"Mommy Harry tak mau bangun..."
"Mommy Harry menangis!"
"Bagaimana cara menyalakan Tv, Mommy?"
"Mom—"
"Mommy?"
"HAHHH..."
Chanyeol menghembuskan nafasnya dengan keras, kedua tangannya yang bertumpu di atas meja makan kini bergerak mengacak rambutnya. Entah hilang kemana Hari Minggunya yang damai.
"Mommy..."
Chanyeol menghentikan gerakkannya, kepalanya sedikit menoleh kearah Harry yang duduk di sampingnya.
"Sudah?" Tanya Chanyeol yang hanya di jawab anggukkan kecil oleh Harry.
"Baiklah.."
Chanyeol mengambil Tissue yang berada tak jauh darinya, membersihkan sisa makanan yang bercecer di sekitar mulut Harry.
"Main dengan Daehan Hyung dulu ya"
Harry mengangguk mendengar ucapan Chanyeol, Kakinya yang tadi mengayun di kursi meja makan kini sudah kembali menginjak karpet, mata bulatnya sekali lagi menatap Chanyeol sebelum berlari kearah ruang TV dimana Daehan sedang sibuk dengan PSP di tangannya.
"Hahh..." Entah yang keberapa kalinya Chanyeol menghela nafasnya di minggu pagi yang cerah ini, persetan dengan pepatah yang mengatakan jika banyak menghela nafas akan menghilangkan nasib baik, Karena Chanyeol merasakan nasibnya sudah amat baik sekali.
Chanyeol menundukkan kepalanya, posisinya sekarang sedang berdiri dengan kedua tangan terjulur kearah meja makan untuk membersihkan sisa kekacauan Daehan dan Harry saat sarapan tadi, untung saja Chanyeol bisa memasak, atau bisa di bilang cukup handal dalam mengelola bahan sisa yang berada di kulkasnya menjadi makanan yang layak untuk dikonsumsi. Karena Daehan akan selalu bangun pagi dan memintanya untuk memasakkan sesuatu dengan mata seperti kucing yang tak mau di buang oleh pemiliknya, begitu memelas, sehingga Chanyeol tak bisa untuk mengatakan tidak. Dan sekedar info saja, Daehan itu senang sekali menguyah, alias makan.
Suara bel yang mengema terdengar tepat saat Chanyeol baru saja memakai sarung tangannya siap untuk mencuci piring, mulutnya siap berteriak, meminta tolong pada Daehan yang berada di ruang TV yang dekat dengan pintu masuk untuk membukakan pintu ketika Chanyeol ingat perkataan Daehan jika bocah berumur 12 tahun itu tak mengerti apapun tentang teknologi di masa sekarang, termasuk cara membuka pintu melalui intercom.
Sekali lagi Chanyeol menghela nafasnya, kini ia bergerak membuka sarung tangan berwarna biru tuanya. Ia harus sabar. Ya, sabar.
Tapi sejak kapan sabar berada dalam kamus hidup seorang Park Chanyeol?!.
Secrets of the future
-Jjang Present-
Warning : BL, AU, MPREG, Typos, And many more
.
.
.
Enjoy!
"Jisoo Hyung!"
Chanyeol memandang terharu Jisoo yang kini berdiri di depan pintu apartemennya, terlihat santai dengan Jeans hitam juga kaos berwarna senada yang di balut jaket berwarna hitam dan warna putih di bagian lengannya.
"Mwo? Kenapa kau memandangku seperti itu?" Tanyanya dan mendorong kening Chanyeol dengan telunjuknya.
"Aku hanya bahagia"
Jisoo hanya memandang Chanyeol aneh, tapi tak lama, karena setelahnya Jisoo melangkah masuk dan meninggalkan Chanyeol yang masih tersenyum lebar di ambang pintu.
"Lizzy kemana?" Tanya Chanyeol setelah mensejajarkan langkahnya.
"Entahlah, yang terakhir kudengar dia pergi bersama Hyorin dan Krystal" Jawab Jisoo dengan mata yang menatap kesekeliling, seperti sedang mencari sesuatu.
"Dua bocah itu? Dimana mereka?"
"Maksudmu Daehan dan Harry?" Tanya Chanyeol yang kini sudah kembali memakai sarung tangannya, bersiap mencuci.
"Tentu saja, kau kira siapa lagi" Jisoo mendengus, kembali menyimpan botol air putih yang baru di minumnya kedalam kulkas.
"Kau tak melihatnya hyung? Mereka ada di ruang Tv" Untuk pertama kalinya Chanyeol menatap aneh Jisoo yang kini menampilkan raut bingung.
"Tadi tak ada.." Ucapnya pelan, pasalnya mereka tadi melewati ruang Tv dulu sebelum masuk kearea dapur yang menyatu dengan ruang makan itu.
"Mereka pendek hyung, jika kau mencari mereka dengan hanya menatap lurus kesegala penjuru apartemenku mana ketemu, tundukkan sedikit kepalamu bodoh" Ucap Chanyeol membuat Jisoo menatap sebal Chanyeol dengan mata sipitnya.
.
Secrets of the future
.
