Title :

We Got Married

Main Cast :

Sehun and Luhan

[Ada OC nya juga]

Pairing :

HunHan, etc

Genre :

Romance/Drama

T

Gender Switch!

[GS For UKE!]

.

.

Warning :

AU,abal-abal,typo(s),alur gak nyambung,gak sesuai harapan

Papi Hun dan Mami Han milik saya. Saya anaknya! /ga

Siapkan tissue kalau gak ember, siapa tau mual /nda.

NB : sekali lagi. Ini bukan Kristao maupun Sulay. Ini Krisho dan Laytao. Karena Krisho ultimate couple saya setelah Hunhan Chanbaek. Jadi Tao dan Suho gs oke?

Pls don't jugde my fanfic or my cast!
Thankyou~

BARBXPIE PRESENT!

.

.

.

DON'T LIKE GS? GO AWAY

.

.

.

CHAPTER 4 IS STARTED!

Luhan terdiam. Bahkan telepon masuk dari ponselnya pun tak Ia dengar. Ia mematung. Berusaha mencerna perkataan Sehun kemarin malam. Perkataan Sehun—membuatnya bingung, gelisah dan juga berdebar.

Kurasa aku menyukaimu, Lu.

Kurasa aku menyukaimu, Lu.

Kurasa aku menyukaimu, Lu.

Luhan memukul dadanya dengan keras. Memohon dengan sangat agar tidak berdebar lagi. Sesak. Namun Luhan menyukainya. Gadis mungil itu meremas bajunya kuat. Ia menunduk dalam. Merona ketika membayangkan bibir Sehun menempel di bibirnya.

KRING

Luhan terkesiap. Ia menoleh kearah nakas disamping ranjangnya bersama Sehun di hotel mereka –ehem. Ponselnya berdering dan langsung gadis itu mengangkatnya tanpa melihat nama pemanggil.

"Lu, kenapa tidak mengangkat telepon ku sedari tadi?"

DEG

Luhan menjauhkan ponselnya. Melihat si pemanggil. Mata Luhan membulat sempurna. Jantungnya berdebar lagi. Itu—Oh Sehun yang menelponnya. Gadis itu hanya bisa menepuk keningnya gusar. Merutuki kebodohannya yang tidak melihat dulu si pemanggil.

Padahal, Luhan ingin menghindari Sehun sementara waktu. Tak mungkin kan Ia berada di dekat Sehun dengan pipi yang memerah? Oh itu sa—

"Lu, kau masih disana kan?" suara Sehun diseberang sana membuat Luhan tersadar dan gelagapan sendiri. Ia berdeham sebentar, menyembunyikan kegugupannya saat ini. Oh ayolah, kenapa jantung ini berhenti berdebar sih?

"ah, iya. Ada apa emang, oppa?" tanya Luhan. Memang, Luhan – Sehun telah sepakat. Bahwa Luhan harus memanggil Sehun dengan sebutan 'oppa'. Dan entah kerasukan apa, Luhan langsung menyetujui begitu saja.

"aku baru saja mendapat amplop misi. Kita akan ke Lotte World hari ini. Bisa kau siapkan pakaian mu serta pakaian ku?"

Luhan mengangguk cepat, "baiklah, oppa. Jam berapa?" tanya Luhan.

"karena ini masih pukul 6.30, kita akan berangkat mungkin pukul 08.00" jawab Sehun diseberang sana yang membuat Luhan mengangguk mengerti. Ia masih punya satu – setengah jam untuk bersiap-siap.

"baiklah, oppa. Hati – hati"

"baiklah"

TUT

Luhan memutuskan sambungannya dengan Sehun. Fyi, Luhan sama sekali tidak tau Sehun pergi kemana. Pagi – pagi sekali ketika Luhan baru saja bangun, Ia menepuk kasur di sebelahnya. Dan menyerngit bingung karena kasur itu begitu kosong. Saat Luhan membuka matanya, Ia menemukan sebuah note kecil berwarna cream di atas nakas.

