Author
anggimds hani_mi mirapark
Jam telah menunjukkan pukul 7 malam. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Kyungsoo berjalan mengendap-ngendap ke luar rumah dengan diikuti oleh Yixing. Mereka sudah mendiskusikan ini sebelumnya. Kyungsoo ingin berjalan-jalan sendirian di Sungai Han, dan Yixing yang berada pada pihak Kyungsoo, menjadi orang yang meyakinkan kepada orang tuanya bahwa Kyungsoo sedang belajar di kamarnya. Mereka mengangguk kepada satu sama lain saat Kyungsoo sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi dengan sepeda pancal sport milik Yixing. Selanjutnya, dengan semangat Kyungsoo menggowes sepeda pancalnya di .pinggir jalan kota Seoul. Bibirnya terus menyunggingkan senyuman saat merasakan udara malam Seoul. Ia menggowes sepeda yang ditungganginya melewati jalanan-jalanan yang dulu sering ia lewati. Memori dahulu ia kecil, kini kembali ia kenang. Banyak tempat yang sudah berubah semenjak Kyungsoo tinggal di Jepang. Kyungsoo makin semangat menggowes sepedanya, tak sabar untuk melihat bagaimana rupa Sungai Han yang sekarang.
.
- U -
.
Sehun berbaring nyaman di tempat tidurnya sembari terpejam. Ia rindu sekali dengan kamarnya yang sudah lama tak ia tempati. Ia senang akhirnya bisa kembali ke Seoul dan berkumpul lagi dengan para keluarganya.
Bruumm
Mata Sehun refleks terbuka lebar. Suara mesin sepeda motor yang dinyalakan mengalihkan perhatiannya. Ia lalu bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela kamarnya. Ia mencoba mengintip siapa yang hendak pergi.
'Hyung?', bisik Sehun lirih. Ia melihat Jongin yang sedang menaiki ninjanya dan bersiap-siap pergi.
Tanpa pikir panjang, Sehun menyambar Jaketnya dengan asal-asalan dan tak lupa kunci mobilnya, lalu berlari cepat menyusul Jongin sebelum hyung nya melesat jauh dengan ninjanya.
.
- U -
.
Sehun mengebut mengejar Jongin dengan mobil audi miliknya. Ia sedikit kesusahan mengejar Jongin menggunakan ninnjanya yang bisa menyelip di antara pengendara lain, tapi syukurlah Sehun masih bisa mengimbanginya. Sampai ketika mobilnya berhenti dengan tiba-tiba. Sehun mengerutkan keningnya bingung. Perasaan mobilnya yang merupakan hadiah pada ulang tahun dirinya yang ke-17 itu baik-baik saja. Ia langsung panik ketika Jongin sudah tak terlihat lagi tenggelam di antara ramainya jalanan Seoul. Sehun mengumpat. Ia lalu membuka pintu mobilnya dan keluar dari mobilnya untuk mengecek apa yang salah dengan mobilnya. Sehun menghempuskan nafas kasar ketika tahu masalah dari mobilnya yang berhenti tiba-tiba adalah ternyata ban sebelah kanan belakang mobil Sehun kempes.
"Sial." Sehun menendang ban mobilnya yang kempes itu. Untung saja mobilnya berhenti tepat di pinggir jalan. Ia lalu berjongkok untuk mengecek penyebab bannya bisa kempes. Ia menemukan paku yang tertancap pada bannya dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. "Siapa yang meletakkan paku sembarangan di jalanan."
Sehun menggerutu. Sekarang ia bingung. Bagaimana cara dirinya untuk pulang.
"Ahh~ Sial. Bagaimana caraku untuk kembali kerumah?" Geram Sehun sambil menendang pelan ban mobilnya.
"Chogiyo."
Sehun menoleh. Seorang gadis bermata bulat dengan balutan training serta hodie berwarna pink itu tersenyum kearahnya. Sehun terdiam untuk beberapa saat. Mata tajamnya seakan terhipnotis oleh binar mata bulatnya. 'Indah', hanya kata itu yg terlintas di benak sehun.
