Gintama belongs to Hideaki Sorachi

Warning: Adegan R-18!

A/N: Sebelumnya saya mohon maaf kepada reader, saya ga bisa konsisten dalam pembuatan fanfiction ini. Di tiga chapter sebelumnya, saya membayangkan suasana perkantoran di Indonesia, jadi nama yang dipakai adalah nama panggilan. Tapi lama-lama saya merasa nama panggilan kurang cocok dipakai karena semua tokohnya memakai nama Jepang, terlebih temanya mengenai perkantoran. Jadi kesannya kurang formal aja. Bila ada yang mau dikomentari atau memberi masukan, jangan sungkan untuk PM saya langsung. Terima kasih :D

Office_Hours

Gintoki membongkar seluruh tumpukan berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Lagi-lagi dia menghilangkan schedule list-nya yang penting itu. Seingatnya, dia memiliki jadwal meeting dengan rekan bisnisnya dua jam lagi, tetapi lupa di mana lokasi pertemuan mereka. Sialnya, dia juga lupa memasang schedule di Google Calendar.

Gintoki langsung menghubungi rekannya itu. Naas, hanya tanggapan dari operator yang terdengar. Gintoki mencoba menghubungi via e-mail pun tak kunjung mendapat balasan.

Oh iya, nomor telepon kantor!

"Halo, bisa bicara dengan Sakamoto-san? Saya Sakata Gintoki dari Sakata Advertise."

"Kebetulan Sakamoto-san baru saja pergi meeting bersama asisten beliau, Sakata-san."

"Kalau boleh tahu, siapa orang lain yang mengetahui jadwal meeting Sakamoto-san selain asistennya?"

"Soal itu hanya asisten beliau saja yang mengetahui, Sakata-san."

"Mati aku..."

"Maaf?"

Gintoki kelabakan. "Eh, maaf, maaf! Saya bicara sendiri tadi, hahaha... Baik, terima kasih atas infonya!"

Tut tut tut.

Gintoki melesat ke ruang HRD. Semua mata tertuju pada gerakannya yang grasak-grusuk.

"Shimura!"

Tae selaku Kepala HRD terkejut mendengar panggilan semi teriakan dari atasannya. Untunglah dia sedang sendirian di ruangan itu.

Tae menatap Gintoki heran. "Ada apa, Gin-san? Seperti habis dikejar-kejar Sarutobi saja," gumamnya.

Sebelum lanjut berbicara, Gintoki menghela nafas berkali-kali terlebih dulu. "Kau benar, Shimura. Saya butuh asisten baru. Sejak Ketsuno resign, saya jadi kesulitan mengatur jadwal,"

Senyum mengembang di bibir Tae. "Akhirnya Gin-san menerima juga usul dari saya. Baiklah, saya akan segera mengatur jadwal interview dengan kandidat. Ada lagi yang diperlukan?"

Gintoki berpikir sejenak. "Sekalian bilang ke Sarutobi, pasang iklan lowongan asisten, ya. Urgent!"

"Kenapa, Gin-san? Masih takut didekati Sarutobi, ya?" goda Tae.

"Bukan takut, tapi TRAUMA!" Gintoki merinding sendiri bila mengingat kejadian-kejadian aneh yang selalu ditimbulkan oleh gadis ungu itu. "Oh iya, iklannya harus sudah jadi sore ini. Dibuat seperti iklan yang dulu pernah ditayangkan. Repost data juga boleh. Tolong ya, Shimura."

Sepeninggal Gintoki, Tae langsung menghubungi nomor extention Sarutobi.

"Halo, Sarutobi. Gin-san memintamu bikin iklan lowongan kerja untuk posisi asisten. Katanya, repost juga boleh. Sore ini sudah harus jadi... Apa? Kau mau jadi asisten Gin-san? Hahaha... Wajarlah dia menolak bicara langsung, kau kan suka menakuti dia... Ya sudah, cepat kerjakan. Aku tutup, ya.."

Office_Hours

Gintoki kembali bergelut dengan pekerjaannya. Anggaplah hari ini dewi keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Sakamoto datang tidak lama setelah dia menemui Tae. Ternyata jadwal meeting-nya di kantornya sendiri! Astaga..

Tok. Tok.

"Masuk!"

Pintu dibuka, seketika aroma pewangi ruangan Gintoki digantikan oleh aroma parfum yang semerbak. Fokus Gintoki belum teralihkan dari dokumen di tangannya. Lagi pula, dia sudah hafal pemilik aroma aqua mint ini.

