Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Family
Pair : Sasuke x Hinata
~ Oh! ~
WARNING : AU, TYPO'S, NO BAKU, CRACK PAIR, EYD amburdul, OOC super akut, OC, Alur kadang cepat dan lambat, Dll.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Kedua kuping Sasuke terasa pengaang juga panas mendengar tangisan diiringi rengekan dari Karin yang menangis tersedu-sedu karena melihat Sasuke mencium mesra seorang gadis bersruai indigo bermata bulan diatas ranjang beberapa menit lalu.
Saat ini Sasuke dan Karin berada diruang tamu sedangkan Hinata didalam kamar, Sasuke takut jika gadis bersurai merah ini melakukan hal-hal yang tak diinginkan pada sang istri mengingat sikap Karin yang mudah emosi juga cemburuan padahal Sasuke bukan siapa-siapanya.
"Hiiiikksshhh...ka-kau ja-jahat Sa-suke-kun..." isak Karin.
"Haah~" Sasuke menghela nafas panjang.
Pria tampan bersurai raven ini memandang malas Karin, "Berhentilah menangis," ujarnya ketus.
Karin menatap Sasuke dengan wajah sembab dan kedua mata memerah, "Si-siapa? Si-siapa ga-gadis ja-jalang itu Sa-suke-kun!?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Jaga ucapanmu Karin!" bentak Sasuke tak terima sang istri dikatakan wanita jalang.
"La-lau si-siapa dia?" teriak Karin dengan berlinang air mata.
Sasuke memandang tajam dan mengitimidasi pada Karin membuat gadis bersurai merah itu sedikit takut, "Namanya adalah Hinata Uchiha dan dia adalah istriku," kata Sasuke serius.
Kedua bola mata Karin membulat sempurna namun tak lama ia tertawa lebar diriringi air mata, "Kenapa kau tertawa! Aku sedang tidak bercanda denganmu," kata Sasuke kesal.
"Ja-jangan berb..."
"Aku tidak berbohong padamu, kau bisa mengeceknya ke catatan sipil karena aku sudah mendaftarkan pernikahan kami," sela Sasuke.
Karin terdiam mulutnya langsung terkunci rapat dan tak lama Karin jatuh pingsan tak sadarkan diri disebabkan syok serta terkejut mendengar berita yang membuat jantungnya serasa hampir copot.
"Haah~ Merepotkan sekali!" dengus Sasuke kesal.
Sasuke meraih ponselnya dan menghubungi Naruto teman baiknya sekaligus sepupu gadis bersurai merah itu. Sasuke meminta pria bersurai kuning itu untuk datang menjemput Karin karena dirinya tidak mau mengantarnya pulang dan ingin menghabiskan waktu berdua bersama sang istri tanpa diganggu siapapun apalagi Karin.
Sasuke membaringkan Karin di atas ruang tamu dan meminta pelayan menjaganya karena Naruto akan datang menjemput. Dan dua puluh menit kemudian Naruto datang setelah dihubungi Sasuke dengan mengendarai mobilnya dalam kecepatan tinggi.
Pria bersurai kuning meminta maaf pada Sasuke karena sudah membuat kekacauan dipagi hari dan ia akan menasehati Karin untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi.
"Aku pulang Teme dan maafkan perbuatan Karin karena sudah membuat keributan dirumahmu,"
"Hn." Sasuke menanggapinya datar.
BRUUUMMMM
Naruto langsung tancap gas meninggalkan kediaman mewah Uchiha.
Setelah penganggu sudah pergi, pria bersurai raven ini kembali ke kamar menemui sang istri dan saat masuk ke kamar dirinya menemukan Hinata tengah bersandar diatas ranjang seraya membaca buku pelajaran karena saking fokus dan kosentrasinya Hinata tak menyadari kedatangan Sasuke yang kini sudah duduk disampingnya.
Grap
Sasuke mengambil buku bacaan Hinata.
"Kembalikan buku itu,"
Klap
Sasuke menutup cepat buku pelajaran Hinata dan menaruhnya diatas nakas, "Hari ini aku ingin menjaga dan menghabiskan waktu berdua denganmu," ujar Sasuke seraya membawa sang istri kedalam pelukan.
Kedua pipi Hinata merona merah karena perlakuan pria bersurai raven ini. Hinata tak menolak ataupun protes saat tubuhnya dipeluk erat oleh sang suami malah ia menyandarkan kepalanya ke dada bidang Sasuke.
"Bagaimana keadaan gadis cantik itu? Apakah dia sudah siuman?" tanya Hinata seraya mendongakan wajahnya.
"Maksudmu Karin,"
Hinata menganggukan kepalanya, "Dia sudah pulang dijemput oleh Naruto,"
"Siapa Naruto? Apakah dia temanmu," tanya Hinata penasaran
"Ya, kami berdua berteman sejak ditaman kanak-kanak sampai sekarang. Semenjak kedua orang tuaku meninggal hanya Naruto dan keluarganyalah yang dekat juga baik padaku," jawab Sasuke seraya menceritakan tentang dirinya.
