Title : After I Let You Go
Genre : Romance, Spice of Life, Hurt, BxB
Rating : NC
Length : 8 Chapters + Prologue + Epilogue
Cast : Choi Seungcheol, Yoon Jeonghan, Lee Jihoon (genderswitch)
[DISCLAIMER]
Seluruh cast di fanfiksi ini benar-benar ada dan sejujurnya melanggar aturan FFN. Namun Pitik tetap menggunakan namanya sebagai bahan imajinasi. Alur cerita memang milik Pitik, namun karakter mereka sesungguhnya adalah milik mereka sendiri. Maafkan Pitik, FictionPress!
Chapter 3: Approval
Keesokan harinya, Seungcheol masih mengantar Jihoon ke kampus. Itu menjadi rutinitasnya setiap hari, sebagai permintaan maafnya. Jihoon masih tampak tidak nyaman dengan keberadaannya. Berulang kali ia membalas ucapannya dengan dingin setelah itu memalingkan wajah dan langsung melesat ke dalam kampus.
Jihoon tidak tahu saja kalau Seungcheol sudah hafal kebiasaannya. Ia sudah mengalami hari-hari bersama gadis itu sejak SMA. Ia bisa memprediksi kalau setelah memalingkan wajahnya, setelah Seungcheol mencapai sepeda motornya, kekasihnya itu akan berbalik dan menatapnya sambil tersenyum.
Seungcheol tahu Jihoon juga rindu. Namun ia memilih untuk tidak bersikap agresif dan sedikit mengulurnya. Ia masih menghubunginya walau tak sesering dulu. Setidaknya ia pasti mengirim pesan setelah pulang dari kantor ayahnya atau sebelum jam tidur. Sebenarnya Seungcheol tidak akan tidur pada jam-jam itu, terlalu dini. Tapi itu waktunya bagi Jihoon, waktu yang wajar.
Jihoon akan membalasnya dengan sangat pendek dan hanya seperlunya saja. Seungcheol tidak pernah protes akan hal itu. Kekasihnya memang sudah seperti itu sejak dulu dan itu satu poin menariknya. Biasanya para gadis akan menghujani kekasih mereka dengan pertanyaan namun tidak bagi Jihoon. Ia tidak akan terlalu mengusik Seungcheol.
"Hoi, Choi Seungcheol!" panggil seseorang dari belakangnya.
Seungcheol menoleh dan menatap sosok itu tidak asing. Dia salah satu laki-laki yang bergabung dalam jajaran murid populer semasa sekolah.
Bersama dirinya.
"Soonyoung?" bingung Seungcheol. Seingatnya, temannya itu tidak berniat untuk melajutkan sekolah.
"Aku mendadak ingin sekolah," balas laki-laki bermata sipit itu, "Dan ya, di sinilah aku."
Seungcheol ber-oh ria sembari berjalan menghampiri teman semasa sekolahnya itu. Ia merangkul pundaknya santai dan memberikan remasan pelan pada lengannya.
"Apa yang merasuki otak pemalasmu sampai ingin sekolah lagi?" tanya Seungcheol sedikit merendahkan Soonyoung.
Soonyoung terkekeh pelan, "Aku juga tidak tahu. Tidak ada yang tahu soal hidup."
"Benar juga," angguk laki-laki di sebelahnya.
Mereka berjalan menuruni tangga kampus dengan begitu intim– maksudnya, intim untuk ukuran teman, saling merangkul.
"Kau masih berkencan dengan Jihoon?" tanya Soonyoung tiba-tiba.
"Tentu," balas Soonyoung cepat.
Soonyoung berdehem pelan sementara ia melepas rangkulannya dari bahu Seungcheol.
"Dia sangat tahan banting," puji Soonyoung dengan sisipan nada menyindir.
Seungcheol gantian terkekeh, "Memangnya apa yang kulakukan padanya?"
Laki-laki bermata sipit itu berbalik badan, berjalan mundur di hadapan Seungcheol seakan tidak takut kakinya akan tersandung sesuatu yang tidak ia lihat. Ia mengendikkan bahunya dan melempar lirikan ke samping.
"Entahlah. Kau kan tampan. Siapa tahu sekretaris cantik di perusahaan ayahmu juga menyimpan rasa padamu," kelit Soonyoung.
"Tidak ada yang seperti itu. Mereka semua sudah berumur dan rata-rata memiliki tunangan."
Kelitan demi kelitan itu diselingi dengan tawa canggung. Seungcheol mulai merasa sensitif dengan topik pembicaraannya.