Ini memang akhir pekan, jam dinding putih yang menempel di dinding saja baru menunjukkan pukul 9 lebih 3 menit pagi, masih di bilang cukup pagi karena ini Hari Minggu dimana orang-orang masih bergelung didalam selimut setelah 6 hari kemarin di sibukkan dengan berbagai aktivitas yang membosankan. Tapi sepertinya tidak dengan Kris, ia kini sudah berpakaian rapi, sebuah kaos polos putih dengan jeans berwarna gelap terlihat pas di tubuhnya, juga jangan lupakan beberapa cincin juga gelang terpasang di kedua tangannya, satu hal yang tak pernah dia gunakan saat memakai seragam sekolah.
Drrtt...
Handphonennya yang Kris letakkan di atas meja bergetar pelan, membuatnya sedikit melirik benda persegi itu sebelum kembali melihat layar Tv.
Drrtt... Drrtt...
Dan akhirnya Kris menyerah, mengabaikan Tv yang menyala di depannya dan mengapai Handphonenya yang kini penuh dengan pemberitahuan pesan yang berasal dari... Baro?
Cha Sun Woo
Hyung kau yakin? Aku kesepian disini T3T
Kris mendengus, bocah itu.. Kris tak habis pikir kenapa Baro begitu terobsesi terhadap basket? Ah! Kris ingat sekarang, alasan konyol yang membuat Baro begitu terobsesi dengan basket. Alasan konyol, 'Hyung! Aku ingin tinggi sepertimu! Aku ingin perempuan-perempuan itu menatap ku seperti mereka menatap mu' Dan Kris masih ingat bagaimana reaksinya saat mendengar itu, Kening Baro yang harus di perban itu bukti akan refleksnya yang bagus. Siapa yang taukan Bola yang di pegang Kris dan bersiap di lempar kedalam Ring malah berpindah sasaran dan menghantam kening Baro.
Drrtt...
Cha Sun Woo
Hyuung~
Kris menggaruk kepalanya yang tak gatal, mana yang katanya ingin terlihat seperti Kris? Di tinggal main basket sendiri saja sudah merengek seperti bocah.
Kris mengetukkan sisi Handphonenya ke meja, posisi Kris kini sedikit membungkuk dengan kedua siku bertumpu pada pahanya, matanya kini tak lagi menatap layar Tv yang masih menyala di depannya, sudah tak tertarik lagi, dan Kris mulai merasa bosan.
Getaran panjang dari ponsel yang masih berada dalam genggamannya membuat Kris berdiri. Melangkahkan kakinya kearah pintu depan.
"Em?"
"Hyung aku kerumahmu ya"
"Aku mau pergi"
Kris mengambil sepatu putih yang berderet rapih di tempat sepatunya, memakainya dan bersiap membuka pintu Apartemennya.
"Yah.."
Kris dapat mendengar desahan kecewa Baro disebrang sana.
"Memangnya kau mau kemana Hyung?"
"Itu bukan urusanmu bodoh"
Kris menghentikan langkahnya di depan pintu lift, menekan tombol dan menunggu beberapa detik agar pintu lift di depannya terbuka.
"Em Baro.."
"Ya"
"Kau tau dimana rumah Chanyeol?"
Hening cukup lama sebelum suara Baro kembali terdengar.
"Chanyeol?"
"Hem, Kau tau?"
"Memangnya kenapa Hyung? Kamu mau kerumahnya?"
"Kau punya tidak?"
"Iya, iya, Aku punya.."
"Kirimkan padaku"
"Hyung, kau mau kerumahnya? Aku ikut ya"
"Terserah"
Dan Krispun memutuskan sambungan telpon itu bertepatan dengan pintu lift di depannya terbuka perlahan.
.
Secrets of the future
.
"Ahjussi! Kau mengangguku!" Daehan berteriak tak terima, sedangkan Jisoo yang menjadi pelaku utama membuat Daehan berteriak hanya menyeringai.
"Sudah ku katakan kita perlu bicara" Jisoo melempar asal PSP putih Chanyeol kearah belakang, tangannya yang kini bebas tak memegang apapun kini menahan tubuh Daehan yang akan berjalan kearah dimana Jisoo melempar PSP tadi.
"Ya Bocah!"
"Ya Ahjussi!"
"Ada apa ini?" Chanyeol melongokkan kepalanya dari arah dapur.
"Mommy, Ahjussi melemparkan PSPnya"
"Ya Hyung!"
"Haish..."
Jisoo mengaruk kepalanya kasar, Mata sipitnya kini menatap Chanyeol. "Sudahlah kembali saja ke alam mu" Ucapnya yang membuat Chanyeol menatap tak terima kearahnya.
"Ya Ya Ya! Kau baru saja melempar PSP kesayangan ku, dan sekarang menghinaku?!"
"Aku akan mengantinya okey, dan sekarang pergi ke alam mu Huss.."
"Ya!"
"Dua, aku akan membelikan dua PSP"
"Ya! Kau kira aku mudah di sogok?"
"Dua PSP lengkap dengan Chip Game terbaru" Ucap Baro lagi dan setelah itu Chanyeol kembali menghilang setelah memberikan senyuman lebar pada Jisoo.
"Nah Bocah.."
Daehan yang masih berdiri di depan Jisoo mendongkak menatap Jisoo yang kini tengah mengurut keningnya.
"Nde Jjusi"
"Aku ingin bertanya sesuatu denganmu, ini tentang Bocah bernama Stuart itu dan..." Jisoo menghela nafasnya berat, "Baro yang bisa menjadi Mommy dari anakku" Lanjut Jisoo dengan suara pelan.
