Judul : Rotten Apple

Author : judalismic

Fandom: BTS

Pairing : Jeon Jungkook/Kim Taehyung (KookV)

Genre : Romance

Warning: Boys Love, University!AU

NOTE :

Akhirnyaaa pesta dansanya dimulai. Mamacih banget buat yang masih setia dan sabar nungguin fic ini. Love you, guys! ^ ^

.

.


Rotten Apple


.

Jeon Jungkook menampakkan lengkungan tipis senyum samarnya yang bisa membuat siapapun yang menerima senyuman itu kehilangan segala daya topang tubuhnya dan bertekuk lutut untuk kapten klub basket itu detik itu juga. Dunia sungguh tidak adil, batin Taehyung dalam hati. Ia bahkan mulai meragukan eksistensi seorang Jeon Jungkook itu betul-betul ada dan nyata atau tidak.

Setelah percakapan singkatnya dengan Park Jimin mengenai masa lalu Jungkook, Taehyung tidak bisa tidak berpikir tentang berbagai macam skenario masa lalu Jeon Jungkook. Dan salah satu ide yang terlintas di kepalanya adalah bahwa Jeon Jungkook ini sebetulnya tidak ada dan hanya delusi yang lahir dari imajinasi terliar dan terindah umat manusia. Karena ia begitu sempurna. Terlalu sempurna untuk jadi nyata.

"Kau sudah siap?" Jungkook menjulurkan sebelah tangannya ke arah Taehyung, yang lalu disambut dengan kernyitan di kening Taehyung.

"Kau tidak berpikir aku akan masuk ke mobilmu dengan menggamit tanganmu, kan?" Taehyung bertanya dengan nada tak percaya, enggan beranjak dari tempatnya berdiri di depan pintu depan utama gedung asrama universitas yang ditinggalinya bersama Park Jimin.

Jungkook menatapnya untuk sejenak, hanya untuk kemudian menurunkan tangannya kembali dan berkata, "Kupikir kita perlu berlatih hal-hal kecil seperti itu agar semuanya berjalan dengan lancar nanti malam."

Taehyung menangkat bahunya tak acuh. "Kita punya," katanya seraya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, "empat jam lagi sebelum pestanya dimulai. Ada banyak waktu untuk memikirkan hal seperti nanti. Setelah aku bermetamorfosis dengan sempurna menjadi gadis tercantik seduniamu." Taehyung tidak mengatakan bahwa ia tidak ingin, saat ini, saat ia masih berpenampilan sebagaimana biasanya, diperlakukan seperti seorang gadis oleh Jeon Jungkook.

Jungkook tak menimpali lebih lanjut, membiarkan Taehyung masuk ke mobilnya sementara ia kembali mengitari kap mobil dan masuk ke kursi kemudi dan duduk dengan nyaman di sana. Dibetulkannya kaca depan mobil, yang entah mengapa—Taehyung bersumpah ia tidak berhalusinasi—seolah Jungkook mengarahkan kaca depan itu agar dapat menangkap sosoknya yang duduk di samping Jungkook dalam pantulan cermin persegi itu.

Taehyung mengenakan seatbelt dengan sedikit canggung. Tidak, ia yakin benar bahwa seharusnya saat ini ia menampilkan air muka tanpa minat terbaiknya, agar Jeon Jungkook tahu bahwa Kim Taehyung tidak menikmati apa yang akan mereka lakukan malam ini. Seharusnya.

Namun sayangnya, siapa yang bisa tahan ditatap seperti itu oleh seorang Jeon Jungkook. Ketetapan hati sekeras karang pun akan luluh di hadapan sorot mata sehitam malam yang mempesona itu.

Dunia sungguh tidak adil.

Ferrari hitam mengkilat seri 458 itu meluncur menuju tempat yang sama malam sebelumnya, namun kali ini dengan dua penumpang yang memiliki pemikiran dan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Jika kemarin malam Taehyung pergi dengan perasaan ringan dan tak banyak berspekulasi, kali ini Taehyung merasa seolah segala beban di muka bumi ini ada di pundaknya dan tak dapat ditahannya bermacam-macam skenario kegagalan pesta dansa nanti malam bagi Jeon Jungkook jika ia tidak mampu memerankan perannya dengan baik.

Taehyung telah berpikir banyak. Dan saat ia bilang banyak, artinya banyak sekali. Ia memang tidak senang dengan semua hal ini—ia tidak keberatan membantu Jeon Jungkook, tapi ia tidak suka dianggap sebagai manekin yang bisa diperlakukan seenaknya dan dianggap sebegitu tidak pentingnya selain sebagai teman dansa yang hanya untuk dipamerkan pada teman-teman Jungkook untuk satu malam.

Entah apa yang diinginkan Taehyung, mungkin ia sendiri tidak ingin menyadarinya. Atau, ia memang menyadari apa yang diinginkannya, namun tidak ingin mengakuinya.

"Aku sudah memikirkan nama yang tepat untukmu," ujar Jungkook tiba-tiba, memecah keheningan di antara keduanya. "Untuk penyamaranmu, maksudku."

Taehyung menaikkan sebelah alisnya dan menyahut, "Kita tidak memerlukannya."

"Tentu saja perlu," sergah Jungkook. "Kaupikir bagaimana aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku di pesta itu? Bahwa namamu Cinderella? Kau lebih senang dipanggil Ella?" Jungkook melirik melalui sudut matanya.

"Tidak," dengus Taehyung.

"Venus. Aku akan memanggilmu Venus." Kali ini Jungkook menoleh padanya, mengirimkan senyuman samarnya yang mengalihkan dunia untuk yang kedua kalinya malam itu.

Alis sempurna Taehyung bertaut saat ia menimpali, "Tidak ada seorangpun dengan nama Venus di seluruh penjuru Korea Selatan ini. Tidak masuk akal. Kau tidak punya ide lain yang lebih wajar?"

"Venus adalah dewi yang melambangkan cinta, kecantikan, bujukan, rayuan, dan pesona yang menggelora." Jungkook menarik sudut bibirnya dan menambahkan, "Juga seks."

Taehyung tersedak air liurnya sendiri. "Kurasa tidak ada seorangpun yang berpikir seorang Victorian lady pantas merepresentasikan hal yang terakhir itu. Sangat vulgar dan barbar," jengah Taehyung.

"Dan karena itulah kita harus melakukannya," terang Jungkook. "Semua orang akan berpikir mengenai keliaran saat mendengar kata klub malam, namun mereka akan berpikir tentang keanggunan saat mendengar kata pesta dansa berkelas. Mereka akan tampil seanggun dan sesopan mungkin malam ini, karena begitulah pendapat mereka mengenai sebuah pesta dansa yang elegan. Mereka akan tampil dengan gaun dan tuksedo terbaik, termahal, dan termewah yang bisa mereka dapatkan. Yang pria akan tampil setampan dan se-gentleman mungkin, dan yang wanita akan merias diri secantik dan semempesona mungkin. Menurutmu apa yang harus kita lakukan untuk mengungguli semua itu?"

Taehyung tak menyahut, ia tahu Jungkook sudah punya ide dan ia tak ingin buang-buang energi untuk berpikir dan menyangkal apa pun yang hendak dikatakan Jungkook itu karena, yah, Tuan Muda satu ini tak akan menerima kata Tidak dari siapapun, dan Taehyung sudah sangat tahu hal itu semenjak bergaul dengan Tuan Muda ini dua hari lalu.

"Kita harus berpikir di luar pemikiran biasa. Kita harus melihat segala sesuatunya out of the box. Mereka akan tampil dengan anggun dan elegan, sopan dan berkelas, sementara kita akan menampilkan pertunjukan yang tak akan pernah terpintas dalam kepala mereka sama sekali mengenai sebuah pesta dansa."

Perasaan Taehyung mendadak tidak enak.

"Kau akan tampil sebagai gadis tercantik di dunia, tentu saja, tapi bukan hanya itu. Kau akan menjadi manifestasi hidup dari apa yang para ahli filsuf bilang sebagai kecantikan dan keanggunan yang seksi dan memabukkan dengan segala pesona yang ada di seluruh dunia. Tidak ada satu orang gadis pun di dunia ini yang akan mengalahkanmu. Tidak juga di pesta dansa itu." Jungkook bertutur dengan tenang seolah ia telah memikirkan matang-matang mengenai rencana kemenangannya malam ini.

