WHO IS MY LOVE?
Disclaimer : Hiro Mashima.
Genre : Romance, Friendship, Humor.
Rate : T
Warning : Semi-Canon, OOC, Typo.
Newbie here.
Malam hari di Akane Resort.
Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Lyon dan Juvia pun sampai di tempat tujuan yaitu Akane Resort. Entah sejak kapan mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan. Juvia saat itu hanya bisa tertunduk malu, rasa hangat mulai menjalari pipi putihnya. Dapat ia rasakan degup jantungnya yang terpacu semakin kencang. Sementara Lyon tidak henti – hentinya mengembangkan senyum di wajah dinginnya. Dia tidak ingin gadis pujaannya lepas darinya walau hanya satu detik. Dia ingin agar waktu berhenti saat ini juga, agar dia dapat bersama selamanya dengan orang yang ia cintai.
"Akhirnya kita sampai Juvia-chan." ujar Lyon disertai dengan raut muka yang sulit diartikan. Di satu sisi dia senang karena sudah tiba di Akane Resort, namun di sisi lain dia juga merasa sedih karena itu tandanya dia harus berpisah dari Juvia walaupun besok mereka akan bertemu lagi.
"Iya. Lyon-sama lelah atau tidak?" tanya Juvia canggung, lalu secara refleks dia melepaskan pegangan tangannya dari Lyon. Membuat Lyon terhenyak dan sempat menampakkan raut kecewa. Juvia merasa tidak enak kepada Lyon. Dia masih ragu apakah perasaannya pada Lyon merupakan cinta atau hanya sekedar kagum.
"Tidak, kau sendiri bagaimana?" tanyanya balik. Dia khawatir Juvia lelah karena perjalanan yang panjang ini. Dia mencoba untuk memberi perhatian penuh pada Juvia.
"Juvia juga tidak merasa lelah. Umm jadi ini tempat yang dinamakan Akane Resort, indah sekali Lyon-sama." Juvia pun mengamati sekeliling. Di lihatnya deburan ombak yang menenangkan hati, pasir putih yang terhampar, hembusan angin yang menyejukkan jiwa, serta lambaian pepohonan yang semakin menambah keeksotisan tempat itu.
"Lihat Juvia-chan, kita bisa bermain di sana, lalu di sebelah situ adalah tempat untuk berbelanja." Lyon pun menunjukkan berbagai tempat di Akane Resort. Sedangkan Juvia mendengarkan dengan seksama sambil mengagumi keindahan serta keramaian di tempat itu. Dia melihat lalu lalang orang yang berada di sekitar resort, raut wajah mereka terlihat begitu bahagia tanpa ada sedikitpun beban yang tersisa.
"Nah Juvia, inilah tempat kita untuk menginap selama beberapa hari ke depan. Aku sudah menyiapkan kamar khusus untukmu." kata Lyon sambil mengajak Juvia menuju penginapan tempat mereka untuk melepas lelah selama berada di Akane pun mengikuti langkah Lyon, ditatapnya punggung lelaki es itu, entah sejak kapan dia mulai merasakan debaran jantung yang begitu hebat saat berada di dekat Lyon. Juvia pun menggeleng – gelengkan kepalanya sambil sesekali tersipu malu, dia berusaha menutupi wajahnya agar tidak diketahui oleh Lyon. Entah apa yang akan terjadi jika Lyon mengetahui Juvia bertingkah seperti itu, mungkin Juvia akan langsung pingsan di tempat.
"Silahkan masuk, Juvia-chan." ajak Lyon sambil membukakan pintu kamar Juvia lalu menyuruhnya masuk ala butler yang melayani majikannya. Juvia hanya tersenyum tipis dan memasuki kamarnya dengan perasaan senang.
"Wah, ini indah sekali Lyon-sama." Ujar Juvia kagum, dia melihat ke sekeliling ruangan. Dinding kamarnya berwarna biru laut serta ranjang king size yang berbentuk klasik membawa aura ketenangan dalam kamar itu.
