ONE DAY
.
.
.
Apriltaste
.
.
.
Oh Sehun
Luhan
.
.
HunHan/GS for Uke
Don't like ? Don't Read and Don't Bash !
Typo Everywhere
.
.
.
Someday, we'll have a happy ending.
.
.
.
"Menikahlah dengan dia. Bukan Luhan, melainkan Luna."
-Sehun-
Deru nafasku menjadi lebih cepat, seluruh urat ditubuhku menegang. Ku tegakkan punggungku dan kurasa wajahku mengeras. Aku tak percaya apa yang dikatakan lelaki tua didepanku. Ia tak memikirkan jika ini adalah sebuah tamparan hebat yang tepat mengenai diriku.
"Ayah Gila ?!" Persetan dengan mulutku yang berkata kasar. Demi Tuhan, aku benar-benar tak menyangka ini semua akan terjadi. Emosiku benar-benar memuncak sekarang, dadaku naik turun mencoba mengontrol segala emosi yang keluar.
"Ini permainan bisnis Sehun.." Bahkan lelaki itu dengan tenang menyesap secangkir teh yang mengepul didepannya.
"Kenapa harus Luna ayah ? ayah tahu aku bersama Luhan sekarang bukan Luna." Aku menatapnya dengan tajam. Nadaku sedikit merendah mencoba menenangkan suasana di ruangan ini.
"Harus. Karena Luna adalah Direkttur utama. Jika kau menikahinya, otomatis perusahaannya juga akan menjadi milikmu. Dan disitu akan banyak kolega bisnis yang menanamkan sahamnya lebih banyak." Hanya keuntungan yang ada dipikirannya tanpa memikirkan bagaimana perasaanku saat ini.
"Aku mencintai Luhan.." Sebelah tanganku mengusap kasar wajahku, aku tertunduk didepan ayahku sekarang. Tak peduli jika aku terlihat lemah didepannya.
"Kesampingkan perasaanmu Sehun, ayah sudah tua dan kau juga membutuhkan pendamping yang hebat disisimu. Ini demi perusahaan, demi keluargamu di masa depan."
"Tapi..-"
"Ayah tak menerima sebuah penolakan Oh Sehun." Ucapnya final dan bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju pintu dan meninggalkanku sendirian bersama keheningan.
.
.
.
.
Malam ini, aku terduduk di ruang tengah apartemen dengan diam. Aku masih memikirkan tentang apa yang diucapkan ayahku kemarin malam. Dan Luhan ? tentunya aku tak memberitahunya tentang perjodohan konyol ini –setidaknya belum-. Besok adalah hari ulang tahun wanita itu, hari dimana ia harus merasakan sebuah kebahagian di umurnya kedua puluh lima dan aku tak ingin merusak hari kebahagiaan milik wanitaku.
Ting Tong
Bel apartemenku berbunyi, siapa yang bertamu pada jam seperti ini ? aku ingin benar-benar melepaskan segala beban yang berada dipundakku sekarang. Bahkan, aku belum sempat mengganti pakaian kerjaku setelah pulang tadi. Dengan langkah malas, aku beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu apartemen tanpa melihat intercom. Mungkin Chanyeol dengan senyum idiotnya atau Jongin dengan kerlingan menjijikan.
"Kau.." Ucapku dengan nada setengah malas ketika membuka pintu dan melihat siapa pelaku yang memecet bel apartemenku.
"Kau baru pulang ? Kau tampak lelah." Balas wanita itu dengan nada lembut didalamnya. Mengikutiku hingga keruang tengah setelah melepaskan sepatu berhak warna hitamnya.
"Seperti yang kau lihat." Ku hembuskan nafasku pelan dan membawa kepalaku pada sandaran sofa.
"Kau berantakan." Wanita itu yang kini duduk disampingku hanya terkekeh dan mengulurkan sebelah tangannya untuk merapikan rambutku.
