Fanfiction
Title : Kehidupan Baru Boruto
Chapter : 4
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance & Drama
Pairing : Uzumaki Boruto & Uchiha Sarada
Warning : OOC Yg Berlebihan, TYPO, EYD dan bahasa yg hancur, AU.
::==::==::
:
:
:
Setelah berbicara, akhirnya Rumah itu telah mereka sewa selama seminggu dengan harga sewa 5 juta. Mereka pun dengan segera masuk ke rumah itu dan bersiap untuk beristirahat. Untungnya kamar itu juga memiliki 2 kamar sehingga mereka memakai kamar yg terpisah.
Keesokan Paginya, Boruto terbangun akibat Rasa sakit di perutnya. Beberapa kali ia pun mengeluarkan bunyi dan gas dari pantatnya alias Kentut. Dia pun segera keluar kamarnya dan menuju kamar mandi.
Setibanya di depan Pintu kamar mandi, ia mencoba membukanya namun ternyata terkunci. 'S-Sarada, apa kau dii...dalam" ucap Boruto. Di dalam, Sarada kebetulan sedang menghujani tubuhnya dengan air sehingga tidak mendengar ucapan Boruto.
Karena tak kunjung ada jawaban, Boruto mengetuk pintu. Dan syukurnya Sarada mendengar "Ada apa Boruto. Kau tidak tahu aku sedang mandi. Sabarlah, Kita gantian" ucap Sarada yg saat itu sedang memakai Handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
"S-Sarada, p-perutku sakit...aku mau buang air. Kau bbbisa cepat" ucap Boruto sambil memegangi perut dan pantatnya. "Sabar. Aku sekalian pakai Baju" ucap Sarada. "t-tolong Sarada, cepat. Jangan make up di sana juga" ucap Boruto.
Tak lama kemudian, Sarada membuka pintu dan berjalan keluar. Boruto langsung masuk bahkan sebelum sarada menginjakan kakinya di luar kamar mandi. Sarada benar-benar di buat kaget apalagi Boruto bahkan tidak melihatnya dan langsung menutup pintu dengan keras.
Dari luar kamar mandi, Sarada yg ingin beranjak dari sana di kejutkan dengan Suara seperti Melempar batu ke dalam air dengan kuat dari dalam kamar mandi. Aromanya bahkan sampai Tercium oleh Hidung Sarada. "ufff, Bau sekali Boruto. Tadi malam kau makan apa saja?" ucap Sarada sambil menutup Hidungnya lalu pergi menjauh.
::==::==::
"ahhh, enak sekali sudah terbebas" ucap Boruto lega saat keluar dari kamar mandi dan menepuk perutnya. "sebaiknya aku mandi sekalian. Kenapa tadi aku tidak bawa handuk dan pakaian" Tambah Boruto dalam hati.
Ia pun pergi menuju kamarnya dan mengambil handuk dan pakaian lalu kembali ke kamar mandi untuk mandi. Baru akan melepas pakaiannya di kamar mandi, Sarada bertanya dari luar kamar mandi.
"hey, Boruto. Kau masih lama. Aku akan keluar cari Sarapan untuk kita berdua" ucap Sarada. "ya, aku baru mau mandi jadi masih lama" ucap Boruto dan tak lama kemudian Sarada pergi.
Beberapa menit setelah selesai mandi, Boruto duduk di ruang tamu Dengan Laptop berada di meja. Ia mengetik sesuatu. Tiba-tiba, Sasuke menghubunginya dengan Video Call.
"hai, Paman Sasuke. Ada apa pagi-pagi begini sudah menghubungi kami" ucap Boruto.
"Ada sesuatu yg perlu paman Bicarakan. Di mana Sarada?" tanya Sasuke.
"saat aku sedang mandi tadi, dia bilang mau pergi keluar cari Sarapan" ucap Boruto.
"ya sudahlah. Paman ada sebuah Berita untukmu." Ucap Sasuke. "Ini mengenai Ayahmu." Tambah Sasuke yg membuat Boruto terkejut dan penasaran.
"ada apa Paman, Ayahku kenapa?" tanya Boruto sedikit panik. Di layar, Terlihat Sasuke sedang bingung.
