Foolish human.
(Ya, manusia dulu berimajinasi, membuat suatu kisah fantasi, mengenai pertempuran antara dua planet. Dua planet itu tentu saja mengikutsertakan Bumi sebagai planet utamanya. Dan planet lain yang berjarak dekat dengan Bumi.)
Dan kini mereka mengalaminya sendiri.
Bumi diambang pertempuran besar.
Dan semuanya tidak seperti yang ada dibayangan para manusia.
Mereka menderita, mereka menangis, mereka kehilangan nyawa.
Berbeda dengan apa yang mereka harapkan.
(Harapan bahwa Bumi akan menang besar dalam pertempuran.)
"Aku ingin kau membawa pulang orang itu—karena jika tidak, akan ada yang aku hukum mati."
Penguins of Madagascar © Nickelodeon and DreamWorks
E-SHEET
A Penguins of Madagascar fic by NakamaLuna
All the story written in this document—all ideas—all the sentences—belong to me.
Rated: T
Genre: Mecha/Angst/Tragedy/Suspense/Sci-fi #bujugh
Warning: Alternate Universe, Out of Character, humanized version, slash, gaje, also… DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter Four:
Introducing, Julien
Happy reading! X)
(—his order is inescapable. )
"Pagi, Marlene."
Sesosok wanita berambut gelombang mengangguk kecil sambil menyunggingkan senyum. Marlene, wanita cantik dengan umur yang sudah memasuki kepala dua itu nampak ceria seperti biasa. Ia membuka mulutnya untuk membalas sapaan. "Pagi juga Skipper."
Skipper—pria berambut hitam berantakan itu—menatap Marlene yang tengah membalutkan syal di lehernya sendiri. Sesaat Skipper memasang ekspresi heran, tidak biasanya. "Tumben kau berpakaian seperti itu, kau ingin pergi ya?"
"Eheh," Marlene tertawa pelan. Ia kemudian memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya. "Mau bertemu teman lama. Hm—ini 'kan pertama kalinya aku bisa pergi keluar. Kowalski dan beberapa ilmuwan lain mau menggantikanku sementara aku pergi. Jadi kupikir, kenapa tidak?"
"Jangan-jangan mau kencan?"
Marlene sukses mendelik tajam kepada Private yang baru saja datang. "Maksudmu?" Ia bergumam, intonasi nadanya terdengar tidak enak.
Pria british itu kemudian meneguk ludahnya. "E-eh, bukan ya?" Ia bergumam panik lalu menunduk sedikit.
"Bukan! Mana mungkin-lah. Hanya mau reuni saja kok. Lagipula, dia banyak sekali membantu aku dalam mengembangkan E-Sheet. Ide-idenya itu loh, menarik." Marlene membantah cepat, sesaat kemudian ekspresi wajahnya berubah ceria kembali.
Skipper memperhatikan Marlene yang tengah berbicara dengan wajah riang. Kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu membuatnya melebarkan sedikit mata. "Marlene, boleh aku ikut denganmu?"
Marlene sukses menengok kepada Skipper. "Untuk apa?"
Skipper tersenyum. "Kau tahu 'kan? Aku ini salah satu pilot E-Sheet. Jadi, kalau kau ingin bertemu dengan temanmu itu untuk membicarakan rancangan E-Sheet, mungkin aku bisa membantu."
"Benar juga…" Marlene terlihat berpikir, ia kemudian memandang Private. "Kalau begitu, Private ikut saja ya." Ia kemudian menggenggam tangan Private.
"Eh? Tidak ganggu nih?" Pria british itu meletakkan tangannya yang bebas ke belakang kepala.
"Tidak kok!" Marlene tersenyum riang. "Pakai baju yang sekarang kau pakai tidak apa-apa, tempatnya biasa-biasa saja kok. Tidak terlalu jauh dari sini pula." Wanita cantik itu mengedipkan sebelah matanya, ia kemudian menarik bahu Private, menyeret sang pria british agar mengikuti kemana langkah yang ia tuju.
Sementara Skipper berada di belakang mereka, berjalan pelan untuk mengikuti.
~xo-0-ox~
Sebuah Bugatti Veyron Super Sport dengan warna abu-abu nampak menjadi sasaran perhatian mata Private. Ini pertama kalinya ia melihat mobil semahal itu—dengan desain yang nampak sangat keren dan—apa itu disebutnya? Minimalis. Yah—terlepas dari sebuah mobil sport milik Skipper yang waktu dulu ia naiki, pasti mobil ini... jauh lebih mahal lagi.
Warna cat yang menyelimuti sang mobil tidaklah pekat—namun sang pemberi warna pintar sekali memilih bahan untuk membuat kilap sang mobil. Dan, itu hanya tampak luar, bagian dalam sang mobil benar-benar membuat mulut Private menganga. Abaikan semua mobil mewah yang sering Private tonton dalam acara 'Pimp My Ride', sepertinya sang Bugatti ini sudah dimodifikasi lagi. Bahkan mobil Sport milik Skipper kalah.
Tidak aneh—sih.
'Kan mereka ada di—
—Markas Pusat Sandrone.
"Well, tidak ada mobil lain." Marlene menyunggingkan senyum rasa bersalah melihat ekspresi Private. "Terlalu nge-jreng ya? Ahaha, padahal tempatnya dekat."
"Kau yang menyetir, Marlene?" Skipper menaikkan alisnya. Ekspresi wajahnya tetap sama—tetap dihiasi topeng stoic yang nampak selalu melekat pada wajah pria itu. Sama sekali tidak ada rasa terkejut—ataupun tertarik kepada sang mobil. Mungkin diam-diam berpikir bahwa mobilnya lebih keren.
"Ya aku yang menyetir. Siapa yang mau di depan?" Marlene menggerakkan sedikit tangannya yang menggenggam kunci mobil sang Bugatti.
Mata biru azure itu melebar ketika mendengar ucapan Marlene. Namun Private tersadar bahwa mereka tidak berdua. Cepat-cepat ia menengok ke arah Skipper. "Eh, jadi Skipper saj—"
"Tidak. Kau saja. Ekspresi wajahmu terlihat ingin." Skipper memutus perkataan Private dan segera membuka pintu mobil belakang Bugatti tersebut.
Sungguh... beruntung.
Lengkungan nampak terlihat di kedua sudut bibir Private. Menampakkan senyum yang cerah dan polos. "Aku suka melihat pemandangan." Jelasnya kemudian memasuki sang mobil. 'Wah, jok-nya empuk.' batin Private riang.
"Tidak begitu jauh sih. Sekitar setengah jam dari sini. Tapi nikmati saja perjalanan ini ya." Marlene tersenyum sambil menurunkan kacamata hitamnya—tepat menutupi iris kecoklatan yang ia miliki.
Skipper dan Private mengangguk.
-o~xxx000xxx~o-
Sang Bugatti mulai berjalan, mengitari pekarangan markas pusat Sandrone, untuk sampai tepat di pintu gerbang utama. Mereka berangkat pagi sekali, berusaha menghindari rush hour yang akan terjadi di kota New York jika terlambat sedikit saja.
Senyuman terlihat jelas di wajah Private. Anak laki-laki berambut pirang itu seolah-olah mempersiapkan dirinya untuk melalui petualangan baru. Sedari tadi, pupil matanya membesar dan mengecil melihat pemandangan disekitarnya.
Bagi wanita yang sudah lama tinggal di New York seperti Marlene, tidak susah baginya mencari jalan-jalan kecil yang tidak banyak dilalui orang. Dan karena itulah, ia membawa Bugatti tersebut melewati jalan yang jarang dilalui mobil.
Markas mereka terletak di Lower Manhattan, daerah paling selatan kota Manhattan, pulau utama dan pusat pemerintahan City of New York. Pemukiman seperti Meatpacking district, sangat dekat dengan markas mereka. Dan sepertinya sekarang mereka akan mengunjungi salah satu restoran yang terletak di Midtown Manhattan.
Mata biru azure itu tampak sedikit membesar ketika mereka melewati perkampungan China kecil—Chinatown—ini pertama kalinya Private bertemu dengan orang-orang Asia ras mata sipit tersebut. Sepertinya, orang-orang Asia benar-benar memiliki senyum ramah.
Nampak mobil yang mereka naiki saat ini melewati 14th Street, dan Private dapat melihat bangunan-bangunan seperti Lower Chelsea, dan Union Square. Mereka masih berada di Lower Manhattan, sedikit lagi akan mencapai Midtown.
Private mengetahui bahwa mereka telah memasuki Midtown ketika melihat bangunan-bangunan tinggi menjulang di depan matanya. Tidak lama, matanya kemudian dimanjakan dengan pemandangan zona komersial terkenal dunia, Rockefeller Center, Times Square, dan Broadway. Ia sedikit bergumam terkagum-kagum ketika melewatinya—maklum, ia jarang mengelilingi kota New York.
Sekarang mobil mereka melewati Central Park. Private tersenyum memandang orang-orang yang tengah berlalu lalang di jalanan khusus pejalan kaki. Wajah mereka semua sangat unik.
