Title : Uno Story's

Disclaimer : Grand Chase Indonesia dan juga milik KOG Korea. Cuman meminjam karakternya aja

Pairing : Rufus X OC (Maybe)?

Rating : T

Genre : Drama, dll

Warning : Tulisan Gaje, Typo dimana-mana,dll

Summary : Menceritakan tentang Awal mula lahirnya Uno. Akan diceritakan dengan lengkap disini!/Ga bisa bikin summary/Langsung baca aja ga usah ragu./

Chapter 4

.

.

.

"Baiklah. Kurasa kita bisa bekerja sama." Mereka saling berjabat tangan menandai kalau ada persetujuan.

"Kuharap kau tidak menyusahkanku nanti!" Kata Rufus dengan nada remeh.

"Seharusnya aku yang bilang begitu!" Kata Uno tak kalah sengit.

Mereka berdua akhirnya keluar dari bar dan memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan.

"Kita belum berkenalan sejak tadi."

"Perkenalkan namaku Rufus Wilde. Panggil saja Rufus. Kau?" Rufus menatap Uno.

"Uno. Itu namaku."

.

.

.

Mereka berdua melewati jalan terjal yang disekeliling mereka terdapat batu menjulang tinggi, tak lupa juga jurang yang ada disekeliling mereka.

Bagi mereka, tak ada masalah dengan jurang-jurang ini. Toh, lompatan mereka juga tinggi, tak ada masalah.

"Jadi...? Kau tau dimana mereka?" Uno memulai kembali pembicaraan mereka setelah lama berjalan.

"Banyak yang mengatakan kalau mereka ada diujung pulau Bermesiah!" Jawab Rufus tanpa menoleh kearah Uno.

"Ujung? Apa tempat itu Kastil milik Gaikoz?" Tanya Uno lumayan penasaran.

"Tidak!" Jawab Rufus tegas.

"Tempat itu adalah tempat yang ajaib, indah, sekaligus misterius." Lanjut Rufus kemudian.

"Apanya yang misterius?"

"Yah, tempat itu memilik kekuatan Magis yg luar biasa. Saking luar biasanya ada yg bilang kalau tempat itu adalah pintu Alternatif ke dimensi lain dunia ini," Jelas Rufus.

Uno termenung mendengarnya. Pasalnya dia sendiri awalnya berada dari dimensi lain dunia ini.

Brak!

Saat mereka berjalan sebuah suara menghentikan mereka. Sebuah makhluk aneh berwarna kuning besar dengan tubuh bagian bawah yang menyerupai lebah. Oh, ya jangan lupakan sayap kecil dipunggungnya.

Uno dan Rufus, keduanya langsung menyiapkan senjata terbaik mereka demi berjaga-jaga jika diserang. Mahkluk itu masih diam, walaupun Uno dan Rufus sudah bersiap untuk menyerang.

Syuut!

Mahkluk itu terbang dari tempat berdiri tadi. Ia terbang ke arah Rufus dan Uno. Mereka berdua pun bersiap-siap menyerang. Saat mau menyerang tiba-tiba...

Syuut!

Rupanya dia terbang kebawah. Otomatis mereka, melihat ke bawah. Dan menemukan mahkluk itu sedang membor batu raksasa tempat Uno dan Rufus berdiri.

"Sial..!" Decih Uno.

"Ayo cepat lompat, Rufus! Dia berniat menjatuhkan kita ke jurang ini!" Kata Uno memperingati.

Keduanya pun langsung melompat menghindari tempat tumpuan mereka yg akan segera jatuh karena dibor. Mereka masih berada di Batu raksasa yg lainnya, karena itulah tanah didaerah ini.

JDUM!

Runtuhnya suara batu tumpuan tadi masih terdengar jelas ditelinga mereka berdua saat ini. Rufus & Uno memang bersiap menyerangnya, namun lagi-lagi Makhluk itu terbang ke bagian bawah batu tumpuan mereka, dan mengebornya lagi.

"Kita tidak bisa menghindarinya terus. Aku akan melawannya!" Kata Uno sambil menoleh kearah Rufus. Rufus hanya mengangguk menjawabnya.

Ia (Baca: Uno) sengaja menjatuhkan dirinya.

"Hyatt!" Teriaknya sambil langsung memotong

SLAASSHH!

Tangan kiri makhluk itu berhasil ditebas Uno dalam sekejap. Uno menancapkan pedangnya ditebing lain agar tidak jatuh ke jurang.

"Heh?! Sudah mati kah, Dia?" Gumamnya pelan sambil melihat kearah belakang.

Ternyata Makhluk itu tidak mati walaupun sudah kehilangan satu tangan. Kemudian ia mengarahkan tubuh Bor-nya ke arah Uno yang masih bergelantungan ditebing.

Saat sudah mendekat...

Dor! Dor! Dor!

Suara tembakan mengalihkan perhatian Uno yg sedang tertuju pada Makhluk yg mau menyerangnya.

"Mati!" Kata Rufus datar setelah menembak barusan.

Setelah menembak terjadi keanehan pada makhluk aneh itu. Api biru mulai membakar semua bagian tubuhnya sampai hangus.

"Kwaaakk.." Teriak makhluk aneh itu kesakitan akhirnya terbakar habis dia.

