Disclaimer: Durarara! © Ryohgo Narita & Satorigi Akiyo

Warnings: Sekuel 'Demam', OOC, typo, BL, fiksi yang panjang sekali, absurd, three-shots.


Demam: Mama & Papa?

ADDITIONAL CHAPTER I:

PAGI YANG CERAH

.

Pagi. Ya, pagi yang cukup cerah. Pagi yang cukup damai di kediaman Heiwajima/Orihara sekeluarga. Anggap saja di chapter ini sudah 5 bulan berlalu semenjak Shizuo dan Izaya memutuskan untuk membina keluarga di bawah satu atap.

Damai. Ya, damai, sebab pagi ini tidak ada suara berisik seperti biasanya. Seperti suara pekikkan dan rengekkan dua orang anak balita yang sibuk membangunkan orang tuanya. Tentu pembaca sudah bisa menebak siapa dua anak kecil itu. Siapa lagi kalau bukan Psyche Orihara dan Tsugaru Heiwajima.

Pagi ini kedua anak itu tidak ribut membangunkan kedua orang tuanya sebab mereka berdua terlalu sibuk. Terlalu sibuk mempersiapkan diri dihari pertama mereka masuk sekolah.

"Tsu-chan, kira-kira sekolah seperti apa, ya?~" tanya Psyche polos dengan raut ingin tahunya yang imut sekali.

"Hm, aku tak tahu juga, Psyche-kun. Kudengar sih itu tempat yang membosankan sebab kita diharuskan membaca buku-buku tebal yang tak bergambar! Kita juga diberi banyak tugas yang itu-itu saja, pokoknya merepotkan!" jawab Tsugaru sama polosnya, juga dengan nada tenang dan bijak. Entah ia mendapat gambaran tentang sekolah darimana, yang jelas Author tidak memberitahunya macam-macam.

"Aaaah!~ Separah itukah? Aku tidak mau membaca buku yang tak bergambar, Tsu-chan!~ Nanti mataku bisa jadi empat seperti Tsuki-nii." balas Psyche dengan raut khawatir dan lucu serta innocent.

Untung saja pembicaraan mereka saat itu tidak didengar pihak-pihak yang bersangkutan sebab kedua anak itu berbincang di dalam kamar mereka. Bukan hanya di dalam kamar, tidak ada makhluk lain yang hidup di rumah itu selain mereka berdua sebab kata 'pagi hari' bagi mereka yaitu benar-benar pagi, tepatnya pukul 5 dini hari.

Bayangkan saja pada jam segini biasanya kedua anak ini masuk ke kamar orang tua mereka dan merengek membangunkan mereka, tanpa peduli bahwa kedua orang tua mereka masih letih kelelahan setelah melakukan 'aktivitas malam'. Yah, sabar saja bagi Shizuo dan Izaya, itulah risikonya menjadi orang tua bagi anak-anak ajaib ini. Oke, kembali ke Psyche dan Tsugaru.

"Tetapi kenapa Mama dan Papa gembira sekali memasukkan kita ke sekolah? Masa Mama dan Papa tega sih membuat anak-anaknya bosan?" protes Psyche lagi heran sambil memain-mainkan ransel merah muda kecil miliknya―yang dibelikan Izaya dengan suka cita mengetahui anak-anaknya akan sekolah.

"Iya, aku juga tidak tahu. Mungkin Mama dan Papa punya maksud lain?" balas Tsugaru kalem, juga sambil memain-mainkan tas biru barunya yang merupakan pemberian Shizuo.

"Hm, sepertinya Tsuki-nii dan Roppi-nii tenang-tenang saja hari ini. Mereka 'kan juga pertama kali masuk sekolah. Ah, ayo kita ke kamar mereka!~" ujar Psyche riang sambil menarik ujung lengan kimono biru Tsugaru.

"Eh, mau apa kita ke sana? Nanti yang ada Roppi-nii malah marah-marah karena kita mengganggu tidurnya…" ucap Tsugaru bijak dengan penolakan halus. Raut wajahnya menunjukkan kalau ia sudah bisa membayangkan bagaimana aura membunuh yang akan dikeluarkan kakak pertama mereka saat mereka membangunkan tidurnya.