"Lalu Lyon-sama tidur dimana?" tanya Juvia tiba – tiba. Dia bertanya begitu karena berpikir bahwa tidak mungkin dia akan tidur bersama dengan Lyon dalam satu kamar. Entah bagaimana jika hal tersebut benar – benar terjadi, Juvia langsung menggeleng – gelengkan kepala dan membuang jauh – jauh pikiran tersebut.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau ingin kita tidur bersama malam ini?" goda Lyon sambil memegang dagu Juvia. seketika Juvia menjadi salah tingkah, wajahnya sudah semerah tomat, refleks dia mengelak dari Lyon. Lyon hanya tersenyum tipis sambil melihat tingkah Juvia yang seperti anak kecil, dia suka saat melihat Juvia yang salah tingkah, wajahnya begitu menggemaskan bagi Lyon.
"Tidak! Aku kan hanya bertanya saja, memangnya tidak boleh?!" jawab Juvia kesal sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Lyon makin gemas dengan tingkahnya, namun karena hari sudah semakin larut Lyon pun tidak melanjutkan aktifitasnya untuk menggoda Juvia.
"Aku akan tidur persis di sebelah kanan kamar ini. Kalau kau butuh sesuatu, kau dapat memanggilku kapan saja." lanjutnya. "Baik, aku akan ke kamarku dulu Juvia, semoga kau betah berada di sini, selamat malam dan semoga mimpi indah."
Juvia pun mengantarnya sampai depan pintu.
"Tunggu, ada satu hal lagi." ucap Lyon, membuat Juvia sedikit terhenyak.
CUP!
Tanpa aba – aba Lyon langsung mencium pipi Juvia. Juvia yang tidak siap hanya bisa terhenyak. Sekarang wajahnya sudah semerah tomat, tubuhnya kaku. Sementara Lyon hanya tertawa kecil dan segera masuk ke kamarnya.
"Lyon-samaaaa!"
Keesokan harinya.
Juvia baru bangun dari tidurnya, dia merasa sangat pulas tadi malam. Lalu dia teringat tentang kejadian tadi malam. Mendadak mukanya kembali bersemu merah. Namun tiba – tiba dia ingat saat kemarin melihat sikap Gray di guild. Dia jadi berpikir, apa mungkin sekarang Gray mulai menyukainya, atau hanya sekedar marah karena merasa tersaingi oleh Lyon. Cepat – cepat ia melupakan semua pikirannya dan mulai bersiap – siap, dia ingin segera bermain di tempat itu dan bersenang – senang.
Juvia segera mengambil handuknya dan bergegas untuk mandi kemudian mengenakan terlihat cantik dengan dibalut baju pantai terusan berwarna jingga yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Sementara itu Lyon di luar pintu kamar sudah menunggu Juvia dengan mengenakan kaos berwarna putih dan celana pendek, memperlihatkan otot – otot lengannya yang atletis dan membuat para wanita yang melihatnya mendadak nosebleed.
"Ayo kita keluar."
Juvia langsung menuruti ajakan Lyon dan mengikutinya dari belakang, namun dengan segera Lyon menariknya agar bisa berjalan beriringan dengannya, membuat Juvia sedikit canggung sekaligus senang.
"Wah ternyata ini pantai yang selama ini dikenal sebagai pantai terindah di Fiore, ternyata memang benar apa yang dikatakan orang – orang," ujar Juvia kagum, matanya tak lepas dari hamparan pasir putih yang membentang dan ombak yang bergulung-gulung. Suara burung camar bersahutan seolah menjadi paduan simfoni yang indah.
"Bagaimana Juvia? apa kau puas berada di sini?" tanya Lyon.
"Ya, Juvia sangat puas berada di sini, terima kasih banyak Lyon-sama."
Gadis hujan itu kini menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk sebuah kurva senyuman hingga kedua matanya menyipit. Lyon Bastia hanya bisa terpaku ketika menatap senyuman itu, ia ingin senyum itu selalu ada pada Juvia, ia tidak ingin gadis itu kembali bersedih. Rasanya ia sanggup melakukan apa pun asalkan Juvia bisa tersenyum selamanya, ia ingin gadis itu selalu bahagia. Pemikiran itu membuatnya teringat pada perasaannya sendiri, ia yakin jika Juvia bersamanya maka gadis itu akan bahagia, paling tidak ia memperlakukan Juvia dengan baik, tidak seperti Gray.
