Disclaimer : I do not own Naruto. Yamanaka Ino, Uchiha Sasuke and any other characters belong to Masashi Kishimoto.
Inspired from GOT series.
Warning : RUSH! SasuIno. Rate T semi M for theme, language and touchy feely.
For #SASUINO4S18 / SUMMER (?)
Dancing with the Sun
Ino merasa kesal, marah sekaligus sedih. Sang putri terus memukul-mukul tubuh kakaknya, berharap lelaki itu akan balik mencengkram wajahnya seperti yang biasa ia lakukan belakangan ini.
Perjalanan pulang menuju kerajaan Hidduria, rumah bagi Sun King sekaligus pusat pemerintahan Land of Fire, ternyata memakan waktu lebih lama dari yang sang putri kira.
Tiga hari setelah rombongan itu meninggalkan Land of Grass, mereka baru memasuki perbatasan terluar wilayah Land of Fire. Wajar saja, kakak beradik Yamanaka itu memang sengaja pergi ke tempat di mana mereka sulit dijangkau oleh pasukan dari Kelima Negara.
Tetapi disini lah Yamanaka Ino dan sang kakak sekarang, berada di tengah pasukan Fireland, bahkan sang putri telah menjadi pengantin dari raja mereka.
Kini gadis berparas jelita itu tengah beristirahat di dalam tendanya.
Matahari memang telah menggelincir naik di ufuk timur sedari tadi, namun rombongan prajurit Uchiha belum juga membongkar tenda-tenda mereka. Sun King sengaja menunda keberangkatan perjalanan, dikarenakan ada urusan politik intra negara di sekitar wilayah sana.
Kini sang raja tengah melakukan rapat dengan para councilnya untuk mengutus perwakilan mereka ke area perbatasan dan memantau perkembangan perluasan benteng pertahanan yang dibangun sebagai batas negara.
Klan Uchiha sebagai induk militer dari Fireland memang sering ditugaskan ke berbagai daerah untuk kepentingan diplomatik, atau dalam kamus mereka, urusan mempertahankan serta memperluas wilayah negara.
Namun perjalanan kali ini berbeda, karena sang raja sendiri yang turut serta memimpin rombongan tersebut secara langsung. Menurut pelayan wanita yang melayani Ino, Sun King jarang sekali turun tangan dalam kepentingan semacam itu, biasanya ia hanya memberi komando dari singgasananya dan mempercayakan perjalanan pada orang kepercayaannya. Namun kali ini sebaliknya. Dalam absennya, justru kini pemerintahan kerajaan Hidduria diserahkan pada tangan kanan raja untuk sementara.
Dalam tendanya, Ino tengah menerima kunjungan dari sang kakak yang entah mengapa baru menemuinya lagi sekarang.
"Jadi, kau telah berhasil menarik perhatian raja," Deidara mengukir senyum yang tampak licik. "Ku dengar, kalian terus bermalam dalam satu tenda selama perjalanan ini?" Ia mengedarkan matanya ke seluruh tempat itu, dan langsung menyadari tenda raja jauh lebih megah dari miliknya.
"Benar," timpal Ino datar. Sambil tetap duduk tenang di kursinya, gadis itu menelengkan wajahnya yang nyaris tak menunjukkan ekspresi. "Apa sekarang kau puas, Nii-san?"
Deidara mengangkat alisnya, merasa ada perubahan dalam diri sang adik. Ino tampak lebih tegar dan tak menunjukan banyak pertentangan lagi dalam sikapnya. Apa kini gadis itu sudah menerima nasibnya?
"Itu bagus," sahut sang kakak. "Tapi jelas tidak cukup."
Kening Ino berkerut. "Aku telah melakukan segala hal yang kau inginkan, dan itu masih belum cukup?"
"Tentu saja belum," jawab Deidara, dengan santainya meraih sebotol anggur yang ada di meja, lalu segera membuka tutupnya dan menenggaknya tanpa merasa perlu meminta izin. "Minimal sampai aku melihatmu dinobatkan sebagai ratu dari Fireland dengan mata kepala sendiri."
Mendengarnya, Ino hanya membuang napas. Ia nyaris merasa muak menghadapi semua tuntutan kakaknya.
"Berhentilah minum. Belakangan ini Nii-san sudah meneguk anggur terlalu banyak." Sang putri berusaha mengalihkan topik pembicaraan karena tidak ingin berdebat lagi dengan kakaknya. Ia berusaha meraih botol di tangan sang kakak namun lelaki itu bisa menepisnya dengan mudah.