"Ada apa dengan mobilmu?" Gadis itu bertanya dengan menunjuk mobil Sehun sembari mengerutkan keningnya bingung.
"... " Tidak ada jawaban dari Sehun. Ia masih diam terpesona dengan sosok gadis yang memakai pakaian sederhana tapi cantik itu. Mata tajamnya tak lepas menatap mata bulat si gadis. Si gadis terlihat kikuk karena matanya ditatap dengan intens seperti itu.
"Chogi, kau tidak apa-apa?" Tangan kanan si gadis itu melambai-lambai di depan wajah Sehun. Sehun langsung tersadar dari acara terpesonanya.
"Ne? Ah ne. Maafkan aku." Sehun menggaruk bagian belakang lehernya yang tidak gatal. "Itu. Ya, mobilku. Itu" Sehun tersenyum gugup sambil menunjukkan ban mobilnya. Sial. 'Kenapa aku jadi gugup begini?'
"Ah. Sepertinya ban mu bermasalah." gadis itu menganguk angguk lucu dihadapan sehun dan malah membuat jantung sehun menggila. Tiba-tiba jantungnya berdegup cepat begitu saja. Ahh gadis itu bisa membuat sehun serangan jantung karna paras ayu dan kadar ke imutan nya.
"Seingatku dulu di dekat sini ada bengkel mobil." Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Benarkah?" gadis itu mengangguk mantap. Bibirnya tersenyum ke arah Sehun. Ia lalu menoleh kearah bengkel itu berada.
"Disana. Bengkelnya tepat diarah sana. Kebetulan aku juga akan kearah sana, Jika kau mau aku bisa memanggilkan orang bengkelnya untuk kemari." Gadis itu menatap Sehun dengan senyuman tipis. Kepala Sehun mengangguk-angguk. Dirinya sudah seolah-olah tersihir oleh gadis itu dan menuruti kemauannya.
"Apa tidak apa-apa?" Sehun memang seperti menanggapi gadis itu, tapi jika dicermati lagi, mata Sehun bahkan tidak teralihkan dari mata bulat gadis itu yg sedari tadi mengerjap indah juga bibir heart lips nya yg menawan. "Iya. Tidak apa apa. Kau tunggu saja disini, aku akan segera memanggilnya untukmu. " Gadis itu tersenyum semangat.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ne?" Sehun mengangguk tanpa ekspresi. Syukurlah ia masih bisa mengendalikan ekspresinya. Jika tidak, wajah Sehun pasti terlihat konyol. Mulutnya bahkan diam tak mengucap apapun. Matanya terus saja memperhatikan gadis yang menolongnya tersebut.
'Ah, apakah ini rupa seorang malaikat?', bisik Sehun konyol.
"yeoppo" Dan dengan tanpa sadar, Sehun mengucapkan kata tersebut. Si gadis yang hendak pergi tersebut mengalihkan matanya menatap Sehun sembari menaikkan satu alisnya. "Ne?"
Tubuh Sehun langsung kaku. 'yak! Apa yg terjadi pada mu Oh Sehun? Pabboya.' Sehun mengumpat pelan. "Ah, tidak. Aku hanya ingin mengucapkan... Hati-hati. Ya, berhati-hatilah." Gadis cantik itu mengerutkan keningnya. Ia lalu tertawa tipis dan mengangguk pelan tanda paham.
"Ya, tentu saja aku akan berhati-hati." Gadis itu tersenyum manis. "Oke, aku pergi dahulu." Gadis itu lalu pergi ke arah bengkel yang ia tunjuk tadi. Mata Sehun menatap kepergian malaikatnya itu dengan senyuman tipis. Wajahnya berubah panik.