"Aah~ aku tak akan membangunkannya, kok!~ Kalau ia terbangun, ya salah sendiri! Aku hanya ingin berdiskusi dengan Tsuki-nii. Dia 'kan baik, tidak seperti Roppi-nii yang galak! Ayolah Tsu-chan~ Temani aku!~" pinta Psyche dengan raut wajah memelas yang oh-so-damn-cute-you'll-spill-your-blood-from-your-nose-if-you-happen-to-see-his-face-that-time!~

Pengecualian tentunya untuk Tsugaru sebab ia memang sudah terbiasa melihat wajah imut saudara kembar-tapi-bedanya itu. Kemudian Tsugaru hanya tersenyum hangat sambil menepuk kepala Psyche pelan.

"Baiklah kalau Psyche-kun memaksa. Ayo!" ucap Tsugaru sambil membimbing Psyche ke sarang kakak-kakaknya.

Mereka pun keluar dari kamar mereka perlahan, tak mau membangunkan orang lain di apartemen ini. Padahal di hari-hari biasanya mereka justru membuat keributan dan berlari-lari ke kamar Mama dan Papa mereka untuk mengganggu kegiatan mereka. Kegiatan tidur maksudnya, jangan mikir macam-macam yah! /desh.

Mereka pun sampai ke kamar kakak-kakaknya. Kamar Tsukishima dan Roppi tidak jauh berbeda dengan kamar mereka, hanya saja ruangannya sedikit lebih luas. Psyche dan Tsugaru menghampiri tempat tidur Tsukishima yang untungnya berada di tingkat bawah. Tempat tidur Roppi dan Tsukishima itu bertingkat dan tingkat atas ditempati oleh Roppi. Jadi, jangan kecewa ya sebab mereka tidak tidur satu ranjang!~ /doubledesh

Walaupun kamar kakak-kakak mereka itu gelap, tetapi mereka dapat melihat dengan cukup baik.

"Tsuki-nii… Tsuki-nii…" Tsugaru menggoyang-goyangkan tubuh kakaknya perlahan. Respon Tsukishima hanya mengangguk pelan dan mengubah posisi tidurnya. Kembali tertidur.

"Tsuki-nii! Tsuki-nii, bangun dong!~" Psyche berbicara lebih keras dan menggoyang tubuh kakaknya lagi.

Tsukishima kembali merubah posisi tidurnya dan menarik selimutnya lebih ke atas hingga menutupi hidungnya. Psyche dan Tsugaru tidak menyerah begitu saja. Masa mereka yang biasa membangunkan Shizuo dan Izaya dengan mudah, tidak bisa membangunkan kakaknya yang satu ini.

Psyche dan Tsugaru berbisik-bisik sebentar. Kemudian mereka menatap kakaknya yang masih bergelung selimut dan mengambil napas panjang.

"TSUKI-NII BANGUN! KEBAKARAAAN!"

Detik berikutnya, Tsukishima kembali menaikkan selimutnya hingga menutupi seluruh wajahnya. Damai sejahtera sekali tidurnya itu.

"Hmm, tidak berhasil juga. Kita harus bagaimana lagi, Tsu-chan?~" gumam Psyche sambil memegang ujung dagunya. Pose berpikir katanya.

"Coba yang satu lagi." balas Tsugaru sambil kembali berbisik kepada Psyche. Psyche mengangguk dan mereka berdua kembali menghadap ke Tsukishima yang sedang pulas tertidur.

"TSUKI-NII BANGUN! ADA ULAR DI SELIMUTMU!"

"Hnggh! Jangan lupa dimandikan ya! Hmm…" gumam Tsukishima pelan sambil menggaruk pipinya pelan.

"AAH!~ Tsuki-nii bukannya makin bangun malah makin nyenyak! Nanti yang ada malah Roppi-nii yang mengamuk!~" tukas Psyche kesal sebab cara biasa tidak mempan terhadap kakaknya itu.

Biasanya mereka membangunkan kedua orang tuanya dengan cara meloncat-loncat di atas kasur Shizuo dan Izaya. Atau kalau tidak bangun juga, mereka akan merengek, menggoyang-goyangkan Mama-Papa mereka dan berteriak kata-kata semacam tadi, seperti; "PAPA BANGUN! MAMA KESAKITAN DITINDIH PAPA!" "MAMA BANGUN! PAPA PERGI BERDUA DENGAN VORONA-SAN!" dan kata-kata lainnya yang pasti selalu sukses membuat salah satu dari mereka terbangun dengan wajah syok atau kaget bukan main.

