La Noir Violon
A sequel of 'Cherry Blossom'
Disclaimer:
Naruto is belong to Masashi Kishimoto-sensei!
mysticaouji™
© 2011
Total Warning:
M for bloody scenes
Misstypo
OOC [maybe]
Hard violence [not in every chap]
Ugly descript and diction
Boring vocabs
.
.
.
-Don't Like Don't Read-
-Need No Flame Reviews-
.
.
.
Summary:
Di London kembali terjadi serangkaian pembunuhan. Siapakah yang bertanggung jawab? Bukan Cherry Blossom, yang jelas. Sejak menghilang enam tahun yang lalu bersama tuannya, tidak ada yang pernah melihat mereka lagi. Semua orang bertanya-tanya: SIAPA?
.
.
.
-Chapter 3-
.
Lyon, Prancis, Kantor Pusat Interpol
Setelah kejadian histeria seorang Shiranui Shizune di lobi Kantor Pusat Interpol tiga hari yang lalu, wanita berambut hitam itu masih tidak menampakkan batang hidungnya di ruang rapat. Berdasarkan surat cuti yang dikirimkannya kepada sang President, Namikaze Minato, tadi malam, sepertinya wanita itu ingin menghentikan pekerjaannya untuk sementara waktu. Minato menyanggupinya, lantaran ia tidak bisa memaksa wanita yang sedang dirundung duka itu untuk tetap melanjutkan tugas-tugasnya sebagai anggota delegasi. Tidak profesional. Dan Minato tidak suka bila ada bawahannya yang bersikap tidak profesional.
Pria berambut pirang itu tengah berdiri di tengah-tengah balkon pribadinya, kedua sikunya menumpu bagian atas tubuhnya pada bilah-bilah logam ulir yang menjadi pembatas antara balkonnya dengan udara lepas. Tatapan mata sapphire-nya menerawang jauh, menatap titik yang jauhnya tak terhingga di tengah-tengah naungan angkasa.
Sementara itu, dalam pikirannya berpusar-pusar ingatan mengenai percakapannya dengan Kakashi di dalam kubikel elevator.
.
.
.
.
.
/Flashback/
"Cherry Blossom telah kembali."
Minato sontak mengalihkan fokus kedua mata sapphire-nya dari kilatan merah angka-angka digital yang terpajang di bagian atas pintu logam. "Apa maksudmu, Hatake?" tanyanya dengan rahang terkatup rapat.
Sang objek tatapan hanya menaikkan sebelah alisnya dengan lagak tak acuh, Hatake Kakashi melipat sebelah lengannya—menyangga siku menjadi penopang bagi tangan kiri dengan gelas cocktail tergenggam pada bagian kakinya. Sepasang mata yang berlainan kuantitas pigmen itu balas menatap sang presiden dengan tatapan seolah mengatakan 'apa-yang-apa-maksudmu?'.
"Kau bilang" —Minato menarik nafas— "Cherry Blossom sudah kembali" —lalu menghembuskannya dengan irama teratur. "Apa yang membuatmu mengatakannya? Adakah bukti konkrit mengenai hal itu?"
"Yeah," Kakashi mengangguk satu kali. "Buktinya sudah jelas; suatu fakta yang takkan terelakkan lagi. Semua orang akan segera mengetahuinya. Aku baru saja mengetahuinya."
Kening pria berambut pirang itu spontan mengeriting—seolah-olah masih meragukan kata-kata tangan kanannya itu. "Ceritakan padaku. Rinci."
Tak disangka, tawa Kakashi menggelegar dalam kubikel perak itu, menggema pada setiap sudut siku-sikunya. Aura tersinggung memancar jelas dari kedua iris aqua Minato. Ia lantas mengembalikan visualisasinya pada angka-angka digital berwarna merah yang kini menunjukkan angka lima. Satu lantai lagi.
"Pertama-tama," akhirnya Kakashi berhenti tertawa, "sadistik. Bukankah beberapa tahun yang lalu kita telah menyimpulkan bahwa kekerasan tingkat tinggi adalah metode utama bagi boneka porselen pembunuh?"
"Ya." Pria itu hanya merespon jawaban pendek. "Lalu?"
Bibir Kakashi tersenyum di balik masker hitamnya. "Modus operandi. Kejahatan yang selalu dilakukan pada saat tengah malam. Darah yang dibiarkan tercecer. Bukankah Cherry Blossom selalu melakukan itu?"
