Love and Secret

Jeon Jungkook & Kim Taehyung.

Summary : Jungkook baru tahu jika Kim Taehyung, sunbae nakal disekolahnya memiliki banyak kejutan yang tak terduga.

WARNING! BL, Typos.


Jungkook tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Kemeja merah melekat pas di tubuhnya, dilengkapi dengan jeans hitam ketat yang robek di bagian lututnya, juga converse merah terpasang di kedua kakinya. Pihak sekolah memang membebaskan pakaian yang dikenakan saat tampil, asal keduanya memiliki kesamaan yang pas. Jungkook harap, Taehyung memakai pakaian yang warnanya merah juga.

"Yosh! Jeon Jungkook fighting!"ujarnya menyemangati diri sendiri.

Jungkook segera keluar dari apartemennya dan berjalan ke arah halte. Ini jam 5 pagi, jadi acaranya 6 jam lagi sebenarnya. Tapi Jungkook tentu saja tidak lupa dengan perkataan Taehyung kemarin yang menyuruhnya datang pagi-pagi. Jungkook penasaran akan dibawa kemana . . .Ah tapi yasudahlah. Ia sudah terlanjur penasaran, tidak ada gunanya menolak ajakan pemuda itu.

Lamunan Jungkook terhenti saat melihat seorang gadis kecil yang terduduk di halte. Dari raut wajahnya, Jungkook tau ada yang tidak beres dengan gadis kecil itu. Gadis kecil itu melipat lututnya dan membenamkan kepalanya di lipatan lututnya. Bahunya sedikit bergetar karena efek dingin—atau jangan-jangan gadis kecil itu menangis?

Jungkook melirik ragu ke arah gadis itu. Ia ingin sekali bertanya ada apa, tetapi jika ia bertanya, bus ini akan berangkat sebentar lagi. Jungkook menghela nafas, ia melihat jadwal bus disitu. Dia harus menunggu satu jam untuk menaiki bus selanjutnya.

Tidak apa-apa, Jeon. Acaranya masih lama.

Akhirnya, Jungkook memutuskan untuk menghampiri gadis kecil itu. Ia berjalan pelan dan mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.

"Hey, kau kenapa?" tanya Jungkook lembut, ia tidak mau gadis kecil itu takut kepadanya. Gadis kecil itu mengangkat wajahnya, raut ketakutan jelas-jelas terlihat di mata gadis kecil itu.

"Kau kehilangan keluargamu?" bujuk Jungkook lembut.

Gadis itu mengangguk kecil, tapi ia tetap tidak menjawab. Jungkook duduk di samping gadis itu, memberi kabar pada Bambam letak dirinya dan 'kejadian' yang terjadi sekarang ini.

"Nenek."

Jungkook melihat gadis kecil itu heran. Gadis ini mengatakan 'Nenek' dengan sangat pelan. Masih untung Jungkook mendengarnya.

"Ada apa dengan Nenekmu? Dimana dia sekarang?" tanya Jungkook tidak sabaran, dia benar-benar khawatir sekarang.

"Nenek . . .Hyomi sedang makan lolipop . . . tapi saat Hyomi berbalik, Nenek sudah tidak ada . . ." Suara gadis kecil itu memelan dan semakin pelan disusul dengan isakan yang pelan juga.

Jungkook memeluk Hyomi, mengusap punggungnya agar gadis kecil itu tenang. Usaha Jungkook berhasil, gadis itu hanya segugukkan sekarang. Bahkan Jungkook merelakan kemeja tampilnya basah.

"Apa Hyomi tau nama Nenek Hyomi? Mungkin Oppa kenal dengan beliau." Gadis itu membuat pose berpikir, jari telunjuknya diletakkan di dagu.

Mirip dengan seseorang . . .

Jungkook jadi gemas.

"Kim Jina." Kening Jungkook berkerut, rasanya ia pernah mendengar nama itu. Tapi—ah yasudahlah. Nanti saja berpikirnya.

"Kim Jina? Baiklah, dan . . . Oppa ingin bertanya satu hal lagi." Hyomi mengerjapkan matanya, "Hyomi tau dimana rumah Hyomi?" Gadis kecil itu mengangguk.

Kening Jungkook mengerut lagi, "Kalau Hyomi tau, kenapa Hyomi tidak pulang?" Hyomi semakin mempererat pelukan di lututnya. "Eomma jahat, Hyomi tidak mau pulang sendiri . . ." kata gadis kecil itu dengan suara bergetar.

Jungkook mulai megerti apa yang Hyomi alami sekarang. Gadis itu sering diperlakukan kasar dengan Eommanya dan Nenek gadis kecil ini akan melindungi. Karena itu, gadis kecil ini tidak mau pulang meskipun ia tau jalan pulangnya.