"Hmm, kira-kira apa yang membuat Tsuki-nii takut?" gumam Tsugaru sambil duduk bersimpuh ala Jepang dan berpikir.

"Hmm, apa ya? Tsuki-nii takut ular tapi tidak bangun juga. Kapan ya terakhir kali aku melihat Tsuki-nii ketakutan?" Psyche ikut terduduk di samping Tsugaru sambil berpikir keras.

"Kau ingat terakhir kali Tsuki-nii berteriak? Saat tangan Roppi-nii tergores pisau hingga berdarah-darah saat ia mencoba membuat sarapan saat Mama dan Papa tidak ada. Kau ingat betapa panik raut wajahnya dan ia langsung tergesa-gesa menghampiri Roppi-nii dan melempar begitu saja semua pakaian yang baru saja digosok olehnya?" ucap Tsugaru sambil menatap wajah imut adiknya.

"Hm, ingat. Tsuki-nii jadi harus melipat ulang semua pakaian yang ia lempar. Memang sih waktu itu wajahnya terlihat OOC. Sangat panik, tetapi tetap saja ia ceroboh. Oh iya, Roppi-nii juga terlihat OOC saat Tsuki-nii membalut tangannya yang terluka. Hmm, mungkin ke-OOC-an mereka ada hubungannya." gumam Psyche sambil menggosok-gosok dagunya pelan. Pose berpikir.

"Mungkin…yang paling ditakutkan Tsuki-nii itu Roppi-nii, Psyche-kun!" Tsugaru mengambil kesimpulan sambil mendongakkan kepalanya dengan yakin.

"Mungkin juga! Ayo kita coba saja!~"

Saat kedua anak kecil itu hendak berteriak lagi, kedua tangan misterius muncul dan memgang bahu mereka. Bersamaan dengan itu, lampu kamar itu menyala. Sontak saja kedua anak itu menoleh ke belakang dengan terpatah-patah.

"Mau apa kalian di kamarku…?" tanya Roppi dengan nada suara yang terdengar seperti monster di telinga adik-adiknya.

"ROPPI-NII?" pekik anak-anak itu berbarengan dengan nada panik.

Seketika itu juga Tsukishima membuka matanya dan menyibakkan selimutnya dengan kasar dan terburu-buru. Baru saja ia akan melompat dari kasurnya dan bergegas menaiki tangga menuju tempat tidur kembaran-tapi-bedanya sebelum ia melihat Roppi sedang berdiri memegangi bahu Psyche dan Tsugaru yang terlihat tidak bernyawa.

"Hm? Kau tidak apa-apa, Roppi-kun?" tanya Tsukishima heran sambil mengucek kedua mata merahnya pelan.

"Lho, Tsu-chan, Psyche-chan, sedang apa di sini?" tanya Tsukishima dengan nada heran yang dibalas dengan pandangan kesal-menggerutu dari adik-adiknya yang membuatnya malah makin heran.

"Kenapa kalian sudah ribut sih jam segini? Masih jam 6.15, seharusnya aku masih di kasurku, kalian tahu?" tukas Roppi sambil mengucek matanya dan menguap sebentar.

"Hah? Sudah jam 6? Kita belum membangunkan Mama-Papa, Tsu-chan!~" ujar Psyche sambil menarik ujung kimono Tsugaru―bermaksud untuk kabur sebenarnya.

"A-ah iya! Ayo kita ke kamar Mama-Papa!" balas Tsugaru yang mengerti maksud Psyche dan menarik tangan Psyche, meninggalkan kedua kakak mereka yang masih memandang mereka dengan heran.

"Huh, ada apa sih dengan mereka?" gumam Roppi datar sambil duduk di pinggir kasur Tsukishima.

"Hm, tidak tahu. Kenapa tadi mereka terlihat kesal kepadaku, ya?" tanya Tsukishima balik sambil meraih kacamatanya yang terletak di atas meja, tak jauh dari kasurnya.

"Siapapun juga pasti kesal melihat kecerobohanmu." komentar Roppi sambil melirik datar Tsukishima.

