Judul: I'll Accept Your Challenge!
Chapter 4: A journey to the Horunka!
Genre: Adventure, Fantasy
Disclaimer: Saya bukan pengarang dari novel, anime, dan komik Sword Art Online. Saya hanya pernah mengarang dan memiliki fanfic ini saja. Pengarang Sword Art Online adalah Reki Kawahara.
«SAO»
Setelah aku memasuki kawasan hutan, aku langsung mengaktifkan skill «Searching». Aku dilanda rasa bersalah sambil menangis terus berjalan menelusuri hutan ini. Ya, aku hanyalah seorang pengecut yang mementingkan diri sendiri dengan meninggalkan teman pertama yang ditemuinya. Aku yakin Klein akan memaafkan perbuatanku, namun aku tetap saja merasa bersalah.
Aku terpaksa berhenti menangis ketika aku mendengar suara gemerisik di semak-semak. Aku langsung mengendalikan emosiku dan menfokuskan skill «Searching»ku ke semak itu. Dibalik semak itu lalu muncul kursor berwarna. Di SAO, ada 3 indikator warna mob, yaitu merah, ungu, dan putih. Merah berarti level monster sama dengan kita, semakin keunguan maka makin kuat monster itu, dan semakin putih maka monster itu semakin lemah. Mob bernama «Forest Tiger» tersebut memiliki kursor berwarna ungu murni tanpa campuran warna merah. Mob yang kuat!
*Sudut pandang orang ketiga*
Meskipun mob tersebut kuat, Aera tetap ingin melawannya. Aera mengendap mendekati «Forest Tiger» sampai jarak antar mereka tinggal 5 meter. Aera diam-diam menyiapkan skill «Rage Spike». Pedangnya pun bersinar biru terang dan ia melesat maju menerjang harimau tersebut, menciptakan efek serangan kejutan. Harimau yang kaget itupun tidak dapat berbuat apa-apa dan mendapat serangan telak dari Aera, namun Aera kaget dengan sisa HP musuhnya. HP musuhnya masih sisa 95%!
Sang Harimau tidak tinggal diam diserang begitu. Ia langsung menerkam Aera. Aera menghindar ke arah kanan harimau itu, namun naas kaki depan Forest Tiger masih bisa menjangkaunya dengan ayunan cakaran yang tidak hanya membuat luka sobekan, namun juga membuat Aera terpental 4m kebelakang. Aera merasakan rasa sakit, walau tidak terlalu parah. 'Apabila diserang mob ini menimbulkan rasa sakit, gimana rasanya diterkam yang asli ya?' pikirnya. HP Aera berkurang 34%!
Aera langsung serius. Mode ini biasanya dipakai apabila ia diambang kekalahan dalam pertandingan bulutangkis. Ia berkonsentrasi penuh dan langsung mengaktifkan «Rage Spike», yang mengenai seluruh bagian kiri dari tubuh Forest Tiger dan membuat Aera berada dibelakang badan dari Harimau itu. Aera langsung membuat kombo «Sword Skill» dimulai dari «Horizontal», dilanjutkan dengan «Slant», dan diakhiri dengan «Vertical». Sisa HP sang harimau berkurang 20% menjadi 75%. Aera melompat mundur untuk menghindari cakaran Sang Harimau.
Aera mengulangi kombo tersebut sebanyak tiga kali dan berhasil membuat HP Sang Harimau tinggal 15%. Ia berniat mengulang kombo itu mempersiapkan «Rage Spike» sekali lagi dan menerjang Forest Tiger. Naas! Aera tidak mengetahui bahwa «Artificial Intelligence» dari mob di game ini mempelajari gerakan pemain. Alhasil sang Harimau tidak diam saja melihat Aera menerjangnya. Ia langsung ikut menerkam Aera yang tidak bisa berkelit lagi karena system assist dari Rage Spike. Rage Spike berhasil mengenai leher Forest Tiger, yang merupakan titik lemahnya, dan si Forest Tiger berhasil menerkam Aera, membuatnya kehilangan 34% HP lagi, dan menindihnya. Pedang «Starting Sword» Aera lepas dari tangannya.