Pikiran Minato mulai tertuju pada hal-hal itu; menyusun kepingan-kepingan puzzle yang semula tampak samar pada kepingan otaknya. Beberapa kasus pembunuhan dengan violensia tinggi itu... Ciri-ciri yang dipaparkan orang kepercayaannya... Entah mengapa, semua itu mendadak terangkai rapi dalam benaknya.
Namun, masih ada yang janggal. Ada sesuatu yang kurang. Pemimpin Interpol itu mengerutkan keningnya, mengguratkan goresan samar pada permukaan kulitnya. Sesuatu yang hilang... apakah itu?
Ternyata, Kakashi masih belum selesai menjabarkan isi otaknya.
"Dan, yang semakin menguatkan kecurigaanku adalah—" Pria berambut sylvernite itu memejamkan matanya. "Menurut data riwayat hidup yang kutemukan di database Interpol beberapa hari yang lalu..."
.
.
.
.
.
.
.
.
"... seorang Uchiha Sasuke pernah nyaris menjadi seorang maestro biola."
.
.
.
.
.
.
.
.
"...!"
Kedua pupil Minato melebar. Biola! Menurut berita-berita yang ia baca di koran, beberapa saksi mengaku mendengar bunyi biola yang melantunkan nada-nada asing pada saat tengah malam. Bila yang disampaikan Kakashi adalah benar—Uchiha Sasuke handal memainkan alat musik gesek itu—semakin kuatlah kemungkinan bahwa Cherry Blossom memang telah kembali.
Sadistik yang luar biasa. Kejahatan yang dilakukan tengah malam. Pelaku yang tidak mau repot-repot membersihkan TKP. Suara biola yang menyanyikan melodi aneh...
"Aku setuju dengan analisismu, Kakashi."
Ting!
Kedua bilah logam itu saling menjauh—bergerak menuju arah yang berlawanan. Lorong yang berkelok menuju ruangan 609 telah berada di depan mata. Kedua pria itu telah tiba di lantai kantor mereka. Namun, alih-alih menuju ruangan rapat itu, mereka malah menuju ke arah yang lain—sudut yang tak terjangkau oleh jarak pandang mata: jalan rahasia menuju kantor pribadi Namikaze Minato.
Hatake Kakashi dan Namikaze Minato berjalan beriringan menuju sebuah tembok luas yang berada di sisi elevator. Ketika mereka menginjak salah satu bongkahan marmer yang tertanam di sana, sebuah pintu yang semula tak kasat mata menampilkan sosoknya—membentuk ceruk di dinding yang kian lama kian melesak ke dalam tembok. Itulah pintu rahasia menuju kantor sang presiden.
"Kau tahu, Kakashi?" Minato berjalan di depan Kakashi, menyusuri lorong-lorong gelap dan berliku itu. Pintu rahasia yang berada di sela dinding itu menutup secara otomatis setelah Kakashi masuk ke dalam ruang kosong itu.
"Hn?" Penerangan di sana remang-remang. Setiap jarak satu meter, terdapat lubang kecil berisi sebuah bohlam yang memberikan sedikit penerangan. Kakashi menyipitkan matanya, berusaha mendapatkan cahaya yang lebih banyak.
"Ada yang dapat kusimpulkan dari fakta-fakta itu."
Zznnngg..!
Sesuatu bergeser dan menyebabkan sejumlah besar partikel cahaya menerobos ke dalam gang sempit itu. Sebelah mata Kakashi yang beriris ruby tertutup, meminimalisasi cahaya yang masuk ke pupilnya. Dengan santai Minato melangkah menuju balkon, sementara pria dengan rambut mencuat itu duduk di sofa.
"Apa?" Ditatapnya sosok punggung bosnya yang kini tengah menopangkan tubuhnya dengan kedua siku di atas teralis hitam yang menjadi pembatas balkon.
Pria bermata biru itu menatap Kakashi dengan serius.
.
.
.
.
.
.
.
"Ia mengincar Interpol."
/Flashback End/
.
.
.
.
.
Pria itu tersenyum, sebelah sudut bibirnya terangkat dan mengukirkan lengkungan layaknya bulan sabit yang tipis.
