Kris Wu | Kim Jongin | Yoo Ara | Oh Sehun | Jung Yunho | Shim Changmin | Park Chanyeol | Rachel Wu

An Alternate Universe Fanfiction

MIANHAE

by

rappicasso

Chapter 3

.

.

.

"Kau bisa tidur di kamar ini." Kris mengantar Jongin di depan sebuah pintu kamar.

Jongin menatap pintu itu dan Kris secara bergantian. Sepertinya, ia masih ragu untuk menerima tawaran Kris dengan tidur di apartemen ini.

Kris menatap Jongin lekat-lekat. "Kau tak perlu khawatir. Aku tak akan macam-macam denganmu," timpal Kris. "Kalau kau tak percaya, kau bisa mengunci pintu kamarku terlebih dahulu lalu―"

"Tidak perlu." Jongin menatap Kris. Ia tersenyum kecil. "Kau tidak perlu berlebihan seperti itu," lanjutnya. "Terima kasih sudah memberiku bantuan, Kris-ssi." Ia membungkukkan badannya sekilas.

Kris terdiam. Refleks, sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia merasa senang ketika melihat Jongin tersenyum ke arahnya. "Aku membantumu dengan senang hati. Lagipula, bantuan ini bukanlah apa-apa," ucap Kris. "Bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakitmu," lanjut Kris dalam hati.

Jongin mengangguk. "Aku ingin istirahat sekarang saja," gumamnya.

"Ah, tentu saja." Kris mengangguk dan membukakan pintu kamar untuk Jongin. "Silakan, Jongin-ah."

"Aku permisi dulu. Selamat malam." Jongin segera masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu kamarnya.

Sementara itu, Kris masih menikmati sisa kebahagiaannya. Punggungnya menyandar pada dinding di dekat kamar Jongin. "Setelah 7 tahun, akhirnya aku bisa melihat senyummu itu lagi, Jongin-ah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi itu, Jongin terbangun karena cahaya yang masuk melalui celah jendela kamarnya―well, kamar Kris yang dipinjamkan untuknya. Ia menggeliat pelan, kemudian mengusap kedua matanya yang masih enggan terbuka. Jongin berusaha mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sambil meregangkan otot tubuhnya. Ia melirik ke arah jam dinding yang kini sudah menunjukkan pukul 06.38 pagi.

"Huh, sudah jam setengah 7 rupanya," gumam Jongin pelan. "Untung saja, tak ada kuliah pagi hari ini," lanjutnya. Ia pun menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan turun dari kasur yang empuk. Kakinya yang jenjang membawanya menuju ke dekat jendela. Ia melihat pemandangan kota Seoul dari ketinggian―entah berapa meter tingginya. "Indah sekali," gumam Jongin.

Jongin tahu, Kris adalah orang yang sangat kaya. Jadi pria itu bisa menghamburkan uangnya dengan menikmati pemandangan indah dari kamarnya setiap pagi―atau setiap saat.

Ngomong-ngomong soal Kris, Jongin pun teringat dengan pria bertubuh jangkung tersebut. Sambil membenahi pakaiannya, Jongin pun berjalan cepat keluar dari kamar. Dilihatnya keadaan sekelilingnya.

Sepi. Apartemen itu serasa seperti apartemen tak berpenghuni. Ia tak bisa membayangkan jika Kris bangun tidur dan selalu mendapati keadaan seperti ini. Huh, lebih enak tinggal di kamar sewa Jongin―walaupun kumuh dan murahan, namun setidaknya keadaannya tidak sesunyi ini.

"Apa Kris sudah berangkat bekerja?" gumam Jongin sambil masih mengedarkan pandangannya. Ia mencoba berjalan ke sekeliling dan mencari keberadaan Kris. Hingga kakinya pun berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya masih tertutup. Jongin mencoba membuka pintu ruangan yang ternyata tidak terkunci itu.

CKLEK!

Jongin mengintip ke dalam ruangan. Dilihatnya seseorang sedang berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam.

Itu Kris.

"Oh, dia masih tidur," gumam Jongin pelan. Dalam hati, ia bersyukur.