*Sudut pandang Aera*
Ugh, pedangku jatuh ketanah. Aku tidak menyangka kalau «AI» dari mob ini mempelajari gerakanku. Aku terpaksa tiduran telentang tidak bisa bergerak karena tertindih kaki-kaki harimau itu. Harimau itu pun langsung mau menggigit legerku dan aku berusaha menahan rahang bawah Harimau itu dengan tangan kiriku selagi tangan kananku berusaha menggapai pedangku yang jatuh didekatku. Ini merupakan keadaan kritis bagi kedua belah pihak. Apabila tangan kiriku capek dan tidak kuat menahan rahang harimau itu, maka aku akan mati, disini dan di dunia nyata. Sedangkan apabila tangan kananku berhasil mengambil pedangku, maka harimau itu akan mati karena skill «Horizontal»ku. "Sedikit lagi!" kataku sambil terus berusaha. 5cm lagi, 4cm, 3cm, 2cm, DAPAT! Aku langsung mengaktifkan skill «Horizontal» dan memenggal leher Harimau itu.
"Fuuuh..." aku menghela napas. Sudah lama aku tidak berada dalam situasi hidup-mati seperti itu. Terakhir kali aku mengalami situasi hidup-mati adalah saat aku digigit ular berbisa di hutan dekat rumah paman. Aku langsung pergi memanjat pohon untuk beristirahat di dahannya. Alasan agar aku beristirahat di dahan pohon adalah agar tidak diincar monster agresif ditanah. Aku langsung menggunakan potion untuk mengisi HP barku sedikit. Rasanya PAHIIITT...~!. Mungkin pahitnya mengalahkan jamu yang biasa diminum ibuku. Sembari aku menikmati ketidakenakkan potion itu aku melihat-lihat inventarisku.
Aku dapat 6 «Low Quality Tiger Skin», 4 «Forest Tiger Meat» , dan 2 «Nova Sword». 'Wow, dapet pedang baru nih!' pikirku. Aku mencoba pedang baru tersebut yang ternyata beraaat... Aku mengecek berapa STR yang diperlukan untuk pedang itu. Ternyata pedang itu membutuhkan 6STR, sedangkan aku hanya punya 4. Akupun memasukkan kembali pedang itu kedalam inventarisku.
Setelah selesai beristirahat+memulihkan HPku, aku melanjutkan perjalananku. Aku berencana menghindari pertempuran sebisa mungkin karena armorku yang sekarang sangatlah tidak mendukung untuk bertempur dengan mob disini. Tapi sialnya entah nasibku buruk atau memang gamenya susah, aku malah bertemu lebih dari 20 mob sepanjang perjalananku. Semuanya berkursor magenta dan ungu. Alhasil potionku tinggal 3 buah.
«SAO»
Desa «Horunka» akhirnya terlihat. Ketika aku hampir sampai gerbang desa, aku mendengar suara ledakan. Aku langsung mengaktifkan skill searchingku (yang memang selalu aku gunakan selama tidak dalam masa «Cooldown»). Aku melihat ada seorang pemain yang dikelilingi oleh lebih dari 10 monster «Little Nepent». Aku langsung melesat untuk menolong pemain itu. Untungnya kursor mob Little Nepent hanya berwarna merah, tidak magenta atau ungu seperti mob yang aku temui ditengah hutan. Aku menemukan wujud dari Little Nepent seperti kantung semar dalam pikiranku, akar tak terhitung jumlahnya menggeliat seperti mereka akan bergerak. Vines, dengan daun runcing terpasang, benang ikat di sisinya dan «mulut» untuk mengkonsumsi mangsa, menggiringnya ke cairan asam kental didalam tubuh si monster.
Aku langsung masuk dengan skill «Rage Spike» dan memotong vines yang akan menyerang pria itu. Pria yang kaget akan kemunculanku langsung berteriak "Apa yang kau lakukan! Dengan armor seperti itu kamu hanya akan mati! Lari!"
"Aku lebih baik mati daripada meninggalkan orang yang berada dalam kondisi berbahaya tanpa menolongnya," jawabku.
"Baiklah, jangan mati ya. Kita akan membentuk formasi dengan saling membelakangi. Berusahalah untuk membunuh setidaknya dua. Aku akan berusaha untuk menghabisi sisanya," dia langsung menjelaskan strateginya.
Kami langsung mulai bertarung dengan para Little Nepent. Aku yang selalu mencari titik lemah mob (untuk bonus dari skill ku) menemukan titik lemah mob ini ada dibagian bawah dari kantungnya, dekat bagian akar. Aku langsung mengincar bagian itu. Dengan tiga kali «Slant» aku berhasil menghabisi 1 Little Nepent. Aku berhasil menghindari semua serangan vines dan cairan asam dari Little Nepent. Pria itu pun nampaknya juga memiliki reflek yang tinggi, namun aku tidak kalah dan berhasil membunuh 6 Little Nepent, sedangkan ia berhasil membunuh 5. Kami pun kelelahan setelah pertarungan tersebut. Tetapi aku melihat bahwa ada beberapa Little Nepent yang menyerang sesuatu yang tidak terlihat. Aku tanya pria itu tentang hal tersebut "Apa yang diserang little nepent tersebut?"
