"Wonwoo-ssi!" panggilan itu sama sekali tak diharukan. Kaki jenjangnya ia ayunkan sedemikian cepat untuk menghindari sosok jangkung di belakangnya.
Mingyu.
Lelaki tampan dengan kemampuan akademisnya yang sedikit di bawah rata-rata. Pelaku utama dari aksi 'Mari mengganggu kehidupan Wonwoo' yang telah ia rasakan hampir satu bulan ini.
"Wonwoo-ssi!! Aku dapat 91!" teriak Mingyu sambil berlari mengejar sang mentor dengan selembar hasil ujian di tangan kanannya.
Beruntung koridor lantai tiga masih tidak begitu ramai, sehingga tidak begitu banyak orang yang mengumpati mereka. Hanya beberapa siswa dari kelasnya dan dua kelas lain yang berada di sana.
Sebut Wonwoo pengecut. Ia melarikan diri dari Mingyu yang sedari lima menit lalu mengejarnya sedemikian rupa hanya untuk meminta pengakuan Wonwoo bahwa Mingyu tidak sebodoh yang ia pikirkan. Yang pastinya Wonwoo tak akan sudi untuk menurunkan harga dirinya di hadapan Kim Mingyu dengan mengabulkan permintaannya.
Perpustakaan.
Ya, satu tempat yang terbesit cepat di otak Wonwoo untuk menghindari Mingyu. Ia percepat langkah kakinya untuk menuju lantai dua. Dalam hati ia bersyukur pertumbuhan pubertasnya berjalan dengan baik sehingga ia mempunyai kaki panjang ini. Tapi satu yang Wonwoo lupakan, Mingyu juga mempunyai kaki yang tak kalah jenjang darinya.
Kenop pintu perpustakaan sudah ada digenggaman, dan-
'Grep'
Rutukan demi rutukan Wonwoo rapalkan tatkala Mingyu menarik pergelangan tangannya. Ia benci berada di kondisi ini.
Mingyu berdiri menjulang di hadapannya sambil menunjukkan wajah cerianya yang menyebalkan.
"Wonwoo-ssi!! Aku dapat 91!"
"Baguslah, aku tak perlu bekerja terlalu keras untuk menaikkan nilaimu yang hancur," ujar Wonwoo sambil terus mengalihkan pandangannya dari Mingyu.
Ia tarik tangannya menjauh dari cekalan Mingyu dan berjalan lurus kearah pintu perpustakaan.
'Grep'
Satu tarikan lagi ia rasakan dari arah belakangnya, ditambah tubuhnya yang menyatu di dinding belakangnya. Lengan kanan dari lelaki tan itu berada di sisi kanan bahunya, mengantisipasi dirinya akan melarikan diri lagi.
Posisi yang paling ia benci, berada di dalam kungkungan tubuh raksasa Mingyu.
'Mingyu menyukaimu. Kau menjadi mentor hanyalah akal bulus darinya.'
Pemikiran gila yang akhir-akhir ini terus berkumandang di dasar otaknya membuat alarm bawah sadarnya memberi tanda bahwa posisi ini tak baik untuk dirinya ke depan.
"Menyingkir brengsek."
Ucapan yang Wonwoo berikan sepertinya hanya dianggap hembusan nafas menggoda oleh lelaki Kim ini. "Kau yakin hanya itu yang ingin kau katakan?" Mingyu mempersempit jarak diantara mereka berdua.
Dapat Wonwoo rasakan aroma citrus dan rum yang menguar dari sosok di hadapannya.
Jarak mereka hanya tersisa dua jengkal. Jika ada orang yang melihat mereka di ujung koridor ini, pastilah mereka mengira kedua sosok adam ini sedang beradu kasih. Beruntung saja tak ada orang yang melewati-
"Wonwoo?"
*
Aku tak tahu perasaan apa yang lebih mendominasi diriku terhadap laki-laki di hadapanku. Perpaduan rasa ingin membenturkan bibirnya di aspal panas dengan rasa ingin menciumnya sebagai rasa terimakasihku.
"Sumpah hoonie, aku melihat mereka hampir berciuman di ujung koridor." Bibir jahanam.
"Sudah ku katakan itu tidak seperti yang kau pikirkan Kwon!"