Aku terpejam merasakan sentuhan lembutnya di puncak kepalaku, ini salah memang salah. Hatiku kembali berdenyut sakit ketika tersadar jika wanita disampingku adalah Luna, bukan Luhan. Apa aku akan terus menyakiti Luhan seperti ini ? walaupun hubunganku dengan Luna hanya sebatas friend with benefit tak lebih tapi aku benar-benar mencintai Luhan dengan seluruh hatiku. Sedangkan hubunganku dengan Luna, semua terjadi ketika kami bertemu pada tahun kedua perkuliahan di Amerika. Wanita itu cukup menarik perhatianku kedalam pesonanya. Tapi, sayangnya pada saat itu dirinya telah memiliki seorang kekasih. Hingga satu tahun kemudian, setelah Luna benar-benar berpisah dengan kekasihnya, kami terjebak dalam hubungan ini –hingga saat ini- yang terjadi begitu saja, karena kami sadar jika sejak awal Luna dan aku membutuhkan satu sama lain tanpa perlu sebuah ikatan. Wanitaku, Luhan ia tak pernah tahu tentang hubungan brengsekku dengan kakak perempuannya.
"Kau sudah bertemu dengan ayahmu ?" Luna, membuka suaranya kembali ketika melihatku yang terdiam dengan mata terpejam. Wanita itu terus menatapku dengan kelopak matanya yang berkedip perlahan.
"Sudah."
"Kau menyetujuinya ?" tanyanya kembali dengan suara lirih. Tangannya yang mengelus rambutku ia tarik dan berhenti diatas kedua pahanya.
"Aku tak bisa menolak, dan Luhan harus tersakiti disini." Ucapku dengan tatapan mata yang kubawa padanya.
"Aku juga tak bisa menolak, tak menolak tepatnya." Wanita itu tertunduk dengan mengenggam kedua tangannya erat-erat.
"Aku tahu, kau anak pertama dan sekarang menjabat sebagai Direktur utama. Itulah yang membuatmu tak bisa menolak, ini perjodohan bisnis." Aku terkekeh ringan dan menggelengkan kepalaku pelan.
"Dan hal ini membuatku semakin menyakiti Luhan." Kepalaku tertunduk dengan lemah, membuatku sadar disini aku terlalu jahat pada wanitaku. Aku mencintai Luhan. Luna hanya terdiam membuat kami larut pada pikiran masing-masing.
"Sehun.." Luna memanggilku pelan, matanya yang lebih kecil dari Luhan menatapku dengan sorot yang tak bisa kuartikan.
"Kau mencintai Luhan ?"
"Sangat mencintainya." Jawabku dengan tegas sembari tersenyum samar padanya. Luna membawa kembali kepalanya kebawah, terdiam dan menunduk. Sepertinya, ada yang disembunyikan wanita ini dan aku tak tahu apakah itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau datang kesini ?" Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuat kami tediam selama beberapa menit itu, Luna mengalihkan pandangannya padaku. wanita itu lalu tersenyum lembut-
"Aku membutuhkanmu malam ini." Suara lembut itu kembali memenuhi ruangan tengah apartemenku, ia tersenyum dengan sebelah tangannya yang mengelus rahangku, lalu turun bermain dengan dasi merah-biruku dan terakhir, menarik kemejaku agar mendekat kearahnya hingga ujung hidung kami saling bersentuhan.
"Tapi Lu-" Aku tak bisa lagi melanjutkan kata-kataku ketika kurasa sentuhan halus mendarat tepat pada bibir tipisku. Membuat gairah lelakiku memuncak, hingga tanpa kusadari kubalas lumatan lembut yang diciptakan Luna pada bibirku. Mengangkat tubuh wanita itu pada kedua pahaku. Aku membutuhkannya juga malam ini untuk menyalurkan segala emosi yang ada pada dalam diriku. Dan entah apa yang terjadi kemudian, aku membawa Luna keatas ranjangku malam ini dengan rasa bersalah kembali yang menerpa hatiku untuk Luhan.
Maafkan lelaki brengsekmu ini sayang.
.
.
.
.