"Cepat juga kau kembali dari Kyoto. Bagaimana hasilnya, Takasugi?"

"Aku bukan Takasugi, Gintoki-san."

Eh?

"Hijikata? Kenapa kau yang..."

Alis Hijikata bertaut bingung. "Seharusnya aku yang tanya, kenapa reaksimu aneh begitu melihatku masuk. Dan kenapa pula kau mengira aku Takasugi?"

"Aromamu.." Gintoki memicingkan mata penuh curiga. Suaranya pun merendah tajam. "Aroma parfummu persis seperti aroma parfum Takasugi."

"Hah? Lalu kenapa? Ada masalah dengan itu?"

"Ya, itu masalah buatku. Kau memakai parfumnya? Atau dia yang sengaja menyemprotkan ke bajumu? Jelaskan padaku apa yang terjadi, Hijikata-kun..!"

Hijikata tercengang, emosinya sedikit terpancing. "Hah? Apa maksudmu aku memakai parfum Takasugi? Aku tidak punya alasan untuk memakai parfumnya!"

"So? What's that? Kau mau bilang parfum kalian tidak sengaja tertukar ketika bertabrakan, begitu?"

"GINTOKI!"

Gintoki terkejut mendapat teriakan dari sang kekasih. Tatapannya kembali melunak meski masih tersisa sedikit emosi.

"Maaf.. Lanjutkan."

Helaan nafas keluar dari bibir Hijikata. "Aku membeli ini kemarin di supermarket," Dirogohnya saku dalam jasnya lalu menunjukkannya pada Gintoki. "Ini parfumnya dan ini bonnya. Kalau kau masih belum percaya juga, kau boleh tanyakan pada kasir yang kemarin melayaniku. Dia sudah mengenali wajahku karena aku sering berbelanja di sana,"

"..."

"Ada lagi yang perlu dijelaskan?"

"...No. That's enough."

Tak tega melihat raut penyesalan Gintoki, Hijikata pun mendekat dan membelai pipi kanannya. "Gin, aku tahu kau membenci Takasugi karena dia diam-diam mendekatiku.. Tapi kau harus ingat, rasaku cuma untukmu, Gin.. So, please, tahan emosimu. Aku tidak suka kau cemburu buta begitu..."

Gintoki menggenggam erat tangan Hijikata yang menangkup pipinya. "I'm sorry, Hiji... Forgive me, please..." lirihnya penuh sesal.

"I have, Gin..."

Gintoki tersenyum. Dilepasnya tangan Hijikata lalu berdiri menghampirinya. Dengan gerakan cepat dan sebelum Hijikata sadari, dia telah terperangkap di antara dinding dan tubuh Gintoki, pun dengan kedua tangannya yang dicengkeram erat di kedua sisi kepalanya.

"Gin! Apa yang kau– Akh..!"

Sebuah desahan kecil lolos dari bibir Hijikata. Sekuat tenaga dia meronta, Gin enggan melepaskannya. Hijikata menggeliat cemas ketika sesuatu yang basah menari-nari di kulit lehernya. Menciptakan semburat kemerahan dari pipi hingga telinganya.

"Diamlah sebentar.. Aku mau menghilangkan aroma yang menyesakkan dadaku ini dari tubuhmu.. Walaupun kau tidak sengaja membelinya, aku tetap membencinya, Hiji.. Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan Takasugi Shinsuke..." ucap Gintoki dengan suara berat dan pelan, yang membuat Hijikata merinding.

Tidak! Tidak boleh! Sekarang bukan saatnya 'menyelesaikan' persoalan pribadi!

"Gin! Kita masih di kantor!" cegah Hijikata.

Tatapan Gintoki seketika kembali tajam, lebih menyeramkan dari sebelumnya. "Biarkan aku melakukannya, Hijikata. Atau aku akan membenci Takasugi lebih dari ini..."

Desisan tajam dari bibir Gintoki membuat Hijikata terperanjat. Gintoki akan lebih mengganas bila keinginan 'iblis' dalam dirinya dilarang dalam situasi seperti ini. Hijikata sebisa mungkin tidak mau itu terjadi.

Tak ada pilihan lain.

"Ngh... Cepatlah..!" serunya.

