Love Story
.
.
Story three – the new guy –
.
Hari ini, Naruto pulang sedikit terlambat. Karena tadi pagi dirinya hampir saja terlambat, dan ternyata saat akan memasuki kelas, Anko sensei sudah berada dikelas, akhirnya Naruto harus terima saat dirinya mendapatkan hukuman dari sang sensei. Dan disinilah dia sekarang. Berdiri didepan ruang guru setelah pulang sekolah, hanya demi menemui Anko sensei, yang ternyata masih rapat dengan guru-guru lainnya.
"hahh… kalau tau seperti ini jadinya, lebih baik tadi aku bolos sekalian saja…" gerutunya kesal. Bagaimana tidak kesal, kalau dirinya sudah berdiri di depan ruang guru selama hampir 2 jam! Bayangkan saja, bagaimana nasib kaki mungilnya tersebut harus berdiri selama 1 jam 45 menit. Dan kenapa rapatnya harus selama itu?
"Anko sensei lama sekali…." Rengeknya.
"ada urusan apa kamu dengan Anko sensei, Namikaze?" interupsi sebuah suara yang terdengar datar dan mungkin sangat dikenal Naruto. Gadis bersurai pirang itu segera mendongak dan mendapati sepasang onyx yang kini menatapnya heran.
"Uchiha sensei... itu.. tadi Anko sensei bilang aku harus menemui beliau sepulang sekolah..."
"hm? Begitukah? Sudah berapa ama kamu berdiri disini?"
"hampir 2 jam sensei... kakiku capek..." Naruto kembali merengek. Mungkin kalau siswa lain, tidak akan berani bersikap seperti Naruto ini dihadapan seorang Uchiha Itachi. Meskipun masih muda, hanya berjarak 2 tahun lebih tua dari kakaknya, tapi Itachi adalah seorang guru yang disegani, karena tampang dan juga dedikasinya. Bisa dibilang Itachi termasuk kedalam jajaran guru killer di Konoha High School ini.
"kamu pulang saja. Ini sudah hampir malam." Perintah Itachi.
"tapi sensei… nanti kalau aku dimarahi Anko sensei bagaimana?"
"itu tanggung jawabku. Sekarang pulanglah. Aku yakin kedua orang tuamu pasti sudah cemas. Mau kuantar?" tawar Itachi. Sebenarnya Naruto akan dengan senang hati menerima tawaran Itachi, tapi mengingat Itachilah yang sudah membantunya, ia merasa tidak mau menambah kerepotan Itachi.
"ah, tidak sensei. Saya pulang sendiri saja... terima kasih sensei..." Naruto tersenyum ceria, sebelum membungkuk dan pamit pergi. Itachi menatap punggung Naruto yang semakin menjauh. Entah karena apa, sejak pertama bertemu dengan gadis periang itu, sikap Itachi selalu saja lembut. Tidak bisa memarahi dan menghukum Naruto selayaknya ia menghukum murid-murid lain.
"kemana anak itu..." gerutu salah seorang guru wanita yang dikuncir tinggi. Anko, dialah yang kini sedang menggerutu pelan.
"mencari siapa, Anko sensei?" tanya Itachi.
"ah, Itachi sensei... saya sedang mencari Namikaze Naruto. Tadi saya menyuruh anak itu untuk menunggu saya sepulang seklah. Tapi kemana dia sekarang..."
"kalau mencarinya, dia baru saja pulang." Jawab Itachi kalem.
"apa? Kenapa? Anak itu benar-benar..."
"aku yang menyuruhnya pulang, sensei." Mendengar penuturan Itachi, membuat Anko yang menggerutu langsung diam.
"kenapa?"
"dia sudah menunggu sensei 2 jam. Berdiri di depan ruang guru. Dan ini hampir malam, apa sensei sama sekali tidak merasa kasihan? Aku akan bertanggung jawab atas anak itu." Ucapnya mantap. Tapi, siapa yang mau berurusan dengan Uchiha? Semua pasti akan berpikir 2 kali untuk berhadapan dengan keluarga Uchiha.