Sial. Mengapa harus Soonyoung yang melihatku dan Mingyu?! Aku akui aku harus berterimakasih padanya karena telah menyelamatkanku dari Mingyu yang terus memojokkanku. Tapi, bibirnya sungguh perlu diberi pelajaran sesekali.
"Hahh.."
Ku alihkan pandanganku ke arah Jihoon. Reaksi pertama yang baru ia tunjukkan setelah melihat perdebatanku dengan si sial Soonyoung.
"Benar itu yang kau lihat Hosh?"
"Peluklah aku jika aku berbohong, dan ciumlah aku jika- Aduh! Sakit.."
Satu pukulan jackpot khas Lee Jihoon yang paling ku sukai.
"Jaga ucapanmu Hosh! Nah Won, sekarang ceritakan apa yang terjadi sebenarnya."
Segera ku jelaskan serinci mungkin kejadian yang menimpaku. Mulai dari kenyataan dimana aku telah menjadi mentor Kim Mingyu-yang sebenarnya dengan berat hati ku ceritakan pada mereka- hingga kejadian diriku dikejar oleh raksasa hitam di koridor tadi.
"Kau yakin hubunganmu dan Mingyu hanya sebatas mentor dan murid? Jujur aku sering menangkap basah Mingyu memperhatikanmu dengan ekspresi yang lebih dari seharusnya ia perlihatkan."
Ku sesap jus kiwi yang sedari tadi hanya ku aduk, menghilangkan rasa gatal di kerongkongan.
"Demi Tuhan Jihoon, aku masih normal dan masih menyukai payudara- maaf bukan maksudku menyinggung."
"Oke, tak masalah, lagipula kau pernah-"
"Kau seharusnya mencoba berhubungan dengan pria Won! Bukankah kau pernah mulai tertarik dengan 'dunia' kami?"
Mulut sialan Kwon Soonyoung. Beraninya dia menghasutku. Baiklah bukannya aku homophobic yang menutup mata akan hubungan 'spesial' itu, tapi tetap saja terasa aneh ketika membayangkan sesama pria saling mengucap cinta. Ya walaupun aku sempat tertarik dengan hubungan 'spesial' itu karena satu orang kakak angkatan yang terlalu hot untuk dilewatkan. Tapi tetap saja masih terasa aneh. Oke, ini memang terdengar plin-plan, tapi memang begitu adanya. Soonyoung menyebutnya fase 'peralihan jati diri', dimana kau berada antara normal dan tidak.
"Tutup mulutmu Kwon!" gertak Jihoon sambil memukul bibir Soonyoung menggunakan sendok.
"Jadi begini, intinya aku dan Mingyu tak ada hubungan apa-apa."
"Kau dan aku kenapa?"
Satu suara familiar menyapa dari arah jam enam.
Sial. Kim Mingyu.
"Aha.. Kalian sedang membicarakanku ya? Tak baik membicarakan orang."
Bodoh. Jeon Wonwoo bodoh. Bercerita hal sesensitif ini di tempat umum.
Sial. Entah umpatan ke berapa yang telah ku ucapkan seharian ini, pasangan yang baru semenit lalu berada di hadapanku kini menghilang entah kemana-seperti memberikan akses kepadaku untuk menghabiskan waktu bersama Mingyu.
Dasar pengkhianat. Mereka menghilang di saat aku membutuhkan mereka. (berasa kayak Avatar xD)
Dan apa ini? Dengan santainya ia letakkan lengannya di bahuku. Sial. "Ah.. Wonwoo-ssi bisa kah kita berbicara sebentar? Ada materi yang tidak ku mengerti untuk ulangan besok."
Belum saja ku balas ucapannya, suara bel menginterupsi percakapan kami. Terimakasih kepada bel tanda masuk.
"Ah, sudah bel. Nanti saja ya."
Segera ku langkahkan kaki menghindar dari kantin sekolah.
"Pulang sekolah ku tunggu di bawah tangga koridor lantai 2 ya!"
Masa bodoh! Aku tak akan datang!
=
Sudah lebih dari lima menit aku menunggu Wonwoo di tempat yang telah ku tentukan. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda kehadiran dari mentor Jeon.
Kau terlalu berekspektasi tinggi Kim. Pastilah ia melarikan diri darimu.