"paman Cuma mau bilang kalau semalam ayahmu mengalami kecelakaan di tempat kerja." Ucap Sasuke sedikit ragu. Boruto pun kaget sekaligus terkejut. "apaa! Apa ayahku tidak apa-apa?" tanya Boruto.
"paman kurang tahu. Semalam kata seorang bawahannya, Saat itu ia membantu memperbaiki Menara Sinyal yg Rusak akibat petir. Sayangnya karena itu adalah menara pusat sehingga perbaikan harus berjalan dengan cepat" ucap Sasuke.
"jadi kenapa paman. Apa yg terjadi selanjutnya?" tanya Boruto. "ya, karena sebelumnya terjadi hujan di daerah itu, Menara itu menjadi licin. Dan berhubung para karyawan di bidang ayahmu bekerja sedang di tugaskan di tempat lain, ayahmu pun mengisi kekosongan tim dan ikut memperbaiki" ucap Sasuke.
"dan selanjutnya setelah menara selesai di perbaiki, Ia pun turun bersama anggota tim yg lain. Namun tiba-tiba, ada sebuah petir yg bercahaya terang dan berbunyi sangat keras. Walau itu tidak di dekat mereka namun berhasil membuat menara bergetar dan membuat Naruto dan beberapa anggota tim kaget" Tambah Sasuke.
Boruto pun terlihat semakin Serius. Sementara Sasuke sedikit merasa Ragu untuk menceritakan kelanjutannya.
"ayahmu yg kaget pun terjatuh dan kakinya menghantam sebuah Besi di menara itu. Syukurnya saat itu ia memakai perlengkapan keselamata, ia selamat walau harus di di larikan Ke UGD" ucap Sasuke.
Boruto tak mampu menahan air matanya. Selama Naruto bekerja sebagai tukang, Naruto sama sekali tidak pernah mengalami kecelakaan kerja seperti itu. "bagaimana kabar ayahku Paman. Apa dia baik-baik saja?" tanya Boruto.
"Paman belum tahu. Tapi paman baru akan pergi menjenguk ayahmu. Akan paman kabari setelah tiba di sana. Kalian berdua jangan kemana-mana." Ucap Sasuke.
::==::==::
Setelah Sasuke Menutup Panggilan, Boruto hanya bisa terduduk diam di Sofa ruang tamu sambil merenungi Nasib sang ayah. "apakah Ayah Cedera parah? Apakah Ayah Akan lumpuh? Apakah ayah dapat berjalan normal lagi? Apakah ayah akan sembuh dengan cepat?" Boruto membatin sambil mengusap mukanya dengan Tangannya menghapus air mata.
Tak lama kemudian, Sarada kembali. "aku pulang" ucap Sarada saat memasuki Rumah. Sarada melihati Boruto yg sedang sedih "kau kenapa Boruto? Kau terlihat sedih." Ucap Sarada sambil mendekati Boruto.
"ahh, aku tidak sedih" ucap Boruto perlahan mengapus bekas air matanya. "kau jangan berbohong. Kau habis menangis?" tanya Sarada memastikan. "mana mungkin, laki-laki tidak nangis. Mataku hanya perih" ucap Boruto.
"Kau berbohong lagi. Tidak ada satupun manusia yg tidak menangis. Bicaralah yg jujur. Ada apa?" Sarada lalu duduk di samping Boruto memegang tangan kanan Boruto lalu mengelusnya. "aku bisa merasakan kalau kau sedih. Tanganmu terasa dingin. Katakan yg sejujurnya, kau ada masalahkan?" ucap Boruto.
Boruto melihati Sarada yg sedang memegangi tangannya lalu berkata "aku hampir saja kehilangan ayahku. Tadi ayahmu menghubungiku. Dia bilang ayahku mengalami kecelakaan kerja semalam" ucap Boruto menundukan kepalanya.
"semalam ayahku sedang bekerja membantu bawahannya memperbaiki menara sinyal utama di kota karena pekerja yg lain sedang mengurus menara yg lain. Katanya menara-menara itu sedikit bermasalah setelah di guyur hujan deras dan petir-petir yg mengelegar di Konoha Semalam" ucap Boruto kali ini perlahan mengangkat kepalanya.
