'You are Mine'

MarkHyuck - Mainpair

•MarkRen •Nomin - Slight

bxb, typo(s), drama, hurt-comfort

...

..

.

Matahari menampakkan cahayanya, menerangi mulai dari ujung Timur sampai Barat juga keseluruh penjuru Utara dan Selatan Seoul. Lelaki bermata moomin itu masih setia memeluk guling dengan nyamannya.

Suara nyaring dari ponselnya mengganggu waktu tidur berharganya, oh ayolah~ dia tidak tidur 3 hari ini karena menyiapkan keperluan caffe miliknya yang mulai kembali ramai.

Renjun meraba disekitar nakas sebelah tempat tidurnya dan segera mengambil ponsel hitamnya, tanpa melihat ID Caller dia menggeser tombol hijau ke kanan dan menempelkan persegi canggih itu ke telinga kanannya.

"Halo? Renjun?" Seketika matanya terbelalak lebar dan menarik ponselnya untuk sekedar mengecek siapa penelepon ini.

'Astaga eomma! Matilah aku.' -Renjun

"Ah iya eomma? Ada apa?"

"Kau? Bisakah siang nanti ke rumah sebentar? Ada yang ingin eomma bicarakan padamu"

"Siang nanti? Iya eomma, akan Renjun usahakan"

Baiklah. Xie xie Renjunie~"

"Ye eomma"

Beep

Setelah sambungan terputus Renjun mengusap wajahnya dengan kasar, dia merasa ada hal penting yang akan eommanya bicarakan dan itu menyangkut masa depannya dan Mark tentu saja. Astaga Renjun lelah, ingin sekali rasanya dia menangis karena hal ini.

.

.

Mark berjalan pelan menuju sebuah apartement sederhana di daerah Gangnam, walau sederhana tapi apartement ini bisa diisi lebih dari 6 orang, terbayangkan bagaimana luasnya apartement ini.

Mark menekan bel dengan sabar, berharap yang dia temui sudah bersiap dan segera pergi. Dalam hitungan detik lelaki manis muncul dari balik pintu dan tersenyum amat manis.

"Morning~ sudah siap?"

"Sudah, tapi tunggu aku ambil tas dulu" Setelahnya Haechan masuk ke dalam mengambil tas miliknya.

Di dalam mobil Mark dan Haechan terus diam, hening tanpa suara. Mark fokus dengan jalanan sedangkan Haechan entah fokus apa. Mark yang tidak menyukai situasi ini berniat memulai pembicaraan dengan lelaki manis di sampingnya.

"Kau ada rapat siang nanti?"

"Tidak, hari ini cukup santai"

"Apa kau ada janji makan siang?"

"Tidak juga sih. Apa kau mau mengajakku makan siang?" Tanya Haechan antusias dengan mata menyipit lucu, ditambah pipi bulatnya yang mengembang sempurna. Membuat Mark gemas dan mengusak rambutnya pelan menggunakan tangannya yang bebas.

"Yaishhh kau merusak tatanan rambutku, Mark"

"Tak apa, kau tetap cantik walau tanpa rambut sekalipun"

"Jadi kau mau aku botak? Begitu?"

"Bukan begitu, hanya saja kau cantik apa adanya Haechan" Mark menggoda Haechan dengan senyum dan kedipan jahil miliknya, membuat Haechan memukul lengannya pelan.

"Dasar gombal"

"Gombal begini kau suka 'kan?" Sekarang Mark dengan gencar menggoda Haechan.

"Ya ya ya terserah saja Mark Lee yang terhormat" Setelahnya Haechan hanya diam dan menikmati pemandangan jalanan Seoul melalui jendela.

.

Mark dan Haecan sudah berada di restaurant favorit mereka sekitar 15 menit yang lalu, padahal jam makan siang baru saja dimulai. Untung saja Mark Direkturnya kalau bukan bisa jadi bayarannya yang akan berkorban.

"Haechan? Kenapa makannya sedikit? Kau sakit?" Mark bertanya saat Haechan tak kunjung menghabiskan makan siangnya.

"Tidak, aku tidak sakit. Apa iya aku makan sedikit?"

Mark memutar bola matanya jengah, bisa bisanya Haechan berkata bahwa dia tidak makan sedikit, padahal sepiring fettuccini miliknya saja tidak habis setengah.