Ada yang menampakkan ekspresi terburu-buru, ada yang sedang menatap ingin pada sebuah kaca butik besar yang menampilkan busana terbaru, ada yang tengah berlari kecil dengan anjing peliharaannya. Maupun segerombolan anak-anak yang tengah berkejaran di pusat Central Park—memainkan salju yang semalam telah jatuh menghiasi bumi.
Tatapan Private kini beralih kepada sebuah kebun binatang, kebun binatang yang berada di daerah Central Park, Central Park Zoo. Kebun Binatang dengan lonceng yang diapit oleh dua monyet yang berada di pintu masuk, ditambah dengan jam yang berada di bawah pigura lonceng tersebut. Kebun binatang itu mempunyai berbagai binatang unik—oh, kalau tidak salah Private pernah mendengar ada seekor singa dengan popularitasnya yang sangat terkenal di New York City ini. Namanya kalau tidak salah—Alex?
Sang Bugatti Veyron kini nampak berhenti, mengingat lampu merah tengah menghadang perjalanan mereka. Terlihat seorang polisi lengkap dengan seragamnya dan mantelnya tengah mengatur arus lalu lintas.
Private kini mengintip lagi—mengintip beragam aktivitas yang tengah dikerjakan oleh penduduk kota New York. Bisa kita lihat di persimpangan jalan, ada seorang wanita yang tengah berkutat dengan headphonenya, mengunyah permen karet sambil menunggu bis datang. Di belakang wanita itu, ada seorang pria yang tengah membaca secarik kertas sekaligus menggenggam segelas kopi hangat yang ada di balik gelas plastik.
Kalau kita alihkan pandangan ke seberang—dimana salju masih sedikit menumpuk di celah-celah pembatas jalan, ada dua orang wanita yang tengah berbicara sambil berdiri di depan sebuah butik—tidak lama kemudian, kedua wanita itu memasuki butik tersebut.
Lebih ke kiri sedikit. Di dekat sebuah pintu jati berwarna hijau tua dengan sedikit goresan sana-sini, dengan pelena kuda sebagai penghias pintu rumah itu—yang berfungsi sebagai ketukan pintu, di dekat tangganya, ada seorang anak dengan rompi acak-acakan dan topi wol di kepalanya, memainkan biola dengan lembutnya. Lalu, pria tua melewati sang anak sambil memberi tip kecil—yang tentu dibalas dengan senyuman hangat.
Dan kalau melihat ke persimpangan dekat dimana lampu merah berdiri, disana ada sebuah spanduk—dengan gambar seorang pria dengan burger di tangannya—mempromosikan sebuah restoran.
Tidak terasa, cahaya merah yang tadi menghentikan perjalanan mereka telah tergantikan dengan sinar hijau yang menandakan mereka boleh jalan. Marlene segera menjalankan sang Bugati dengan perlahan. Private hanya meninggalkan senyum—untuk pemandangan yang telah ia lihat tadi.
"Apa... kita akan melewati Plaza District?" Private bergumam, pandangannya ia alihkan kepada Marlene yang tengah menyetir.
"Oho. Kau tahu juga tentang daerah termahal dalam Real Estate Manhattan di Midtown ini, Nak. Sayang sekali kita tidak melewatinya." Marlene bergumam tersenyum, matanya terus memperhatikan jalan.
Private mengangguk, sedikit kecewa namun ia menyemangati dirinya bahwa suatu saat nanti ia akan dapat melihat langsung Plaza District, menginjakkan kaki di sana, bukan hanya sekadar melewatinya saja.
Marlene membelokkan mobilnya kembali. Kali ini, Private tersenyum lebar ketika melihat orang berlalu lalang untuk turun ke dalam sebuah stasiun bawah tanah yang terletak di daerah tersebut.
Tidak begitu lama perjalanan mereka, Bugati Veyron itu kemudian berhenti, di salah satu parkiran yang ada dalam sebuah restoran junkfood. Marlene melepas kacamata hitamnya, wanita itu kemudian menengok kepada Skipper dan Private sambil tersenyum. "Sudah sampai."
Mereka bertiga segera turun dari mobil ketika mendengar perkataan Marlene tersebut. Private merapatkan jaket cokelat yang melekat pada tubuhnya, ia kemudian menatap kepada restoran yang ada di depannya itu.
Nama sang restoran mengingatkan Private akan spanduk yang tadi ia lalui di jalanan kota New York.
"Ayo, masuk."
Marlene membuka pintu restoran tersebut, sementara Skipper dan Private mengikuti langkah Marlene dengan sedikit ekspresi bertanya di wajah mereka. Bertanya-tanya tentang rupa orang yang akan Marlene temui.
Tampan-kah?
Cantik-kah?
Namun begitu mereka memasuki restoran itu, Marlene mengambil salah satu tempat kosong yang membelakangi pintu masuk. Ia kemudian menyuruh mereka berdua agar segera duduk."Mau pesan apa? Aku traktir." Wanita tersebut berucap pelan, ia kemudian mengeluarkan handphone dari tasnya.
"Uum, Marlene. Di mana temanmu itu?" Private bertanya, melihat keadaan restoran masih sepi, dan yang terlihat hanyalah salah satu pengunjung yang tengah membaca koran sambil terkantuk-kantuk.
"Oh. Belum datang. Kurasa sebentar lagi. Tadi kita berangkat duluan untuk menghindari rush hour NY." Marlene memperhatikan jam tangannya. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada seorang pelayan wanita yang tengah berjalan ke arahnya. "Nah, mau pesan apa? Aku kopi."
"Sama." Skipper bergumam pelan, kemudian melirik sedikit ke Private yang duduk disebelahnya.
"Aku… cokelat hangat saja." Private segera menyebutkan pesanannya.
Pelayan tersebut segera mencatat pesanan mereka. Sambil tersenyum ramah, ia kemudian menundukkan kepalanya sedikit dan mohon pamit untuk segera membuat pesanan mereka.
"Jadi, yang akan kau temui itu, pria atau wanita, Marlene?" Private menatap Marlene, wajahnya penuh dengan rasa ingin tahu. Kepalanya ia topang dengan tangan yang menempel kepada meja restoran.
Marlene mengerlingkan matanya ke langit-langit, berusaha menghindari tatapan mata Private yang nampak antusias. "Eh, pria sih."
Private tersenyum lebar. "Wah, jangan-jangan benar kau mau—"
"Enak saja." Marlene memutus perkataan Private. "Kami itu teman. Dia salah satu korban dari penyerangan Lotem. Aku pertama kali bertemu dengannya seusai pertempuran pertama Skipper dengan Lotem."
"Oh... oke." Private mengangguk. Ia kemudian sedikit melirik lengan jaketnya yang tadi pagi terkena obat merah—bekas untuk mengobati lukanya yang tiba-tiba saja terbuka. "Uum, aku ingin pergi ke toilet dulu, boleh?"
"Tentu." Marlene mengangguk, dan Skipper hanya terlihat menopang dagunya memandang ke luar jendela.
Private buru-buru melangkahkan kakinya, ia mendapati bahwa toilet restoran tersebut kosong. Dengan segera ia melipat jaketnya, dan memperhatikan bahwa lukanya telah mengering. Private kemudian sedikit mencuci bagian jaket yang terkena obat merah, berusaha memudarkan warnanya.
Ia tersenyum begitu mengetahui bahwa warna obat merah tersebut dapat tersamarkan. Private segera mengenakan jaketnya kembali, ia bersiap untuk kembali ke tempat Marlene dan Skipper namun tiba-tiba saja ponselnya berbunyi nyaring.
Incoming call from unknown numbers—
Private sedikit mengerutkan kening.
Tumben sekali ada nomor orang tidak dikenal meneleponnya. Apa para wartawan telah menemukan nomor ponselnya, sehingga ada yang meneleponnya seperti ini? Tunggu, seingatnya identitasnya sebagai pilot E-Sheet sudah disamarkan walau fotonya sudah menyebar. Tidak ada juga yang membocorkan data pribadi dirinya.
Jadi?
Dengan sedikit ragu, Private akhirnya mengangkat telepon itu.
"Ha-halo?"
Hening.
Namun ada sedikit suara berisik yang tercipta.
Private mengerutkan alis, ia semakin mendekatkan telinganya kepada ponselnya.
/"Aku tahu... –pss.. –pss..."/
Private merasakan ada suara samar-samar terdengar, dan tidak lama menjadi jelas.
/"Aku tahu... identitasmu yang sebenarnya."/
Dheg.
"A-apa maksudnya?" Private bergumam, mempererat pegangan kepada ponselnya.
/"Aku tahu kau siapa—"/
..
.
"Oh, kau sudah kembali." Marlene bergumam ketika melihat Private yang mendekati meja mereka.
Skipper sedikit melirik Private yang sudah kembali duduk di sebelahnya, ia kemudian membuka mulutnya begitu melihat ekspresi anak tersebut. "Ada apa? Wajahmu pucat."
"Ah." Private menatap Skipper, sekilas memang wajah anak tersebut pucat bukan main, namun Private segera tersenyum. "Tidak ada apa-apa."