Aku pergi sebentar. Nanti, saat kita akan ke Lotte World. Aku akan menghubungi mu. Mandilah dan makan sarapanmu dulu. Aku nanti menyusul.

OSH

Begitulah isi note kecil itu. Sekarang beginilah Luhan. Duduk di atas kasur, dengan nampan yang berisi sarapan yang tadi pagi dibawakan oleh pegawai hotel, makanan ringan serta beberapa susu, dan juga boneka Stitch kesayangannya. Tak lupa, tontonan televisi berupa kartun Larva pun sebagai pendampingnya untuk menghilangkan rasa bosan.

"larva kuning itu mirip dengan oppa" gumam Luhan memperhatikan tingkah si Larva kuning dibalik televisi. Luhan langsung terbahak ketika kedua larva itu bertingkah konyol, "benar – benar mirip Sehun oppa. Ha – ha!" tawa Luhan keras. Ia bahkan sampai memukuli boneka Stitch nya karena saking gemasnya.

"aku harus membeli boneka larva. Aku ingin menunjukkannya pada oppa. Hi – hi, reaksinya bagaimana ya?" lanjut Luhan sambil tertawa kecil. Ia segera melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya, "astaga! Sudah pukul tujuh?!" pekik Luhan. Ia segera berkemas – kemas.

.

.

.

Seorang laki-laki sedang memperhatikan beberapa perhiasan didepannya. Mulai dari cincin, gelang, serta kalung. Tak lupa, gelang couple cartier tak luput dari pandangan Sehun. Ia menatap beberapa gelang itu beberapa kali. Menggaruk tengkuknya karena bingung harus memilih yang mana.

"pemisi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

Lelaki itu tersentak, "ah, begini. Aku ingin membelikan istri ku sebuah perhiasan. Tapi aku ingin perhiasan itu juga sama denganku" jawab lelaki itu sambil meringis. Ia bahkan menceplos kata 'istri' dengan lantangnya. Membuat beberapa pengunjung toko perhiasan serta kameramen yang mengikutinya langsung terkekeh.

"ah, begini. Kami memiliki beberapa gelang cartier yang mungkin cocok untuk anda serta istri anda. Ahn, ambilkan beberapa gelang cartier terbaru" ucap pemilik toko itu.

Tak lama, seorang pegawai bernama Ahn Saeri –Sehun melihat nama pegawai wanita itu dari dada sebelah kirinya. Tentu saja, pegawai wanita itu menjerit tertahan. Bagaimana kah rasamu bisa bertemu Oh Sehun secara langsung? Bahkan Ia terlihat sangat tampan jika dilihat langsung.

"ini, Tuan. Anda bisa melihatnya" lanjut sang pemilik toko sambil meletakkan beberapa gelang cartier yang berpasangan. Sehun dibuat memukau hanya karena melihat gelang cartier. Namun ada satu gelang yang membuat Sehun tertarik.

Gelang cartier yang berbeda ukuran. Yang Sehun pasti, satu untuk dirinya, dan satunya lagi untuk Luhan. Di gelang untuk wanita, terdapat ukiran nama 'S'. Dan di gelang untuk pria, terdapat ukiran nama 'L'. Ini suatu kebetulan—atau memang takdir? Sehun tersenyum manis ketika membayangkannya.

"aku ingin membeli ini" final Sehun menujuk gelang pilihannya. Sang pemilik toko itu mengangguk sambil tersenyum ramah. Membungkus nya sambil memberikannya pada Sehun. Lelaki tampan itu sontak menyerahkan kartu nya. Setelah selesai, Sehun mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi dari toko itu.

Langka Sehun terhenti ketika Ia melewati sebuah toko pakaian. Yang membuatnya tertarik adalah sebuah dress berwarna biru dongker dengan gambar stitch. Terlihat sangat menggemaskan. Apalagi kalau Luhan yang memakainya, pikir Sehun tersenyum.

