Rated: T
Genre : Hurt/Comfort
Summary : Chapter 4, update! Jya is moody right now. It is related to Lucci, so what happen? No Yaoi.
Disclaimer : OnePiece © Eichiro Oda
A/N: Seperti yang aku bilang, ini aku buat bukan cuma liburannya Lucci x Kalifa, tapi juga liburan member ex-CP9. Aku nggak berharap terlalu banyak review, soalnya ini chara minor, villain pula! *seperti biasa* Tapi buat yang mau baca dan meninggalkan jejak, aku matur merci beacoup! Nggak ada warning, jadi flame is allowed, hehehe...
oOoOoOoOoOoOo
Chapter 4 : Jya's Problem
Laki-laki itu mendesah pelan. Dia hanya memandangi laut yang terlihat dari beranda dengan kosong. Beberapa detik kemudian dia kembali mengulang kegiatannya, menghela napas. Lalu memandang laut dengan kosong lagi. Dia menyentuh dadanya, merasakan jantungnya berdetak di dalam rongga rusuknya, seperti berkhianat.
Kalau memang terluka, mengapa rasanya sakit begini. Saat dia bilang menyukai 'orang lain'... orang itu menggeram pelan... 'orang lain' hatinya tidak sesakit ini. Ah, menyebalkan...
Dan hal itu berulang kembali, menghela napas, menatap laut, rasanya seperti orang bodoh. Dan terimkasih pada Kaku, dia mengatakan hal itu pada Jyabura.
"Diam kau, Kaku! Kau tidak tahu apa yang terjadi padaku." gerung Jya marah. Laki-laki tertua dalam grup mereka itu menggeram lagi, sesuai cirinya sebagai laki-laki serigala.
"Lho, bukankah kau memang ditendang bajak laut itu hingga pingsan? Jadi kau masih memikirkan kekalahan waktu itu?" Kaku bertanya.
Pemuda itu baru masuk kamar untuk mencari sesuatu sesuatu yang baru dia beli kemarin saat belanja baju. Tepat ketika dia melihat Jya yang biasanya berisik kalau sedang bangun, dan berisik juga kalau dia tidur, karena laki-laki itu mendengkur, tengah memandang laut dan menghela napas. Seperti yang dia katakan tadi, mirip orang bodoh. Membuatnya penasaran.
Jya sepertinya sudah akan berubah jadi serigala saat mendengar kata-kata Kaku yang tidak berperasaan. Tidakkah anak itu pernah merasakan hal yang sama dengannya? Ah, mungkin belum... Karena sudah menjadi member CP9 sejak masih sangat muda, rookie sepertinya pasti sangat memedulikan misi.
"Lupakan saja." katanya.
"Eh?" Kaku terkejut. Jyabura yang berisik itu tiba-tiba diam? Aneh...
"Kau ini sakit perut, ya?"
Satu pertanyaan yang tidak kurang berperasaannya dari pertanyaan sebelumnya.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin berdebat."
Baiklah, kelakuan Jyabura sudah sangat aneh. Kaku jadi berpikir-pikir lagi, hal apa yang bisa membuat Jyabura yang kasar dan tukang bohong itu menjadi moody yang tidak jelas begini? Rasanya hal itu pernah terjadi sebelumnya...
Kalau tidak salah sekitar 5 tahun lalu, atau 6? Mereka memang sudah lama tidak bertemu, tapi kejanggalan Jyabura ini bukan satu hal biasa yang bisa dilupakan begitu saja.
Dan kalau tidak salah, waktu itu masalah ini terkait dengan...
"Kau belum pergi juga?" Jyabura bertanya lagi, kali ini dengan nada jengkel. Pengganggu ini mengganggunya disaat dia berkabung begini, menanyainya macam-macam, menyebalkan!
"Jya..." panggil Kaku dengan nada lembut, matanya menunjukkankeprihatinan.
"Hei, apa-apaan kau memandangku begitu? Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" balasnya sengit.