Baik Marlene dan Skipper memutuskan untuk diam.
Wanita cantik berambut cokelat kemerahan itu kemudian mengubah ekspresi wajahnya, sedikit mengangkat tangannya ketika melihat ada seseorang masuk ke dalam restoran di mana mereka berada sekarang. "Di sini! Sebelah sini!"
Pasti itu.
Skipper dan Private memutuskan untuk tidak menengok ke belakang, mengingat posisi bangku di mana mereka duduk sekarang itu membelakangi pintu masuk restoran—yang otomatis mereka tidak bisa melihat langsung teman Marlene karena memunggunginya.
Mereka akhirnya hanya menunggu.
Menunggu sampai di mana orang yang akan ditemui Marlene itu menampakkan dirinya dengan melangkahkan kaki ke tempat di mana mereka duduk sekarang.
Tap.
Mantel cokelat dengan bulu melekat di badannya. Sebuah kaus dengan corak hitam, menghiasi bagian dalam tubuhnya—mengingat ia tidak memasang kancing mantel. Celana jeans biru kehitaman nampak terpasang di kakinya, tepat sampai bawah, menyentuh sepatu kets yang ia pakai.
Warna matanya biru kelam, indigo. Senyumannya mengintimidasi—susah untuk dijelaskan. Rambutnya hitam. Panjang. Dikuncir ke bawah—menyamping.
"Akhirnya kau datang." Marlene menyunggingkan senyum seraya menggeser tempat duduk di sampingnya—mempersilahkan temannya untuk duduk.
Iris merah marun bertemu dengan iris biru kelam.
Sang merah marun membelalak kecil melihat sosok di hadapannya. Tapi ekspresi keterkejutannya ditahan begitu saja.
Nampak sang pemilik iris biru kelam hanya terus menyunggingkan senyum tanpa arti miliknya.
"Nah, ini Private, pilot kedua dari E-Sheet PLS48-69." Marlene memperkenalkan Private terlebih dahulu kepada temannya. Private mengangguk kecil ketika Marlene menunjuk dirinya. "Dan yang itu—"
"Skipper." Tanpa sadar, bibir dari pria berambut hitam panjang itu bergumam sendiri. Menyebutkan nama—kode nama, yang sudah ia hafal diluar kepala. "Sudah… lama, ya?"
"Julien…" Skipper mendelik tajam, menopang dagunya sambil menatap pria di seberangnya itu.
Namanya Julien—pria yang ditemui mereka sekarang itu.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanpa sadar, Marlene dan Private bergumam.
"Oh, itu sudah lama Marlene." Julien tertawa sedikit sambil menatap Marlene disebelahnya. "Dulu, sewaktu aku dan dia ber—"
"Kami pernah bertemu. Hanya itu." Skipper bergumam tiba-tiba. Ia kemudian menutup kelopak matanya, tangannya bergerak untuk mengambil pesanan yang baru saja dibawakan pelayan.
"Hm…" Julien bergumam pelan—terus memasang senyum tanpa artinya itu, sambil memandang kepada Skipper. Ia kemudian beralih kepada pelayan yang akan pergi sambil membawa nampan. "Tolong, orange juice-nya satu."
Sang pelayan mengangguk sambil tersenyum.
"Di-dingin begini. Kau pesan orange juice?" Terdengar suara Private dan tatapan heran terpampang di wajah pria british itu.
"Julien suka buah. Tidak peduli dingin atau tidak."
Pertanyaan Private dijawab dengan suara parau dari pria di sebelahnya—Skipper. "Oh, begitu." Private mengangguk pelan sambil memperhatikan cokelat panas yang berada di cangkir yang ia genggam.
"Ooh, jadi kau masih ingat jelas ya?" Julien menopang dagunya, iris biru kelamnya menatap Skipper dengan penuh selidik. Tatapannya kemudian beralih kepada wanita cantik di sebelahnya. "Oh ya, Marlene. Kau mau membicarakan E-Sheet 'kan?"
Plik.
Iris mata merah marun itu sukses mendelik tajam mendengar perkataan Julien.
Marlene tersadar akan tujuannya kemari dan buru-buru menepuk kedua tangannya. "Eh, iya sih. Tapi aku ingin membicarakan yang lain lagi. Pasti kalian sudah mendengar, 'Oderon'?"
"Ah. Ya, aku pernah mendengarnya. Giant robot—lebih kecil sih daripada E-Sheet—yang belum kalian keluarkan itu 'kan?" Julien menjawab.
Marlene mengangguk pelan mendengar suara Julien. "Walau kekuatan penghancurnya tidak sebesar E-Sheet, tapi Oderon cukup membantu untuk mengalahkan Lotem. Jadi, misal—" wanita berambut gelombang itu mendecak kecil. "—kalau semua pilot E-Sheet sedang tidak bisa bertugas, kita bisa memakai Oderon sebagai pengganti E-Sheet. Walau Oderon mempunyai tubuh yang lebih kecil, kami merancang misilnya agar setara dengan kekuatan misil E-Sheet. Singkatnya, tiga Oderon cukup untuk mengalahkan satu Lotem."
Tiga Oderon, cukup untuk mengalahkan satu Lotem.
"Jadi," Skipper meletakkan cangkirnya. "Kau kemungkinan akan merekrut pilot baru lagi untuk Oderon?"
"Tidak Skipper." Marlene menyunggingkan senyum lebar. "Oderon tidak dijalankan oleh seorang pilot—Oderon dijalankan oleh program komputer, sama seperti Lotem."
Ketiga pria itu terkejut.
"Itu berarti Oderon sama saja dengan Lotem bertubuh mini. Bedanya—Oderon dibuat untuk menghancurkan Lotem itu sendiri?" Skipper menyimpulkan.
"Dan kalian tahu?" Senyum yang tersungging di wajah Marlene makin melebar. "Oderon sudah diproduksi dalam jumlah yang sangat besar—bisa ratusan, bahkan ribuan. Aku yakin, bumi akan memenangkan pertempuran ini."
Julien menatap Marlene, iris biru kelam miliknya menilik kepada setiap bagian wajah wanita itu. "Kau lucu, Marlene. Kalaupun Oderon sudah diproduksi dalam jumlah besar, kita tidak tahu kekuatan planet Hell itu sendiri seperti apa. Bisa saja, Lotem langsung menyerang Oderon sebelum Oderon itu sendiri menyerang Lotem. Kalau Oderon berkurang, otomatis peluang Lotem untuk menang lebih besar."
"Masalahnya begini," Kali ini giliran Skipper yang berbicara. "Kalau Lotem saja hanya bisa dihancurkan oleh satu E-Sheet, bagaimana nasib Oderon? Sebelum tiga Oderon dapat menyerang Lotem, bisa saja ketiga Oderon itu malah terlebih dahulu hancur terkena serangan Lotem."
"Memang sih." Marlene mengaduk-aduk kopinya, mata cokelat yang ia miliki memandang lurus kepada cairan hitam di cangkir kopinya. Cairan hitam itu terus memutar, seiring dengan bertambahnya kecepatan yang Marlene buat. Dan pada saat Marlene menghentikan gerakannya, cairan itu menabrak—seakan menabrakkan diri satu sama lain. "Dan itu dia." Seringai tampak terpampang jelas di wajah Marlene.
Julien, Skipper dan Private sukses menatap Marlene ketika wanita itu tiba-tiba menggumamkan sesuatu.
"Bagaimana kalau kita ubah sistem kerja Oderon? Saat ini sudah ada dua belas E-Sheet di muka bumi. Tiga berada di Amerika, empat berada di kawasan Asia, ada dua yang bertugas di Afrika. Sementara tiga lagi ada di Eropa. Yang sudah ada pilotnya baru 3, sisanya nanti akan kucoba hubungi cabang Asia, Eropa, dan Afrika."
"Apa yang sebenarnya ingin kau ucapkan, Marlene?" Julien bertanya, namun pandangannya teralihkan kepada pelayan yang mengantarkan orange juice pesanannya.
"Mengingat banyaknya jumlah Oderon yang kami produksi—bagaimana kalau kita ganti sebagian tugas mereka? Akan ada Oderon yang menghancurkan Lotem, namun ada juga Oderon yang menjadi umpan." Marlene menjawab.
"Umpan?"
"Serang Lotem dengan Oderon—ketika sang Lotem terus-terusan mengejar Oderon, disaat itulah, ketika perhatian Lotem tertuju sepenuhnya kepada Oderon, E-Sheet akan langsung menghabisi mereka." Julien berkata seraya menutup matanya. "Dengan jumlah Oderon, dan Lotem yang amat banyak—tidak dapat dipungkiri nanti akan terjadi hujan tabrakan antara Lotem dengan Oderon—itu pun kalau Planet Hell mengirimkan Lotem dengan jumlah yang banyak. Singkatnya, Oderon adalah sebuah umpan yang diturunkan E-Sheet untuk menarik perhatian Lotem."