"ah, tidak perlu sensei... saya yang salah juga disini. Permisi..." Anko sensei segera pergi dari hadapan Itachi. Sebenarnya banyak guru yang sedikit heran akan sikap Itachi terhadap Naruro, tapi sekali lagi, nama berbicara, dan tidak ada yang berani membahas hal itu.
.
.
Love Story by Akuma Kurama
Naruto by Masashi Kishimoto
Rate T
Genre
Romance, family
Pair
AllFemNaru [tapi SasuFemNaru jadi main pair disini], MinaKushi
Warning
Gender switch, femNaru, Kurama versi manusia, MinaKushi yang masih idup, OOC, typo, cerita pasaran dan nggak jelas, romance gagal, family nggak kerasa, bahasa nggak baku, serta segala kekurangan-kekurangan yang Kuu miliki didalam cerita ini. Kalau nggak suka, boleh pergi. Kuu cinta damai kok. Hehehe
Enjoy this fiction and happy reading! ^^v
.
Hari sudah menjelang malam saat Naruto sampai dikediaman Namikaze. Wajahnya terlihat lelah dan berantakan, tapi hatinya sedikit senang. Bagaimana tidak, guru favoritmu memperhatikanmu dan cemas akan kondisimu, tentu saja hal itu membuat Naruto senang. Dia tidak salah bukan? Karena Itachi sensei terkenal cukup dingin dengan siswa yang lain. Mengingat kebaikan hati Itachi, membuat seulas senyum tercetak diwajah manisnya.
"aku pulaaang..." beberapa maid yang memang kebetulan lewat, langsung menyambut kedatangan nona muda mereka ini.
"selamat datang nona muda..."
"uhmm... apa papa udah pulang?"
"belum nona, tuan besar belum pulang. Tapi tuan muda dan nyonya ada didalam.." sahut salah satu maid yang ada, Naruto mengangguk dan segera pergi menuju kamarnya.
Naruto menatap heran kearah kakaknya yang saat ini berdiri bersandar di dinding samping pintu kamarnya, melipat kedua tangannya didepan dada dan memejamkan mata, seolah sedang menunggu dirinya pulang.
"kakak? Kenapa berdiri disitu?" tanyanya saat ia sudah berada cukup dekat dengan Kurama.
"darimana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" entah kenapa, Naruto merasa Kurama saat ini tengah marah padanya.
"uhm... tadi aku disuruh menemui Anko sensei sepulang sekolah, tapi ternyata ada rapat guru. Jadi aku menunggu Anko sensei, sampai 2 jam. Saat sadar ternyata sudah sore..."
"dasar... lain kali, telpon rumah, jangan membuat kami cemas. Mama cemas karenakamu belum pulang dan nggak ada kabar." Tegur Kurama.
"hehehe, daya ponselku habis kak. Jadi mati deh. Maaf..." sesal Naruto, ia menunduk dalam. Merasa bersalah karena telah membuat ibu dan kakaknya cemas.
Kurama mengacak surai Naruto pelan, karena ia tidak tahan melihat adik tercintanya ini bersedih dan merasa bersalah seperti ini.
"sudahlah, sebaiknya kamu segera mandi dan temui mama di kamarnya." Naruto menatap Kurama yang tangannya masih setia mengacak surai pirangnya.
"kakak... makasih..." Naruto menerjang Kurama dan memeluk pemuda tersebut erat, menenggelamkan wajah ya di dada bidang sang kakak. Sedangkan Kurama yang tiba-tiba mendapat perlakuan seperti itu, cukup kaget, tapi ia juga segera membalas pelukan Naruto.
"iya, sama-sama... mandi gih, badanmu bau keringat."
"uh, aku kan nggak sebau itu kak..."
"iya, iya. Sana masuk kamar." Sambil menggerutu, naruto melepaskan pelukannya dan masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Kurama ditempat.