"Seorang Beta-Tester sepertiku. Ia berusaha mendapatkan item quest punyaku dengan «MPK» atau «Monster Player Kill» dan berusaha untuk kabur dengan skill «Hiding». Namun sayangnya skill itu tidak berguna untuk mob tanpa mata seperti Little Nepent," jelasnya.
"Kita harus menolongnya," Kataku. Pria itu langsung tersentak seakan menyadari sesuatu yang salah pada dirinya.
"Uh.."
"Tunggu apa lagi? Orang itu akan segera mati!"
"Kau benar! Ayo!"
Kami langsung berusaha menolong pemain itu. Namun dengan kondisiku dan teman baruku kelelahan, kami hanya berhasil membunuh 2 dari 8 mob yang menyerangnya. Aku pun melihat end frame seoran pemain. Pemain itu tetap menunjukkan wajah tenangnya, seakan-akan untuk menjaga reputasi Beta-Testernya. Kami pun langsung lari, mengetahui tidak ada lagi yang bisa kami tolong dan untuk menjaga nyawa kami.
«SAO»
"Bodoh! Apabila ia tetap berusaha mencari item questnya bersamaku pasti ia masih hidup," kata pria itu sambil menangis. Pria tersebut mempunya tubuh tipis dan ramping, tanpa jejak maskulinitas dalam fitur wajah. rambut hitam panjang menjuntai, mata juga, hitam, atau lebih gelap dari itu. Penampilan seperti dalam kenyataannya, direproduksi dengan tingkat detail mengagumkan.
"Sudahlah, semua akan baik-baik saja,"Kataku mencoba menenangkannya.
"Kau benar, menangis tidaklah memecahkan masalah. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjadi lebih kuat dan menyelesaikan game ini," balasnya. "Ngomong-ngomong namaku «Kirito», siapa namamu?"
"Aera, namaku aera," jawabku
"Apa kamu seorang beta-tester? Gerakanmu hebat sekali tadi,"
"Bukan, aku seorang newbie di SAO, walaupun veteran di MMORPG lain," jawabku. Pria itu terkejut
"Wow! Aku baru tahu kalau ada pemain baru yang kepikiran kesini hari ini. Jalannya kan berbahaya,"
"Aku yang sadar bahwa tempat leveling di sekitar «Starting City» bakal ramai langsung saja cari desa terdekat untuk leveling. Dan karena medannya hutan aku punya keuntungan karena aku menghabiskan masa kecilku di hutan. Tapi gila nih hutan. Musuhnya kuat banget! Apalagi si «Forest Tiger». Aku hampir mati diterkamnya," kataku.
"«Forest Tiger»? Itu kan mob berlevel 8? Kamu selamat melawan itu? Aku pun belum tentu bisa selamat dengan armor level satumu. Hebat," katanya.
Kami terus berbincang selama perjalanan ke desa. Setelah sampai ke desa kami berhenti ke toko armor untuk membeli armor baru untukku. Ternyata armorku sudah robek-robek karena durabilitasnya tinggal sedikit(terimakasih kepada mob yang ada di hutan). Saking robeknya sampai pakaian dalamku terlihat. Aku jadi malu dan berusaha menutupi robekan yang memperlihatkan pakaian dalamku.
Aku membeli kaos katun berwarna putih(warna favorit), celana panjang berbahan kain dengan pelindung lutut berwarna abu-abu, dan sepatu serta pelindung dada berbahan kain tebal dan liat berwarna abu-abu. Lumayan besar perbedaan def armorku sekarang dibandingkan dengan armor awalku. Aku bingung mau beli jaket kulit berpertahanan tinggi atau tidak, namun aku memutuskan tidak membelinya. Alasannya karena aku tidak suka dengan warna coklat dari jaket itu. Sangat tidak cocok untuk celana putihku.
Setelah membeli armor, kami pergi ke rumah NPC tempat Kirito mengambil quest «Secret Medicine of The Forest» yang berhadiah sebuah pedang terbaik untuk lantai 1-3 nanti, yaitu «Anneal Blade». Aku ngikut saja sekalian mau mengambil quest tersebut karena aku sudah mendapatkan 2(1 dari bonus skill) «Bakal Biji Little Nepent», item quest itu.