Greet~
Hinata mencengkeram erat bagian depan baju Sasuke, "Se-sekarang ada aku yang akan menemanimu dan kau tak akan kesepian," ucap Hinata tulus.
Sesaat kedua iris kelam Sasuke melebar dan tak lama kedua sudut ujung bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman lebar, "Terima kasih, Hime,"
"Sasuke-kun,"
"Hn,"
"A-aku lapar," cicit Hinata.
Sasuke langsung melihat jam dan ternyata ini hampir jam sembilan pantas saja jika sang istri merasa lapar mengingat mereka berdua belum sarapan karena kedatangan Karin yang mengacau.
"Maaf aku lupa dan tidak memperhatikanmu," ucap Sasuke penuh sesal.
"Tak apa, Sasuke-kun,"
"Lalu kau ingin makan apa dan dimana?"
"Aku ingin makan dirumah dan memasak untukmu tapi itupun jika kau mau memakannya," kata Hinata tak percaya diri mengingat masakan yang hidangkan para koki sangat enak juga berkelas berbanding jauh dari masakan buatannya.
"Kalau begitu masaklah aku tak sabar untuk mencicipinya karena bagiku masakanmu jauh lebih enak dan lezat dari koki manapun di dunia ini,"
Hinata tersenyum simpul dan rasa percaya dirinya kembali, "Kalau begitu ayo kita ke dapur." Ajak Hinata seraya beranjak bangun dan menarik tubuh sang suami.
Sasuke tersenyum kecil melihat sikap sang istri dan dengan bergandengan tangan keduanya keluar kamar bersama-sama.
~(-)-(-)~
Sore ini setelah pulang sekolah, Ino berencana menjenguk Hinata sekaligus memberikan tugas sekolah beserta catatan pelajaran hari ini pada teman baiknya itu. Sebelum menjenguk Ino menghubungi Hinata dan meminta ijin untuk datang ke kediaman Uchiha mengingat tak sembarangan orang bisa masuk kedalam kediaman mewah ini.
Ting Tong…
Seorang gadis cantik bersuai kuning panjang pony tail dengan mengenakan seragam SMA berdiri didepan pintu gerbang kediaman Uchiha.
"Permisi," ucapnya sopan didepan pintu gerbang dan tak lama seorang penjaga gerbang berjalan menghampiri.
"Maaf ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya penjaga gerbang dengan sopan.
"Nama saya Ino Yamanaka dan saya teman Hinata di sekolah," jawab Ino ramah seraya memperkenal diri.
"Kalau begitu silahkan masuk, Nona Hinata dan Tuan Sasuke ada di dalam," ujar penjaga gerbang mempersilahkan Ino untuk masuk kedalam setelah sebelumnya diberitahu oleh Sasuke untuk membukakan gerbang jika ada seorang gadis cantik bernama Ino Yamanaka yang datang.
"Terima kasih paman,"
"Sama-sama, Nona."
Ino menatap takjub serta terpana melihat kediaman megah nan mewah milik keluarga Uchiha. Ternyata gosip mengenai Sasuke Uchiha bukanlah isapan jempol belaka kalau keluarganya memang benar-benar kaya raya.
"Rumah yang sangat besar dan megah." Batin Ino takjub.
Saat Ino tiba didepan pintu rumah, para pelayan menyambut kedatanganya dan langsung mengantar Ino ke kamar sang Nyonya mengingat banyaknya letak kamar serta ruangan dikediaman ini pasti akan membuat orang yang baru pertama kali masuk atau datang akan merasa bingung bahkan tersesat seperti Hinata dulu.
Kedua mata Ino memandang takjub barang-barang mewah serta mahal yang terpajang di dalam rumah. Dirinya merasa kalau Hinata benar-benar menjadi gadis paling beruntung di dunia ini karena bisa menikah dengan pria kaya raya serta tampan seperti Sasuke Uchiha yang merupakan pria pujaan banyak wanita serta rebutan para Nona-nona kaya.
Setelah berjalan cukup jauh dan menaiki tangga, pelayan yang mengantar Ino berhenti didepan sebuah kamar yang berpintu besar berwarna cokelat tua dengan ukiran kayu.
"Ini kamar Hinata-sama dan Sasuke-sama,"
"Jadi mereka tidur sekamar dan satu ranjang?" tanya Ino kaget.
Pelayan cantik ini tertawa mendengar pertanyaan Ino karena mereka suami istri jadi tak heran jika tidur bersama, "Ya, Nona," jawabnya sopan.
"Ternyata Hinata mendahuluiku, padahal aku kan yang sering mengajarkan dia agar menjadi orang dewas." Pikir Ino.
Tok
Tok
Tok
Pelayan cantik mengetuk beberapa kali pintu kamar.
