Killing Time
Naruto punya Kishimoto-sensei
Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic inimengandung hal AU, OOC
Author: Tachibana Mio
Pair : SasuSaku
.
.
Sementara Sasuke, Tenten dan Shikamaru sedang berdebat tentang siapa pelaku pembunuhan itu. Di suatu tempat, yang letaknya tak jauh dari lokasi pembunuhan. Seorang wanita berambut bubbel gum sedang mengamati bagian luar lokasi yang penuh dengan mobil patroli kepolisian, dari dalam mobilnya. Dengan menyandang tas dibahunya, wanita itu keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah kamera ditangannya.
Sesekali dia mengambil beberapa foto dengan gerakan cepat. Dengan santainya wanita itu berjalan melewati garis polisi yang telah terpsang di depan gerbang. Wanita itu melangkah memasuki halaman belakang rumah tanpa menimbulkan suara, dengan terus memotretkan kameranya. Wanita itu sangat berharap, agar dia tak menemukan sesuatu yang akan menuntunnya ke Si pelaku pembunuhan. Berjalan perlahan wanita ini mengelilingi rumah, memeriksa setiap keadaan yang ada dan mencatatnya dalam buku yang dibawanya.
Dia mencatat seperti, jumlah pintu dan jendela yang ada dilokasi pembunuhan, ukuran semak belukar yang tumbuh dibawah jendela, dan jarak tanah dari setiap jendela. Dibagian belakang rumah korban pembunuhan, wanita itu dapat melihat sebuah pintu kecil yang merupakan akses untuk masuk ke ruang bawah tanah.
Dengan hati-hati dan teliti wanita itu memperhatikan setiap jejak kaki dan sidik jari yang ada yang mungkin tertinggal. Sesampainya di depan pintu masuk, wanita itu mengeluarkan senter kecil yang diarahkan ke lubang kunci.
'Tak ada bekas goresan atau paksaan,' pikir wanita itu.
Tidak ada tanda-tanda yang membuat wanita ini yakin, kalau dia berada di jalur yang tepat. Sehingga dia ingin segera bergegas menjuhi tempat ini. Tapi saat ingin pergi dari lokasi ini, seseorang mengagetkannya.
"Apa yang kau lakukan di sini Nona?"
Suara yang dalam itu muncul tepat dari belakang dan itu sangat mengejutkan wanita itu, hampir saja wanita itu menjerit, untung dia memiliki pengendalian diri yang baik.
"Untung saja aku tidak memiliki jantung yang lemah," gumam wanita itu pelan.
"Jawab pertanyaanku," ujar pria itu datar dan matanya yang berwarna hitam berkilatan tajam.
Setelah memperhatikan pria yang telah mengagetkanya tadi. Wanita itu menyimpulkan bahwa pria yang berada dihadapannya ini, betubuh tinggi dan berbahu lebar. Untuk pakaiannya, pria itu memakai celana jins, sepatu bot dan juga jaket biru di atas kemeja berwarna putihnya. Rambutnya yang berwarna biru kehitaman agak sedikit mencuat di bagian belakang, satu kata yang wanita ini katakan pada dirinya sendiri, bahwa pria yang ada dihadapaannya ini adalah pria yang tampan.
.
.
Melihat keraguan pada wanita dihadapannya, pria itu menggerakkan tangannya dengan sengaja, untuk membuka jaketnya dan menunjukkan lencana yang dikaitkan di ikat pinggangnya, begitu juga pistol besar yang berada di tempatnya. "Kalau kau wartawan," ujar pria itu tajam. "Kau sedang dalam masalah besar, nona."
Dengan disengaja pula, wanita itu membuka sebagian jaketnya untuk menunjukkan senjata miliknya pada pria dihadapannya. Dan dia juga menunjukkan lencana yang dimilikinya.
"Haruno Sakura, FBI," ujar wanita itu tegas.