"Ahh seharusnya aku menanyakan namanya. Dan astaga, aku belum berterimakasih padanya. Aigoo.. bodohnya kau Sehun!" Gerutu Sehun sembari mengusap wajahnya kasar. Namun, tak lama bibirnya tertarik untuk tersenyum lagi
"Dia begitu cantik. Bahkan, hanya dengan melihat matanya saja jantungku sudah seperti mau lepas. Ah.. Apa ini yang disebut Cinta pada pandangan pertama?" Sehun meletakkan tangannya di dadanya. Ia bisa merasakan jantungnya sedang berdegup kencang dengan hanya membayangkan gadis itu. "Oh Sehun, kendalikan dirimu." Gumamnya sembari melihat jalanan yang tadi dilewati gadis yg sudah ia klaim sebagai malaikatnya dan juga pujaan hatinya.
Tak lama kemudian, seorang lelaki datang menggunakan motornya sembari memegang semacam kotak yang berisi perkakas. Dia adalah orang dari bengkel mobil yang gadis tadi katakan. Sehun bertekad, ia harus benar-benar bertemu gadis itu untuk berterimakasih.
.
- U -
.
Kerlap-kerlip lampu yang menghias jembatan sekitar Sungai Han ketika malam hari membuat Kyungsoo berdecak kagum. Kyungsoo yang telah turun dari sepedanya merentangkan kedua tangannya lalu memejamkan matanya. Udara malam yang cukup dingin ini tidak menyulutkan keinginan Kyungsoo untuk pergi kemari.
Sekelebat kenangan masa kecilnya pun kembali terlintas. Suara-suara Kyungsoo kecil juga mulai terasa terdengar ditelinganya.
Dulu, saat Kyungsoo masih kecil, Dia, Chanyeol beserta Kedua orangtuanya sering menghabiskan waktu libur mereka di sekitar Sungai Han untuk bersepeda. Kyungsoo yang manja dan Chanyeol yang Ceria.
"Aku merindukan kalian." Gumam Kyungsoo sembari tersenyum sedih. Tidak, Kyungsoo tidak menangis. Ia hanya kembali merasakan kesedihan mengingat kenangan bersama kedua orang tuanya.
Hingga tak terasa suhu semakin dingin. Kyungsoo terlalu menikmati pemandangan di Sekitar Sungai Han dan membuatnya tidak menyadari bahwa ia sudah terlalu lama berada diluar.
Kyungsoo pun kembali menaiki sepedanya dan pergi untuk pulang kerumah sebelum bibi serta pamannya menyadarinya pergi keluar rumah dan Yixing yang memarahinya.
.
- U -
.
Kyungsoo berjalan melewati koridor kampus. Dengan membawa beberapa buku dalam pelukannya, Kyungsoo berjalan anggun dengan mini dress berwarna soft pink dengan rambut panjangnya yang sengaja ia gerai, sedangkan kaki mungilnya dibalut Flat shoes berwarna senada. Ini semua adalah permintaan bibinya yang mengotot meminta Kyungsoo untuk berpakaian layaknya perempuan. Oke, kalimat itu sedikit menyinggung hati Kyungsoo yang artinya baju-bajunya atau baju yang selama ini ia pakai tidak layak untuk perempuan. Kyungsoo hanya menghela nafas pasrah lalu menuruti permintaan bibinya itu.
Dan pagi ini, Chanyeol tidak pergi bersamanya karena ia sudah berangkat lebih dulu karena dosennya mengadakan quiz. Kyungsoo sih senang-senang saja bisa pergi menggunakan Bus. Flashback pada saat ia tinggal di Jepang.
Dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya Kyungsoo, berhenti tepat di bangku taman kampus. Masih ada waktu 30menit sebelum masuk kedalam kelas.
"Sebelum masuk kelas. Merilekskan pikiran disini sebentar sepertinya menyenangkan." Kyungsoo merogoh tas kecilnya lalu mengeluarkan ponsel serta earphonenya dan memasangnya tepat di kedua telinganya.