"Apa kau pernah mendengar kisah mengenai seorang Empress bernama Hancock, dari suatu negeri di sebrang lautan?" Sang kakak tiba-tiba bertanya.
Ino mengedikkan kepala, sama sekali tak menunjukkan ketertarikan pada dongeng yang dibicarakan Deidara.
"Mereka bilang, wanita itu bisa melumpuhkan seorang pria hanya dengan satu kedipan mata," ujar lelaki berambut pirang itu sambil menerawang ke dalam riak anggur dalam botolnya.
"Melumpuhkan pria? Oh..." sang putri mendenguskan tawa hambar sambil memutar mata. Sang kakak sudah mulai mabuk rupanya.
"Ya." Suara kaca beradu dengan permukaan kayu meja ketika botol anggur itu disimpan. "Banyak raja berkelana mengelilingi dunia hanya untuk menemuinya. Para menteri menjual istana mereka, dan prajurit saling membunuh dan membakar musuh hanya demi bisa melihat figur sang Empress."
Deidara kembali menaruh perhatiannya pada sang adik. Ekspresinya yang terlihat serius nyaris membuat Ino merasa tak nyaman, mulai curiga dengan maksud sang kakak yang tiba-tiba menceritakan kisah semacam itu.
"Well, dia terdengar seperti wanita yang hebat," timpal Ino masih tak acuh, hanya karena merasa ia harus menanggapi.
"Buat dia tergila-gila padamu," titah sang kakak tiba-tiba, membuat Ino langsung menekuk alisnya.
"Seperti dalam kisah itu, seorang lelaki akan rela memberikan semua yang dimilikinya demi menyenangkan wanita yang dia cintai. Itu fakta," lanjut Deidara. "Dan Sun King memiliki dunia, kau tinggal meminta separuhnya."
Ino nyaris membuang mukanya dan kembali tertawa hambar, ketika Deidara mendadak bangkit untuk menggebrak meja dan membungkukkan badan tepat ke hadapan wajahnya. Menunjukkan bahwa lelaki itu sedang serius.
"Aku..." Ino mulai merasa terganggu. "Aku pikir raja tak akan menyukai ide itu. Dia tidak akan pernah membiarkanku menguasainya. Lagipula dia—"
"Kau akan membuat dia menyukainya," tekan Deidara. "Apa kau ingin terus-menerus tertunduk patuh di hadapannya?"
Ino merasa tertohok, karena itu percis seperti yang memang selalu ia rasakan sekarang.
"Berhentilah bersikap patuh, dan perlakukan dia dengan lebih berani, adikku yang manis." Lelaki itu menyeringai sembari kembali duduk di kursinya. "Mulailah dari benahi sikapmu saat di atas ranjang. Laki-laki menyukai sesuatu yang tidak pernah mereka dapatkan."
Menaikan pelipisnya, Ino menatap sang kakak dengan tanya. "Apa maksudmu?"
"Para raja biasa mengambil wanita mereka layaknya majikan mengambil budaknya. Seperti cara dia mengambilmu sekarang," ucap Deidara dengan santai. "Tapi, apa kau seorang budak, dik?
Merasa tersinggung sekaligus tertohok lagi, Ino segera bergeleng.
"Maka, jangan bercinta layaknya seorang budak," ceplos sang kakak, membuat Ino mengernyit.
Deidara kembali mengambil botol anggur dan meminum isinya. "Di luar sana dia boleh jadi seorang Raja yang Agung, tapi di dalam tenda ini..." lelaki itu melirik pada adiknya sambil menarik satu sudut bibirnya ke dalam senyum. "Dia adalah milikmu."
Seketika itu Ino langsung bergerak canggung dalam duduknya, akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan sang kakak. "A-aku pikir itu bukan cara yang biasa dilaku—"
"Jika dia menginginkan cara yang biasa, lalu kenapa dia perlu repot menikahimu?" potong Deidara. "Ada banyak pelayan wanita yang bisa memuaskannya, tapi dia lebih memilihmu, seorang royal princess, menjadi pendampingnya," ungkapnya. "Bercintalah dengan menunjukkan bahwa kau adalah ratunya."
Ino menelan ludahnya dengan kaku.
Jangan bercanda... Apa kakaknya pikir semua itu mudah?
.