"Oh Stuart"
Jisoo repleks membekap mulut Daehan.
"Jangan terlalu keras, kita bicara disana okey.." Jisoo menunjuk Balkon yang terbuka di sebelah kanan mereka.
"Kenapa tidak disini saja Ahjussi?"
"Sudah menurut saja" Ucap Jisoo dan kemudian melangkah kearah Balkon, diikuti Daehan di belakangnya, meninggalkan Harry yang terlihat serius dengan Layar Tv yang menampilkan cacing berwarna merang dan kuning yang sedang berebut sebuah sosis.
.
Secrets of the future
.
Chanyeol memangku wajahnya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang remot Tv, matanya terlihat fokus menatap layar Tv, tapi sesekali menoleh kearah Balkon ketika di dengarnya teriakan Daehan ataupun Jisoo.
"Mereka membicarakan apa sih? Sepertinya serius sekali.." Gerutunya pelan, bibirnya maju beberapa senti kedepan, acara Tv yang di tontonnya mulai terasa membosankan. Sekali lagi, Chanyeol melirikkan matanya, bukan kearah balkon, tapi kearah Harry yang duduk di sampingnya.
"Sejak kapan dia tidur?" Chanyeol bertanya bingung, pasalnya beberapa saat tadi Harry masih terlihat serius menatap Tv, tapi sekarang, anak itu sudah tertidur pulas.
Dengan gerakkan perlahan Chanyeol mengendong Harry dan berjalan kearah kamarnya, memindahkannya ke ranjang agar Harry lebih leluasa untuk tidur.
Suara bel kembali mengema ketika Chanyeol membenarkan posisi tidur Harry, ia tak terburu-buru menuju pintu depan, toh ada Jisoo, begitu pikirnya. Tapi sepertinya dugaannya salah ketika suara bel kembali terdengar.
"Ish..." Chanyeol mendesis, melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju pintu utama setelah terlebih dahulu menutup pintu kamarnya. Dengan langkah cepat ia melangkah kearah pintu depan, mulutnya mengerutu ketika matanya melirik kearah Balkon dimana ia melihat Daehan sedang berteriak protes pada Jisoo yang juga terlihat tak mau kalah.
"Nu—" Ucapan Chanyeol terhenti ketika tiba-tiba ada yang menerobos masuk Apartemennya.
"Lama sekali, kau taruh dimana kupingmu?"
Chanyeol membuka mulutnya, matanya kini melotot menatap Kris yang dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celana Jeansnya mulai melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.
"Ya!"
Chanyeol menutup pintu Apartemennya dengan keras, dengan kecepatan penuh ia menyusul Kris dan membentang tangannya ketika ia sudah berada di depan Kris.
"Kau, Kenapa kau bisa berada disini?"
Kris mendengus pelan, matanya kini menatap kesekeliling, seperti sedang menilai.
"..." Dan Kris memilih tak menjawab, ia kini kembali melanjutkan langkahnya, tak memperdulikan Chanyeol yang masih membentangkan tangannya di depannya.
"Ish!" Chanyeol menatap Kris sebal, kakinya kini melangkah mundur karena Kris yang terus bergerak maju.
"Apartemenmu lumayan juga.."
"Hei Hei Hei! Berhenti!" Chanyeol berseru, dan itu sukses membuat Kris menghentikan langkahnya dan memandang bingung Chanyeol.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Chanyeol dengan tangan yang kini ia lipat di depan dada.
"Benar juga, untuk apa aku kemari?" Kris mengerutkan keningnya, pertanyaan Chanyeol seperti menyadarkannya pada suatu hal, Untuk apa Kris kemari? Ke Apartemen si idiot Chanyeol?
"Aku tidak tau.." Ucap Kris dan sukses membuat Chanyeol menampilkan wajah bodohnya.
"Ya—"
"Daddy!"
Chanyeol menghentikan ucapannya, matanya kini menatap Daehan yang tengah berlari kearah Kris.
"Ya Bocah! Kita belum selesai Bica—" Perkataan Jisoo mengantung di udara, matanya kini menatap bingung Kris yang berdiri di depan Chanyeol.
"Oy Kris, sejak kapan kau berada disini?" Tanyanya yang tak di jawab oleh Kris, Kris sekarang malah dengan seenaknya duduk di sofa Hitam Chanyeol.
"Naga sialan.." Desis Jisoo sebal karena pertanyaannya tak dijawab oleh Kris, ia kini memutarkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya kearah dapur, tenggrokkannya sedikit kering karena perbicangannya dengan Daehan tadi.
.
Secrets of the future
.
Krystal memekik, Hyorin ikut memekik dan Lizzy mendengus.
"Ya, sampai kapan kalian akan terus berteriak seperti itu?" Tanya dengan mata memutar sebal.
"Eonni, kau tak lihat? Ini lucu~"
Krystal membentang sebuah baju di depan Lizzy yang kini ikut menganggukkan kepalanya.
"Ya aku tau baju ini bagus, Tapi tak usah berteriak juga kan.." Ucapnya dan melangkahkan kakinya kearah rak baju lain.
"Ish, dia itu tak asik sekali" Cibir Hyorin, kedua tangannya kini sudah penuh oleh baju dengan berbagai warna dan model.