"Apa kau butuh sesuatu? Kau terlihat kurang bersemangat"

"Tidak apa Mark, sungguh aku baik-baik saja."

"Yakin? Ya sudah habiskan makananmu dan mari kembali ke kantor" Haechan mengangguk kecil dan kembali memakan makan siang miliknya yang tertunda dengan lebih bersemangat.

Mark merogoh saku jas miliknya saat dirasa ada pesan masuk di ponsel pintar itu, setelah membaca contact name di notifikasi Mark membuka kunci lalu membaca pesan tadi, dan dengan segera mengetikkan kalimat balasan.

[From. Renjunie] - 12.40 pm

'Siang ini aku akan ke rumah eomma, apa kita bisa pergi bersama?'

[To. Renjunie] - 12.41 pm

'Maaf, aku sibuk Renjun. Lain kali saja ya.'

Dengan segera Mark mengembalikan ponselnya ke dalam saku jas kerjanya tak lupa dia mengubah dari silent mode menjadi flight mode terlebih dahulu.

..

Renjun memasuki rumah besar tersebut dengan perasaan was-was. Dia tidak ingin ibunya memberondongi dirinya dengan pertanyaan yang jelas-jelas Renjun hindari untuk beberapa saat ini.

Seorang pelayan tua menghampiri Renjun dan berkata kalau Nyonya besar akan segera turun dan meminta Renjun untuk menunggunya sebentar.

Tak lama Renjun menunggu, wanita yang belum genap berusia setengah abad itu muncul dari tangga atas rumah besar tersebut, membuat Renjun tersenyum setelahnya.

"Aigoo~ anak eomma. Sudah lama?"

"Belum, baru saja Renjun datang"

"Baiklah. Oh astaga kau makin manis saja Renjun"

"Aku tampan eomma tidak manis" Renjun berkata sembari memutar kedua bola matanya malas, ibunya ini kebiasaan mengatai dirinya manis.

"Terserahlah~"

"Ngomong-ngomong, kemana calon tunanganmu? Kenapa dia tidak ikut datang bersamamu?"

"Mark sibuk eomma. Perusahaan membutuhkannya"

"Begitu ya, jadi bagaimana persiapan pertunangan kalian? Sudah sejauh mana?"

"Astaga eomma tidak sabar. Andai saja appamu masih disini bersama kita, pasti dia senang melihat putranya akan segera menikah"

Ini yang Renjun hindari, pertanyaan seputar pertungannya dengan Mark yang jelas-jelas Renjun tidak inginkan. Dia muak dengan lelaki itu.

Renjun hanya tersenyum getir dan menunduk kemudian, melihat putra tercintanya kian melesu membuatnya paham, feeling seorang ibu itu kuat jadi jangan diremehkan. Dia tahu sesuatu telah menimpa anaknya.

"Hey Renjun, ada apa? Kenapa bersedih huh?" Kun, selaku ibu yang baik menghampiri Renjun dan duduk di sampingnya, mencoba memberi usapan kecil di punggung putra tercintanya.

"Kenapa? Ada yang ingin kau bicarakan? Eomma rasa kau tidak baik"

"I-itu..."

"Tak apa katakan saja, eomma mendengarmu sayang"

Renjun menghela nafas berat, menimang untuk mengatakannya atau tidak. Kalau tidak sekarang kapan lagi? Dia tidak ingin menunda keputusannya ini.

"Eomma-"

Kun menatap putra semata wayangnya dengan pandangan bertanya, dan meminta Renjun untuk meneruskan ucapannya.

"Maaf sebelumnya, Renjun tahu akan menyakiti hati eomma. Tapi, Renjun tidak bisa melanjutkannya. Renjun ingin membatalkan pertunangan ini." Final Renjun dengan setetes air mata mengaliri pipinya.

.

.

.

Haechan yang baru saja pulang dari kantor dengan segera merebahkan dirinya diatas ranjang kesayangannya. Entah kenapa dia merasa lelah tak hanya fisik, tapi batinnya juga.

Ada hal yang sedari tadi siang mengganjal dibenaknya tapi tak kuasa dia ungkapkan kepada Mark, lelaki yang mencuri hatinya bertahun-tahun lamanya.