"Hinata-sama, Sasuke-sama ini saya Hana,"
Tak lama pintu kamar terbuka dan menampilkan pria tampan bersurai raven dengan iris kelam yang menatap tajam serta mengitimidasi tapi sanggup membuat jantung Ino berdegup kencang. Untuk sesaat Ino terdiam atau lebih tepatnya terkesima dan terpesona menatap kagum, mahkluk ciptaan Tuhan yang menurutnya sempurna sekaligus luar biasa karena pria bersurai raven ini begitu tampan, Tubuh tinggi tegap, kulit seputih salju dan jangan lupakan iris kelamnya yang terlihat tajam dan mengitimidasi namun memikat hati, Ino benar-benar dibuat meleleh hatinya.
"Ya, ampun pria ini sangat tampan!" jerit Ino dalam hati.
Sasuke memandang Ino datar, "Kau yang bernama Ino," kata Sasuke.
"I,iya..." sahut Ino gugup sekaligus tersipu malu.
"Masuklah Hinata sudah menunggu di dalam dan terima kasih Hana sudah mengantarnya,"
"Ini sudah tugas saya, Tuan. Kalau begitu saya pamit." Kata Hana seraya pergi meninggalkan kamar.
Saat Ino masuk, Hinata tengah duduk santai di sofa menikmati secangkir teh melati. Wajah Hinata tersenyum lebar melihat sahabat baiknya itu, "Ino-chan,"
"Bagaimana keadaanmu Hinata?" tanya Ino saat duduk didekat Hinata.
"Keadaanku sudah membaik tapi Sasuke-kun melarangku untuk bersekolah beberapa hari ini padahal aku hanya terkena flu saja," jawab Hinata dengan wajah agak sedikit cemberut.
Ino tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Hinata seperti anak kecil tengah merajuk.
"Penyakit flu juga bisa berbahaya, Hime," kata Sasuke seraya duduk disamping Hinata.
Dheg'
Jantung Ino berdegup kencang saat matanya bertemu pandang dengan Sasuke, laki-laki dewasa dihadapannya sungguh luar biasa tampan dan sangat menawan hati.
"Terima kasih sudah datang menjenguk Hinata. Aku senang karena istriku memiliki teman baik dan perhatian padanya," ujar Sasuke senang.
"I,iya sa,sama-sama," ujar Ino gugup.
Ino telihat sangat canggung serta malu saat bertemu pandang dengan Sasuke dan Hinata menyadarinya tapi ia tak cemburu atau marah karena reaksi dari Ino baginya adalah hal wajar mengingat suaminya ini memang luar biasa tampan dan memiliki kharisma besar yang membuat setiap gadis jatuh hati termasuk Hinata sendiri.
Duk~
Hinata menyikut pelan perut Sasuke dan pria bersurai raven ini menyadari kode yang diberikan sang istri.
"Sepertinya aku harus meninggalkan kalian berdua agar lebih rileks," ujar Sasuke.
"Kau mau kemana Sasuke-kun?" tanya Hinata berpura-pura tak tahu.
Cup
Sasuke mengecup pelan kening sang istri, "Aku akan pergi ke ruang kerja dan jika ada apa-apa panggil aku,"
"Uhm..." sahut Hinata.
Sasuke-pun pergi meninggalkan mereka berdua dikamar untuk berbincang-bincang dengan bebas dan nyaman.
Setelah Sasuke pergi, Ino menjerit histeris membuat Hinata kaget sekaligus bingung, "Kyaaaaa!"
"Ada apa Ino-chan? Kenapa kau berteriak histeris seperti itu,"
"Suamimu itu luar biasa tampan Hinata! Jika saja dia bukan suamimu pasti aku sudah merayu dan menggodanya agar jatuh ke dalam pelukanku,"
Wajah Hinata merona merah, "Terima kasih Ino-chan,"
"Andai saja aku juga bisa memiliki suami setampan dia, pasti aku juga akan merasa menjadi gadis paling bahagia di dunia ini," teriak Ino seraya membayangkan wajah masa depan suaminya yang setampan Sasuke.
Hinata tersenyum kecil melihat sikap Ino tapi ia tak heran mengingat teman baiknya itu memang menyukai pria tampan maka dari itu Ino berpacaran dengan Sasori Akasuna sang kapten klub basket yang berwajah tampan serta imut idola banyak gadis disekolah mereka.
"Apakah ini kamarmu dan Sasuke?" tanya Ino seraya menatap takjub ke sekeliling kamar karena merasa kamar ini begitu luas untuk ukuran kamar tidur.
"Ya," jawab Hinata cepat.
"Apa kalian berdua sudah melakukan 'itu'!?" tanya Ino penasaran sekaligus antusia.
Hinata sedikit memiringkan kepalanya, "Maksudmu dengan 'itu' apa, Ino-chan?" Hinata merasa bingung dan tak mengerti dengan pertanyaan gadis bersuri kuning pony tail itu.