"Ah, kau dingin sekali Roppi-kun! Aku tidak seceroboh yang kau pikirkan." protes Tsukishima sambil menatap memelas ke arah Roppi.

Roppi hanya terdiam sambil memalingkan wajahnya. "Huh, terserahlah. Aku mau mandi." ujar Roppi sambil keluar meninggalkan kembaran-tapi-bedanya sendiri. Jangan tanya kenapa robot seperti mereka butuh mandi.

Tsukishima yang ditinggal saudaranya dengan nada kesal hanya kembali heran. "Apa aku salah ngomong, ya? Kenapa pagi ini orang-orang terlihat kesal padaku?"

.

.

"Huh, tidak bisakah aku berpakaian seperti biasa?"

Roppi memakai jas seragam sekolah barunya dengan menggerutu seperti biasa. Ia berdiri di depan cermin persegi panjang yang memantulkan bayangan dirinya dari kepala sampai pinggangnya.

"Hm, seragam ini tidak buruk, kok!" respon Tsukishima yang juga sedang mengancing jas seragamnya di dekat lemari kamar mereka. "Malah kurasa pakaian ini cukup bagus. Nah, bagaimana penampilanku, Roppi-kun?" tanya Tsukishima setelah selesai mengenakan seragamnya.

Saat Roppi menoleh, di penglihatan Hachimenroppi terlihat sinar cling-cling aneh di sekeliling Tsukishima yang membuatnya hanya diam.

"Huh, biasa saja!" tukas Roppi sambil bergegas membalikkan kepalanya kembali menghadap cermin. Ia melihat bayangan wajahnya sedikit tersenyum.

Apa? Tersenyum? Tidak salah seorang Hachimenroppi Orihara tersenyum? Roppi sendiri tidak percaya dengan apa yang ia lihat hingga bayangan wajahnya kembali menjadi datar murung seperti biasa.

"Begitukah?" ucap Tsukishima terdengar sedikit…kecewa? Sebab ia bicara dengan suara cukup pelan. "Hmm, tapi menurutku seragam itu cocok untuk Roppi-kun! Terlihat bagus!" ucap Tsukishima lagi sambil tersenyum riang dan menyambar tas selempang dan kacamatanya.

Roppi yang mendengar kata-kata Tsukishima sekaligus melihat senyum innocent kembarannya itu hanya kembali terdiam dengan sedikit serabut merah bermunculan di pipinya. Lagi-lagi ia hanya bisa heran terhadap dirinya yang belakangan ini bersikap aneh. Bahkan sangat aneh!

Roppi pun menggelengkan kepalanya kasar dan kembali menatap Tsukishima yang sudah siap dengan segala perlengkapannya.

"Ya ya. Yasudah, ayo cepat kita sarapan!" Roppi hanya dapat berkata ketus sambil mendahului kembarannya keluar dari kamar dan menuju ruang makan.

Tsukishima yang melihat Roppi yang terlihat kesal itu hanya menggeleng pasrah. "Haah, apa aku salah ngomong lagi, ya?"

.

.

"Tsu-chan, ambilkan saus tomat itu!" Psyche berkata sambil berusaha memotong telur mata sapi miliknya yang merupakan salah satu sarapannya pagi itu.

Heran mengapa android butuh makan makanan layaknya manusia? Jangan tanya Author abal ini karena hanya Celty, anak-anak, dan Tuhan yang tahu mengapa hal itu bisa terjadi.

Tsugaru pun meletakkan garpu dan pisaunya sejenak dan mengambil saus tomat yang terletak tak jauh dari jangkauannya dan menyerahkannya kepada Psyche.

"Terima kasih, Tsu-chan!" ucap Psyche riang sambil membalik botol saus itu dan mengeluarkan isinya.

"Hee~ Hari ini hari pertama kalian sekolah, 'kan?~ Bagaimana perasaan kalian?~" tanya Izaya riang sembari melahap sarapannya.