Sehun langsung kedalam toko itu dan mengambilnya. Membayar dengan cepat dan keluar kembali. Tersenyum tampan sambil melihat kantong belanjaannya. Ia terkekeh geli membayangkan bagaimana reaksi Luhan ketika tau kalau Ia membelikannya ini.

Sehun melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 7.30. Ia segera mempercepat jalannya. Ia tak sabar melihat wajah Luhan yang memekik kesenangan karena dress lucu ini. Ia segera membuka kenop pintu kamar mereka. Menemukan Luhan yang sedang menata rapi pakaiannya. Sehun tersenyum tipis.

"eo? Kau sudah datang, oppa?" tanya Luhan mendongakkan kepalanya. Sehun tersenyum. Ia berjongkok, menyamakan posisi duduk Luhan di lantai. Ia menahan tangan Luhan yang ingin mengambil pakaian lainnya.

Gadis itu menyerngit bingung, "ada apa?" tanya Luhan. Sehun tak menggubris pertanyaan Luhan. Ia segera menarik Luhan untuk berdiri. Mengambil sebuah gelang cartier dan memasangkannya. Luhan melongo. Merutuki pipinya yang mungkin sudah merona. Ia memutar pergelangan lengannya. Memuji gelang yang sangat cantik itu.

"kau—membelikannya untukku, oppa?" tanya Luhan pelan. Sehun mengangguk. Ia segera mengeluarkan tangannya dari balik mantelnya. Memperlihatkan gelang miliknya pada gadis itu. Luhan menutup bibirnya. Ia tak menyangka kalau Sehun membelikannya gelang untuk pasangan –ehem.

"ah, ada satu lagi" kata Sehun membuat Luhan kembali menyerngit. Ia segera memperlihatkan kantong belanjaannya, menyuruh gadis itu membukanya. Luhan hanya bisa terdiam sambil membuka kantong belanjaan itu. Melihat isinya se—

"KYAAAA!" pekik Luhan histeris. Ia mengambil barang itu. Ya, sebuah dress selutut berwarna biru dongker bergambar stitch. Mencocokkan dengan tubuhnya. Tersenyum manis sambil mengucapkan terima kasih pada Sehun berkali-kali.

Sehun mengusak rambut blonde itu, "aku tau kau akan menyukainya. Sekarang pakailah. Kita akan ke Lotte World"

Luhan memiringkan kepalanya, "ke Lotte World? Memakai baju ini? Tapi nanti kita pasti akan bermain basah-basah an, oppa. Aku tak mau baju ini basah" tolak Luhan sambil merengek.

Sehun menahan senyumnya, "aku tau. Tapi aku ingin kau memakainya hari ini. Mengerti?" ujar Sehun memutarkan badan Luhan dan mendorongnya pelan menuju kamar mandi. Luhan mengerucutkan bibirnya namun tetap masuk kedalam kamar mandi untuk berganti baju.

Sambil menunggu Luhan, lelaki itu segera menata pakaiannya sendiri. Ia menolehkan kepalanya ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Tersenyum manis –antara kagum serta geli–. Pasalnya, dress itu membuat Luhan nampak seperti anak sekolah dasar. Tetapi dress itu juga cocok jika dipakai Luhan.

Sehun menghampiri gadis itu, menyelipkam beberapa helaian rambut yang menutupi wajah cantik Luhan. "kau—sungguh cantik" puji Sehun membuat Luhan merona. Mengucapkan terima kasih dengan malu – malu.

"kau sudah selesai menata pakaian mu sendiri?" tanya Sehun yang diangguki Luhan. Sehun memasangkan mantel milik Luhan tak lupa syal berwarna biru. Merapikan rambut Luhan dan mengecup kening gadis itu cepat.

Luhan tak bisa berkutik. Ia merona mendapat perlakuan manis dari Sehun. Oh ayolah, gadis mana yang tidak meleleh diperlakuan seorang Oh Sehun seperti ini? Gadis manapun pasti akan bertekuk lutut pada seorang Oh Sehun.