-Luhan-
Kulihat jam kecil yang berada pada dasbor mobilku, delapan lewat lima menit. Sedikit, terlalu malam memang untuk sebuah makan malam sederhana. Aku mengendarai mobilku menuju Cheongdam-dong, dimana apartemen Sehun berada. Setelah pulang kerja tadi, aku sempat memasak makan malam untuk keluarga. Sup ayam gingseng dengan kepulan uap menggiurkan yang langsung mengingatkanku pada Sehun, Kekasihku itu sangat menyukai sup ayam dengan gingseng merah itu. Setelah melakukan makan malam dengan keluarga tanpa kehadiran Luna, yang aku benar-benar tak tahu dimana wanita itu berada dan membuat ibu berteriak-teriak padaku untuk menghubungi wanita itu. Tapi percuma saja jika ponselnya tak menjawab panggilan dariku, mungkin ia pergi bersama teman-temannya.
Aku bersenandung kecil ketika mobilku sudah membawaku lebih dekat pada salah satu gedung menjulang di kawasan Cheongdam-dong –apartemen Sehun- setelah berhasil memarkirkan mobilku di basement, sepasang mata rusaku menangkap sebuah mobil sedan hitam yang mengkilap. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Tak mungkin Luna disini, lagipula mobil yang seperti itu tak hanya satu di Korea. Heels putih yang kupakai menciptakan suara yang menyenangkan ditelingaku membuatku terasa ringan dan tersenyum sepanjang perjalan menuju dimana lelakiku tinggal. Aku berjalan kearah lift yang akan membawaku pada lantai dua puluh, dimana tempat Sehun berada.
Jemariku menekan deretan angka yang kuhapal di luar kepala pada sebuah kotak penuh tombol yang berada pada pintu bernomor lima dua puluh itu. Setelah mendengar sebuah suara yang memastikan pintu itu terbuka, aku mendorong pintu berwarna abu-abu itu dengan sebelah tangan -agar dapat terbuka lebih lebar-. Langkah kecilku terhenti ketika melihat sepasang heels hitam yang tergeletak didekat pintu masuk.
Sehun ada tamu rupanya.
Aku berjalan perlahan dengan mata yang sedikit menyipit ketika kembali melihat sebuah tas tangan wanita dengan warna biru muda tanpa kehadiran Sehun diruang tengah. Kuletakkan paperbag yang berisi sup ayam itu di meja kecil yang terletak diruang tengah. Kenapa pula lampu disini dinyalakan dengan pengaturan redup ?
Siapa wanita ini ?
Jantungku berdebar, ketika mataku kembali menangkap atasan pakaian wanita yang tercecer diatas sofa, dan sebuah dasi dengan motif merah-biru milik Sehun juga berada disana.
Tak mungkin.
Langkahku kubawa mendekati kamar utama dengan pintu putih itu, berjalan tanpa menimbulkan suara. Setelah sampai didepan pintu, aku menarik nafas dan memutar gagang pintunya dan membukanya perlahan. Berharap tak akan terjadi apa-apa setelah ini.
"Sehunnhh.. ahhh.."
Sebuah suara wanita dengan desahan menjijikan menyapa pendengaranku, kamar Sehun kenapa menjadi gelap seperti ini ? Tanganku mencari-cari, menekan saklar lampu yang tak jauh dari pintu dan-
Blamm.. semuanya menjadi jelas.
Nafasku terasa tertahan, Kedua tanganku terangkat menutup mulut, mataku melebar dengan terkejut. Sehun, Lelaki yang kucintai berada disana, diatas ranjang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Wanita dibawahnya mendesah hebat dengan tubuh yang tersentak keras, mereka sama-sama tak menggunakan sehelai benang dengan tubuh mengkilap dan nafas yang terengah. Wanita itu, Luna kakak perempuanku.
"Luhan.." Sehun mengehentikan kegiatan menjijikan itu, ia menatapku dengan raut terkejut ketika mendapatiku berdiri di ambang pintu kamarnya.
