Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
.
.
.
S.W.A.B (Shinobi Want To Break)
By Aku Bukanlah Siapa-Siapa
.
.
.
Chapter 4. Teman baru, masalah baru
.
.
.
"Perkenalkan namaku Tenrai Ootsutsuki. Aku anak dari Toneri Tou-sama. Salam kenal. Mohon kerja samanya."
"Oh... Jadi dia anak Toneri. Hmm... Tunggu?! Apa aku salah dengar?! To-Toneri pu-punya anak?!"
.
.
.
"Kau serius, Dia anakmu? Siapa yang kau nikahi? Setahuku di bulan, kala itu hanya berisi kugutsu-kugutsu saja," Naruto tampak tak percaya dengan ucapan Tenrai.
Tenrai hanya memasang wajah polos tanda tak mengerti. Toneri tertawa ringan menanggapinya.
"Tentu saja. Tapi, aku tidak menikahi siapapun. Sebenarnya dia adalah kugutsu yang kuciptakan khusus. Aku mengambil sedikit inti chakra Hamura-sama dan mencampurkannya dengan sedikit chakra murni Tenseigan dan chakra anggota klan Ootsutsuki yang disegel khusus di kuil klan Ootsutsuki. Inilah hasilnya, struktur tubuh kugutsu-nya bereinkarnasi menjadi struktur tubuh manusia tulen. Aku sendiri juga tak paham. Namun dugaanku ini pasti karena campuran chakra Hamura-sama dengan chakra Tenseigan yang merupakan mata reinkarnasi," Toneri menjelaskan bagaimana ia 'melahirkan' Tenrai.
Ya iya lah, masa menikah dengan boneka? Orochimaru saja yang gendernya tidak jelas mampu 'melahirkan' Mitsuki.
Setelah penjelasan tadi, Boruto maju selangkah menghadap Tenrai sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.
"Namaku Uzumaki Boruto. Dan mereka yang di belakang ini adalah teman-temanku," Boruto mulai memperkenalkan diri diikuti anggota timnya.
"Namaku Uchiha Sarada. Salam kenal, Tenrai-san."
"Mitsuki. Salam kenal, Tenrai-san."
"Namaku Yamanaka Inojin. Semoga kedepannya kita bisa saling kerja sama."
"Hoammm... Nara Shikadai. Salam kenal."
"Aku Metal Lee. Kobarkan masa mudamu, Tenrai-san. Dan jangan pernah gugup!"
"Ah... eto... Namaku Kaminarimon Denki. Salam kenal dan mohon kerja samanya Tenrai-kun."
Tenrai mulai menjabat tangan mereka satu persatu. Boruto cs kemudian mengajak Tenrai untuk melihat keadaan luar dari bekas menara pengawas.
Setelah Boruto dan geng beranjak pergi. Toneri melanjutkan pembicaraan.
"Naruto, ada yang ingin kukatakan. Dan kuharap kau bisa mengabulkannya."
"Baiklah. Apa itu?" balas Naruto.
Naruto heran seorang Toneri meminta sesuatu padanya. Toneri pun menyebutkan permintaannya.
"Apakah aku... Boleh tinggal di sini?"
Naruto terkejut, sementara Sasuke juga demikian tapi dengan cepat ia tutupi dengan stay calm. Naruto berpikir, Toneri ingin tinggal di bumi. Pasti terjadi sesuatu.
"Nani?! Kau ingin tinggal disini?! Lalu bagaimana dengan bulan di sana?" Naruto melebarkan matanya seraya menunjuk bulan purnama.
"Tenang saja. Aku sudah memasang kekkai kuning seperti yang waktu itu untuk melindungi permukaan bulan. Siapapun yang mencoba mendekati kekkai itu akan hancur. Yang bisa membukanya hanya aku dan para kugutsu-ku yang menguasai jutsu pembuka kekkai tersebut," ucap Toneri.
Naruto hanya manggut-manggut menanggapi.
"Tapi kau ingin tinggal dimana? Semua pondok kami telah penuh," Sasuke angkat bicara sedari tadi diam mendengarkan. Toneri tak menjawab.
Panggung yang ia tunggangi bersama Tenrai mendekat padanya. Toneri memandang keadaan sekitar, 15 meter dari pemukiman ada sebuah tanah lapang yang sangat luas kira-kira sebesar lapangan sepak bola.