Ku putuskan untuk ke lapangan belakang sekolah, yang entah sejak kapan menjadi tempat favoritku. Biasanya aku berlatih basket atau hanya sekedar bersantai di sana. Lapangan itu hampir tak pernah tersentuh oleh siswa di sekolah ini karena letaknya yang kurang strategis. Tapi itu yang menjadi poin plus bagiku, lapangan yang sepi dan jauh dari perhatian.
Dari kejauhan bisa ku lihat ada seseorang yang tak asing.
Tunggu. Sejak kapan tempat ini dikunjungi oleh siswa lain?
Dengan perlahan aku berjalan mendekati sosok ini. Dari jarak ini aku dapat menyimpulkan bahwa sosok ini adalah lelaki. Ya, dilihat dari seragamnya.
Kemudian ia sedang berlutut di depan pohon dengan posisi membelakangiku. Agak aneh sebenarnya ketika kau melihat gesturnya. Apalagi melihat tingkahnya yang seperti sedang mengelus sesuatu di pangkuannya.
Tunggu! Jangan-jangan ia sedang berbuat cabul di sini!
Tidak bisa dibiarkan. Bagaimana mungkin tempat favoritku dijadikan tempat laknat oleh lelaki cabul ini?!
Belum sempat satu kata terucap, lelaki ini membalikkan tubuhnya ke arahku. Lihat saja! Siapapun yang berani mengotori tempat ini akan—
"Jeon Wonwoo?!"
Tunggu. Otakku membutuhkan waktu untuk berpikir.
Tak ku sangka seorang Jeon Wonwoo berada di lapangan ini dan memanfaatkan fasilitas sekolah untuk melakukan hal yang tak senonoh dengan beron—
Oh? Kucing?
"Jadi yang tadi itu hanya mengelus kucing?" desisku tanpa sadar.
"Mwo?"
"K-ku kira kau sedang bero—"
"Hmm?" Alisnya terangkat mengimidasiku.
Sialan. Mulut sialan. Otak dan bibirku perlu disinkronkan kembali.
"Berolahraga. Ya.. K-ku kira kau berolahraga. Emm.. La-lagi pula mengapa kau ada di sini?! Aku sudah menunggumu cukup lama kau tahu!"
Oke. Alasan yang cukup cerdas Kim Mingyu. Dan saat ini Wonwoo lah yang terlihat gelisah.
Bibirnya ia gigit pelan sambil memperhatikan sekitar secara random, ah dan jangan lupa kucing kecil dipelukannya! Dan ini menjadi pemandangan yang paling imut yang pernah ku lihat. Eh?
"A-aku baru saja mau m-menemuimu. S-sudah! Kau ingin tanya apa?" ucapnya gugup sambil mengelus kepala kucing di dekapannya.
Astaga. Baru kali ini aku mendapatkan tontonan dimana ketua kelas kami yang kharismatik gugup dengan gesture imutnya! Demi Tuhan. Aku ingin merekamnya dan menunjukkannya pada Hansol! Aku tak menyangka ketua kelas yang dingin ini punya banyak aegyo.
"Kau suka kucing?" ucapku sambil mendudukkan diri samping kirinya.
"Emm.. Lumayan. Mereka cukup lucu," jelasnya sambil menyunggingkan senyum kecil.
Satu poin yang dapat ku simpulkan di sini, Jeon Wonwoo dengan mudahnya tersenyum hanya untuk seekor anak kucing. Sebenarnya sedikit menakutkan, karena baru beberapa menit lalu Wonwoo menatapku garang, dan sekarang ia tersenyum! What the hell!
"Darimana kau dapat kucing ini?"
Kumainkan kaki kecil anak kucing ini, dan memang ku akui hewan ini cukup imut.
"Tadi ku temukan di dekat semak-semak. Ku rasa ia kehilangan ibunya, sungguh kasihan."
Sebut aku gila. Wonwoo yang ada di hadapanku bukanlah Wonwoo yang menjadi mentorku beberapa minggu ini. Lihat saja ekspresi yang dibuatnya sekarang. Bibirnya menyembul lucu dan sesekali menciumi anak kucing di pangkuannya. Ini mimpi kan?
"Kau tak ada niat untuk mengadopsinya?"
"Ani. Kasihan ibunya yang harus dipisahkan dengan anaknya yang sangat lucu ini."
"Pfftt.. Hahahhahaha.."