"jadi bagaimana ayahmu bisa mengalami kecelakaan?" tanya Sarada. "saat itu, dia sedang memperbaiki komponen menara di atas. Namun tiba-tiba petir kembali mengelegar dan membuat ayahku dan pekerja yg panik kaget dan ayahku terjatuh. Syukurnya dia memakai perlengkapan ke amanan sehingga tidak jatuh ke tanah. Tapi, salah satu kaki Ayahku menghantam besi menara" ucap Boruto.
"kau yg kuat ya Boruto. Tapi bagaimana kondisi ayahmu sekarang?" ucap Sarada. "ayahmu belum memberi tahu. Ia baru akan menjenguk ayahku. Nanti dia akan menghubungi kita setelah tiba." Ucap Boruto.
"oh ya Boruto. Tadi aku membeli Nasi Goreng. Ayo kita Sarapan dulu" ajak Sarada. "tidak, aku tidak lapar. Aku makan nanti saja" ucap Boruto. "Boruto, kalau kau tidak makan nanti kau Sakit. Kita kan tidak semalam tidak makan" ucap Sarada.
"kau makan saja deluan aku belum lapar." Ucap Boruto. "Boruto, kau makan dulu. Nanti kalau kau sakit bagaimana. Ayahmu sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Dan pastinya ibumu sangat kuatir pada Ayahmu. Dan nanti jika kau sakit Bagaimana? Apa kau kita ibumu tidak hawatir. Kau jangan membuatnya semakin Hawatir." Ucap Saarada sambil mengoyamg-goyangkan badan Boruto untuk menyadarkannya.
Boruto yg tidak sadar tapi masih sedikit punya kesadaran pun merasa Sedikit malu. Mereka berdua tidak pernah sedekat ini. Apalagi sampai Sarada menyentuhnya seperti itu. Itu membuat ia sedikit Merona. Di sisi lain, Sarada sepenuhnya tidak sadar jika ia memegang pundak Boruto.
Walau kedekatan seperti itu bukan pertama kali lagi. Pasalnya dulu sewaktu Kuliah mereka pernah lebih dekat dan bahkan hampir menyatu. Ya itu ulah seseorang yg tak bertanggung jawab yg mencampur Minuman keras tak berbau ke dalam Minuman Sarada dan Boruto. (Catatan : mungkin paragraft ini hanya di mengerti oleh orang-orang yg pikirannya ngeres"
"oke, baik. Aku akan makan. mana punyaku" ucap Boruto. Sarada pun melepas pegangannya di pundak Boruto dan mengambil sebungkus Nasi goreng untuk Boruto. Setelah itu, mereka Makan bersama sampai Titik Nasi Penghabisan.
::==::==::
Beberapa Menit setelah mereka menghabiskan Sarapan Mereka, Boruto dan Sarada duduk sambil meminum Teh Gelas (yg kemasan Botol maksudnya. Bukan Gelas). Tak lama kemudian, Laptop Boruto Berbunyi yg menandakan sebuah panggilan Masuk. Dengan cepat Boruto menyalakan kembali laptopnya yg dalam mode Sleep itu.
"Paman, bagaimana keadaan ayahku?" tanya Boruto langsung setelah Menerima Panggilan.
"ayahmu, dia baik-baik saja. Ya walau kondisinya sepertinya tidak baik. Kau mau berbicara padanya" ucap Sasuke lalu membalikan Kamera laptopnya kearah Naruto tanpa menunggu jawaban Boruto.
Terlihat di sana Boruto sedang tertidur di Kasur dengan kaki yg di perban dan di gantung. Boruto langsung sedikit tersenyum. "syukurlah Cuma kaki ayah. Ayah tidak kenapa-napa kan?" tanya Boruto.
"ya, ayah tidak kenapa-kenapa, Cuma keseleo sedikit" ucap Naruto yg membuat Sarada maupun Sasuke di sebrang sedikit terkejut dengan Jawaban Orang tua itu. "dasar Bodoh, Dalam kondisi seperti ini masih saja bisa Bercanda" Batin Sasuke.
"Naruto, tulang kakimu itu Retak. Jangan berbohong pada Putra kita" ucap Hinata di samping Boruto. "aku hanya tidak mau membuat Putra kita Hawatir dengan Kondisiku. Nanti ia malah tidak fokus dengan pekerjaannya di sana." Ucap Naruto.