" Ah, tidak. Aku hanya sedang mencari sesuatu." Kaku berubah pikiran, dia memutuskan yang lebih tua untuk mengurus urusannya sendiri. Dan sepertinya Jya tidak akan mau menerima penghiburan darinya, tidak kalau egonya saja sudah menolak dari awal begini.
"Kalau begitu cepat temukan apa yang kau cari dan pergilah! Aku ingin sendirian."
"Tentu." Kaku mengangkat bahu, dia membuka lemari dan mengambil tas yang lain, memeriksa isinya dan menemukan sebuah kantung. Senyumnya terkembang kemudian.
"Aku sudah menemu..." Kaku berhenti, dia memandang beranda yang kosong. "Jya? Kau pergi?"
Kaku hanya bicara pada udara. Kamar itu sudah kosong.
oOoOoOoOoOoOo
Kembali pada Jya, laki-laki itu sudah meloncat dari beranda sebelum Kaku menyelesaikan urusannya. Kalau menunggu bocah itu... kesabarannya akan habis begitu saja, dan menjadi serigala hybrid akan sangat mungkin. Seperti yang dia katakan tadi, dia ingin sekali sendirian. Dan untuk urusan sensitif begini, dia tidak mau member lain melihatnya, pasti sangat memalukan. Egonya tidak mengijinkan hal itu terjadi. Jadi Jya menemukan sebuah tempat untuk 'menyepi'. Sebuah pohon yang tinggi di sebelah belakang pulau. Bagaimana dia bisa mencapai tempat itu, tanyakan saja pada Jya yang sedang moody. Akan sangat beruntung kalau dia mau menjawab.
Jya menyandarkan kepalanya pada batang yang lumayan kuat, dari sana dia bisa memandang pantai dengan jelas, pemandangan yang tidak terhalangi hingga lautan lepas.
Lautan lepas, ah sialan...
Gatherine? Apa kau ada di sana? Seberang lautan luas di Enies?
Tapi mustahil perempuan itu selamat dari Pluton kan? Atau mungkin ada officer yang melindunginya dari serangan bajak laut itu? Sepertinya harapannya terlalu muluk.
Di manapun kau berada sekarang, kuharap kau hidup...
Bibir yang jarang melengkungkan senyuman itu, sekarang melengkungkan sebuah garis tipis.
"Dengar, misi kali ini kau harus selamat. Aku tidak tahu misi macam apa yang kau dapatkan... tapi aku akan menunggu di sini. Jangan bertindak ceroboh, mengerti? Kita akan merayakan hari ulang tahunmu begitu kau kembali."
Saat itu Gatherine mengenakan baju merah. Merah, bukan merah muda. Dia tidak begitu menyukai warna-warna manis seperti itu, dan Gatherine tahu benar yang dia suka dan tidak suka. Rambutnya dikepang dua seperti yang bisa diingatnya. Saat itu mereka baru dua puluh.
"Gatherine, sudah kubilang berkali-kali ini hanya misi mudah. Aku akan kembali, bahkan tanpa tergores. Tapi aku akan menagih hadiahku." dia menjawab dengan senyuman.
Senyum yang tidak pernah dia lakukan lagi semenjak anak itu datang. Anak itu baru berumur 13 waktu itu, dan jauh lebih payah. Menyebalkan sekali... dalam waktu 3 tahun selanjutnya, anak itu merebut perhatian Gatherine darinya.
"Aishh! Mengapa aku malah teringat hal yang tidak ingin kuingat?"
Laki-laki itu menggerung kesal. Dia nyaris mematahkan batang tempatnya duduk.
"Kurupoh...kuru..."
Eh? Mengapa rasanya bunyi itu terdengar familiar?
Jya memandang sekitarnya, lalu menangkap seekor merpati yang tengah terbang mengitari pantai. Merpati itu punya sesuatu yang dililitkan di lehernya.
Bagus! Keluhnya.