.
Gelap malam telah sepenuhnya menelan terang, sang bulan telah menggantikan tempat sang raja siang di angkasa petang.
Berpakaian hanya selembar gaun malam, Ino tengah berbaring sendirian di kasur tendanya.
Gadis itu sedang merasa tidak tenang. Apa maksudnya bercinta dengan cara ratu, eh? Membenamkan kepalanya ke dalam bantal, sang putri meringis. Ia merutuk diri karena membiarkan perkataan Deidara terus mengganggu seluruh benaknya. Ia ingin membantah, namun tetap tak bisa memungkiri bahwa ucapan kakaknya memang selalu berhasil mengendalikan seluruh tindakannya.
Sret.
Kain sekat tenda disibak, membuat Ino sedikit melonjak dan segera bangkit ke dalam posisi duduk. Ia memperhatikan sang raja mulai melangkah masuk.
Uchiha Sasuke datang menghampirinya sudah tanpa sehelai kain pun melekat padanya.
Ino merasa jantungnya lebih berdebar dari biasanya. Ia mendongak untuk menatap lelaki itu, dan segera membiarkan aquamarinenya tenggelam dalam sorot tajam sepasang onyx yang kini tengah menatapnya. Untuk ke sekian kalinya membiarkan lelaki itu menguasainya.
Sasuke membungkuk dan mulai meraih sang putri, hendak memulai permainannya.
Namun Ino terlebih dulu bertanya. "Bagaimana harimu, apa semuanya berjalan lancar?"
Sasuke tak segera menjawab. Ia hanya menatap gadis itu sebelum mulai memagut bibir ranumnya, jemarinya sibuk menarik simpul gaun yang membelit pinggang si gadis.
"Tak ada yang istimewa," sahut sang raja di sela bibir mereka.
"O-oh..." gumam Ino, tak tahu harus berkata apa lagi di saat tangan lelaki itu mulai menurunkan tali gaun tidurnya melewati pundak, dan mulut si lelaki segera mengecupi lekukan lehernya.
Sang putri menggeliat ketika tangan tersebut bergerak turun untuk membelai pahanya. Dan ketika tangan itu hendak menyingkap rok gaunnya, Ino segera menghentikan. "Tunggu," pintanya.
Sasuke sempat mendongak sambil menaikkan alis. Tapi ia tak berniat untuk menunda kegiatannya, sehingga lelaki itu menundukkan kepalanya lagi.
Ino menghela napas singkat. "Sasuke."
Sang raja kembali mengangkat wajahnya. Obsidian gelapnya agak melebar, sedikit kaget mendengar sang putri menyebut namanya untuk pertama kali. Sementara jantung Ino semakin berdegup kencang ketika Sasuke kini memandangnya dengan tanya, membuat kata-katanya sulit keluar.
Sempat menatap heran, lelaki itu nyaris mengabaikannya lagi. Namun dengan segenap kekuatannya, Ino segera berguling dan balik menduduki sang raja. Membiarkan Sasuke yang kini terbaring di bawahnya.
"Aku..." si gadis membasahi mulutnya. Menempatkan dua tangannya di dada bidang sang raja, Ino menunduk untuk menatapnya lekat-lekat. "Kali ini, biarkan aku yang melakukannya sambil menatap wajahmu."
Syok tampak sekilas di paras tampan sang raja, meski ia tetap membiarkan wajahnya didominasi oleh ketenangan.
Ino menaikkan tangannya untuk meraih pipi Sasuke. Lelaki itu sempat terlihat enggan, barangkali karena sang putri terus memandangnya dari atas seperti demikian, sebab bukan kebiasaan seorang raja yang harus mendongak sekedar untuk menatap seseorang. Tetapi si lelaki tetap diam, membuat Ino berani menelusurkan jemarinya di sepanjang garis dagu Sasuke, mengagumi betapa indah sekaligus kokohnya tulang yang menyusun rahang lelaki itu.
Sasuke bisa saja kembali menarik tubuh Ino dengan mudah untuk dikukungnya lagi, namun seolah terkesan dengan tindakan gadis itu yang telah berani menindihnya, sang Uchiha membiarkan si gadis berlaku semaunya. Lagipula, ia penasaran dengan apa yang akan dilakukan sang putri.
Sambil terus menatap suaminya tanpa jeda, Ino mulai menggoyangkan pinggulnya. Melenguh pelan, ia merasakan sensasi itu kembali melandanya.
