat tertidur dan muntah setiap terbangun.
"Heechul Hyung." Panggil Kyuhyun membuat Heechul yang sedang berbincang dengan Tn. Shim di ruang keluarga menoleh. Saat ini Kyuhyun sedang duduk bersandar di bahu Ny. Shim sambil disuapi beberapa potongan buah agar tidak mual lagi.
"Ne, waeyo Kyuhyunie?"
"Hyungie akan berangkat?"
"Ne, waeyo?"
"Ahjumma, sudah kenyang." Kyuhyun mendorong pelan tangan Ahjumma Shim yang terlihat masih ingin terus menyuapinya. Kyuhyun tersenyum begitu Ahjumma Shim mengangguk. Obsidiannya kembali mengarah pada Heechul yang masih menunggu jawabannya.
"Aku hanya kasihan pada Heebum."
Heechul mengernyit, "Heebum? Nugu?"
"Apa itu kependekan dari Heechul dan Kibum?" tanya Changmin yang ntah darimana datangnya sudah duduk di sebelah Kyuhyun dengan kruk di sampingnya. Kyuhyun sendiri sedang menggelengkan kepalanya, heran, kenapa Hyungnya sepikun itu hingga melupakan peliharaan barunya?
"Aku harap Heechul Hyung tidak melupakan kucing hitam yang ku masukkan ke kamar Hyung kemarin."
"Mwo? Kucing?"
Kyuhyun diam membiarkan Hyung tertuanya itu berpikir. Kibum yang sedari tadi diam sudah bersiap menutup kedua telingannya dengan kedua tangannya yang tadi ia pergunakan untuk membuka lembaran-lembaran buku.
"HEEBUM! YAK, KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU DARI KEMARIN? BAGAIMANA KALAU HEEBUM MATI KELAPARAN."
Ny. Shim yang tadi duduk di samping Kyuhyun langsung menutup kedua telinga namja berkulit pucat itu agar tidak terkejut dan telingannya aman. Changmin hampir berteriak mengeluarkan suara tingginya sebelum Ny. Shim mengulurkan tangannya dan mencubit kaki milik anaknya hingga Changmin menjerit kesakitan.
"Kau membuat telinga adikmu sakit Chullie," ucap Ny. Shim dengan pandangan menegur.
"Eomma, telingaku juga sakit." Kali ini Changmin yang berbicara.
"Biar saja. Suaramu bahkan sering membuat telinga eomma sakit. Jadi diamlah dan jangan protes."
Kyuhyun hampir bersorak melihat Ny. Shim dengan tegas membelanya. Kibum menjitak kepala Kyuhyun pelan dari belakang sofa yang di duduki adiknya. Saudara kembar Kyuhyun itu sedang mengambil tas untuk bersiap.
"Ahjussi, Ajumma sepertinya aku harus mengantar Heechul Hyung ke rumah sebelum berangkat."
Heechul yang juga tengah mengambil jas dan tasnya hanya melirik adiknya sekilas sambil menatapnya dengan pandangan menusuk.
"Heechul Hyung akan menghancurkan barang-barang di rumah jika sedang terburu-buru." Kibum segera membungkukkan tubuhnya Sembilan puluh derajat, mengusak rambut Kyuhyun sebentar sembari membisikkan sesuatu di telinga dongsaengnya dan berlari keluar bangunan megah itu sebelum Hyung evilnya mengamuk.
"Yak Kim Kibum berhenti kau. Ah Ahjussi, Ahjumma aku pergi, anyeonggg.."
"Yak! Akh appo," Kyuhyun meringis saat infuse di tangan kanannya sedikit tertarik.
"Kyuhyunie waeyo? Kau jangan banyak bergerak dulu." Changmin yang panik segera mengusap punggung tangan kanan Kyuhyun yang sedikit membengkak.
"Aku hanya ingin memperingati Heechul Hyung agar lebih sopan. Maafkan Hyung ku Ahjumma, Ahjussi." Ujar Kyuhyun memasang wajah melas.
"Aigo..berhenti memasang wajah seperti itu Kyuhyunie." Yunho terpesona dengan namja pucat berusia 15 tahun yang masih sangat imut itu.
"Ahjussi, kenapa infusenya tidak di lepas? Aku sudah merasa baik-baik saja."