Kalau begitu pemilik merpati itu pasti ada di sekitar sini. Jya menghela napas, tidak butuh waktu lama hingga dia menyadari hal lain yang familiar. Dua kepala yang ada di karang: satu pirang, satu hitam.
Ah, sudah dia duga. Si bodoh dan si pintar bersama... Jika Gatherine melihat mereka, tidakkah perempuan itu memahami hal ini? Perasaannya pada kucing itu sia-sia saja. Sepertinya kucing itu punya selera sendiri.
Terakhir kali dalam waktu singkat dia kembali ke Enies, berbarengan dengan Lucci dan timnya. Dia bahkan belum bertemu dengan Gatherine. Dan Gatherine juga belum tentu mau menemuinya, semua gara-gara bocah itu. Well, sudah bertahun-tahun sejak waktu itu, tapi baginya kucing itu masih seperti bocah. Dan baginya akan tetap seperti itu.
Mengapa dia harus melihat kucing itu? Dia ke sini untuk sendirian. Lepas dari jerapah, dia malah bertemu kucing menjengkelkan itu.
Jyabura menggeram kesal. Yah, meski sebenarnya dia berada lumayan jauh dari Lucci, melihat kepalanya saja dia sudah merasa terganggu. Lalu apa yang akan di lakukan? Menjauh lagi? Menyebalkan, dia jadi mondar-mandir begini.
Hmmm... Jya mengangkat sebelah alisnya.
Kalifa pergi? Lalu si kucing?
Lucci tetap di tempatnya, tidak. Lucci juga pergi, sial sekali... laki-laki itu berjalan ke arahnya, atau mungkin lebih tepat berjalan ke arah pohon tempat dia duduk sekarang. Jadi apa yang akan kucing itu lakukan? Memanjat?
Lucci berhenti di bawahnya, lalu mengangkat wajahnya.
"Jya, apa yang kau lakukan di sana?" tanya Lucci, sepuluh meter di bawah Jyabura.
Jya mendengus. Dia ingin pura-pura tidak mendengar atau melihat. Tapi melihat Lucci menyentuh batang pohon tempatnya duduk, alis Jya terangkat lagi, kali ini dua-duanya.
Kucing itu tidak serius ingin menggunakan shigan, kan? Sialan!
"Hei! Apa yang kau lakukan?" Jya melompat turun. Untuk menumbuhkan pohon setinggi dan sebesar ini diperlukan waktu puluhan tahun, dan meski tanaman di tamannya dulu hanya bonsai, dia juga merasa sayang dengan pohon sebesar ini.
Lucci mengembangkan senyum seringainya. "Sudah kuduga, kau pasti turun."
Jya memandang Lucci dengan kesal. "Memangnya apa maumu, mengapa kau menggangguku?"
"Aku yang ingin bertanya, mengapa kau ada di sini, mengawasiku kah?" Lucci menjawab dengan lebih tenang, dia menikmati saat-saat ketika Jya seperti akan meledak karena sikap dinginnya.
Jyabura memasang wajah seperti mau muntah, tapi kemudian dia mengalihkan pandangan. "Like hell I'll do. Aku di sini hanya kebetulan, tahu! Dan melihat kalian berdua seperti suami istri begitu membuatku ingin muntah."
Lucci memiringkan kepalanya. "Apa yang kau lihat?"
"Dasar menjijikkan."
Lucci tidak menunjukkan tanda-tanda akan marah, dia kembali memandang Jya dengan pandangan menyelidik. "Kau sedang marah padaku, Jyabura. Jelas bukan hanya karena aku hidup, kurasa?"
Jyabura mendesis. "Lupakan saja!" Dia berbalik dan berjalan cepat dengan kesal.
oOoOoOoOoOoOo
Sebuah ketukan terdengar di pintu kamar Jyabura. Jyabura menoleh melihat kasur Kaku yang kosong. Dia mengeluh. Apa bocah itu lupa membawa kunci lagi? Dasar merepotkan!