Disetujui, Gintoki segera menelusuri seluruh perpotongan tubuh Hijikata. Aroma yang paling menusuk berada di leher dan dada Hijikata, terlebih parfum itu disemprotkan di tubuhnya, bukan pakaiannya. Gintoki geram, sebab aroma dari tubuh lebih sulit dihilangkan dibandingkan aroma dari pakaian.

Bila saja Gintoki memiliki parfum, itu akan lebih baik karena aroma parfum Hijikata akan tertimpa dengan miliknya. Sialnya, dia tidak memilikinya dan terpaksa menghilangkan aroma menjijikkan itu dengan caranya sendiri.

Dilepasnya dasi biru dan jas hitam Hijikata lalu melemparnya asal. Empat kancing kemejanya pun turut dilepas lalu diturunkannya dengan cepat sehingga terpampang jelas leher, bahu, dan dada putih mulus milik kekasihnya. Aroma parfum itu jadi lebih semerbak, membuat Gintoki mual.

Kedua tangan Hijikata kembali ditahan di kedua sisi kepalanya. Tanpa memedulikan raut syok serta tubuh Hijikata yang gemetaran, Gintoki langsung menerjang leher Hijikata. Menjilat, menggigit, menghisap, pokoknya apapun akan dia lakukan agar aroma itu menghilang. Hijikata kepayahan menghadapi Gintoki yang telah dikuasai emosi dan nafsu membara. Usahanya mengendalikan 'iblis' itu akan selalu berakhir sia-sia.

Merasa aroma di leher Hijikata menipis, bibir Gintoki berpindah ke dua bahunya dan melakukan hal yang sama. Gintoki benar-benar mencecar tubuhnya tanpa ampun. Keganasan Gintoki semakin parah ketika menghirup aroma yang lebih kuat di bagian dada. Insting Gintoki mengatakan Hijikata menyemprotkan parfumnya banyak sekali di bagian itu.

Tidak seinci pun Gintoki lewati ketika menciumi dada Hijikata. Kali ini dua nipple Hijikata turut menjadi korban. Hijikata menggelinjang, sentuhan Gintoki membuatnya kehilangan keseimbangan. Punggung yang melengkung ke depan itu seolah mengundang Gintoki untuk memanjakannya lebih.

"A-Aaah~ Gin.. H-Hentikan... AH! AH!"

Desahan keras Hijikata menggema di seluruh ruangan. Gintoki semakin gencar memberikan cumbuannya pada tubuh sang kekasih, berharap aroma itu hilang sepenuhnya dari indera penciuman, terlebih dari ingatan.

Ruangan ber-AC itu memanas. Hanya terdengar geraman, desahan, dan kecupan basah. Gintoki pun perlahan-lahan menghentikan aksinya, setelah dia meyakini aroma itu tidak lagi tercium dari tubuh kekasihnya.

Dilepasnya cengkeraman pada kedua tangan Hijikata, yang membuat pria berambut hitam itu merosot ke lantai. Kedua kakinya lemas, tak mampu menahan beban tubuhnya. Desahan nafas berat masih keluar dari mulutnya. Ditatapnya sayu Gintoki yang memasang wajah puas sekaligus merasa bersalah.

"Sudah hilang, Gin..?" tanyanya lirih.

Gintoki mengangguk pelan. "Ya."

"Kalau begitu, bertanggungjawablah."

"Itu sudah pasti, honey.."

Gintoki pun menggendong Hijikata seperti pengantin ke sofa besar di pinggir ruangan. Setelah mengambil jas dan dasi Hijikata yang tercecer, Gintoki kembali membawa sapu tangan dan semangkuk air hangat. Dikompresnya secara perlahan tubuh yang telah banyak dia tandai itu, berharap rasa sakit bekas gigitan dan hisapannya dapat memudar.

Hijikata menatap datar Gintoki. "Kau berlebihan sampai melakukan ini padaku,"

"Aku tahu." balas Gintoki. "Aku memang berlebihan dan keterlaluan.. Kau boleh marah bila kau mau,"

Tak ada jawaban. Gintoki melanjutkan aktivitasnya dalam diam.

"Setidaknya..." suara lirih Hijikata menginterupsi gerakan Gintoki. "...setidaknya kita tidak berbuat lebih jauh dari ini.. Tidak kusangka otak warasmu masih bisa berfungsi di tengah-tengah nafsu, Tuan Presdir."

Gintoki nyengir. "Karena aku bos, aku harus selalu jadi panutan,sayang.."

"Persetan dengan panutan. Dasar iblis mesum!"

"HAHAHA...!"