Yunho yang tidak tahan dengan wajah Kyuhyun yang semakin imut jika memelas langsung menutup wajahnya dengan bantalan sofa. Tn. Shim tersenyum, membuat gerakan mata singkat pada istrinya yang sedang duduk di sebelah Kyuhyun. Ny. Shim yang mengerti segera melakukan perintah Tn. Shim. Memeriksa kening Kyuhyun dan memperhatikan napas anak yang tengah menatapnya dengan heran.
"Demamnya sudah turun yeobo. Dan sepertinya uri Kyuhyunie sudah baik-baik saja."
Kyuhyun menepuk kedua tangannya ketika mendengar penjelasan singkat dari Ny. Shim, walaupun setelah itu kembali meringis saat infusenya tertarik. Namun wajah Kyuhyun sudah lebih berbinar, bahkan tersenyum sangat lebar hingga membuat Changmin ikut bertepuk tangan.
"Baiklah-baiklah, setelah infuse yang ini habis, Ahjussi akan melepasnya."
"Apa masih lama ahjussi?" tanya Kyuhyun.
"Tidak, lihat bahkan itu sudah hampir habis."
Kyuhyun melirik botol infuse yang menggangtung. Ah benar, ternyata sudah hampir habis. Sorak Kyuhyun dalam hati.
"Atau mau sekarang?"
"Apa boleh?"
"Eum…boleh, lagi pula sudah sangat sedikit dan kondisimu juga baik-baik saja."
Tn. Shim beranjak dari duduknya, menggantikan Ny. Shim yang sedang mengambil beberapa perlengkapan yang dibutuhkan Tn. Shim. Beruntung, Tn. Shim sebenarnya adalah lulusan kedokteran saat S1 dengan jurusan kedokteran umum, namun setelah itu Tn. Shim memutuskan untuk kembali mengulang kuliahnya mengambil jurusan Bisnis atas permintaan Ayahnya yang saat itu tiba-tiba sakit keras. Dan jadilah sekarang Tn. Shim si pengusaha sukses. Dokter pribadi keluarga Shim juga menyarankan agar Tn. Shim saja yang menangani penggantian infuse dan melepasnya. Karena hal itu tidak terlalu sulit dan Tn. Shim bisa mengerjakannya dengan mudah.
Kyuhyun memejamkan matanya begitu Tn. Shim mencabut perlahan jarum infuse di tangannya. Rasa sakit itu hanya sesaat, karena setelahnya Tn. Shim menempelkan kapas yang sudah di beri alcohol, membersihkan bekas tusukan jarum infuse sebentar sebelum menutupnya dengan kassa tipis dan plaster.
"Selesai."
Kyuhyun memandang puas hasil kerja ayah sahabatnya. Apa yang dilakukan sungguh tidak menyakitkan, berbeda saat di rumah sakit kemarin, semuanya yang ditempel ditubuhnya seakan membuatnya sesak napas dan merasa menjadi seseorang yang penyakitan.
"Kamsahamnida Ahjussi," ucap Kyuhyun masih memandangi punggung tangannya dengan mata berbinar.
"Yunho Hyung kenapa kau menutup wajahmu dengan bantal sofa seperti itu?" pekikan Changmin berhasil membuat beberapa pasang mata menatap namja bertubuh tinggi besar yang sedang tersipu malu.
"Aku..aku tidak tahan dengan wajah imut Kyuhyunie. Rasanya ingin mencubit dan mencium pipinya." Yunho semakin tersipu saat mengungkap apa yang ditahannya sedari tadi. Kyuhyun refleks menutup kedua pipinya dengan kedua tangannya, sedangkan Changmin langsung berdiri agak sedikit limbung dengan kedua tangan yang sudah berkacak pinggang.
"Tidak ada yang boleh menyentuh pipi Kyuhyunie selain aku. Pipi Kyuhyun is mine."
"Ani, hanya appa yang boleh mencubit pipi Kyuhyunie." Tn. Shim mengedipkan matanya ke arah Kyuhyun, membuat namja pucat itu menggeser tubuhnya hingga menempel di sandaran sofa.
"Mianhamnida Tuan-tuan sekalian, Kyuhyunie is mine. Jadi hanya eomma yang boleh memiliki pipinya." Ny. Shim menarik tubuh suaminya agar berdiri dan bergantian duduk berdekatan dengan Kyuhyun dengan seringaian yang sama miripnya dengan milik Changmin.
"ANDWEEE, HYUNDEUL DUWAJUSEYO!"