Pemuda itu menarik halus tangan Juvia, menggenggamnya, berusaha membagi kehangatannya pada sang pujaan hati. Ditatapnya lekat – lekat wajah Juvia. Juvia hanya menatapnya bingung sambil sesekali memiringkan kepala, mencoba menerka apa yang ada di benak Lyon sekarang.
"Juvia, ada yang ingin ku katakan padamu."
"Umm.. silahkan, Lyon-sama."
"Begini.. anoo.."
Saat Lyon akan menjelaskan isi hatinya pada Juvia, tiba-tiba sebuah teriakan menginterupsi niatnya, "Juvia!"
Suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya gadis berambut biru itu. Suaranya sangat familiar sampai membuat jantungnya berdetak lebih kencang, suara yang selalu ia rindukan, suara yang membuatnya merasakan perasaan hangat ketika mendengarnya. Berbeda dengan Lyon, baginya suara itu sama seperti malapetaka yang selalu mengganggu momen pentingnya bersama Juvia.
"Gray-sama!"
"Gray!"
"Apa yang kau lakukan disini hah! Jangan datang hanya untuk mengganggu kesenangan kami!" bentak Lyon, ia benar-benar kesal karena keberadaan Gray. Ini jelas di luar perkiraannya, ia pikir Gray tidak akan peduli pada Juvia mengingat sikap Gray yang tidak pernah menganggap Juvia ada.
"Aku datang untuk menjemput Juvia pulang," ucap pemuda yang menjadi rival abadi Natsu itu, keseriusan tampak jelas di wajahnya diiringi dengan tatapan tajam yang langsung mengarah pada Lyon. Membuat Juvia yang melihatnya hanya bisa bergidik ngeri sambil sesekali berharap tidak terjadi apa – apa diantara mereka.
"Juvia senang berada di sini, apa alasanmu membawanya pulang hah?!"
"Juvia, aku tahu aku salah. Namun sekarang aku sadar bahwa sebenarnya aku sangat mencintaimu. Mungkin aku memang terlambat, tapi aku ingin memperbaiki keadaan. Aku takuit kehilangan dirimu." Terlihat wajah sayu Gray saat mengatakan hal itu kepada Juvia, tidak ada kebohongan dalam kata – katanya, dia hanya ingin Juvia kembali kepadanya, kembali mencintainya seperti dulu.
"Gray-sama." Juvia merasa iba pada Gray. Sejujurnya masih ada perasaan cintanya yang tersisa untuk Gray namun ia ingin mencoba menghapus rasa itu. Ia ingin membuka sebuah lembaran baru, lepas dari bayang-bayang Gray, ia ingin lepas dari masa lalunya yang selalu memuja pemuda itu.
"Juvia, aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi. Aku akan menebus semua kesalahanku. Apapun akan ku lakukan asal kau bahagia." Gray pun menghampiri Juvia sambil memegang tangannya. Gadis hujan itu tersentak ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan Gray, rasanya ada sebuah gelombang kenyamanan yang merambat masuk ke dalam tubuhnya. Juvia yang dulu mungkin akan segera merona jika bersentuhan dengan Gray tapi sekarang gadis itu hanya diam, terpaku pada sepasang mata milik Gray tanpa melakukan apa pun.
"Gray! Lepaskan tanganmu dari tangan Juvia!" sergah Lyon sambil menarik tangan Juvia yang satu lagi.
"Tidak akan sebelum Juvia sendiri yang menyuruhku untuk melepaskan pegangan tanganku."
'Gray-sama, Lyon-sama. Juvia.. Juvia bingung.' Batin Juvia. dia tidak tahu harus berbuat apa pada kedua lelaki yang masing – masing telah menggenggam tangannya dengan erat.
Sementara itu di balik bebatuan besar sekitar pantai itu ternyata telah ada yang beberapa pasang mata sedang mengintai apa yang dilakukan 3 orang tersebut. Di posisi paling depan, seorang gadis berambut merah tampak tengah mengamati dengan serius apa yang terjadi diantara ketiga orang itu. Sementara beberapa orang di belakangnya tampak memasang ekspresi bosan karena terlalu lama menunggu.