Sasuke berkedip ketika merasakan sang putri mulai bergerak di atasnya. Perlahan-lahan, terus merayunya dengan sentuhan menggairahkan. Merasa tergoda, lelaki itu mulai merentangkan tangan dan menggapai tubuh semampai yang disodorkan kepadanya. Sang putri balik meraihnya dengan menggenggam tangannya erat. Sampai akhirnya sang raja menghela napas dalam, sudah tidak bisa menahan diri lagi dan mulai bangkit untuk mendekap tubuh gadis itu, membawanya ke dalam pelukan.
Ino menyambut dengan merangkul erat leher sang raja. Hidung mereka saling beradu, napas lelaki itu terasa panas membakar kulit pipinya. Di jarak sedekat itu, mereka masih beradu pandang. Sampai kemudian Ino menyerah dan menenggelamkan wajahnya di pundak sang raja.
Seolah menunjukkan bahwa ia menyukai apa yang dilakukan gadis itu, Sasuke ikut bergerak seirama dengannya. Selagi meminta sang putri untuk meneruskan permainannya, sang raja mulai menghadiahinya dengan ciuman dalam nan menghanyutkan.
.
.
Sebersit berkas cahaya mentari masuk melewati celah di kain tenda, menyelubungi udara dengan nuansa emas.
Sepasang mata biru mulai terbuka secara perlahan. Meringsutkan badan, Ino segera mendapati dua tangan kekar tengah melingkari tubuhnya. Sang putri menghela napas dalam, kemudian mendongak, dan menemukan Sasuke masih tertidur lelap sambil memeluknya.
Terdiam sejenak, gadis itu merasakan hangat tubuh mereka yang sedang saling bersentuhan. Helaan napas dalam nan teratur menerpa lembut keningnya. Debaran jantung semakin menghangatkan putri Yamanaka itu, ketika inderanya merasakan dada Sasuke bergerak naik turun bersama setiap tarikan napasnya.
Ino tersenyum.
Ini pertama kalinya ia terbangun, dengan sang raja masih berada di sampingnya.
x x x
"Berani-beraninya kau, menyuruh seseorang untuk menyentuh barang-barangku!"
Pagi itu, Ino terkejut ketika kakaknya tiba-tiba berlari terpogoh masuk ke dalam tendanya sambil berteriak marah.
"Dimana peti anggurku?!" tanya Deidara penuh emosi, satu tangan memegangi dadanya.
"Kau sudah terlalu banyak minum. Tidak baik untuk kesehatan—"
"Jadi itu alasanmu menyuruh mereka merampas minumanku, huh?" sang kakak memelototi gadis itu sambil berdecih. "Peduli apa kau dengan kesehatanku?!" serunya.
Ino hanya memandangnya datar sambil menghela napas. "Kita masih berada cukup jauh dari kerajaan Hidduria, kau hanya akan memperlambat pasukan raja jika terus mabuk-mabukan," ungkapnya.
"Oh, rupanya kini adik kecilku telah belajar bicara menggunakan intonasi seorang ratu," tekan Deidara dengan sinis, ia melangkah maju dan meraih lengan Ino. "Kau berani memerintahku sekarang?"
Sedikit terpojok, Ino berusaha melepaskan diri dan segera mengambil langkah mundur. "Aku tidak memerintahmu," sang putri segera membantah. "Aku hanya ingin kita segera sampai agar kau bisa disambut dengan baik dan merasa lebih nyaman di sana."
"Aku tidak tertarik dengan hospitalitas dan kenyamanan, kau tahu itu!" bentak Deidara. "Aku tetap bersama dengan Sun King hanya sampai aku mendapatkan apa yang aku mau!" ujarnya.
"Jangan mengatakan itu," pinta Ino, segera mencoba menenangkan kakaknya. "Sasuke dan semua orang di luar sana bisa mendengar apa yang kau katakan barusan. Mereka tak akan segan untuk mengusirmu."
"Ha! Kau sudah bisa menyombongkan diri dan mengancamku, mentang-mentang kini kau sudah jadi bagian dari mereka! Kau pikir siapa yang membawamu sampai pada titik ini?" sindir Deidara, kini ia meraih kedua belah pipi adiknya dengan satu tangan. "Berhenti berlagak dan cepat lakukan saja tugasmu!"
Ino membuang muka untuk melepaskan wajahnya, lalu menepis tangan lelaki itu. "Berhenti memberiku perintah."