"Naee tteugeoun ipsuri neoui ~ budeureoun ipsure dakil wonhae. Nae sarangi neoui gaseume jeonhaejidorok~
ajikto naui maeumeul moreugo isseottamyeoneun
i sesang geu nuguboda neol saranghagesseo~
"Neol-"
"Aku baru tau bahwa kau bisa menyanyi." Kyungsoo melepaskan sebelah earphonenya lalu menoleh ke sumber suara. "Yak! Manusia menyebalkan! Sedang apa kau disini?" Jongin mengedikkan bahunya lalu duduk begitu saja di samping Kyungsoo.
"Hanya ingin duduk disini. Apa tidak boleh?" Kyungsoo menatap tajam kearah lelaki yang kini tengah menatap berlawanan arah dengannya. Lelaki yang menurut pandangan Kyungsoo adalah manusia paling menyebalkan yang ia temui di dunia ini. Kyungsoo mencebik.
"Ckk. Terserah!" Kyungsoo memutar bola matanya malas. Ia hendak memasang kembali earphone miliknya kembali, tetapi Jongin justru menarik paksa earphone.
"Yak! Kim Jongin! Berhenti melakukan itu! Kau bisa merusak earphone ku, bodoh!" Kyungsoo mendelik tajam pada Jongin lalu merebut paksa earphonenya.
"Sebenarnya aku sedikit penasaran padamu." Jongin memandang lurus kedepan. Kyungsoo mengeryit menatap Jongin. "Wae?!"
Jongin menoleh menatap mata Kyungsoo dalam. "Kau ini kasar sekali." Kyungsoo mendengus. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Tidak ada." Oke! Manusia bernama Kim Jongin ini memang menyebalkan. Kyungsoo memilih bangkit dari bangku taman. Namun,
Sreekkk
"Arghhh! Yak!Bodoh! Kenapa kau menarik rambutku. Das- mppph." telapak tangan Jongin menutup mulut Kyungsoo erat. Posisi Kyungsoo kini tengah bersandar tepat di dada bidang Jongin sambil berusaha melepaskan telapak tangan Jongin agar tidak menutup mulutnya.
"Ikutlah bersamaku." Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Ia terus mencoba menghindari Jongin namun namja itu tetap tidak memperdulikannya. Kyungsoo hanya pasrah ketika Jongin menariknya untuk pergi tanpa melepas bekapannya.
"Hahh.. Namja.. Bodoh!" Kyungsoo terengah saat Jongin tidak lagi membekap mulutnya. Jongin tidak bergeming. Lelaki itu memilih menaiki sebuah sepeda sport yang Kyungsoo yakini itu bukan milik Jongin.
"Naik." Kyungsoo masih tidak bergeming. "Hah?" Jongin berdecak.
"Naiklah, gadis lambat." Jongin menekankan kata-katanya. "Kemana? Aku duduk dimana? Kau tak melihatku yang menggunakan dress? Dan yang paling penting, ini sepeda milik siapa?"
"Dasar cerewet." Jongin menarik lengan Kyungsoo, dan gadis itu berakhir duduk menyamping dibagian depan sepeda. Sebelum Kyungsoo menolak, Jongin langsung mengayuh sepeda itu meninggalkan parkiran kampus.
"Sebenarnya kau akan membawaku kemana?" kata Kyungsoo pelan. "Diamlah." bibir Kyungsoo mengerucut.
"Yak! Bagaimana aku bisa diam jika kau menculikku seperti ini?" Kyungsoo mendongak dan sedikit memutar badannya untuk bisa melihat wajah Jongin yang sedang mengayuh sepeda. Bulir-bulir keringat mulai muncul di dahi Jongin. "Bisa diam tidak?"
"Turunkan aku atau aku akan melaporkan hal ini pada kepolisian! Atas kasus pen-"
CHUP
Mata Kyungsoo membulat. "Yak!apa yang kau lakukan?!" Kyungsoo terkejut saat dengan seenaknya lelaki hitam itu menciumnya di pipi kanannya.