"Aku jadi ingin punya anak.." Krystal memandang sedih baju bayi yang terpajang di etalase di depannya, tangannya yang tadi memegang baju kini ia alihkan pada pegawai toko.
"Hitung semuanya" Ucap Hyorin pada salah satu pegawai toko yang sendari tadi mengikuti mereka dan menyerahkan semua baju yang berada di tangannya.
"Kau ingin menikah muda?" Tanya Lizzy yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Krystal.
"Anni"
Krystal mengeleng, matanya kini menatap kesekeliling area toko yang sedang mereka kunjungi, Baju anak-anak dengan berbagai model terlihat lucu mengantung di etalase ataupun rak-rak. Ya, mereka sedang berada di dalam toko yang khusus menjual baju anak.
"Aku tak mau menikah muda, tapi aku suka anak kecil" Lanjut Krystal lagi yang membuat Lizzy menatap Speechles kearahnya.
"Aigo~ Kau membuat kepala ku pusing" Ucapnya dan kembali melangkahkan kakinya menjauh.
.
Secrets of the future
.
"Daddy, aku lapar.."
Daehan menyenderkan tubuhnya pada Kris yang duduk di sebelahnya, sedangkan Chanyeol kini duduk di single sofa yang berada tak jauh dari Daehan.
"Kau tak memberinya makan?" Kris menatap Chanyeol dengan satu alis yang terangkat naik, sedang Chanyeol yang di tatap seperti itu oleh Kris kini menatap tak percaya pada Daehan. Oh ayolah, ini bahkan tak terhitung dua jam semenjak mereka sarapan tadi.
"E-enak saja! Tadi aku memberinya sarapan"
Kris kini menatap Daehan yang sedang menepuk perutnya. "Itukan tadi Mommy, sekarang beda lagi"
Chanyeol menghela nafasnya pelan, ia hampir lupa kalau Daehan suka sekali Mengunyah.
"Baiklah, aku akan membuatkanmu maka—" Ucapan Chanyeol terhenti, gerakkannya yang akan melangkahkan kakinya kedapurpun ikut terhenti.
"Aku lupa, persedian makanan ku habis" Ucapnya setelah melemparkan tubuhnya kembali pada single sofa yang tadi di dudukinya.
"Lalu?"
"Aku harus berbelanja.." Ucap Chanyeol lemas dan menumpukkan wajahnya pada kedua tangannya.
"Tinggal belanja, apa susahnya" Ucap Kris santai dan kini mengapai remot Tv Chanyeol dan mulai memindah-mindahkannya secara acak. Tak memperdulikan Chanyeol yang menatap sebal kearahnya.
"Masalahnya uangku habis bodoh!" Seru Chanyeol, matanya kini mendelik kearah Kris. Uang bulanannya memang benar-benar sudah habis tak bersisa. Siapa yang sangka kan Harry dan Daehan akan hadir di hidupnya, kalau tau begitu Chanyeol tak akan membeli chip Game terbaru yang harganya amat sangat mahal minggu kemarin. Sebenarnya Chanyeol sudah terbiasa merampok isi lemari makanan Jisoo yang tinggal beberapa lantai di atasnya jika uangnya sudah habis, tapi ia tak mungkin memberi makanan tak bergizi Khas Kim Jisoo pada Harry dan Daehan kan?
"Idiot, kau pasti menghamburkan uangmu untuk hal tak berguna lagi"
Chanyeol mendesis, bersiap membalas ucapan sinis Kris ketika ia menyadari suatu hal.
"Ya, Kajja!"
Kris mendongkak, menatap Chanyeol yang kini berdiri di depannya juga Daehan.
"Hah?"
"Kita berbelanja"
"Berbelanja? Katanya kau tak punya uang?"
"Kan pakai uang mu"
"Mwo?!"
.
Secrets of the future
.
Baro baru saja akan melangkahkan kakinya kedalam Bus jika saja matanya tak melihat Kwanghee yang berjalan masuk kedalam gedung besar SBS yang tepat berada di sebrang halte bus dimana Baro berdiri sekarang.
"Ya! Hwang Kwanghee!" Teriaknya keras hingga membuat beberapa orang menoleh kearahnya termasuk Kwanghee sendiri.
"Kau mau kemana?" Tanya Baro setelah berdiri di depan Kwanghee.
"Menemui Hyuna ku" Ucap Kwanghee santai dan kembali membenahi pakaiannya, mencoba terlihat serapih mungkin meskipun ia hanya menonton Hyunanya yang akan tampil pada acara musik mingguan yang ada di SBS.
"Aku tadi tak sengaja bertemu dengannya saat ke kantor Hyungku" Ucap Baro yang membuat Kwanghee menatap berbinar kearahnya.
"Dia pasti cantik sekali"
Baro mengedikkan bahunya, "Begitulah" Ucapnya acuh, Hyungnya memang mempunyai sebuah perusahaan yang bergerak dalam industri hiburan, jadi bertemu artis ataupun grup idol lainnya sudah menjadi hal biasa bagi Baro.
"Kau baru selesai latihan?" Kwanghee menatap Baro yang masih mengunakan baju basketnya dengan salah satu tangan Baro yang kini sedang memegang Bola basket.
"Begitulah, tapi berlatih sendirian tak asik. Kris Hyung—" Ucapan Baro terhenti, matanya membulat seperti baru menyadari sesuatu.
"Hei, kau kenapa? Ah sudahlah, lebih baik aku masuk saja" Ucap Kwanghee dan mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung SBS.
