Ice: Hai! Aku kembali lagi, nih!
Jack dan Holy: Tumben cepet. Biasanya sampai bertahun-tahun.
Ice: Sembarangan. Biarpun lama, tapikan ga sampai bertahun-tahun. Lalu, terima kasih untuk review yang sudah kalian berikan.
Jack: Ya sudah. Ayo, langsung saja kita mulai.
Holy: Ok. Warning : OOC, GaJe, jelek, typo, dll.
Ice: Selamat menikmati!
Disclaimer: Harvest moon. Kecuali Joshua AP dan Virginnia AP.
Ch 3
"I... ini... mustahil..." Aku terperangah melihat kenyataan kalau mereka berdua ternyata sudah meninggal.
Di waktu yang sama...
Mayor Thomas POV
"Jadi benar, dia itu cucu mereka?" tanya Carter penasaran. Tapi tetap tenang seperti biasa.
"Iya, aku juga tidak menyangka kalau cucunya akan datang," jawabku.
"Lalu, bagaimana kita mengatakannya kalau ternyata mereka sudah meninggal?" gumam Carter dengan raut wajah sedikit sedih.
"Iya, aku juga tidak tahu."
"Baiklah, dari pada hanya berdiam diri disini. Lebih baik kita katakan yang sebenarnya sekarang. Harvest Goddess tidak akan memaafkan kita jika kita terus menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya seperti ini. Harvest Goddess juga mengajarkan kita untuk selalu berbuat jujur, bukan?" Carter mulai menceramahiku seperti biasa. Itu memang keahliannya. Tapi apa yang dia katakan memang benar jadi, aku hanya bisa diam dan mengangguk saja.
"Iya, kau benar Carter. Kamu memang cocok jadi seorang pendeta," balasku dengan pasrah.
"Nah, sekarang tunggu apa lagi Mayor, ayo kita temui dia," ucapnya sambil mendahuluiku berjalan ke tempat Jack. Lalu aku pun mengikutinya dari belakang.
"Ya,"sahutku sambil terus berjalan. 'Semoga ini tidak memperburuk keadaan. Oh, Harvest Goddess bantu aku menghadapi persoalan yang makin rumit ini,' batinku.
Setelah tiba di tempat Jack, ternyata dia ada di depan makam Joshua dan Virginnia. Berdiri mematung menatap lurus ke nisan-nisan itu. Sorot matanya menggambarkan rasa penasaran dan kebingungan yang amat sangat. Walaupun kurasa ia sudah tahu apa maksudnya, tapi, dirinya masih belum sanggup memercayai kenyataan yang terjadi. Aku berjalan menghampirinya.
"Hai Jack, maaf membuatmu menunggu," sapaku seraya menepuk bahunya.
Jack POV
"Mayor, apa maksudnya itu?" tanyaku sambil menunjuk ke dua batu nisan tersebut.
"Haah..." Kudengar Mayor menghela nafas panjang.
Untuk beberapa saat, keadaan menjadi hening. Baik aku maupun mereka tidak ada yang mengeluarkan suara. Udara di sekelilingku berubah seketika. Rasa mencekam yang menusuk mulai merasukiku. Keringat dingin serasa membanjiri seluruh tubuhku. Dan pikiranku melayang entah kemana.
Mayor Thomas POV
Carter menoleh kearahku memberi sebuah tatapan. Kurasa artinya 'Mayor, ayo cepat!'.
Aku memberikan anggukan kecil pada Carter tanda mengiyakan.
"Nah." Ucapanku memecahkan keheningan diantara kami. "Baiklah Jack, aku akan menceritakan yang sebenarnya tentang kakek dan nenekmu ketika mereka masih tinggal disini," ujarku berusaha menjelaskan sebaik mungkin padanya.
"Ya," gumamnya pelan.
Dan akupun mulai bercerita tentang peristiwa tiga tahun yang lalu.
(Flashback)
Warga desa sedang berkumpul di ruang tunggu klinik dengan wajah mendung bagaikan awan badai yang siap menghujani padang pasir yang kering. Setelah kira-kira melewati satu jam yang terasa berabad-abad lamanya, ditambah lagi dengan suasana yang menegangkan. Akhirnya Dokter keluar dari ruang periksa dan berjalan kearah kami.
"Dokter, bagaimana keadaanya? Apa Joshua baik-baik saja?" tanya Virginnia (isteri Joshua) dengan histeris. Raut wajahnya memantulkan kepanikan yang luar biasa di dalam hatinya.
"Iya, Dok. Dia baik-baik saja kan?" ucapku penuh harap.
"Apa dia selamat?" Doug ikut bertanya.