Deidara melebarkan mata. "Kau berani menentangku?" teriaknya semakin keras.
"Kau sendiri yang berkata agar aku berhenti bersikap patuh," timpal Ino. "Aku adalah istri dari Sun King, dan akan segera menjadi ratunya. Kau, tak berhak lagi memberi tahu apa yang harus aku lakukan," tekannya.
Sang kakak sempat terdiam mendengar gertakan Ino. Ia tercengang melihat keteguhan dalam mata adiknya. Namun kemudian, entah mengapa Deidara malah tersenyum. Membuat sang putri mengerutkan keningnya. "Ah, kau telah benar-benar bersikap seperti seorang ratu sekarang."
Ino terdiam. Senyuman itu nyaris terlihat tulus, membuatnya sedikit teringat pada sosok kakaknya yang dulu. Tetapi bayangan itu langsung pecah saat Deidara tertawa lantang dan tiba-tiba menjambak rambutnya.
Ino memekik.
"Jadi, apa ini sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal?" bisik lelaki itu.
Aquamarine sang putri melebar, merasa bingung campur ngeri mendengar perkataan kakaknya. "Apa maksud—"
Duk.
Tiba-tiba Deidara memekik, merasakan seseorang memukul tengkuknya. Seketika itu ia terjatuh dan mengaduh di permukaan tanah.
"Apa Anda ingin lelaki ini mati, My Lady?" terdengar sebuah suara dari arah belakang.
Ino mendongak, dan mendapati seorang lelaki yang ia kenali sebagai pengawal Sasuke sedang menghunus pedangnya ke arah Deidara. Sementara sang raja telah berdiri di pintu tenda.
"Jangan!" Ino bergeleng, paham dengan situasi yang sedang terjadi sekarang. "Dia kakakku."
"Mengangkat tangan untuk menyerang istri raja adalah sebuah kejahatan besar." Sasuke melangkah maju dan menghampiri tempat sang putri. "Siapa pun itu, harus mendapat hukuman."
"Tidak..." Ino kembali bergeleng penuh kengerian. "Kumohon, jangan sakiti dia," pinta Ino, berusaha mencegah apa pun yang akan dilakukan sang raja. Tentu saja ia tak akan tega mendapati kakaknya dihukum, karena sekejam apapun Deidara, dia tetaplah kakaknya, satu-satunya keluarganya yang tersisa.
Gadis itu menatap kakaknya yang masih tergeletak kesakitan memegangi dadanya, sama sekali tidak tampak berniat melawan. Dengan perasaan gelisah, Ino meraih tangan sang raja dan menggenggamnya erat. "Tidak Sasuke, kumohon... Jangan..." mohonnya, meski ia tak melihat ada ampunan dalam sorot mata lelaki itu.
"Percuma saja melindunginya." Sasuke hanya menatap datar putri Yamanaka itu. "Orang sekarat hanya akan menjadi beban dalam perjalanan."
Ino menekuk alisnya. "Sekarat? Apa mak—"
Belum sempat gadis itu menyelesaikan pertanyaanya, Sun King telah terlebih dulu mengedikkan kepala ke arah pengawalnya, membuat sang pengawal mulai mengayunkan pedangnya.
"Tidak!" jerit Ino, membenamkan kepalanya ke lengan Sasuke.
Tetapi lelaki itu meraih wajah sang putri agar kembali mengangkat kepalanya. "Lihat," ujar sang raja.
Dengan enggan Ino membuka mata dan memandang ke arah sang kakak. Namun saat itu juga aqua si gadis mengerjap kaget.
"Dia telah menderita cukup lama," ungkap Sasuke.
Ino menangkup mulutnya dengan tangan yang bergetar. Ternyata Sasuke hanya menyuruh pengawalnya untuk merobek pakaian yang dikenakan kakaknya. Namun alangkah terkejutnya gadis itu ketika ia melihat apa yang ada di balik pakaian tersebut. "A-apa... ini..."
Ino tercengang melihat beberapa gores luka sayatan besar sedang menganga di tubuh kakaknya.
"Luka lama yang kembali terbuka," sang pengawal menjelaskan setelah membungkuk singkat untuk mengecek keadaan Deidara. "Tidak pernah diobati dengan benar, sakitnya hanya diredam oleh minuman."
"Luka lama?" Ino syok mendengarnya. Ia langsung berlutut di samping Deidara. "A-apa maksudnya ini?"