"Baiklah, sekarang Oppa akan antar Hyomi pulang! kajja!" Jungkook menyampirkan tasnya diatas pundak kanan dan menggendong gadis kecil itu di tangan kirinya. Saat bus datang, mereka naik.

Jungkook banyak berceloteh di depan Hyomi. Berusaha agar gadis kecil itu tidak murung ataupun sedih. Setelah lama menunggu, mereka turun di halte bus selanjutnya. Jungkook dituntun gadis itu ke arah rumahnya. Saat sampai, Jungkook terpana dengan rumah Hyomi. Rumah itu sedikit memberi kesan hangat, seperti menerima siapapun yang datang ke rumah itu.

Sebentar, Jungkook rasa ia pernah kesini.

Gadis itu membuka pagar dan menyuruh Jungkook masuk. Jungkook hanya mengangguk, bahkan ia lupa dengan Taehyung yang menyuruhnya datang pagi-pagi. Rumah ini serasa sangat familiar di pikirannya.

"Halmeoni!" Lamunan Jungkook terhenti ketika Hyomi berteriak kencang di depannya. Gadis itu segera berlari dari Jungkook menuju ke seorang wanita tua yang menyambutnya di depan pintu dengan wajah khawatir.

"Oh yatuhan! Hyomi! Nenek sungguh khawatir denganmu! Maafkan Nenek karna meninggalkanmu di taman hm?" Jungkook tersenyum melihat gadis kecil itu mengangguk dan memeluk Neneknya erat.

"Ah, Hyomi-chi. Pulang dengan siapa? Kamu sudah berani pulang sendiri ya, Hyomi sayang?" Wanita tua itu mengelus rambut Hyomi pelan.

"Aniya Halmeoni. Oppa itu yang mengantarku." Telunjuk jari Hyomi mengarah ke arah Jungkook yang tersenyum canggung. Ekspresi wanita tua itu tampak terkejut ketika melihat Jungkook.

"Kau...Jeon Jungkook? anaknya Jeon Hyora dan Jeon Seungjae?" Jungkook terkejut ketika wanita tua itu menyebut namanya dan nama orangtuanya. Jungkook mengangguk ragu.

"Aku Halmeoni Kim, Jungkook-ah! yang mengajarimu menyanyi 12 tahun yang lalu!" Detik itu juga Jungkook merasa ada sekelebat pikiran yang lewat di kepalanya.

"Jungkook-ie cita-cita mu menjadi penyanyi bukan?"

"Em! kenapa Noona?"

"Ah tidak, Eomma menanyakan apa cita-cita Kookie, terus Noona bilang cita-cita kookie menjadi penyanyi. Noona benar kan?"

"Eum! Noona benar! Kookie akan menjadi penyanyi terkenal! dan Kookie akan bilang kalau yang mengajari Kookie itu Halmeoni Kim!"

"Bagaimana dengan Noona?"

"Tidak akan wekkk!"

"Yakk!"

Wanita tua itu tersenyum kala melihat percakapan kakak-adik kecil itu. Ia membelai rambut Jeon muda dengan lembut. Bibirnya lanjut bernyanyi, membuat sang kakak diam dan menyuruh adiknya ikut diam.

Mata Jungkook mendadak buram. Ia melesat memeluk wanita tua di depannya, sang wanita tua sempat terkejut, tetapi ia langsung tersenyum dan mengusap punggung pemuda yang bergetar itu.

Jungkook menangis.

Menumpahkan semua kekesalan, penyesalan, dan rasa rindu yang melesak keluar di dadanya. Jungkook terisak keras saat Halmeonie Kim bergumam di telinganya.

Saat dua orang itu bertukar rindu, kening Hyomi mengkerut bingung. Kenapa Oppa cantik itu menangis? Yah kira-kira itulah pikiran gadis kecil itu sekarang.

"Shh . . . sudah Jungkook-ah. Hyora dan lainnya sudah tenang disana, kau jangan menangis lagi hem?" Wanita tua itu mengusap air mata Jungkook yang masih terisak. Baginya, Jungkook tetaplah seorang pemuda kecil tahun yang lalu, pemuda yang selalu memintanya menyanyikan karya-karya lama kesukaannya. Pemuda kecil yang butuh teman dan perhatian.

Jungkook mengangguk dan tiba-tiba membungkuk 45 derajat. "Ya tuhan, Jungkook sedang apa? Berhenti membungkuk dan tegakkan kepalamu." Tetapi tubuh Jungkook tidak bergerak. Wanita tua itu hanya berusaha menahan tangisnya ketika Jungkook bangun dan tersenyum kepadanya.