"Dia masih hidupkan, Dok?" kata Basil dengan sedikit membentak karena tidak sabar dengan reaksi Dokter Trent yang dari tadi hanya diam-diam saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Ba...bagaimana ini? Kalau ternyata dia sudah..." Sasha tidak sanggup melanjutkan ucapanya dan mundur ke tempat Jeff.
"Tenanglah, Sasha." Jeff yang sejak tadi berada di sampingnya hanya bisa menenangkannya dan memeluknya perlahan.
"HEI, DOKTER! CEPAT BERITAHU KAMI!" teriak Zack. Suaranya keras sekali hingga kami semua menutup telinga kecuali, Dokter. Suaranya menggema sampai terdengar ke luar klinik.
Kulihat Dokter yang sejak tadi hanya menunduk terdiam di hadapan kami dengan wajah tanpa harapan. Sementara para penduduk desa masih menghujani Dokter dengan beribu-ribu pertanyaan yang hanya itu-itu saja. Melihat kehebohan terjadi aku langsung meminta semuanya agar tetap tenang.
"Saudara-saudara sekalian, harap tenang!" teriakku dengan lantang.
Sekejap suasana kembali sepi.
"Dokter tidak bisa menjawab kalau kita berteriak terus! Beri dia kesempatan untuk bicara." Aku berusaha menjelaskan.
"Ya. Kau benar Mayor. Maafkan ketidak sopanan kami," ujar penduduk desa.
"Ya, aku mengerti. Jadi, silahkan dokter." Aku memberikan Dokter kesempatan untuk bicara.
"..." Dokter hanya diam saja.
"Trent? Kau baik-baik saja?" tanyaku cemas. Dia bahkan tidak bergerak sesentipun sejak di keluar dari ruang periksa. Dan tidak menimbulkan suara apapun. Sepertinya terjadi perang batin di dalam dirinya.
"..." Dokter tetap terdiam dan masih menunduk ke bawah.
"Maaf. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin." Akhirnya dia bicara juga setelah lama terdiam.
Sekarang semuanya diam. Tampak keputus asaan terlukiskan di wajah mereka. Kemudian isak tangis dari beberapa perempuan mulai terdengar.
"Begitu ya." Virginnia sudah kehilangan harapannya.
"Maafkan aku. Aku memang tidak layak sebagai seorang dokter! Tapi, penyakitnya sudah terlalu parah dan tidak dapat disembuhkan lagi. Melakukan operasi pun sudah tidak ada gunanya lagi. Karena kankernya sudah sampai ke jantungnya." Dokter berusaha memperjelas apa yang terjadi.
"Dokter! Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Aku juga merasa begitu. Tidak berhasil menolong seseorang terutama yang paling berarti, rasanya sangat menyakitkan." Elli yang sejak tadi di dalam ruang periksa, keluar dan menghampiri Dokter.
"Tidak apa-apa Trent, Elli. Ini bukan salah kalian. Aku tahu kalau cepat atau lambat ini akan terjadi. Hiks hiks hiks," kata Virginnia. Ia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi dan menangis tersedu-sedu. Air matanya membasahi wajahnya. Lalu Manna dan perempuan lain menghampirinya.
"Virgin, kami mengerti perasaanmu. Kami juga perasakan kepedihan yang sama. Namun pasti berbeda denganmu. Karena dia orang yang terdekat denganmu," ujar Manna berusaha menghibur sahabatnya itu.
"Terima kasih atas simpati kalian," ucapnya. "Kalian masih saja peduli terhadap kesedihan seorang nenek tua seperti aku ini," lanjutnya dengan suara lirih.
Beberapa perempuan yang lain masih menghibur Virginnia untuk beberapa saat. Lalu setelah itu semuanya pulang ke rumah masing-masing. Besok akan diadakan pemakaman untuk Joshua.
Di pemakaman depan gereja...
"Semuanya, mari kita doakan Josh dan juga kita mohon pertolongan pada Harvest Goddess agar kita semua bisa bertahan dalam menghadapi dan melalui cobaan ini," ujar Carter. Kemudian semuanya berdoa. Tentu saja dipimpin oleh Carter. Kemudian Josh dikuburkan.
Keesokan harinya, semua penduduk berkumpul di depan makam Josh untuk berkabung. "Kita telah kehilangan satu dari saudara kita, Joshua AP. Semoga dia diterima disisi Harvest Goddess," ucap Carter.
