Ujian kelulusan semakin dekat. Maka dari itu sekitar seminggu lagi Jungwon akan mengadakan jam pelajaran tambahan hingga hari-H bagi kelas tiga itu tiba. Luhan sangat antusias mengenai ini. Itu berarti masa studi bandingnya akan segera berakhir dan kembali ke negara asalnya secepat mungkin.

Hari-hari sangat cepat berlalu belakangan ini.

Dan juga aneh.

Masih ingat dengan Park Chanyeol anak paling terkenal Jungwon? Well, akhir-akhir ini dia semakin terkenal saja. Ia kira saat itu dia hanya bercanda soal berubah demi syarat lulus, tapi...apa Luhan bisa percaya begitu saja? Park Chanyeol yang sudah dua tahun lebih ini menjadi langganan catatan negatif dibuku kesiswaan bagian konseling, orang-orang bahkan percaya bahwa lelaki pengidap gangguan jiwa ini tidak akan pernah tobat dari perilaku yang selama ini dia bangun selama di Jungwon. Benar-benar tidak ada yang akan percaya.

Tapi apakah masih bisa mengatakan 'tidak ada yang percaya' kalau orang gila itu saja sudah melakukannya selama seminggu ini? Benar-benar melakukannya selama seminggu ini! Astaga, benarkah dia Park Chanyeol si orang gila itu? Sahabatnya?

"Aissh, ada apa denganmu...Luhan? Seminggu ini kau terus saja mencubit pipiku."

"Yah, kau yang ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti kerasukan Baekhyun?"

"Aku sudah pernah mengatakannya kalau wali kelas ingin aku—" namun Luhan sudah kembali mencubiti pipinya "Yah! berhenti mencubitiku! Luhan!"

Perubahan yang tidak disangka-sangka ini tentu banyak menarik perhatian dan banyak yang membicarakannya. Bukan apa-apa, bukan hanya Luhan saja yang mengira sikap badungnya itu tidak akan pernah sembuh darinya.

Semenjak perilaku Chanyeol menjadi terkontrol dan mengikuti arus seperti yang diterapkan di Jungwon sejak-sejak lama, semenjak itu pula sekolah menjadi tenang. Tidak ada lagi keributan dipagi hari sebelum pelajaran dimulai, tidak ada lagi kekacauan yang terjadi saat jam pelajaran Yesung-nim, tidak ada lagi yang berteriak-teriak seperti orang tolol di koridor, tidak ada catatan perilaku negatif tambahan dibuku kesiswaan, tidak ada yang mengganggu Luhan dengan tawa bodoh ketika ia belajar. Tidak ada lagi.

Malah yang menciptakan keributan dimana-mana adalah para murid lain sendiri. Terlalu takjub dengan perubahan drastis ini menjadi bahan gosip tersendiri bagi anak-anak. Chanyeol cuci otak, Chanyeol diancam, Chanyeol krisis uang, Chanyeol jatuh cinta, Chanyeol dipertimbangkan oleh orang yang selama ini disukai, Chanyeol dipaksa orang tua, Chanyeol ini, Chanyeol itu... banyak sekali gosip yang beredar.

"Tapi kenapa? Apa seseorang akhirnya menyadarkanmu?"

"Jangan ganggu dulu, Luhan. Aku sedang belajar."

"Ah, kenapaaa? Jawab dulu, Chanyeol!"

"Hanya tidak ingin menyusahkan. Wali kelas bilang aku harus mulai berubah demi syarat lulus, dan menyerahkan kepercayaan pada Baekhyun untuk merubahku ini. Ya begitulah. Walaupun dia mengatakan iya, tapi aku sendiri ragu."

"Apa ini ada hubungannya dengan Baekhyun? Entah mengapa aku berpikir begitu." Luhan menyandarkan dagunya pada punggung tangan sembari memperhatikan Chanyeol. "Bukankah begitu?"

Jongin yang sedang melamunkan hal lain hanya menjawab seadanya. "Ya, mungkin begitu."

Padahal Chanyeol telah mengatakan alasan mengapa dia berubah seperti itu, namun bagi Luhan itu tetap saja masih rahasia. Bagian dari rahasia Chanyeol yang lain.

.

.

.


Chapter 4

"Studi tour dan pengakuan."


.

.

.