"Aku setia pada Jihoon. Kau hanya tinggal menunggu undangan pernikahan tiba tepat di depan rumahmu."
Soonyoung tidak lagi berjalan mundur, langkahnya sudah kembali seperti biasa dengan membelakangi teman lamanya. Mereka berpisah di depan kampus, di mana Soonyoung berjalan ke arah halte dan Seungcheol menghampiri sepeda motornya.
Sebelum benar-benar berpisah di jalan, teman sipitnya itu sempat menoleh dan menatapnya tajam.
"Aku harap kau menepati kata-katamu," balasnya dengan nada serius.
.
.
.
Jeonghan pulang dengan keadaan kacau pagi itu. Ya, pria carrier sepertinya tidak bisa selalu mengharapkan perlakuan lembut dari para klien. Kepalanya masih pusing karena dijambak terus menerus sebagai pelampiasan. Bibir bawahnya juga terluka. Ia baru membersihkannya dengan air biasa, masih terasa perih sekarang. Itu baru bagian atas, belum badannya. Sepertinya ia akan mengambil cuti sampai luka-luka yang diterimanya memulih.
Tapi saat ia baru menutup pintu apartemennya, bel tamu malah berbunyi. Jeonghan mendengus pelan. Tanpa merapikan penampilannya, ia langsung membuka pintunya kembali.
"Ya– Seungcheol?" bingung Jeonghan.
Ia tidak berharap untuk bertemu dengan partner seksnya itu dalam waktu dekat apalagi sekarang. Jeonghan tidak yakin bisa melayaninya dengan baik.
"Baru pulang dari klub?" tanyanya santai dibalas anggukan oleh si carrier.
Seungcheol memperhatikan tubuh Jeonghan dari ujung kaki hingga surai panjangnya kemudian mendengus pelan, terdengar jengkel dari suaranya.
"Bolehkah aku masuk?" izinnya.
Jeonghan terlihat tidak yakin. Ia ingin membalas tidak, namun jiwa sub-nya tidak ingin menolak kehendak Seungcheol.
"Aku tidak akan bercinta denganmu dalam kondisi yang seperti ini," jelas Seungcheol menjawab semua keraguan Jeonghan.
Perlahan Jeonghan menyingkir dari depan pintu dan membiarkan Seungcheol masuk. Ia juga menutup pintunya perlahan.
"Mau kubuatkan minuman?" tawar Jeonghan.
Namun Seungcheol menolak mentah-mentah dan malah menyuruhnya pergi ke kamar. Jeonghan merasa tidak enak hati karena tidak dapat melayani tamunya dengan baik, tapi ia tetap menurut dan berjalan terseok-seok ke kamar. Area selatannya masih sakit karena penyatuan brutal semalam.
"Di mana kau menyimpan kotak P3K?" tanya Seungcheol sesaat kemudian.
Jeonghan berpikir sejenak kemudian ia segera menjawab, "Ada di kamar."
Setelah jawaban itu, Seungcheol tidak membalas lagi. Jeonghan merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan hati-hati. Dalam hati, ia sedang merutuki kliennya semalam karena membuat sekujur tubuhnya sakit.
Beberapa menit berlalu dalam rutukan, tiba-tiba Seungcheol masuk ke dalam kamar Jeonghan dan menaruh sebaskom air hangat di atas laci.
"Buka bajumu," suruhnya.
Jeonghan terdiam dan menatap Seungcheol dalam kebingungan selama beberapa detik sampai akhirnya si dominan bertambah jengkel dan mengarahkan tangannya ke pakaian Jeonghan.
"Akan kubuka sendiri," balas Jeonghan setelah agak lama.
Ia pun membuka semuanya dan membiarkan partnernya itu melihat tubuhnya yang sedang tidak mulus. Ada banyak luka di permukaannya.
"Di kamar sebelah mana kau menyimpan kotaknya?" tanya Seungcheol lagi.
"Biar kuambilkan," ujar Jeonghan langsung mengulurkan tangannya ke arah laci dan mengambil kotak kecil yang berisi obat-obatan yang sering ia pakai juga sebungkus kapas, perban, dan plester.
Di antara semua itu, Seungcheol mengambil botol antiseptik dan memberikan dua tetes pada air hangat yang dibawanya. Ia mengambil kapas dan mencelupkan ujungnya di air yang sudah bercampur antiseptik itu dan menyuruh Jeonghan berbaring selama ia membersihkan lukanya.