"Hal itu juga yang kaulakukan dengan teman-teman dansamu yang lain, kurasa?" Taehyung tak membiarkan dirinya menghentikan pertanyaan yang bercokol dan menggerogoti kepalanya sejak pembicaraannya dengan Eliza kemarin malam. Taehyung hanya berharap ia tak terdengar pahit saat barusan bertanya.

Jungkook memutar lehernya cepat ke arah Taehyung yang duduk menatap pemandangan di luar kaca jendela mobil di sampingnya. "Eliza mengatakan hal itu padamu?"

"Tidak, hanya menebak," terang Taehyung menarik sudut-sudut bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman, namun malah terlihat seperti sebuah senyuman penuh duri.

"Jawabanku juga sama," ujar Jungkook setelah beberapa saat terdiam dan menciptakan kesenyapan yang tidak nyaman. "Tidak, aku tidak pernah bersemangat seperti ini saat pergi bersama mereka. Aku datang untuk berpesta dan aku memerlukan pasangan untuk menemaniku. Kadang itu pesta dansa, dan kadang itu pesta anak muda biasa, tidak ada yang istimewa."

"Dan sekarang istimewa?" Taehyung bertanya dengan hati-hati. Tidak ingin kalimatnya itu terlalu menunjukkan riak yang menggelitik tanpa dinyana di perutnya.

"Aku tidak merasa ingin mencium pasangan pestaku. Mereka yang datang padaku dan melemparkan diri di hadapanku. Dan kalau boleh kukatakan, itu membuatku kehilangan selera," aku Jungkook tanpa berpikir untuk menjaga image-nya sama sekali.

Taehyung tertawa tanpa nada humor dan menimpali, "Kau bicara seolah kau ingin menciumku."

Dan Taehyung berharap ia tak pernah bertanya, karena jawaban yang meluncur keluar dari mulut Jeon Jungkook setelahnya adalah hal yang sangat tak disangkanya dan membuatnya ingin terjun bebas ke palung laut terdekat dari Seoul yang bisa dicapainya saat ini juga.

"Aku tidak keberatan," jawab Jeon Jungkook membuat Taehyung babak belur.

.

.

.

.

.

.


Eliza tengah berdiskusi alot dengan Jungkook, dan Taehyung dibiarkan duduk menunggu di sofa yang terdapat di sudut hall pameran busana dan gaun dalam gedung megah beratap kubah milik designer profesional itu.

Ini adalah kali kedua ia menginjakkan kaki di tempat ini, namun butik yang heboh ini tak pernah gagal membuatnya takjub bahkan dari gerbang depan yang gemerlap oleh lengkungan mawar putih imitasi bersama lampu-lampu natal yang menggelantung seperti anggur di setiap tiang yang menghiasi pelataran parkirnya yang lapang.

Namun kali ini Taehyung tak punya banyak waktu untuk menikmati keindahan dan kemegahan tempat ini, karena perhatiannya terpaku pada ponsel di tangannya yang berkerlip sesekali dalam satu atau dua menit. Ia tengah bercakap dengan Park Jimin melalui fitur chatting di ponselnya.

'Kurasa aku ingin mundur.' Taehyung menekan tombol send dan mengirimkan pesannya pada sahabat karib sekaligus teman seasramanya itu.

'Kenapa?' Balasan dari Jimin datang tak sampai dua detik dari dikirimkannya pesannya barusan.

'Aku tidak menyukainya.' Taehyung mengirimkan jawabannya.

Ada jeda beberapa saat sebelum balasan dari Jimin muncul di ponselnya, 'Kau tidak perlu menyukainya. Kau hanya perlu jadi pria sejati dan tuntaskan tugasmu dengan baik dan benar, Kim Taehyung. Pria sejati tidak menarik kembali kata-katanya.'

'Pria sejati tidak mengenakan pakaian perempuan dan berdansa sebagai perempuan dengan pria lainnya,' balas Taehyung.

'Tahu apa masalahmu, Tae? Kau terlalu bersikap apatis pada ide tentang seksualitas. Ini tidak ada hubungannya dengan gender, Jungkook memilihmu dan kau akan memerankan peranmu dengan baik. Diskusi selesai. Sampai jumpa di dance hall dalam tiga setengah jam lagi, dan pastikan kau tidak mengacaukan apa pun.'

Balasan terakhir dari Park Jimin itu membuat kening Taehyung mengernyit.

Taehyung baru saja hendak mengetik balasan lagi untuk sahabatnya itu, ketika suara Jungkook yang lembut namun lugas dan penuh kepercayaan diri itu menyeruak, "Eliza dan timnya sudah siap dengan sihir mereka."

Taehyung menelan ludah, memasukkan ponselnya kembali ke balik mantel hitam panjang dengan aksen manik keperakan yang dikenakannya malam ini. Dapat dilihatnya Eliza melambaikan tangan padanya dengan senyuman lebar beberapa meter di belakang Jungkook, tepat di depan pintu masuk ke bagian dalam ruang butik tempat tubuhnya diukur malam sebelumnya.

Jungkook memoleskan senyuman samar khasnya itu lagi, senyuman yang membuat Taehyung merutuki dirinya sendiri karena efek yang ditimbulkan senyuman itu membuat lututnya menjadi lemas seketika. Ia bangkit berdiri dari duduknya dengan cepat dan berusaha tidak sempoyongan, menghindari tatapan Jungkook karena ia paham benar bahwa tatapan intens dari kepingan obsidian milik Jeon Jungkook adalah hal terakhir yang dibutuhkan jantungnya saat ini jika masih ingin tetap bisa berdetak dengan normal.

Kim Taehyung sungguh tidak menyukai Jeon Jungkook. Karena Jeon Jungkook mampu membuatnya menjadi tidak seperti dirinya sendiri. Dan Taehyung sangat benci karena ia merasa seolah dirinya seperti seorang perempuan yang tengah mabuk kepayang. Dan itu sangat memalukan dan melukai harga dirinya.

Hanya dengan kalimat yang diucapkannya, Jeon Jungkook mampu membuat otaknya tak bisa bekerja dengan baik. Ia tak tahu sejauh mana ketulusan dan kesungguhan setiap ucapan Jungkook untuknya, namun tak bisa ia pungkiri bahwa para gadis yang jatuh dalam jerat pesona Jeon Jungkook tidak sepenuhnya adalah kesalahan mereka sendiri. Jeon Jungkook punya andil besar dalam membuat para gadis itu tergila-gila, demi Tuhan.

Taehyung tidak menyukai Jungkook.

"Jadilah Venusku yang paling sempurna, hingga membuat Aphrodite menjadi iri hanya dengan melihatmu," bisik Jungkook saat Taehyung berjalan melewatinya.

Demi Tuhan, tidak bisakah Jeon Jungkook itu membiarkan jantung Taehyung tetap dalam irama stagnannya malam ini?

Sekali lagi Taehyung berpikir untuk mundur dari panggung pertunjukan ini. Ia tak ingin mengambil risiko kehilangan jantungnya saat tirai pertunjukan ditutup.

Entah kepada siapa Taehyung harus mengiba, yang pasti tidak pada Park Jimin karena mungkin yang ada di kepala sahabatnya itu hanya voucher gratis makan malam mewah besok malam dan tak akan membiarkan Taehyung membatalkan semua ini di menit-menit terakhir.

Taehyung menyeret langkahnya menghampiri Eliza, dan wanita berambut merah itu menyambutnya dengan senyuman lebar dan pelukan hangat yang singkat. "Hari ini pun kau mencuri hatiku. Kau tidak tahu betapa aku sangat tidak sabar mendandanimu sejak detik pertama kulihat kau datang kemari kemarin malam," ujarnya lembut.

Tidak luput dari perhatian Taehyung bahwa berbeda dengan sikap Eliza saat mereka bertemu kemarin malam, malam ini seolah wanita paruh baya dengan wajah yang masih menyisakan kecantikan masa mudanya itu menatap dan berbicara padanya seperti seorang ibu pada buah hatinya. Jika kemarin malam Eliza bertingkah seperti designer profesional dengan semangat menggebu-gebu saat menemui model barunya, hari ini Eliza bersikap seolah Taehyung adalah makhluk yang paling penting dan wanita itu hidup selama lebih dari empat puluh tahun demi momen ini. Momen untuk menciptakan sihir yang membuat Taehyung menjadi gadis paling sempurna dan tercantik di dunia bagi Jeon Jungkook. Dan bukan karena tugas semata.