Dengan gerakan mantap Sakura mengulurkan tangan. Tapi sayang pria dihadapannya ini malah mengerutkan alis matanya, dia seperti terlihat kebingungan dan juga kesal.
"Terakhir kali kucek, pembunuhan bukanlah urusan FBI, begitu bukan? Apa yang kau lakukan di sini?"
Sakura mengangkat bahu dan menarik kembali uluran tangannya. "Aku hanya mengikuti jejak," ujarnya pelan. "Ada serangkaian penyerangan terhadap beberapa pengacara dan hakim, dan aku berpikir semua itu dilakukan oleh orang yang sama. Seorang hakim di Sunagakure terbunuh tahun kemarin, kau pasti tahu, kan? Jadi kami memutuskan untuk mengikuti setiap kejahatan yang memungkinkan ada hubungannya dengan pembunuhan itu, guna untuk mencari petunjuk. Karena sejauh ini kami tidak begitu beruntung," Sakura melirik sejenak rumah tempat ditemukannya mayat. "Tuan Hidan, pemilik rumah ini adalah seorang pengacara, kan? jadi aku dikirim ke sini. Aku tidak berminat untuk mengambil alih penyelidikan kau. Jadi aku berharap kau dapat menolongku."
"Jadi kenapa kau tidak menghubungiku dulu?" tanyanya. Masih dengan pandangan menusuk nan tajam.
"Aku baru saja hendak untuk datang ketempatmu. Tadi aku hanya ingin melihat-lihat tempat kejadian terlebih dahulu. Aku tidak berminat untuk masuk ke dalam dan aku juga sangat berhati-hati saat menyelidik tadi, jadi kurasa tak ada bukti yang kuhancurkan," diam-diam Sakura menarik napas panjang dan kemudian memberikan senyum tipis sambil menjulurkan tangannya kembali. "Coba kita mulai dari awal lagi. Aku Haruno Sakura, FBI."
Setelah merasa ucapan Sakura adalah kebenaran, pria itu menyambut uluran tangan Sakura. "Uchiha Sasuke, kepala penyidik."
Belum sempat mereka melepaskan gengamannya, sebuah suara pecahan yang keras membelah udara dan serpihan kayu meledak dari dinding tepat disamping tempat Sakura berdiri. Halaman belakang ini tak menyediakan tempat berlindung yang cukup baik, menyebabkan mereka berdua mencari tempat persembunyian bersama.
Keduanya berlari keujung rumah. Sasuke mendorong paksa tubuh Sakura dengan kencang ke dinding rumah, membutnya tersentak di dinding. Akibat Sasuke menyentakknya kedinding dengan paksa, membuat bahu Sakura nyeri. Tapi rasa sakit itu tak diperdulikannya, karena Sakura segera merogoh tasnya untuk mengambil pistol otomatisnya.
Sasuke sendiri pun juga sudah mengeluarkan pistolnya, diarahkan keatas sambil sesekali mengintip dengan cepat dari sudut rumah. "Ck, rupanya ada orang yang tidak menginginkan kehadiranmu di sini," ujar Sasuke dengan terus mengintip arah datangnya peluru tadi.
Setelah dirasanya aman, Sasuke mengeluarkan sebuah radio dari ikat pinggangnya. "Kode 28 10-00, 2390." Perlahan Sasuke melirik Sakura. "Tenang saja, pasukan akan segera tiba satu menit lagi."
"Begitu, kah?"
"Siapa yang tahu kau akan ketempat ini?" tanpa memperdulikan pertanyaan dari Sakura
"Tidak ada. Tidak di lokasi ini dan tidak pada saat ini."
"Lalu kenapa peluru itu di arahkan kepadamu?"
"Aku tidak tahu."
Selang beberapa menit berlalu, Sasuke tetap menempelkan tubuhnya di dinding rumah, melihat sekeliling seakan berniat untuk tetap berada di sana sampai pasukannya tiba.
Tapi tidak untuk Sakura dia merasa kesal karena terus ditekan ke dinding, dia ingin melihat siapa penembak tadi, maka dari itu dia berkata.