Haechan menarik boneka sapi kesayangannya dan mulai bermonolog ria, berharap agar dia tidak merasa sendirian. Haechan benci sendiri tapi bagaimana lagi, kalau tidak begini Haechan tidak akan bertemu dengan Mark.

Haechan mengambil ponselnya di saku mantelnya dan membuka galeri miliknya, mencari-cari satu gambar yang siang tadi dia kirimkan dari ponsel Mark.

Matanya menangkap gambar dua lelaki yang berfoto bersama dengan merangkul mesra, hatinya terasa sakit saat tahu Mark tidak sepenuhnya sendiri. Dia sadar dan dia tahu semua ini Mark lalukan juga karena permintaannya dulu, jadi Haechan tak ada niatan untuk marah kepada Mark tapi lebih ke dirinya sendiri.

Haechan paham, Mark itu lelaki sama seperti dirinya. Mark juga butuh pengganti karena dirinya yang entah kapan kembali. Mark tidak sepenuhnya salah, karena yang Mark lakukan itu masih manusiawi, yaitu mengobati rasa sakitnya dengan mencari pengganti untuk mengisi hati yang kecewa atau bisa disebut dengan move on, kecuali dia yang menikahi selimut kesayangan Haechan itu baru tidak manusiawi. Okay, lupakan yang terakhir.

Haechan menangis tanpa sadar, mengeluarkan seluruh beban hidupnya, terutama masalah perasaannya. Haechan mengaku dia merasa menyesal telah berkata kepada Mark untuk mencari penggantinya. Seharusnya dia meminta Mark untuk menunggunya dan berkata bahwa dia akan kembali, bukan malah berkata untuk mencari pengganti. Astagaaa tidak bisakah seseorang mengembalikan ke masa 6 tahun yang lalu? Haechan butuh seseorang yang bisa melakukannya sekarang.

Haechan menangis sesenggukan tanpa berniat menghapus seluruh uraian air matanya, tetapi berhenti saat ponselnya menyala terang, menampilkan Mark si penelepon utama. Dengan segera Haechan menggeser tombol hijau dan menyambut Mark di seberang sana.

"Hallo~ sedang apa baby?"

"Oh hallo Mark, aku sedang berbenah"

"Sungguh? Kenapa belum tidur?"

"Aku- aku tidak bisa tidur Mark"

"Mau aku bantu? Aku bisa menyanyikan beberapa baris lagu untuk lullabymu"

"Boleh saja kalau kau bisa"

"Tahan sebentar, kau jangan sampai terpukau ya" Terdengar kekehan manis di seberang, membuat Haechan kembali meneteskan air mata.

Mark mulai menyanyi dengan tenang diseberang sana. Hearts Don't Breaks Around Here milik Ed Sheeran 'lah yang Mark pilih untuk me-lullaby 'kan Haechan dengan mengganti kata 'she' menjadi 'he' atau kata lain sejenisnya. Manis bukan?

"I feel safe when you're holding me near

Love the way that you conquer your fear

You know hearts don't break around here"

Haechan kembali menangis dalam diam, mengabaikan panggilan juga ucapan selamat malam dari Mark, dan menangis dengan kencang saat Mark telah mengakhiri panggilan.

Hearts don't break around here~

.

.

.

Sudah berminggu-minggu setelah Renjun berkunjung ke rumah Ibunya terakhir kali, dan berminggu-minggu itu juga Mark tak pernah kembali ke apartement milik Renjun, lebih tepatnya sudah 5 minggu. Renjun tahu apa alasannya tapi dia benar-benar tak ingin ambil pusing. Toh seluruh rencana yang mereka buat untuk acara pertunangan -bedebah- itu sudah Renjun selesaikan sendiri tanpa bantuan dari Mark. Pembatalan pertunangan secara sepihak, lagipula Mark mana mau bertunangan dengan Renjun kalau Haechan saja sudah kembali 'kan.

Renjun mengemasi barang-barangnya, rencananya dia akan pergi ke Jilin untuk beberapa hari ke depan. For your information, Jilin tempat kelahirannya, namun saat dia berumur 8 kedua orang tuanya pindah ke Korea dan menetap disana sampai ayahnya meninggal dan ibunya belum ada rencana untuk kembali ke kesana. Sesekali Renjun akan pergi ke Jilin untuk menenangkan pikirannya seperti saat ini, lagipula disana ada yéye dan beberapa kerabat lainnya seperti gūgū dan gūzhàng, mungkin.