"Api biru?" Gumam Uno.

"Butuh bantuan?" Tanya Rufus sambil mengulurkan tangannya kepada Uno.

Tanpa babibu, Uno langsung menerima uluran tangan Rufus. Mereka berdua berhasil sampai selamat diatas tebing.

"Terima kasih." Ucap Uno pelan.

Rufus mengangguk pelan menjawabnya. "Ayo kita lanjutkan kembali perjalanannya!" Perintah Rufus singkat.

Yah, itulah cerita singkat pertualangan mereka di Gorge of Oarth.

.

.

.

*Malam Hari*

Suasana malam yang cukup tenang. Kebanyakan orang ataupun hewan yang melakukan aktivitasnya disiang hari selain karena siang hari panas, orang juga lebih nyaman terkena sinar matahari daripada sinar bulan dimalam hari.

Demikian juga kedua tokoh kita dicerita ini, yang lebih memilih mengistirahatkan dirinya dimalam yg tenang begini. Mereka berdua sedang duduk berhadapan dengan api unggun yg berada ditengah mereka.

"Katakan kepadaku!" Kata Rufus datar. Uno menoleh terhadapnya.

"Apa tujuanmu sebenarnya mencari mereka?" Kata Rufus kemudian.

Uno menghela nafas pelan. "Aku tidak tau..." Jawabnya pelan. Uno melempar ranting pohon kedalam api unggun agar tetap hidup.

"Kau tidak tau, eh?" Ujar Rufus tanpa menoleh sedikitpun.

"Bagaimana mungkin?"

Uno kembali menerawang hidupnya. Dia kebingungan. Baginya dia sudah tak mempunyai tujuan hidup setelah kehilangan Reina. Fakta yg berkata kalau ia ingin balas dendam terhadap Sieghart, sudah tak penting lagi. Yang terpenting sekarang adalah ia berkelana mencari Twelve Disciples hanyalah untuk mencari jawaban.

"Pada awalnya, aku memang berencana membunuh Sieghart! Seiring berjalannya waktu, rasa balas dendam itu seolah hilang dengan sendirinya." ngaku Uno jujur.

Rufus hanya diam mendengarkan sambil melempar ranting pohon kedalam Api unggun.

"Aku bahkan tidak tau untuk apa aku ini diciptakan pada awalnya. Yang kuingat para Pejuang Highlander terdahulu ingin membalaskan dendamnya kepada Sieghart."

"Jadi... Rasa ingin membunuhmu bukan berasal dari dalam hatimu, tetapi dari leluhurmu?" Ucap Rufus to the point. Uno hanya mengangguk pelan.

"Aku hanya punya satu solusi untukmu..." Ucap Rufus sambil berdiri dari tempatnya.

"Hiduplah bebas sesuai keinginan lubuk hatimu, bukan karena rasa beban yang diturunkan kepadamu." Kata Rufus kemudian. Uno termenung mendengarnya.

"Karena jika kau hidup menurut rasa bebanmu, maka hal itulah yg akan menyiksamu dikemudian hari. Sudah, aku mau tidur dulu!" Ucap Rufus sambil berjalan menjauhi Uno untuk beristirahat.

Sementara Uno sendiri masih bertanya-tanya, "Apakah salah yg kulakukan selama ini?" Batinnya.

Akhirnya, Uno juga memutuskan untuk beristirahat. Namun... Ketika sedang berjalan ada seorang yg langsung menyerangnya dari belakang.

Cring!

Refleks Uno langsung melindungi dirinya dengan punggung pedang. Ia kemudian melihat siapa yg menyerangnya dimalam hari ini dengan pandangan tajam dan menusuk.

"Siapa kau?" Tanya Uno tajam.

Sang pelaku hanya menyeringai, "Namaku Dio, dan aku ingin bergabung denganmu!"

.

.

Apa maksudnya ini?

.

.

TBC


Author Curhat:

Weehhh... akhirnya selese juga nih chapter yg ga jelas ini. Sumpah nih chapter parah banget! Udah ceritanya dikit, ga nyambung, ga jelas pula. Gw udah kehabisan ide nih untuk pembuatan ceritanya. Maaf juga kalau nih chapter terbitnya lama banget. Pasti udah nungguin kan? Gw banyak ulangan dan tugas disekolah jadi tak bisa menyelesaikan nih cerita secepatnya. Mohon dimaklumi!

Moga-moga para readers senang ama nih chap lah! Ga senang juga ga apa-apa#Plaakk

Btw, gw mau nanya bentar nih enaknya Uno mau dipairing sama siapa dengan character di Grand Chase

Gw punya beberapa opsi:

1. Uno X Edel (Sama-sama karakter baru)

2. Uno X Lime (Sifat Lime hampir sama dengan Reina di Fic ini)

3. Uno X Arme (Badannya kecil, mengingatkan Uno pada Reina)

4. Menurut Anda?

Silahkan memilih opsi gw diatas, tapi kalau mau memilih yg lain sih juga tak masalah.

Masukkan saja di Review ato PM (Private Message) *Terserah anda

Nick NAGC saya = "Ryuukens" Add aja jika mau!

.

.

.

+Review Please+