"Apa lahan itu tidak dipakai?" Toneri menunjuk tanah lapang tadi.
Naruto hanya menggangguk.
"Ya. Lahan itu tidak dipakai."
Toneri tersenyum untuk yang kesekian kalinya.
"Kalian tidak perlu tinggal di pondok. Kita akan tinggal di istana."
Naruto mengernyit bingung mendengar ucapan Toneri diikuti Sasuke. Panggung Toneri melesat maju ke tengah-tengah tanah lapang. Setelah itu asap putih raksasa meledak.
POFT!
BUM!
Di tengah lahan luas itu terjadi sebuah getaran yang tidak terlalu besar.
WUSH!
WUSH!
"Apa yang terjadi, Tou-chan? Aku merasakan getaran hingga ke menara pengawas. Apa itu? Musuhkah?" Boruto cs bersama Tenrai shunshin kembali ke pemukiman.
Naruto tak menjawab pertanyaan anaknya. Pandangannya tertuju pada asap putih yang semakin menipis. Siluet raksasa dengan sesuatu yang besar seperti duri terlihat dari dalam asap putih tersebut.
Itu...
Adalah...
JREEENG!
Istana Toneri Ootsutsuki, lengkap dengan barikade-nya.
"Nani?! Sebuah istana?!"
"Wow!"
"Sugoi ne!"
"Keren!"
"Besar sekali!"
"Duri itu sangat panjang"
"Mendokusei~..."
Dan lainnya. Boruto cs hanya terpana dan berdecak kagum melihat kemegahan istana Toneri. Naruto pun terkejut, demikian Sasuke. Tenrai hanya biasa saja. Karena itu memang tempat tinggalnya bersama Toneri.
"Nah, Boruto dan yang lain. Ambil barang-barang kalian dan masuk ke dalam lalu kalian bisa memilih kamar sesuka hati," Toneri menawarkan.
"Arigatou paman Toneri!" Boruto dan yang lain mengucapkan terima kasih dengan kompak.
Toneri tersentuh hatinya kala dipanggil 'Paman' oleh The Next Generation. Sebuah sensasi hangat menyentuh kalbunya.
Kemudian Boruto cs. beranjak masuk ke pondok untuk mengambil barang masing-masing.
.
.
.
Istana Toneri.
Yang namanya istana pasti isinya mewah. Begitupun dengan istana Toneri. Dengan interior berarsitektur ala Eropa menambah kesan mewah pada istana ini. Istana dengan 3 tingkat memiliki tangga yang melingkar sebagai penghubung ketiga lantai. Lantai pertama untuk ruang berkumpul, dan ruang makan. Lantai kedua untuk kamar tidur. Lantai ketiga atau atap untuk mengawasi keadaan dari luar. Lantai ini khusus ditempati oleh kugutsu-kugutsu penjaga Toneri. Semua pelayan dan penjaga yang ada di tempat ini adalah kugutsu buatan Toneri sendiri.
Kugutsu pelayan mengenakan pakaian ala maid Eropa. Sedangkan untuk Kugutsu shinobi berpenampilan tertutup. Wajah mereka diperban secara keseluruhan, memakai sorban dan jubah hitam yang panjang.
"Mereka semua itu kugutsu?" Mitsuki menunjuk beberapa kugutsu pelayan sedang membersihkan istana.
"Benar. Mereka semua kugutsu. Mereka juga merasakan kelelahan seperti manusia jika bekerja terus."
"Oh. Begitu ya?"
Terlihat ketiga pria dewasa sedang duduk santai di sebuah ruangan. Memandang ke arah kelompok remaja yang sedang melihat-lihat seisi istana itu.
"Jadi apa yang kau ingin bicarakan Naruto?" tanya Toneri pada Hokage ketujuh setelah anaknya dan teman-teman barunya baru saja pergi jalan-jalan melihat-lihat istana.
SLURP!
Sebelum menjawab Naruto terlebih dahulu meminum teh yang disediakan kugutsu maid Toneri.