"hey Boruto, Aku tadi sudah berdiskusi dengan Ayahmu. Bahwa kau ku izinkan pulang untuk menjenguk ayahmu di sini. Tapi Pria ini sangat keras kepala. Ia tidak mau kau pulang dan harus tetap melanjutkan pekerjaanmu di sana" Ucap Sasuke tapi tidak di depan kamera. Ia sedang duduk di bangku di sudut ruangan sambil memangku kaki dan melipat tangan.
"ibu, ayah, Di mana himawari?" tanya Boruto. "ya, Dan juga dimana Ibuku. Sepertinya mereka berdua tidak ada" tanya Sarada.
"Mereka, Himawari sedang mengambil hasil pengumuman kelulusan dan Ibumu sedang menemani Himawari" ucap Hinata. "ibumu sepertinya sangat menghawatirkan Kondisi Ayahmu sampai tidak tega meninggalkannya sendiri" ucap Sasuke masih di tempat yg sama. Dan setiap sasuke berbicara pasti Naruto maupun Hinata akan melihat ke arahnya dan Boruto Maupun Sarada pasti mencari keberadaannya.
"jadi selain Tulang kaki ayah retak, apa kondisi ayah baik-baik saja?" tanya Boruto. "ya, sepertinya Selain Harus memakai Kursi Roda dan Tongkat payah itu selama 7-8 bulan, Ayah baik-baik saja. Dokter bilang ayah tidak mengalami kelumpuhan" ucap Naruto.
"syukurlah," ucap Boruto. "tapi kau terpaksa menjadi tulang punggung keluarga sampai kira-kira ayah sudah bisa berjalan memakai Tongkat" ucap Naruto. "Naruto harus saya liburkan beberapa Bulan. Namun, saat dia sudah bisa berjalan dengan tongkat, aku mengharapkan kehadirannya kembali di perusahaanku. Dia sosok orang yg bertanggu jawab" ucap Sasuke masih di posisi yg sama.
Naruto hampir di buat menagis oleh perkataan mengharukan dari Sasuke. Jika saja ia tidak ingat Umur dan masih memiliki sifat masa lalunya yg seperti itu.
"hey Boruto, maaf sepertinya ayah sudah mengantuk akibat minum obat Tadi. Kita bicara lain waktu saja memakai laptop ayah" ucap Naruto. "ya, selamat tidur ayah" ucap Boruto lalu mematikan Laptopnya.
::==::==::
Siang hari, Boruto maupun Sarada telah bersiap untuk pergi melakukan Wawancara sekaligus Menyurvei sekitar Kota Ame Timur. Bensin Cadangan sudah di masukan ke dalam Mobil. Sebuah kertas dan kamera sudah di siapkan untuk mendokumentasikan. Dan tidak lupa mereka berdua juga ikut masuk kedalam mobil.
Perjalananmu di lakukan. Masih dalam wilayah Ame Barat, Jalan raya masih nampak ramai. Sistem GPS pun dinyalakan agar mereka tak tersesat. "kuharap Sinyal menara itu cukup jauh" ucap Sarada. "setiap menara TechConnec diatur agar dapat mencapai Radius 4 Km. Dan aku yakin sinyalnya di kota ini akan lebih bagus di banding di konoha" ucap Boruto.
Beberapa menit kemudian mereka telah berada di wilayah Ame timur yg lebih luas di bading Ame barat. Sejauh mata memandang, Mereka tak melihat bangunan-bangunan Modern layaknya Di Kota Ame Barat. Rumah-rumah di sana sangat sederhana. Bahkan tak jarang mereka melihat Rumah yg hanya memakai Papan dan atap dari daun pohon kelapa.
Perumahannya memang tidak padat. Itu membuat Bangunan berdiri secara teratur. Namun bangunan di sana sangatlah sederhana dan bahkan menyerupai kampung. Beberapa Orang terlihat sedang berjalan di pinggir jalan. Ada yg sedang bermain, Duduk-duduk di depan rumah, memegang Ponsel bagi yg mengenal teknologi.