"Jadi... sudah kembali, ya?" ucapnya sambil menatap ke suatu titik jauh tak terhingga di tengah langit. Dibiarkannya hembusan angin mempermainkan helai-helai rambut pirangnya. "You know that I really really miss you, my Cherry..."
.
.
.
.
.
Ruangan itu separuh gelap. Cahaya-cahaya yang berserakan dalam kamar itu hanyalah percikan-percikan cahaya yang berhasil menerabas masuk dari gorden yang menjuntai tak rapi dari dua buah jendela di sana. Udara di sana pengap, entah sudah berapa lama waktu menari-nari semenjak kedua jendela itu terakhir dibuka.
Sebuah selimut tebal menggumpal dengan posisi berantakan yang tak wajar di atas tempat tidur yang biasa ditiduri dua orang, menyembunyikan sosok seorang wanita berambut hitam yang tengah menyandarkan kepalanya dengan asal-asalan pada permukaan bantal yang telah basah oleh air matanya.
Bulir-bulir bening itu tidaklah mengalir turun lagi. Kelenjar air matanya telah kehabisan pasokan semenjak kemarin siang. Bekas-bekas alur imajiner itu tampak mengering, membentuk kilauan samar bila terkena cahaya.
"Ukhh..."
Tenggorokannya terasa panas. Wanita itu sama sekali tidak ingat kapan terakhir kali ia meneguk segelas hidrogen dioksida. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah kemelut duka yang tak berkesudahan. Matanya serasa gelap—seisi dunia tampak seolah bayang-bayang semu baginya. Ia telah kehilangan harapan hidupnya, segala-galanya.
Ia kehilangan belahan jiwanya. Satu-satunya pria yang berbagi bahtera bernama 'rumah tangga' bersamanya telah pergi. Pergi membawa separuh hatinya dan tak akan kembali.
Wanita berambut hitam itu semakin menenggelamkan sefalnya ke balik gunungan selimut, seolah ingin mengubur dirinya dan hatinya sekaligus. Seolah berharap, dengan membenamkan dirinya ke dalam kegelapan, ia akan lepas dari seluruh rasa nyeri ini.
Bisa dibilang ia sakit hati, bisa dibilang ia kehilangan nafasnya, namun hal itu tidak berpengaruh terhadap daya pikirnya.
Shiranui Shizune tetaplah seorang wanita yang cantik dan cerdas, wanita yang tak akan membiarkan waktu menghalanginya berpikir walau ia tengah terpuruk ke dalam keputusasaan.
Dan ia tahu, siapa malaikat yang telah merenggut nyawa suaminya.
Keningnya yang tertutupi helai-helai rambut hitam yang acak-acakan kini mengernyit. Wajah cantiknya menampilkan ekspresi penuh kebencian. Wanita itu meraih telepon genggamnya dan membuka flip ponselnya. Jemarinya meluncur di atas sejumlah tombol.
.
.
.
.
.
"Akan kubalas kau, Cherry Blossom. Kau akan merasakan betapa menyakitkannya dendamku!"
.
.
.
.
.
"Aku mulai jengah memberikan teror."
Dalam keremangan selimut malam, kedua siluet itu tampak tengah menghadap ke perapian di mana lidah-lidah jingga merona itu menjilati setiap bilah balok-balok kayu. Ini akhir musim panas, namun entah apa yang dipikirkan keduanya sehingga menyalakan tungku pemanas di hari-hari yang masih cukup hangat ini.
Kobaran api memantul pada permukaan sepasang emerald milik salah satu di antara keduanya. Bola mata yang bulat bening itu hanya menatap plasma oranye itu tanpa emosi, membiarkan refleksi api itu bermain-main di matanya. Orang kedua—pria yang lebih tinggi—menatap si pemilik mata zamrud dengan rambut hitam panjang dengan tatapan mencela.
"Apa maksudmu dengan 'memberikan teror'?" tanyanya dengan nada datar. Ia mengamati lawan bicaranya yang bertubuh pendek, menunggu jawaban dari pertanyaannya.
Pemilik rambut hitam ikal itu mendengus. "Jangan membuatku tertawa, Tuan. Kau sangat mengerti apa yang kukatakan." Sepasang mata zamrudnya tetap memndangi kobaran api, tak sedikitpun ia menatap pria yang berdiri di sebelahnya itu.