Taehyung bergumam sejenak sebelum berkata, "Kau tidak marah?" Sejujurnya, ia sedikit merasa bersalah setelah berbicara dingin pada Eliza kemarin malam sebelum pergi meninggalkannya. Setelah pikirannya kembali tenang saat ia berendam di bathtub asramanya sepulang kunjungannya ke butik milik Eliza ini malam itu, ia mulai berpikir jernih bahwa tak sepantasnya ia mengatakan hal seperti itu pada Eliza.

Apa pun dasar alasan yang membuat Eliza mendandaninya secantik mungkin untuk drama pertunjukan ini, itu adalah urusan Eliza. Taehyung merasa ia tak berhak menuntut ketulusan orang lain untuknya. Jika Eliza melakukan semua ini karena, demi, dan hanya untuk tugasnya semata, apa haknya untuk merasa tidak senang? Sejak awal, seharusnya Taehyung ingat bahwa ia tidak boleh memiliki ekspektasi apa pun, karena dengan begitu ia tidak akan mencicipi apa yang disebut rasa kecewa.

Park Jimin, Jeon Jungkook, juga Eliza, semuanya berhak berpikir apa saja tentangnya.

Dan Taehyung sendirilah yang harus tahu posisinya.

Eliza menggeleng cepat. "Tentu saja tidak, demi Tuhan, Kenapa kau berpikir begitu? Aku sangat senang bercakap-cakap denganmu," ujar Eliza. "Dan kalau boleh kukatakan, aku semakin menyukaimu." Eliza mengembangkan senyum lebarnya.

Taehyung baru saja hendak menimpali, namun tangan Eliza lekas menggandengnya dan menariknya ke bagian dalam ruangan. "Cepat, cepat. Kau harus segera melihat gaun yang kupersiapkan khusus untukmu malam ini. Aku tidak pernah seantusias ini memamerkan gaun rancanganku untuk seseorang!" Eliza berseru penuh semangat.

Taehyung membiarkan dirinya dibawa ke bagian lebih dalam dari ruangan butik Eliza itu, hingga mereka sampai di sebuah pintu bercat putih dengan ukiran eksotis. Eliza melepaskan gandengannya dari tangan Taehyung, menghampiri pintu itu dan mengenggam kenop pintu emas berbentuk bulat di sana. Eliza berbalik dengan senyuman yang tersimpul di bibirnya, menatap Taehyung dengan pandangan mata berkilat-kilat.

"Kau siap?" Eliza bertanya penuh semangat.

Taehyung mengerjap, tak beranjak dari tempatnya berdiri di depan pintu. Ia tak tahu gaun apa yang akan dilihatnya di balik pintu itu, namun firasatnya mengatakan bahwa ia akan takjub dengan apa pun yang dibuatkan Eliza untuknya. Eliza tidak menyandang gelar sebagai seorang designer profesional level internasional dengan main-main, tentunya?

Kenop pintu diputar, daun pintu didorong perlahan, hingga memperlihatkan pemandangan yang hingga sepersekian milisekon sebelumnya Taehyung kira hanya ada dalam negeri dongeng.

Di sana, di tengah ruangan berlantai porselen putih bersih dengan cermin-cermin di setiap sisi ruangan, sebuah manekin tanpa kepala berpostur tinggi dan ramping, mengenakan gaun mewah yang lebar dan panjang hingga ke mata kaki. Gaun dengan warna seputih kapas itu memiliki model ruffle yang berumpak dan berlapis-lapis, lengkap dengan hiasan renda berwarna lavender lembut yang menghiasi lipatan-lipatan gaun untuk menampilkan kesan berkelas dan klasik. Sutra, satin, dan tulle bermotif elegan dan artistik menjadi pilihan sang perancang busana untuk menciptakan gaun yang mewah itu.

Taehyung masih menatap takjub pada gaun yang mewah itu, ketika Eliza menepuk pundaknya riang dan berkata, "Ayo kita buat semua orang terpesona malam ini, Taehyung. Kau akan sangat luar biasa saat mengenakannya. Tidak ada orang yang lebih pantas mengenakannya selain kau."

Taehyung tak sempat menjawab, karena Eliza menggandeng tangannya lagi untuk masuk ke dalam ruangan penuh cermin itu. "Modelnya sudah datang. Saatnya mengerahkan seluruh kemampuan kita, girls." Eliza berujar riang ke seluruh penghuni ruangan yang tampak sigap memegang peralatan masing-masing. Salah satunya, dapat Taehyung lihat, tengah menyisir lembut dan merapikan wig panjang ikal mengkilap yang digelung tinggi dengan model curly yang menjuntai di bagian bawah gelungnya.

Eliza mendudukkan Taehyung di hadapan sebuah cermin besar yang memiliki lampu-lampu rias di sekelilingnya, lengkap dengan meja rias berisi puluhan alat rias yang bahkan Taehyung tak pernah lihat seumur hidupnya sebagai seorang aktor drama. Terlalu banyak hal baru yang dilihatnya hari ini.

"Make-up artistku, Myra, akan menyulap wajahmu yang sudah cantik ini menjadi sangat cantik. Kau akan jadi sangat berbeda, karena kita tidak ingin siapapun menyadari bahwa kau adalah kau, kan? Jungkookie bilang aku harus membuatmu menjadi tak dikenali." Eliza tertawa renyah.

Taehyung tak menyahut, membiarkan seorang wanita lain berambut biru, yang Taehyung rasa adalah Myra yang Eliza maksud, menyampirkan jubah untuk menutupi pakaiannya agar tak terkotori oleh make-up yang akan diaplikasikan di wajahnya. "Selamat malam, aku akan menjadi asisten Eliza malam ini, dan aku akan meriasmu secantik mungkin," ujar wanita berambut biru itu.

Taehyung hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih sekenanya, karena, hei, kalau dipikir-pikir, bukan ia yang ingin dirias jadi cantik, kan? Ia hanya menjalankan perannya semata.

Myra menyapukan likuid pembersih dan penyegar ke seluruh permukaan wajah Taehyung seraya bersiul dan memuji betapa lembut dan halus wajah Taehyung yang tanpa jerawat sama sekali itu. Myra juga menambahkan bahwa pastilah banyak sekali gadis yang iri pada wajah Taehyung. Dan Taehyung perlu berpikir dua kali untuk menganggap itu sebagai sebuah sanjungan atau bukan.

Serum kental untuk menghidrasi kulit wajahnya sebelum make-up tebal diaplikasikan di sana untuk melindungi pori-pori wajahnya tengah disapukan Myra di wajah Taehyung, ketika Eliza menarik kursi dan duduk di meja rias di samping Taehyung sembari mengulum senyum dan memperhatikannya.

Taehyung mengangkat sebelah alisnya menatap pantulan bayangan Eliza di depan cermin, seolah mengatakan 'Apa?' pada Eliza yang sedari tadi asyik mengamatinya yang tengah dirias.

"Kau tahu, ada banyak sekali gadis tercantik sedunia yang disebutkan dalam dongeng. Dari mulai Snow White yang terkenal di negaraku, sampai Kaya yang terkenal di Korea. Tapi menurutku pribadi, dari semua gadis yang disebut sebagai gadis tercantik sedunia, yang paling mempesona adalah Putri Turandot dari Negeri Tirai Bambu." Eliza mengamati dengan seksama saat Myra memoleskan base make-up dan foundation ke wajah Taehyung dengan penuh kehati-hatian.

Taehyung berusaha tidak menggerakan wajahnya atau hasil riasannya tidak akan seperti semestinya, jadi ia hanya bergumam tanpa melirik, "Turandot?"

Eliza mengangguk. "Kau belum pernah mendengarnya? Kisah yang sangat populer di negeri Cina, walau yang mendongengkan kisahnya adalah seorang ahli puisi dari Persia."

Tiba-tiba saja sosok Byun Baekhyun terbersit di kepala Taehyung, dan firasatnya mengatakan bahwa Eliza punya kecenderungan gemar bercerita seperti ketua klub dramanya itu.