-CK-
"Semua ini gara-gara Eomma. Kyuhyunie pulang gara-gara Eomma." Changmin masih dengan mode ngambeknya terus menyalahkan sang eomma yang saat ini sedang menyiapkan makan siang.
"Aniyo Changminie, Kyuhyun sudah sembuh dan mungkin sedang merindukan rumahnya."
Changmin merengut. Bukan itu yang Changmin maksud. Kyuhyun bukanlah anak yang akan berdiam diri jika sedang sendiri. Anak itu pasti akan melakukan sesuatu walaupn tubuhnya masih belum 100% pulih.
"Eomma.."
"Eomma mengerti, Sayang. Setelah ini mungkin Kyuhyun akan memaksa tubuhnya untuk melakukan banyak hal bukan? Bisa jadi dia memaksakan diri untuk masuk kerja."
"Eomma tau itu, tapi kenapa Eomma tidak mencegahnya?"
"Kau lupa dengan apa yang Eomma katakana kemarin pagi? Kau yang paling mengenal Kyuhyun. Kau pasti tau bagaimana Kyuhyun dan kebiasaannya yang tidak bisa dicegah, bukan?"
"Tapi, Eomma.."
"Bukankah kau akan terus mencoba memahaminya Changminie?"
Dengan terpaksa Changmin mengangguk. Dia memang selalu mencoba memahami. Tapi sejauh ia mengenal Kyuhyun, ternyata memahami itu begitu sulit.
"Sekarang makanlah. Ada banyak makanan siang ini, kau boleh menghabiskannya."
""Jinja?" Ny. Shim tersenyum melihat mata Changmin kembali berbinar ketika mendengarkan kata makanan. Sepertinya Ny. Shim harus menyiapkan lebih banyak lagi camilan dan bahan makanan di rumahnya untuk membuatkan Changmin makanan ketika sedang dalam kondisi mood yang buruk seperti ini. Apalagi akhir-kahir ini Changmin sering dan hampir setiap hari mengeluhkan kondisi sahabatnya.
-CK-
Seperti perkiraan Changmin dan Ny. Shim, Kyuhyun benar-benar kembali berangkat 'bekerja' atau lebih tepatnya di'perbudak' di kediamannya sendiri. Rumah megah milik keluarga Kim yang terhormat. Kyuhyun meringis membayangkan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya nanti. Kembali menyeret langkahnya memasuki mansion besar Kim. Kyuhyun disambut oleh Ahjumma Lee yang sepertinya sudah menanti kedatangannya.
"Tuan muda, gwaenchana?" Ahjumma Lee langsung menopang tubuh Kyuhyun yang masih berjalan atau lebih tepatnya menyeret langkahnya sendiri.
"Gwaenchanayo, Ahjumma. Apa mereka ada?"
"Nyonya baru saja pergi diantar oleh Pak Yong. Tuan Han memang sedang menunggu Tuan muda sedari tadi di ruang kerja Tuan muda."
Kyuhyun mengangguk paham, "Baiklah. Ahjumma, Kyu masuk dulu ne?"
Kyuhyun berlalu, menghilang ditelan pintu besar milik keluarga Kim. Jika diberikan keberanian, ingin sekali Lee Ahjumma menarik Tuan mudanya itu keluar dari rumah menyerupai neraka ini. Bukan tanpa alasan, bahkan Lee Ahjumma tidak bisa membayangkan lagi hal seperti apalagi yang akan dilakukan Tuan Han untuk menghukum Tuan mudanya setelah kemarin tidak datang.
"Baru datang, eoh?" Tn. Han melirik sinis tubuh 'putranya' yang baru saja masuk dan menyapanya.
"Mianhamnida, Tuan. Saya akan mengerjakan apapun hari ini sebagai hukuman ketidak hadiran saya kemarin."
"Mwo? Berani memutuskan sesuatu tanpa persetujuanku, eoh?" seperti biasa, meskipun Kyuhyun sudah mempersiapkan mentalnya untuk kembali diperlakukan seenaknya, namun tetap saja mental Kyuhyun adalah mental anak berusia 15 tahun yang 'hanya' mencoba menjadi sosok berani dan tangguh. Tentu saja Kyuhyun takut.
"Mianhamnida, Tuan."
"Ck, kau pikir semudah itu meminta maaf setelah kemarin kau kabur begitu saja. Berani mengabaikan perintah kami, eoh?"