Renjun hampir selesai berkemas saat mendengar suara pintu apartement dibuka dan ditutup kembali, karena penasaran dia menghentikan kegiatannya dan sedikit berteriak kepada tersangka.

"Eomma? Kau kah itu?" Lalu melanjutkan kegiatannya kembali, karena dia tahu itu pasti ibunya.

Karena terlalu fokus dengan acara berbenahnya sampai dia tidak sadar seseorang membuka pintu dan berdiri diambangnya.

"Renjun"

DEG

Seketika tangan tangannya berhenti bekerja, dia berdiri dengan tegak, menyiapkan hatinya tanpa ingin ada setetes air mata. Kalau boleh jujur Renjun lelah menangis maka dari itu dia tidak ingin menangis dan terlihat lemah di hadapan 'seseorang' itu.

Renjun berputar, membalikkan badannya dan menghadap seseorang yang sedari tadi berdiri di pintu kamarnya tanpa ada niat untuk masuk. Hatinya tiba-tiba terasa panas, teringat kejadian-kejadian lalu yang sudah lama dia ketahui.

Dia menarik nafas dan memulai percakapannya dengan Mark, ya seseorang itu Mark, siapa lagi kalau bukan lelaki -brengsek- yang Renjun cintai.

"Ada apa?" Berucap datar dengan nada dingin didalamnya.

"Kau mau kemana?" Mark bertanya saat melirik koper dan beberapa tumpukan baju diatas ranjang.

"Aku akan pergi untuk sementara waktu"

"Kemana?"

"Kau tidak perlu tahu"

Renjun melihat ekspresi Mark yang sedikit mengeras, dia merasa bahwa Mark akan berteriak kepadanya.

"Aku perlu tahu karena kau calon tunanganku!"

See? Tebakan Renjun tidak meleset. Mark sedikit meninggikan ucapannya ngomong-ngomong.

Renjun yang mendengarnya hanya terkekeh pelan dan kembali menyelesaikan kegiatannya, dia ingin cepat pergi dari sini.

"Maaf Mark, kata 'calon' tidak ada dalam kamusku, karena ku rasa kita bukan lagi 'calon'." Renjun berkata dengan penekanan dikata 'calon' miliknya.

Mark mengernyitkan dahinya tanda dia tidak mengerti, kembali membuka suara ingin melayangkan beberapa kalimat pertanyaan, tapi Renjun segera berbalik dan melanjutkan perkataannya.

"Kau- tidak perlu lagi peduli padaku Mark, semuanya sudah berakhir. Kau dan aku bukan siapa-siapa lagi. Aku tahu kau sudah kembali bersama Haechan- ah tunggu jangan menyela"

Renjun berkata sedikit keras saat tahu Mark akan menyuarakan kalimat protesnya tapi dengan segera dia menahannya.

"-Aku tahu kalian berdua. Jangan kau kira aku ini lemah, aku tahu sebenarnya hubungan kalian. Berjalan bersama, menghabiskan hari berdua, juga-

"-menghabiskan malam berdua" Setetes liquid bening berhasil mengaliri pipi tirusnya. Tak menyangkan dengan mengungkapan isi hatinya bisa sesakit ini.

"Renjun..." Mark bersuara pelan memanggil nama lelaki manis dihadapannya.

"Maafkan aku, aku tidak ada rencana untuk menyakitimu, sungguh"

"Maaf sudah membuatmu terluka" Mark menunduk tak berani mengangkat kepalanya.

"Tidak Mark, tidak. Kau tidak salah tapi aku. Aku salah karena menyukai orang sepertimu. Seharusnya aku tidak pernah menyukaimu"

"Dan seharusnya aku juga tidak menerima ajakan berkencanmu 2 tahun lalu"

"Kau tahu Mark bagaimana rasanya saat orang yang kau sukai mengajakmu berkencan? Senang bukan? Iya itulah aku. Aku senang saat tahu kau mengajakku berkencan, tapi-"

Air mata itu kembali mengalir tanpa hentinya, seakan pasokan air mata milik Renjun tak pernah habis.