"Itu yang kumaksud!" Marlene menepuk tangannya sambil tersenyum kagum ke arah Julien. Nampak sedikit terpana ketika Julien bisa menyimpulkan maksud perkataannya.
"Berarti, Oderon bisa menjadi pelindung E-Sheet juga ya?" Private bertanya seraya memandang kepada Marlene.
"Tentu. Peluang keselamatan kalian bisa meningkat dengan adanya Oderon. Sayangnya, kami belum menginstal data untuk Oderon, tapi Oderon pasti… akan segera kami turunkan juga." Marlene bergumam, menyesap kopinya kembali.
Julien menyenderkan punggungnya kepada bangku restoran, ditatapnya orange juice yang tadi ia pesan. Iris biru kelam itu memandang kepada sang es batu, yang tampak mengapung di dalam air. Begitu padat—dan dingin.
Dingin.
Ia jadi teringat akan orang itu.
Tangan Julien meraih kepada orange juice yang sedari tadi terletak di hadapannya. "Heh, jadi Oderon itu hanya korban umpan ya?"
Marlene mengubah ekspresi wajahnya. Dengan sekali teguk, ia kemudian meminum kopinya yang hanya tinggal seperempat itu. "Ya…" ia memandang sedih kepada dua orang yang ada di depannya. "Pada akhirnya… yang akan menghabisi Lotem memang harus E-Sheet."
Karena itu semua sudah direncanakan.
Karena pada akhirnya yang akan bertarung adalah kalian.
Sang pemegang kunci—untuk mengendalikan sesuatu, sesuatu yang besar.
Sesuatu yang dapat menentukan nasib sebuah planet.
"Sebenarnya aku masih agak bingung dengan alasan planet Hell." Marlene menopang dagunya, membuka pembicaraan baru, tangan kanannya memain-mainkan sendok kecil yang menjadi pendamping cangkir dari kopi yang ia minum itu. "Kenapa tiba-tiba mereka ingin menyerang bumi? Bukankah masih ada banyak planet lain yang berpotensi. Memang sih, bumi lebih dekat dengan planet Hell, tapi kenapa harus Bumi? Mereka bahkan mengerti bahasa Bumi. Itu berarti jawabannya hanya satu."
Private meneguk ludah pelan. Mulai mengerti dengan apa yang dikatakan Marlene.
"Iklim dan sumber daya yang terdapat di planet Hell sama persis dengan keadaan Bumi." Marlene menambahkan. "Yah… itu hanyalah salah satu alasan kuat yang kupirkan selama ini, apalagi dengan rekaman suara itu—"
Pria british berambut pirang itu menghentikan sejenak acara meminum cokelat hangatnya. Iris biru azure-nya menatap Marlene dengan pandangan antusias akan menyangkut sesuatu.
"Rekaman suara apa, Marlene?" Julien berkomentar, menatap wanita disebelahnya dengan tatapan penasaran.
"Ng… jadi, planet Hell baru-baru ini mengirimkan pesan untuk bumi melalui CD yang terdapat di Lotem. Menyebutkan alasan kenapa mereka ingin menyerang bumi, dan… satu hal yang membuatku tertarik."
"Apa?"
"Salah seorang terpenting dari mereka sepertinya ada di bumi ini."
Trak!
Private menaruh cangkir cokelat hangatnya yang sudah habis tidak bersisa dengan keras, suara benturan sang cangkir dengan piring kecilnya cukup nyaring, membuat mata mereka semua menengok ke arah Private. "Ah… ini enak." Private tersenyum kecil sambil menggaruk kepalanya sedikit. Merasa diperhatikan, ia kemudian menunduk. "Silahkan lanjutkan."
Julien menyederkan punggungnya kepada bangku. "Jadi, bagaimana pendapat kalian, para pilot E-Sheet? Ah terutama kau Skipper. Jangan diamkan saja mulutmu itu. Jangan kau kunci—kau tahu tidak akan bisa terus menerus seperti itu... 'kan?" Julien melayangkan sedotan yang tadi berada di dalam gelasnya. Memainkannya, menunjuk ke arah Skipper.
Tatapan Skipper berubah menjadi lurus tajam. "Apa maksudmu…?" Skipper menyunggingkan seringainya. "Kau ingin bertanya tentang E-Sheet?"
"Kau tahu—sepertinya sekarang kau menjaga jarak sekali denganku. Tidak seperti waktu itu—"
Trakk!
Skipper menaruh cangkir kopinya ke dalam piring kecil yang telah disediakan terlalu keras. Sampai-sampai berbunyi lebih nyaring dari yang Private lakukan tadi. "Jangan mengalihkan pembicaraan." Skipper kemudian bergumam pelan dengan nada mengancam.
Julien tersenyum—sementara Marlene menatap Julien dengan tatapan kesal. Private nampak enggan menatap kepada Skipper sekarang—terlalu takut.
"Julien. Bukankah sudah kubilang? Aku sudah memberitahu tentang alasan E-Sheet dibuat dan sistem penyerangannya kepadamu cukup banyak. Aku berterima kasih karena kau memberi tahu tentang gaya menyerang Lotem, sehingga aku dapat membuat dengan mudah E-Sheet harus seperti apa." Marlene menutup kelopak matanya. "Tapi, aku tidak mau jika kau terlalu tahu lebih banyak lagi tentang E-Sheet."
"Aku tahu aku bukan bagian dari kalian. Menginjakkan kaki ke dalam markas pun belum pernah. Tenang saja, aku tidak akan bertanya lebih, Marlene." Julien tertawa keras sambil mengangkat orange juicenya.
"Kau ini…" Marlene menghembuskan napasnya pelan.
"Lagupula aku tidak ingin bertanya tentang E-Sheet, Marlene." Julien menjilat sedikit sisa jus yang menempel di bibirnya. "Aku ingin bertanya tentang Skipper. Bagaimana kehidupan dia sekarang?"
"Oh, jadi kau sebenarnya?" Marlene menaruh telapak tangannya di mulut, menyunggingkan senyum.
"Apaan?"
Private tiba-tiba bersuara. Tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan.
Marlene menatap Private sebentar lalu menepuk pundak Julien. "Menyerah saja. Anak disampingnya sudah mendapatkannya."
"Maksudmu, Marlene?" Skipper membuka mulutnya, menatap Marlene dengan tatapan mengintimidasi.
Marlene bergidik ngeri melihat hawa mengintimidasi dari Skipper. "Ti-tidak."
"Jadi… kau akrab dengan anak ini?" Julien menunjuk Private. "Kenapa daritadi tatapanmu seperti membunuh begitu ya ketika memandangku? Bukankah seharusnya ini menjadi pertemuan kembali yang mengharukan?"
"Pertemuan apanya?" Skipper membuang mukanya—menamparkan pandangan kepada ruas pelataran parkir restoran yang mereka tempati sekarang.
Entah kenapa, Private merasa... aneh.
Iris biru azure-nya memandang Skipper yang tengah menatap kepada pelataran parkir. Samar, pria british itu dapat melihat rona merah di pipi seniornya tersebut. Apakah rona merah itu terbentuk karena udara dingin? Atau karena… pria berambut panjang yang kini tengah tertawa bersama Marlene?
Apa arti rona merah itu? Apakah melambangkan kekesalan Skipper? Atau… hal yang lain?
Apapun itu, Private merasa sakit.
Tapi ia tidak mengerti alasannya.
Apakah itu berarti… dulu Skipper dan Julien—bersahabat baik?
Apakah sangat dekat?
Apa mereka—
BLAAARRR!!
Serentak, mereka berempat segera berdiri dari tempat duduknya. Menatap kepada asal suara ledakan besar—sambil berlari keluar restoran, berusaha melihat apa yang terjadi.
Lotem.
Kali ini ada dua Lotem.
"Sial!" Skipper mengumpat kecil—mengedarkan pandangannya.
Marlene segera mengambil handphonenya. "Unit 31… bagian New York, Manhattan, segera evakuasi semua penduduk ke dalam Milky Role dalam waktu singkat! Terjadi penyerangan!" Marlene kemudian menekan tombol di handphone-nya untuk menyambung kepada yang lain. "Kowalski? Segera bersiap di tempat bersama Rico. Lotem berada di Midtown Manhattan, jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari markas pusat."
Marlene kemudian menatap kepada tiga orang pria yang tengah terdiam memandang langit. "Jangan diam saja! Kita harus segera kembali ke markas pusat! Julien, kau juga, ikut. Terlalu berbahaya disini."
"Dia tinggal di sini saja!" Skipper berteriak keras, membuat ketiga orang yang bersamanya serempak menatap ke arahnya. "Terlalu berbahaya jika dia ikut bersama kita… apalagi ke markas pusat… bagaimana kalau mobil kita nanti diikuti oleh Lotem? Dia bisa—kh! Julien akan pergi bersama tim penyelamat untuk diungsikan ke Milky role. Tim penyelamat bergerak cepat untuk mengungsikan orang-orang, mereka juga memakai suatu alat agar kendaraan yang mereka kendarai tidak terlihat. Milky Role. Disana lebih aman… untuknya. Untuk Julien."