DUK
BRAK
Kyuhyun meringis saat merasakan perih di punggungnya. Mendadak napasnya sesak ketika punggungnya membentur tembok cukup keras akibat dorongan Tn. Han. Sementara itu Tn. Han sepertinya sangat puas dengan hasil kerja tangannya. Melihat raut kesakitan Kyuhyun adalah salah satu kebahagiannya. Kaki milik namja paruh baya itu berjalan santai menghampiri sosok Kyuhyun yang sedang berjongkok sambil mengatur napasnya yang tak kunjung pulih.
"T-tuanh.."
"Kau tau, dari dulu aku sangat tidak menyukai namja lemah sepertimu. Namja lemah selalu memperlihatkan kesakitannya dan kerapuhannya, setelah itu mencabik dan melukai orang di sekitarnya. Ck..kalian terlalu naïf!" Tn. Han sadar, dirinya baru saja menyamakan Kyuhyun dengan Han San Wo, kakak kandung kembarannya.
Tangan Tuan Han kembali meraih tubuh Kyuhyun yang memang dari awal masih lemas. Menarik krah switternya dan menghempaskan tubuh ringkih itu dengan keras ke bawah meja. Kyuhyun terbatuk beberapa kali. Napasnya semakin sesak, dan seperti biasa dada kirinya ikut berdenyut, bahkan lebih menyakitkan dari biasanya.
"Ekh..uhuk, pa-" Sepertinya Kyuhyun membuat kesalahan lagi hingga membuat Tn. Han semakin geram.
"Jangan menyebutku 'papa' bocah sial!" Satu tendangan berhasil menumbuk perut Kyuhyun. Anak itu kembali terbatuk. Tendangan itu dilakukan berulang hingga tubuh Kyuhyun benar-benar lemas tak bertenaga. Jangankan bergerak, membuka suara saja ia tidak sanggup. Lebih baik seperti ini, karena jika ia kembali bersuara bisa dipastikan tangan dan kaki Tn. Han akan cepat bekerja dan kembali menghajarnya.
"Menyerah eoh?" Ternyata Kyuhyun salah. Dalam keadaan seperti inipun Tn. Han masih mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyiksanya. Saat ini Tn. Han tengah menarik rambut Kyuhyun, namun sama sekali tidak ada rintihan dan raut kesakitan sedikitpun yang tn. Han tangkap. Hanya deruan napas berat dan tak beraturan yang terdengar.
"Aku tidak peduli seperti apa keadaanmu bocah. Selesaikan semua sebelum jam 10 malam."
Tap
Tap
Kyuhyun mendengar langkah Tn. Han yang semakin menjauh dan akhirnya tidak terdengar. Setelah itu terdengar lagi suara derap langkah cepat yang menghampirinya. Kyuhyun sudah pasrah jika yang datang adalah Ny. Kim. Bukankah akan semakin lengkap penderitaanya hari ini jika eommanya juga datang dan menghukumnya.
"Tuan muda."
Lee Ahjumma? Kyuhyun merasakan tubuh bagian atasnya terangkat. Rupanya Ahjumma Lee datang terburu-buru untuk membantunya.
"Tuan muda, anda bisa mendengar saya?"
Aku mendnegarmu, Ahjumma. Sakit.. Bantu aku duduk dan mengerjakan itu semua. Andai Kyuhyun bisa untuk sekedar membuka mulutnya, Kyuhyun ingin mengatakan hal itu.
"Tuan muda, tolong jawab saya jika anda masih mendengar saya."
"E-hn."
"Syukurlah. Sekarang coba membuka mata perlahan Tuan, perlahan saja."
Kyuhyun mencoba mengikuti instruksi Lee Ahjumma. Perlahan mata yang biasanya bersinar bak boneka itu terbuka.
"Sekarang ikuti intruksi Ahjumma, arra?" Ahjumma tersenyum begitu Kyuhyun mengedipkan matanya satu kali, yang berarti setuju.
"Tarik napas perlahan melalui hidung, perlahan saja dan tahan 3-4 detik lalu hembuskan lewat mulut. Kka..cobalah Tuan."
Kyuhyun merespon cukup lambat intruksi yang diberikan Ahjumma Lee. Perlahan setelah beberapa melakukan tarikan dan hembusan napas dengan bimbingan Ahjumma Lee, napas Kyuhyun sudah lebih stabil. Detak jantungnya juga sudah tidak semenyakitkan tadi, walapun masih tersisa sedikit nyeri di bagian dalam sana.