Aku terdiam. Mencoba mencerna apa yang telah mereka lakukan didepan mataku. Memejamkan kedua mataku, seolah semua gambaran jelas ini akan hilang secara sendirinya ketika aku membukanya kembali. Atau mungkin ini mimpi bukan ? Luna menyayangiku dan Sehun mencintaiku. Tapi sayang, ini adalah kenyataan yang harus kuterima.
"Sehun.." Lirihku dengan menjatuhkan kedua tanganku dengan lemas. Sebuah bulir air mata kurasakan jatuh membasahi pipiku. Hatiku berdenyut sakit sekarang, tapi kenapa aku tak bisa terisak ? ini terlalu sakit.
Kubawa langkah kakiku mundur, menjauhi kamar dengan sebuah kenangan menyiksaku. Meninggalkan mereka yang telah berkhianat dibalik punggungku. Apa salahku ? kenapa mereka setega ini padaku
Apakah harus seperti ini Sehun ?
Aku mencintaimu.
Ini menyakitkan.
Terlalu sakit, hingga aku tak bisa merasakan hatiku berdenyut.
Apakah semuanya akan berhenti sampai disini ?
.
.
.
.
Aku mengetuk pintu coklat didepanku, mengetuk dengan dorongan lemah. Entah semua penghuni didalam sana bisa mendengar ketukan ini atau tidak. Yang jelas, aku akan berada disini. Setelah beberapa saat, telingaku mendengar sebuah langkah tergesa dari balik pintu kayu itu. Tubuhku mengambil langkah mundur ketika pintu terbuka dan menampilkan sesosok wanita dengan setelan rumahnya ditambah raut terkejut setelah melihat bagaimana keadaanku.
"Astaga Luhaann.. apa yang terjadi padamu ?" –Baekhyun- wanita dengan perawakan mungil itu menatapku dengan mata sipitnya yang membesar.
"Kau ?! ada apa denganmu ?!" dibelakang Baekhyun, Kyungsoo. Tampak tak percaya denganku yang berdiri diambang pintu flat mereka.
Mereka berdua membawaku masuk ke flat kecil itu. Membiarkanku duduk disalah satu sofa mungilnya, menatapku dengan tatapan iba ketika melihatku beberapa menit yang lalu dengan raut wajah berantakan, dengan aliran air mata yang menganak sungai pada kedua pipiku.
"Minumlah." Kyungsoo meletakkan cangkir berwarna putih dengan uap mengepul diatasnya.
"Ada apa denganmu ? Kau bisa menceritakannya pada kami." Kali ini Baekhyun, dengan lembut menyingkirkan anak-anak rambutku yang menjuntai ketika aku terdiam menundukkan kepalaku.
"Luhan.."Kyungsoo yang duduk diseberangku memanggil namaku pelan, hingga membuatku menatap kearahnya dengan air mata yang memenuhi pelupuk mataku.
"Ada apa ? hmm ?" Wanita itu berpindah tempat duduk hingga akhirnya duduk disebelahku –aku berada ditengah sekarang- membawa tubuhku kedalam pelukannya. Disana, aku kembali terisak hebat.
"Sehunn.. Sehunnn..." Aku mengucap nama lelaki itu dengan sedikit terisak. Air mataku kembali berlomba-lomba jatuh kedalam pangkuanku.
"Sehun kenapa ? tenangkan dirimu dulu lalu berceritalah." Kurasakan, tangan mungil Baekhyun yang sama dengan milikku mengusap punggung sempitku. Mencoba membawa ketenangan untukku. Nafasku berangsur-angsur kembali normal, wanita dengan mata bulat itu –Kyungsoo- mengulurkan teh hangat yang sempat dibuatnya tadi padaku. aku menerima dengan tangan sedikit gemetar, menyesapnya perlahan
"Apa aku harus menyerah sekarang ?" Tanyaku dengan lirih, mengenggam erat cangkir mungil milik Kyungsoo dengan kedua tanganku. Mereka berdua terus menatapku dengan raut bertanya, tak paham tentang apa yang ku bicarakan. Aku harus bisa menenangkan diriku sendiri, kembali membangun sebuah tembok pertahanan yang kuat sebelum menceritakan yang kulihat di apartemen Sehun kepada mereka berdua.
