Hari-hariku terasa sepi karena Hyuuga Hinata kini menjauhiku. Aku telah melakukan kesalahan siang itu. Aku menciumnya tanpa meminta izin terlebih dahulu. Wajar bila seorang gadis marah karena hal itu. Mungkin yang Hinata pikir sekarang ini adalah aku mempermainkannya.
Hyuuga Hinata adalah sahabatku sejak kecil. Aku sangat mengenal sifatnya. Dia gadis yang pendiam dan tertutup. Rambutnya berwarna lavender. Matanya memancarkan pesona yang tak bisa ku dapat dari gadis lain. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya pasti terdengar lembut. Suaranya sangat menenangkanku kala gundah. Kehadirannya sangatlah berarti bagiku.
Aku sangat bahagia saat dia berjanji untuk selalu berada di dekatku, disisiku. Karena itu yang selalu ku inginkan darinya. Aku selalu dan terus ingin berada di dekatnya. Tiga tahun jauh dari Hinata itu terasa sangat menyakitkan. Inginku selalu menggenggam tangannya dan takkan pernah ku lepaskan.
"Gaara, tumben kau bisa tersenyum?"
"Dari pada kau yang selalu tersenyum. Kau sudah menembak Ino?"
"Sudah, sejak kapan kau memperhatikan orang lain? Yang aku tahu Gaara itu dingin? Jangan-jangan kau maho?"
"Berisik. Berarti kau sudah jadian dengannya?"
"Ya, tapi sebenarnya bukan Ino tujuan awalku. Kau tahu gadis Hyuuga itu?"
"Naruto..."
Aku menonjok muka Naruto seketika. Tak ada yang melerai kami karena kelas sudah sepi. Aku marah pada Naruto karena menggunakan Ino sebagai batu loncatan. Aku tak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Hinata. Sudah cukup menderita bagiku karena jauh dari Hinata. Jangan sampai aku tambah menderita karena melihat Hinata dijauhi temannya sendiri. Aku paham betul Hinata. Dia merasa kesusahan kala beradaptasi dengan orang baru. Jika Ino dan Sakura menjauhinya karena Naruto, maka Hinata akan benar-benar sendirian.
Aku jalan terseok-seok setelah perkelahianku dan Naruto usai. Aku berjalan di lorong yang sudah sepi. Tapi, saat itu juga gadis Hyuuga menabrakku. Apakah ini imbalan yang setimpal untukku? Aku memperjuangkan Hinata saat perkelahian tadi dan kini dia datang untuk merawat lukaku?
Di sepanjang perjalanan pulang, aku dan Hinata sama-sama terdiam. Sebenarnya aku ingin memulai percakapan, tapi lidahku terasa kelu. Bahkan untuk mengucapkan kata 'Arigatou', lidahku terasa sangat kelu.
Hinata terus memapah tubuhku. Aku tahu dia sudah sangat capek karena tubuhku yang lebih besar darinya. Tapi, dia tak pernah menyerah. Dia terus berjuang memapah tubuhku. Inginku ucapkan kata terimakasih untuknya saat kami sudah sampai di kamarku. Tapi, rasa pusing ini membius diriku seketika. Aku tertidur begitu saja. Dan saat aku bangun, sudah tidak ada Hinata di kamarku.
"Gaara, apa yang terjadi?"
"Temari-nii"
"Berhentilah berkelahi seperti ini Gaara!"
"Aku merasa sangat kesal"
"Kenapa?"
"Naruto membuatku kesal"
"Bukankah kalian sahabat? Wajar kan kalau hal seperti itu terjadi. Jangan gunakan kekerasan!"
"Dia keterlaluan"
"Apa yang kalian permasalahkan? Gadis?"
"Jangan berlagak tahu segalanya"
"Benarkan? Aku pernah jadi remaja"
"Okey itu benar. Tolong berilah aku waktu untuk istirahat"
"Gaara, siapa yang membalut lukamu? Balutan serapi ini pasti balutan seorang gadis"
"Hinata"
"Ganbate Gaara, suatu saat nanti Kami-sama akan memberimu kekuatan untuk menyatakan perasaanmu padanya"
Keesokan harinya, aku berniat mengajak Hinata berangkat bersama. Aku harus bisa mengucapkan kata 'arigatou' pada Hinata pagi ini. Tapi terasa sangat kelu. Aku dan Hinata hanya sama-sama terdiam hingga kami memasuki gerbang SMA Konoha. Sejak saat itu, Hinata sudah tidak menjauhiku lagi. Aku bahagia karena bisa bersama Hinata tanpa dijauhi olehnya.
Aku berniat mengatakan kata 'Arigatou' itu hari ini. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku langsung bergegas menuju kelasku. Tapi, saat itu banyak senpai perempuanku yang keluar dari kelasku. Apakah Hinata dibully lagi? Tak ku sangka Lee berani memegangi kepala gadis yang aku cintai. Aku langsung pergi meninggalkan mereka. Aku langsung mencari tempat yang sepi. Tentu saja aku pergi ke atap sekolah.
"Gaara?"