Ketukan kembali terdengar. "Sebentar, kau ini menyebalkan sekali!" Jyabura membuka pintu dengan kunci elektroniknya, lalu mengayunkan pintu dengan tidak sabar.
Bukan Kaku.
Tapi seseorang yang lebih tinggi, dengan hidung normal dan rambut hitam sebahu terurai, ditambah seekor burung putih yang bertengger di bahu laki-laki ini. Ekspresi wajah Jyabura langsung menggelap. "Apa maumu, Lucci?"
"Boleh aku masuk?"
"Tidak." Jya langsung menutup pintu, meski itu percuma. Lucci menahan pintu dengan tangannya, dan mendorongnya ke depan. Jyabura lupa kalau Lucci dua kali lebih kuat darinya sekarang. Salah satu hal mengapa dia membenci kucing itu. Dia hanya menggerutu dan melihat Lucci menerobos masuk, laki-laki itu duduk di kasur Kaku yang di mata Jya terlihat sangat arogan, seperti menandai wilayah teritorialnya. Meski sebenarnya Lucci duduk biasa-biasa saja.
"Aku ingin menyelesaikan sesuatu denganmu."
"Apa? Kau ingin duel?" Jya duduk di kasurnya sendiri setelah menutup pintu.
"Tidak. Aku akan menang telak kalau kita bertarung. Bukan itu."
"Lalu?"
"Ini mengenai sikapmu yang aneh, meski kuakui kalau dari awal kau memang sangat aneh."
"Grrrr."
"Dari apa yang dikatakan Kaku..."
Kaku? Apa yang bocah itu katakan pada kucing ini?
"Kukatakan aku ikut sedih."
Sedih katamu?
"Aku tidak tahu kalau kau bisa merasa sedih." Jya mencibir.
"Aku mengucapkannya sebagai formalitas. Kita tahu kalau Pluton sudah menghancurkan Enies Lobby, dengan populasi nol dari apa yang kudengar. Harapan naif seperti yang kau pikirkan itu hanya sia-sia dan tidak ada gunanya. Dia hanya manusia biasa. Bersikaplah realistis seperti yang dilatihkan mereka padamu"
"Sialan kau Lucci! Apa maksudmu dengan sia-sia?"
Dasar tidak berperasaan! Apa seperti ini laki-laki yang kau sukai, Gatherine? Dia bahkan tidak lebih baik dari sampah!
"Yang ingin kukatakan adalah, melihat masa depan jauh lebih bermanfaat dibanding masa lalu yang pahit. Kau tidak bisa mengubah kenyataan kalau dia sudah mati."
"Lucci!" Jyabura menggerung, dia menerjang Lucci dalam bentuk serigala, yang dengan mudah dielakkan Lucci. Sementara Hattori terbang ke beranda, menghindari pertarungan.
Lucci membalas serangan itu dengan satu pukulan, membuat Jya terlempar ke rak buku yang langsung hancur menjadi serpihan.
Jya berdiri dan menghilang dari pandangan. Sementara Lucci langsung berbalik, dia menangkis serangan Jyabura dari belakang. Kali ini laki-laki yang lebih tua itu segera mundur sebelum Lucci menyerang balik. Tapi Lucci adalah Lucci, jangan pernah meragukannya dalam satu pertarungan yang nyata. Dan sepertinya Jyabura melupakan hal itu. Lucci menangkap pergelangan tangan Jya dan membantingnya ke lantai yang menimbulkan suara berdebum.
Sebelum Jya sadar untuk melepaskan diri, Lucci sudah menahan lehernya dengan sebelah tangan, sementara tangan lain lurus terarah ke dadanya. Dalam posisi ini, secepat apapun dia bergerak untuk melepaskan diri, Lucci bisa merenggut jantungnya dengan mudah, atau menghancurkan lehernya menjadi serpihan.
"Ukh...sialan kau kucing liar!" umpatnya. Dia tidak pernah dikalahkan begitu mudah sebelumnya, dan kali ini Lucci, orang yang dia benci nyaris sepertiga seumur hidupnya, mengalahkannya tanpa bersusah payah.