Pria bermata onyx itu memutar kedua bola matanya. "Kau yang jangan membuatku tertawa, Sakura. Untuk apa kau mengecat rambutmu menjadi hitam?" tanyanya dengan nada sinis.
Si rambut ikal—Sakura—mendelik kesal pada pria itu. "Kalau bukan demi dirimu, Tuan Sasuke, aku tidak akan melakukan hal ini," desahnya lambat-lambat, menampilkan kejemuan yang tiada tara. Kepalanya miring ke kiri, membuat rambut hitam ikal panjangnya yang diikat dua pada kedua sisi kepalanya bergoyang-goyang.
Dan pria itu—Sasuke—menyeringai mendengar kata-kata Sakura.
"Estamos de volta, a minha Cereja*..." Ia membentangkan kedua lengannya lebar-lebar di tengah-tengah udara, kemudian berputar, seolah menari di depan perapian. "Somos de casa*..."
.
.
.
.
.
"Good night and have a nice death..."
.
.
.
.
.
tbc
Estamos de volta, a minha Cereja = We are back, my Cherry
Somos de casa = We're home
A.B.A
Lagi-lagi Ai terlambat meng-update fic ini, udah gitu chapter ini pendeeeeeekk banget~ DX maafkan Ai, kawan~ Kesibukan pensi kemarin benar-benar membuat Ai hampir gila =w= Diselingi kemaksiatan berjudul 'Pra-UNUS' pula (oke, apa ini? Another drama from a dramaqueen!) Untungnya, Ai sempat membuat dua oneshot guna melancarkan deskrip~ (hieeee, apaan ini?)
Oh ya, ngomong-ngomong maaf ga ada gore di chapter ini =P (baca warning deh) Tapi, chapter depan aga goooorrreeee XD Eh, salah ding, chapter depan ada side story yang tertunda waktu itu XP
Oke, FAQ section!
Q1: Kakak banyak tau nama-nama tulang itu, ya? (by Deidei Rinnepero13)
A1: Wuaaahhh! Kau ganti nama! *ga penting* Ehhh~ lumayan sih, dulu aku disuruh ngapalin nama tulang pas kelas 2 ==a
Q2: Pembunuhnya Uchiha Itachi ya? (by Kurousa Hime, Uchiha Darkness V, Sheryl Cerbreaune, aya-na rifa'i, Darksketch)
A2: Fufufufu~ Terjawab sudah XD
Q3: Kakak kan pernah bilang kalau fic gore buatanku bagus. Nah, berarti aku boleh nge-flame kakak? (by Kira Desuke)
A3: Bikin aku jijik dulu sama gore =P
Q4: *males ngetik pertanyaannya, toh intinya sama* LAGU BLURTH FLURTHS WINDOOBI ITU BENERAN ADA? DARI BAHASA APA? MUSIKUSNYA SIAPA? (by selenavella & random teenager)
A4: Nanti ada bocoran di last chapter #geplaked hihihihi~ yah, sementara anggaplah lagu itu ada di dalam cerita~
*digeplak readers selesai jawab FAQ*
Khukhukhu~ soal Q4 ituuuu... ada yang masih penasaran? Ayo-ayo, sini PM, aku jawab lebih banyak seperlima (?) dari jawaban di atas XD
Review-nya dibales pake PM ya~ Ato lain kali mau ditampilin semua di sini? Pilih ya~
Siiip~
Special Thanks To:
Kagami Hikari / Rei-Cha Ditachi / Kirara Yuukansa / Andromeda no Rei / Darksketch / aya-na rifa'i / Kuroichibineko / Shiori Yoshimitsu / random teenager / Sheryl Cerbreaune / Frozenoqua / Rievectha Herbst / Sorane Aiwa / selenavella / Kira Desuke / popoChi-moChi / 4ntk4-ch4n / Rainy Verre / Uchiha Darkness V / Kurousa Hime / Queliet Kuro Shiroyama / Deidei Rinnepero13
Makasih banget ya udah bersedia me-review~ *peluk-peluk*
Makasih juga buat yang udah vote Cherry Blossom di IFA :) Meski kalah 10 suara dari Kak Ninja-edit di semua kategori, Ai tetap senang masih ada yang mendukung Ai *great hug*
Anyway, still mind to give me some review?
Avec mon plaisir,
mysticahime