"Aku hanya tidak ingin partnerku terluka. Kau tidak akan bisa membantuku secara maksimal dengan kondisi tubuh seperti ini," ujar Seungcheol memaparkan alasan perlakuannya ini.
Ia hanya tidak ingin seorang pria carrier seperti Yoon Jeonghan terlalu berharap meskipun sebenarnya ia yang sedang dirundung keraguan. Bukankah menjadikan carrier di hadapannya ini sebagai partner seks sama saja dengan menduakan Jihoon?
"Aku mengerti. Tenang saja," balas Jeonghan dengan kalem.
Ia tahu di mana posisi seorang pria carrier seharusnya. Sejak awal, ia sudah terlahir rendah, maka sepantasnya ia tidak terlalu berharap untuk bersanding dengan seorang sekelas Choi Seungcheol. Dia terlalu baik, terlalu sempurna baginya.
"Argh,"rintih Jeonghan tiba-tiba saat Seungcheol menekan area lukanya.
"Maaf," cicit Seungcheol sambil melempar kapas bekasnya ke tempat sampah di dekat ranjang.
Seungcheol sudah selesai membersihkan luka di badan si carrier. Hanya tinggal luka di bagian wajahnya. Sejak tadi Seungcheol sengaja menghindari bagian itu karena enggan menatap matanya.
Ia takut akan kelepasan melakukan sesuatu karena sejak awal Jeonghan memang seseorang yang bertugas membantu memuaskan hasratnya. Terlebih lagi, ciuman di area wajah adalah awal dari pemuasan hasrat itu. Karena alasan-alasan itu, Seungcheol menyisakan wajah di tahap penyembuhan akhir agar bila ia kelepasan, setidaknya luka di bagian lain sudah dibersihkan.
Laki-laki dominan itu mengambil kapas yang baru dan mencelupkan ujungnya ke dalam air. Dengan hati-hati, ia membersihkan luka di pipi Jeonghan. Pria carrier itu meringis pelan saat ia merasakan perih pada lukanya. Seungcheol menggigit bibirnya sendiri saat mendengar suara Jeonghan dari dekat.
Terakhir, ia perlu membersihkan luka di bawah bibirnya. Sebenarnya ini luka pertama yang dilihatnya saat Jeonghan membuka pintu apartemennya. Biasanya Seungcheol akan memberikan ciuman tanda kedatangan setiap pintu itu terbuka, namun saat melihat luka itu, ia mendadak menghentikan hasratnya.
"Seungcheol?" panggil Jeonghan tiba-tiba.
Si carrier merasa Seungcheol sedang melamun tepat di depan wajahnya, maka dari itu ia memanggilnya, mencoba untuk menyadarkannya. Seungcheol memang tersadar. Tatapan matanya langsung bertemu dengan milik Jeonghan, saling memperhatikan satu sama lain.
Entah mengapa dadanya berdesir sendiri. Ada sebuah keinginan yang tertahan di dalam sana, sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan saat ini. Tapi Seungcheol tetap tidak bisa menahannya lebih lama.
"Apakah aku boleh menciummu?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Seungcheol.
Jeonghan menelan ludahnya. Jujur, ia merasa sangat gugup. Seungcheol bukan tipe klien yang brutal dan abai pada partnernya. Hal itu membuatnya sangat menghargai seorang Choi Seungcheol. Jeonghan tidak akan pernah sanggup menolak apapun permintaannya.
Tanpa membalas pertanyaan laki-laki dominan itu dengan suara, Jeonghan perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Seungcheol. Ia juga mengabaikan lukanya dan membiarkan mereka bertautan dengan intens sementara Seungcheol menaruh kapasnya di atas laci dan menautkan jemari mereka juga.
Pagi yang semula dingin menjadi panas di dalam kamar ini. Seungcheol meraih tengkuk Jeonghan dan mengelusnya perlahan. Ia tidak ingin membuat carrier -nya merasa sakit di tengah kegiatan intim mereka. Setelah beberapa menit saling bertaut, Seungcheol menarik bibirnya terlebih dahulu sekaligus menghentikan ciuman mereka. Ia telah berjanji untuk tidak bercinta saat kondisi Jeonghan seperti ini. Ia telah mengatakannya sebelum melangkah masuk ke apartemen ini.
"Sebaiknya aku pulang sekarang. Kalau kau sudah benar-benar pulih, beri tahu aku," ujar Seungcheol cepat lalu membereskan kapas serta air yang ia gunakan untuk membersihkan luka Jeonghan.