Mobil di jalan saat itu hanyalah mobil mereka. Melihat ada seseorang sedang menelepon dengan Ponsel, Mereka menghentikan Mobilnya lalu bertanya pada orang itu.
Dan hal yg sama ini terus terjadi dan mereka ulangi sampai hari ke enam.
::==::==::
Di hari ke enam, Mereka sudah mendapat cukup banyak data yg mungkin Bisa menjadi titik terang Bagi kota ini. Menurut data, Dapat di simpulkan Bahwa banya orang tidak mengetahui teknologi (buta Teknologi).
Selain itu, Mereka menjadi seperti ini karena Sikap Orang tua mereka yg masih ingin menjaga Budaya leluhur mereka. Selain karena itu, Masyaratak yg ingin mengetahu Teknologi itu pun hanya bisa pasrah karena kurang mendapat pemerintah yg juga bersikap ingin menjaga Budaya.
Bukan hanya karena faktor itu. Sulitnya akses internet juga menjadi kendala. Kantor cabang techconnec yg tidak ada di kota ini menjadi faktor utama. Mereka tidak bisa mendaftar untukmengakses internet.
::==::==::
Boruto sedang membaca Data hasil Survey dan Wawancara mereka. Sarada sedang membuat laporan untuk di berikan kepada ayahnya. Setelah selesai, Mereka menyandarkan Badan mereka di Sofa. Sarada menyeruput kopi yg ia bikin sejak tadi.
Boruto mengarahkan pandangan ke arah Sarada dan begitu pula dengan Sarada yg memalingkan pandangannya ke Boruto. "kita sudah selesai. Besok kita bisa pulang kan?" Tanya Boruto.
"ya, jika tidak ada kendala kita bisa pulang" ucap Sarada. "aku akan merindukan kota ini. Jika di pikir-pikir kota ini tidaklah terlalu Buruk." Ucap Boruto.
"jika kau mau kembali ke kota ini, Nanti saat teknologi sudah menyebar di kota ini." Ucap Sarada. "ya, kau benar. Yg bikin aku tidak nyaman di kota ini adalah teknologi yg kurang memadai. Bahkan Korban tabrakan saja harus di bawa ke konoha untuk mendapat perawatan" ucap Boruto.
Kebetulan Saat itu sudah malam dan mulai gelap, Boruto maupun Sarada telah membereskan Barang-barang mereka untuk bersiap pulang. Setelah menyiapkan Barang-barang untuk di bawa pulang besok, Sarada memesan Pizza.
Pizza, makanan itu baru hadir di kota itu 3 hari yg lalu. Saat pembukaan Perdana Kedai Pizza di kota itu, banyak Masyarakat yg sangat senang. Kini, Mereka dapat merasakan kenikmatan Hidup di kota yg layaknya Kota.
Beberapa Menit menunggu, akhirnya Pizza yg mereka pesan sudah datang. Langsung saja Boruto dan Sarada Memakan pizza itu sampai habis tak tersisa. Beberapa saat setelah menghabiskan sekotak Pizza.
"Boruto, Sebaiknya kita jalan pagi sekitar jam 3 agar sampai di kota tidak terlalu siang." Ucap Sarada. "jangan Bodoh, Perjalanan pulang sepagi itu bisa menjadi sangat Rawan. Bukan hanya faktor manusia, Tapi faktor alam bisa membuat kita celaka" ucap Boruto.
"Tapi aku mau sampai Di Konoha Sebelum Siang. Lagi pula kau kan mau menjenguk ayahmu langsung setelah pulang. Jika kita tiba siang, pastinya ayahmu sedang istirahat dan tidak mungkin di ganggu" ucap Sarada.
"kau benar, kalau begitu kita berangkat jam 3 pagi sesuai keinginanmu" ucap Boruto. "tapi apa kau punya rencana lain makanya pulang jam 3" tambah Boruto. "besok kan hari minggu. Aku mau menikmati hari libur setelah kita menjenguk ayahmu" ucap Sarada.
Mereka pun menuju kamar masing-masing dan Tidur.
::==::==::
Keesokan Paginya sekitar pukul 5. Boruto sedang melajukan Mobil di kecepatan Maksimum. Mereka telah meninggalkan Ame 2 jam yg lalu. Sarada terlihat masih sedikit mengantuk. Ia bahkan menguap beberapa kali sepanjang perjalanan.