Untuk pembelajaran biologi dibab 9, Jungwon mengadakan studi tour di Geongnam-gu The Bil Flist. Di studi tour ini anak-anak kelas tiga Jungwon akan meneliti bunga dan segala keanekaragamannya, kemudian mencatat apa saja hal-hal menarik dan unik yang dimiliki bunga.

Kim Heechul mengabsen murid-murid yang hadir dalam penelitian ini, membiarkan satu-persatu menaiki bus dan duduk dimanapun. Nama Baekhyun disebut, dan pemilik nama langsung segera terlihat dari kerumunan dan menaiki bus dengan tenang seperti biasa. Tidak seperti anak-anak yang telah lebih dulu disebutkan namanya, mereka berteriak heboh dan tertawa-tawa ketika sampai dipintu bus, lalu mengambil tempat duduk paling belakang.

Luhan mengawasi Baekhyun berjalan dibadan bus, penasaran dikursi mana dia duduk. Kalau namanya disebut dalam waktu dekat-dekat ini, ia bisa mengambil kesempatan untuk duduk bersama Baekhyun, yang jelas akan memilih duduk didekat jendela. Pada akhirnya Baekhyun memilih duduk dikursi ketiga belakang sopir. Luhan terus berdoa agar tempat itu kosong hingga namanya tersebutkan.

Pada kenyataannya namanya masih belum tersebutkan padahal kursi bus hanya tersisa lima. Sehun dan pacar barunya duduk berdampingan ditengah bus sisi kanan, yang mana berarti tinggal tiga kursi yang tersisa. Nama Park Chanyeol seperti menghenti totalkan kerja saraf Luhan, karena seperti yang dilakukan Chanyeol dihari-hari lalu hanya menghancurkan segala mimpinya. Ia menyempatkan menendang tulang kering Chanyeol sebelum duduk dikursi sebelah Jongin.

Cih, bahkan setelah perubahan menakjubkan dari Chanyeol belum merubah anak itu untuk berhenti mengganggu apa yang Luhan impikan.

Diawal-awal perjalanan yang penuh dengan antusiasme semua anak, lantunan lagu menggema dari tiap-tiap anak. Dan jujur dapat meningkatkan mood menjadi lebih baik lagi. Walaupun tidak ikut bernyanyi, Luhan mengakui ia menikmati lagu dan perjalanannya.

Diam-diam atensinya membawanya pada Baekhyun. Ia tidak memerhatikan Baekhyun selekat ini karena tadi ia sibuk berdoa agar bisa duduk berdua bersamanya, tapi mungkin mereka berdua belum saatnya untuk saling mendekatkan diri.

Baekhyun memakai pakaian dengan warna lembut, dan sweater senada dengan gambar rajutan yang lucu. Seperti anak-anak, tapi kenyataannya dia benar-benar pantas memakai yang seperti itu. Jadi, begini Baekhyun ketika diluar sekolah? Haha, sangat menggemaskan.

Tidak sengaja ia melirik Chanyeol yang duduk disebelah Baekhyun. Memerhatikan apa yang diperhatikannya dari Baekhyun dan Chanyeol bernar-benar terlihat keren dalam sekali lihat. Memang gaya berpakaian Chanyeol terlihat tidak ada bedanya dengan yang lain tapi dengan postur badan yang jangkung miliknya membuat dia terlihat berbeda. Ditambah topi yang melingkar dikepalanya, berwarna hitam dengan sedikit warna merah memperlihatkan gambar api yang mengobar disekeliling topi, sungguh pilihan yang sangat keren.

Kemudian ia melihat penampilannya sendiri, oh, wow...dibanding terlihat lucu dan keren, ia sendiri terlihat manly atas dasar penilaiannya sendiri. Luhan merasa dirinya terlihat manly hanya saja orang-orang tidak akan mengakui itu jika mereka melihat wajahnya.

Tapi serius, apa barusan ia sedang memandangi sahabatnya sendiri? Huh? Yang benar saja!

Lima jam lebih perjalanan membawa mereka memasuki wilayah taman The Bil Flist. Terlihat banyak sekali bus dari sekolah lain yang terparkir membuat seisi bus Jungwon bersorak heboh meminta segera turun.