"Sudah lebih baik?" tanya Ahjumma Lee masih dengan tatapan khawatir. Meski masih lemas, Kyuhyun sudah bisa menggerakkan kepalanya. Namja itu mengangguk sambil mencoba tersenyum.
"Ini, minumlah Tuan." Ahjumma Lee membuka tutup botol minum Kyuhyun yang tadi ia temukan teronggok disebelahnya bersamaan dengan 2 roti coklat yang tercecer. Sepertinya Tuan mudanya sudah menyiapkan bekal sebelum berperang.
"Gomawo Ahjumma," ucap Kyuhyun lebih menyerupai bisikan.
"Ahjumma.."
"Ne Tuan?"
"Aku ingin duduk di sana." Ahjumma Lee mendelik, yeoja baya itu menatap majikan kecilnya marah.
"Nanti saja Tuan, sebaiknya Tuan istirahat terlebih dahulu di sofa."
Dahi Ahjumma Lee berkerut begitu Tuan mudanya menolak. "Mereka akan membunuhku jika mengetahui aku terlalu santai, Ahjumma. Aku masih ingin melihat Hyungdeul malam nanti dan berangkat sekolah besok," lirih Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca. Jika sudah seperti ini siapa yang bisa menolak. Bahkan pengasuh sedari kecilpun terpaksa menurutinya jika sudah melihat wajah yang terlihat menyedihkan itu.
"Baiklah Tuan muda yang selalu keras kepala."
Kyuhyun tersenyum geli mendengar julukan kecilnya hingga sekarang dari Ahjumma Lee. "Apa aku berat, Ahjumma?" Mata Kyuhyun terfokus dengan kursi kerjanya yang ntah kenapa terasa begitu jauh, padahal hanya perlu memutari setengah dari panjang meja kerja untuk mendudukinya.
"Sama sekali tidak. Bahkan Ahjumma bisa mengangkat anda Tuan muda kecil keras kepala."
Kyuhyun hampir tertawa setelah Ahjumma berhasil mendudukannya di singgasana pesakitan yang selalu membuatnya sulit bergerak karena harus mengerjakan banyak sekali pekerjaan orang tuanya di sana. "Aku sudah besar, Ahjumma. Walaupun kurus, aku ini tinggi. Ahjumma tidak mungkin bisa mengangkatku."
Ahjumma Lee yang sedang mengambilkan tas milik Kyuhyun terlihat mengulum tawanya. Sedikit mencibir Tuan mudanya, yeoja itu meletakkan ransel biru itu sedikit keras.
"Tangan tua keriput ini yang sudah menggendong anda selama bertahun-tahun jika Tuan muda lupa." Terang Ahjumma Lee sambil menunjukkan tangan keriputnya.
"Kaki panjang milik remaja LIMA BELAS tahun ini yang sudah membawaku berjalan hingga kembali ke neraka ini jika Ahjumma lupa."
Ahjumma Lee meringis. Menekankan jumlah usia dengan 'neraka' yang dimaksud apakah sesuatu yang perlu dibanggakan? Anggap saja begitu.
"Yayaya, terserah anda Tuan muda. Ada yang bisa Ahjumma bantu Tuan?"
Kyuhyun tersenyum, "Satu lagi, mereka tidak akan membiarkan siapapun di rumah ini untuk membantuku jika Ahjumma lupa."
Ahjumma Lee mengangguk membenarkan, "Tuan muda tenang saja. Tuan Han sudah pergi setelah mengamuk tadi. Jadi katakan, apa yang bisa Ahjumma bantu?"
Bukannya menjawab, Kyuhyun justru tersenyum dan tangan pucatnya langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah USB berhasil dikeluarkan Kyuhyun dari dalam tasnya, "Tidak ada Ahjumma, aku sudah mengerjakan pekerjaanku di sini. Hanya tinggal sedikit lagi, setelah itu aku bisa langsung pulang," ucap Kyuhyun sambil mengacungkan USB biru kesayangannya, menghiraukan Ahjumma Lee yang tengah memandangnya takjub.
Setelah menancapkan USB pada laptop, Kyuhyun segera mencetak semua file yang ada. Sembari menunggu, Kyuhyun terlihat mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi butiran obat. Hal itu tak luput dari pandangan Ahjumma Lee. Yeoja baya itu tentu saja tidak tau jenis obat seperti apa yang sedang dikonsumsi Tuan mudanya. .