Jujur aku tak dapat menahan tawaku. Sumpah! Ini bukanlah si iblis Wonwoo yang biasanya ku temui! Sosok ini terlalu… indah.
"Apa yang salah?"
"Hahahahaha.. Sejak kapan Jeon Wonwoo mengurusi kehidupan kucing ini, eoh?"
"Diam. Katamu kau mau menanyakan materi? Mana? Lagipula kenapa malah membahas kucing sih?!"
Wonwoo yang salah tingkah adalah Wonwoo yang langka untuk dilihat.
"Lupakan masalah itu. Aku juga lupa materi apa yang ingin ku tanyakan. Lagipula ada kucing lucu yang lebih menarik daripada materi itu. Hahahaha.."
"Bodoh. Aku pulang."
"Tunggu dulu." Ku tarik tangannya untuk segera kembali duduk.
"Lepaskan!"
"Ayo kita cari induk kucing ini."
"…" Tak ada balasan.
"Katamu kucing ini kasihan karena terpisah dari induknya. Kalau begitu, ayo kita cari induknya bersama!"
"Katakan itu pada orang lain saja. Aku mau pulang, sudah sore."
Ku tahan lagi lengannya. Dasar Jeon Wonwoo keras kepala.
Segera ku dekap anak kucing itu dan memainkan kaki-kakinya. Dengan dramatis ku ajak bicara kucing itu, "Kitty-ah.. Yang sabar ya? Jika memang kau belum menemukan ibumu hingga malam nanti jangan salahkan aku ya.. Salahkan seseorang yang meninggalkanmu pulang hanya karena sudah sore. Padahal kau tidak tahu apa yang akan terjadi malam nanti kan? Bisa saja kau digigit anjing seberang sana atau mungkin kau—"
"Arraseo!! Berhenti berkata omong kosong Kim!"
"Hehehehe.."
Ku tarik tangannya untuk segera berdiri dan mencari induk kucing ini. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, dan tak terasa kami sudah mencarinya selama hampir satu jam.
Namun kami masih belum menemukannya. Ku perhatikan Wonwoo yang terlihat mulai kelelahan.
"Kita istirahat saja dulu Jeon. Duduk sini, aku akan membelikanmu minum sebentar."
"Hm."
Tak berapa lama aku sudah kembali dengan dua soda dan satu keripik kentang. Tapi tidak ku dapati sosok Wonwoo di sana.
Oh! Ternyata ia sudah menemukan induk kucing itu.
"Akhirnya ketemu ya?"
Wonwoo hanya mengangguk pelan sambil terus memperhatikan interaksi kedua kucing itu.
"Tidak kah kau lihat ekspresi sedih dari induk kucing itu?" Pertanyaan yang agak konyol terlontar dari Jeon Wonwoo.
"Ani. Aku melihat cinta di sana."
Ku posisikan tubuhku dekat dengannya dan ikut berjongkok memperhatikan kucing itu lagi.
"Ibunya pasti kesepian."
"Tapi sekarang tidak, anaknya sudah bersamanya kembali."
"Apa mereka bahagia?"
Entah apa yang merasuki Wonwoo, segala pertanyaan yang ia pertanyakan semuanya konyol dan aneh.
"Semua makhluk hidup berhak merasakan cinta dan bahagia."
Ya. Hanya itu yang bisa ku jawab.
Dari sekian lama aku mengenal Jeon Wonwoo, baru kali ini aku melihat sisi lain dari pribadinya yang dingin dan penuh kharisma.
"Termasuk aku?"
Tatapannya.
Kali kedua aku terhanyut pada lubang hitam dalam manik matanya. Namun yang membedakan dari tatapannya yang pertama adalah ada satu pesan tersirat yang terpancar, seperti kesepian?
"Lupakan. Pikiranku sedang kacau akhir-akhir ini. Jadi jangan hiraukan sosok Wonwoo di hada—"
Ku letakkan telapak tanganku di pucuk kepalanya. Surainya halus. Ya, itulah kesan pertama yang aku dapatkan.
"Dengarkan aku Jeon Wonwoo. Semua makhluk hidup berhak merasakan mencintai maupun dicintai. Termasuk aku, kau, dan kucing itu. Hanya tinggal menunggu waktu dan hatimu untuk menemukannya."