"Skipper…" Julien tiba-tiba bersuara.
BLAR!
"—tapi sekarang lebih cepat lebih baik!" Marlene berteriak.
Mereka berempat segera masuk ke dalam Bugatti Veyron itu. Tidak lama setelah masuk ke bugatti, terlihat mobil besar dari unit 31 tengah memasukkan para korban ke dalam mobil transparan itu. "Ah sial." Marlene bergumam pelan sambil memasukkan kunci mobilnya.
"Kau yang menyetir lagi, Marlene?" Skipper memandang kepada Marlene yang duduk di kursi pengemudi.
Marlene mencibir pelan mendengar intonasi perkataan Skipper yang terdengar meremehkan. "Jangan remehkan aku ya. Sebaiknya kalian memasang sabuk keselamatan."
"Aku tidak pernah meremehkan Marlene—sekalipun." Julien tersenyum sambil memasang sabuk keselamatan, ia duduk di kursi penumpang depan. Mata biru kelamnya memandang Marlene yang berada di sebelahnya, tengah mengutak-atik mesin. "Jadi, apa rahasia mobil ini sampai kau sebegitu optimis dapat membawa kita selamat ke markas pusat, miss?"
"Kau memang selalu jeli dalam setiap perkataan orang, Julien." Marlene tengah menginjak gas—tidak, mobil mereka belum melaju, masih diam di tempat. Wanita itu hanya tengah mencoba mesin mobil. "Mobil ini sudah dimodifikasi lagi, cc mesin mobil ini telah diubah menjadi 9000 cc dengan 1200 ps untuk maksimal—dan jangan remehkan kekuatan kecepatannya, mobil ini masuk dalam Guiness World Record sebagai mobil tercepat di dunia dengan kecepatan menembus 431 km/jam. Ditambah dengan berbagai modifikasi yang telah dilakukan pihak markas Sandrone… mobil ini bisa disulap menjadi jet seketika."
"Se-sembilan ribu?" Private membelalakkan kedua matanya. "I-itu... aku tidak pernah mendengar ada mobil balap yang cc-nya mencapai sembilan ribu..." Ia kemudian menengok ke arah Skipper. "Mobilmu pun... kurasa belum segitu."
Skipper hanya menghela napasnya. Ia tidak memilih mobil yang ber-cc terlalu banyak karena tidak begitu suka ugal-ugalan—oh, ia pernah mendengar Rico mempunyai mobil dengan cc yang sama seperti yang dimiliki Marlene. "Kalau begitu, berpeganglah pada sesuatu dengan erat." Balas Skipper, tetap tenang.
BLAR!
Terdengar dentuman keras lagi, yang diakibatkan oleh Lotem.
"Dan bagaimana kau akan mengendarai mobil super cepat ini dalam kota New York yang seperti ini?" Julien melebarkan senyumnya ada intonasi penekanan dalam kata 'seperti ini'.
Private dan Skipper yang duduk di bangku belakang hanya mempererat sabuk pegangannya.
Keringat dingin mengalir dari dahi Marlene. Wanita cantik itu mengkerutkan keningnya sambil tersenyum hambar. "Kita lihat saja—apakah kita akan kembali selamat ke markas Sandrone, ataukah tiba di surga duluan."
Marlene menggerakkan koplingnya, belum ada niat untuk menggerakkan sang mobil—sang Bugatti masih terdiam di tempat. Wanita itu kemudian menekan berbagai tombol sambil menginjak-injak gas terus menerus.
"Marlene…" Private berkata dengan suara horor. "Lo-Lotem tepat berada… di depan kita."
Pemandangan yang terpampang di depan mereka begitu menakutkan. Salah satu Lotem, tepat berada di depan mereka. Sang Lotem terus-terusan maju mendekat ke arah mereka sambil menabrak sebuah gedung tinggi yang sekarang runtuh begitu saja. Suara bising akan gas yang dikeluarkan oleh Bugatti ikut meramaikan suasana.
Namun sang Bugati masih terdiam. Sepertinya Marlene menunggu sesuatu.
"Ma-Marlene… sepertinya suara gas yang kau injak telah membuat Lotem tertarik kepada kita." Private bergumam pelan kembali sambil menatap kepada Lotem yang terus mendekat.
"Kalau kau takut, pejamkan saja matamu. Tidak terasa, kau sudah sampai di surga ketimbang markas pusat." Skipper bergumam pelan di sebelah Private. Private menatap Skipper kesal—masih saja seniornya itu bercanda di saat seperti ini. Atau itu bukan bercanda?
"Ayo… come on. Kau bisa, sayang." Marlene bergumam sambil menepuk kemudinya dengan kuku jarinya yang panjang, terus menerus. "Padahal aku sudah menekannya. Kenapa tidak keluar?"
Grek.
Sang Lotem tepat berada di depan mereka. Mempersiapkan misilnya untuk ditembakkan kepada satu mobil Bugati Veyron yang terlihat sangat mahal itu.
"Apa yang kau tunggu sebenarnya, Marlene?" Skipper berkata dengan nada tidak sabar, agak ngeri juga melihat Lotem yang makin mendekat ke arah mereka.
Ngiiing.
Bunyi desing dari sang mobil terdengar jelas.
Marlene membelalakkan matanya. Menggerakkan tangannya ke salah satu tombol.
Grek.
"MARLENE!"
Teriakan terdengar jelas ketika mereka melihat sang Lotem sudah memutar peluru kendali.
"Coba saja kalau berani!"
BRUMM!
"A—a…"
Skipper dan Private membelalakkan matanya ketika melihat ada ledakan di belakang mereka—kemudian muncul api besar. Api besar yang dikeluarkan oleh sang mobil.
"Hahaha! Lupakan motor yang ada di film 'Ghost Rider'! Sebenarnya, inilah daritadi yang aku tunggu!" Marlene menarik koplingnya, lalu menginjak gas sambil membanting setir. "Bugatti ini bisa lebih!"
SRAKKK!
Bugati yang mereka tumpangi tiba-tiba mundur ke belakang dengan kecepatan penuh.
—BANG! BANG! BANG! BANG!
Marlene segera membanting setirnya sekali lagi, kemudian memajukan koplingnya, menginjak gas dengan kecepatan penuh. Mata cokelat kemerahan Marlene memandang liar ruas jalan—mencari titik yang bisa mereka lewati. Jalanan kota New York sudah terhapal dengan jelas di otak Marlene, wanita itu mengedipkan kedua mata, membayangkan seolah jalan yang berada di depannya adalah ruas peta.
Jalan besar—jalan besar yang setidaknya jarang terkena rush hour—
SRAK!
Marlene membanting setir kembali begitu mendapatkan jawabannya. Ia menginjak gas, melewati sisi Selatan dari restoran yang mereka kunjungi tadi. "Skipper, butuh waktu cukup lama untuk sampai kepada gang sempit yang tidak akan bisa dilewati oleh Lotem."
Skipper mengangkat alis. "Jadi, planning-mu?"
Marlene menekan sebuah tombol yang berada di setir, dan suara bising tiba-tiba menyeruak, membuat Skipper, Julien, dan Private terkaget. Dari bagian sisi kiri Bugatti muncul sebuah senapan, senapan besar yang tepat mengarah ke langit-langit.
"Tolong, kau jalankan senapan itu. Hanya mempunyai dua misil, pastikan kau tidak meleset." Marlene bergumam, matanya tetap memandang ruas jalan yang sudah ia hapal di luar kepala, ia tetap mempertahankan kecepatan mobil itu.
"Roger." Skipper bergumam. Ia menoleh ke belakang, di mana pemandangan horor akan Lotem yang mengejar mobil mereka menyambutnya. Beruntung ia duduk di sisi kiri mobil Bugatti tersebut, membuatnya mudah untuk membuka kaca jendela, tidak perlu bergeser.
Namun yang harus Skipper pertahankan nanti adalah keseimbangan. Karena mobil yang ia tumpangi tengah berjalan cepat—sangat cepat. Dan, jika terjadi sedikit kesalahan maupun miskomunikasi sedikit saja, nyawanya bisa melayang.
Skipper mengeluarkan setengah badannya dari dalam mobil, mengarahkan sang senapan besar ke arah belakang. Marlene melajukan mobilnya dengan luar biasa, kecepatan yang diambang batas, ditambah dengan jalan New York yang berliku. Berkali-kali pinggang Skipper tergesek dengan sang mobil, dan sulit pula keadaannya sekarang untuk membidik—mengunci target.
Dan begitu mereka sedang berada dalam jalan yang lurus sempurna, Skipper segera memegang kendali atas senapan tersebut. Merilekskan dirinya, mengambil napas kemudian menghembuskan perlahan. Iris merah marunnya menatap tajam. Skipper tahu, daya ledak misil tersebut tidaklah sekuat daya ledak misil E-Sheet, sekarang mereka hanya perlu mengulur waktu saja.
Jemari Skipper memegang pelatuk, iris matanya menutup sebelah, dan ia segera bersiap menarik pelatuk itu—
TIINN!