Sehun menarik hidung Luhan untuk menyadarkannya, "a – ah?" tanya Luhan linglung. Sehun tersenyum tipis, merangkul bahu sempit gadis itu sementara koper – koper nya dibawa oleh staff.

"kita akan bersenang – senang, sayang"

.

.

.

Luhan menatap kagum tempat rekreasi didepannya kini. Ya, mereka sedang berada di Lotte World, 240 Olympic-ro, Songpa-gu. Beberapa pengunjung mengabadikan moment mereka. Entah itu posisi Sehun yang memeluk Luhan dari belakang, Luhan – Sehun sedang bergandengan tangan, maupun Luhan yang memeluk lengan Sehun begitu manja.

Mungkin foto mereka besok akan penuh di seluruh sosial media.

Luhan bergidik ngeri melihat wahana yang bernama conquistador itu. Oh lihatlah kapal raksasa itu berombang-ambing. Luhan memeluk tangannya, merinding. Sehun memeluk gadis itu dari belakang. Menyembulkan kepalanya dibalik pundak sempit milik gadis blonde itu.

"kenapa tubuh mu bergetar? Ingin mencoba nya?" tawar Sehun tanpa basa – basi yang malah membuat Luhan berteriak protes. Sehun terkekeh, "takut, huh?" ejek Sehun. Luhan membulatkan matanya.

"t – tidak!" sergah Luhan cepat. Sehun menatap Luhan dari samping. Gadis itu langsung gelagapan dan membuang wajah mungilnya. Ia lebih memilih melihat conquistador maupun french revolution daripada harus melihat wajah Oh Sehun yang sialnya sangat tampan.

"hei, rusa. Kenapa tidak melihat ku, huh? Ah, aku tau. Kau pasti gugup kan bertatapan dengan lelaki tampan seperti ku, hm?" goda Sehun yang sangat sangat percaya diri dan Luhan tidak bisa mengelak itu. Sial, Oh Sehun tampan sekali, batin gadis itu miris.

"tidak! Siapa yang gugup?!" balas Luhan sambil memekik. Ia melepaskan tangan Sehun dari perutnya. Menyikut perut Sehun tanpa perasaan. Mengabaikan rintihan Sehun dan lebih memilih meninggalkan Sehun yang mulai memanggilnya.

KYAAAAA

Luhan berjengit kaget. Menoleh kearah wahana horror, Ghost House. Sekali lagi, gadis itu sangat takut dengan yang namanya hantu. Ia memundurkan badannya takut. Mundur. Mundur. Mundur. Tidak sampai—

HAP

"KYAAAA!" teriak Luhan ketika ada yang memeluknya dari belakang. Bibirnya mulai melengkung, bersiap menangis. Ia masih ingin hidup. Ia tak mau ketika menyadari kalau yang memeluknya ini adalah makhluk astral yang mungkin penggemarnya.

Apa hubungannya, sayang.

Mata Luhan berkaca-kaca. Bibirnya bergetar. Menahan tangis. Mengabaikan kekehan beberapa pengunjung yang menertawai tingkahnya. Hei, apa yang kau lakukan jika yang memeluk mu itu adalah hantu? Apa kau—

"hei, hei, sayang? Kau tak apa?", Luhan membelakkan matanya. Ia merasa familiar dengan suara ini. Tiba-tiba, tangan yang memeluknya itu membaliknya badannya. Lelaki itu terkejut ketika ada segenang air mata di mata Luhan.

"ya – ya! Kau kenapa? Kenapa kau menangis?!" panic lelaki itu sambil memeluk Luhan kedalam pelukan eratnya. Lelaki itu, Sehun mengusap punggung Luhan yang bergetar. Ia bertanya – tanya, kenapa gadis didepannya ini menangis. Apa Ia menakuti gadis itu?

"i – itu" tunjuk Luhan menggunakan telunjuknya yang bergetar. Sehun mengikuti arah jari gadis itu, menggumamkan kata 'ahh' seolah mengerti apa yang Luhan takutkan. Rupanya gadis itu takut mendengar teriakan pengunjung dari dalam Ghost House.