"Apakah kau bisa membantu kami untuk melawan makhluk supranatural yaitu 3 Fraksi Religi Injil? Ketiga kubu itu membentuk aliansi untuk bertujuan agar para manusia tunduk pada religi injil saja. Padahal di dunia ini banyak sekali kepercayaan. Seperti religi Hindu-Budha di India. Mitologi Norse di Eropa Utara, Olympus di Yunani dan lain-lain. Itu artinya mereka memaksakan manusia untuk tunduk pada religi injil saja. Jika ada yang menolak mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi. Kami juga sempat bentrok dengan fraksi iblis dan malaikat jatuh. Aku dan Sasuke yang saat itu kehabisan chakra akibat menggunakan mode terkuat kami untuk mempertahankan hutan ini berada pada 1 jalur lubang distorsi ruang dan waktu. Kami tak bisa berbuat banyak kala kami bertarung dengan mereka. Hasilnya 73 orang shinobi tewas. Sebelum pergi mereka mengatakan bahwa kalian adalah manusia sampah yang lemah dan jangan mencoba melawan kami atau tidak kalian akan mati. Mereka juga hampir membawa Hinata karena mereka tertarik padanya. Aku tanpa pikir panjang langsung membunuh mereka dengan Rasenshuriken dengan sisa chakraku," Naruto menggertakkan giginya dengan keras saat mengatakannya.
Toneri tampaknya juga terbawa. Toneri menutup matanya sejenak lalu terbuka.
"Aku akan membantu kalian. Mereka menghina shinobi keturunan Hagoromo. Secara tak langsung mereka juga menghina keturunan Hamura. Dan juga Beraninya mereka menyakiti Putri Byakugan!"
Toneri memancarkan aura membunuh dari Tenseigan. Naruto dan Sasuke sedikit terpengaruh aura membunuh tersebut.
"Maaf aku terbawa emosi," Toneri menurunkan killing intens-nya.
"Tidak apa-apa. Aku juga akan membunuh siapapun yang mencoba menyakiti para Shinobi di sini," balas Naruto.
"Hm. Berapa sisa para Shinobi di sini?"
"Sangat sedikit. Hanya 500 orang. 390 Jounin dan 110 Anbu. Apa kau ada saran?" jawab Sasuke meminta opini Toneri.
Toneri hanya memandang keluar lewat jendela raksasa. Terlihat ribuan kugutsu penjaga mulai berpatroli di pedalaman dan jalan masuk Shi no Mori.
"Aku hanya membawa sedikit. Hanya 2500 kugutsu shinobi. Ya, kekuatan mereka berkembang dari yang Naruto lawan dulu. Tapi, tetap saja itu masih sangat sedikit menghadapi 3 fraksi injil yang kini beraliansi dengan mitologi Hindu-Budha dan Olympus."
Ya. sejak mereka datang ke sini. 3 fraksi injil telah beraliansi dengan 2 mitologi tersebut. Tentunya semakin sulit bagi para shinobi untuk menghadapi mereka semua.
"Apa menurutmu kita harus mencari aliansi juga?" Naruto beropini.
Wajah Sasuke sedikit terang kala mendengar opini sahabat pirangnya ini.
"Bukan ide yang buruk. Kudengar-dengar saat ini fraksi Youkai tengah konflik dengan fraksi iblis terkait masalah fraksi iblis yang seenaknya mereinkarnasikan youkai-youkai yang mati terbunuh di daerah Kyoto. Dengan kita menggaet fraksi Youkai untuk bekerja sama menghadapi fraksi iblis yang juga mempunyai masalah dengan kita, itu artinya kekuatan tempur kita meningkat. Setelah itu kita harus mencari sekutu yang lain agar bisa mengimbangi kekuatan mereka," terang Sasuke yang jelas-jelas OOC-nya.
"Tak sia-sia aku mengangkatmu menjadi kapten Divisi Anbu. Tapi yang menjadi duta kita untuk hubungan diplomatik ini. Aku terbiasa dengan para kage dan daimyou. Tapi ini berbeda," Naruto tampak tak mau berurusan dengan yang namanya hubungan diplomatik.
"Bagaimana kalau Gaara saja? Dua hari lagi dia akan pulang dari Tokyo bersama Matsuri, Temari, Shikamaru, dan Kankuro. Dia cocok untuk urusan seperti ini. Tidak sepertimu yang tak bisa tenang," usulan Sasuke membuat Naruto lega. Dengan begitu ia terhindar dari yang namanya berbicara sopan dan formalitas tingkat tinggi.
"Aku setuju. Terima kasih juga atas koreksinya Sasuke."
"Kita buktikan pada dunia bahwa shinobi akan mematahkan pandangan remeh mereka," ujar Toneri.