Dari arah yang berlawanan—ketika mereka melewati persimpangan—sebuah truk pengangkut minuman besar melaju kencang bukan main, berjalan lurus, tepat ke arah mobil Bugatti yang mereka tumpangi.
Marlene membelalakkan mata, iris cokelatnya memandang horor kepada truk yang muncul tiba-tiba. Baik Julien dan Private menganga, mereka berteriak—
Astaga... tidak.
"MARLENE!"
Julien orang pertama yang menyahut, sementara Marlene dengan kasar membanting setirnya ke arah berlawanan—membuat mobil tersebut berguncang hebat, dan kali ini giliran Private yang berteriak; "SKIPPER!"
BLARR!
Misil sudah dikeluarkan, menembak ke arah yang salah, dikarenakan Marlene yang tiba-tiba menikung tajam. Private membelalakkan mata, iris biru azure-nya menangkap bahwa sang senior tersebut akan jatuh, jatuh dari mobil Bugatti yang tengah bergerak cepat—jatuh dengan kepala menyentuh aspal terlebih dahulu—
—tidak!
Private refleks menggerakkan tangannya untuk menggapai Skipper.
DRAKK!
Misil yang dikeluarkan Skipper tadi menabrak tepat kepada salah satu gedung pencakar langit yang tinggi, menyebabkan materialnya berjatuhan, runtuh sebagian, dengan kaca-kaca, pilar-pilar, maupun bata yang memenuhi langit, seolah siap menghujani jalanan tersebut.
Hah—?
"Private!" Julien berteriak. Ia melepaskan sabuk pengamannya dengan cepat, lalu mengulurkan tangan, merogoh kepada punggung Private, anak berambut pirang tersebut hampir terseret keluar juga karena tengah meraih badan Skipper.
Skipper menahan napas melihat situasinya sendiri. Kepalanya tengah berada di bawah menghadap ke jalanan, sejengkal lagi, dan bisa saja kepalanya sudah teroplas oleh aspal jalan kota New York. Setengah badannya diraih oleh Private, yang memeluk erat bagian pinggang—sementara kedua kaki Private sendiri dipegangi oleh Julien.
Dan yang lebih membuat suasana mencekam adalah, reruntuhan-reruntuhan besar gedung tersebut, kini tengah mengarah jatuh ke arah mereka.
"Private! Tarik lenganku, sekarang!" Skipper menjulurkan lengannya, dan tanpa basa-basi anak berambut pirang tersebut segera melakukannya. Private kemudian memeluk erat tubuh Skipper yang sudah terduduk tegak di bagian jendela mobil lagi, ia tidak akan melepaskan tubuh senior-nya itu, tidak akan.
Skipper berpegangan erat kepada kedua sisi jendela mobil Bugatti, dan Marlene tetap menjalankan mobil itu dengan kecepatan penuh, berusaha semaksimal mungkin menghindari reruntuhan gedung yang berjatuhan.
BRAK!
Mereka berhasil melewati reruntuhan raksasa terakhir gedung tersebut. Sesaat mereka bernapas lega, namun tiba-tiba saja Lotem yang mengejar mereka menampakkan dirinya kembali tepat setelah debu dari reruntuhan tersebut memudar.
Skipper memandang ke arah senapan, dan ia kembali memegangi senapan tersebut. "Private, tolong peluk aku lebih erat lagi."
"Eh?" Private mendongakkan kepalanya, menatap kepada wajah sang senior yang tengah menunduk ke arahnya.
"Agar aku tidak jatuh lagi saat tiba-tiba Marlene membanting setir." Skipper menjawab, mengarahkan sang senapan kepada sang Lotem kembali.
Private mengangguk, dan ia menoleh ke belakang terlebih dahulu, mencoba untuk memberi tahu Julien untuk mengeratkan pegangannya kepada kakinya. Julien balas mengangguk, dan Private mengeratkan pelukannya saat itu juga.
Iris merah marun Skipper terkunci kepada sang Lotem, dan tanpa basa-basi, kali ini ia segera menarik pelatuk yang berada di antara jemarinya, membuat sang misil meluncur terbang, membidik kepada sasaran yang telah ditetapkan.
BLARR!
Misil kedua tersebut sukses mengenai persendian lutut dari sang Lotem, membuat giant robot penghancur tersebut limbung seketika, dan di saat itulah Marlene melihat celah gang sempit untuk mereka lewati.
DRAK!
Sang Bugati membelok tiba-tiba, menikung jalanan—memasuki gang sempit, dimana tidak ada mobil yang mendadak ditinggalkan oleh sang pemilik.
"Waaa—"
Skipper, Private, maupun Julien merasa terombang-ambing saat itu juga.
Karena sepertinya keadaaan sudah aman, Skipper memutuskan untuk memasuki seluruh bagian tubuhnya kembali ke dalam mobil dan secepat mungkin menutup kaca jendela Bugatti tersebut. Begitupula dengan sang senapan, tiba-tiba saja menghilang kembali ke dalam tubuh sang Bugatti.
"Astaga, tadi itu gila." Julien berkomentar, mengembalikkan posisi duduknya seperti semula kemudian memasang sabuk pengaman.
Skipper menghela napas lega, walau sejujurnya tubuhnya masih merinding akan kejadian yang barusan ia alami. Matanya kemudian menengok kepada Private yang duduk di sebelahnya. Wajah anak itu pucat pasi, bibirnya bergemeletukkan, tubuhnya gemetaran, iris matanya membelalak.
Skipper meraih tangan Private, berusaha membuat anak tersebut tenang.
"Mungkin aku tidak pantas berkata seperti ini setelah kejadian tadi tapi—kita belum boleh bernapas lega sekarang." Marlene bergumam, matanya mengintip ekspresi Skipper dan Private melalui kaca spion dalam mobil.
Ya.
Belum berakhir.
Maka Marlene meninggikan kecepatan mobilnya, membuat deru mesin Bugatti tersebut bersorak lebih heboh kembali, menimbulkan bunyi desingan yang memekakkan telinga.
"Ma-Marlene! K-kecepat-t-tan!" Private merasa omongannya sudah tidak keruan.
"Jangan sampai ada sesuatu yang bisa melukai wajah dari seorang King Julien!" Julien berteriak histeris sambil menutup wajahnya.
"Marlene. Ini memang seperti di Ghost Rider, Bugatti ini meninggalkan jejak api kepada rute yang kita lewati… tapi Lotem jadi bisa mengetahui kita dimana!" Skipper perlahan menengok ke belakang, memandang kepada sang Bugati yang mengeluarkan api biru dari dalam knalpotnya.
"Makanya..." Marlene mengedipkan sebelah matanya. "Sudah kubilang 'kan? Mobil ini bisa seperti jet."
Dan tiba-tiba saja semuanya berubah.
Seolah-olah pemandangan yang terpampang di depan mereka sekarang merusak suasana damai yang baru saja mereka melewati.
Marlene, Julien, Skipper maupun Private, memandang horor ke arah depan.
Dari ujung gang yang masih terlihat jauh—di sana terdapat sebuah Lotem yang sudah siap untuk menembaki mereka. Lotem tersebut berada tepat di ujung gang yang sedang mereka lewati, dengan senapan besarnya yang seakan dapat memunculkan peluru sewaktu-waktu jika pelatuknya ditarik.
Dan benda itu—ya, sang Lotem. Tepat—sangat tepat—berada di depan mereka, walau jaraknya masih jauh.
"MARLENE!"
Ketiga pria itu serempak berteriak sambil membuang muka, tidak mau melihat ke depan.
Marlene mendecak kesal. Ia memfokuskan dirinya, sebisa mungkin untuk tenang, walau tetap saja batinnya berontak ngeri kepada apa yang ia alami sekarang. Matanya sibuk menghitung berapa kira-kira jarak mereka sekarang dari sang Lotem.
300 meter.
Bisa tidak?
Bisa.
Tidak.
Bisa.
Tidak.
Terdapat tiga celah untuk mereka lewati.
Pertama, di antara kedua kaki Lotem, lalu di samping kiri dan kanan Lotem yang tingginya kira-kira 2 meter. Celah disamping kiri dan kanan terbentuk karena pinggang Lotem yang dibuat seperti model pinggang manusia—sama seperti E-Sheet.
Celah pertama terlalu berisiko. Mengingat jika mereka melewatinya, mereka bisa langsung menabrak mobil-mobil yang terdiam di tempat akibat ditinggalkan oleh pemilik mereka yang langsung mengungsi.
Berarti sisanya adalah celah kedua dan ketiga.
Masalahnya, kedua celah ini tinggi.
Dan gang ini lurus sempurna.
Tidak ada belokan.
Bisa tidak ya?
Marlene menggigit bibir bawahnya. Ia memajukan koplingnya, menginjak gas, menambah kecepatan.
Julien, Skipper, dan Private sama sekali tidak menyangka akan seperti menaiki roller coaster gratis. Bahkan ini lebih cepat daripada roller coaster. Hanya saja waktunya tidak tepat.