"-tapi kau hanya menganggapku sebagai Haechan dan bukan Renjun. Kau selalu saja memimpikan Haechan dan tak pernah memimpikanku. Kau selalu terbayang wajah Haechan, bahkan kau juga tak pernah mau menciumku tepat di bibir. Karena aku tahu, cintamu itu hanya untuk Haechan, termasuk ciumanmu"

Renjun tak kuasa menahan seluruh perasaannya, hatinya terasa meledak-ledak penuh amarah tapi juga sakit hati. Renjun benar-benar ingin berhenti mulai sekarang.

Renjun berbalik tanpa mau menghapus uraian air matanya, dan dengan segera menarik koper miliknya, ingin segera pergi dari hadapan Mark yang diam termenung.

"Oh ya Mark, kau tidak perlu bingung soal pertunangan kita. Semuanya sudah aku bereskan. Dan tidak ada kata 'pertunangan' lagi diantara kita."

Renjun berkata dengan air mata yang mulai mengering. Dia ingin mengakhirinya sampai disini, melupakan Mark dan hidup bahagia tanpa Mark sebagai dambaan hatinya.

Belum genap kakinya jauh melangkah, Mark memanggilnya, berjalan kearahnya dengan air muka yang terlihat menyesal. Renjun tidak peduli, Mark bukan urusannya lagi toh Mark dan dirinya hanya sebatas mantan kekasih dan mantan calon tunangan. Itu saja.

Renjun berbalik dan mendapati Mark yang sudah berdiri tepat didepannya, sangat dekat bahkan hidung mereka hampir bersentuhan. Sekali gerakan saja Renjun yakin akan menyentuhnya, jadi dia memutuskan untuk melangkah kebelakang, menjauhi Mark dan segera pergi dari sini.

Tapi dengan gerakan tak terduga Renjun merasakan kedua pipinya ditahan oleh seseorang yang ada didepannya, dan sedetik kemudian dia merasakan benda kenyal itu menempel diatas bibir Renjun.

Air mata itu lolos lagi dengan sendirinya. Renjun diam tidak bergerak, menunggu apa yang akan Mark lakukan setelahnya.

Mark mengecup bibir itu tanpa berniat untuk melumatnya. Dia hanya sekedar memberi 'goodbye kisses' kepada Renjun.

Mark menarik kepalanya dan melihat Renjun yang masih menangis, lalu dihapusnya air mata itu dan menatap Renjun tepat di kedua maniknya yang redup itu.

"Maaf Renjun, maafkan aku. Aku kira aku adalah orang yang beruntung yang pernah mengenalmu, demi apapun aku tak ingin menyakitimu seperti ini"

Mark mengambil nafas dan kembali berucap, "Tapi ternyata aku sudah menyakiti malaikat sepertimu. Sungguh aku bodoh karena menyakitimu seperti ini. Maafkan aku Renjun" Tanpa Mark sadari air matanya juga sudah menetes, turun ke dagu miliknya.

"Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku Renjun? Apa?"

Renjun terdiam, otaknya berpikir dan setelahnya kalimat sederhanalah yang keluar dari belah bibirnya.

"Jaga Haechan, bahagiakan dia. Jangan sampai kau menyakitinya, karena aku tahu dia bukan orang yang kuat seperti yang terlihat"

Setelahnya Renjun pergi meninggalkan Mark yang diam mematung, memandangi lantai apartement Renjun dengan pikiran yang penuh penyesalaan dan sedikit perasaan lega, mungkin.

.

.

.

TBC

.

.

Huwaaaa kok sebel sih sama Marknya, padahal ku yg menulis tapi ku yg sedih jugaaa (cry)(cry)

Ga tega liat Njun tercakitiii ㅠㅠㅠㅠ

Btw, maaf yaa udh bikin readers-nim kecewa. Tapi ini udh paling maksimal. Mentok uyyy

Mungkin ff ini bakal end 1 atau 2 chap lagi mungkin WQWQWQWQ ditunggu aja yaa :)

MAKASIH JUGA YANG UDH MAU SEMPETIN BACA DAN REVIEW FF AKUUU IHH TERHURAAA (love)(love)

SAYANGHAEE READERS-NIM

..

'MARKMARKHYUCK'

glosarium :

•yéye : ayahnya ayah (kakek)

•gūgū : kakak perempuan ayah (budhe)

•gūzhàng : suami budhe (pakdhe)

Thank you~