"Turandot adalah putri kaisar Cina yang sangat tersohor ke seluruh penjuru Negeri Tirai Bambu itu pada zamannya." Eliza memulai ceritanya bahkan sebelum meminta pendapat Taehyung untuk mendengarkan kisahnya atau tidak. "Bukan hanya kecantikan, namun Turandot memiliki kecerdasan yang sangat tinggi dan kebijaksanaan yang sangat luhur. Namun Turandot memiliki hati yang dingin dan kejam. Ia tidak tersenyum seperti putri-putri dalam dongeng lainnya. Tidak, bahkan Turandot tidak pernah tersenyum satu kali pun dalam hidupnya."

Myra beranjak untuk mengambil peralatan make-up yang tak ada di meja, dan Taehyung mengambil kesempatan itu untuk menoleh pada Eliza dan mempersilakannya untuk melanjutkan dongengnya.

"Terdapat sebuah gong besar di gerbang istana, yang mengundang pria-pria pemberani dari seluruh pelosok negeri untuk memukul gong itu dan meminang sang putri." Eliza melanjutkan ceritanya.

"Setiap pria yang memukul gong itu akan berhadapan dengan Kaisar dan Turandot di malam berikutnya, disaksikan oleh seluruh rakyatnya yang bergemuruh menunggu pertunjukan yang mendebarkan sekaligus membuat penasaran. Pertunjukan apa? Turandot melemparkan tiga teka-teki bagi setiap pria yang memukul gong itu, dan harus dijawab dengan benar tanpa salah satu kali pun oleh mereka. Siapapun yang berhasil menjawab seluruh teka-teki dengan benar, akan menikah dengan Putri Turandot. Namun bayaran untuk kesalahan mereka adalah nyawa.

Setiap pria yang menjawab teka-teki Turandot dengan salah, akan diperbolehkan untuk mencium punggung tangan sang putri, hanya untuk kemudian dipenggal kepalanya oleh algojo istana, disaksikan oleh seluruh rakyatnya. Dari mulai rakyat jelata, putra bangsawan, hingga pangeran dari negara-negara lain, datang untuk mengadu nasib mereka di tangan sang putri dan teka-tekinya.

Tidak ada satu pria pun yang berhasil menjawab satu pun teka-teki dari Putri Turandot yang sangat cerdas dan bijaksana itu. Namun setiap malam ketujuh, selalu ada saja pria yang menantang maut demi dapat meminang sang putri. Dan setiap malam ketujuh, di bawah sinar bulan, darah merah segar mengalir di tangga istana saat seorang pria yang seharusnya memiliki masa depan yang lebih baik memilih kehilangan nyawa demi sang putri daripada tidak mencoba memecahkan teka-tekinya sama sekali."

Eliza menatap Taehyung dan kembali berujar, "Kaupikir mengapa pria-pria itu selalu ada saja di malam ketujuh? Tidak ada yang pernah jera, padahal korban sudah banyak berjatuhan? Karena Turandot begitu mempesonanya, tentu saja. Kecantikan yang juga diselubungi oleh kepandaian dan kharisma, itulah sosok kesempurnaan dari seorang wanita. Bukan hanya wajah jelita belaka, namun juga isi kepalanya."

Taehyung mengerjap.

Eliza mengulum senyum di wajah senjanya. "Kemarin malam kubilang aku bukan hanya akan meriasmu jadi gadis tercantik sedunia, namun aku juga akan menarik inner beauty-mu ke permukaan. Kau ingat?"

Taehyung sepertinya samar-samar memang mengingat Eliza mengatakan sesuatu yang terdengar seperti itu.

"Pesona tidak hanya ditimbulkan dari kecantikan," lanjut Eliza. "Seorang wanita bisa saja sangat cantik, tapi ia tidak mempesona. Dan sebaliknya, bisa saja seorang wanita tidak terlalu cantik, namun kepribadian dan cara berpikirnya membuatnya mempesona."

Taehyung mulai mengerti ke mana arah pembicaraan satu arah ini menuju.

"Karena itulah, aku tidak perlu menghabiskan banyak waktu terlalu keras untuk meriasmu. Kau sudah cantik, dan kami akan membuatmu lebih cantik lagi. Tapi yang paling perlu kaupahami adalah kecantikan yang sesungguhnya ada di sini." Eliza menunjuk dada sebelah kiri Taehyung dengan telunjuknya, tempat di mana jantung dan hatinya tersembunyi di balik rongga dadanya.

Oke, pertama, Taehyung tidak pernah bilang ia ingin jadi cantik. Jika ada orang yang ingin ia jadi cantik di sini justru adalah Jeon Jungkook (dan Eliza sendiri). Kenapa seolah Taehyung yang sedang berusaha untuk tampil cantik, di sini?

Taehyung baru saja hendak angkat bicara, ketika Eliza kembali berujar, "Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan gender. Setiap orang memiliki kecantikan dan keindahan dalam dirinya. Pria ataupun wanita. Dan hal itulah yang membuat seseorang terlihat mempesona."

Taehyung batal melontarkan protesnya setelah dikatakan seperti itu. Tapi tetap saja, rasanya errm…

"Menurutmu mengapa Jungkookie yang tidak pernah bersikap lembut pada wanita itu selalu dapat membuat wanita manapun terpesona padanya, walau mereka tahu orang seperti apa Jeon Jungkook itu?" Eliza mengulum senyum.

Taehyung tersedak air liurnya sendiri. Hanya perasaannya saja, atau barusan itu sekejap saja ia merasa menangkap tatapan penuh maksud dari wanita berambut merah yang duduk di sampingnya itu?

"Karena mereka bodoh, kurasa," timpal Taehyung. "Seperti para pria yang nekat memukul gong istana dengan berpegangan pada keyakinan rapuh untuk dapat menyelesaikan teka-teki Turandot dengan benar atau tidak. Dan pada akhirnya, semuanya tewas. Untuk apa bertaruh nyawa jika ada gadis lain—walaupun tidak secantik dan sepandai Turandot—yang bisa mereka pinang? Dan Turandot sama sekali tidak memperlakukan pria-pria itu dengan manusiawi. Ia menjerat mereka, hanya untuk kemudian memberi mereka teka-teki tersulit yang pernah didengar telinga umat manusia, dan membiarkan mereka mengecup tangannya sebagai permohonan terakhir mereka dan semuanya mati dipenggal—dipermalukan di hadapan seluruh rakyatnya seolah hal itu adalah sebuah tontonan hiburan. Dari awal, pria-pria itu tidak dianggap oleh Turandot. Ia hanya membiarkan mereka menari di telapak tangannya dan berpikir seolah mereka memiliki pemikiran sendiri dan bertindak sesuai keinginan mereka sendiri. Sementara faktanya, semuanya berjalan sesuai keinginan dan manipulasi Turandot."

Eliza mengangkat sebelah alisnya. "Begitu caramu menangkap kisah ini?"

"Menurutmu tidak begitu?" Taehyung balas mengangkat sebelah alisnya yang kini telah dibentuk dengan baik oleh Myra.

"Kau melupakan satu poin penting dalam cerita ini," ujar Eliza. "Semua pria yang mati karena teka-teki Turandot itu jatuh cinta pada Turandot. Dan siapapun tidak akan semudah itu terlepas dari cinta kala cinta datang menjerat."

Taehyung mendengus, menarik sudut bibirnya. "Jadi kau lebih suka mengatakan bahwa Turandot tidak bersalah sama sekali? Yang salah adalah pria-pria itu karena begitu bodohnya jatuh cinta pada Turandot?"

"Sebetulnya," ucap Eliza, "pertanyaan awalku adalah soal Jungkook."

Taehyung mengatupkan bibirnya.

Eliza menatap Taehyung beberapa saat, sebelum kembali membuka suaranya, "Turandot tidak menjebak mereka, tidak meminta mereka, tidak menuntut mereka untuk mencintainya. Semua pria itu mencintainya karena itu adalah pilihan mereka sendiri. Dan seperti yang kaubilang, bisa saja mereka mengurungkan niat bodoh mereka untuk mencoba menyelesaikan teka-teki Turandot, melupakan Turandot, dan mencari gadis lain yang lebih normal dari Turandot untuk jadi istri mereka agar semuanya hidup berbahagia untuk selama-lamanya, seperti seringkali akhir dari kisah dongeng katakan.