Pantas saja Luhan menangis, dia kan memang takut dengan wahana – wahana seperti itu, pikir Sehun. Ia mengangkat dagu Luhan. Mengusap air mata yang mengenang dan membasahi pipi lembut itu.

"aku akan melindungimu, Lu. Kau percaya padaku, kan?" tanya Sehun yang membuat Luhan mengangguk pelan. Biarpun masih sesegukan, Ia tetap menjawab 'ya'. Sehun menyiumi kedua kelopak mata Luhan dengan sayang, "kita bermain lagi, ya?"

Luhan mengangguk cepat, "he – em", segera Ia memeluk lengan lelaki disampingnya ini dengan erat. Bergelayut manja sambil sesekali merengek. Sehun tersenyum manis, sekaligus terkekeh geli melihat tingkah gadis ini.

"oppa, aku ingin menaiki conquistador. Tapi—aku takut" cicit Luhan sangat pelan namun masih bisa di dengar oleh Sehun. Ia terkekeh. Ia takut gadis-nya sangat takut dengan ketinggian. Namun, Ia masih saja mengelak.

Ah, apa yang barusan kau bilang, sayang?

"conquistador tidak se-mengerikan yang kau bagaikan, sayang. Aku akan melindungi mu" tenang Sehun sambil mengelus punggung tangan yang mengerat pada lengannya. Serasa Luhan lebih tenang, Ia segera menarik tangan gadis itu untuk mengantri.

Luhan tak bisa diam selama mengantri. Ia bahkan membalik badannya berkali – kali. Menggosokkan kedua tangannya. Meringis sendiri lalu menggeleng cepat. Sehun yang melihatnya hanya bisa menampakkan wajah datar.

"berhenti melakukan sesuatu yang bisa membuat pengunjung lain terganggu, Lu" ucap Sehun datar. Luhan tak mengubris peringatan Sehun padanya. Ia tetap saja tak bisa diam. Bukannya apa, Ia sangat takut. Jantungnya berdegup kencang ketika melihat wahana didepannya.

Luhan menggeleng kepalanya takut dan beralih menatap Sehun, "oppa, bisakah kita menunda saja? Aku—benar – benar takut" cicit Luhan. Sehun menatap gadia didepannya dengan tatapan datar.

Luhan melanjutkan kalimatnya, "aku—mohon. Aku benar – benar takut" gadis itu mulai menundukkan kepalanya. Sehun melunak, Ia mendekap tubuh mungil itu. Mengelus punggung halus itu dengan lembut.

"baiklah jika itu yang kau mau. Kajja, kita pergi" ajak Sehun sambil menarik tangan Luhan untuk keluar dari antrian yang begitu panjang itu. Lelaki tinggi itu segera duduk disebuah kursi dan diikuti oleh Luhan. Gadis itu langsung meringkuk kedalam dekapan hangat Sehun.

"maafkan aku, oppa. Aku tau kau ingin menaiki wahana itu. Aku jadi me—"

"stt, tak apa sayang. Aku mengerti. Suatu phobia memang tak bisa dipaksa. Apa akibatnya jika phobia mu muncul namun tetap dipaksa?"

Luhan menopang dagunya di dada Sehun, "terakhir itu saat aku dipaksa Yifan oppa menaiki bungee drop. Aku langsung pingsan dan trauma. Setelah itu, kesehatan ku menurun karena tak mau makan"

Sehun meringis, "untung saja aku tak memaksa mu. Ah, bukankah kita mencoba bungee jump kemarin? Kenapa kau baik – baik saja?"

Luhan mengedikan bahunya, "aku juga tak tau, oppa. Mungkin karena bersama mu?" goda Luhan sambil mengerling. Sehun terbahak. Menyentil kening gadis itu dengan pelan. Luhan mengerucutkan bibirnya namun tertawa setelah itu.