"Naruto..."
"Maaf, kemarin memang aku yang salah"
"Sudahlah. Bisakah kau meninggalkan tempat ini? Aku butuh tempat untuk menyendiri"
"Gaara, tapi sebelum aku pergi aku ingin membicarakan sesuatu"
"Apa?"
"Apakah kau sangat mencintai Ino?"
"Kau salah paham"
"Jadi mengapa kemarin kau memukulku?"
"Aku tidak mencintai Ino"
"Jelaskan padaku Gaara. Jalan pikiran kita berbeda. Aku tak bisa membaca pikiranmu"
"Pergilah Naruto. Ku mohon"
Apa yang ku lihat tadi sangat membuat hatiku sakit. Apakah cintaku bertepuk sebelah tangan? Apakah Hinata juga mencintai Lee? Gosip sudah tersebar di sekolah ini, tentang Lee yang selalu mengejar Hinata. Apakah pada akhirnya hati Hinata juga luluh? Apakah aku harus mengejar Hinata juga agar hatinya luluh padaku? 'kreekk' ada yang membuka pintu. Rupanya gadis lavender yang datang kemari. Ia tak meyadari keberadaanku yang sedang berdiri di bawah bayang-bayang.
"Kau, juga sering kemari?"
"Gaara?"
"Kenapa mereka membullymu lagi?"
"Tak tahu"
"Mungkin, karena hubunganmu dengan Lee"
"Tidak, aku tidak ada apa-apa dengannya?"
"Honto?"
"Ya, aku sudah menyukai cowok lain"
Aku berjalan mendekati gadis itu. Aku mencoba menangkap arah pandangnya yang tak berani memandangku. Dia hanya menunduk di depanku. Ku lihat ada semburat merah di pipinya. Aku memperhatikan rambutnya yang tertiup angin. Naluri laki-lakiku menggerakkan tanganku untuk mengelus rambutnya. Setelah itu dia berani menatapku. Aku tersenyum bersyukur karena dia tidak berpacaran dengan Lee. Jadi masih ada peluang untukku. Tapi, dia sudah menyukai orang lain. Bagaimana kalau itu bukan aku? Aku langsung memeluk tubuhnya. Aku tak ingin orang lain selain diriku bisa memiliki Hinata. Aku merasa kaget saat Hinata membalas pelukanku. Apakah ini waktu yang tepat untukku mengungkapkan perasaan? Tapi, bisa saja Hinata membalas pelukanku karena kami ini bersahabat. Aku takut cintaku bertepuk sebelah tangan.
"Hinata, kau mau menemaniku sore ini?"
"Kemana?"
"Aku ingin mengunjungi makam ibuku"
"Hm"
Sebenarnya tujuanku mengunjungi makam ibuku adalah untuk meminta izin darinya. Aku ingin meminta izin untuk mengungkapkan perasaanku pada gadis yang sekarang sedang berdiri di sampingku. Aku masih saja berdiam diri karena Hinata masih di dekatku. Lidahku kelu bila harus curhat tentang dirinya di depan makam ibuku dan di depan dirinya. Hinata meninggalkan ku karena sedari tadi aku hanya terdiam. Dia ingin memberikan privasi untukku.
"Kaa-san, bagaimana kabarmu disana? Baik-baik saja bukan?"
Aku bercerita di makam ibuku lama sekali. Aku menceritakan ayahku yang selalu sibuk bekerja, Kankuro yang selalu merindukanku di USA, dan Temari yang selalu menceramahiku layaknya seorang ibu bagiku. Tak lupa juga aku mencerita kisahku dan Hinata. Aku menceritakan betapa bahagianya diriku karena sekarang Hinata sudah tidak menjauhiku.
"Kaa-san, aku meminta izinmu untuk mengungkapkan perasaanku padanya"
Setelah dari makam di bukit kenangan
"Hinata..."
"Nani?"
"Teruslah bersamaku"
"Hm"
"Berada di sisiku"
"Hm"
Itu yang terjadi kemarin. Kini, aku sedang menunggu gadis Hyuuga ini di kelas. Sudah jam 3 tepat. Akankah dia datang? Aku semakin ragu akan kedatangannya. Aku tak berani menoleh kearah pintu karena takut kecewa. Lebih baik aku terus memunggungi pintu kelas. Tapi, akalku menolaknya. Mungkin mencarinya lebih baik dari pada aku berdiam diri disini.
"Hinata?"
"Aku sudah sedari tadi disini"
"Kenapa kau tak memanggilku? Kenapa kau harus menunggu membalikkan badan?"
"Karena, aku telah terbiasa menunggu"
Hinata berjalan ke arah papan tulis. Ia mengambil kapur dan menuliskan sesuatu di papan tulis. Mungkin dia sama gugupnya denganku. Tapi, aku tak bisa menyampaikan salam perpisahan ini hanya lewat tulisan di papan tulis. Aku harus mengucapkannya secara langsung.
"Hinata, aku akan menghabiskan masa SMA ku di USA"
"Apakah aku harus menepati janjiku untuk terus bersamamu?"