Bahkan Private merasa seperti déjà vu. Ini seperti waktu itu, seperti ketika ia melaksanakan misinya ke Ottawa. Bedanya adalah ia memakai E-Sheet dengan kecepatannya yang diatas rata-rata waktu itu, sementara sekarang... hanya dengan sebuah mobil sport—tunggu, sebaiknya kata 'hanya' tadi diganti.
BRUMMM!
Deru mesin bertambah keras seiring Marlene terus menginjak gas, menambah kecepatan. Api yang tiba-tiba keluar dari knalpot Bugatti semakin membesar seiring bertambahnya laju kendaraan mereka. Marlene bersiap-siap, tinggal lima meter lagi—dan mereka akan menabrak Lotem.
4 meter.
3 meter.
2 meter.
Ucapkan selamat tinggal kepada dunia, sayang.
1 meter.
Marlene membanting setirnya ke arah kanan, menilik tajam kepada celah setinggi dua meter. Dengan gerakan mendadak—Bugati yang tengah melaju dengan kecepatan sangat kencang itu, ia rem begitu saja.
Dan saat itulah, Marlene membanting setirnya, sampai stuck.
Bagaimana bisa mobil yang tengah melaju kencang direm mendadak begitu saja? Pastilah akan—
DRAAKKK!
"W-aakkkhh!"
Terpental.
Sang Bugatti Veyron tersebut terpental begitu saja melewati celah kanan—sekarang mobil mahal itu tengah berputar-putar di udara.
"Oh ya ampun. Serasa naik Roller coaster sekaligus Merry Go Round dengan kecepatan penuh…" Private bergumam pelan sambil berpegangan erat agar tubuhnya tidak terombang-ambing.
"Aku melihat buah-buahan di langit…" Julien meracau tidak jelas.
"Entah kenapa migrain-ku kambuh." Dan yang terakhir meracau adalah Skipper.
Marlene tidak berhenti bersyukur ketika putaran mobil itu tidak berhenti pada posisi atap di bawah.
"Kita akan jatuh." Julien menutup matanya lagi.
Marlene segera menginjak gas—dan sekali lagi, ledakan terjadi pada sang knalpot Bugati. Ledakan yang ditimbulkan oleh sang knalpot Bugati cukup untuk membuat mereka terlempar kepada jalanan yang kosong—beruntung.
Drak!
Sang Bugati kini mendarat sempurna di jalan. Menyisakan sedikit bekas tabrakan ketika mereka terpelanting—rupanya bagian kiri dari sang Bugatti membentur Lotem, namun tidak begitu keras.
"Marlene… keren." Private bergumam pelan. Sangat bersyukur begitu tahu dirinya dan yang lain masih hidup. Bahkan, ia berpikir bahwa skill mengemudi Skipper kalah jauh dibandingkan wanita berambut cokelat gelombang tersebut.
Marlene tersenyum kecil, wanita itu kemudian menjalankan sang Bugatti lagi. Tinggal sepuluh blok lagi, dan mereka akan tiba di markas pusat Sandrone.
.
.
GREKK!
Ini tidak seperti yang dipikirkan.
Tentu.
Padahal jika selanjutnya mereka terus melaju tanpa berhenti, mereka akan langsung sampai ke markas pusat.
Marlene mau tidak mau meneguk ludahnya ketika melihat dua Lotem kini tepat berada di depan mereka. Mempusatkan senapan besarnya ke arah mereka.
Ini tidak seperti yang direncanakan.
.
.
Jadi begini-lah akhirnya?
Setelah mereka berjuang mati-matian… hampir setengah jalan.
Kini mereka harus dihabisi begitu saja oleh timah panas Lotem?
.
.
Marlene tersenyum hambar. Keringat dingin menuruni pipinya.
Gawat.
Ia hanya bisa sebatas ini.
Tidak ada persimpangan jalan—maupun tangga untuk pergi ke stasiun bawah tanah.
Tidak ada celah untuk kabur seperti tadi.
Sudut mati.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya…" Marlene bergumam pelan.
Ketiga pria yang berada di bangku penumpang memejamkan matanya.
Wanita cantik itu tidak menutup matanya. Masih tetap memperhatikan keadaan di depan—berdoa agar ada celah kembali untuk mereka lewati.
Sayangnya tidak.
Dan Bugatti Veyron itu terus melaju ke depan.
Tidak—Marlene tidak mau mengambil resiko dengan mengerem kemudian memutar balik setir. Bisa-bisa nanti mereka ditembak dari belakang.
.
.
Hadapi saja.
Jika memang akan terjadi tabrakan.
Atau jika sang Lotem menembaki mereka duluan.
Semuanya tidak ada beda.
Mati.
.
.
Marlene merasa ia tidak bisa menelan ludah. Tenggorokannya tercekat.
Sang Lotem sudah menarik pelatuk—memutar peluru yang ada di dalam senapannya.
Marlene memejamkan matanya sedikit.
Goodbye, World.
—BLARRRR!
-o~xxx000xxx~o-
.
.
.
.
.
.
.
Eh?
Apa?
Aku… masih hidup?
Tidak.
Maksudku… kami, masih hidup?
Marlene membuka kelopak matanya perlahan. "Itu—" Iris mata kecoklatannya membelalak, dan mulutnya tidak berhenti menggumamkan rasa syukur. "H-uuu…" air mata perlahan mengalir dari mata Marlene."Dasar… syukurlah."
Marlene membanting stirnya kepada celah yang dibuat oleh—mereka berdua.
Ya, mereka berdua.
("Kowalski, dan Rico.")
—memangnya siapa yang menyangka akhirnya KCR9-21 telah sampai di tempat mereka berada sekarang kemudian membuat Lotem tidak jadi menembakkan misilnya?
Tidak akan pernah bisa ditebak, bukan?
Marlene tersenyum sedikit.
Kowalski, Rico.
Terima kasih.
Skipper berusaha mengatur napasnya. Sesaat tadi ia berpikir bahwa mereka tidak akan terselamatkan lagi. "Marlene… kira-kira berapa lama lagi?"
Marlene segera merespon pertanyaan Skipper."Kalau dengan kecepatan mobil ini sekarang, kira-kira lima menit lagi."
"Bagus. Ketika tiba di markas, izinkan aku mengendarai E-Sheetku."
~xo-0-ox~
Á Suivre
(—prepare yourself for more chapters)
~xo-0-ox~
A/N:
Mbuh. Ini apaan... 8'D
Oke, oke, oke. Saya ngerasa bersalah setahun lebih udah enggak ngapdeth ini fic. :'D Dan setelah saya, Fazea, dan Ratu Galau berdiskusi *?* kami memutuskan untuk kembali ke fandom PoMI, dengan membuat/mengapdeth fic. :D
Jadi jika kalian melihat fandom PoMI tiba-tiba ketiban fic dari bad touch trio—plak, ehem, jadi jika kalian melihat fandom PoMI tiba-tiba ketiban fic dari kita-kita ini... prepare yourself. 8)
Saya tahu fic saya ini membawa masalah... yang sangat tidak menyenangkan. Saya berharap—sangat amat berharap—siapapun itu yang dulu telah membuat kasus, semoga sudah kembali ke jalan yang benar. Dan semoga tidak terulang lagi. Aamin.
Maaf ya, chappie ini kebanyakan penjelasan ribet ples action. :'D Saya lagi dalam mood action~ :3 #plakplak Gaya penulisan juga campur, karena chappie ini kelar udah lama... jadi ini pake penulisan saya yang jadul. :D #krik
Yang nge-demand more romance... ;v; maaf untuk sementara waktu gak bisa kasih... apalagi chappie ke depannya... aish. ;A; Akhirnya di chappie ini aja daku selipin fanservice dikit banget... ._. Chappie depan-depan ada juga sih... dikit. #plak
Nah, saya utus lagi para penguin untuk nge-reply kalian :*
Skipper: Lagi... LAGI? Author, kamu gak kasian apa kita udah disuruh syuting capek-capek sekarang harus jawab review? Yah gak apa deh asal gaji ditambahin. #plak Oke pe-review yang pertama, review dari ABC, terima kasih kami dibilang keren *?* dan maaf tidak bisa update kilat. T.T Salahkan author. Ditunggu review kembali. #plak
Kowalski: Selanjutnya... untuk skipperxrodimus-san sipp. Terima kasih sudah bilang kami keren. #plak Sudah di-update dan maafkan lama. *bows*
Private: Lalu, DYNAmite's-san... ahaha, makasih kami dibilang keren. :3 Eh, maksudnya saya mau lebih itu apa ya? O.o Dan, Julien... ada yang manggil kamu tuh!
Julien: Yaya? Sayaaa? Apa? Ada yang mau nitip buah ke saya?