Setidaknya, ia bisa pergi dari apartemen tersebut sebelum sang pemilik apartemen terjaga dari tidurnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pagi itu, Kris dibangunkan oleh bunyi alarm ponselnya yang telah diaturnya untuk berbunyi pada pukul 07.00―seperti biasanya. Ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengedipkan matanya―menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Ia berusaha mengumpulkan nyawanya selama beberapa detik.

Dan seketika ia teringat sesuatu.

"Jongin!" Kris tak bisa untuk tak heboh saat teringat dengan pemuda itu. Ia segera bangkit dari kasur dan berlari gelagapan menuju kamar yang digunakan Jongin.

CKLEK!

Kosong.

Kris melongo ketika mendapati kamar itu kosong―tak berpenghuni seperti hari-hari sebelumnya. Apakah semalam saat ia menjadi pahlawan bagi Jongin hanyalah halusinasi untuk dirinya? Apakah yang semalam itu hanyalah mimpi?

Kaki-kaki Kris melemas dan ia berjalan gontai memasuki kamar tersebut. Ia duduk di atas ranjang. Jemarinya menyentuh ranjang yang terlihat rapi tersebut. Matanya terpejam dan meresapi aroma yang asing untuknya. "Apa ini aroma Jongin?" batinnya dalam hati. Tangannya mengusap-usap kasur yang didudukinya, sambil merasakan bahwa seseorang telah tidur di atasnya semalam.

Dan seseorang itu adalah Jongin.

Mata Kris kembali terbuka. Dan ia mengacak rambutnya frustasi.

Jadi, mana yang benar? Jongin sempat tidur di kamar itu atau tidak?

Tiba-tiba, mata Kris tertarik pada secarik kertas yang tergeletak di atas meja nakas. Tangannya mengambil kertas tersebut dengan perasaan gugup dan dada yang berdegup kencang. Ia membaca tulisan tangan di atasnya.

Terima kasih sudah mengijinkanku menginap di apartemenmu semalam. Aku tidur dengan sangat nyenyak. Maaf jika aku langsung pergi karena aku harus melakukan beberapa pekerjaan. Sekali lagi, terima kasih.

-Kai-

Sudut bibir Kris tertarik ke atas. Dan untuk kesekian kalinya, Kris tersenyum bahagia karena Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau harus pindah dari sini." Han Ahjumma memasang wajah acuhnya saat bertemu dengan Jongin.

Jongin hanya bisa melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Han Ahjumma. Ketika ia kembali ke kamar kontrakannya, ia dikejutkan dengan barang-barangnya yang sudah dikeluarkan dari kamarnya. Dan kini, saat ia meminta penjelasan dari Han Ahjumma, ia justru ditampar oleh fakta yang mengejutkan ini. "T-tapi, Ahjumma a―" Jongin hendak protes.

"Tak ada tapi-tapian, Kai." Namun Han Ahjumma langsung memotong ucapannya. "Segera angkat kaki dari tempat ini. Aku sedang banyak urusan," lanjutnya sambil membalik badannya dan berjalan menjauhi Jongin.

Jongin membisu dan mematung di tempatnya. Kedua kakinya seolah tak mempunyai tenaga untuk menyangga beban tubuhnya―dan beban hidupnya yang semakin bertambah itu. Ia ingin sekali menangis karena masalah yang tak kunjung usai mendera hidupnya.

Dan tanpa Jongin ketahui, Han Ahjumma yang semakin menjauh itu menitikan air matanya. "Maafkan aku, Kai-ah."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jongin menginap di rumahmu?" Ara membulatkan matanya tak percaya, ketika mendengar penjelasan Kris melalui sambungan telepon. Ini adalah suatu keajaiban―mengingat bahwa Kris saja sudah hampir menyerah karena Jongin sudah menolak bantuannya dengan begitu keras.

"Iya. Kau tidak percaya kan? Aku juga tidak percaya dengan semua ini, Ara-ya."