Kim Heechul kembali mengomandoi anak-anak turun dengan teratur bahkan berteriak saat beberapa anak menerobos keluar. Luhan mengantri dibelakang Baekhyun dan Jongin yang baik itu menahan bahunya agar tetap stabil berdiri. Banyak yang mendorong-dorong membuat Luhan terkadang terhempas ke kanan kiri, atau lebih buruk lagi bisa-bisa ia terjatuh dan terinjak. Ia juga bisa melihat hal yang sama pada Baekhyun. Dia mungkin akan tersenggol sedikit berkat adanya tangan panjang Chanyeol yang menahannya. Luhan sedikit berharap akan mendapati wajah Baekhyun yang mengkerut kesal atas kelancangan Chanyeol, tapi...siapa yang akan marah dalam situasi terdesak seperti ini?

Mereka akhirnya bebas. Maksud Luhan ialah dirinya, Baekhyun, Jongin, dan uh...Chanyeol. Ia mengucap terima kasih pada Jongin karena dia sungguh menjaga dirinya dengan baik. Bahkan Jongin harus menahan bahunya dari belakang dengan kedua lengan Jongin, ia sungguh berterima kasih atas itu. Tahu-tahu lengan berjaket hitam membebani kedua bahunya, ia sudah takjub mengira Jongin akhirnya melakukan kontak fisik dengannya saat mendengar suara berat yang jauh dari jenis suara Jongin.

"A-ha-ha...disini kau rupanya. Aku mencari-carimu didalam bus tadi, kukira kau tidak datang. Dimana kau duduk?"

Luhan tidak mempedulikan Chanyeol dan berjalan meninggalkannya menyusul anak-anak lain yang mulai masuk ke dalam taman. Chanyeol memanggil namanya berkali-kali menyuruhnya berjalan biasa namun pada akhirnya dia dapat dengan mudah menyusul langkahnya.

"Hei, apa kau tidak punya sopan santun saat sahabatmu berbicara?" Luhan mencari-cari Baekhyun.

"Aku khawatir makanya aku bertanya, tadi banyak yang rewel minta cepat diturunkan dari bus, apa kau baik-baik saja? Kau tidak jatuh kan?" Luhan menoleh ke kanan, lalu ke kiri, Baekhyun belum ia temukan.

"Apa jangan-jangan kau terantuk sesuatu? Seharusnya kau mencariku sebelum naik bus." Luhan menemukannya.

"Luhan, kau sungguh tidak sopan. Aku berbicara padamu." Luhan mempercepat langkahnya hingga Chanyeol mulai tertinggal.

"Yah! Luhan berhenti disana! Sebelum aku marah!" Chanyeol berteriak marah karena teracuhkan.

Luhan yang mendadak menjadi pusat perhatian pengunjung akhirnya berbalik menemui Chanyeol lagi. Ia memukul kepala Chanyeol dengan keras berulang-ulang. "Yah! Mati! Mati saja kau, huh! Kenapa kau berteriak?! Kau mau mempermalukanku?!"

Chanyeol sebisanya menangkis serangan Luhan, juga berbicara selagi ada kesempatan. "Kenapa kau yang marah? Aku yang dari tadi diabaikan!"

Pukulan Luhan semakin bertambah dan keras. "Apa?! Soal kau yang tidak melihatku dan mencari-cariku? Huh?" intensi pukulannya lebih keras lagi, membuat Chanyeol berteriak berkali-kali. Orang-orang cekikikan melihat mereka. "Dimana kau duduk katamu? Pertanyaan macam apa itu? Dasar bodoh! Rasakan ini!"

"Yah! Luhan, Yah!"

"Jelas-jelas kau melihatku! Aku bahkan menendangmu dan kau masih mengira aku tidak datang? Dasar bodoh! Bodoh! Bodoh!"

"Yah! Yah! Hentikan! Kau mempermalukanku!"

"Kau masih bisa malu?! Kenapa baru sekarang? Dulu kau bahkan berteriak seperti orang bodoh di koridor sekolah! Membuat drama memalukan! Apa kau tidak malu? Huh?!"

"Yah! Orang-orang meninggalkan kita, Luhan. Apa kau masih akan memukulku terus?"