Tapi tidak, kenyataan tidak semudah itu. Cinta adalah hal yang menarikmu paksa ke dalam lingkaran blackhole yang mengerikan dan tak berujung. Kau tidak tahu apa yang ada di ujung sana, namun kau tak kuasa untuk menolak dari daya yang menarikmu itu. Kau akan bahagia, namun kau juga akan terluka. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesedihan. Tidak mungkin ada cinta tanpa air mata.

Setidaknya, paling tidak satu kali dalam hidupmu kau akan menangis karena orang yang kaucintai. Air matamu akan jatuh saat kau merasa sangat bahagia bersamanya, dan kau akan menangis lebih banyak saat maut menjemputnya dan memisahkan kalian. Cinta tidak hanya indah, namun kau memikul risiko-risiko untuk terluka saat kau memutuskan untuk jatuh cinta.

Tentu saja kau tidak betul-betul memutuskan untuk jatuh cinta atau tidak. Kau tidak memilih cinta. Cintalah yang memilihmu. Kau tidak bisa menentukan kepada siapa kau akan jatuh cinta. Dan itu bukan salah siapa-siapa. Bukan salahmu mencintai seseorang, dan bukan salah orang itu karena kaucintai."

Taehyung menatap pantulan wajahnya dalam cermin besar di hadapannya. Perlahan namun pasti sosok yang ada dalam cermin itu tidak seperti dirinya. Ini adalah dirinya, namun bukan dirinya. Dan ini bukan drama yang biasa diperankannya untuk klub di universitasnya. Ini adalah babak drama kehidupan yang dipilihnya saat ia memutuskan untuk menerima tawaran Park Jimin dan Jeon Jungkook dua hari yang lalu di kantin universitas.

"Kalau begitu salah siapa?" Taehyung menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin sama sekali.

"Tidak ada yang salah dengan cinta. Yang salah adalah jika kita memaksakan perasaan cinta pada seseorang," jawab Eliza.

Dan Taehyung bersumpah ini adalah kali kedua ia mendengar kalimat yang hampir sama persis dengan yang barusan dikatakan Eliza itu.

"Tidakkah kau berpikir bahwa kisah cinta sebenarnya memiliki pola yang hampir sama?" Taehyung angkat bicara.

Eliza menatapnya tanpa menyahut.

Sama seperti bagaimana Lucifer akhirnya berbalik membenci Tuhan dan ingin Tuhan membencinya karena rasa benci sama kuatnya dengan cinta.

"Bagaimana dengan akhir kisah Turandot?" Taehyung melirik sedikit. "Ia mendapat karma atau semacamnya?" Jika ini adalah dongeng yang diciptakan seorang pujangga Persia, ia rasa ada makna dan pesan kehidupan yang terkandung di balik kisah ini dibandingkan dengan keseruan akan kisahnya itu sendiri.

"Kau akan mendengar endingnya lain kali." Eliza memoleskan senyum di wajahnya yang tak muda lagi.

Taehyung baru saja akan protes, ketika Myra memotongnya dan memintanya untuk memejamkan mata karena ia akan memulas eyeliner di sekeliling kelopak mata Taehyung.

.

.

.

.

.


Jeon Jungkook menatap pemandangan di hadapannya seolah kedua kelopak matanya telah lupa caranya untuk berkedip. Bagaimana tidak, Kim Taehyung, pemuda yang dibawanya kemari dua jam lalu, kini telah menjelma menjadi seorang wanita yang seolah ditarik keluar dari dalam buku dongeng bergambar yang penuh fantasi.

Gaun dengan panjang menjuntai hingga ke lantai yang dikenakan Taehyung itu memiliki renda keunguan lembut di bagian bawahnya yang dijahit halus dengan benang emas dan manik-manik permata amethyst yang berwarna ungu transparan menjadi putik-putik mahkota bunga imitasi yang dibentuk dari organza yang secara apik mengelilingi gaun yang mengembang berkat penggunaan crinoline yang menggembung di balik gaun yang dikenakannya, menimbulkan efek mengembang di bagian belakang tubuhnya dalam proporsi yang sempurna untuk menonjolkan lekuk pinggang dan pinggulnya.

Korset kencang dengan kait dan tali-temali yang kuat dipasang di pinggang Taehyung, yang sebisa mungkin membuat pinggang Taehyung yang memang pada dasarnya sudah ramping dengan lingkar pinggang kecil itu terlihat lebih kecil lagi. Eliza sangat bersungguh-sungguh dengan semua ini, hingga ia betulan membuat Taehyung mengenakan camisole dan drawers, lengkap dengan bustle di balik gaun mewahnya itu. Taehyung mati-matian menolak dan berkata bahwa siapa juga yang akan melihat dan menilai pakaian apa yang dikenakan Taehyung di balik gaun Victoria-nya. Namun Eliza tak kalah ngotot dan membalas bahwa drama terbaik lahir dari totalitas dan penghayatan aktor-aktor pemainnya.

Paling tidak, Taehyung masih sedikit bersyukur karena Eliza tidak memaksanya mengenakan celana dalam perempuan, ya Tuhan.

Bagian atas gaun itu memiliki model sabrina berleher super rendah yang nyaris off shoulder, memperlihatkan bahu Taehyung yang lembut dan kecokelatan. Lengan gaun yang membalut lengan bagian atasnya menyembunyikan otot bisepnya—walau tubuhnya tak seatletis Jeon Jungkook, jangan berpikir ia tidak punya otot seperti pria sejati juga, hei!

Lengan gaun yang terbuat dari satin putih bertumpuk sutera lavender itu membalut lengan hingga sikutnya dengan ketat, namun tumpukan kain yang beraksen tumpuk dan berpita itu menyamarkan lekuk otot lengannya dengan baik. Dari bagian sikut, menjutai hingga pergelangan tangannya, lengan gaun yang membentuk terompet dan berhiaskan pita-pita ungu di ujung-ujung lengan gaunnya.

Gaun putih bercorak lavender itu tertutup di bagian dadanya, dengan sebuah pita besar dari crinoline yang dibungkus chiffon berwarna putih keunguan dan bunga bermahkota besar dari kain organza berwarna violet muda tepat di tengah-tengah pita, menyembunyikan fakta bahwa tidak, Kim Taehyung tidak punya buah dada dan ia bukan perempuan sungguhan.

Sebuah permata rubi dengan ukuran yang cukup besar diletakkan tepat di bagian tengah bunga tadi sebagai putik bunganya, dengan sebuah kain merah transparan terkait di bagian bawahnya dan menjuntai ke bawah melingkari pinggul Taehyung hingga ke belakang dan kembali naik di bagian punggungnya, hingga menghilang dalam lipitan bagian belakang gaun mewah itu di punggung Taehyung yang terbuka. Sebuah kalung dari pilinan renda kain bergaya choker melingkari leher Taehyung, menyembunyikan otot leher dan jakunnya. Lagi-lagi batu permata—kali ini amethyst menghiasi bagian tengah aksesoris yang sedikit membuatnya geli itu.

Wig panjang berwarna chestnut burgundy yang ikal dan bergelombang kini telah disulap membingkai wajah Taehyung dengan sempurna, warna ungu kecokelatannya yang tajam dan berani itu menimbulkan kesan seksi dan bergairah. Rambut itu dipilin menjadi gelungan tinggi di bagian atas kepalanya, sementara sisanya yang lain dibiarkan menjuntai curly di belakang kepalanya. Poni yang tipis-tipis melengkung ke arah dalam di keningnya, dengan helaian rambut panjang bergelombang di masing-masing sisi wajahnya.

Dan riasannya. Riasan yang luar biasa itu telah menyulap wajah Taehyung menjadi betul-betul berbeda. Jika biasanya kesempurnaan wajah Taehyung dapat membuat iri dewi-dewi, kali ini kejelitaannya yang tiada tara itu bagaikan sebuah kecantikan terlarang yang tidak seharusnya pernah ada di muka bumi. Wajahnya yang oval dengan dagu runcing dan hidung mancung itu kini telah disihir menjadi sepuluh kali lipat lebih sempurna lagi.