"Tentu saja bercinta, Hinata. Kalian tidur satu kamar dan ranjang pasti kalian sudah berbagi kehangatan satu sama lain," ujar Ino frontal.
Blush~
Wajah Hinata langsung merah padam, "I,itu...i...i,tu..." Hinata salah tingkah dan gugup dihadapan Ino.
Melihat reaksi Hinata gadis cantik bersurai kuning ini menarik kesimpulan kalau sahabatnya ini pasti belum melakukan malam pertamanya dengan sang suami, "Jangan katakan kalau kau dan dia belum menghabiskan malam bersama?" tanya Ino penuh curiga.
Hinata menunduk dalam lalu mengangguk pelan.
"Ya Tuhan!" Ino menepuk keras jidatnya mengekpresikan keheranannya.
Ino tidak habis pikir bagaimana bisa Sasuke tidak tergiur dan tergoda pada tubuh sintal milik Hinata padahal setiap malam mereka tidur bersama.
"Suamimu itu normal atau tidak sih?" tanya Ino bingung.
"Tentu saja normal," jawab Hinata penuh keyakinan.
"Kalau memang normal kenapa tidak tergoda untuk menyentuh dirimu?!" tanya Ino yang sedikit memojokan Hinata.
Hinata memainkan jarinya tanda ia gugup, "I,itu...a,a,aku be,belum si,siap..." cicit Hinata.
"Ya, ampun Hinata!" seru Ino tak percaya.
Ternyata permasalahannya bukan pada Sasuke melainkan pada sahabatnya sendiri yang belum mau melakukan hubungan intim padahal jika mereka berdua melakukannya sah-sah saja karena Hinata adalah istri resmi juga sah dari Sasuke begitupun sebaliknya. Padahal diluar sana anak gadis seumuran Hinata sudah melakukannya dengan kekasih mereka sendiri karena mereka melakukanya mengatas namakan cinta tanpa pernah memikirkan efek panjang yang akan terjadi nantinya.
Ino menepuk pelan kedua pundak Hinata seraya menatap serius wajah gadis bersurai indigo itu, "Berjuanglah Hinata menjadi wanita dewasa yang seutuhnya," kata Ino penuh semangat.
"Hah?!" seru Hinata bingung.
Dan Ino hanya tersenyum lebar membuat Hinata semakin bingung.
Sebelum pulang Sasuke meminta Ino untuk makan malam karena para pelayan sudah menyiapkan masakan enak untuk Ino, suasana ruang makan terasa lebih ramai dan menyenangkan karena ada Ino.
Ino diantar pulang oleh supir pribadi Sasuke karena permintaan Hinata mengingat jarak rumah Ino lumayan jauh dari kediaman Uchiha dan Hinata takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.
Hari ini Hinata merasa senang dengan kedatangan Ino, gadis cantik bermata bulan ini merasa masih ada orang yang peduli dan perhatian padanya selain sang suami.
.
.
.
.
.
.
.
Minggu depan adalah hari Valentine dimana para gadis akan membuat cokelat dan diberikan pada pemuda yang disukai. Biasanya ditahun-tahun sebelumnya di hari Valentine Hinata akan selalu duduk diam didalam kelas sibuk membaca buku atau belajar diperpustakaan tak ikut heboh membuat cokelat untuk diberikan pada anak cowok karena memang tak ada satupun orang yang di sukai Hinata, didalam otak dan kamusnya hidupnnya hanya ada belajar, bekerja tak ada waktu luang untuk memikrikan hal lain.
Tapi tahun ini sedikit berbeda karena Hinata ingin membuat cokelat khusus untuk sang suami tercinta, Sasuke. Dan diam-diam setelah pulang sekolah Hinata pergi kerumah Ino untuk membuat cokelat tanpa sepengetahuan Sasuke juga supir pribadi yang bertugas menjemput Hinata disekolah, Jugo.
"Kau yakin ingin membuat cokelat seperti ini?" tunjuk Ino pada sebuah gambar cokelat di dalam majalah.
"Ya dan aku sudah membeli bahan-bahanya, jadi ayo kita mulai membuatnya Ino-chan," ujar Hinata penuh semangat.
"Kau semangat sekali Hinata. Baiklah ayo kita buat, aku juga ingin membuat cokelat istimewa dan spesial untuk Sasori-senpai."
Kedua gadis remaja inipun langsung membuat cokelat dengan penuh semangat seraya menuangkan seluruh perasaan dan tenaga mereka agar apa yang mereka buat bisa disukai juga perasaan mereka sampai lewat cokelat yang mereka buat.
Dilain tempat Jugo sang supir pribadi Hinata terlihat panik tak kala menyadari sang Nona tak ada. Wajah Jugo pucat pasi dan syok mendapati keadaan sekolah sudah sepi juga gelap dan sang Nona tak ada bersama dengannya. Pria bersurai orange ini tertidur pulas didalam mobil setelah diberikan minuman oleh Hinata.