"Bukankah kita harus mengejar penembak, itu?" tanya Sakura kesal, mencoba mendorong tubuh Sasuke yang berat. Dia harus mengetahui siapa yang telah menembaknya dan apakah misinya ini telah bocor. Apakah ini sebabnya Kabuto gagal dan Aburame Shino tewas?
"Kau diamlah di sini, biar aku saja yang mengejarnya," ujar Sasuke. Segera keluar dari balik dinding rumah sambil menodongkan pistolnya kearah depan.
Sakura yang terlepas dari cengkraman tangan Sasuke pun melakukan hal yang sama, tanpa memperdulikan ucapan Sasuke tadi. Sasuke yang menyadari Sakura berada di depannya, menarik lengan wanita berambut bubble gum itu dengan kasar, dan menyentakkan tubuh Sakura kembali ke dinding.
"Jangan! Aku tidak melihat gerakan, jadi aku tidak bisa menentukan lokasi Si pelaku berada. Diam saja di sini."
"Aku ini seorang agen Federal," ucap Sakura dengan tegas.
Dengan menggunakan kedua tangannya, Sakura berusaha melepaskan kembali cengkraman keras Sasuke. Tapi usahanya tetaplah sia-sia, karena lengan Sasuke sangat erat menekannya ke dinding rumah.
"Ya benar, dan aku tidak mau duduk di balik meja mengerjakan setumpuk pekerjaan, untuk menerangkan bagaimana kau bisa tertembak. Pekerjaanku itu sudah banyak, jadi jangan ditambahin lagi," ucap Sasuke sedikit ketus.
Sakura mengerucutkan bibirnya karena ucapan Sasuke. Karena tak dapat lepas dari cengkaraman kuat itu. Sakura memikirkan situasi yang terjadi saat ini, mata emerald-nya yang cerah dia pincingkan saat menatap lelaki di depannya ini.
'Aku tak boleh membuat pria ini marah padaku,' pikir Sakura. 'Tapi biar bagaimanapun juga aku harus mengetahui siapa yang berusaha untuk menembakku, kan?'
Karena tak ada cara lain, akhirnya Sakura pun mengikuti saran Sasuke. Membiarkan pria berambut raven itu bertindak sesuka hatinya.
"Oke," ujar Sakura akhirnya. "Lagi pula Si pelaku, pasti sudah terlalu jauh untuk dikejar."
"Silahkan salahkan aku, sewaktu kau menulis laporanmu," ucap Sasuke seolah tidak perduli apa yang akan terjadi pada Sakura nantinya.
Sakura mengangkat bahu sebisa mungkin, karena tubuhnya masih tetap dalam posisi ditekan ke dinding rumah. "Tidak, tidak akan aku lakukan hal itu."
Sasuke menatap Sakura saat dia menarik lengannya dari bahu wanita itu, kemudian mengarahkan pandangannya ke arah lain. "Kita jalan ke beranda. Bila Si penembak bisa mencari posisi yang tepat, maka kita akan menjadi sasaran empuk di sini."
Sakura melihat ke sekelilingnya dan juga undakan yang menuju beranda yang lebar itu hanya beberapa meter di belakangnya. Apa yang diucapkan Sasuke cukup masuk akal juga, jadi dia langsung bergerak dengan cepat kebagian depan rumah. Sedangkan Sasuke mengikuti tepat di belakangnya.
Setibanya di beranda depan rumah Hidan, Sakura dan Sasuke mendengar suara sirine yang saling bersahut-sahutan. Suara itu berhenti saat serombongan mobil patroli dan mobil van besar yang seperti tank perang, berhenti tepat di depan gerbang rumah Hidan, dan serombongan pasukan langsung memenuhi halaman depan rumah. Orang-orang yang keluar dari pintu ganda van itu, bertubuh tegap, berpakaian biru gelap dengan wajah yang tertutupi dan juga sepucuk senjata yang dipegang masing-masing orang tersebut.