Jeonghan mengenakan pakaiannya kembali dan segera membantu Seungcheol dengan menaruh kotak P3K kembali ke dalam laci. Ia juga mengantar Seungcheol sampai ke depan pintu walaupun pria itu dengan lantang menyuruhnya tetap berbaring di atas ranjang.
"Terima kasih," gumam Jeonghan begitu punggung Seungcheol sudah menjauh.
.
.
.
Jihoon baru saja keluar dari kelasnya. Hari ini pengajarnya memberikan kuis dadakan. Untungnya, ia sempat belajar semalam, di sela-sela memikirkan apakah ia harus berbaikan dengan kekasihnya. Gadis itu ingin segera menghabiskan waktu bersama Seungcheol seperti sediakala. Namun, melihat sikap Seungcheol yang sangat longgar, Jihoon terpaksa harus memulai duluan.
Ia merasa bahwa dirinyalah yang harus mengungkapkan hal itu terlebih dahulu. Seungcheol pasti merasa tidak nyaman untuk meminta sesuatu sejak penolakannya di Jepang. Jihoon perlu meyakinkannya bahwa apapun yang terjadi di masa lampau sudah sepantasnya dibiarkan berlalu. Seungcheol boleh meminta apapun sekarang.
Langkah Jihoon terhenti sejenak. Pemikirannya barusan seperti mengatakan bahwa tidak masalah apabila Seungcheol mengajaknya bercinta lagi. Jihoon menggelengkan kepalanya cepat. Pemikiran itu sangat tidak senonoh. Ia tidak ingin dicap sebagai pelacur karena menginginkan sang kekasih untuk bercinta dengannya. Meskipun dia kekasihnya.
Tidak, tidak.
"Jihoon-ah!" panggil seseorang dari jauh.
Ketika Jihoon menoleh, sosok itu sudah berada di sampingnya sambil memegangi kedua lututnya yang lelah karena berlari.
"Kau– bukannya kau teman Seungcheol?" kenal Jihoon. Sepertinya ia memang pernah melihat seorang laki-laki menyerupai sosok di sampingnya semasa sekolah.
"Benar. Aku Kwon Soonyoung. Salam kenal," balas laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya pada Jihoon.
Gadis itu menyambut uluran tangannya dengan santai.
"Sedang menunggu Seungcheol?" tanya Soonyoung berusaha memulai pembicaraan.
Pada dasarnya, Lee Jihoon adalah seseorang yang tidak mudah untuk akrab dengan seseorang. Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Soonyoung menundukkan kepalanya sendiri sambil tersenyum simpul.
"Mau berjalan ke depan bersama-sama?" tawar Soonyoung lagi.
Jihoon merasa tidak enak hati. Kwon Soonyoung, teman Seungcheol yang barusan berkenalan dengannya adalah seorang laki-laki. Intinya, ia takut dianggap mengkhianati kekasihnya sendiri. Alih-alih merespon tawaran Soonyoung, Jihoon langsung berjalan duluan ke depan kampus, meninggalkan laki-laki itu sendirian di depan kelasnya.
"Dasar aneh," umpatnya pelan.
Tiba-tiba suara klakson sepeda motor membuatnya terlonjak kaget. Seungcheol sudah menjemputnya di depan kampus.
"Ayo pulang!" serunya dari sana.
Jihoon tersenyum senang dan langsung berlari menghampiri kekasihnya itu. Seungcheol sendiri agak tercengang di tempatnya. Dua puluh empat jam yang lalu, seorang Lee Jihoon masih membalas ucapannya dengan dingin dan sekarang ia menghampirinya di depan kampus dengan senyum terkembang.
"Kau sudah tidak marah lagi, hum?" goda Seungcheol.
Gadisnya mendadak berhenti tepat di sampingnya dan mengrenyitkan dahinya lucu.
"Jadi selama ini, kau mengira aku sedang marah?" protes Jihoon.
"Kau selalu dingin saat aku bersamamu," balas Seungcheol beralasan.
Jihoon terdiam sejenak. Yang dikatakan Seungcheol memang seratus persen benar adanya. Ia tidak bisa mengelak.
"Karena kau sudah tidak marah lagi, bagaimana kalau kencan di akhir minggu?" tawar Seungcheol dibalas tatapan kaget oleh Jihoon.
"Tidak akan menginap. Langsung pulang malam itu juga," tambah Seungcheol tidak mau membuat Jihoon trauma.
Tapi wajah kekasihnya itu justru merona merah. Sebuah kalimat meluncur di bibirnya dan membuat Seungcheol kembali tercengang.
"Menginap juga tidak apa-apa."
.
.
.
To be continued
Happy New Year everyone!