Skipper: Tidak ada, pergi sana. Terima kasih untuk reviewnya DYNamite's-san. Next untuk Fazea-san... oh sebenarnya kami juga menodong sang author untuk meng-update fic ini, karena dia belum bayar gaji kami. #plak Terima kasih sudah cinta scene Skivate, diharapkan untuk meminta lebih scene itu sebelum ada pengganggu muncul. #plakplak Sekarang saya yang bales reviewmu, unyu tidak? :3 #krik
Kowalski: Itu tidak unyu sama sekali, Skipper. Selanjutnya ada... Michelle Aoki, sipp terima kasih juga sudah suka romens Rikowalski... entah kenapa itu membuatku terharu karena lebih banyak yang demand Skivate. #plak Semoga actionnya dapet yah chapter ini, karena lokasi syutingnya saja sampai hancur... #plakplak
Private: Untuk mac skipper-san... iya, maafkan sang author. T.T Dia memang lebih spesialis ke narasi. Dan... ini cerita memang sudah di-warningkan dari awal kalau bakal panjang setiap chapternya... ._. Terima kasih sudah me-review~
Kowalski: Untuk pertanyaan dari Chocochino boleh saya yang jawab? Baiklah. Ehem, iyaa, sebenarnya ketika adegan Skivate, mereka berdua melakukannya dengan sangat natural, jadi tidak susah. Dan terima kasih juga untuk pujian adegan RIKO... :3 Dan maaf... tapi bagian untuk kami bertugas malah chapter depan... ;A; salahkan authornya... #plak
Skipper: Oke, untuk Unknown Forgotten Friend. Tidak apa-apa telat review, saya gak bakal nyakar kok~ :) #plak Terima kasih sudah suka scene Skivate, tebakan anda benar bahwa yang saya maksud itu Julien... *lirik yang bersangkutan* Untuk Mort... dia memegang peranan penting dalam fic ini, ups bocor, sengaja. #krik Maaf tidak bisa apdet kilat... T.T
Private: Untuk Andry S.A, sip, terima kasih sudah me-review, dan ini dia review reply-nya. :D Kowalski tidak disebutkan kemarin, dia sempat pundung, tapi sudah ceria lagi karena ada Rico. XD Skivate itu Skipper Private yah? O.O Kenapa namaku dan Skipper digabungkan? :O
Kowalski: La-lanjut! Untuk MuffinPuff... terima kasih kami dibilang epic~ :3 Hahaha, Skivate memang banyak sekali penggemarnya—Private, tolong jangan menatapku seperti itu sekarang. Eh, ah, maaf Muffin-san jadi terganggu. Kalau fic ini dijadikan novel berarti karakternya musti diubah... OvO Reviewmu tidak aneh, malah menambah semangat~ :3 Terima kasih untuk reviewnya~
Skipper: Untuk Dr. Kimchie... iya, benar sekali. Karakter kami dalam kartun agak gaje, dan di fic ini kami dibuat lebih gaje lagi... #plak terima kasih untuk review-nya ya! :D
Private: Next... anotherKen-san... thank you for the compliment~ :D Ahah, terima kasih... saya jadi malu sendiri pas adegan itu... O/O untuk masalah Independence... author!
Author: Ahya... saya... bingung mau dilanjutkan atau tidak... ._. #krik maafkan saia... ;A;
Kowalski: *geleng-geleng* Sekarang untuk Risa Kirkland C-san... Terima kasih, kami dibilang awesome~ :) #bukanluwoi emang dasar authornya, ngeribetin pembacanya supaya lama mengerti... #plak terima kasih untuk salamnya yaa... :D woii, kita disalamin tuh! *ngelambe ke semua humanized version*
Semua humanized version: :D *ngelambein tangan*
Skipper: Lalu untuk RiChan... sekarang saya yang balas komen anda. :D Gimana? #krik Kenapa anda ngefans sama author sih? Bukan kita? ;A; Kan kita yang bikin keren ini fic. :I #plak Ja-jangan kasih tau Skivate apa... yah, tapi Private udah tahu sih tadi ada yang ngasih tau duluan. Tapitapi, dia masih tau sebatas nama kami digabungkan sajaa... jangan... kasih... tau... yang... lebih... *ngancem* #plak Eh? Apakah Marlene iri? O.o *lirik Marlene*
Marlene: Aku udah makan bareng Antonio kok~ :3
Skipper: Okeh... dan anda ngiri sama Private? Wah... ada harapan ke saya kah? :3 #plaak Yang nelpon Marlene itu si Julien... lalu Rico dan Kowalski kebagian tugas chapter depan. :D Terima kasih reviewnya!
Private: Untuk Nomme Han-san... Ah iyaa, fic bertema mecha memang jarang, karena itu sang author mencobanya. :D Terima kasih sudah cinta sama kami~ :3 *bukankalianwoi* Dan Skivate? Ohh, maksudnya saya dan Skipper sangat romantis? OvO E-eh... itu... ehm... terimakasih... *blushing* :) Sipp~ terima kasih ya reviewnya~
Kowalski: Untuk velvetcat09... saya yakin yang anda maksud awesome bukan fanfic ini, tapi kitanya, para aktor yang awesome... :I #narsis Terima kasih tapinya yaa... :D Dan ya, kasihan sekali Private dihadapkan pada situasi seperti itu... dasar author. #plak Mana banyak typo pula, hadeh. #krik Oke, author, ada yang rikues momen Skivate lagi tuh... kapan bisa dibanyakin?
Author: ._.
Skipper: Abaikan author gaje itu... next untuk liliavioleta-san! Iya tidak apa-apa, terima kasih sudah menyempatkan review yah. :) Terima kasih juga sudah memuji kami, dan fic ini. :D Tolong suruh si author untuk ngebanyakin adegan Skivate sebelum ada pengganggu diantara kita dong~ :3 #plak
Kowalski: Selanjutnya... untuk Mitsuru Aoki-san... terima kasih atas reviewnya. Kami tahu kami keren. :3 *bukankalianwoiii*
Private: Selanjutnyaa... Nyasararu-san! :D Rico memang seme Kowalski... *lirik ke Kowalski yang blushing* D-dan... anda naksir Skipper? ;A; Terima kasih kami dibilang keren lagi~ :3 *bukankalianwoii* Pas prosedur pengisian bahan bakar itu memang disengaja... entah kenapa tiba-tiba Marlene nyaranin ke author supaya aku dipegang Skipper... geli rasanya. :D #polos Betewe reviewnya keren sekali yang bagian 'denotasi, memang terjadi, dan memaki-maki' soalnya kata-katanya bisa 'i' semua terakhirnya... O.o Bagian me-raeph apa ya? O.O Skipper... nanya dong.
Skipper: Abaikan kata itu...
Private: ;A; Oke... dan pertanyaan-pertanyaanmu Nyasararu-san... mungkin akan terjawab di chapter 5 dan 6... chapter yang amat sangat penting dalam cerita E-Sheet ini... :3 Reviewmu panjang gak papa kok~ kami suka membalasnya~ :D
Skipper: Next untuk... tunggu, ada yang harus dilewatkan pembacaan reviewnya. Oke, sip. Berarti sekarang untuk hani lestari-san... Private, kamu dipanggil!
Private: Ahh iyaa, terima kasih sudah salut sama sayaa... ;v;
Para penguins: Eheh, liat deh, kita dibilang ganteng tuh di-reviewnya hani lestari-san. :DD #narsis
Skipper: Oke, diupdate... tapi maaf ya updatenya lama... :(
Private: Next... untuk Ratu Galau-san... yaah, sayang sekali belum dibaca... :( Anda jadi tidak bisa melihat akting kami di cerita ini... ;A; Kami semua tampil tampan loh. :I #plak Terima kasih reviewnya~
Kowalski: Review berikutnya... eh? Wah! Ternyata fanfic ini memenangkan IFA? Selamat kepada kami semua para aktor E-Sheet! *cuekin author* Berarti ini saatnya tumpengan dan kenaikan gaji... mari kita tagih ke author!
Author: O.O #lari
Kowalski: Oke, lanjut bales review, sekarang dari Kika Ryuzaki. Terima kasih kami dibilang keren~ :3 *udahdibilanginbukankalian* Sipp~ terima kasih sudah me-review, dan cerita ini sudah dilanjutkan. :D Dan sebaiknya nanti kalau review lagi jangan ada kata-kata yang menyinggung yaa~ :D
Skipper: Terakhir dari Readaskippa D. Terima kasih kami dibilang keren. :) *bukaaann* memang author senang sekali dengan fic ini, makanya panjang. Terima kasih reviewnya ya! :D
Skipper: Sip! Tugas kami selesai! Sekarang kami bisa pulang... dan besok tagihin author untuk naik gaji. #plak
Terima kasih kepada kalian semua, readers, reviewers, yang sudah membaca dan me-review, bahkan men-support fic ini sampai menjadi salah satu entry yang memenangkan IFA 2011. Saya sangat menghargai kalian. ;v; *bows*
Saya harap kalian semua terus mengikuti perjalanan Skipper dkk dengan E-Sheet sampai ke akhir cerita. =))
Dan... ada yang nyadar gak? Di review reply di atas kayaknya saya ngasih spoiler lumayan banyak yah? O.o #krik bagi yang pengen tau spoilernya apa, silahkan baca ulang review reply satu persatu. :p
Review?
Karena review membuat fic menjadi lebih hidup.
More reviews I get, more chapters you'll get soon. =D
September 2012 © NakamaLuna~