Ku acak pelan surainya. Ekspresinya sungguh lucu. Tanpa sadar aku tersenyum dengan lebar di hadapannya. Dan sekarang canggung menyelimuti kami. Apalagi ditambah ekspresi 'kosong' dari Wonwoo menambah keterangan nonsense pada ucapanku.
Jujur, aku malu.
Dua menit Wonwoo memperhatikanku dengan tatapan 'kosong'nya yang menambah kadar kecanggungan kami.
"Wonwoo? Jeon Wonwoo?"
Tepat detik ke dua, nyawa Wonwoo yang sempat hilang tergantikan dengan kedipan lambat darinya.
"A-aku mau pulang."
"Ah! Baiklah aku juga mau pulang."
Suara derit sepatu tidak mengurangi kadar kecanggungan di antara kami.
Sumpah! Aku lebih memilih Wonwoo mencaci ku dibandingkan suasana canggung di antara kami. Apalagi di tambah suasana sepi dari sekolah mengingat jam sudah menunjukkan pukul lima lebih, tidak membantuku sama sekali.
Mengapa lapangan kecil ini terasa sangat luas?!
Tepat ketika kami berada di pemberhentian bus, aku berusaha menghancurkan kecanggungan kami.
"Emm.. Wonwoo-ah? Bolehkan aku memanggilmu begitu?"
"Terserah."
"Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu."
"Aku ingin mengatakan te—"
"Aku duluan, bus ku sudah datang."
Belum saja aku menutup mulutku, sosok itu sudah menaiki bus dengan santainya.
Oke. Ada beberapa kesimpulan yang ku dapatkan hari ini.
Pertama, Wonwoo mempunyai alter ego ketika dihadapkan seekor kucing dan itu sangat imut.
Kedua, entah bagaimana kami berdua mulai dekat semenjak beberapa jam yang lalu.
Yang ketiga, dia aneh.
Dan yang terakhir, Wonwoo ternyata tetaplah Wonwoo yang dingin yang mempunyai alter ego dan baru beberapa menit lalu, sifat dinginnya kembali melekat.
Bersabarlah Kim Mingyu! Kau hanya akan menghadapinya dalam empat bulan ke depan dan setelah ia berhenti menjadi mentormu berarti kau tak perlu merasakan penderitaan ini lagi. Semangat Kim!
To be Continued..
Special part
Seoul, 2020
"Kau tahu sayang, benda-benda kecil ini yang menghantarkanku padamu. Lihat! Bahkan hasil ujian itu pun masih ku simpan sebaik mungkin hanya untukmu."
"Ah! Ini juga! Walaupun terlihat seperti sampah, ini tetap menjadi kenangan kita—hahh.. sudah tidur ternyata."
Wajar saja Wonwoo sudah tertidur karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. 'Dongeng' yang diceritakan Mingyu sukses membuat Wonwoo tertidur dengan cepat.
Segera Mingyu membereskan segala barang-barang yang tersebar di ranjang dan memasukkannya kembali di kotak.
Dengan lembut ia kecup kening tunangannya dan menyanyikan sedikit lullaby. "Selamat malam sayang, mimpikan aku. Selalu ingat ini, mi amor, mi sol, mi todo—"
"Mmhnn.. Te amo Gyu.." Dalam tidurnya pun Wonwoo selalu bersama Mingyu.
Mingyu yang melihat kekasihnya mengigau seperti itu hanya tersenyum manis sambil mengecup pelan bibir Wonwoo.
"Tambien te amo Kim Wonwoo. Sweet dream."
Beneran To be Continued..
Apa-apaan ini ;-; /lempar laptop/
Adakah yang masih inget Fanfic ini? :'v Udah mulai berdebu keliatannya :"
Salahkan penulis abal ini yang terlalu buntu dan malas untuk ngetik :"
O YA.. Selamat menunaikan ibadah puasa ya :))
Betewe.. JANGAN LUPA STREAMING SAMA VOTE OY BUAT SEBONG!! PENGEN LIAT MEREKA MENANG IH :"
KU KOBAM SAMA INI ERA T.T WONU KU MAKIN CANTEK KHAS ASIA, GYU MAKIN ITEM BANGCAT, OM JOSH SEPERTI BIASA JADI BIAS WRECKER PALING AMPUH :"
Ya udah lah ya.
Makasih buat semua yang baca dan yang udah ninggalin jejak *
Terakhir~ Biar semangat nulisnya..
Feedback juseyo