Sialan!
Lucci memandang Jyabura dengan iba. "Dibanding menangisinya sekarang, kau bisa membalas kematiannya. Itu akan jauh lebih berguna, setidaknya untuk egomu."
"Grrrr..."
"Atau kau memilih untuk tetap seperti ini. Terpuruk menyedihkan sebagai kambing hitam, menangis karena seseorang yang sudah tidak ada."
"Ukh, lepas...kan aku." katanya dengan muka nyaris biru.
Lucci melepaskan tangannya. Dan Jyabura langsung bangkit, terbatuk sebentar sambil menyentuh lehernya yang pasti merah.
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Lucci tenang, mengawasi Jya yang ekpresinya berubah dari biru ke merah.
"Persetan denganmu Lucci, pergi kau! Aku tidak mau melihat wajah jelekmu!"
Lucci mengangkat bahu. Jyabura memang terlihat sangat marah, tidak ada gunanya bicara dengan orang bodoh ini sekarang. "Baiklah. Kalau begitu terserah padamu." Dia beranjak bangkit, lalu memandang Hatori yang masih bertengger di beranda. Seperti memahami pertanda tuannya, burung itu terbang menyeberang ruangan dan kembali ke tempat istimewanya, bahu Lucci.
"Selamat malam Jya, kuharap kau tidak menangis lagi seperti orang bodoh, besok. Atau aku mungkin merasa sangat muak dan menghabisimu."
"Dasar kucing sombong! Siapa yang bodoh hah? Aku yang akan menghabisimu!"
Lucci menyeringai lagi saat berjalan keluar.
oOoOoOoOoOoOo
Seorang pemuda berdiri menyandarkan badannya di dinding. Pemuda itu memiliki rambut sewarna wortel dan hidung yang panjang dan kotak dan dia memakai topi untuk menyembunyikan hal itu. Kaku menoleh ketika mendengar seseorang mendekat. Orang itu, yang dia tunggu. Lucci.
"Jadi, bagaimana?" tanyanya.
Lucci masih memiliki seringai di bibirnya, hanya saja lebih tipis saat dia menjawab. "Mungkin dia akan menangis malam ini, abaikan saja. Tapi kurasa besok dia tidak akan apa-apa."
Kaku tersenyum lebar. "Baguslah. Kau memang yang terbaik Luce."
Lucci mengerutkan kening. "Apa?"
Kaku menggelengkan kepala, masih dengan senyuman di wajahnya. "Bukan apa-apa. Heboh sekali tadi, mungkin manajer hotel akan mengecek ke sini." Dia bergegas pergi. "Aku akan tidur sekarang, selamat malam."
Lucci mellihat pemuda itu mengetuk pintu kamarnya di ujung, atau mungkin terkesan seperti menggedor. Dia memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Satu helaan napas, dan Lucci berjalan menuju kamarnya.
oOoOoOoOoOoOo
Apa Lucci kelewat cool di sini? Padahal dia selalu cekcok sama Jyabura... Tapi kalau kubuat Lucci seperti itu, masalahnya nggak akan selesai, ara O.o. Nggak terlalu banyak review juga nggak apa-apa. Soalnya aku cuma menepati janji, kalau aku bakal bikin fic Jyabura x Gatherine biarpun sangat-sangat slight. Tapi aku bingung sama genrenya? Hurt/Comfort? Tragedy? Friendship? Atau Romance? Ada yang bisa ngasih koreksi? Sementara kupasang di hurt/comfort dulu.
Ara, yang udah baca, aku bilang merci beacoup again. Aku sangad berterimakasih, termasuk flame... ingat, flame, bukan bashing! Gurae, fic selanjutnya aku belum ada ide, mungkin Kaku, terus Blueno dulu baru Kumadori dan Fukurou atau gimana? Tapi sebelumnya adakah yang tertarik dengan kelanjutan fic-fic begini?
_q