"Kau berisik." ekspresi Jongin masih datar. Kurang ajar. "Bagaimana aku tidak berisik? Kau membawaku seenaknya bodoh! Turunkan aku sekarang juga. Jika tidak aku benar-benar ak-"
CHUP
Kyungsoo lagi-lagi membulat. Kini pipi kirinya yang jadi korban. "Yak! Kau memang-"
CHUP
Hidung bangir Kyungsoo jadi korban selanjutnya. "Berhenti menciumku atau-"
"-aku akan terus menciummu kalau kau tidak bisa diam." wajah Kyungsoo menjadi pucat. Sialan. Jongin adalah pria pertama yang berani mencium Kyungsoo selain para keluarganya.
"Kim Jongin kau si-"
CHUP
Kali ini berbeda. Jongin mencium Kyungsoo tepat di keningnya, lama. Kyungsoo hendak berontak, tapi tubuhnya tetap diam. Pikirannya menolak tapi tubuhnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Matanya mendongak melihat Jongin yang sedang mencium keningnya dengan mata tertutup. Refleks, Kyungsoo ikut memejamkan matanya.
Deg
Sialan. Jantung sialan. Kyungsoo merutuk dalam hati. Matanya terbuka ketika Jongin melepaskan ciumannya. Hampa rasanya.
"Sialan."bisik Kyungsoo lirih. Ia tak dapat menatap mata Jongin, jadi ia menunduk dalam. Berusaha memyembunyikan rona dipipinya.
"Tunggulah disini." Kyungsoo mengeryit bingung. Ia lalu mendongak dan pandangannya mengikuti Jongin yang sedang berjalan masuk ke supermarket. "Eoh?" Kyungsoo melihat sekitarnya. Ternyata sedari tadi berada di parkiran supermarket? Dan berci- ah maksudnya adegan Jongin yang mencium dahinya tadi dilakukan di depan supermarket?
"Astaga." Kyungsoo baru sadar jika sedang berada di tempat umum. Pipinya kembali memerah lagi. 'Semoga tidak ada yang melihat', batinnya panik. Parkirannya memang sepi, tapi sepertinya doanya tidak terkabul ketika salah satu wanita penjaga supermarket tersenyum penuh arti ke arahnya. Kyungsoo balas dengan senyuman canggung.
"Mati kau." Kyungsoo lalu mengusap kasar wajahnya sembari terpejam. Tapi ketika ia membuka matanya, sebuah ice cream muncul dihadapannya. Ia lalu mendongak.
"Untukmu." Jongin menyodorkan ice cream yang dibelinya ke hadapan Kyungsoo. Kyungsoo masih diam. "Kukira semua perempuan suka ice cream, tapi kelihatannya kau tidak menyukainya." Kyungsoo langsung merebut ice cream nya yang hendak Jongin buang.
"Hanya untuk menghargaimu." lirik Kyungsoo sinis sembari menjilat ice creamnya yang mulai mencair. Jongin hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu kembali menaiki sepedanya.
"Bawakan." Jongin menyodorkan sebuah kantong plastik khas supermarket kepada Kyungsoo. Kyungsoo lalu mengambilnya dan membawanya.
Kyungsoo iseng-iseng membuka isi kantong plastik tersebut. "Kau belum sarapan, ya?" Kyungsoo mendongak menatap Jongin yang mulai mengayuh sepedanya. Jongin hanya menggeleng pelan. Jongin tadi sengaja bangun awal untuk menghindar dari keluarganya, terutama Sehun. Jadi, ia belum sarapan sama sekali.
"Kau mau kucium lagi ya?" Mata Kyungsoo membola. Namja gila! Oke! Kyungsoo mengalah. Dengan wajah ditekuk sebal, Kyungsoo akhirnya diam sembari memakan ice creamnya dan fokus memperhatikan jalan yang mereka lalui. Jongin tersenyum tipis karena itu.
"Kau asli Korea?"
Kyungsoo diam.
"Berapa lama kau menetap di jepang?"
Kyungsoo lagi-lagi diam
"Apa kau marah?"
Kyungsoo tetap diam.