Pagi itu, tepatnya pukul 7, keluarga Heiwajima/Orihara berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Hal ini sudah menjadi rutinitas sehari-hari kecuali saat Shizuo atau Izaya sedang tak berada di rumah untuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Jikalau kedua orang tua 'anak-anak' itu tak ada di rumah, Roppi dan Tsukishima-lah yang akan memasak makanan sederhana menggantikan peran orang tuanya. Terkadang bisa juga Shizuo atau Izaya memesankan mereka Russian Sushi delivery atau makanan delivery lainnya ke apartemen informan itu.

Benar-benar seperti kehidupan keluarga yang normal, bukan?

"Yaah, begitulah! Mama tahu? Aku dan Tsu-chan hari ini sampai bangun lebih pagi dari biasanya lho!" ucap Psyche ala anak-anak kecil dengan mulut masih sedikit terisi oleh makanannya yang belum selesai ia cerna. Sekali lagi, jangan tanyakan mengapa android harus mencerna makanan sebab jika tak seperti ini, fiksi ini tidak akan berlanjut sebagaimana mestinya.

"Lho, bukannya kalian SELALU bangun pagi, ya?" Shizuo berkomentar singkat dan datar sambil memotong daging asapnya dengan tak semangat. Tiap pagi Shizuo selalu terlihat seperti ini sebab tidur sakralnya selalu terganggu oleh anak-anak tersayangnya. Semua makhluk yang berada di apartemen itu pun sudah maklum dan terbiasa melihat pemandangan seperti ini.

"Tapi kali ini lebih pagi, Pa! Habis aku dan Psyche-kun merasa agak nervous sih! Tadinya kita mau meminta saran sama Tsuki-nii." Tsugaru melanjutkan omongan Psyche dengan raut dan nada bicara ala anak kecil. Pembaca pasti tahulah sifat anak kecil seperti apa. Selalu ceria, aktif, selalu cerita apa yang mereka alami, maka begitulah sifat Psyche dan Tsugaru saat ini.

"Tapi membangunkan Tsuki-nii seperti mengangkat gajah! Susahnya setengah mati." tambah Psyche sambil melirik ke arah kakaknya yang cukup kalem itu yang saat itu sedang meminum susunya dan tersedak begitu mendengar celotehan adiknya.

"Iya, tak kusangka Tsuki-nii kalau tidur seperti panda." komentar Tsugaru lagi yang membuat Tsukishima serasa dihujam panah raksasa tak terlihat yang entah datang darimana.

"Hahah! Untuk pertama kalinya aku senang mendengar celotehan kalian." Roppi berkomentar sembari tersenyum licik persis Izaya sambil melirik kembarannya yang tengah menunduk lemas dengan nyawanya sedang melayang entah ke mana.

"Ahahaha~ Begitukah, Tsuki-kun?~ Sepertinya sifat Papa menurun ke kamu, yah?~" Izaya tertawa mendengar semua curhatan anak-anaknya itu. Lihat? Ia bahkan mengucapkan kata 'Papa' begitu saja tanpa ada keraguan sama sekali! Mereka bercengkrama riang layaknya keluarga pada umumnya.

"Sifat apa yang kamu maksud, eh Izaya?" tanya Shizuo dengan suara bass seksinya itu dengan nada tak bersemangat dan sedikit tak terima.

"Tentu saja sifat tidurmu yang sama-sama seperti panda.~ Yah, walau Psyche dan Tsugaru selalu berhasil membangunkanmu, sih.~"

"E-eh! Tapi membangunkanku tidak sesulit itu kok!" protes Tsukishima tak terima.

"Tidak sulit? Dengan teriakan Psyche dan Tsugaru yang mampu menggetarkan seluruh tempat tidur dan goncangan kecil yang timbul sebab mereka menggoyang-goyangkan tubuhmu masih kau bilang mudah?" komentar Roppi sarkastik dengan raut datarnya yang biasa.

"Yaah, memang sih kami belum menemukan kata kunci yang tepat untuk membangunkan Tsuki-nii!~" ucap Psyche setelah menyelesaikan sarapannya.

"'Kata kunci'? Apa maksudnya?" tanya Tsukishima heran.

"Tidak, Psyche-kun. Aku rasa aku tahu apa kata kuncinya. Tadi pagi baru saja terbukti." balas Tsugaru sambil menatap Psyche dengan tatapan polosnya itu.

"Eh? Memang apa kata kuncinya?" tanya Psyche dengan kepolosan dan keimutan yang sama.

"Nanti kuberi tahu."