"Tim SWAT?!" tanya Sakura sedikit terkejut. "Kau bilang pasukan, bukan divisi polisi bersenjata lengkap, seperti ini?!"
"Mereka tidak banyak kerjaan. Jadi kurasa mereka perlu berlatih," ucap Sasuke asal.
Sakura menghembuskan napas dan menggelengkan kepalanya pelan, dia merasa tak habis pikir dengan polisi di zaman ini. Tapi, dalam sekejap dia langsung terdiam saat, dirinya menyadari bahwa dia sudah dikelilingi oleh sekelompok polisi bersenjata lengkap itu, salah salah satu petugas, mengancungkan senjatanya tepat di kepala Sakura sambil meneriakkan berbagai perintah kepadanya.
Dengan gugup Sakura mengikuti perintah petugas itu, untuk mengangkat tangannya, dan mengucapkan sebuah kata.
"Aku .. Agen FBI," sambil pelan-pelan mengangkat lipatan di bahu untuk menunjukkan lencananya. Semua senjata itu segera diturunkan, tetapi tidak ada ucapan maaf yang dilontarkan kepadanya.
"Ini agen Haruno," jelas Sasuke pada tim SWAT itu. "Kami berada di belakang rumah dan seseorang menembaknya dari balik pepohonan di seberang halaman."
"Kau yakin tembakkan itu diarahkan kepadanya?" tanya salah seorang polisi.
"Kemungkinan besar ya, mengingat sudut tembakannya. Bila bukan, orang itu pasti penembak bodoh." Sasuke berjalan bersama para polisi dan berkata dengan nada rendah. Membuat Sakura tak tahu apa yang sedang dibicarakan Sasuke.
Sakura yang tak ambil peduli dengan sikap Sasuke itu, dia tetap berdiri di tempatnya, menunggu Sasuke. Daerah tempat penembakan langsung diamankan oleh tim yang dipanggil Sasuke tadi. Dan dengan perasaan terpaksa pulalah Sakura tetap berada di beranda. Sambil menunggu Sasuke kembali, Sakura berjalan sedikit menjauh dari beranda.
Setelah merasa sedikit jauh dari keramaian, Sakura mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menekan serangkaian nomor. Nomor itu dia tekan secara acak, dia memang tidak berniat untuk menghubungkannya kepada siapa pun, sebab dia tidak akan memberi kabar kepada atasannya tentang situasi ini. Bila apa yang diduganya benar, maka salah satu dari kantornya mungkin sedang menyabotase misi ini, oleh karena itu dia tidak mau menghubungi mereka walaupun bisa.
Tapi jika memang benar misi yang sedang dia jalani ini sedang disabotase, apa alasannya sehingga ada yang berusaha menyabotasenya? Bukankah jika dia berhasil menyelesaikan misi ini semua orang akan mendapatkan manfaatnya?
.
.
Setelah menyimpan ponselnya ketempatnya semula, Sakura mengeluarkan notebook dari dalam tasnya, meletakkannya di atas pagar beranda, dan mulai membuat catatan langsung di layarnya. Dia harus melakukan sesuatu dari pada berdiri saja dan terlihat tak berguna di sini. Catatanya itu berisi ...
Pertama: aku telah memilih tempat menginap semalam secara acak. Jadi orang lain, yang menembaknya tadi pasti sudah membuntutinya sejak kedatangannya di sini.
Kedua: bila demikian, kenapa pembunuh itu tidak menembaknya di lokasi kedatangannya saja?! Kenapa dia malah menunggu sampai hari ini?
"Benda apa itu?" tanya sebuah suara yang sudah dikenal Sakura. Ya suara itu berasal dari kepala penyidik Uchiha Sasuke yang berdiri tepat disisi kanannya, pria ini berusaha melihat apa yang tertera dalam layar yang sedang Sakura pegang itu. Tapi karena terlalu penasaran, Sasuke mengangkat benda itu dari atas pagar, lalu membolak balikkannya.