Ketiganya menatap Purnama dari jendela, setelah itu mereka kembali ke kamar untuk beristirahat.
.
.
.
Kamar Boruto.
Sang tokoh utama kini tengah duduk di tepi ranjang king size. Wajahnya terlihat lesu memandangi foto yang ia genggam. Foto gadis cantik berambut ungu dan berpenampilan serba ungu tengah tersenyum manis memeluk Boruto yang juga tersenyum. Dalam wajah lesu Boruto menggumam lemah.
"Kapan kau pulang...? Aku merindukanmu... Aku ingin kau menyemangatiku bersama Hima-chan, Kaa-chan, dan Tou-chan di Turnamen nanti."
Ah, tampaknya tokoh utama kita sedang galau. LDR, kah? Hohoho... tentu saja.
Dalam benaknya, suara indah gadis itu terngiang bersamaan dengan memori-memori indah Boruto.
'Boruto-kun jangan terlalu makan banyak ramen. Nanti pertumbuhanmu lambat.'
'Boruto-kun, ayo cepat tidur. Tidak baik berada di luar malam-malam begini, nanti kamu sakit.'
'Boruto-kun, ayo buka mulutnya. Aaaa.'
Memori-memori indah bersama gadis berambut ungu itu tanpa sadar membuatnya tersenyum. Dengan segera ia menarik selimut untuk tidur sambil memeluk foto tersebut.
.
.
.
Di suatu hotel di San Francisco, Amerika Serikat.
Dari Jepang kita meluncur jauh ke timur di Amerika Serikat, tepatnya Kota San Francisco. Kota Metropolitan yang terkenal dengan Jembatan Merah.
Di dalam suatu kamar hotel San Francisc, terlihat seorang gadis remaja berambut ungu panjang tengah bersolek di depan meja rias yang di atasnya terdapat barang-barang kosmetik. Gadis itu mengambil sebuah kalung dengan mata kalungnya berbentuk hati.
WUSH!
Angin berhembus dari jendela yang terbuka, menghempaskan kalung hati itu dari genggaman sang gadis. Ia tersentak kala kalung itu terlepas. Kalung itu jatuh dan entah mengapa terpakai secara ajaib pada foto di dekat barang-barang kosmetik. Mata kalungnya tepat menutupi wajah remaja pria berambut pirang ahoge di foto tersebut. Gadis itu tersenyum lalu mengambil kalung itu kemudian memakainya. Ia menuju ke arah jendela yang terbuka untuk ditutup. Tapi sebelum itu ia menatap ke arah bulan yang baru muncul di petang hari.
'Boruto-kun. Aku juga merindukanmu...'
.
.
.
Di suatu gedung di Kuoh Academy.
Dari San Francisco kita kembali lagi ke Jepang di Kota Kuoh.
Kuoh Academy adalah sekolah bagi mereka yang ingin menjadi pahlawan. Sekolah ini milik Keluarga Gremory dan Sitri selaku pemimpin wilayah Kota Kuoh. Di sudut sekolah terdapat sebuah gedung tua yang tak terurus, tapi itu hanya bagian luar. 180 derajat berbeda dengan isi dalamnya. Sangat mewah dengan interior ala Eropa Timur.
Terlihat Tim Gremory sedang beristirahat. Akeno yang sedang tidur, Koneko yang sedang makan kue, Kiba yang sedang mengusap bilah pedangnya, dan Issei yang duduk menghadap Rias.
"Jadi begitu ceritanya, Buchou," Sekiryuutei mesum baru saja selesai menceritakan pertengkarannya dengan Boruto waktu itu pada Rias Gremory selaku ketua Tim Gremory tapi memang sifat dasar iblis, Issei mengubah ceritanya menjadi Boruto yang memulai duluan.
Raut amarah tercetak di wajah cantik Rias. Tiga puluh menit yang lalu ia baru saja selesai menghabisi Exorcist dan Da-tenshi. Sekarang ia dihadapkan oleh masalah baru lagi.
"Berani sekali dia menyakiti pionku yang manis ini! Dia tidak tahu berhadapan dengan siapa?"
"Karena itulah, buchou. Aku ingin membalas perbuatan Uzumaki sialan itu. Akan kutunjukkan padanya kekuatan sejati Sekiryuutei. Akan kubuat ia menyesal berurusan dengan kita!"
Rias berdiri dari duduknya. Dan itu membuat dadanya sedikit terguncang. Raut wajah Issei berubah dari sombong menjadi aneh menjijikan.