"Kenapa kami harus ikut dalam hal ini Erza? Ini kan urusan mereka bertiga." Lucy yang berada di samping Erza hanya bisa menggerutu. Dia merasa tidak enak kalau harus ikut campur dalam masalah ini, apalagi baginya penyebab utama hal ini bisa terjadi karena dia. Lucy merasa tidak ingin lagi terlibat lebih dalam. Namun karena terus dipaksa oleh Erza membuat si celestial mage itu pasrah dan menuruti ajakan Erza. Lagipula dia takut dengan apa yang akan Erza lakukan jika tidak menuruti permintaannya.
"Ini adalah hal yang tidak penting buatku, selain itu, aku masih sedikit mual. Wueekk.." Natsu yang memang pada dasarnya mabuk kendaraan -setelah perjalanan jauh dengan menggunakan kereta- hanya bisa terkapar sambil menyesali perbuatannya yang mengakibatkan dia menjadi seperti ini. Natsu yang memang penasaran dengan kelanjutan kisah cinta Gray lalu merengek pada Erza untuk diajak ikut serta dalam misi ini. Erza pun akhirnya memenuhi permintaan Natsu dengan persyaratan bahwa Natsu tidak akan membuat ulah selama misi ini berlangsung. Ternyata apa yang dipikirkan Erza memang benar, baru permulaan misi ini dan Natsu membuat ulah –yang sebenarnya juga tidak diinginkan oleh Natsu- serta membuat Erza kesal.
"Natsu, jangan muntah di tempat seperti ini!" teriak Carla kesal.
"Biar aku obati dulu Natsu-san," tawar Wendy yang kini mendekati pemuda berambut merah muda itu, berusaha menyembuhkan sang dragon slayer.
"Kalian diam saja, ini juga untuk kebaikan Gray agar dia bisa mendapatkan kembali Juvia." ucap Erza sabil terus mengamati perdebatan diantara mereka, dia sangat penasaran dengan kelanjutan hubungan antara Gray dan Juvia.
"Tapi Erza, bukankah sebaiknya kita tidak mencampuri urusan orang lain? Aku yakin Gray pasti bisa mengatasi hal ini sendiri." ucap Happy namun langsung mendapat deathglare dari Erza.
Ternyata bukan hanya Tim Natsu saja yang diam – diam menguntit mereka, masih di lokasi yang sama namun berbeda tempat untuk bersembunyi ternyata ada beberapa orang yang mengamati aktivitas mereka bertiga secara detail.
"Kenapa kita melakukan hal ini sih?" ucap Yuka malas.
"Yuka-san, bukankah rencana kita dari awal memang untuk menjodohkan mereka berdua?" jawab Chelia sambil sesekali mengalihkan pandangan pada Lyon. Belum pernah dia melihat Lyon begitu serius dalam urusan cinta. Sesekali Chelia merasakan sesak di dadanya saat melihat Lyon yang begitu memperhatikan Juvia, namun dia sadar bahwa hanya Juvia-lah yang diinginkan Lyon, sehingga dia mencoba mengikhlaskan Lyon untuk bersama dengan Juvia.
"Benar, sepertinya juga mulai terlihat adanya kedekatan yang lebih di antara mereka berdua." Lanjut Toby dengan semangat yang membara. Dia memang menginginkan agar Lyon segera memiliki kekasih, agar gambaran dari sikap dingin yang selama ini Lyon tampilkan dapat sedikit berkurang dan membuatnya tidak terlihat begitu menakutkan lagi dimata orang lain.
"Tunggu dulu, lihat, ada Gray disana." Jura yang juga sedang fokus mengamati kaget dengan kedatangan Gray. "Tch, mengganggu saja."
"Hm, sepertinya bakal terjadi hal yang seru." Seringai Yuka. Dia yang awalnya malas akhirnya ikut mengamati dengan cermat.
"Apa hanya Gray saja yang menyusulnya?" tanya Toby sambil sesekali melihat ke sekeliling. Berharap bahwa hanya mereka yang ada disitu.
"We-Wendy? Hey lihat! Itu Wendy dan timnya! Mereka bersembunyi tepat di sebelah sana!" tunjuk Chelia pada bebatuan yang berada di persis tak jauh dari lokasi dia berada sekaang.
Sementara Wendy pun melihat tim Lamia Scale. Segera dia mengatakan hal tersebut pada yang lainnya.
"Kenapa mereka juga ada disana? Mungkinkah.." gumam Wendy.