"Jam berapa ini?" tanyanya panik seraya melihat jam tangannya.
Jarum jam kecil tepat berada di angka tujuh itu berarti sudah dua jam lebih dirinya ketiduran di mobil. Buru-buru Jugo menghubungi rumah menanyakan tentang Hinata dan jawaban mengejutkan diterimanya kalau gadis bersurai indigo itu belum juga pulang kerumah.
Jantung Jugo serasa mau copot dan mendadak ia sulit bernafas, tidak kehilangan akal Jugo berusaha menghubungi ponsel sang Nona tapi tidak tersambung dan ini menambah kepanikannya.
"Astaga! Aku bisa dibunuh Sasuke-sama kalau tahu Hinata-sama menghilang," gumamnya frustasi.
Dan belum lama Jugo memikirkan tenang Sasuke, pria bersurai raven itu menghubunginya. Keringat dingin sebiji jagung keluar dari dahinya dan wajahnya pucat pasi melihat nama sang Tuan tertera di dalam ponselnya tengah melakukan panggilan. Jika saja Jugo bisa memilih, ia ingin mematikan ponselnya lalu membuangnya jauh-jauh agar sang Tuan tidak bisa menghubunginya tapi hal itu tak bisa dilakukan mengingat pekerjaannya dipertaruhkan atau mungkin nyawanya sendiri.
Dengan takut-takut Jugo mengangkat ponselnya, "H-Halo Tuan," katanya gugup.
"Dimana Hinata?" tanya Sasuke dingin.
"Hinata-sama, dia..."
"Kenapa kau melalaikan tugasmu, apa kau tak sayang pada nyawamu," ujar Sasuke bernada ancaman.
Glek!
Juga sulit menelan ludahnya dan wajahnya pucat pasi karena seakan-akan tengah melihat Shinigami atau dewa kematian yang siap mencabut nyawanya.
"Ma,maafkan saya Sasuke-sama..."
"Kata maaf tak bisa mengembalikan Hinata. Jika sampai terjadi sesuatu padanya kau yang harus bertanggung jawab," Sasuke memperingati.
"Ba,baik Sasuke-sama." Kata Jugo pasrah.
Pik
Sasuke mematikan ponselnya dan iris kelamnya menatap tajam juga kejam, dirinya tak mau kehilangan Hinata karena bagi Sasuke gadis bermata bulan itu adalah segala-galanya.
"Deidara, hubungi kepala kepolisian kota ini. Aku ingin mereka mencari dan menemukan Hinata kurang dari satu jam," perintah Sasuke dingin pada sekretaris pribadinya. "Baik." Sahut Deidara.
Greet!
Sasuke mengepalkan kedua tangannya kuat menahan amarah hatinya, "Hinata." Lirihnya.
Sementara semua orang tengah heboh mencari keberadaannya Hinata masih asik berkutat di dapur rumah Ino dan setelah dua jam akhrinya cokelat buatan Hinata selesai, "Aku harap Sasuke-kun menyukainya," kata Hinata penuh harap.
"Aku harap Sasori-senpai juga menyukainya," timpal Ino seraya mendekap kotak cokelat ditangannya.
Hinata melirik jam dinding dan ternyata hari sudah malam, buru-buru ia merapihkan diri dan saat hendak keluar rumah tiba-tiba pintu depan didobrak keras.
BRAAAAK!
"Jangan bergerak! Angkat tangan kalian!" teriak para polisi seraya mengacungkan pistol pada Hinata dan Ino.
Reflek keduanya langsung mengangkat kedua tanga seraya saling menatap satu sama lain dengan wajah syok bercampur bingung. Seketika rumah Ino sudah ramai dipenuhi para polisi bersenjata lengkap, mereka seakan-akan tengah menyergap rumah seorang penjahat atau teroris.
"YA, TUHAN!" jerit Ino keras dengan berlinang air mata.
Kedua orang tua Ino yang baru pulang dari acara berlibur di Okinawa terlihat syok, kaget bahkan ibu Ino jatuh pingsan melihat banyak polisi di depan rumahnya.
~(-)-(-)~
Hinata terus mendukan wajahnya dalam dengan Sasuke disampingnya yang duduk tegap menatap Inoichi, ayah Ino kepala keluarga Yamanaka, sedangkan Ino sibuk mengipasi sang ibu yang masih pingsan karena syok berat.
"Sebenarnya apa yang terjadi Tuan Sasuke?" tanya Inoichi tegas karena kedatangan Sasuke bersama para polisi membuat keributan besar dirumahnya bahkan orang-orang disekitar rumah jadi berkumpul melihat kejadian ini.
Sruuk~
Sasuke membungkukkan tubuhnya dalam, "Maaf atas kekacauan dan kejadian yang tidak menyenangkan ini Tuan Inoichi, semuanya adalah salah saya," kata Sasuke penuh penyesalan.