"Aku tidak akan memaksa Hinata. Hinata, bolehkah ..."
"Hm"
Aku memeluk Hinata saat itu juga. Aku bisa merasakan pelukannya semakin erat. Apakah ini waktu yang tepat bagiku untuk menyatakan perasaan? Iya, aku harus menyatakan sekarang juga. Tak peduli cintaku bertepuk sebelah tangan atau sama-sama suka. Aku takkan tahu bila belum mencobanya.
"Hinata..." panggilku
"Nani?" tanya Hinata
"Aku..."
"Gaara" panggil Naruto menyela
"Naruto" ucapku sambil menjauhkan tubuhku dari Hinata
"Maaf aku mengganggu kalian. Tapi, Tsunade sensei memanggilmu dan juga Hinata. Kalian telah ditunggu di ruang musik" ucap Naruto menyela
"Hinata, kau pergilah duluan. Aku akan menyusul" ucapku pada Hinata
"Kimono yang bagus Hinata" ucap Naruto pada Hinata yang berjalan melewatinya
Aku hanya terdiam menunggu tanggapan dari Naruto. Mungkin sebentar lagi ia akan menanggapi kimono kami yang sama. Pantas saja Temari memaksaku mengenakan Kimono ini, ternyata dia juga membuat Hinata mengenakan kimono yang sama.
"Jadi, dia alasan kau menonjokku"
"Hm"
"Ganbate Gaara, bagaimanapun juga aku tetap mendukungmu"
Kini aku sedang berada di panggung. Rupanya Tsunade sensei menyuruh Hinata untuk menggantikan vokalis yang suaranya sedang serak. Sebelum tirai terbuka aku ingin mengungkapkan perasaanku pada Hinata. Tapi, saat aku hendak memulai kata-kataku, pick yang aku pegang terjatuh. "Hati-hati Gaara" ucapnya seraya mengambilkan pick itu untukku.
Saying I love you is not the words I want to hear from you
Is not that I need you, not to say but if you only knew
How esay It would be to show me how you feel
More than words it's all you have to do to make me feel
Than you wouldnt have to say that you love me
Cause I already know
Para penonton tampak riuh karena penampilan kami. Aku juga sempat mendengar teriakan penonton yang mengira kami sudah berpacaran. Mungkin karena aku dan Hinata yang saling memandang selama membawakan lagu berjudul More than words itu. Meskipun tanganku memainkan gitar, mataku tetap fokus menatap wajah gadis Hyuuga yang berdiri di sampingku. Begitu juga Hinata tetap memandangku seakan mengungkapkan rasa cintanya padaku. Tentang awan itu, aku baru menyadari itu.
Setelah aku menyadari clue dari Hinata tentang awan di makam itu, Hinata menghilang bersamaan dengan tirai yang tertutup. Masih ku dengar tepuk tangan penonton yang riuh, tapi tak ku hiraukan. Aku langsung mencari Hinata. Tentu saja tempat yang pertama kali ku kunjungi adalah atap sekolah. Tapi hanya ada Ino dan Naruto disana.
"Gaara?" panggil Naruto
"Maaf aku mengganggu kalian" ucapku
"Tadi juga Hinata kemari, tapi langsung pergi" ucap Ino
"Kemana dia pergi?" tanyaku
"Aku tak tahu"
Aku langsung berlari lagi. Semua tempat dipenuhi oleh pengunjung dan para siswa, kecuali atap. Hinata takkan pergi ketempat yang ramai. Tapi dimana? Mungkinkah? Aku berlari lagi mencari Hinata. Aku tak mempedulikan teriakan orang-orang yang aku lewati. Takku pedulikan peringatan yang melarangku berlarian. Ternyata benar, Hinata sedang duduk di samping rak buku. Disaat festival budaya, jarang orang yang membaca buku di perpustakaan.
"Kau menemukanku"
"Kenapa kau lari?"
"Kenapa kau mencariku?"
"Sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu"
"Iya, akan ku dengarkan" ucap Hinata sambil membuang muka
"Aishiteru" satu kata itu berhasil membuat Hinata menoleh kearahku
"Maaf Hinata. Seharusnya aku katakan sedari dulu. Tapi rasa khawatirku tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan itu lebih besar. Harusnya aku abaikan perasaan yang seperti itu" sambungku
"Honto?"
"Iya Hinata. Kau akan tetap bersamaku kan?"
"Tidak Gaara, kau belum mengetahui siapa yang aku cinta"
"Itu aku kan? Aku terlalu bodoh. Tentang awan yang kau hitung itu berjumlah 191 kan? Itu tanggal lahirku Hinata 19 Januari. Benarkan?"
"Hm"
Aku menarik gadis Hyuuga ini kedalam pelukanku. Aku tak ingin melepaskannya. Sedetikpun aku tak ingin. Sejak saat itu kami menjadi sepasang kekasih. Kami selalu bersama. Tentu saja Hinata meneruskan study di USA bersamaku.
"It's more than words, Hinata"
"What do you mean?"
"Your love, no word to make me feel"
-OWARI-