Sret!
"Kau mau menemaniku kerumah Chanyeol kan"
Baro mengapit leher Kwanghee dengan tanganya dari belakang, lalu menyeretnya kearah halte bis yang tadi.
"Ya Ya Ya! Aku mau bertemu HyunaKu!"
"Ayolah..."
"Ya Cha Sun Woo! Aku ini lebih tua darimu! Kau memperlakukan hyungmu seperti ini?!" Protes Kwanghee yang hanya di anggap angin lalu oleh Baro.
.
Secrets of the future
.
"Chan, Kau tak punya makanan lain? Aku lap—" Perkataan Jisoo mengantung di udara tak kala mata sipitnya melihat keadaan ruang Tv yang tak berpenghuni dan hanya meninggalkan Tv yang masih menyala.
"Mereka kemana?" Tanyanya bingung entah pada siapa, kakinya kini melangkah, menelusuri setiap ruangannya yang ada di dalam Apartemen Chanyeol, dan gerakkan Jisoo terhenti ketika ia membuka pintu kamar Chanyeol dan mendapati Harry yang sedang tertidur pulas di dalamnya.
"Mereka meninggalkanku? Berdua? Dengan bocah ini? Sialan!"
Jisoo mengacak rambutnya kasar, tangan kanannya kini merogoh Handphonenya yang ia letakkan di saku celananya.
"Yeoboseo Oppa?"
"Lizz, kau bisa ke Apartemen Chanyeol sekarangkan?"
.
Secrets of the future
.
"Kau suka?"
Daehan mengangguk dengan semangat, matanya berbinar melihat sesuatu yang sedang Chanyeol pegang.
"Baiklah.." Ucap Chanyeol dan meletakkan dua lusin susu pisang pada Troli belanjaannya.
"Entah aku yang hilang ingatan, atau kau yang terlalu cerdas untuk memanfaatkan seseorang. Tapi setidaknya aku masih ingat jika aku mengatakan akan membelikan kebutuhan mereka berdua bukan kebutuhan dapurmu Park Chanyeol.." Kris mendesis, kedua tangannya kini sedang mendorong sebuah troli yang isinya hampir penuh dengan barang-barang yang sangat Park Chanyeol sekali.
"Hehe.." Chanyeol menampilkan cengirannya, kembali menegakkan tubuhnya yang tadi berjongkok karena berdiskusi dengan Daehan untuk membeli susu rasa apa yang disukai olehnya.
"Ini juga kebutuhan mereka tau.." Ucap Chanyeol lagi dan kembali melangkahkan kakinya mendahului Kris dengan salah satu tangan yang mengandeng tangan Daehan.
"Oh benarkah?" Kris melirik sinis kearah Troli yang sedang di dorongnya, membuat Chanyeol yang mendengarnya berdecak dan kembali membalikkan tubuhnya untuk menatap Kris.
"Kau sangat perhitungan sekali Tuan Wu, anggap saja ini sebagai balasan karena kau menghalangiku untuk mengambil uang dari Shin Seosangnim kemarin" Ucap Chanyeol dan kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Kris yang hanya menghela nafasnya kasar dan kembali melanjutkan langkahnya mengikuti Chanyeol.
.
.
.
"Bagaimana kalau ini saja?" Chanyeol menunjukkan kaos berwarna biru terang kearah Daehan.
"Anni Mommy! Aku mau ini" Daehan memeluk kaos berwarna hitam yang menurutnya lebih bagus di banding yang ada di tangan Chanyeol.
"Selera Colour full mu itu tak di sukainya bodoh.." Kris mencibir, tangannya kini memegag sebuah Kaos putih dengan aksen berwarna abu tua di kerah juga lengannya yang pendek.
"Kau suka?" Tanyanya pada Daehan yang membuat bocah 12 tahun itu melonjak girang. "Nde!"
"Kau Lihat?" Kris menyeringai menatap Chanyeol yang kini menatap cemberut kearahnya.
"Menyebalkan!" Ucap Chanyeol sebal dan memasukkan asal baju-baju yang di lihatnya kedalam keranjang.
.
Secrets of the future
.
"Oppa ini lucukan?"
Krystal memutar-muta baju-baju yang baru di belinya dengan semangat di depan Jisoo yang kini menatap tak percaya kantong-kantong belanjaan yang kini berserakkan didepannya.
"Kalian membeli semua ini?" Tanyanya yang langsung di jawab "Nde!" Dengan semangat oleh Krystal juga Hyorin, sedangkan Lizzy yang baru keluar dari dapur dengan segelas air dingin hanya mengelengkan kepalanya maklum.
"Oppa dimana Daehan, Harry dan Chanyeol? Kenapa aku tak melihat mereka" Tanya Lizzy yang kini mendudukkan tubuhnya di samping Jisoo, mengabaikan Krystal dan Hyorin yang lagi-lagi memekik tertahan di depan mereka. Posisi mereka sekarang adalah Jisoo dan Lizzy duduk di Sofa hitam yang tadi di duduki Kris, sedangkan Krystal dan Hyorin duduk di atas karpet tepat di depan Lizzy dan Jisoo.
"Harry sedang tidur di kamar Chanyeol, makanya kalian berdua jangan terlalu berisik" Ucapnya yang membuat Krystal dan Hyorin menutup mulut mereka. "Kalau Chanyeol dan Daehan aku tak tau, sepertinya mereka pergi dengan Kris"
Byurr!