"Ada apa sebenarnya ? Kau tak boleh menyerah jika ada masalah yang menghampiri hubungan kalian. Kalian telah bertahan selama ini, tolong bicaralah pada Sehun baik-baik..-"
"Sehun.. Lelaki itu..-"
"Lelaki itu.. tidur dengan Luna. Kakakku." Aku menggeleng dengan cepat dan memotong ucapan Kyungsoo setelahnya. Kemudian dengan suara lebih rendah lagi dan nafas tersengal. Itu menyakitkan. Kurasakan tubuh Baekhyun dan Kyungsoo menegang setelah mendengar apa yang kuucapkan.
"Bagaimana bisa ? Bukankah kalian selama ini baik-baik saja ?" Aku yakin, ada nada emosi dibalik wajah tenang Kyungsoo itu, Baekhyun memeluk tubuhku.
Kepalaku menggeleng dengan pelan, tak bisa menjawab pertanyaan Kyungsoo. Yang kutahu, pertahananku telah hancur sekarang. Aku kembali menangis dengan terisak hebat dipelukan Baekhyun, merasakan sakit yang lebih menusukku sampai hatiku benar-benar hancur hingga membuatku tak bisa memikirkan apa lagi selain aku telah mencintai lelaki yang telah menyakitiku.
.
.
.
.
20 April 2016
Semalam, aku memutuskan menginap di flat kecil milik kedua sahabatku Baekhyun dan Kyungsoo. Mencoba melupakan apa yang terjadi kemarin, walaupun itu semua hanya sia-sia. Pagi tadi ketika baru saja membuka mata di hari ulang tahunku, aku mendapat sebuah kejutan kecil dari mereka yang setidaknya bisa menghiburku. Membantuku tersenyum di hari pertama dua puluh lima tahunku yang menyakitkan ini. Hari ini, setelah mendapat izin tak bekerja dengan alasan kelelahan yang mudah kudapatkan aku kembali kerumah. Sebelum beranjak dari flat kecil mereka, ponsel milik Baekhyun bergetar dan Ibu menngabarkan aku harus segera pulang, karena sore nanti akan ada makan malam keluarga guna memperingati bertambahnya usiaku. Dan sekarang aku disini-
"Kau yang membuat kuenya ?" Tanya ibu dengan senyuman lebar ketika mencicipi hasil Kue kering yang kubuat.
"Iya bu, aku mendapatkan resepnya dari Internet." Jawabku dengan mengaduk adonan kue lainnya.
"Semalam, kenapa tiba-tiba menghubungi ibu dan bilang tak pulang ?" Tanya wanita dengan kulit putih seperti yang kumiliki. Ia memasukkan adonan kue yang sudah dicetak kedalam pemanggang yang terletak disudut dapur.
"Tak apa, aku hanya ingin berkumpul dengan Baekhyun dan Kyungsoo." Bohongku.
"Oh, sudah matang. Kau bisa memasukan sedikit garam disini." Jawab ibuku singkat lalu berbicara pada salah satu pelayan dapur rumahku.
"Ibu.." Panggilku.
"Iya, ada apa sayang ?" Tanyanya kemudian mengalihkan tatapannya dari sederet kue berwarna coklat itu menjadi padaku.
"Nanti malam hanya keluarga kita kan ?" Tanyaku dengan sedikit menekan kata keluarga pada pertanyaanku.
"Tidak, Keluarga Oh akan datang, karena sepertinya ada sesuatu yang harus disampaikan ayahmu." Jelas ibu dengan senyum lembut. Yang tak sebanding dengan perasaan sakit itu yang kembali mendatangi hatiku. Apakah aku masih harus bertemu dengan Sehun ?
"Sesuatu ?"
"Sesuatu. Entahlah, ibu juga tak tahu." Ibu mengangkat bahunya lalu kembali pada masakan miliknya.