"Yak! Setidaknya jawab pertanyaanku." Kyungsoo memutar bola mata jengah. Apa maunya manusia ini sih? "Lalu siapa yang tadi menyuruhku diam?"
Jongin menghela nafas kesal. "Baiklah. Kau boleh bersuara. Dan jawab pertanyaanku."
"Apa harus? Kupikir itu bukan urusanmu. Aku asli korea atau bukan, itu juga tak ada sangkut pautnya dengan urusan pribadimu." Jongin mengangguk-angguk paham. Sekarang Jongin sedikit memahami Kyungsoo. Selain kasar, dia juga cerewet, pemarah dan keras kepala.
.
- U -
.
"Sekian untuk hari ini. Minggu depan untuk kelas saya, kalian langsung masuk aula saja. Oke?" setelah para mahasiswa dan mahasiswi mengiyakan, Mrs. Hwang pergi meninggalkan kelas dengan disertai oleh gerutuan seisi kelas. Terutama Kyungsoo. Bagaimana tidak? Minggu depan, seisi kelasnya diberi tugas untuk menampilkan bakat seni musik lain selain vocal. Karena vocal adalah materi dari dosen lain, Mrs. Yun. Kyungsoo menghela nafas berat. Ia tidak mahir memainkan alat musik. Tapi tiba-tiba ekspresinya menjadi cerah.
'Chan oppa!', Kyungsoo berteriak dalam hati. Aih ia hampir lupa. Chanyeol oppa nya itu kan mahir memainkan gitar. Dengan semangat, ia bangkit dari kursinya. Ia ingin cepat-cepat bertemu oppanya dan meminta oppanya itu mengajarinya.
"Kau pulang dahulu, Kyung?" Kyungsoo menoleh. Ia lalu tersenyum. "Ada urusan sebentar. Aku pergi dahulu ne, Baekkie Minseokie." Kyungsoo melambaikan tangannya kepada kedua temannya itu. "Eoh, hati-hati." Minseok dan Baekhyun membalas lambaian Kyungsoo sembari tersenyum.
Kyungsoo pun berjalan cepat dengan kedua kaki mungilnya keluar kelas.
Greepp
"Eodiga?" Lengan kanan Kyungsoo tiba-tiba dicekal oleh seseorang. Kyungsoo terlonjak kaget. Kyungsoo lalu mendongak, melihat siapa yang berani-beraninya menghalangi jalannya dan seenaknya mencekal lengan Kyungsoo begitu saja.
"Yak! Khamcagiya!" Kyungsoo melihat Chanyeol yang sedang bersandar pada tembok luar kelasnya, tangan kirinya dimasukkan dalam celananya sedangkan tangan kanannya yang bebas itu mencekal lengan Kyungsoo erat. Chanyeol mengaduh sakit ketika Kyungsoo meninju perutnya dengan keras.
"Tak bisakah kau sehari saja tidak menganiayaku?" Chanyeol bertanya dengan muka memelas sembari memegangi perutnya. "Makanya jangan macam-macam denganku." Kyungsoo bersidekap, lalu memeletkan lidahnya ke arah Chanyeol. Kyungsoo tertawa kecil ketika melihat ekspresi Chanyeol yang menahan sakit.
"Apa ada yang lucu, eoh?" raut wajah Chanyeol berubah menjadi serius. Kyungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya lalu tertawa canggung. "Ani, ani."
Brukk
Tubuh Kyungsoo limbung kedepan. Refleks, ia terjatuh kedalam pelukan Chanyeol yang ada di depannya. "Yak! Si hitam sialan!" Jongin, yang baru keluar dari kelas itu dengan sengaja menyenggol bahu bagian kanan Kyungsoo. Si pelaku terlihat tidak perduli dan terus melanjutkan jalannya. Sedangkan Taemin, yang ada disebelahnya justru membungkuk sembari berjalan dan berkata maaf tanpa suara ke arah Kyungsoo.