Ara bisa menangkap nada yang begitu gembira dan penuh semangat di ujung telepon. Ia tak pernah mendengar suara Kris yang seperti itu selama beberapa tahun terakhir. Ia tersenyum senang karena mendengar sahabatnya sudah kembali ceria seperti sedia kala. Sepertinya, Jongin memang cukup berhasil mengembalikan Kris-nya.

"Awalnya, dia seperti hendak menolak tawaranku untuk menginap. Tapi aku berhasil meyakinkannya. Ya Tuhan, aku senang sekali."

Ara tertawa kecil mendengarnya. Kris sungguh mirip dengan anak gadis yang sedang jatuh cinta. Tidak ingatkah bahwa usianya sudah tak bisa disebut muda lagi? "Bagaimana kau bisa bertemu dengannya lagi, eoh?" tanya Ara penasaran.

"Entahlah, aku juga tak tahu. Tiba-tiba saja, aku mendapat bisikan yang mengharuskan untuk pergi ke bar tempat Jongin bekerja."

Ara mendengarnya baik-baik. Tunggu, ini kedengaran seperti sebuah kebetulan yang biasa dilihatnya di drama atau film, bukan?

"Dan saat aku sampai disana, Jongin nyaris saja mendapat kecelakaan."

"Kecelakaan?" Ara mengernyit heran.

"Yah, kau tahu, bekerja di bar malam sangatlah beresiko. Dan ya, kau bisa menebak sendiri kelanjutannya."

"Oh." Ara mengangguk paham―meski Kris tak bisa melihatnya. Ia tahu kecelakaan macam apa yang dimaksud oleh Kris. Well, jika mengingat bagaimana sosok Jongin, pemuda itu memang beresiko banyak mengalami kecelakaan macam itu. Jongin masih muda dan cukup manis, meski ia berkulit tan. Pasti banyak sekali pria atau wanita yang menginginkannya. Ah, Ara sedikit merasa kasihan padanya.

"Bukankah ini pertanda yang cukup baik, Ara-ya? Setidaknya, ia tahu bahwa aku tulus dalam membantunya."

"Ya, kau benar." Ara kembali tersenyum. Ya, setidaknya ini merupakan suatu titik cerah. Titik cerah untuk mengembalikan Kris Wu seperti dulu―dan titik cerah atas misi yang masih dirahasiakan oleh Kris.

"Kurasa, aku akan kembali menemuinya nanti. Kuharap, ia bisa mulai menerimaku."

"Kuharap begitu, Kris. Fighting!" Ara berusaha menyemangati Kris sambil berdoa semoga Jongin bisa memberi Kris kesempatan.

KLING~

Tab milik Ara berbunyi pelan―menandakan pesan masuk. Sementara ia masih berkomunikasi dengan Kris, tangannya yang lentik menari di atas layar tab sambil mengecek pesan tersebut.

Misi pertama sudah terlaksana dengan baik.

Seketika, Ara membeku di tempatnya. "Oh tidak, Kim Jongin!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Ketika Han Ahjumma telah mengusirnya, Jongin hanya bisa memikirkan satu tempat untuk menjadi pelariannya saat itu.

Tempat Park Ahjussi.

Jongin mengenal baik pria paruh baya itu. Pria itu sangat dekat dan baik kepadanya. Setidaknya, ia bisa mengharapkan sedikit bantuan dari pria itu. Diberi tempat penginapan semalam saja sudah menjadi keberuntungan yang luar biasa bagi Jongin. Mungkin keesokan harinya, ia bisa mencari kontrakan lainnya untuk ditinggali.

Kini Jongin hampir sampai di tempat Park Ahjussi. Tangannya sibuk menjinjing tasnya yang berisi beberapa pakaian, sementara bahunya menyandang tas ransel yang berisi pakaian lainnya dan buku-buku kuliahnya. Dilihatnya sosok Park Ahjussi yang sedang menyirami bunga di halaman depan rumahnya. Jongin semakin tersenyum cerah. Ia berjalan dengan cepat menuju rumah Park Ahjussi. Sesungguhnya, ia merasa sedikit bersalah karena ia tak bisa datang bekerja pagi itu. Namun apa daya, pagi itu adalah pagi yang cukup berat untuk Jongin.