"YA!"
Hyorin memengang rambut bagian belakangnya yang basah akibat semburan air dari Lizzy.
"Omo Eonni!" Krystal menatap kaget Lizzy yang kini sedang terbatuk.
"Mian, Mian, Aku hanya kaget" Ucapnya sambil menepuk dadanya. Lalu memberikan cengiran pada Hyorin yang sibuk mengerutu.
"Sialan! Ini menjijikan" Ucap Hyorin bertepatan dengan bel apartemen Chanyeol yang berbunyi.
"Itu Pasti Chanyeol, biarkan aku saja" Ucap Jisoo dan melangkahkan kakinya kearah pintu depan.
"Chan—" Ucapan Jisoo terhenti, matanya kini melotot menatap Baro yang terlihat sibuk menahan Kwanghee yang memberontak ingin melarikan diri.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Jisoo yang tak di anggap oleh Baro, Baro malah menerobos masuk.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Kris hyung" Ucapnya lalu melangkahkan kakinya masuk lebih dalam kedalam Apartemen Chanyeol, meninggalkan Jisoo juga Kwanghee yang kini berteriak tak terima.
.
Secrets of the future
.
"Ada apa?"
Chanyeol menoleh kearah Kris yang duduk di balik kemudi.
"Entahlah, sepertinya bensinya habis.." Kris kembali menstarter mobilnya, tapi hanya deruman kecil yang terdengar. "Sebaiknya kau keluar dan dorong mobilku"
"Kau gila!" Chanyeol melotot, sedangkan Kris hanya mengangkat bahunya acuh.
"Kau lihat disana? Disana ada Pom bensin, tak terlalu jauh Chanyeol, hanya 100 meter"
Chanyeol mengeram mendengarnya, dengan gerakkan kasar ia keluar dari mobil Kris lalu membanting pintu mobil dengan keras.
"Sialan!" Makinya sambil menendangi bemper belakang mobil Kris.
"Sebaiknya kau hemat tenagamu untuk mendorong mobilku Okey"
Chanyeol mendesis, untuk terakhir kalinya dia menendang mobil Kris sebelum menempatkan kedua tangannya pada bagasi mobil Kris siap untuk mendorong.
"Sialan! Ini beraaat!" Chanyeol mengeram, mukanya sudah memerah karena berusaha mengeluarkan semua tenaganya. Sedangkan di depan sana Kris tersenyum dengan raut wajah yang amat sangat bahagia, Bensi mobilnya memang habis, tapi setidaknya mobilnya masih bisa melaju dan mencapai Pom bensin di depan sana. Chanyeol memang bodoh sampai tak menyadari jika Kris sedang mengerjainya.
"Daddy kenapa?" Suara Daehan yang terdengar dari arah belakang membuat Kris mengulum senyumnya. "Tidak apa-apa.." Ucap Kris dan setelahnya melongokkan kepalanya keluar jendela mobilnya dan mulai berteriak.
"Oy Park Chanyeol! Kau yakin sedang mendorong?"
"Diam Brengsek!"
.
Secrets of the future
.
"Sepertinya dia sedang mencari Chanyeol.." Bisik Lizzy yang langsung di jawab anggukkan oleh Krystal dan Hyorin, mereka bertiga sedang mengikuti Harry yang terus mengelilingi setiap sudut apartemen Chanyeol sekarang ini.
Beberapa menit tadi, pintu kamar Chanyeol tiba-tiba terbuka dan menampilkan Harry. Hyorin yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada tak jauh dari kamar Chanyeol, tentu saja kaget melihat Harry. Ia langsung memangil Lizzy dan Krystal dan berakhir mereka yang terus mengikuti Harry.
"Sedang apa dia?" Lizzy menghentikan langkahnya beberapa langkah di belakang Harry yang kini sedang menunduk melihat kolong meja makan.
"Kata eonni dia sedang mencari Chanyeol oppa?" Ucap Krystal yang membuat Lizzy menatap Speechles kearahnya. "Kau kira Chanyeol itu tikus hingga harus bersembunyi di kolong meja? Ish kau ini.." Lizzy berucap sebal. Sedangkan Krystal hanya tersenyum sambil mengigit lidahnya.
"Mau kemana lagi dia?" Suara Hyorin yang tiba-tiba terdengar membuat Lizzy dan Krystal kini menatap Harry yang berjalan melewati mereka.
"Yo Whatsapp Harry!" Suara Baro terdengar ketika Harry juga Lizzy, Krystal dan Hyorin yang sendari tadi mengikuti Harry sudah sampai di ruang Tv. Harry menghentikan langkahnya disana, menatap Punggung Kwanghee yang sedang serius menatap layar Tv yang tengah menampilkan Hyunanya, kemudian matanya beralih menatap Baro yang sedang tersenyum kearahnya dan juga Jisoo yang tengah menatapnya dengan salah satu alis yang naik tinggi. Mata Harry perlahan memburam, bibirnya maju beberapa senti sebelum sebuah tangisan pelan terdengar.
"Mommy~"
Sontak semua orang yang berada di ruangan itu menatap horor kearah Harry yang kini tengah menundukkan kepalanya.
"Gawat! Dia menangis!" Kwanghee berteriak, tangannya yang sedang memegang remot Tv kini ia gunakan untuk menunjuk Harry.