Luhan melihat disekelilingnya tanpa ada yang terlewat. Seketika mata nya berbinar ketika melihat kedai yang menyediakan berbagai snack khas Korea serta beberapa minuman. Luhan segera bangkit dan berbalik menatap Sehun yang terlihat bingung.

"aku mau membeli chocopie dan milkshake dulu, oppa. Oppa, ingin menitip sesuatu?" tanya Luhan membuat Sehun tersenyum puas. Ia memang daritadi sudah mengincar snack khas Korea.

"aku titip yangpa dan bubble tea choco" jawab Sehun.

"AYEYE KAPTEN!" teriak Luhan membuat gostur hormat. Sehun terkekeh geli. Melihat kepergian Luhan sambil menggelengkan kepalanya. Sepeninggal Luhan dan kameramen yang mengikuti mereka, tiba – tiba seseorang duduk disebelahnya. Sehun menoleh. Membulatkan matanya setelah itu.

Didepannya—Lee Hyeri, mantan kekasih nya waktu masih di SHS dan sekarang sudah menjadi salah satu member Girl's Day. Mantan yang sungguh Sehun lupakan. Memutuskan hubungan mereka dengan sepihak tanpa ada alasan yang logis.

Dan esoknya, Ia sudah mendengar kabar kalau Hyeri sudah mempunyai kekasih baru. Sehun marah waktu itu. Ia bahkan menonjok kekasih Hyeri hingga hampir sekarat. Dan Ia pun mendapat tamparan mulus dari gadis berambut hitam pekat tersebut.

"hai, Sehun-ie. Lama tak bertemu, kekasih tampan ku" sapa Hyeri tersenyum manis. Sehun mendengus sambil mempertahankan wajah datarnya. Ia benar – benar membenci gadis sok cantik didepannya kini.

"berhenti berbasa – basi, Hyeri-ssi. Apa mau mu?" tanya Sehun to the point. Ia begitu jengah ketika Hyeri dengan gaya sok manisnya menyapanya tadi. Apa tadi Ia bilang? Kekasih tampannya? Ha – ha, bahkan Ia sudah menyukai gadis bernama Luhan.

Ah, kau mengakuinya, sayang.

"mau ku, sayang? Oh, itu tak berat. Aku hanya ingin kau kembali padaku" jawab Sehun menyibakkan rok mini nya. Sengaja memancing Sehun yang memang pada dasarnya mudah bernafsu. Namun, Sehun tak akan bernafsu dengan gadis didepannya kini.

Sehun mendecih, "jangan harap, Hyeri-ssi. Aku tak mencintai mu, asal kau mau tau"

Sekarang Hyeri yang mendecih, "oh begitukah? Sayang sekali. Padahal kau dulu begitu mencintai ku. Aku sungguh menyesal melepaskan mu dulu, huh" sesalnya dengan nada yang dibuat – buat.

Oh ayolah, Sehun sungguh mual.

"sekarang, kau tinggal pergi dari hadapan ku, Hyeri-ssi. Gadis seperti kau memang harus dibinasakan" desis Sehun kembali membenarkan posisi nya seperti semula. Ia terus memperhatikan Luhan yang entah kenapa terlihat sangat cantik dengan balutan mantel coklat muda serta dress bergambar stitch tanpa lengan itu.

"aku mengerti sekarang. Kau menolakku karena menyukai Luhan" desis Hyeri.

Sehun terbahak, "jika kau sudah tau jawabannya, kenapa bertanya lagi?"

Hyeri mendecih lagi, "akan kupastikan Luhan menderita karena telah merebut yang seharusnya menjadi milikku"

Sehun menatap Hyeri nyalang, "berani kau menyentuhnya, kau akan berhadapan lang—"

"oppa? Hyeri sunbae?" suara baru membuat Sehun maupun Hyeri langsung menoleh. Menampakkan seorang gadis bersurai blonde sambil membawakan beberapa kantong. Tak lupa, Ia meminum hot milkshake choco miliknya dengan tangan kanannya.