Seminggu setelah itu seolah menyusul kepergian Joshua, Virginnia tiba-tiba terjatuh di kebunnya dan tidak sengaja ditemukan oleh Manna, sahabatnya. Setelah diperiksa oleh Dokter, dia dinyatakan meninggal. Penyebab kematiannya tidak diketahui mungkin, karena sudah terlalu tua atau stress yang berkepanjangan. Ia dimakamkan disamping makam Joshua.
Sekarang, desa Mineral telah kehilangan dua orang yang sangat berharga. Kejadian itu cukup membuat keadaan desa terguncang dan para penduduk dilanda oleh kesedihan yang mendalam.
Tiga hari kemudian...
"Aku tidak boleh membiarkan desa dalam keadaan begini terus," gumamku. "Sebagai walikota desa Mineral, aku harus melakukan sesuatu." Aku membulatkan tekad.
Lalu aku memutuskan untuk membicarakan masalah ini dengan Carter.
"Carter, desa kita ini seperti sudah mati. Orang-orang jadi sering melamun dan tidak saling bertegur sapa seperti biasanya. Bahkan ketika ada festival pun tidak ada yang mempedulikannya dan hanya tinggal di dalam rumah. Entah apa yang mereka kerjakan. Setiap kali kutegur akan sikap mereka yang tidak mempedulikan festival, mereka selalu bilang kalau mereka lupa atau mereka beranggapan tidak ada gunanya melakukan festival kalau tidak ada Joshua dan Virginnia,"curhatku. "Aku harus bagaimana lagi Carter?" teriakku histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Carter.
"Uwaaa... Hei hei! Tenanglah Mayor! Kalau terlalu panik begitu, aku tidak bisa menjawab," ucapnya sambil berusaha melepaskan diri.
"Mana bisa aku tenang-tenang saja?" bantahku. "Huff... kurasa kau benar Carter, aku terlalu berlebihan. Maaf," sesalku. "Aku telah bersikap tidak sopan sebagai walikota kepada seorang pendeta."
"Tidak apa. Aku mengerti perasaanmu. Tapi, kurasa tidak ada jalan lain selain menunggu seseorang yang mengubah desa ini. Mungkin orang luar. Menurutku tidak akan ada gunanya jika kita yang melakunkannya, itu tidak akan berhasil. Entah kenapa aku punya firasat begitu. Aku percaya cepat atau lambat nanti keadaannya akan membaik," ujarnya. Aku berusaha memahami kata perkata yang ia ucapkan. Tapi bagaimanapun juga itu terdengar mustahil di telingaku. Tapi meskipun begitu apa yang bisa kulakukan? Penduduk masih tidak bisa mengerti maksudku. Jadi apa boleh buat, aku percaya saja pada Carter. 'Hmm... tapi mungkinkah itu akan terjadi?' pikirku.
"Jadi begitu menurutmu. Baiklah, aku juga sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Aku hanya berharap kata-katamu itu benar Carter." ucapku pasrah.
"Tenang saja Mayor," katanya lembut. 'Haaaah... terkadang aku berpikir, bagaimana dia bisa setenang itu dalam menghadapi segala persoalan?' batinku.
(End Flashback)
Ice: Dan chapter ini selesai!
Elli: Aku sama sekali tidak ada di chapter ini. Kenapa?
Jack: Sudah pasti karena aku pemeran utamanya kan.
Elli: Tidak adil. Aku kan juga pemeran utama.
Ice: Sudah sudah. Elli, kau akan muncul satu atau dua chapter ke depan. Jadi, jangan khawatir. Jack,
jangan mentang-mentang peranmu banyak jadi kau besar kepala ya. Ingat, aku bisa menyingkirkanmu kapan saja aku mau.
Elli: Yah... masih lama.
Jack: Oh, kau tidak bisa. Karena akulah pasangan sejati Elli.
Ice: Oh ya? Tentu aku bisa mengubahnya. Dengan Dokter misalnya?
Elli: Kyaaaaaaa! Dokter yang cool itu?. Beda sekali dengan Jack yang konyol.
Holy (yang tiba-tiba muncul): Berisik banget sih di sini! Aku nggak bisa edit dengan benar nih!
Ice: Hohoho! Bagaimana Jack? Sudah menyerah?
Jack: Huh! Lihat saja nanti, akulah yang akhirnya akan mendapatkan Elli.
Holy dan Ice: Belum tentu.
Karen: Pertengkaranpun masih terus berlanjut. ==' Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Holy: Jangan lupa review ya! HUGS AND COOKIES!
Karen: Kok malah promosiin punya orang lain? Mending kamu update sendiri ficmu.
Holy: Nggak apa-apa dong! Eh, kalian semua! Sekalian review ficku yaaa! (Pen name: TheHolyStar) Hahahaha...