Jungkook sedang meyakinkannya.

Meyakinkan bahwa Ia baik-baik saja.

Sendiri.

Bertudung kegelapan dan penyesalan yang banyak.

Tetapi wanita tua itu tau. Bahwa dibalik kegelapan dan penyesalan itu terdapat sebuah cahaya kecil yang akan meneranginya.

Menariknya keluar dari sisi gelap kegelapan.

Dan wanita tua itu mengusap matanya ketika Jungkook mengucap terima kasih dan pamit pergi dari situ.

Ia yakin.

Jungkook akan kembali menjadi sosok 12 tahun yang lalu. Ceria dan tidak memiliki beban yang bertumpu di kedua bahunya.

...

Di sisi lain, Taehyung sedang mondar mandir khawatir didepan meja panitia. Didalam ruangan kecil itu hanya ada dirinya, Mark dan Bambam juga Park Jimin. Mereka bertiga rasanya sudah hampir bosan melihat Taehyung berdiri gelisah dan mengacak rambutnya sedari tadi.

"Sunbae, aku tau kau gelisah. Tapi sudah kubilang kan, jika Jungkook sedang dalam perjalanan kesini?" Bambam bertanya heran.

Taehyung tidak menjawab. Ia masih setia mondar-mandir, mengecek jam, dan mengacak rambut. Merasa muak, Mark berdiri dan menarik kerah Taehyung sehingga membuat leher sang empu tercekek. Dihempaskannya badan Taehyung ke sofa disebelah Jimin dan membuat Taehyung melotot kepadanya.

"Diam dan duduk hingga Jungkook sampai." Perintah Mark tegas.

"Aku tidak bisa Mar—"

BRAK!

"Apa aku telambat?! Hosh..hosh."

Perkataan Taehyung terpotong dengan gebrakan pintu disusul suara teriakan serta napas terengah engah Jungkook. Yup, namja kelinci itu berlari dari rumah Kim Jina karna melihat Jam yang sudah menunjukkan pukul 9.

Taehyung dan Mark menghela nafas lega sementara Bambam mengambil minuman dan Jimin menuntun Jungkook duduk. Pakaian Jungkook berantakan dan tubuhnya berkeringat karna berlari sementara tasnya tersampir loyo di tangan kanannya.

Taehyung mengambil tisu ditangan Jimin dan mengusap pelipis Jungkook. Jungkook membiarkan Taehyung berbuat sesukanya karna saat ini dia benar-benar lelah. Jimin mengikat rambutnya sementara Mark dan Bambam bertatapan penuh arti.

"Sepertinya kami harus pergi, kajja Noona!" Bambam menarik Jimin sebelum wanita itu sempat protes.

Mark tersenyum kecil kepada Taehyung dan menutup pintu ruang panitia.

Sekarang di ruangan kecil itu hanya tersisa dirinya dan Jungkook, keheningan melanda dua pemuda itu. Jungkook sibuk dengan nafasnya sementara Taehyung sibuk dengan kegiatan mengelap pelipis Jungkook. Jujur saja Taehyung sedikit heran melihat Jungkook yang terengah-engah saat sampai.

"Apa kau masih sanggup bernyanyi?" tanya Taehyung pelan.

Jungkook tidak menjawab. Ia membuka mata dan tersenyum tenang ke arah Taehyung, mengatakan ia baik-baik saja. Taehyung balas tersenyum, ia membuang tisu bekas itu ke tong sampah dan bersandar di sofa. Tangannya bergerak memindahkan kepala Jungkook pelan ke bahu kanannya.

Jungkook tertegun. Ia masih tetap membiarkan Taehyung berbuat sesuka hatinya karna ditekankan sekali lagi, ia masih sangat-sangat lelah. Namun lama-kelamaan Jungkook merasa matanya memberat, entah kenapa bersandar di pundak Taehyung membuatnya mengantuk. Taehyung melirik Jungkook yang mulai terlelap.

Setelah ia mendengar dengkuran halus, tangan kirinya yang bebas mengambil ponsel miliknya dan menekan sebuah nomor.

"Halo, Yong? Bisa tidak jadwal kami ditunda satu jam? Ya, suruh saja yang lain tampil duluan. Ya, kami penutup saja. Okay, trims Taeyong-ah."

Kemudian, Taehyung ikut menyandarkan kepalanya ke kepala Jungkook dan ikut terlelap.


Park Jimin disini ada dua. Park Chim Chim dan Park Jimin 15&.

Regards, Ddeonjeon.