"Kau bahkan bilang aku kurang sopan? Kau membuatku kesal saja, Chanyeol!" dengan itu, Luhan berhenti memukul setelah satu pukulan paling keras ia layangkan pada lengan atas Chanyeol. Ia maupun Chanyeol sama-sama terengah dalam diam. Kemudian Chanyeol yang bergerak duluan menarik tangan Luhan untuk segera menyusul yang lain.

"Wow, Luhan. Kau sangat mengerikan saat marah."

Luhan tidak menggubris Chanyeol. Ia diam-diam merasa lega setelah memukul Chanyeol. Dari waktu Luhan masuk Jungwon, Chanyeol selalu membuatnya kesal. Dengan memukulnya sebagai pelampiasan adalah pilihan yang terbaik. Apalagi saat mengingat dia selalu menggagalkan impiannya untuk bisa berdekatan dengan Baekhyun.

Benar-benar melegakan.

"Luhan?"

"Luhan, hei..."

"Lihat, kau mengabaikanku lagi."

"Kau mau kupukul, Park Chanyeol!?"

.

Luhan lebih memilih terpisah dari Chanyeol karena yang dilakukannya hanya membahas tentang betapa mengerikannya ia tadi. Bersama seseorang yang sedang cerewet adalah hal yang paling tidak ingin ia lakukan selama hidupnya.

Setelah berhasil terpisah dari Chanyeol, Luhan melihat Jongin disekelompok tanaman anggrek jadi ia mendekatinya. Jongin sedang menulis sesuatu saat ia datang.

"Menulis apa?"

Jongin terlihat agak kaget melihat Luhan. "Oh, anggrek."

Luhan mengangguk, melihat ke sekeliling bunga-bunga berwarna ungu itu. "Aku juga akan menulisnya."

Jongin kembali menulis sementara Luhan membaca penjelasan satu anggrek yang menurutnya unik.

Muscari adalah genus dari tanaman berumbi (bulbous plants). Umumnya dikenal dengan nama Grape Hyacinth. Tanaman ini sangat mirip anggrek tandan namun bukan termasuk keluarga anggrek. Grape Hyacinth ini satu sub keluarga dengan hyacinth. Bunga liar Muscari armeniacum grape hyacinths mulai dibudidayakan di Eropa sejak tahun 1871.

Luhan tidak pernah merasa bosan tiap kali membaca sesuatu, ia juga sama herannya ketika saat ini tiba-tiba ia sangat malas dengan penelitian ini. Tiba-tiba moodnya turun, dan ia merasa ingin merusak sesuatu yang ada dihadapannya. Entahlah, ini sesuatu yang baru baginya.

Jongin mendekat, mengintip ke dalam buku Luhan. "Kau belum menulis apapun?"

"Aku belum menemukan yang unik." Luhan beralasan.

"Tapi kau berdiri ditempat yang tepat. Bunga ini sangat unik, aku saja sudah menulisnya."

"Aku selalu melihat tanaman ini di China bahkan ibuku memeliharanya di halaman!" Luhan menyadari jawabannya sedikit ketus, tapi ia diam saja.

Jongin memilih membaca penjelasan bunga lain ketika suara seseorang menginterupsi.

"Hei, yo."

Luhan sedang fokus membaca dan Jongin masih menulis, tidak ada yang menjawab sapaan Sehun karena keduanya terlihat sibuk.

Menyingkirkan rasa kebingungannya, Sehun mendekati Luhan. "Oh, kau masih kosong? Mau kubantu?"

"Kau sendiri?" tanya Luhan dengan mata yang masih terfokus pada tulisan.

"Sudah beres. Pacarku bilang mau mengerjakannya untukku. Aku sedang free, jadi mau kubantu seperti saat itu?"

Luhan mendengus mengingat dulu ia meminta bantuan Sehun untuk membawakan buku-buku Chanyeol.

"Untuk apa bantuan? Aku ini salah satu murid berprestasi di Jungwon."

"Oh, uwow~ lihat, lihat, sekarang sudah menyombong, heh? Hei, aku memang kelihatannya tidak bisa apa-apa dalam pelajaran tapi sebenarnya aku cukup bisa kalau aku mau." Sehun menunggu respon Luhan namun yang dilakukannya hanya terus membaca dan membaca membuat dia memberikan kesimpulan sendiri. "Aku tahu tempat bunga yang bagus."

Tangan Sehun menarik Luhan meninggalkan Jongin yang menghela nafas.

.

"Apa-apaan!"