"Boruto, pelan-pelan saja. Ini masih pagi. Dan mungkin kau masih sedikit mengantuk" ucap Sarada. "santai saja, aku sudah minum 2 gelas Kopi sebelum berangkat" ucap Boruto.
Sarada berpikir sejenak. "Kopi yg mana. Bukannya Kopi kita sudah habis 2 hari yg lalu" ucap Sarada bingung. "itu, kopi yg di atas kulkas. Itu punyamu kan." Ucap Boruto. "kopiku sudah habis,kemarin yg aku minum itu yg terakhir." Ucap Boruto. "berarti yg kuminum itu kopinya siapa?" tanya Boruto bingung sedikit panik. "pantas rasanya ngak enak." Tambah Boruto. "jangan-jangan kau minum Kopi yg sudah kadaluarsa" ucap Sarada ikut panik.
"jangan-jangan kau benar. Rasa ngak enak itu mungkin karena Sudah kadaluarsa. Tapi sepertinya perutku tidak sakit. Kayaknya firasatmu salah" ucap Boruto kembali santai.
Beberapa menit kemudian...
Boruto yg saat itu sedang melajukan Mobil mendadak menghentikan Mobil dengan cepat. Ia dengan cepat keluar mobil lalu melihat kiri, kanan, atas, belakang, dan depan secara bergantian. Kemudian ia dengan cepat berlari ke arah semak-semak yg tak jauh dari jalan raya.
"h-hey Boruto, kau mau kemana. Kau kenapa?" ucap Sarada sedikit panik. Boruto pun menghilang di Semak-semak itu. Tak lama kemudian, hanya hitungan detik. Boruto kembali dengan tergesa-gesa.
"S-sarada, mana tisu, perutku sakit. Sepertinya efek kopi kadaluarsa itu: ucap Boruto lirih. Sarada pun mengambil tasnya di jok belakang dan mengambil Tisu. "kau ada air?" tanya Boruto. Sarada pun yg hendak memberi beberapa helai tisu pun kembali mengambil tasnya untuk mengambil air. Lalu memberikannya pada Boruto.
'apapun yg terjadi saat aku pergi, jangan pernah membuka pintu. Kunci terus. Oh dan jangan mengintipku" ucap Boruto dan saat menyebut kalimat terakhir ia tersenyum. "siapa juga yg mau mengintipmu. Apalagi mengintipmu buang air. Malas Bau" ucap sarada memalingkan wajahnya ke arah lain.
Beberapa Menit kemudian...
Boruto keluar dari semak-semak. Keringat bercucuran dari tubuhnya. "sebelum kau memegang setir mobil, cuci tanganmu dengan ini" ucap Sarada sambil memegang gel Pembersih tangan.
Boruto pun menerimanya dan membersihkan tangannya. "Sarada, Minta beberapa lembar tisu lagi" ucap Boruto. Setelah menerima tisu, ia mengelap mukany adengan tisu itu. Setelah itu ia masuk ke mobil dan mulai mengemudi kembali.
"makanya, kalau mau lakukan sesuatu perhatikan. Lihat tanggal kadaluarsanya. Kopi orang lain yg mungkin sudah bertahun-tahun yg lalu masih di minum. Untung kau hanya sakit perut. Jika keracunan bagaimana" ucap Sarada.
"kalau aku keracunan, kau harus menguburku di tempat ini. Hahaha" ucap Boruto sambil tertawa garing. Sarada langsung menampar Pipi Boruto "kau pikir lucu. Melihatmu mati lalu aku kubur di tempat ini." Ucap Sarada sedikit kesal. "kau tahu tidak. Saat tadi kau bilang perutmu sakit, aku sangat hawatir. Karena bisa saja itu efek awalnya." Tambahnya.
"maaf, aku hanya bercanda." Ucap Boruto. Sarada pun meminta Boruto untuk berhenti. Ia turun lalu memindahkan barang-barang ke jok depan. "kau berbaringlah di belakang. Aku yg akan mengemudi sampai rumah sakit." Ucap Sarada.