"Besok kita akan latihan pemantapan serangan sihir kita! Akan kuhancurkan tim Uzumaki Boruto itu!" proklamir Rias dengan wibawa.
Kiba dan Koneko mengangguk "Hm". Raut wajah Issei masih tak berubah. Rias yakin dirinya akan menghancurkan Boruto cs.
Oh, kau sungguh salah, Rias. Waktunya para Shinobi untuk menunjukkan taringnya.
SRING!
Lingkaran sihir tercipta di dekat Rias. Lingkaran itu mengeluarkan sesosok wanita berpakaian maid berambut panjang abu-abu dengan dada yang sempurna. Rias mengenalinya. Ia adalah Grayfia Lucifuge istri Maou Sirzech Lucifer, kakaknya. Ia adalah The Strongest Queen di Underworld. Pengguna sihir air dan es terhebat kedua setelah Maou Serafall Leviathan.
"Maaf, mengganggu Rias-ojousama. Hamba membawa berita dari Sirzech-sama. Ada suatu energi asing yang meluncur dari langit menuju Hutan Utara Kuoh," Grayfia melaporkan berita itu dengan tanpa ekspresi.
Rias terkejut. Ia tidak merasakan sesuatu dari tadi. Dan sekarang ada berita Wilayah Kuoh dimasuki sesuatu dengan energi asing?
"Baiklah. Aku mengerti. Arigato, Grayfia-neesama."
"Hamba mohon undur diri," setelah itu, Grayfia menghilang dalam lingkaran sihir.
Rias menatap tim-nya.
"Minna. Kita ada pekerjaan lagi dari Nii-sama."
"Hai'/Hm!"
SRING!
Semua kecuali Akeno menghilang dalam lingkaran sihir merah. Sepertinya akan ada yang mendapat salam pembuka.
.
.
.
Shi no Mori, sekitar
Jalan masuk bagian selatan.
SRING!
Lingkaran sihir merah muncul kembali. Kali ini di bagian selatan Shi no Mori.
Rias memandangi keadaan sekitar di dalam hutan. Agak mencekam. Koneko mengaktifkan Senjutsu untuk merasakan aura di dalam hutan. Gadis loli itu berkeringat dingin dan ketakutan saat merasakan aura gelap dan membunuh di dalam hutan. Insting kucingnya mengatakan bahwa sebaiknya ia pergi dari sini. Ya, Hokage pertama menciptakan hutan ini dengan kebencian yang kuat kala bertarung dengan Madara. Sampai sekarang aura itu tetap melekat pada hutan ini.
"Bu-buchou... Aura gelap hutan ini membuatku berkeringat dingin," Koneko ketakutan.
Rias pun merasakan demikian. Tapi, di depan anak buahnya ia harus jaim dalam kondisi seperti ini. Kiba mencoba menebang salah satu batang pohon dengan pedangnya. Hasilnya butuh 5 kali tebasan. Biasanya Kiba hanya membutuhkan sekali tebas untuk merubuhkan pohon besar sekalipun. Issei yang dari tadi bengong melihat ke dalam hutan tiba-tiba insting naganya merasakan sesuatu bergerak sangat cepat di dalam hutan.
"Buchou... Instingku merasakan ada sesuatu bergerak sangat cepat di dalam hutan!"
Rias yang mendengar pion-nya itu langsung bersiaga dengan aura Power of Destruction, Kiba dengan pedang iblis-nya. Koneko dengan senjutsunya.
.
.
.
"Begitu ya? Jadi adik Maou itu bersama kelompoknya menuju kemari," Toneri dalam kamarnya menggumam kala benaknya menerima informasi dari shinobi kugutsu yang tengah mengawasi Tim Gremory.
'Lumpuhkan mereka! Jangan biarkan mereka masuk! Setelah itu pasang kekkai seperti yang di bulan!' Toneri mengirim pesan telepati pada shinobi-shinobi kugutsu-nya.
Toneri membaringkan tubuhnya di ranjang dengan mata Tenseigan terpancar indah.
"Kalian telah 'membangunkan seekor naga yang tidur'..." ucapnya sebelum Tenseigan indah itu tertutup rapat.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Terima kasih.
Akan dilanjutkan ke chapter 5.
Ditunggu saja.
Aku Bukanlah Siapa-Siapa Out!