Buagh!
Sebuah batal sofa mendarat mulus tepat di wajah Kwanghee setelahnya.
"Teriakan mu membuatnya Kaget idiot!" Desis Jisoo sebagai pelaku pelemparan. Mata sipitnya kini menatap Harry yang semakin kencang menangis.
"Omo... Jangan menangis.." Ucap Hyorin yang kini ikut menenangkan Harry bersama Krystal.
"Mungkin dia lapar" Suara Baro tiba-tiba kembali terdengar, membuat semua orang disana melihat kearahnya kecuali Harry.
"Aku selalu memangis kalau aku lapar dulu" Ucapnya yang membuat semua yang mendengarnya menatap Baro speechles.
"Kau yakin?" Lizzy bertanya dengan wajah ragu, tangisan Harry semakin keras, dan mereka semua tak tau apa yang harus mereka lakukan.
"Tentu saja, aku langsung diam ketika Eomma ku menghidangkan makanan di depanku" Ucap Baro semangat.
"Baiklah.." Lizzy melangkahkan kakinya kearah dapur, dan tak berapa lama Lizzy kembali terlihat dengan sebuah telur yang berada di tangannya.
"Tak ada apa-apa lagi selain ini di kulkas" Ucapnya dan mengangkat sebutir telur itu.
"Ya sudah buat telur goreng saja" Kini giliran Jisoo yang bersuara.
"Oppa, kau yakin menyuruhku memasak?" Ucap Lizzy pada Jisoo yang langsung mengeleng dengan keras, mata sipitnya kini menatap bergantian kearah Hyorin dan Krystal yang langsung bersikap seolah-olah mereka tak mendengar.
"Ish kalian ini! Masa tak ada satupun di antara kalian yang bisa memasak?" Tanya Baro membuat Jisoo, Lizzy, Krystal dan Hyorin mengelengkan kepala mereka kompak, sedangkan Kwanghee langsung berpura-pura kembali fokus menatap layar Tv.
"Ish!"
Baro menyambar Telur yang masih di pegang Lizzy dan melangkahkan kakinya kearah dapur.
"Biar aku saja yang membuatnya" Ucap Baro sebelum menghilang di balik tembok pemisah.
Hening beberapa saat, suara yang terdengar di ruangan itu hanya suara Tv dan tangisan Harry.
"Oppa kau yakin dia bisa memasak?" Tanya Lizzy ragu pada Jisoo yang kini tengah mengurut kening.
"Tidak, si bodoh itu akan mengacaukannya" Ucap Jisoo dan mulai melangkahkan kakinya kearah pintu utama.
"Oppa, kau tak berniat kaburkan?" Suara Lizzy yang kembali terdengar membuat Jisoo yang tengah memakai sepatunya menegakkan tubuhnya dan kembali menatap Lizzy.
"Aku mau mengecek lemari makanan ku, kalau tak salah ingat ada satu cup Ramen yang tersisa. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali"
.
Secrets of the future
.
"Mereka payah" Ucap Baro sambil menuangkan Minyak goreng pada teflon yang sudah dia tempatkan di atas kompor listrik Chanyeol.
"Dasar mereka anak manja! Mengoreng sebutir telur saja tak bisa? Oh sungguh menyedihkan" Ucapnya lagi, bibirnya kini menunjukkan seringai meremehkan, dan tak menyadari atau memangnya dasarnya tak tau jika Minyak goreng yang baru saja ia tuangkan terlalu banyak sampai mengisi tiga perempat bagian teflon.
"Tinggal menunggu minyak panas dan memasukkan telur ini saja kan" Ucapnya lagi. Baro kini mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di samping kompor, ia kini sedang menunggu Minyak yang tadi di masukkannya panas. Setelah beberapa saat kemudian minyak di atas Teflon mulai mengelembung kecil, membuat Baro yang melihatnya tersenyum.
"Sekarang masukkan telurnya" Ucapnya dan mulai memecahkan telur lalu memasukkannya pada Minyak panas.
Cesss!
"AW!"
Dengan gerakkan cepat Baro melangkahkan kaki mundur, tangan kirinya kini memegang punggung tangan kanannya yang terasa panas dan perih karena terciprat minyak.
"Aku harus melindungi tangankku" Ucap Baro dan matanya kini menatap kesekeliling area dapur Chanyeol, dan sepertinya lupa jika telur yang di masaknya mulai menghitam.
.
Secrets of the future
.
Lizzy mengkerutkan keningnya ketika hidungnya mencium bau gosong, seingatnya tak ada Chanyeol dan tak mungkin ada yang memasak.
"Kenapa Baro lama sekali"
Dan ucapan Krystal mampu membuat Lizzy berlari kearah dapur.
"OMO! CHA SUN WOO?!" Teriaknya kaget ketika melihat kobaran api di dapur.
"Ada apa? Kenapa kau berteri—" Ucapan Kwanghee terhenti, matanya kini melotot melihat api di depannya juga Baro yang kini sedang bersembunyi di kolong meja makan.
"Bantu aku~"
"YA IDIOT!" Teriak Kwanghee dan langsung mengambil panci kecil yang entah kenapa berada di atas meja makan lalu membawa panci itu kearah kamar mandi, mengisinya dengan air dari keran Bath tub dan shower lalu membawanya kembali kedapur dan menyiramkannya pada api yang kini mulai membesar.
