Huaaaaa alhamdulillah akhirnya bisa update juga. Langsung aja yaaaak!
"Saat itu, kupikir ini kali terakhir kami saling bicara. Di Pesta Dansa, akhirnya aku pergi bertiga dengan Andromeda dan Teddy, sedangkan ayah kalian terlihat senang sekali bersama Johanna, sampai-sampai dia tidak mengenaliku. Bahkan setelah Pesta Dansa berakhir, setiap kali melihat mereka berdua aku ingin menjauh dan mencurahkan isi hatiku pada Andromeda. Hmmm...cinta bertepuk sebelah tangan itu rasanya memang pahit." kenang Molly, pandangannya menerawang. Tak disangka-sangka, Fleur dan Weasley bersaudara langsung mengerang protes pada Arthur sehingga rumah kembali gaduh seperti sedang menonton pertandingan Quidditch.
"Tidak mungkin! Apa yang Dad pikirkan saat itu?! Kami kecewa!" Charlie sampai bangkit dari sofa saking terkejutnya.
"Oh, tidak! Dad, kau tega sekali! Kau tidak bisa melakukan itu di depan cewek yang lagi nangis!" protes George.
"Aaaah…sayang sekali! Mum pasti patah hati banget deh. Kalau itu terjadi pada Ginny, George dan aku akan mengerjainya habis-habisan!" protes Fred.
"Tentu saja begitu! Dad parah banget sih..bukannya dipeluk habis menghapus air matanya, kan bisa jadi lebih romantis!" protes Ginny.
"Wow. Sama sekali tak menyangka Dad pernah bikin orang patah hati." Bill terkagum-kagum sekaligus heran mendengarnya.
"Dad! Bagaimana kau tidak menyadari perasaan Mum?!" sambung Ron.
"Justru saat itulah aku menyadari bahwa ibumu jatuh cinta padaku. Tentu saja, saat itu aku memang tampan." Arthur berseloroh. "Well, situasinya memang jadi aneh. Kami tidak berbicara sampai liburan Natal selesai."
"Lalu, bagaimana dengan Johanna?" tanya Fleur penasaran.
"Kami sempat pacaran selama beberapa bulan. Tapi karena lama-lama kami bosan, akhirnya putus, kemudian aku dan ibumu mulai berpacaran."
"Hmmm..oke. Kami ingin mendengar bagaimana kelanjutan ceritanya. Kalian berpacaran cukup lama, kan? Nah, bagaimana Dad melamar Mum saat itu?" tanya Bill.
"Ketahuilah, anak-anakku, melamar perempuan seribu kali lebih menegangkan daripada O.W.L.. Bayangkan, dulu kami masih baru lulus dari Hogwarts, aku masih jadi pegawai magang di Departemen Misteri, keluarga kami sederhana, dan sering terjadi kericuhan. Butuh nyali yang besar untuk melakukannya, Nak. Bill telah melaluinya, dan tak lama lagi kalian juga akan mengalaminya."
Kali ini, The Burrow benar-benar sunyi. Tak ada yang bersuara selain bunyi jangkrik di pekarangan, sebab pemuda-pemudi itu siap mendengar kisah ini dengan seksama.
o0o
Ottery St. Catchpole, Mei 1969
Sejak awal musim dingin silam, di depan tanah lapang berumput nan kosong itu Arthur berikrar pada dirinya sendiri: membangun masa depan bersama Molly. Setelah bertahun-tahun saling mendampingi—dari kencan sederhana di Honeydukes, bertengkar hebat menjelang O.W.L. dan N.E.W.T., sampai kericuhan yang harus mereka atasi sebagai anggota Orde Phoenix—sosok Molly adalah satu dari segelintir hal yang membuatnya tetap waras di tengah kegilaan dunia, sehingga dengan meminangnya setidaknya Arthur masih punya harapan untuk meraih masa depan yang lebih baik demi keluarga mereka kelak, walau penghasilan pas-pasan.
"Jenggot Merlin, kau masih delapan belas tahun, Arthur! Kau yakin akan menikahi Molly di tengah-tengah situasi serba susah seperti ini? Bagaimana kau akan menafkahinya?" begitu pendapat Billius, kakak tertuanya ketika Arthur mengutarakan niatnya untuk pertama kali. Arthur mengangguk mantap dengan mata berapi-api saat itu.
"Tentu saja, Billius! Aku sudah membeli tanah di Ottery St. Catchpole dengan tabunganku sendiri dan akan kubangun rumah. Percayakah kau, kalau pernikahan membuka pintu rezeki? Maksudku, lihat Mum dan Dad! Walau sederhana kebutuhan kita dan saudara-saudara yang lain tercukupi, kan?"
"Ya, aku tahu, Dik. Aku hanya khawatir. Ngomong-ngomong, kau harus bicara pada Dad, Fabian dan Gideon sebelum melamarnya dan memberinya cincin."
"Bagaimana denganmu?"
"Suatu saat, Molly dan anak-anakmu akan sebangga aku karena telah mengenal orang seberani kau." Billius tersenyum sembari mencengkeram erat bahu Arthur, yang senyumnya merekah setelah mendengarnya.