"Aish!" Kyungsoo mendengus. "Kau mengenalnya?" Kyungsoo mendongak. Ia jadi teringat kejadian pagi tadi. Jongin sialan. Pipi Kyungsoo sedikit merona karenanya. Chanyeol menaikkan sebelah alisnya. "Tidak." Kyungsoo mendorong dada Chanyeol, berusaha lepas dari dekapan Chanyeol.
"Apa hubunganmu dengannya?" lagi-lagi Chanyeol menarik lengan Kyungsoo sehingga Kyungsoo jatuh lagu dalam dekapan Chanyeol. Chanyeol menatap Kyungsoo tajam, sedangkan mata Kyungsoo melotot.
"Tidak ada. Aku tidak mengenalnya, oppa. Kita kan pernah menolongnya, dulu." Kyungsoo mendorong keras dada Chanyeol hingga ia lepas dari dekapan Chanyeol. Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Jangan dekat-dekat dengan Kim Kai."
Kyungsoo mengerutkan keningnya bingung. "Kim Kai?"
"Ayo pulang." tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo, Chanyeol menyeret lengan Kyungsoo kearah parkiran tempat mobil Jeep nya berada.
"Oppa, ajari aku memainkan gitar. Mrs. Hwang memberikan tugas untuk menunjukkan bakat musik lainnya selain vocal." sembari berjalan, Kyungsoo menyentak tangan Chanyeol yang memegang lengannya, lalu memeluk lengan kanan Chanyeol dan mengayun-ayunkan lengan Chanyeol pelan. Merayu.
"Hm? Untuk kapan?" Chanyeol menunduk untuk melihat wajah Kyungsoo yang sedang di imut-imutkan. "Minggu depan." Kyungsoo tersenyum lebar hingga mulutnya membentuk bentuk hati.
Chanyeol lalu mengangguk paham. "Tapi tidak gratis." kini Chanyeol yang tersenyum lebar hingga membuat mulutnya hampir robek. Senyum Kyungsoo langsung luntur.
"Mwoya?! Mengajari dongsaeng sendiri kenapa harus bayar? Oppa mau apa? Bubble tissue? Geurrae. Aku akan membelikan bubble tissue yang banyak nantinya." Kyungsoo mengangguk-angguk imut. "Bukan itu."
Kyungsoo mencebik. Bibirnya mengerucut lucu. Chanyeol tertawa melihatnya. "Nanti akan oppa pikirkan oppa mau apa." Kyungsoo mengerutkan dahinya. 'Apa-apaan?'
"Silahkan, tuan puteri." Kyungsoo memutar matanya malas. Ia lalu masuk kedalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Chanyeol. "Aku bisa sendiri, oppa."
"Benarkah? Ku kira kau sudah lupa bagaimana caranya membuka pintu mobil." setelah mengucapkan itu, Chanyeol langsung menutup pintu mobil milik Kyungsoo dan berlari ke arah pintu kemudi. Ia tertawa melihat ekspresi sebal Kyungsoo.
Hell. Selama ini Kyungsoo memang tinggal di desa sewaktu di Jepang, tapi tidak sampai bagaimana lupa cara membuka pintu mobil segala. Kyungsoo lalu diam selama perjalanan mengacuhkan ocehan Chanyeol yang mencoba membujuknya.
.
- TBC -
.
Anaknya chansoo : haha iya makasih ya. Tunggu aja momentnya ^^
Kaisoo ship : udah di update nih, dibaca ya ^^
Kim gongju : cie yg senyum2 sendiri wkwk yup sehun dateng buat ngeramein hoho iya makasih ya ^^
Dinadokyungsoo1 : stay tune buat hunsoo momentnya ya :D
Indriichan : hehe iya nih disini adek kakak, maaf ya.
Thanks for review guys!
Next chap mau buat Q&A nih :D yuk yg mau tanya2 sama jongin, kyungsoo, sehun, dll tanya aja ya. Tanya ke para author nya juga boleh wkwk
See u in next chap ^^
Ttd
Anggur