Sang kakak hanya tertawa. "Cih. Seharusnya kau tak pernah tahu tentang ini." Deidara menjulurkan tangannya untuk menggapai rambut pirang Ino dan membelainya lembut. Sambil menahan erangannya, lelaki itu menatap adiknya dengan afeksi terlihat jelas dalam sepasang azurenya. "Apa ini yang mereka katakan... orang sekarat tak akan mampu menyembunyikan sakitnya?"
Melihat itu, mata Ino mulai berair. Dengan panik ia bertanya. "Apa yang kau katakan?"
Tetapi Deidara mengabaikannya. Di sisa tenaganya, sang kakak malah mengatakan hal lain. "Dengar Ino," Ia mulai berbisik. "Lupakan tentang Yamaria."
Ino masih bergeleng. "Jangan bicara lagi, kau harus segera diobati—
"Tidak perlu," potong Deidara. "Benar kata mereka... waktuku telah habis." sang kakak mulai kesulitan bicara. "Buat Sun King senang padamu dan teruslah hidup bersamanya," jeda sejenak saat lelaki bermata biru itu mengerang. "Ini bukan perintah, tapi sebuah permintaan... dengan begitu kau akan aman..."
"Apa yang masih kau bicara—"
Deidara meraih tangan Ino dan menatapnya dengan serius. "Negeri kita... bukan jatuh hanya karena dikhianati oleh kerajaan kawan... tapi diserang oleh persekutuan Empat Negara, kecuali Land of Fire..." ungkap sang kakak, membuat aqua adiknya kembali melebar. "Dengan dinikahi oleh Sun King... maka seluruh Kerajaan Api... akan melindungimu."
Mendengarnya, pemahaman mendadak menimpa sang putri. "Nii-san, jangan bilang kau... "Ino langsung merasakan napasnya tercekat. "Sengaja melakukan... semua ini?"
Deidara tak menyanggah atau mengakui apa pun... Lelaki yang sedang sekarat itu hanya tersenyum. Namun itu saja cukup untuk membuat air mata Ino mulai mengalir.
Ino merasa hatinya disayat oleh ribuan belati. "Mengapa kau melakukan ini?" jeritnya. "Mengapa kau bertingkah seolah kau memperalatku dengan keji?"
"Jadi kau benar-benar berpikir... aku telah berhenti menyayangimu?" lirih Deidara, tapi ia masih mencoba tertawa. "Itu... tidak mungkin... kan?"
Ino menggoyangkan tubuh kakaknya yang sedang tak berdaya, dan menangis tersedu. Tak peduli di belakang sana sang raja tengah memperhatikannya.
Setelah merasa puas memandang wajah adiknya, lelaki itu mulai memejamkan mata, merasakan sakit menguasainya. "Satu yang kusesali, adalah tak bisa menjagamu sampai akhir... hingga tiba saatnya kau dinobatkan sebagai ratu..."
Ino menangis sejadi-jadinya. Ia merasa kesal, marah sekaligus sedih. Sang putri terus memukul-mukul tubuh kakaknya, berharap lelaki itu akan balik mencengkram wajahnya seperti yang biasa ia lakukan belakangan ini. Tetapi itu tak terjadi, Deidara hanya mengerang dan semakin mengaduh kesakitan.
Sasuke segera menghentikan gadis itu dengan mengangkat tubuhnya.
Sang raja menatap gadisnya dengan sedikit rasa iba nyaris terpancar dari sorot matanya. "Jika benar kau menyayangi kakakmu, maka akhiri penderitaannya," ujar lelaki itu.
Balik menatap onyx Sasuke, otomatis Ino terdiam karena kehilangan kata.
"Putuskan, sekarang."
Di saat yang sama, sang putri merasa seluruh semesta terbalik... dan jatuh menimpanya.
—TBC—
30.07 mepet ke 31.07 Happy Birthday, Grimmjow~~ #salahlapak/ wakakak
Ku bingung pakai nama apa yang cocok menggambarkan seorang Empress seperti yang dideskripsikan, jadi pinjem nama Hancock aja LOL (disclaimer, boa hancock itu kepunyaan one piece)
Chap ini kutulis tergesa, bila ada typo dan kesalahan lain, kubetulkan nanti XD
Beberapa hal yang ditanyakan udah kejawab di badan cerita ya~
Review?
Thanks :)