"Itu semacam catatan pribadi yang kuciptakan sendiri untuk mencegah orang yang suka ikut campur membaca catatanku dari belakang," jawab Sakura santai.
"Ini barang keren juga. Kurasa FBI memiliki anggaran yang cukup untuk membelikan mainan seperti ini untuk para bawahannya," ujar Sasuke masih terus memperhatikan benda itu.
"Kurasa begitu," sahut Sakura.
Penyelidik itu menyandarkan tubuhnya ke salah satu tiang beranda. "Punya perkiraan siapa yang mengiginkan kematianmu?"
"Aku tidak tahu!" ujar Sakura dengan menyesal. "Salah satu agen telah terbunuh dalam kasus ini. Dan sekarang aku berpikir bahwa misi ini sudah disabotase."
"Berarti seseorang di kantormu telah bekerja sama dengan pembunuh untuk membunuhi para hakim dan pengacara yang mereka pikir telah bekerja untuk pihak gelap."
"Mungkin, banyak orang yang seperti itu," ujar Sakura santai. "Bagaimana pengacara yang di sini? Dia pengacar jenis apa?"
"Pria yang cukup baik, untuk seorang pengacara. Dia tidak menangani kasus kriminal. Biasanya dia mengurus masalah pertikaian perceraian atau surat wasiat."
"Jadi teori tetang pihak gelap itu hancur sudah."
"Ada satu hal lain. Pembunuhan Hidan mungkin tidak berhubungan dengan kasusmu. Tetapi siapa pun yang membunuhnya mungkin masih berada di sekitar sini, dia mungkin melihatmu sedang menyelidiki, karena kesal kau menyidik di sini kemudian dia menembakmu."
"Jadi kenapa dia tidak menembakmu? Kau kan sasaran yang lebih besar? Dan kau juga yang menjadi kepala dipenyelidikan ini?"
"Memang," ujar Sasuke mengakui. "Tetapi sampai kita bisa membuktikan apa yang terjadi, entah bagaimana akan lebih aman bagimu untuk meninggalkan kota ini dan jangan katakan pada siapa pun apa tujuanmu di sini. Tadi aku melihatmu berbicara di ponsel, kau melaporkan kejadian ini?"
"Tidak, tadi aku sedang memeriksa arsip elektronik."
"Memang ada arsip semacam itu?"
"Kalau arsip ini bisa mengetahui aku harus kemana, ya!"
"Mungkin mereka mengakses catatan teleponmu, makanya mereka tahu kau ada di sini. Dengar, aku tahu kau seorang agen federal dan punya lebih banyak informasi dari pada kami, tapi jika ada orang yang hendak membunuhmu, itu berarti pembunuhan ini memang berhubungan dengan pembunuhan di Suna, bahwa seseorang dikantormu terlibat, dan hal terbaik bagimu sekarang adalah menghilang dulu."
"Aku tidak bisa pergi begitu saja, karena tidak tahu siapa yang ada dibelakang semua ini."
"Berarti kau akan tetap di sini," ucap Sasuke dengan santai.
"Kecuali kalau kau mengusirku dari kota ini. Maka aku akan pergi dari sini."
"Oke. Kalau begitu coba kulihat apakah aku bisa menemukan cara agar mereka yang mengincarmu kesulitan menemukanmu, sementara kau tinggal di kota ini."
Penerimaan Sasuke yang cepat atas keputusannya membuat Sakura sedikit terkejut dan merasa gugup. Sakura memincingkan matanya, memandang polisi itu di hadapannya keheranan.
"Kenapa kau begitu peduli padaku? Biasanya kepolisian setempat tidak suka jika FBI ikut camput dalam penyelidikan kasus yang mereka tangani."
"Oh, aku memang seperti itu," ujarnya sambil tersenyum. "Aku menyukai misteri yang seperti ini."
.
.
.
TBC