Luhan terus-menerus mendengus sementara Sehun tertawa terbahak-bahak. "Memangnya ini lucu?!"

Serius, mengapa semua orang sangat menyebalkan hari ini?

"Aku pergi."

Sehun berhenti tertawa dan segera menahan Luhan. Dia mengucap maaf berkali-kali dengan sisa tawanya. "Maaf, maaf. Habis ekspresimu lucu sekali, mana ada orang yang mengulang kalimat yang sama sambil terus-terusan mendengus?" dia melanjutkan tawanya yang belum terselesaikan. Luhan ingin menarik tangannya kembali namun Sehun sekali lagi menahannya. Tidak mau melihat orang yang sedang kesal ini bertambah lebih kesal lagi, kali ini Sehun benar-benar berhenti tertawa. "Iya, iya, ada apa? Ada yang ingin kau tanyakan?"

Luhan sekali lagi mendengus lebih keras. "Apanya yang bagus? Kau bercanda, ya?"

"Memangnya kenapa? Ini unik. Kau bisa menuliskannya."

"Berhenti bermain-main! Oh Sehun! Tanaman disini mati semua!"

"Nah, itulah keunikannya. Dari semua tanaman yang segar dan cantik, semua anak tentu akan menulisnya, itu sama sekali tidak ada menariknya. Tulislah tanaman yang mati, ini adalah konsepnya, ini unik."

Dari semua penjelasan Sehun, kata-katanya ada benarnya juga. Tapi tetap saja, sekolah apa yang mendatangkan muridnya untuk meneliti bunga yang mati?

"Oh, baiklah," Sehun kembali berbicara setelah keheninganlah yang menguasai. "Aku akan bicara jujur."

Sehun melepaskan tangan Luhan yang sedari tadi masih dia genggam. Luhan bahkan lupa tangannya digenggam selama ia berada ditempat ini.

"Kurasa aku menyukaimu, Luhan."

Setelah sekian banyak hal-hal menyebalkan yang ia lalui ditaman ini, kenapa ia juga harus menghadapi hal mengejutkan ini?

Dimana Chanyeol?

.

Sudah jam 6 sore dan sudah waktunya bagi Jungwon untuk kembali. Kim Heechul kembali mengabsen anak-anak dan mengatur satu-persatu dari mereka untuk memasuki bus. Banyak anak yang mengubah posisi tempat duduknya dan berganti pasangan duduk, tapi Luhan sendiri masih duduk ditempat yang sama bersama Jongin.

Langit mulai menggelap saat bus mulai bergerak meninggalkan area taman. Tidak seperti diawal keberangkatan, anak-anak memanfaatkan perjalanan ini untuk tidur sampai bus kembali ke Jungwon. Semua anak tampak kelelahan, tapi Luhan tidak. Ia mencoba tertidur namun sesuatu dalam kepalanya mencegahnya untuk tetap sadar.

Dan yang bisa ia lakukan hanya memandangi jalanan gelap diluar jendela, atau mengecek hpnya. Matanya sesekali melirik Jongin yang masih terjaga, memandangnya balik. Luhan gugup jadi ia melirik ke arah yang lain, ke arah dimana sahabatnya duduk. Dan apa yang ditemukannya membuatnya tercengang. Hei—hei! Chanyeol melakukan hal lancang lagi! Tidak seharusnya dia memanfaatkan ketidaksadaran Baekhyun agar teman impiannya itu bersandar dibahunya! Hell!

Dalam kegusaran dan kekesalannya pada Chanyeol, tidak sengaja ia melirik pada Sehun, yang sama-sama melirik ke arahnya. Luhan diam, juga tidak mengelak bertatapan dengan Sehun, begitupun dengan Sehun. Lama tanpa ada yang mengalihkan pandangan, Sehun menggerakkan mulutnya mencoba mengatakan sesuatu.

'Yang tadi aku sungguh-sungguh.'

Luhan ingin menjawab, tapi atensinya tahu-tahu mengarahkannya pada seorang gadis disebelah Sehun yang tengah terlelap, membuatnya mengurungkan niat. Jadi ia hanya mendengus padanya.

'Kau tidak percaya?'

Luhan mengangguk, mengatakan 'Sama sekali.'

'Kenapa?'

'Hanya tidak ingin percaya.'