"Tuan muda, anda sakit?"
Kyuhyun menghibaskan tangan kirinya, sementara tangan kirinya ia pergunakan untuk meminum air untuk melancarkan jalannya obat di tenggorokannya.
"Aniyo Ahjumma. Ini hanya vitamin. Hyungdeul yang membelikannya." Melihat Kyuhyun tersenyum lebar, Ahjumma Lee jadi tidak tega menanyakan perilahal 'vitamin' itu lebih lanjut. Lagipula beliau tau, Tuan muda terkecilnya sering sekali jatuh sakit jika kelelahan. Mungkin yang dikonsumsi Tuan mudanya memang benar-benar vitamin untuk membantu menjaga kekebalan tubuhnya.
"Masih sering sakit?" tanya Ahjumma Lee sembari mengelus rambut Kyuhyun seperti mengelus kucing. Kyuhyun hanya meringis lebar menjawabnya, menandakan bahwa ia masih sering sakit.
"Tak apa Tuan muda. Apa masih tidak menyukai sayur?" tanya Ahjumma Lee yang kali ini dijawab dengan pout dari bibir Kyuhyun.
"Aku tidak akan menyukai rumput yang dijadikan makanan seumur hidupku." Seperti anak kecil. Semua yang Ahjumma Lee lihat ternyata masih sama. Tuan mudanya tetaplah Tuan mudanya yang dulu sangat manja, keras kepala dan tidak sepenurut dulu sepertinya, masih sering sakit dan tidak menyukai sayur.
"Ahh..apa masih sering tidur di bawah meja?" Kali ini Kyuhyun menjawab dengan tawa kecil. Tidur di bawah meja sebenarnya adalah kebiasaan buruk yang sering ia lakukan sejak berada di rumahnya. Setiap lelah bekerja di meja kerja seharian bahkan berhari-hari, Kyuhyun yang lelah akan memerosotkan tubuhnya dan meringkuk di bawah meja dari pada menyeret tubuhnya yang sudah lelah ke atas sofa yang letaknya cukup jauh di pojok ruangan.
"Hyungdeul juga masih tidak akan membangunkanku jika aku tertidur. Ish..mereka masih menganggapku seperti anak kecil." Merengut, Kyuhyun sangat terlihat seperti anak kecil jika sedang memperlihatkan poutnya. Ahjumma Lee yang tidak tahan langsung mencubit pipi tuan mudanya hingga Kyuhyun berteriak kesakitan.
"Anda memang masih kecil Tuan." Ahjumma Lee tertawa melihat bibir Kyuhyun semakin mengerucut.
"Saya berada di dapur jika anda membutuhkan sesuatu, Tuan." Ahjumma Lee berlalu meninggalkan Kyuhyun yang masih tersenyum, hanya sebentar, karena setelahnya namja itu menjatuhkan kepalanya di atas meja. Merebahkannya. Tangan kananya ia pergunakan untuk mencengkeram dada kirinya yang sebenarnya masih berdenyut sakit.
"Hyungdeul, waeyo?" setetes air mata merembes di pipi pucatnya.
"Hyungdeul, mianhe. Aku sangat menyusahkan.. Keunde wae? Kenapa kalian menyebunyikan semuanya-"
.
.
"-tentang penyakitku?"
To Be Continue
Tadaaaa…mianhae molor ya? Harusnya kemarin kan hihihi
Maafkan saya melanggar janji, semoga Tuhan juga memaafkan saya.
Semoga suka alur di chapter ini. Maaf jika ada typo karena belum sempat Check.
Terimakasih untuk pembaca setia yang sudah review, terimakasih juga untuk pembaca lainnya yang berminat membaca ff saya.
Mari kita doakan semoga Kyuhyunie lekas sembuh #GetWellSoonKyuhyun, Karena jadwal dia masih sangat banyak, kasian kan kalo belum sembuh tapi dipaksa meenuhi jadwal
Bagaimanapun inspirasi untuk saya sejauh ini adalah seorang Cho Kyuhyun. Meskipun suka membaca ff yang Kyuhyunya di'siksa' #ditendangKyu, tapi ketika liat Kyu sakit beneran di real life, tetep aja beda rasanya. Gk tegaaaaaa. Yang biasanya lincah, banyak ngmong jadi diem.
Mari kita doakan bersama 'adik imut' kita.
See you on the next chapter!