Terdiam, kembali bersatu dengan pikiran yang terus menari-nari dalam otakku. Keluarga Oh akan datang disaat acara ulang tahunku yang seharusnya hanya dirayakan oleh keluargaku. Tak mungkin jika mereka datang tanpa ada hal penting yang akan disampaikan oleh ayahku. Kenapa ini semua menjadi sangat tiba-tiba seperti ini ?
"Kau sepertinya hari ini banyak melamun." Suara ibu membuatku terkejut dan kembali pada alam sadarku. Yang hanya kubalas dengan senyuman.
"Luna !" Ibu sedikit berteriak ketika melihat siluet tubuh Luna berjalan melintasi dapur.
"Iya ibu.." Wanita itu menjawab panggilan ibu dan berjalan mendekat kedapur. Kemudian menatapku sekilas.
"Kau sudah pulang ?" Tanya ibu kepada wanita yang masih menggunakan setelan kerjanya yang sekarang berdiri tepat di depannya.
"Kau semalam juga tak pulang, kemana ?" Pertanyaan ibu membuatku menoleh kepada mereka berdua. Menangkap reaksi Luna yang melihatku juga melalui ekor matanya.
"Ada beberapa perkerjaan yang mengharuskan bertemu klien di Busan bu." Jawabannya membuatku merasakan kembali denyut yang menghampiri dadaku.
Bohong Bu,
Dia bersama Sehun semalam hingga sebelum pulang kerumah.
Tanpa berniat mendengarkan percakapan mereka, aku melepaskan celemek merah muda dengan gambar kucing yang kupakai. Meletakannya diatas konter, dan berjalan menuju tangga yang menghubungkan ke lantai dua. Dimana kamarku berada.
Aku duduk dipinggir ranjang, hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Berpikir, bagaimana mungkin mereka berdua bisa menyakitiku seperti. Memikirkan apakah aku mempunyai sebuah kesalahan yang memang tak bisa dimaafkan oleh mereka. Dan terus menyalahkan diriku sendiri tentang kesalahan yang tak ku tahu dan mungkin tak pernah kulakukan.
Air mata sialan ini kembali menetes dan membuat anak sungai pada pipiku, aku terisak dalam diam, dalam keheningan yang menyelimuti kamarku. Apakah ini adalah harga yang harus kubayar kepada Luna ? dengan melepaskan Sehun ? melepaskan lelaki yang kucintai. Luna, kakak perempuanku itu terlalu banyak membantuku hingga dapat duduk diperusahan. Tapi apakah harus dengan Sehun ? dan tanpa terasa, aku telah duduk diatas ranjang dengan isakan selama berjam-jam.
.
.
.
.
"Luhan, kau sudah siap ? Keluarga Oh sudah menunggu dibawah, Sehun sudah datang." Ibu berdiri dengan sebelah tangan memegang gagang pintu kamarku.
"Sudah bu." Aku tersenyum kepadanya dan beranjak dari depan meja rias yang terus kupandangi selama beberapa menit, hanya untuk sekedar mengumpulkan kekuatan dan membuat sebuah gesture tubuh bahwa hubunganku dengan Sehun baik-baik saja.
Ibu berjalan disampingku dengan tangan kanannya yang menggenggam erat tangan kiriku. Akan ku anggap ini adalah sebuah dorongan kekuatan dari ibu. Aku berjalan dengan langkah kecil ketika menuruni tangga. Dan mereka semua sudah berkumpul diruang tengah yang berhadapan langsung dengan tangga. Sehun, dan kedua orang tuanya juga berada disana. Oh lihat, lelaki itu sangat tampat dengan jas merah maroonnya. Aku tersenyum kepada semua orang ketika menapaki anak tangga terakhir, dengan menghindari tatapan mata Sehun tentu saja.
Lihat, bahkan mereka berdua duduk berdampingan sekarang.
Aku berjalan dan memilih duduk disamping Ibu, yang langsung berhadapan dengan Sehun. Lelaki itu tersenyum padaku, aku melihat sorot bersalah dikedua matanya.
"Selamat ulang tahun Luhan, Kau sangat cantik hari ini." Ucap Ayah Sehun padaku memberi selamat.