Sehun kemudian menunjuk Jongin. 'Apa aku harus kesana?'

'Untuk apa? Tidak boleh!'

'Biarkan aku duduk disana dan membuatmu percaya.'

'Walaupun kau kesini aku tidak akan pernah percaya.'

'Kenapa kenapa kenapa? Apa aku bukan tipemu?'

Luhan mengangkat bahu.

'Aku akan ke sana.'

Luhan melotot saat Sehun berdiri dari duduknya. Memaksanya duduk kembali dengan tatapannya.

'Kau tidak percaya dan kau juga tidak ingin aku kesana, lalu apa yang harus kulakukan?'

Luhan menunjuk pacar Sehun menggunakan dagu. 'Kau sedang bersamanya, bagaimana mungkin kau duduk disini.'

'Tenang saja dia sedang tidur.'

Luhan menjawabnya dengan gelengan tanda final. Tidak bisa digugat.

Sehun menghela nafas. Masih menatap Luhan. 'Tapi kau akan memikirkanku kan? Bagaimana dengan nomormu? Aku bisa memilikinya kan?'

Luhan lagi-lagi menggeleng. 'Tidak bisa.'

'Kenapa lagi sekarang?'

'Hanya tidak bisa.'

Sehun ganti mendengus. 'Susah sekali.'

Luhan tertawa tanpa suara. 'Tapi...kau pernah bilang Chanyeol,' ia menunjuk Chanyeol, 'Menyukaiku.'

Sehun melongo, kemudian menggeleng keras. 'Lupakan yang lain, bicarakan aku saja.'

'Keras kepala.'

'Aku tetap memaksa.'

'Bagaimana bisa kau memaksa orang lain?'

'Kenapa tidak?'

'Kau tidak mungkin memaksa orang yang kau sukai.'

'Justru aku hanya memaksa orang tersebut. Bagaimana ini? Pembicaraan ini akan panjang dan kau belum menjawabku.'

'Apa yang harus kujawab?'

Sehun ingin mengatakan sesuatu tapi terhenti saat menyadari kesalahannya. 'Kalau begitu berikan aku nomormu.'

'Tidak.'

'Apa jawabanmu akan terus begitu sampai besok?'

'Mungkin.'

Sehun menyipitkan matanya. 'Sepertinya aku mulai kesal.'

Luhan hanya tertawa.

Sehun mendengus sebelum membalikkan badannya ke depan. Tapi itu tidak lama, detik berikutnya dia kembali menoleh dan berbisik. 'Aku marah.'

Luhan lagi-lagi tertawa melihat Sehun kembali menghadap depan. Belum sempat ia menghabiskan tawanya, Sehun kembali berbalik dan berbisik lagi. 'Aku benar-benar marah.' Dengan mata yang menyipit ke arahnya. Luhan menemukan itu lucu dibanding khawatir kalau Sehun benar-benar marah.

Detik berikutnya Sehun tidak sempat berbalik lagi ketika tiba-tiba bus berguncang keras, ada tangan yang melingkar disekeliling tubuh Luhan ketika ia oleng ke kiri. Seketika seisi bus menjadi ribut akan guncangan tadi, semua anak terbangun dan sopir meminta maaf karena jalanan sepertinya rusak. Bus kembali bergerak namun keriuhan anak-anak masih belum berakhir. Ia menoleh pada Jongin, dia belum juga melepaskan tangannya darinya. Jongin balas menatap, tatapannya menjadi dalam dan mau tidak mau Luhan menatap Jongin dengan pandangan yang sama.

"Jangan menerimanya," bisik Jongin.

Luhan mengedip. Jujur ia kebingungan dengan sisi Jongin yang ini.

"Jangan menerimanya karena..." Jongin menggantung, Luhan diam menanti kelanjutan perkataan Jongin dan hanya nafas Jongin yang ia dengar dengan jelas ditelinganya.

"...karena dia playboy."

Luhan hanya mampu berkedip beberapa kali dan Jongin menghela nafas. "Baiklah, itu karena—"

"—karena aku juga menyukaimu."

Seperti ada yang menekan tombol pause, Luhan tidak bergerak sedikitpun dari posisinya yang berada dipelukan Jongin. Sementara Sehun melihat mereka dengan pandangan yang sama seperti milik Jongin. Menunggunya menjawab.