"Nah nah, kalian sudah selesai sarapan, 'kan? Berarti kalian sudah siap berangkat ke sekolah!~" Izaya menginterupsi pembicaraan anak-anaknya sambil mengangkat semua piring kotor di meja makan oval itu.

Psyche dan Tsugaru hanya mengangguk riang sambil kembali berceloteh ala anak-anak tentang rasa penasaran mereka terhadap sekolah. Shizuo yang mendengar kedua anak-anak kecilnya berceloteh, memberitahu sedikit tentang sekolah yang mereka bicarakan.

Hachimenroppi hanya duduk diam di tempatnya sambil sedikit banyak mendengarkan pembicaraan keluarganya. Tsukishima membantu Mamanya menaruh semua piring kotor ke tempat cuci piring.

"Nah, sebaiknya aku berangkat sekarang." ucap Shizuo sambil beranjak berdiri dari kursinya setelah mendapati uke-nya sudah kembali dari dapur.

"Kalian akan diantar sama Papa, tapi untuk hari pertama saja, ya!~" ucap Izaya kepada semua anak-anaknya. Shizuo hanya merespon dengan 'hn' singkat sambil mengambil kacamata birunya dan beranjak menuju pintu apartemen yang kemudian disusul oleh anak-anaknya.

"Mama hati-hati yah di rumah!~" ucap Psyche dan Tsugaru bersamaan dengan raut imut innocent mereka.

"Ahaha, kalian juga hati-hati yah di luar!~" balas Izaya sambil mengecup lembut dahi kedua anak-anaknya.

Tsukishima dan Roppi telah selesai memasang sepatu masing-masing. Tinggal Psyche dan Tsugaru yang masih memasang sepatu mereka. Keempat anak itu pun siap dan melambai serta mengucap salam kecil―pengecualian bagi Roppi yang hanya diam saja sembari membuka pintu apartemen itu.

Sebelum keempat anaknya itu keluar dari pintu, Shizuo tak lupa mengucap salam untuk uke tersayangnya itu.

"Hati-hati ya, Shizu-chan!~ Jaga anak-anak dengan baik, yah!~" ucap Izaya riang sambil tersenyum biasa.

"Hn, kamu juga!" balas Shizuo singkat sambil mengecup singkat uke-nya dan berjalan keluar dari pintu.

Sungguh, pemandangan seperti ini sudah merupakan rutinitas sehari-hari Izaya dan Shizuo yang memang wajar-wajar saja dilakukan oleh keluarga rumah tangga yang umum.

Sudah kubilang, mereka memang sudah menjadi keluarga umum yang harmonis dan bahagia.

.

.


A/N: Saya kembali lagi dengan chapter yang sama absurd-nya!~ #plakplak Saya memang lagi senggang dan ingin banget lanjutin ini begitu liat reviews pembaca sekalian!~ Tapi karena sepertinya saya terkena WB dan otak nista saya lagi seret makanya cuma jadi segini... D8

MANY THANKS TO:

monochrome frame | Keikoku Yuki | KuroMaki RoXora | oranggila | yang malas login(?) Yami-chan Kagami

AniFreakZ | Shinju Ageha | The MasochistDevil | killinheaven | watashinohatsukoiwaWataru-kun | Devil's YunjaeJoTwins Shipper

dan semua silent readers!~

sepert biasa, yang anon;

oranggila: Mudah diingat namanya /desh Makasih RnRnya!~ Yah, lihat saja nanti, saya gak janji ada sekuel lagi -_-a RnR lagi? :3

yang malas login: Login saja atuh, tapi gak apa-apa sih, yang penting masih mau RnR, terimakasih! ;D /desh Gantung? Hm, lihat saja nanti & semoga puas dengan chap ini. RnR again?~

watashinohatsukoiwaWataru-kun: Makasih banyak RnR-nya!~ x'D Nanti saya minta erika suruh kirimin deh fotonya~ /desh Iya, ada di anime, makanya itu banyak banget kan hints Shizaya di anime-nya? *tebar confetti* Semoga puas dengan chap ini! RnR lagi? :D

.

Ayo ayo, REVIEW & COMMENT lagi yang banyak!~ Kasih saran buat lanjutannya lagi juga boleh banget!~ /desh