Inoichi menghela nafasnya cepat, "Mengingat Hinata adalah teman baik putriku dan anda adalah orang terpandang di kota ini, aku akan melupakan kejadian ini karena tak sepenuhnya kesalahan anda mengingat putriku juga terlibat dalam kekacaun ini," lirik Inoichi pada sang putri.
Ino diam seribu bahasa dan mati kutu saat ditatap tajam oleh sang ayah.
"Terima kasih, atas kebaikan dan pengertiannya Tuan Inoichi. Aku akan mengganti semua kerusakan akibat kejadian ini sekali lagi aku minta maaf, karena hari sudah malam kami berdua pamit," Sasuke kembali membungkukkan tubuhnya.
"Hati-hati dijalan dan kapan-kapan datanglah bersama istrimu ke sini,"
"Apakah boleh, setelah kekacauan yang aku perbuat,"
Inoichi tertawa kecil melihat sikap Sasuke yang masih merasa menyesal juga tak enak padanya, "Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian berdua, akan kami jamu anda dengan baik asalkan tidak membawa polisi bersenjata lengkap seperti ini," ujar Inoichi yang diakhiri tawa ringan darinya.
Sasuke tersenyum kecil, "Terima kasih atas tawarannya, aku dan Hinata pasti akan datang berkunjung,"
"Akan kami tunggu."
Hinata berjalan mengekor dibelakang Sasuke dengan kawalan dan sebelum pulang Hinata berpamitan sekaligus meminta maaf pada Ino karena sudah membuat keributan juga kehebohan, "Maafkan aku Ino-chan, karena aku kau..." ujar Hinata dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Sudahlah Hinata, yang seharusnya kau khawatirkan adalah dia." Lirik Ino pada sosok Sasuke yang berdiri didekat pintu memandang dingin pada Hinata.
Hinata menundukan wajahnya dalam melihat ekspresi wajah Sasuke yang menyakitkan hatinya, tapi ia tak bisa menyalahkannya karena bagaimanapun ini adalah salah dia karena pergi secara diam-diam bahkan membuat Jugo pingsan dengan obat tidur yang ditaruhnya dalam minuman walaupun itu adalah ide Ino dan karena ulahnya itu membuat semua orang susah juga panik khususnya Sasuke. Padahal awalnya Hinata ingin membuat kejutan untuk Sasuke tapi malah dirinya yang mendapatkan kejutan dari pria bermata kelam itu.
Selama dalam perjalan pulang tak ada satu patah katapun keluar dari bibir tipis Sasuke, pria itu fokus menyetir tak menghiraukan Hinata yang sejak tadi duduk gelisah, gugup juga takut disampingnya.
Saat tiba dirumahpun sikap Sasuke masih dingin bahkan mengacuhkannya sama sekali membuat Hinata sedih.
"Sasuke-kun, aku..."
"Hana, aku ingin berendam air hangat dan setelahnya buatkan sesuatu untukku lalu antarkan ke ruang kerjaku karena aku ingin semalam berada disana," kata Sasuke menyela perkataan sang istri.
Wajah Hinata langsung tertunduk sendu, dengan menahan tangisnya Hinata berjalan menuju kamar dan tak keluar sama sekali.
BYUUUUR~
Sasuke menenggelamkan dirinya dalam bak mandi besar mencoba mendinginkan kepala serta hatinya yang tengah panas juga bergejolak saat ini karena ulah sang istri yang tak pernah di duganya sama sekali.
"Hinata," gumamnya pelan.
Sasuke menatap datar langit-langit kamar mandi yang berwarna putih berhiaskan lampu kamar, iris kelamnya menatap sendu ke atas.
DOR
DOR
DOR
Pintu kamar mandi digedor cukup keras membuat Sasuke marah karena ketenangannya terganggu.
"Sasuke-sama, Sasuke-sama..." panggil seorang pelayan wanita panik diluar kamar.
Tapi sang Tuan tidak juga membukakan pintu membuatnya panik bercampur cemas dan saat hendak menggedor kembali pintu kamar terbuka.
Sasuke membuka pintu kamar dengan sedikit kasar, "Ada apa?" tanya Sasuke dingin.
Blush
Wajah pelayan ini merona merah melihat penampilan sang Tuan yang hanya mengenakan handuk dipinggang jangan lupakan rambut ravennya yang masih basah juga aroma bunga mawar yang menguar dari tubuh Sasuke, membuat pelayan cantik ini sangat terpesona melihat sosok sang Tuan yang baru mandi.
"Ma…Ma,mafkan saya Sasuke-sama kalau menggangu anda. Tapi Hinata-sama," ucapnya dengan sedikit gugup dan menundukkan wajah.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Ada apa dengannya?" tanyanya tak sabaran.
"Hinata-sama jatuh pingsan di kamar," jawab sang pelayan dengan wajah panik.
Kedua iris kelam Sasuke melebar sempurna dan eksperesi wajahnya yang tadi datar kini berubah menjadi kaget, "APA?!" seru Sasuke kaget.