Kami sampai di rumah NPC itu pukul 21.00. Untungnya NPC itu belum tidur. Kirito menyiapkan item questnya dan aku melakukan hal yang sama. Kami mengetuk pintu rumah itu dan masuk. Si wanita NPC itu mempersilahkan kami duduk sembari mengaduk sesuatu dari panci dengan wajah murung. Kirito menunjukkan bakal biji itu ke NPC dan NPC itu menjadi ceria, seakan-akan umurnya menjadi lebih muda 10 tahun.
"Terima kasih tuan dan nyonya pendekar pedang.." kok aku disebut juga ya? "..atas bantuan kalian anakku bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya," NPC itu bersyukur dan mengambil item quest Kirito dan PUNYAKU, memasukkannya kedalam panci dan mengaduknya. Aku melempar pandangan heran ke Kirito yang ternyata juga keheranan. NPC tersebut lalu kembali mengoceh beribu terimakasih dan ucapan syukur lalu ia melangkah ke peti di sebelah selatan ruangan. Ia mengambil sebuah pedang tua namun entah mengapa memiliki kharisma tersendiri. Nama pedang itu «Anneal Blade». Ia lalu berjalan ke arah Kirito dan menyerahkannya sambil berkata "Seperti yang kujanjikan, karena tuan telah membantu menyembuhkan anakku, aku akan membalas budi tuan dengan pedang turun-temurun keluarga kami. Kami harap pedang itu dapat bermanfaat untuk seorang pendekar pedang yang baik sepertimu,"
"Terima kasih," kata Kirito.
"Dan untuk Lady," ia berjalan ke arah lemari dan mengambil sebuah pakaian. "Berkat Lady aku tidak perlu khawatir apabila anakku terkena penyakit yang sama berkat obat tambahan yang Lady berikan. Sayang sekali kami hanya mempunyai satu pedang «Anneal Blade». Tapi kuharap jubah nenek buyutku ini dapat berguna bagi Lady."
Jubah bertudung tersebut bernama «Anneal Robe». Warna jubah itu putih. Apabila «Anneal Blade» merupakan senjata yang bisa kau gunakan sampai lantai 4(menurut Kirito), maka «Anneal Robe» adalah armor yang bisa kau gunakan sampai lantai 4. Pertahanannya mantap euy! "Ketika kakek buyutku pergi untuk perang dengan «Anneal Blade», ia memakaikan «Anneal Robe» kepada nenek buyutku untuk melindunginya. Aku harap perlindungan itu bisa ikut melindungi Lady yang berbudi luhur sepertimu," kata NPC itu.
"Terima kasih banyak," kataku.
Kami keluar dari rumah NPC itu. Log questku menyatakan bahwa quest tersebut sudah selesai, bahkan aku belum mengambilnya. Kirito sangat menyayangkan aku tidak bisa mengulang Quest untuk mendapat Anneal Blade setelah aku mendapat Anneal Robe. "Tunggu dulu, aku baru ingat!" kataku tiba-tiba.
"Ingat apa?"
"Aku ingat aku baru naik level 5 ketika membantumu membasmi mob tadi, aku ingin mengatur statku dulu," kataku. Aku kemudian menambahkan 2 STR dan 1 AGI sehingga aku punya total 6 STR dan 9 AGI. "Aku dapat pedang dari «Forest Tiger» dan pedang itu butuh 6str," aku kemudian mengequip «Anneal Robe» dan «Nova Sword»ku.
Kirito berkata sambil tersenyum "Kamu adalah orang terberuntung soal equipment. Nova Sword adalah pedang terkuat di lantai 1 dan aku ingat hanya satu orang yang mendapatkannya di Beta. Belum lagi Anneal Robe yang tidak ada di Beta," aku hanya bisa tersenyum. Jam sudah menunjukkan pukul 21.15 dan kami sangat lelah. Kami memutuskan untuk mengakhiri petualangan kami hari ini dan menuju penginapan.
«SAO»
Finally updaaattteeee yang sudah sungguh lama pengen author laksanakan cuma kelupaan melulu. Terima kasih banyak terhadap molliorra schiffer, Benafill McDeemone, KatziusTheKyoujin dan seluruh pembaca yang sudah membaca fict author ini. Sekian.
DarkRepulsor, Out!