"hahh… sikapnya benar-benar menggemaskan…" gumam Kurama lirih, senyum kecil merekah di wajah tampannya. Kurama meraih dada kirinya dengan sebelah tangan, merasakan detak jantunya sendiri yang masih terasa setelah berpelukan dengan Naruto tadi. Kurama terlalu hanyut dalam lamunannya, sehingga tidak menyadari bahwa sedari tadi Kushina memperhatikan keduanya dari jauh.
"syukurlah, mereka terlihat baik-baik saja…" ucapnya lega. Kushina memang terlalu cemas dengan hubungan Naruto dan Kurama, karena Naruto yang terlalu manja pada Kurama. Kecemasannya bukanlah karena keduanya yang akan bertengkar, melainkan akan putranya.
.
.
Akuma-Kurama
.
Seperti malam-malam yang lalu, makan malam di kediaman Namikaze selalu terasa ringan dan ceria, berkat sang mentari keluarga Namikaze yang senantiasa bercerita tentang ini itu yang terjadi disekolahnya, hampir semua kegiatan yang dilalui si gadis pirang kesayangan Namikaze Minato tersebut menjadi topik pembicaraan.
"jadi karena itu, kamu telat pulang?" sahut Minato, kepala keluarga Namikaze.
"uhm! Benar pa. Tapi, tapi... aku senang sekali waktu bertemu Itachi sensei... dia yang menyuruhku untuk pulang saja, katanya biar aku nggak kemalaman pulangnya. Aah, Itachi sensei benar-benar penyelamatku..." celotehnya riang. Meskipun sudah duduk di bangku Senior High School, Naruto yang seperti ini terlihat seperti gadis kecil, namun siapa yang mau protes, jika bisa melihat wajah menggemaskan gadis berkumis kucing tersebut?
"sepertinya kamu sangat menyukai gurumu itu, sayang?" giliran Kushina yang angkat bicara.
"tentu saja ma. Aku menyukai Itachi sensei... dia baik sekali padaku. Dia juga ramah, tampan dan pintar sekali mengajarnya. Aku jadi paham dengan apa yang diajarkannya.." nada antusias sama sekali tidak bisa ditutupi olehnya. Kurama yang mendengar keantusiasan gadis yang ia cintai ini, meremas pisau dagingnya erat. Ia cemburu.
"wah, ada yang bisa membuat putri papa ini paham pelajaran sekolah selain Kurama? Hebat sekali guru dia." Minato menanggapinya dengan suara renyah. Membuat suasana semakin ringan, tapi lagi-lagi tidak bagi Kurama.
"uhm, tapi kak Ku dan Itachi sensei berbeda bidang. Kalau kak Ku hebat sekali mengajariku mata pelajaran yang berhubungan dengan hitung menghitung, Sains. Kalau Itachi sensei hebat saat mengajariku ilmu sosial, dan sejarah." Semuanya menyimak cerita Naruto sambil memakan hidangan makan malam yang ada di depan mereka. Sampai makan malam selesai, Kurama masih endiamkan steak daging sapi itu hanya habis separuhnya saja.
"kakak, kenapa dagingnya nggak dihabiskan?"
"aku kenyang."
"boleh buatku aja nggak? Kan sayang…." Naruto menatap daging yang ada di piring Kurama penuh meniat. Membuat Minato dan Kushina tersenyum kecil melihatnya.
"nih.. habiskan… dasar rakus" meskipun ia menggerutu, toh Kurama menyodorkan juga piringnya kearah Naruto, membiarkan sang adik menghabiskan jatah makannya. Bukan berarti keluarga Namikaze tidak mampu membeli daging, hanya saja dari dulu Minato selalu mengajarkan pada Naruto untuk menghargai makanan.
.
.
.
.
.
To be continued…
Terima kasih uat kalian semua yang sudah mau baca dan yang review cerita ini. Jaa..