"Panggilkan dokter sekarang juga," teriak Sasuke seraya pergi bergegas ke kamar menemui sang istri.
"Ba,baik, Tuan."
Sasuke langsung pergi menuju kamar utama dengan tidak memperdulikan penampilannya saat ini, hanya mengenakan selembar handuk yang melilit dipinggangnya dan berjalan tergesa-gesa di koridor rumah tanpa menyadari kalau para pelayan terus menundukan wajah dalam ketika berpapasan dengannya karena enggan melihat penampilan sexy sang Tuan.
BRAAAK!
Sasuke membuka keras pintu kamar dan langsung menghambur masuk menghampiri sang istri yang tengah terbaring di atas kasur dengan Kakashi berada didekat ranjang.
"Apa yang terjadi dengannya, Kakashi?" tanya Sasuke panik bercampur takut pada kepala pelayan dikediamannya sekaligus orang kepercayaannya dirumah.
"Tadi salah satu pelayan menemukan Hinata-sama tergeletak pingsan didepan pintu," jawab Kakashi seraya memberikan sebuah kotak bertuliskan 'For Sasuke-kun' diatasnya.
"Apa ini, Kakashi?"
"Hinata-sama menggengam erat benda itu saat jatuh pingsan tadi," jelas Kakashi.
Raut wajah Sasuke langsung berubah sendu dan ada perasaan bersalah menyusup dihatinya karena sikap dingin serta acuhnya beberapa waktu lalu membuat sang istri jadi seperti ini padahal Hinata baru saja sembuh dari flu seminggu lalu.
Sasuke berterima kasih pada Kakashi karena sudah menjaga Hinata, ia meminta Kakashi untuk pergi dan beristirahat karena hari sudah malam namun pria bersurai putih ini menolak dan masih ingin berada di kamar menemani sang Tuan hingga dokter datang.
"Sasuke-sama," panggil Kakashi sopan dengan sebuah pakaian piyama tidur berwarna biru dongker polos ditangannya.
"Hn," sahut Sasuke tanpa mengalihkan pandangan matanya dari sang istri.
"Sebaiknya anda memakai pakaian anda, saya takut nanti anda masuk angin karena berpenampilan seperti itu,"
Sasuke mendelik kaget dan baru tersadar dengan penampilannya yang hanya menggunakan selembar handuk untuk menutupi daerah intimnya pantas saja para pelayan terus menundukan wajah saat bertemu dengannya.
"Terima kasih, Kakashi,"
"Ini memang sudah tugas saya, Sasuke-sama."
Tiga puluh menit kemudian Kabuto Yakushia selaku dokter pribadi keluarga Uchiha datang setelah dihubungi, dokter tampan ini langsung memeriksa keadaan Hinata.
"Bagaimana keadaannya, Kabuto?" tanya Sasuke dengan nada cemas dan penuh kekhawatiran.
Dokter muda ini tersenyum kecil melihat sikap Sasuke yang tak biasa ini, "Tenanglah Sasuke, istrimu baik-baik saja. Hinata hanya kelelahan dan besok keadaanya akan membaik," jelas Kabuto yang membuat Sasuke bernafas lega.
Setelah memeriksa keadaan Hinata dan memberi sedikit nasehat serta saran pada Sasuke dokter muda ini pulang dengan diantar Jugo sampai ke kediamannya.
Tak lama setelah Kabuto pulang gadis bersurai indigo itu terbangun dari tidurnya.
"Ngh!" lenguh Hinata pelan.
Hinata menggerakkan tubuhnya dan dengan perlahan membuka kedua matanya.
Pemandangan yang dilihat Hinata adalah langit-langit kamar yang berhiaskan lampur kristal dan saat menoleh kesamping Hinata menemukan Sasuke tengah duduk menatap sendu dirinya, buru-buru Hinata bangun dari tidurnya.
"Sa,Sasuke-kun..." panggilnya takut.
Sasuke diam seribu bahasa dan masih menatap Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan.
Masih berpikir jika Sasuke masih marah padanya, Hinata menundukan wajahnya dalam takut menatap wajahnya,"Ma..."
GYUT~
Sasuke mendekap dan memeluk erat tubuh sintal sang istri, "Gomenasai, Hime," bisiknya lirih.
Sesaat iris bulan Hinata melebar tapi tak lama Hinata mampu mengendalikan keterkejutannya, dibalasnya pelukan hangat sang suami, "Maafkan aku juga Sasuke-kun, karena sudah membuatmu cemas, marah juga..."
"Ssshhh...jangan berkata apa-apa lagi Hime. Aku tak marah ataupun benci padamu aku hanya takut kehilanganmu. Aku takut jika kau pergi jauh dariku. Aku sangat takut sekali, Hime dan aku mohon jangan lakukan hal itu lagi,"
Hinata menganggukan kepalanya dalam pelukan sang suami, "Aku janji Sasuke-kun,"
Untuk beberapa saat keduanya diam dengan masih berpelukan erat satu sama lain hingga Hinata membuka suara meminta pria bersurai raven itu mengambilkan tasnya dan tanpa banyak bertanya Sasuke mengambilkannya.