Hari ini, tepat tujuh bulan kemudian Arthur memenuhi janjinya. Sebuah rumah yang dibangunnya dengan bantuan ayah, kakak-kakak, Fabian, Gideon, dan beberapa teman baiknya selama di Hogwarts dan Orde Phoenix telah berdiri. Restu sudah didapat, cincin warisan mendiang ibunya telah disimpan aman sampai hari pernikahannya kelak jika pinangannya diterima, ayah dan kakak-kakaknya bergantian memberi nasihat padanya. Disamping itu, Arthur sepenuhnya yakin, rumah itu adalah masa depannya bersama Molly. Akhirnya, sebuah masa depan yang jelas, pikirnya sembari tersenyum bangga memandangi rumah impian kala ia berhenti di depannya bersama Molly, yang matanya ditutup scarf berwarna ungu tua.
"Arthur? Sudah boleh dibuka?" kata Molly, kepalanya celingukan ke kanan dan kiri, mereka-reka apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
"Buka saja, Mollywobbles. Kau akan terkejut melihatnya." kata Arthur, detak jantungnya makin tak menentu, apalagi melihat ekspresi Molly ketika membuka scarf kemudian memandang rumah itu di hadapan mereka dengan ekspresi takjub. Bagaimana tidak, untuk pertama kali dalam hidupnya seorang Arthur Weasley memberinya kejutan, berukuran besar pula. Matanya berbinar-binar memandangi rumah itu dari atas ke bawah. Walaupun tidak megah dan tidak ada rumah lain, bangunan itu terlihat hangat dan nyaman untuk disinggahi.
"I-ini..indah sekali." Hanya itu yang terungkap dari bibir Molly. "Kau membuatnya?"
Arthur mengangguk. "Dengan beberapa bantuan pastinya. Butuh tujuh bulan dan lima belas orang untuk membangunnya sampai utuh, supaya bisa kutunjukkan padamu."
"Apa yang ingin kautunjukkan padaku?"
"Masa depan. Rumah ini," kata Arthur sambil memandangi ke arah rumah itu. "akan menjadi masa depanku jika kau berada di dalamnya." Kata-kata itu terucap begitu saja, padahal tadinya bukan ini yang dilatihnya bersama Billius sebelum menjemput Molly dan membawanya kemari. Benar saja, Molly mengernyitkan dahi karena tidak memahami maksud kata-kata Arthur.
"Mungkin aku belum mampu memberikan barang bagus padamu, tapi aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia. Lagipula, semua ini tidak ada artinya kalau..er..aku tak mau membangun masa depan bersamamu. Jadi..." Arthur menggenggam tangan Molly erat-erat, menatapi mata cokelatnya yang berkaca-kaca. "Molly Prewett, bisakah kita memiliki masa depan bersama di rumah ini?"
Athur memang bukan pujangga, namun kata-katanya barusan berhasil membuat Molly terharu hingga hampir tak mampu bernafas. Terlebih melihat rumah yang telah Arthur bangun dengan susah payah selama tujuh bulan terakhir, rasanya cincin berlian tak ada apa-apanya. Lantas, Molly mengangguk dan memeluk Arthur erat sekali.
"Ya, Arthur. Tentu saja aku mau!" jawabnya, kemudian memberi Arthur kecupan mesra nan lembut di bibir. "Tapi..bagaimana dengan keluarga kita?"
"Sebelum melamarmu aku sudah meminta izin pada mereka dulu, kok, walau aku gugup setengah mati saat membicarakannya dengan Bibi Muriel dan kakak-kakakmu. Ngomong-ngomong, maaf ya kalau aku belum bisa membelikanmu cincin pertunangan." kata Arthur sembari melingkarkan lengannya di bahu Molly.
"Apalah arti cincin pertunangan jika kau sudah membangun rumah. Jujur saja, aku lebih suka begini daripada dihujani perhiasan." kata Molly, mengibaskan tangannya.
Kemudian, pasangan muda itu melangkah bersama-sama, siap menyongsong masa depan yang menanti di dalam sebuah rumah di Ottery St. Catchpole. Terlepas dari usia muda dan situasi dunia sihir yang makin kacau, Arthur dan Molly sepenuhnya yakin bahwa selama mereka bersama-sama, semua bisa dihadapi.
Dua bulan kemudian, dalam upacara sederhana yang dihadiri keluarga dan kerabat dekat Arthur dan Molly mengucap ikrar sehidup semati, di pekarangan rumah yang baru jadi itu. Upacara berlangsung khidmat dan penuh haru, dimana semua orang menitikkan air mata sejak upacara dimulai. Andromeda Black, sang pendamping pengantin wanita bahkan sudah sibuk menghapus air matanya sejak Molly melangkah di altar, didampingi Fabian dan Gideon. Sepupunya, Sirius yang kala itu masih berusia sembilan tahun bertugas sebagai pembawa cincin, bingung dengan situasi yang terjadi di sekitarnya, sehingga ia hanya bisa diam. Amos Diggory, pendamping mempelai pria menahan haru saat si kembar menyerahkan Molly pada Arthur. Puncaknya, kala Arthur dan Molly mengucap ikrar dengan mantap, Fabian, Gideon, Billius, Septimus—ayah Arthur dan Billius—, bahkan bibi Muriel ikut terharu menyaksikannya. Mereka setidaknya menemukan sepercik kebahagiaan di tengah-tengah kekacauan yang melanda dunia sihir sejak kedatangan Pangeran Kegelapan.
P.S.: konon katanya di silsilah keluarga Weasley ada yang namanya Billius (yang nantinya bakal jadi nama tengah Ron), makanya dimasukkin jadi kakaknya Arthur. Gak tau persis sih Arthur berapa bersaudara, tapi yang jelas ada Billius sebagai kakaknya, hehe...