"Selamat ulang tahun Lulu, semoga kau selalu diberkati." Kali ini Ibu Sehun dengan senyuman lembutnya mengucapkan selamat padaku.
"Terimakasih." Balasku dengan senyuman kepada mereka.
"Selamat ulang tahun, sayang." Suara berat milik Sehun membuatku mengalihkan padanganku kepadanya, dan kubalas dengan senyuman samar.
Tolong jangan panggil aku seperti itu.
Kepalaku kembali menunduk, kurasakan wajahku memanas ketika mendengar Sehun berucap demikian, seharusnya aku merasa senang karena lelaki yang kucintai berada disini, seharusnya hatiku berdebar seperti merasakan dipenuhi bunga-bungan bermekaran. Bukan berdebar karena merasakan duri-duri yang siap menancapku kapan saja. Aku harus menahannya, aku tak boleh menangis disini. Sudah cukup air mata yang kukeluarkan.
"Kalian bertengkar ? kenapa duduk berjauhan ?" Luna mengeluarkan suaranya. Kenapa dia menjadi seperti ini ? memiliki topeng lain untuk menutupi wajahnya, aku benar-benar tak mengenal kakakku yang sekarang.
Kau adalah alasan.
Kenapa kami menjadi seperti ini.
Sehun yang mendengar apa diucapkan Luna menggeser tempat duduknya dan beralih kesampingku. Ibu yang juga mengetahui juga lebih memilih bergeser dan duduk disamping Luna.
Kalian menyiksaku.
Aku hanya menggengam tanganku dengan erat, tanpa ingin mengangkat kepalaku. Menundukkan dengan dalam tak peduli jika anak rambutku akan jatuh dan menutupi wajahku. Kurasakan sebuah genggaman menarik tanganku, menggenggamnya dengan erat. Jemari Sehun mengisi jemariku yang kosong. Ini hangat, tapi ini juga menyakitkan untukku. Kubawa pandanganku padanya hingga kedua mata kamu kembali bertatapan. Sebuah sorot penuh penyesalan ada di sepasang mata elang itu. Aku menggeleng perlahan.
Tolong lepaskan aku Sehun.
"Akhirnya kita dapat berkumpul seperti ini." Suara ayahku terdengar, membuat semua orang yang ada diruangan ini teralih kepadanya.
"Sebenarnya, selain merayakan Ulang Tahun Luhan. Ada hal penting yang harus disampaikan." Ayahku yang duduk di deretan paling ujung itu kembali mengeluarkan suaranya.
"Bagaimana Tuan Oh ?" Eh ? kenapa ia bertanya pada Ayah Sehun ? Apa ini sudah direncanakan sebelumnya ?
Kusadari, genggaman tangan Sehun padaku semakin mengerat dan entah hanya perasaanku atau memang seperti ini, tangan Sehun terasa sangat dingin. Kulihat, wajah lelaki itu mengeras tanda ia sedang menahan emosi yang siap meledak.
"Ini juga tentang kemajuan perusahaan." Ucap Ayah Sehun kemudian dengan hembusan nafas berat setelahnya. Kenapa tiba-tiba jadi memnbicarakan perusahaan ? ini adalah ulang tahunku bukan Ulang tahun perusahaan.
"Karena hal itulah, agar kedua perusahaan kita dapat mempererat kerja sama...-"
"Akan ada sebuah pernikahan disini." Ayah Sehun melanjutkan kalimatnya sembari menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tahu, ini adalah hal terberat dan sangat sulit dilakukan oleh Luhan. Tapi ayah tahu, kau pasti bisa." Sekarang giliran ayahku yang menatapku. Situasi macam apa ini ? dan pernikahan ? ada apa ini ? aku benar-benar seperti seorang idiot sekarang. Kulihat ayahku menghembuskan nafasnya pelan, seolah-olah ini memang jalan terakhir yang harus ditempuh. Membuat semua orang disini menjadi semakin terdiam.