Tidak, Jeon Jungkook tidak bercanda saat ia bilang ia percaya pada kemampuan Eliza dan timnya. Namun Jungkook tak pernah mengira bahwa hasilnya akan seluarbiasa ini. Perona pipi merah muda yang disapukan lembut di wajah Taehyung membuatnya terlihat malu-malu. Kedua kelopak matanya dibingkai oleh pewarna mata emas keunguan dengan bulu mata palsu yang sedikit lebih panjang dari bulu mata asli Taehyung yang memang sudah panjang, lentik dan rapat berwarna hitam gelap berkat sapuan mascara. Penggunaan eyeliner hitam yang dengan sempurna menonjolkan ketajaman sekaligus kelugasan bola matanya yang kini mengenakan lensa kontak berwarna semerah permata rubi di dadanya.

Bukan hanya Aphrodite, bahkan ia rasa Cliodhna, Hathor, Freyja, Xochiquetzal, Oshun, dan entah dewi-dewi kecantikan apa lagi yang ada di jagat raya ini, akan berpikir dua kali untuk menyebut diri mereka wanita tercantik di dunia di hadapan Kim Taehyung, tidak, Venusnya yang semolek dan secantik peri ini. Bahkan jika Putri Turandot itu nyata, putri berdarah dingin itu mungkin akan menangis melihat kejelitaan Venusnya yang tiada tara.

"Kau….…" Jungkook berujar setengah berbisik setelah sekian lama mematung menatap Taehyung tanpa berkedip, "Venusku yang sempurna."

Taehyung menggigit perlahan bagian bawah bibirnya yang diberi lipstik cair berwarna semerah mawar yang tengah mekar-mekarnya, membuat Jungkook menatap bibir yang terlihat menggoda dan mengundang itu sedikit lebih lama dari yang sewajarnya ia lakukan pada teman dansanya.

Taehyung memiringkan kepalanya sedikit, membuat helaian rambutnya berayun perlahan saat ia tersenyum kecil. "Kabar bagus, kurasa?" bisiknya. Eliza telah mengajarkannya untuk berbicara menggunakan suara alto yang lembut agar penyamaran ini berjalan dengan sempurna.

Jeon Jungkook bohong jika ia bilang suara alto wanita yang dalam, rendah, dan berwibawa itu tidak mengingatkannya pada imajinasinya tentang Ratu Victoria. Tidak pernah satu kalipun dalam hidupnya, ia bertemu dengan seorang lady yang sesungguhnya seperti perempuan-perempuan terhormat di era Victoria, namun ia berani bertaruh dengan semua harta kekayaan yang akan diwarisinya dari kedua orangtuanya bahwa jika seorang Victorian Lady itu nyata dan ada hingga saat ini, maka ia adalah Kim Taehyung dalam penyamarannya sebagai Venus.

Dan tepat seperti keinginannya (yang berulang kali ia tegaskan pada Eliza), bukan hanya keanggunan seorang wanita bangsawan terhormat yang berkelas, namun Taehyung memancarkan aura yang menggoda dan menggairahkan dengan tata rias yang lembut namun tajam dan molek itu.

Iris mata rubinya yang merah menyala dalam soket mata runcing seperti kucing itu membuat siapapun merasa bahwa diri mereka tengah berada di bawah tatapan seorang ratu istana yang mengamati setiap tarikan napas, denyutan nadi, aliran darah, dan degupan jantungmu dan tidak menoleransi kesalahan dan kelalaian sedikitpun. Seolah hanya dengan sabda dengan alto lembut namun tegasnya itu seluruh dunia akan berbalik melawanmu saat ia menginginkannya.

Jeon Jungkook memang meminta Eliza untuk menyihir Kim Taehyung menjadi seorang tuan putri yang sempurna, gadis tercantik di dunia, namun apa yang dilihatnya ini bahkan jauh melebihi ekspektasinya sendiri. Apanya yang gadis tercantik di dunia, Kim Taehyung yang dilihatnya saat ini adalah jelmaan dari peri cantik jelita yang datang dari negeri dongeng dan mengenakan mahkota ratu di kepalanya yang berbentuk hati. Hanya dengan berdiri diam di sana aja tanpa perlu melakukan apa-apa, Kim Taehyung saat ini bisa membuat Michael Angelo bersujud di bawah kakinya dan memohon untuk memahat patung dari pencitraan dirinya untuk disandingkan dengan Ares sang Dewa Perang.

Siapa yang bilang wanita cantik adalah wanita yang lemah lembut dan tak berdaya? Tak pernah Jungkook lihat wanita secantik dan semempesona ini dalam hidupnya, bahkan ia tak keberatan menerima protes dari ibunya sendiri karena menanggap Venusnya ini adalah yang paling sempurna dari semua wanita yang pernah ditemuinya.

Sesuatu dari cara Taehyung menatap, caranya berjalan, caranya bicara, membuat Jungkook tak dapat mengalihkan pandangan barang sedetikpun. Demi Tuhan, bahkan Kim Taehyung mengibaskan tangan dengan wajah cemas di depan wajahnya saja terlihat begitu menggemaskan.

…Tunggu.

Jungkook tersentak, kembali dari dunia khayalnya ke dunia nyata setelah akal sehatnya mampu mencerna apa yang ada di hadapannya itu dengan baik kembali.

"Kau mengatakan sesuatu?" Jungkook berdeham, menjaga wibawa dan image-nya dengan baik. Boleh saja Kim Taehyung ini terlihat begitu memikat dalam sosok Venus, namun bagaimanapun Kim Taehyung adalah Kim Taehyung. Dan ia seorang laki-laki. Laki-laki. Demi Tuhan.

"Bulu mata palsu ini membuat mataku berat dan aku mengantuk. Sebaiknya kita segera pergi ke pesta itu dan buat semuanya bertepuk tangan secepat mungkin sesuai keinginanmu." Taehyung menguap kecil. "Dan duduk dalam waktu yang sangat lama sambil didandani itu membuat ngantuk, jika kau ingin tahu."

—Oke, lupakan soal ratu yang penuh wibawa tadi.

Kim Taehyung tetaplah Kim Taehyung, secantik apa pun ia menjadi Venus. Dan ia harus melakukan sesuatu pada kepribadiannya itu.

Jungkook menjulurkan tangan padanya, memutuskan bahwa memulai pertengkaran dengan Kim Taehyung di butik Eliza sementara mereka belum melangkahkan kaki keluar barang semeter pun dari tempat ini bukanlah ide yang bagus.

"Pesta dansa akan segera dimulai. Izinkan aku dengan segala kerendahan hati menjadi satu-satunya pasangan dansamu malam ini, Venus." Jungkook melengkungkan bibirnya, memberikan senyuman terbaik yang bisa dilakukannya. Ia tidak terlalu pandai dalam interaksi sosial dan segala bentuk intimasi yang terkandung di dalamnya, seperti tersenyum ini, namun ia yakin ia akan sanggup melakukannya jika ia memang berusaha.

Yang, sayangnya, tak ada satu orang pun yang bisa membuatnya ingin berusaha sekeras itu hingga saat ini.

Jungkook yakin, paling tidak sedikit saja Kim Taehyung akan balas tersenyum kepadanya, mungkin dengan sedikit malu-malu dan rona merah di pipinya, seperti yang selama ini kadang dilakukan wakil ketua klub drama itu saat mereka sedang bersama. Namun rupanya ia salah besar. Kim Taehyung sama sekali tidak tersenyum.

Bibir merah mudanya terkatup rapat dengan kedua mata membulat, namun detik berikutnya Kim Taehyung menatapnya dengan angkuh seperti biasa. "Aku ingin ini cepat selesai," ucapnya.

Entah apa yang terjadi, namun Jungkook merasa ingin menyangkal ucapan Taehyung itu. Tidak, ia tidak ingin ini berakhir dengan cepat.

Namun yang keluar dari mulutnya saat ia menggamit tangan Taehyung yang lebih kecil darinya itu adalah, "Berpura-puralah kau menikmati ini semua karena itulah yang juga sedang kulakukan."

.

.

.

.

.

Di balik pintu ruang ganti, diam-diam Eliza dan Myra mengintip kedua insan yang larut dengan pikirannya masing-masing itu dan memperhatikan mereka sejak awal Taehyung keluar dengan busana fantastisnya.