"aku tidak apa-apa Sarada, aku masih bisa mengemudi. Jika kau masih mengantuk kau tidur saja di situ" ucap Boruto. "aku tahu kau sedang menahan sakit di perutmu. Sekarang cepat tidur di sini dan olesi perutmu dengan minyak kayu putih ini" ucap Sarada.
Boruto pun menurut. Ia keluar dari mobil dan langsung berbaring di jok belakang. Diambilnya kayu putih dari tangan sarada dan mengolesnya ke perutnya. Sarada pun duduk di jok pengemudi dan langsung menjalankan mobilnya.
Sebelum jalan, Sarada memberikan Boruto sebotol air. Boruto langsung meminumnya sampai Habis.
Rasa hawatir Sarada terbukti besar. Ia mengemudi dengan sangat cepat. Di tambah, di sela-sela perjalanan Boruto terlihat kesakitan. Boruto batuk-batuk lalu meringis kesakitan. Sarada pun menambah kecepatan mobilnya. Air mata terlihat turun dari mata Sarada tanpa sepengetahuan Boruto.
Namun, Saat boruto melihat kaca di atas kepala Sarada (ngak tau nama kacanya), ia melihat Sarada sedang mengeluarkan air mata. "kau tidak perlu menangis Sarada, aku tidak apa-apa. Lihat. Aku sehat walau sedikit sakit memang" ucap Boruto. Sarada hanya terdiam. Beberapa kali Boruto melihatnya sedang menghapus air matanya dengan tangan.
"terima kasih sudah menghawatirkanku Sarada. Kau memang sangat pengertian. Kau tahu jika perutku sakit" ucap Boruto. "tidak masalah" ucap singkat Sarada. Setelah itu, Sarada semakin Mengebut yg ternyata membuat Boruto sedikit ketakutan. Apalagi jika sampai Rem Mobilnya Blong lagi.
::==::==::
Setelah melewati 2 jam lebih perjalanan, Mereka sekarang tiba di rumah sakit. Keadaan Boruto juga sudah mulai terlihat membaik. Namun untuk memastikan, Sarada membawa Boruto ke dokter untuk memeriksanya sebelum menjenguk ayah Boruto.
Beberapa menit kemudian, Boruto keluar dengan beberapa Obat. Ia menyimpannya di kantung celananya. "jangan bicarakan hal ini pada siapun. Apa lagi ibu dan ayahku. Aku tidak mau membuat mereka Hawatir" ucap Boruto. "tentu. Aku tidak akan ceritakan pada siapapun termasuk ayah dan Ibuku" ucap Sarada.
Sarada pun bertanya di Ruang Informasi. "Ruangan Pasien yg bernama uzumaki Naruto ada di mana ya?" tanya Sarada pada seorang suster. "Uzumaki Naruto. Sabar ya aku lihat dulu." Ucap Suster itu. Beberapa detik kemudian. "ada di kamar 52 lantai 4 ruang VIP" ucap suster itu.
"makasih" ucap Boruto. "ya, sama-sama." Ucap Suster itu.
Perjalanan pun di lanjutkan menuju Lantai dengan memakai Lift. Setibanya di lantai 4, mereka langsung melihat lihat kamar yg bertuliskan 52. Akhirnya setelah sekitar 5 menit mencari, mereka menemukannya.
Di bukalah Pintu kamar itu. Orang yg berada dalam kamar itu sungguh terkejut. "Si-siapa kalian, Berani masuk kamar ini tanpa mengetuk Pintu".
:
:
:
To Be Continued
=========[][][][]==========
Terima kasih telah membaca Kehidupan Baru Boruto Chapter 4 ini.
Terima kasih bagi yg telah membaca dan mereview fanfic ini.
Bagi yg punya sesuatu untuk di katakan pada saya, Silakan saja di kirimkan lewat Reviews atau PM saya saja.
Malas lagi untuk bergurau dan banyak bicara. Ngak ada yg tanggapi. Rasanya itu saya nulis beginian hanya untuk di baca sendiri.
Sekian dan Terima kasih. Update Chapter 5 dalam waktu 1x24 jam sampai 3x24 jam. Tergantung Jaringan dan ketersediaan Kuota. Serta jumlah para Reader yg membaca chapter 4 ini.