"Oh Sehun, akan ku nikahkan dengan putriku. Luna." Bagai mendapat sebuah sambaran petir disiang hari, aku terdiam. Mencoba mencerna apa yang dikatakan Ayahku, ini bercanda ? Ini sebuah kejutan untuk ulang tahunku kan ? dan Semalam aku melihat Sehun bersetebuh dengan Luna. Itu semua juga sebuah skenario untuk hari ini kan ? Kalian semua jangan mengajakku bercanda. Tolong.
"Ayah tahu, kau berkencan dengan Sehun selama lima tahun. Ini demi perusahaan sayang, ayah tahu ini adalah hadiah terburuk selama kau bertambah usia. Tapi, ini adalah keputusan dari kedua keluarga sayang. Ayah yakin kau bisa mengerti." Nafasku kembali tak beraturan, wajahku kembali memanas.
"Kau bisa mendapatkan yang lebih baik dari Sehun, Luhan." Kali ini Suara Ayah Sehun yang tenang kembali terdengar.
"Keputusan ini sudah disetujui oleh Luna dan Sehun."
Aku menatap ayahku dengan sorot kebingungan dan setengah tak percaya padanya. Tanganku yang tadinya ada dalam genggaman Sehun kutarik perlahan, melepaskannya. Lebih memilih memelintir dress putih yang kupakai hari ini. Aku hanya terus terdiam dengan semua orang yang memandangku dengan tatapan lembut tapi malah menyakitkan untukku. Sehun, lelaki disampingku itu lebih memilih untuk menunduk tak berani mengangkat kepalanya, begitu juga dengan Luna wanita itu hanya memandang lurus tenggelam dengan pikirannya sendiri. Jika diperbolehkan, aku benar-benar ingin berteriak sekarang. Kenapa kalian begitu jahat padaku ? aku menatap ibu yang duduk berseberangan denganku, wanita itu tersenyum lembut dengan menganggukan kepalanya pelan.
"Baiklah..-" Suaraku yang bergetar berhasil meyadarkan semua orang yang berada disini. Sehun yang akhirnya mengangkat kepalanya dan memandangku kemudian. Aku menatap lurus dengan pandangan kosong, dan kembali menarik nafas dengan pelan.
"Jika itu pilihan kalian..-" Aku memejamkan kembali kedua mataku. Dan tiba-tiba tetesan air mata itu keluar dengan sendirinya, yang kuyakin setiap orang disini bisa melihat tetesan mengerikan itu.
"Aku menyetujui keputusan ini..." Ucapku final dengan suara lirih dengan bahu naik turun menahan isakan, aku bangkit dari tempat duduk meninggalkan semua orang yang tak memperdulikan perasaanku disana.
Jika itu pilihanmu.
Baiklah, aku akan berhenti sampai disini.
.
.
.
.
TBC
JADI, INI TBC !
Hai Hai^^
Sebenernya kalo boleh jujur sih, Yuri pengen buat END ketika sampai disini hahaha... /enggak kok enggak/
Maaf ya kalo Yuri update di jam segini. Soalnya RL lagi sibuk T_T MAAF KALO TYPO YURI LAGI MALES NGEDIT /KEBIASAAN/
btw, kemaren cie yang kaget Yuri bawa cerita baru..tapi sedih nih, maaf ya yang udah baca Uncertain Love dan berharap sekuel untuk cerita itu, Yuri belum kepikiran buat bikin sekuelnya T_T /pundung dipojokan/ dan maafin juga untuk My Sweet Cotton Candy yang tiba-tiba hiatus T_T
Udah ah sedih-sedihnya. Emoticonnya jadi kek judul lagu hahaha..
Jadi gimana Luhan disini ? Btw, Yuri pengen jadi Luna bisa enanea sama Sehun^^ /makin ngaco kan kalo malem/ udah lah..
Oiya, minggu depan Yuri udah masuk kuliah. Jadi, mungkin Yuri gabisa update sesering kek kemaren-kemaren. Tapi, tenang aja Yuri bakal usahain tetep update karena emang targetnya One Day harus bisa diselesain.
Okay.. Bhay-bhay /kecup satu-satu/
See you again~
-Keep the faith –SL-