"Curang! Mereka curang!" teriak Lucy histeris.
"Bukankah mereka bilang ada tugas ke tempat lain?" tanya Happy bingung sambil memasang wajah tanpa dosanya.
"Jadi begitu, baiklah kita juga akan mendukung Gray." timpal Erza. Percikan api semangat mulai memenuhi perasaanya. Begitu juga dengan yang lain. Mereka tidak ingin Gray kalah dari Lyon.
"Lihat! Sepertinya Gray dan Lyon mulai memanas!" teriak Wendy pada yang lainnya sambil menunjuk ke arah Gray dan Lyon, membuat yang lain panik dan makin memfokuskan pandangannya pada mereka berdua. Sesekali keringat muncul dari wajah mereka, terutama Lucy dan Happy yang memang sangat suka dengan adegan percintaan seperti yang sedang terjadi sekarang.
"Aku akan mengambil Juvia kembali!" teriak Gray pada Lyon.
"Juvia akan menjadi milikku!" teriak Lyon pada Gray.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita adakan pertandingan, siapa yang bisa memenangkan pertandingan akan mendapatkan Juvia kembali." tantang Gray.
"Jadi begitu, hmm boleh juga. Aku tidak akan kalah darimu Gray."
"Baiklah, yang menentukan siapa pemenangnya adalah Juvia. bagaimana, Juvia-chan?" tanya Gray pada Juvia.
Juvia yang kini sudah merah semerah tomat tidak dapat berkata apa – apa. Dia bingung karena dua orang yang sama – sama dia suka ternyata juga memperebutkannya. Gray dan Lyon yang tak kunjung mendapat jawaban dari Juvia langsung menentukan bahwa Juvia setuju dengan persaingan mereka.
"Aku anggap Juvia sudah setuju dengan persyaratan ini. Baiklah, pertandingan akan dimulai besok pagi di tempat ini. Aku tunggu kedatanganmu Lyon."
"Aku pasti akan datang dan mendapatkan Juvia. tunggu saja Gray."
Natsu, Lucy, Erza, Wendy, Happy, Carla, Chelia, Tobi, Yuka, dan Jura hanya bisa menanti esok hari sambil menahan rasa penasaran yang sudah menumpuk. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu sahabatnya agar bisa mendapatkan hati Juvia, tentu saja dengan cara sembunyi – sembunyi agar tidak diketahui oleh Gray serta Lyon.
'Juvia, aku akan mendapatkanmu kembali.'
'Juvia, aku tidak akan pernah melepaskanmu.'
TBC
Blue rainy : sipsip arigatou buat kamu yang tetep setia mengikuti alur cerita fic ini, tunggu chap selanjutnya ya ^^
Himiki-chan : oke maaf baru sempet ngelanjutin, semoga ga bosen menunggu ya :))
Regina Moccha Leonarista : hayoo tebak endingnya bakal Gruvia / Lyvia? Heheheee selamat penasaran :D
LaChoco Latte : emmm dibekuin ga yaa? Entahlah author juga belum tau bakal dibekuin atau ga *plak* xD
Harukaze Maulida : hwaaa maaf juga telat update TwT hehee sepertinya bukan cuma Gray dan Lyon yang makin panas, tapi makhluk makhluk lain pun merasakan hal yang sama *halaahhh* xD
aderaHeartfilia : oke terima kasih telah memberi reviewnyaa ^^ jangan bosan untuk membaca kelanjutannya yaa :D
TaeYooRi-HP : hehe kan selera orang beda – beda, kalo author sendiri memang lebih suka pair ini :) makasih ya reviewnya ^^
Guest : gomeen baru sempet updatee T_T semoga tetep bisa bersabar menunggu yaa ^^
Eliza Michelle : heheheee oke sudah di update eliza, makasih reviewnyaaa ^^
Akhirnya chapter 4 berhasil di update, author minta maaf karena keterlambatan yang sangat lambat :|
Soalnya author ini baru jadi maba alias mahasiswa baru hehehee.. jadi lagi sibuk ngurusin laporan yang banyaaak banget dan ga sempet buat sekedar update fic ini T-T *ga ada yang nanya*
Oke tunggu kelanjutannya di chapter 5, mohon kesabarannya ya. Yang jelas fic ini ga akan discontinue kok :)