"sayang" kata Sehun langsung menghampiri Luhan. Mendekap tubuh mungil itu dengan erat. Luhan dibuat kebingungan sekaligus malu. Dasar Oh Sehun tak tau tempat, disini masih ada Hyeri dan Sehun seenak jidatnya memeluknya?

"hai, Hyeri sunbae" sapa Luhan sopan. Hyeri tersenyum –dipaksakan. Ia merutuk serta mengumpat gadis blonde yang telah seenaknya mengambil sesuatu yang seharusnya adalah miliknya selamanya.

"kita pergi dari sini, Lu. Sudah sore. Kau tau kan kita akan menikmati sunset?" tanya Sehun mengalihkan pandangan Luhan. Gadis mungil itu langsung melihat jam di tangannya. Sudah pukul 04.00. Kenapa begitu cepat hari ini? Setau Luhan, Ia baru saja tiba di Lotte World ini.

"baiklah. Ah, Hyeri sunbae, aku dan Sehun oppa pergi dulu, nde? Senang bertemu denganmu" pamit Luhan membungkukkan badannya. Menarik Sehun lagi tanpa tau bahwa saat ini Hyeri sedang menatapnya dengan bengis.

"aku akan membuatnya kembali pada ku. Kita lihat saja Luhan, siapa yang akan mendapatkan Sehun"

.

.

.

"sudah sampai" ucap Sehun melihat sekeliling. Fyi, Luhan dan Sehun sedang berada di Naksan Beach, Yangyang, Gangwon-do. Sehun menolehkan kepalanya. Menggeleng pelan ketika melihat Luhan yang terpulas di sebelahnya. Segera Ia menggendong Luhan seperti koala dan berjalan di pasir putih yang halus serta indah itu.

Tanpa diduga, Luhan terusik dan mulai bangun dari tidur singkatnya. Ia mengucek matanya lucu sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Sehun yang merasakan pergerakan di gendongannya pun menoleh.

Sehun tersenyum tampan, "sudah bangun, putri tidur?" ejek Sehun.

"aku capek, oppa~" rengek Luhan menyembulkan kepalanya di balik pundak lebar Sehun. Ia menatap matahari yang mulai terbenam dengan indahnya. Luhan maupun Sehun pun terdiam, terlalu menikmati sunset yang begitu indah.

"begitu indah, bukan?" tanya Sehun yang mendapat anggukan cepat dari gadis di gendongannya. Sehun tersenyum. Ia mengangkat gendongannya yang mulai menurun. Menikmati setiap deru nafas lembut Luhan.

Suara Luhan, serasa melodi yang mengalun indah di telinga nya.

Mata Luhan, serasa bola kristal yang bersinar terang di mata nya.

Bibir Luhan, serasa narkoba yang paling mahal di dunia. Karena bibir itu membuat Sehun candu untuk tidak mencoba nya lagi.

Deru nafas Luhan, serasa bagaikan angin surga sekaligus deru nafas nyawa nya.

"aku mencintai mu, Lu"

"aku—juga mencintai mu, oppa"

.

.

.

TEBECE DEH

MAAF DEH UPDATE MALEM – MALEM BEGINI. NGARET BGT SUMPAH SOALNYA BESOK UDAH SIBUK KARNA ADA PELAJARAN TAMBAHAN SEMACAM PEMBELAJARAN SEBELUM UN.

DUH, KURANG SWEET YA? ADUH EMANG SAYA BUKAN ORANG YANG ROMANTIS.

TUH KAN CAPSLOCK SAYA JEBOL UGH.

MAAF YA KALAU BANYAK TYPO(S). GAK SEMPET BACA ULANG SAYA.

OH IYA, SAYA MAU BUAT FF CHANBAEK. BAGAIMANA MENURUT KALIAN? SARANNYA YHA.

REVIEW YANG BANYAK YA READERS?!

YANG REVIEW SEMOGA HIDUPNYA BERKAH. AMIN.

Sign by barbxpie!