Myra menoleh pada Eliza. "Kenapa Jungkook-ssi tidak bilang saja kalau ia merasa Taehyung sangat cantik dan ia sangan senang telah memilih Taehyung untuk jadi teman dansanya malam ini?"

Eliza menghela napas panjang dan menimpali, "Kurasa aku harus melakukan sesuatu atau kedua anak itu tidak akan saling mengerti satu sama lain." Eliza melepaskan kacamata bingkai emasnya. "Tidak dengan kekeraskepalaan mereka itu."

.

.

.

.

.

.

.


Bagai kupu-kupu yang berkumpul, dipandu oleh cahaya fairy lamp dan chandelier yang tergantung di beberapa tempat di dalam ballroom, para tamu pesta dansa yang mewah dan elegan itu asyik bercakap-cakap dan tertawa kecil dengan menjaga keanggunan mereka. Yang wanita membawa kipas berbulu yang sesekali ditempelkan di depan mulut mereka saat mereka tertawa, sementara yang pria memasukkan kedua tangan mereka ke dalam saku celana bak bangsawan era Victoria yang sesungguhnya.

Benar apa yang dikatakan Jeon Jungkook. Lingkungan bisa sangat berpengaruh terhadap cara seseorang bertingkah laku. Dan malam ini, semua teman-teman universitas Taehyung seolah menjadi orang lain yang lebih beradab dan tenang daripada biasanya. Semuanya tampak larut dalam suasana Britania Raya tempo dulu, didukung oleh dekorasi ballroom pesta yang didesign sedemikian rupa agar menyerupai ballroom era Victoria yang sesungguhnya. Puluhan fairylamp, dengan chandelier yang menopang ratusan lilin, piring-piring, gelas, dan alat makan yang terbuat dari perak yang telah digosok mengkilat, serta aneka sajian makanan dan minuman khas Britania, membuat siapapun yang berada di sana seolah tengah menjelajah waktu dan kembali ke era Rennaisance.

"Kau siap?" Jeon Jungkook yang berdiri di sampingnya, menggamit telapak tangannya dengan penuh perhatian dan elegansi, menatapnya dengan senyuman di bibir merahnya.

Taehyung merutuki dirinya yang lagi-lagi tak sanggup menahan debaran di dadanya saat tuan muda keluarga Jeon itu melemparkan senyuman yang sungguh berdosa itu padanya. Taehyung membuang muka, mengangguk tanpa menyahut.

Kim Taehyung berjalan bersisian dengan Jeon Jungkook yang menggamit lembut tangannya di udara, meniti satu demi satu anak tangga menuju ballroom yang meriah oleh tawa canda dan gemerlap pesta. Taehyung menunduk, memastikan ia tak menginjak gaunnya saat sebelah tangannya yang bebas mengangkat rok gaunnya sedikit seraya menuruni tangga. Sejenak bayangan Eliza yang berkata bahwa ia harus tersenyum apa pun yang sedang dilakukannya, apa pun yang terjadi, dan ia secara autopilot memoleskan senyum di wajahnya.

Dan saat itulah tiba-tiba terdengar suara nyaring yang menyeruak gendang telinganya, "Jeon Jungkook! Sungguh itu kau?"

Taehyung mengangkat kepalanya, melihat siapa yang menyadari kedatangan mereka berdua itu.

Seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap, tersenyum dengan lesung pipit yang tampak kontras dengan wajahnya yang kaku dan berkesan tak peduli pada apa pun itu, menghampiri anak tangga terbawah dan menunggu mereka di sana. Siapapun pemuda itu, Taehyung yakin adalah salah satu teman Jungkook, dan mungkin adalah salah satu anggota klub basketnya yang perlu ia tipu dengan penyamarannya ini.

"Namjoon-hyung," sapa Jungkook di sampingnya pada pemuda berambut platina tadi.

Pemuda yang dipanggil Namjoon itu melambaikan tangan pada Jungkook dan bersiul setelah mengalihkan pandangannya pada Taehyung.

Taehyung merasa tak nyaman ditatap seperti itu, jadi ia mengalihkan tatapannya kembali pada karpet Persia merah yang tengah dituruninya satu per satu dengan anggun.

"Kupikir kau membual ketika kaubilang akan membawa gadis tercantik sedunia ke pesta ini. Kurasa aku berhutang seratus ribu won pada Seokjin." Namjoon tanpa malu-malu berdecak kagum, dan Taehyung yakin benar bahwa pemuda itu masih menatapnya tanpa berkedip.

Mereka telah sampai pada anak tangga terakhir, dan Jungkook membantunya merapikan bagian belakang gaun putih lavendernya yang sedikit tidak rapi saat menuruni tangga barusan. Taehyung masih belum bisa memutuskan apa yang akan dilakukannya, jadi ia memilih diam dan membiarkan Jungkook mengarahkan segalanya. Menyusun rencana mengenai apa yang akan dilakukannya dan benar-benar melakukan hal itu adalah dua hal yang berbeda.

Taehyung tidak bisa mengingat apa yang harus dilakukannya saat menerima tatapan lekat penuh minat dari ujung kaki sampai ujung kepala dari teman-teman Jeon Jungkook, karena demi Tuhan, hal itu tidak ada dalam tips dan trik Eliza untuknya! Siapa yang menyangka bahkan teman-teman Jeon Jungkook akan bereaksi seperti ini.

"Kalian bertaruh?" Jungkook menjabat tangan Namjoon dan mereka melakukan gerakan highfive singkat khas anak-anak tim basket universitasnya yang pernah Taehyung lihat Jimin melakukannya dengan Yoongi saat Jimin merengek meminta kekasihnya itu mengajarinya.

"Seokjin akan jadi kaya raya malam ini," aku Namjoon. "Tiga per empat anak klub bertaruh bahwa kau tidak akan membawa pasangan dansa yang lebih baik dari Oh Sehun."

Jungkook mengangkat sebelah alisnya yang telah dicukur rapi dan dibentuk dengan sempurna. "Jadi hanya seperempat anggota klub kita saja yang bisa menggunakan otak mereka dengan benar?"

"Hati-hati dengan bicaramu. Mereka punya telinga di mana-mana, dan akan membuat ucapanmu itu jadi alasan bagi mereka memintamu diturunkan dari posisi kapten dan digantikan oleh Oh Sehun." Namjoon menyeringai kecil.

"Kau juga bertaruh untuk kekalahanku," ujar Jungkook menarik sudut bibirnya.

Namjoon mengedikkan bahunya tak acuh. "Kupilih pilihan yang tidak dipilih Jin."

Jungkook menatap teman satu klubnya itu untuk beberapa saat dengan kening berkerut samar.

Taehyung tidak mengenal Seokjin atau Jin yang sedang mereka singgung itu, namun instingnya—yang telah terbiasa dengan kemesraan Jimin dan Yoongi yang tak kenal waktu dan tempat itu—mengatakan bahwa ada sesuatu antara Namjoon dan orang bernama Seokjin itu, dan itu tidak sesederhana persahabatan biasa. Namun tentu saja, jika Jeon Jungkook sebegitu tidak pahamnya dan Namjoon tidak memberitahunya dengan terang-terangan, bukan tempat Taehyung untuk berkomentar dan memberitahu Jungkook.

"YA TUHAN, KAPTEN! Siapa yang kaubawa itu? Di mana kau bertemu dengan noona secantik itu?!" Suara kencang yang dramatis terdengar di udara, membuat banyak mata teralih dan kini menatap ke arah Taehyung dan Jungkook.

Jantung Taehyung berdegup kencang. Bukan hanya karena kini semua mata memandangnya, namun juga karena si pemilik suara kencang barusan menyebutnya noona. Bagaimana orang itu bisa tahu bahwa ia lebih tua dari Jungkook? Bukankah penyamarannya sempurna? Kan?

Jungkook merentangkan sebelah tangannya di depan Taehyung, membatasi pemuda bersuara kencang itu untuk tidak mendekat lebih dari saat ini. "Kau hanya boleh melihatnya, Hoseok-hyung. Boleh dilihat, tapi tidak untuk disentuh. Dia milikku."