"Eonni! Bagaimana ini?!" Krystal berteriak histeris sedangkan Hyorin yang kini mengendong Harry hanya bisa menepuk punggung Harry yang sudah berhenti menangis dengan gerakkan panik.
"Aku juga tak tau!" Lizzy mengerang, ia tak tau harus melakukan apa, ia juga panik, dan ini sudah lebih dari tiga kali Kwanghee bulak balik membawa air tapi apinya belum juga padam.
"Sialan! Bagaimana ini?!" Kwanghee berteriak dari arah kamar mandi, Shower yang dihidupkannya tiba-tiba mati.
"Showernya mati! Aku tak bisa mengambil Air lagi!" Teriaknya lagi.
"Ya jelas, Listrik di sini pasti koslet!" Teriak Lizzy yang kini sedang mencari tabung pemadam di Apartemen Chanyeol.
"Idiot! Dimana dia meletakkannya" Geram Lizzy ketika ia tak kunjung menemukan tabung berwarna merah itu di Apartemen Chanyeol.
Suara bel yang tiba-tiba terdengar membuat Lizzy langsung berlari kearah pintu keluar.
Cklek!
"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Jisoo yang kini berdiri di depan Lizzy dengan tangan kanan memegang sebuah kantung kresek.
"O-oppa.."
"Wae?"
"SI IDIOT ITU MEMBAKAR DAPUR!"
"WHAT?!"
Jisoo langsung berlari kearah dapur, asap hitam sudah hampir memenuhi area dapur.
"Dimana tabung pemadam?!"
"Aku tak tau!"
"Sial!" Jisoo mengumpat, kini ia berlari dan mulai mengobrak-abrik hampir seluruh isi apartemen Chanyeol di bantu Krystal, Lizzy juga Kwanghee, sedangkan Hyorin menepi ke balkon karena Harry terus saja terbatuk. Dan tolong jangan tanyakan dimana Baro berada.
"Oppa disini!" Jisoo langsung berlari kearah Krystal yang tengah berjongkok di depan lemari sepatu.
"Dasar idiot! Kenapa menyimpan tabung pemadam di dalam rak sepatu!" Ucapnya sebelum kembali berlari kearah dapur.
.
Secrets of the future
.
"Ini berat" Chanyeol terus mengerutu di setiap langkahnya menuju apartemennya, sedang Kris yang berjalan di belakangnya juga membawa berkantong-kantong besar belanjaan Chanyeol mendesis.
"Siapa suruh kau berbelanja seperti tak akan keluar rumah selama dua tahun" Cibirnya tapi tak di dengar Chanyeol yang kini sibuk memasukan password untuk membuka pintu.
Sedangkan Daehan yang berjalan di samping Kris hanya menunjukkan senyuman lebarnya melihat interaksi Mommy dan Daddynya
Cklek!
"Aku Pu—" Ucapan Chanyeol mengantung di udara, asap tipis yang entah berasal dari mana tiba-tiba berhembus kearahnya, matanya kini membulat sempurna melihat keadaan Apartemennya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA APARTEMEN KU!"
:: TBC ::
.
.
.
.
.
.
4673 words, aku rasa ini cukup panjang hehe.
Banyak yang penasaran sama keadaan Chanyeol-Kris di masa depan, hehe sabar ya, chap-chap depan pasti ada hint-hintnya kok, tunggu aja.
Aku seneng banget kalau ada reader baru yang review, tambah semangat jadinya, bukan berarti yang sering review gak buat semangat ya. Cuman kaya dapet suntikan semangat lebih gituhh *lebe
Sebenernya aku bukan Author baru di screenplays, tapi karena aku terkena wb untuk melanjutkan ff-ff ku sebelumnya aku memutuskan untuk buat akun baru dan mulai menulis ff Krisyeol sebagai main pair. Dan entah kenapa wb ku hilang kalau menyangkut mereka, jadi maafkan saja tingkah laku mereka di ff ini yang terkesan konyol, soalnya aku juga secara tak langsung menghibur diriku sendiri hehe.
Oke sesi curhat di tutup.
Sekali lagi dan tak pernah bosan aku ucapain Makasih banyak buat kalian yang sudah berbaik hati meninggalkan jejak, review kalian adalah semangat buatku...
| Senna Wu | Rilah Safitri | xxLULUxx | Zahra495 | Alda N – Yoshinaoko Monamie | XOXO KimCloud | Baby Crong | Apriyaninurfad1 | Fetty EXO-L | Shin Hy 39 | KayLiKim3 | Odiodi12 | Fienyeol | Taniadwi743 | Exochanxi | Shoothatladyluck | Kim Eun Seob | Sumiya Wu | Hyena Lee | Permenkaret | Phcxxi | Rosmala11 | Anahunhan | Pinker61 | JirinHope | Titania | Terexa Wu | Kumiko Ve | Jeseey | Double BobB I | Hanbi | Neng | Anlika88 | MaknaeOchi | Enchris 727 | Realyounges529 | 1004baekie | Liaoktaviani |
Mian kalau ada yang salah yeth..
Aku publish cepet karena aku lagi senang aja, Chap 5 aku belum ngetik satu word pun, jadi kayanya chap 5 itu aku pub minggu depan, oke deh, see u next chap ya^^
.
.
.
Mind to review again?