Gintoki selesai merawat Hijikata dan memakaikan kembali pakaiannya. Hijikata beranjak dari sofa, namun sebuah tangan menahannya.

"Long kiss before goodbye, honey.."

Hijikata mengerti. Didekatkannya bibir Gintoki dengan bibirnya sampai akhirnya saling menempel. Terdengar bunyi kecupan ketika Hijikata mengakhiri ciumannya.

Hijikata berbisik. "Kalau nanti ada seseorang yang berusaha merebutmu dari sisiku, atau minimal membuatku cemburu, giliranku untuk 'menyiksamu', Gin-san.. Kau harus ingat itu."

Gintoki menyeringai. "Heh, aku akan menantikannya, honey.."

Manajer Pemasaran itu pun kembali ke ruangannya, meninggalkan sang bos besar dalam keadaan tersenyum sumringah.

Keesokan harinya...

Gintoki masih disibukkan oleh laporan dari para karyawan meski hari sudah menjelang petang. Dia pikir ada baiknya bila mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Caranya adalah berjalan-jalan mengelilingi kantor, sebab dia lelah duduk sepanjang hari.

"Gin-san!"

"Shimura?" tanya Gintoki pada Tae yang berpapasan dengannya.

"Saya membawa daftar kandidat yang melamar. Semuanya sudah saya sortir berdasarkan pengalaman dan kualifikasi yang Gin-san butuhkan."

Gintoki menerima daftar itu. "Oh, terima kasih. Hm.. semua ada tujuh kandidat, ya.. Ya sudah, print semua CV mereka, lalu taruh di meja saya. Kita interview mereka besok."

"Baik, Gin-san. Saya permisi."

Gintoki pun membaca daftar itu dengan saksama. Kemampuan Tae dalam menilai seseorang memang hebat. Semua kandidat yang sekarang menjadi karyawan di perusahaan Gintoki tidak pernah ada yang mengecewakan. Dari sekitar dua ratus orang yang melamar sebagai sekretarisnya, hanya tujuh orang yang benar-benar mendekati kualifikasi. Gintoki memberinya kenaikan pangkat sebagai Kepala HRD atas prestasi kerjanya ini.

"Hideyuki Akira, pengalamannya lima tahun jadi sekretaris, lulusan Universitas Tokyo. Wah, keren! Lalu Sugi Arisa... Wow, cantik dan montok banget! Bisa-bisa si Hiji cemburu nih... Yang ini Yamamura Kanna.. Fresh graduate sih, tapi kayaknya dia tipe serius dan pekerja keras... Terus Fujiwara Hina... Sagawa Reiko... Matsuzaka Yuri..."

Beberapa menit berlalu. Gintoki menghempaskan daftar kandidat itu ke mejanya kasar.

"Duh, semuanya benar-benar mendekati kriteriaku. Jadi bingung,"

Srek.

Sebuah kertas terjatuh akibat hempasan Gintoki tadi.

"Eh? Masih ada yang belum dibaca? Kupikir sudah semua.."

Gintoki memungut kertas itu. Perhatiannya kali ini bukan tertuju pada tulisan daftar riwayat hidup, melainkan ke foto si kandidat. Awalnya Gintoki terbelalak, tetapi kemudian berubah menjadi tatapan iba.

"Cantiknya... sayang sekali jahitan ini membuatmu terlihat seperti gangster..."

Dan tanpa Gintoki sadari, dia telah menatap foto wanita cantik itu untuk waktu yang lama...

Office_Hours

Gintoki dan Tae sibuk mengurusi interview para kandidat. Tampaknya semua kandidat itu orang yang berkualitas dan layak mengemban tugas sebagai sekretaris pribadi Gintoki. Pilihan Tae memang selalu top!

Selama tiga jam lebih mereka melakukan interview, kini masuk ke sesi kandidat terakhir.

Kandidat wanita tersebut berjalan dengan anggun memasuki ruangan. Tubuhnya tinggi langsing, kulitnya putih pucat, rambut blonde, serta dua mata ungunya yang berkilau. Rambut sebahunya dibiarkan terurai. Oh, jangan lupakan sorot matanya yang tajam serta ekspresi cool-nya yang menciptakan kesan wanita dewasa, cerdas, dan sedikit sombong.

"Cantik.." Tae bahkan terkesima untuk beberapa saat. "Meski di wajahnya terdapat bekas jahitan, dia tetap terlihat cantik!"