"Terima kasih, Sasuke-kun,"
"Hn,"
Hinata meraih sesuatu dari dalam tasnya kemudian membukanya, awalnya Hinata terlihat biasa saja tapi tak lama wajahnya terlihat panik saat menyadari kalau cokelat buatannya tak ada didalam tas padahal seingatnya tadi masih ada didalam tas.
"Kenapa tak ada," Hinata terlihat panik.
Sasuke menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna ungu muda bertuliskan 'For Sasuke-kun' diatasnya, "Apa ini yang kau cari,"
"Ba,bagaimana bisa itu ada ditanganmu?"
"Tadi Kakashi yang memberikannya dan kau pingsan menggenggam benda ini,"
Wajah Hinata tertunduk lesu, "Padahal aku ingin memberikannya padamu sebagai kejutan,"
"Kalau begitu berikan ini padaku dan anggap saja seolah-olah aku belum menerimanya,"
"Tapi..."
"Hadiah ini akan terasa istimewa jika kau sendiri yang memberikannya padaku,"
Senyuman lebar langsung mengembang diwajah cantik Hinata dan dengan rona merah menghiasi kedua pipi tembamnya Hinata memberikan cokelat buatannya pada sang suami, "Se,se,selamat ha,ha,hari Valentine Sasuke-kun walau ini lebih cepat sehari," kata Hinata pelan.
Sasuke menerima pemberian Hinata dengan perasaan senang sekaligus gembira, 'Terima kasih Hime dan lagi pula ini sudah hari Valentine karena saat ini tepat jam dua belas malam,"
"Benarkah, kalau begitu aku memberikannya tepat dihari Valentine," ujar Hinata senang.
"Hn,"
Gyut~
Sasuke mendekap kembali tubuh sang istri kali ini tidak erat namun terasa hangat juga nyaman bagi Hinata, "Terima kasih, Hime ini adalah hadiah Valentine terindah yang pernah aku dapatkan. Selamat hari kasih sayang." Sasuke mengecup kening Hinata penuh kasih.
Setelah kehebohan yang dilakukan Hinata membuat gempar semua orang hingga keduanya bertengkar hingga Hinata jatuh pingsan tapi semuanya berakhir manis dan indah karena kini keduanya terlihat mesra juga lebih dekat dengan kejadian ini.
"Bulan depan saat white day aku akan memberikan hadiah spesial untukmu sebagai balasan,"
"Tak perlu Sasuke-kun, dengan kau mau menerima dan memakan cokelat buatanku saja sudah membuatku senang,"
"Pantang bagiku jika menerima pemberian seseorang tak dibalas apalagi jika istriku sendiri yang memberikan hadiah. Jadi jangan menolaknya, Hime dan aku ingin kau mau menerimanya,"
"Baiklah, apapun hadiah darimu pasti akan aku terima,"
"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu, Hime?" tanya Sasuke meyakinkan.
"Ya. Memang kau mau memberi hadiahku apa sampai menanyakan seperti itu?" Hinata balik bertanya.
Sebuah seringai muncul diwajah tampan Sasuke dan perasaan Hinata menjadi tak enak, "Bulan depan aku ingin mengajakmu ke Hawai sekaligus berbulan madu," kata Sasuke senang.
Hinata mendelik kaget, "Apa?!"
"Kau tak bisa menolaknya, karena kau sudah berjanji akan menerimanya apapun itu,"
"Ta,tapi i..."
Cup
Sasuke mencium singkat sang isti dan itu sukses membuat Hinata diam seribu bahasa, "Janji adalah janji dan kau harus menepatinya." Tagih Sasuke.
Hinata mendengus sebal karena Sasuke menjebaknya, kalau tahu hadiah yang ingin diberikan Sasuke adalah tiket pergi ke Hawai untuk berbulan madu sudah pasti Hinata akan menolaknya. Dasar suaminya itu memang memiliki seribu satu akal juga cara untuk menjebaknya.
"Aku sudah tak sabar menunggu bulan depan untuk acara bulan madu kita." Ujar Sasuke seraya tersenyum nakal.
Dan Hinata hanya bisa menjerit pasrah dalam hati.
"Ya, Tuhan!"
TBC
A/N : Halo semuanya, maafkan Inoue yang menelantarkan Fic ini#Bungkuk badan dalam-dalam.
Untuk kelanjutannya mungkin paling lambat 3 bulan lagi akan Inoue publish tapi sebagian cerita sudah Inoue ketik dan doakan semoga penyakit malas juga macet otak saya tidak kumat.
Terima kasih banyak yang sudah memberikan Riview maafkan Inoue tidak bisa membalasnya dan Inoue juga mengucapkan banyak terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini, jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka
