Ready to Love, Ready to Hurt

Main Pairing : Kaibaek

Side Pair : Taoris, G-Top, Eunyeon

Summary : For him, love will never be a sweet thing, love is just a destroyer

***Chapter 3***

Tao selalu mengira semuanya baik-baik saja. Dia punya Yoona yang cerewet tapi perhatian padanya. Dia punya Amber yang tertutup tapi selalu meluangkan waktu untuknya. Dia punya Eunhyuk yang selalu menghiburnya. Dia punya Hyoyeon yang selalu memeluknya saat dia ketakutan. Dia punya Jiyong yang selalu menemaninya bermain. Dia punya Seunghyun yang pendiam tapi tidak pernah mendiamkannya. Dia punya Kai yang selalu membuatnya senang. Dia punya Baekhyun yang pemarah tapi sangat lembut padanya. Dan dia punya Kris yang dingin tapi mencintainya. Semuanya terasa sempurna.

Kai baru akan memberitahunya sebuah rahasia. Selama ini Kai memang selalu membuatnya tertawa, tapi Kai belum pernah benar-benar ngobrol dengannya. Tao selalu mengira itu karena Kai membencinya –meskipun Hyoyeon bilang tidak mungkin ada yang bisa membencinya. Tao selalu berpikir Kai membencinya karena Kai iri. Kai adik kandung Baekhyun. Tapi Baekhyun malah lebih sering menghabiskan waktunya bersama Tao. Saat Kai hendak memberi tahunya sebuah rahasia, dia merasa senang. Paling tidak Kai percaya dengannya.

Tapi semua rasa senangnya hilang dalam sedetik. Melihat Seunghyun berlari ke dalam rumah sudah sangat salah. Dan Jiyong yang mengekorinya takut-takut jelas bukan pertanda baik. Nephilim. Tao belum pernah bertemu mereka. Kris pernah sekali menceritakannya tentang nephilim. Tentang manusia berdarah malaikat. Tapi tetap tidak banyak yang Tao tahu. 'Semua akan baik-baik saja, aku sudah menandatangani perjanjian' selalu itu yang dikatakan Kris saat Tao bertanya soal nephilim.

Tao melihat jari Kris bergerak sedikit. Gerakannya sangat kecil. Anggota keluarga yang lain tidak menyadari gerakan itu. Tapi Tao melihatnya. Kris memintanya untuk mendekat. Tao yang memang sudah mulai ketakutan mendekati Kris tanpa pikir panjang. Memeluk pinggang pasangannya erat. Tangan Kris membelai rambutnya lembut. Tao benar-benar bersyukur memiliki Kris sebagai pasangannya.

Seunghyun berbicara dengan suara aneh. Dan semua anggota keluarganya menatap Seunghyun seolah vampir pendiam itu mengatakan ada babi terbang. Tapi bukan babi terbang yang keluar dari mulut Seunghyun. Melainkan 200 nephilim yang bersiap menyerang mereka karena mengira mereka melanggar perjanjian. Perjanjian yang tidak dimengerti Tao. Perjanjian itu ditandatangani tepat saat dia bergabung dengan keluarga.

Eunhyun dan Yoona memaki dengan kesal. Bahkan Baekhyun terlihat sedikit gentar. Tao semakin merasa takut. Apapun yang bisa membuat keluarganya tersentak pasti bukan hal menyenangkan. Dan 200 tidak pernah menjadi jumlah yang sedikit.

Tao sering merasa kesal pada dirinya sendiri. Tao selalu menjadi yang paling cengeng. Menjadi yang paling lemah. Menjadi yang paling penakut. Dan menjadi yang paling tidak berguna. Dia selalu dilindungi oleh yang lain. Tapi apa yang dilakukannya? Dia baru saja memberi ide yang membuat Kris berteleportasi ke sarang werewolf.

Memikirkan apa yang baru saja diperbuatnya benar-benar membuat Tao panik. Bagaimana kalau Kris diserang werewolf? Kris kuat. Tentu saja. Tapi melawan kawanan werewolf sendirian sama saja dengan bunuh diri. Dan itu semua ide Tao.

Vampir dengan mata panda itu tersentak saat seseorang menyentuh bahunya. Hyoyeon. Wanita itu tersenyum lembut pada Tao. dan Tao tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk vampir senior itu. Dia tidak sesegukan seperti biasanya. Dia hanya memeluk Hyoyeon. Gemetaran.

"Shh… jangan takut, baby… semua baik-baik saja. Aku di sini," suara Hyoyeon tenang seperti air mengalir. Sesuatu yang sangat dibutuhkan Tao. tapi tidak sebanyak dia membutuhkan kehadiran Kris.

Sepuluh menit berlalu tanpa ada tanda-tanda dari Kris.

Tao sudah benar-benar ingin menangis saat Kris muncul di tengah ruangan. Tubuhnya tegap dan tidak menunjukkan cacat apapun. Pelukan Kris selalu menjadi tempat favorit Tao, terutama disaat seperti ini. Tao membenamkan wajahnya di dada Kris. Menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali Tao menggumamkan kata maaf. Kris hanya mengangguk dan mengistirahatkan dagunya di pucuk kepala Tao. Vampir yang lebih muda tetap menangis. Rasanya senang bukan main saat melihat Kris ada di sampingnya lagi. Tidak terluka sedikitpun.

Tao baru berhenti menangis saat ruangan itu terasa sesak oleh bebauan baru. Bau anjing basah dan daging mentah khas werewolf. Dan ada baru vampir lain. Vampir asing yang tidak dikenal Tao.

"Hai, Kris! Sudah lama tidak bertemu. Wow, ini pasanganmu? Manisnya," ucap seorang vampir yang nyaris setinggi Kris. Rambutnya cokelat karamel. Matanya merah menyala. Senyum seakan tak pernah lepas dari bibirnya. Tao harus mengakui kalau vampir ini memesona. "Hei, manis. Siapa namamu?"

"Tao," jawab Tao sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Kris.

"Aish… kau manis sekali, kenapa kau mau dengan berandalan bagini? Hati-hati ya, dia ini kasar kalau main di kasur," ucap si vampir tinggi sambil berkedip. Ucapannya tidak dimengerti Tao sama sekali. "Kalau dia terlalu kasar, kau bisa datang padaku, manis. Pelukanku terbuka bagi setiap vampir manis."

Tao baru akan bertanya apa maksudnya saat Kris bersuara. Bukan suara tegas yang menuntut. Melainkan suara datar tapi bersahabat. "Bicara sekali lagi, Chanyeol. Dan akan ku lempar kau ke alhi agama."

Si vampir tinggi –Chanyeol—terkikik pelan dan pergi.

Sebelum Tao sempat bertanya sesuatu, Kris sudah menyeretnya ke sofa. Soafa merah muda kesukaan Tao. Dan Kris berlutut di depannya. Membenamkan wajahnya di lutut Tao. menghirup aroma manis yang menguar dari vampir muda itu.

"Kris mau melamar Tao?"

Kris tidak benar-benar terkikir geli. Dia hanya menatap Tao dengan pandangan geli. Yang mungkin hanya Tao yang tahu Kris punya pandangan seperti itu. "Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, baby?"

Tao menggelengkan kepalanya. Dan pembicaraan soal melamar berhenti disitu. Kris kembali menenggelamkan kepalanya di lutut Tao. sedangkan Tao sibuk mengedarkan pandangannya. Dan terpaku pada pasangan vampir yang sedang berciuman. Tao merasa pipinya memanas. Mereka berhenti berciuman. Vampir yang lebih tinggi memeluk vampir yang satu lagi dan mengatakan sesuatu. Kali ini mata Tao yang terasa panas.

"Aku akan tetap mencintaimu. Kalaupun ada salah satu diantara kita yang harus mati, itu aku. Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. Kematian tidak akan bisa merubahnya," katanya.

Kris mengangkat kepalanya. Menatap Tao yang mulai menangis. Matanya menatap Siwon dan Kibum yang sedang berciuman. Vampir dingin itu mengulurkan jarinya. Memaksa Tao memandangnya. Dia tahu apa yang membuat Tao menangis. Ucapan si vampir tadi –Siwon—terdengar jelas oleh Kris. Tapi dia tetap diam, menunggu Tao membuka mulutnya.

"Kris, janji, kau jangan mati," kata Tao. Suaranya kecil dan serak.

"Aku akan tetap mencintai—"

"Tapi Tao ga mau Kris Cuma cinta sama Tao! Tao maunya Kris di samping Tao! Cuma itu. Ga mau yang lain," tangis Tao semakin menjadi.

Kris hanya tersenyum lembut. Senyum yang hanya diberikannya pada Tao. Jarinya bergerak menghapus air mata dari pipi Tao. Melawan 200 nephilim tidak akan mudah. Tapi Tao memintanya untuk jangan mati. Maka dia tidak akan mati. Dan tidak akan membiarkan Tao mati. Tidak akan pernah.

Dengan perlahan Kris mengangkat wajahnya. Ciuman pertama. Tao sedikit tersentak. Tapi kembali tenang di pelukan Kris. Kris hanya sedikit melumat bibir bawah Tao. tidak lebih. Tidak ingin menakuti vampir kesayangannya ini. Kris tidak memasukkan lidahnya ke dalam mulut Tao seperti yang dilakukan Seunghyun pada Jiyong. Kris tidak meliarkan tangannya di tubuh Tao seperti yang dilakukan Eunhyuk pada Hyoyeon. Ciuman mereka terasa manis. Tidak terburu-buru. Tenang. Penuh cinta.

Suara dantuman yang keras memaksa Kris untuk melepas ciumannya dengan Tao. Bau manusia memenuhi indra penciumannya. Kris menatap mata Tao sebentar. "Itu tidak akan jadi ciuman terakhir," dan Kris berjalan anggun ke tengah perang. Dengan Tao di rangkulannya.

.

.

Kai POV

Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Maksudku, ini mengerikan. Nephilim ada dimana-mana. Anak-anak bulan seperti tidak bisa berhenti menggeram atau melolong.

Sekitar 4 meter dari tempatku berdiri sesosok vampir terlihat sedang adu pukul dengan sesosok nephilim. Nephilim itu jelas kalah ukuran. Tidak lama si vampir berhasil menangkap nephilim itu dan menghisap darahnya. Nephilim itu menjerit. Lalu diam. Aku sudah hampir tersenyum senang saat dengan sangat tiba-tiba seorang nephilim bertubuh kecil melompat ke bahu vampir tadi. Si vampir terlambat menyadarinya. Dia sadar saat tangan si nephilim sudah ada di lehernya.

Jangan pernah membiarkan nephilim menyentuh lehermu.

Sebelum aku sempar berteriak, si nephilim sudah menyentakkan kedua tangannya ke atas. Dan suara besi dirobek yang jelek memenuhi pendengaranku. Tubuh si vampir jatuh begitu saja di lantai. Tanpa kepala. Kalau aku masih manusia, aku pasti sudah muntah. Nephilim bertubuh kecil tadi melemparkan kepala si vampir ke dekat tubuhnya. Baju nephilim itu kotor oleh cairan hitam pekat dengan sedikit warna merah. Darah vampir. Dan dengan lincah membakar tubuh dan kepala itu.

Sebelum menjadi abu, aku sempat melihat wajah si vampir. Matanya yang merah terang terbelalak. Lebih terlihat terkejut daripada sakit. Dalam sedetik perasaan bersalah membanjiriku. Kalau saja aku bergerak untuk menolongnya tadi. Mungkin. Mungkin saja. Dia bisa…

"Anapáf̱sou en eirí̱ni̱ kai ev̱logía theoú tha sas pánta , o adelfós mou," ucapku tanpa sadar.

Aku tetap memperhatikan abu si vampir sampai seseorang menarikku. "KAI!" teriaknya. Aku masih setengah sadar. Tapi aku bisa merasakan orang ini menyeretku. Menjauhi medan perang. Dan aku tidak memberi perlawanan apapun. Pikiranku masih tertuju pada vampir malang tadi. Ini bukan pertama kali aku melihat pembunuhan. Tapi melihat bangsaku sendiri dibunuh. Itu memualkan.

Aku tetap diam saat orang tadi tiba-tiba berteriak dan melepaskan cengkramannya pada kausku. Butuh sepersekian detik untuk membuatku sadar orang itu Baekhyun. Dan sekarang seorang pemuda nephilim sedang mencekiknya.

Aku tidak berpikir saat mengeluarkan pisauku dan melemparkannya ke mata kiri si nephilim. Nephilim itu menjerit dan melepaskan Baekhyun. Dengan kasar diambilnya pisau itu dari mata kirinya yang sekarang bolong. Darah segar mengalir dengan deras dari luka itu. Sebelah matanya yang masih bagus menatap penuh kebencian ke arahku. Tidak untuk waktu lama. Aku segera melompat ke arahnya. Pisau 10 cm yang kurus berada di cengkramanku dengan sempurna.

Ada rasa senang tersendiri saat raut wajah nephilim itu terlihat ketakutan. Dia mengeluarkan suara antara merengek dan mengeluh. Permohonan ampun yang tidak terucapkan. Dengan malas kuarahkan ujung pisauku di dadanya. Di atas jantungnya.

"Kau tahu, biasanya aku langsung meminum darah korbanku," pisau itu mulai merobek kulitnya. Si nephilim makin kelihatan panik. Matanya yang bolong terus-menerus mengeluarkan darah.

"Aku bukan Kris yang hobi bermain-main dengan korbannya," pisau itu bergerak dengan perlahan. Makin dalam. Ku tutup mulut nephilim ini dengan tanganku yang bebas. Mencegahnya berteriak.

"tapi kau barusaja menyakiti kakakku," si nephilim berusaha berontak. Tangannya mendorongku. Tapi vampir selalu lebih kuat dari manusia. Kakinya dengan liar berusaha menendang punggungku. Tapi Baekhyun menahannya. Aku hanya tersenyum.

Tapi melihat Baekhyun membuat amarahku muncul lagi. Nephilim sialan ini hampir membunuh kakakku. Baekhyunku. Dia hampir membunuh orang yang kucintai. "BRENGSEK!" kuangkat pisauku. Sebelum nephilim ini sempat mendesah lega, pisau itu kembali tenggelam di dadanya. Cairan merah mengotori tanganku. Mata si nephilim terbuka lebar. Mulutnya terbuka dalam jeritan yang tidak akan pernah keluar. Dan tubuhnya lemas seketika di bawahku.

Tanganku merah oleh darah. Tapi untuk pertama kalinya aku tidak merasa tertarik pada darah. Aku hanya merasa aneh. Aku tidak pernah membunuh seperti itu. Biasanya aku membunuh mangsaku secepat yang kubisa. Berusaha sedemikian rupa supaya mangsaku tidak menderita. Tapi ini… sudahlah, dia pantas menderita.

Dengan perlahan kutarik badanku berdiri. Melihat sekeliling. Rumahku ada lumayan jauh di belakang. Aku dan Baekhyun ada di hutan. Sendirian. Lumayan jauh dari pusat medan perang. kusandarkan punggungku pada sebatang pohon. Membelakangi mayat si nephilim. Baekhyun duduk di sebelahku nyaris tanpa suara.

"Makasih," kataku. Tanpa menoleh ke arahnya. Terima kasih sudah membawaku ke sini. Terima kasih tidak menamparku tadi. Terima kasih sudah mau mendengarkan perasaanku. Baekhyun hanya mengangguk.

Keren juga bisa mendapatkan suasana damai seperti ini saat sedang perang. Baekhyun seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi. Tapi dia membuka mulutnya lagi, hanya untuk menutupnya lagi.

"Apa?"

Dai menimbang sebentar sebelum bersuara."Tadi itu siapa?" tanyanya. Menatapku langsung.

"Tadi apa?"

"Yang kau doakan tadi."

Bayangan vampir malang yang tadi dibunuh oleh nephilim bertubuh kecil muncul dibenakku. Dan perasaan mual itu juga terasa lagi. "Itu bukan doa, Baekhyun."

"Lalu?"

"Itu ucapan perpisahan, Anapáf̱sou en eirí̱ni̱ kai ev̱logía theoú tha sas pánta , o adelfós mou," kataku. Berusaha menyingkirkan tatapan kaget si vampir malang itu dari otakku. "itu bahasa Yunani, rest in peace and God will always blessing you, my brother, itu artinya"

Baekhyun menggigit bibirnya sendiri. Lalu membukanya untuk berbicara. "sejak kapan kau belajar bahasa Yunani?"

"Aku tidak belajar bahasa Yunani. Kris selalu mengucapkannya di hari peringatan kematian Jongwoon," rasanya aneh mengucapkan nama itu setelah puluhan tahun berusaha menghapusnya dari ingatan.

Jongwoon. Vampir paling malang yang bisa kuingat. Umurnya 100 tahun lebih muda dariku. Dia sangat dekat dengan Kris. Mereka seperti kakak adik. Kemanapun Kris pergi, Jongwoon akan mengikutinya seperti anak anjing. Anak anjing yang menggemaskan. Sebelum Tao bergabung, dia lah 'baby' di keluarga kami. Sampai sekelompok nephilim menyerangnya saat dia sedang berburu dengan Kris. Dia baru dua tahun menjadi vampir. Kris mati-matian melindungi Jongwoon. Tapi Jongwoon juga ingin melindungi Kris.

Ada dua cara membunuh vampir. Patahkan lehernya lalu bakar. Atau tusuk jantungnya. Jongwoon mati dengan sebuah bilah besi menembus jantungnya. Dalam usaha melindungi Kris. Seorang nephilim membawa tubuhnya pergi. Meninggalkan Kris yang mengamuk dan menghabisi rekannya dengan brutal. Sejak saat itu Kris membenci nephilim. Kalau bukan karena Tao yang benci perang, aku berani bertaruh, jangankan menandatangani perjanjian. Kris bahkan tidak akan sudi meludah pada para nephilim.

"Tidak ada gunanya mengingat-ingat Jongwoon. Dia sudah—" Baekhyun tampak sedih. "—Mati."

Kuanggukkan kepalaku. Dan sejurus kemudia aku sudah berdiri. Bersiap kembali ke medan perang. "Ayo kak, sebelum Kris menemukan kita bersantai disini. Kau tahukan dia itu pemarah kadang-kadang."

Baekhyun mendengus. "Sejak kapan Kris jadi pemarah?" tapi dia tetap berdiri.

Aku tertawa sendiri. Dan belum selesai aku tertawa, Baekhyun sudah ada tepat di depanku. Dan bibirnya menempel di bibirku.

Aku terpaku. Kaget setengah mati. Sedangkan Baekhyun memanfaatkan keadaan bibirku yang terbuka untuk memasukkan lidahnya. Aku pun hanya bisa mendesah pelan saat lidah Baekhyun meraba langit-langit mulutku.

Tidak mau kalah, kudorong Baekhyun hingga berbaring di tanah dan mengambil alih ciuman kami. Ciuman liar kami. Bukan ciuman lembut seunghyun dan Jiyong. Lidah kami saling membelit, bertarung untuk mendapatkan posisi dominan. Yang tentu saja dengan tidak terlalu sulit kumenangkan.

Baru saja aku hendak menyusupkan tanganku ke dalam kaos Baekhyun, suara langkah kaki mengusik pendengaranku. Tapi bukan suaranya yang mengagetkanku. Tapi baunya. Sudah puluhan tahun, tapi bau ini masih sangat kukenal. Baekhyun tampak sama tegangnya.

Langkah kaki itu semakin mendekat. Dan akhirnya kami bisa melihatnya. Tubuhnya tergolong pendek dan langsing. Rambutnya hitam kelam. Tangan kurusnya bergerak-gerak seiring dengan irama tepuk tangannya. Matanya merah menyala. Jongwoon masih hidup.

Kai POV end

.

.

Kai dan Baekhyun menatap Jongwoon tanpa berkedip. Tidak mungkin.

Jongwoon masih diam. Masih bertepuk tangan. PROK PROK PROK. "Apa kabar, kakak?"

"J-Jongie, tapi kau sudah.. kau—"

"Mati?" suaranya rendah dan datar. Ini bukan Jongwoon. Pikir Kai. Jongwoon tidak akan berbicara seperti ini.

Kai dan Baekhyun terlalu terpana untuk bicara. Jongwoon tersenyum manis. Untuk sesaat mereka mengira ini Jongwoon mereka yang manis dan polos. Tapi seringai yang muncul di wajahnya mematahkan semua pikiran mereka. Jongwoon terlalu polos untuk menyeringai.

Jongwoon berhenti bertepuk tangan. Ekspresinya kembali datar. Sebelum berubah menjadi jijik. "Ew, ku kira hubungan vampir sedarah itu terkutuk."

Kakak-beradik itu masih diam. Masih sibuk mencerna pemandangan dihadapan mereka.

"Ada apa dengan wajah kalian?" Jongwoon berjalan dengan keanggunan yang mengerikan. "Mungkin aku harus mulai bercerita. Begini ya, kakak, aku tidak pernah mati. Aku memang tertusuk besi itu. Tapi aku tidak mati, mereka kan belum membakarku. Seorang nephilim membawa tubuhku. Entah untuk apa. Tapi untunglah Tuan Kyuhyun mengambilku dan merawatku. Dia juga melatihku dengan baik. Jauh lebih baik daripada yang kalian lakukan selama dua tahun."

Mata Jongwoon berkilat marah. Tapi ada yang aneh. Ini Jongwoon. Tapi bukan Jongwoon. Ya ampun! Ini membingungkan!

Belum sempat Kai bereaksi. Jongwoon sudah maju. Dengan kecepatan mengerikan. Dan tahu-tahu Kai sudah terlempar ke belakang. Bunyi retakan tulang terdengar. Kai benar-benar tidak suka bunyi jelek itu.

Baekhyun berusaha menyerang balik. Kepalan tangannya hanya tinggal sedikit lagi mengenai rusuk Jongwoon. Namun Jongwoon memiliki gerakan yang mengagumkan. Dia berkelit sedikit, seolah sedang menari. Mencengkram tangan Baekhyun dan memelintir tangan itu ke belakang. Dan lagi-lagi suara tulang retak.

Baekhyun mengerang kesakitan. Tapi Jongwoon seperti tidak mendengar apapun.

Lalu Jongwoon mengatakan sesuatu di telinga Baekhyun. Cukup keras untuk didengar Kai. "nikto ne sobirayetsya , chtoby sootvetstvovatʹ sile."

Dan Baekhyun menjerit. Lalu jatuh tersungkur di tanah. Tidak bergerak.

Kai berusaha bangkit. Namun rasa sakit di dadanya cukup buruk untuk membuatnya kembali tersungkur. "Sialan! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!"

Jongwoon menatap Kai seolah dia sampah yang patut di buang. Kai memandang Baekhyun dengan miris. Kai tidak tahu sama sekali apa yang dilakukan Jongwoon pada Baekhyun.

Sebelum Kai mulai meledak, Baekhyun mulai bergerak. Berdiri. Dan berjalan ke arah Kai. Tidak memperdulikan rasa sakit di dadanya, Kai dengan semangat langsung berlari ke arah Baekhyun.

Baru saja Kai hendak memeluk Baekhyun, dadanya serasa meledak. Rasanya panas. Pedih. Sakit. Apalagi saat menyari kalau Baekhyun yang memegang pedang. Pedang yang kini tengah menembus Jantungnya.

TBC

.

.

Sorry gaje, hehe

Thanks for reading

Review, please ^_^