Jangan salahkan Taehyung yang merasa tiba-tiba tubuhnya oleng, salahkan Jeon Jungkook yang tiba-tiba berkata seperti itu! Taehyung terbatuk kecil dan menggunakan kipas violet beraksen bulu selembut marshmallow untuk menutupi wajahnya yang merona. Tidak, tidak, tidak. Ia tidak merona. Ini efek blush on!

Pemuda yang dipanggil Hoseok itu tertawa dan mundur selangkah. "Whoa, whoa, tenang. Aku tidak punya hobi merebut pacar orang." Ia mengedipkan sebelah matanya pada Taehyung. "Yah, jika gadis ini pacarmu, tentunya."

Taehyung dapat menangkap maksud Hoseok. Jadi jika Jungkook berkata bahwa Tidak, ia tidak pacaran dengan Taehyung, maka Hoseok tak akan ragu untuk berusaha mendapatkannya.

Jungkook melingkarkan tangannya di pinggang Taehyung yang ramping—dan kini terlihat lebih ramping lagi berkat korset kencang yang dikenakannya dengan penuh penderitaan—dan mendekatkan wajahnya pada rambut (wig) Taehyung yang penuh aksesoris bunga dan bulu angsa imitasi di puncaknya dan mengecup kepalanya singkat. "Kabar buruk untukmu, Hyung. Venus tidak tertarik pada siapapun selain aku."

Taehyung tidak tahu otak (dan hatinya) harus bereaksi pada yang mana dulu. Pertama, Jungkook sama sekali tidak memberikan konfirmasi mengenai hubungannya dengan Taehyung pada Hoseok, namun ia dengan penuh percaya diri mengatakan bahwa Taehyung tidak tertarik pada Hoseok dan hanya tertarik padanya seorang. Kedua, dan ini yang paling mengerikan, adalah betapa benar apa yang dikatakan Jeon Jungkook itu. Namun tentu saja Taehyung hanya akan mengakuinya jika ada bintang jatuh tepat di bawah kakinya. Dengan kata lain, tidak mungkin.

"Venus?" Hoseok menautkan kedua alisnya.

"Lihat siapa yang datang." Sebuah suara lembut yang seolah berbisik namun penuh sensualitas terdengar dari balik punggung Hoseok menghampiri mereka.

Taehyung mengerjap, merasa seperti pernah mendengar suara itu entah di mana. Tidak begitu familiar, namun cukup membuatnya berpikir untuk mengingat sesuatu yang telah dilupakannya dengan tidak sengaja.

"Jeon Jungkook, dengan gadis tercantik sedunia yang jadi pasangan dansanya di pestaku malam ini." Kini Taehyung tahu bahwa pemilik suara lembut yang seperti berbisik itu adalah Oh Sehun, si penyelenggara pesta dansa, namun sungguhpun ia mengingat-ingat, rasanya ia tak pernah bercakap-cakap dengan orang bernama Oh Sehun ini sama sekali sepanjang kehidupannya di universitas.

Di mana ia pernah mendengar suara Oh Sehun?

"Aku selalu menepati janjiku." Jungkook menyunggingkan senyum seringai yang sama sekali tak menyembunyikan kebanggaannya. Jungkook mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Taehyung.

Oh Sehun menatap Taehyung tanpa berkedip, seperti bagaimana teman-teman Jungkook yang lainnya—Namjoon dan Hoseok, menatapnya. Namun ada yang berbeda dari cara Sehun menatapnya.

Tidak, entah bagaimana, Taehyung berpikir bahwa Oh Sehun ini tidak tertarik padanya sebagaimana Namjoon dan Hoseok terpana melihatnya. Oh Sehun tengah mengamati dan menilai Taehyung dengan seksama.

"Karena pemeran utamanya sudah datang, kuperkenalkan." Jungkook mendorong tubuh Taehyung sedikit ke depan agar teman-temannya dapat melihatnya dengan lebih baik. Saat ini, beberapa teman klub Jungkook juga telah berkumpul menghampiri mereka.

Taehyung berusaha tidak terlihat canggung dan gugup sama sekali. Ia sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, tapi tidak dalam situasi dan penampilan seperti ini. Saat bermain peran di atas panggung, semua orang tahu ia sedang bersandiwara. Jadi ia tak merasa gugup sama sekali. Namun saat ini, semuanya sangat penuh ketidakpastian. Tidak ada skenario, tidak ada sutradara, tidak ada yang bisa memberitahunya apa yang harus dilakukannya saat ini dan apa yang akan terjadi setelah ini.

Dan, Demi Tuhan, segala sesuatu yang tak dapat diprediksinya membuatnya gelisah.

"Seperti janjiku pada kalian semua, malam ini kuhadirkan gadis tercantik di dunia. Kalian bisa memanggilnya Venus." Jungkook menunjuk Taehyung dengan telapak tangannya, membungkukkan badannya sedikit seolah apa yang diucapkannya barusan adalah hal yang sakral dan ia berbicara mengenai seorang putri raja.

"Venus?" Oh Sehun mewakili pertanyaan sejuta umat. Semua anggota klub basket yang hadir di sekeliling mereka menatap Taehyung dengan pandangan heran sekaligus takjub dengan kecantikannya yang bagaikan memiliki efek magis.

Jungkook mengusap lengan Taehyung dari belakang, berdiri dekat sekali dengan Taehyung dan membuat Taehyung mengulang mantra bagi jantungnya untuk tetap tenang dan tak berulah karena pingsan di pesta dansa rasanya terlalu klise.

"Hanya itu yang perlu kalian ketahui tentang Venusku. Informasi lainnya tidak untuk diketahui." Jungkook menarik sudut bibirnya.

Oh Sehun menatapnya untuk beberapa saat, dan Taehyung tidak bisa tidak merasa tak nyaman di bawah tatapan yang seolah melihat jauh ke dalam dirinya itu.

"Lalu? Mana pasangan dansamu?" Jungkook kembali berujar, masih dengan intonasi penuh kepercayaan dirinya yang membuat Taehyung lemas mendengarnya sedekat ini dengan cuping telinganya.

Dan detik berikutnya, jawab yang keluar dari bibir Oh Sehun membuat Taehyung merasa bola matanya akan copot dan meloncat keluar dari soket matanya.

"Kim Taehyung datang dengan orang lain."

.

.

.

.

.

~* TBC *~


.

Author Note:

Yay! Akhirnya semua pemeran utama udah diletakkan di atas papan catur dan siap menari bersama. Mwahahah. X3

Nggak dicek ulang, keburu capek orz. Kalau ada typo mohon dimaapkan. Dibenerin secepatnya. TT_TT

Feedbacks are always appreciated! :3

.

.

Special Thanks To:

outout, Ichimaru Kyoshiro, cutebei, babydeer, Jell-ssi, Ansleon, ichizenkaze, Matsuoka Rose, Sugahoney, Nikken969, viertwin, jeonyounjae, TyaWuryWK, Pra, rizqiqaharini, Crushathena, Strawbaekberry, A.M.S taetae95, Adelia335, tryss, vkookkkk, sanaa11, HyeraSung, dila kim, michaelchildhood, Yozora-MKline, dan guest-guest tak bernama yang udah ninggalin jejak di chappie 3 lalu. :D

Maap yah ga sempet reply, FFN di hape diblokir sama Telkomsht jadi aku kesusahan buka FFN kalau lagi nggak main laptop. TT_TT Tapi aku seneng banget baca komentar-komentar kalian semua. Mamacih dukungan semangatnyaaa. XD *kasih gulali satu-satu*

Menjawab pertanyaan paling populer dari chapter lalu:

Kisah tentang Lucifer itu beneran kayak gitu, berdasarkan kisah Fallen Angel Lucifer dari kitab Hebrew. Cuman bagian cinta-cintaannya hasil buah pikiran dan imajinasi aku aja.. xD;; Dalam kisah aslinya, cuman dibilang bahwa Lucifer jadi sombong dan tamak, pengen jadi Tuhan dan ngunggulin Tuhan. Jadi aku tambahin bumbu romantisme. ;)

Oh, dan soal pemilihan nama Venus buat Taetae di chapter ini. Tahukah kalian kalau nama lain Lucifer sang Bintang Fajar adalah Venus The Morning Star? 8) *kemudian author kabur sebelum spoiler lebih banyak* *ditimpukin reader*