Gintoki tidak heran lagi bila Tae akan berpikiran seperti itu. Wanita blonde itu memang secantik rembulan malam.

"Selamat siang. Silakan perkenalkan diri Anda." ucap Tae.

Wanita itu membungkuk hormat. "Selamat siang. Perkenalkan, nama saya Tsukuyo. Umur saya 25 tahun. Saya berasal dari prefektur Kanagawa–"

Ptak.

Sebuah bolpoin jatuh dari tangan Gintoki.

"Gin-san?"

"..."

Gintoki tidak bersuara. Ekspresi bos besar itu berubah kaku. Mata merahnya terbelalak, tangannya tak mampu bergerak.

"Tsukuyo... Ka-Kau.. Tsukuyo...?"

Tsukuyo keheranan. Ditatapnya pemilik jabatan tertinggi di perusahaan itu dengan saksama.

Rambut ikal berwarna perak itu... Mata merah ikan mati itu...

"Gintoki?!"

Suasana dalam ruangan seketika menegang. Tae menatap keduanya bingung.

"Gin-san, Tsukuyo-san, kalian sudah saling mengenal..?"

Office_Hours

Sesi terakhir interview pun selesai. Ketika meng-interview Tsukuyo, Gintoki lebih banyak diam, berbeda dengan saat meng-interview kandidat yang lain. Fokusnya pecah dan pikirannya melayang kemana-mana. Tae sampai harus menegur Gintoki beberapa kali agar terbangun dari lamunannya.

Tsukuyo justru lebih tenang. Dia menjawab semua pertanyaan dari Tae dengan lugas dan memuaskan. Entah kenapa Tsukuyo mampu bersikap lebih profesional dibandingkan Gintoki yang jelas-jelas seorang CEO. Dan sepertinya antara Gintoki dan Tsukuyo memiliki masa lalu yang... sulit dijelaskan? Terlihat dari ekspresi mereka ketika bertemu muka tadi.

Meski dikecamuk rasa penasaran, Tae memilih untuk tidak mencampuri urusan mereka. Dia pun melenggang pergi tanpa bertanya apapun.

Gintoki membawa Tsukuyo ke ruang pribadinya. Setelah mengunci pintu, Gintoki berdiri di hadapan wanita itu. Hanya berdiri, tanpa berkata apapun.

Sorot mata Gintoki menajam, menelisik tubuh Tsukuyo dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meski tatapannya menakutkan, ekspresi Gintoki sulit diartikan. Entah senang, marah, atau sedih, Tsukuyo tidak mampu menerjemahkannya. Dia hanya mampu membalas tatapan Gintoki dengan tatapan khawatir.

"Gintoki.. Aku.. tidak menyangka kita akan bertemu lagi..." ucap Tsukuyo.

Gintoki tidak membalas, namun tatapannya kini melembut. Seolah menyadari dia telah memberikan sebuah intimidasi pada wanita itu.

Dan detik berikutnya, hal yang tidak pernah mereka pikirkan terjadi.

Gintoki merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.

Dan kata-kata yang selama ini terlupakan olehnya, kini kembali dari dasar hatinya tanpa dia sadari.

"Aku merindukanmu.. Tsukuyo..."

TBC/END?

Cuap-cuap author:

Saya mohon ma'aaaaaf banget kepada reader karena fic ini sempat diterlantarkan. Saya sering kehilangan mood menulis fiksi drama, karena pada dasarnya saya orang yang periang dan suka auto-ngakak. Hahaha... xD #hoy.

Saya bukan ga bisa nulis genre drama, hurt/comfort, angst, atau semacamnya yang bisa bikin mewek. Hanya saja untuk mendapat feel galau itu memang susah, kecuali kalo saya emang lagi kena masalah/musibah yang besar (yang ini semoga ga sering-sering terjadi). Jadinya saya kudu berulang kali dengerin lagu-lagu cengeng, biar feel-nya dapet lagi. Hehehe...

Btw, bagi reader yang suka dengan cerita humor dan gaya bahasa yang bebas, boleh intip fic saya yang berjudul "Nikah Yuk Nikah". Coba kalian bandingkan, kalian lebih dapet feel di fic yang mana. Karena saya sebagai (orang yang ngaku-ngaku) author pingin tau, punya sense di genre apa. Saya rasa sih ga keduanya.. Haha... (Halaaaah, bilang aja strategi marketing! xD)

Thanks a lot bagi kalian yang setia membaca fic gaje ini! o #peluksatusatu