"Annyeong, Ahjussi." Jongin menyapa Park Ahjussi ketika ia sudah tiba di balik pagar rumah Park Ahjussi.

Park Ahjussi menghentikan kegiatannya sejenak, lalu mendongak menatap Jongin. "Oh? Kai-ah," balasnya. Pria itu berjalan mendekat menuju pagar rumahnya. "Kau tidak datang bekerja pagi ini," komentarnya sambil membuka pagar rumahnya.

Jongin meringis. "Maafkan aku. Semalam, aku mendapat sedikit masalah, sehingga aku harus menginap di rumah seorang teman. Jadi aku sedikit terlambat," jelas Jongin dengan penuh perasaan bersalah.

"Ah, gwaenchana." Park Ahjussi tersenyum bijak. "Kenapa kau membawa banyak tas, Kai-ah?" tanya Park Ahjussi saat memperhatikan Jongin yang sedang membawa dua tas yang berisi banyak dan terlihat berat itu.

Jongin berdeham pelan. "Aku diusir dari kontrakanku, karena menunggak membayar uang sewa," jawab Jongin dengan raut wajah yang sedih.

"Begitukah?" Park Ahjussi nampak terkejut mendengar penuturan Jongin. "Jadi kau berencana tinggal dimana?" Seingat Park Ahjussi, Jongin sudah hidup sebatang kara. Tak ada satu pun anggota keluarga yang tersisa. Jadi selama beberapa tahun terakhir, Jongin memang harus tinggal seorang diri.

"Hm entahlah," balas Jongin pasrah. "Park Ahjussi, bolehkah aku menginap di rumahmu untuk semalam saja? Besok aku akan langsung pindah dari rumahmu," ucap Jongin penuh harap.

"Aku akan dengan senang hati menampungmu, Kai-ah," balas Park Ahjussi. "Hanya saja, ada satu kenyataan yang harus kau ketahui," lanjutnya.

Jongin mengerjapkan kedua matanya. "Ada apa, Ahjussi?" tanyanya penasaran.

"Aku tak bisa memberimu pekerjaan lagi sebagai pengantar koran, karena akhir-akhir ini pendapatan kami menurun," jawab Park Ahjussi yang kelihatan begitu menyesal.

"Oh?" Jongin tertunduk lesu.

"Tapi kau tetap bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu," lanjut Park Ahjussi cepat.

Jongin mendongak dan menatap Park Ahjussi dengan perasaan ragu. Sepertinya, kondisi keuangan Park Ahjussi memang sedang cukup sulit. Tak mungkin ia menambah beban pria paruh baya itu. Jongin pun tersenyum kecil. "Ah, tak apa, Ahjussi," balasnya lembut. "Mungkin aku bisa mencari kontrakan sebelum berangkat kuliah," ucap Jongin.

"T-tapi―"

"Terima kasih sudah menerimaku bekerja selama ini. Annyeong, Ahjussi." Dan Jongin pun pergi meninggalkan rumah Park Ahjussi.

Park Ahjussi menatap punggung Jongin yang sudah menjauh itu dengan perasaan iba. Sesungguhnya, ia juga tak tega untuk melakukan ini pada Jongin yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Namun, bagaimanapun juga, ia harus melakukan ini demi kebaikan Jongin. "Semoga kau bisa mendapat hidup yang lebih layak dari ini, Kai."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kris berdiri sambil menyandarkan punggung kokohnya pada Ferrarri milik Ara yang baru saja dikemudikannya. Ia masih memandang gelisah ke sekelilingnya. Pasalnya, orang yang ia tunggu sejak tadi, sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.

Yah, siapa lagi kalau pemuda bernama Kim Jongin?

Kris sudah berada di kampus Jongin sejak beberapa menit yang lalu. Ia mencoba mencari-cari ke kelas-kelas dan menanyakan ke beberapa mahasiswa disana. Namun hasilnya nihil. Tak ada satupun orang yang melihat Jongin hari ini. Entah kenapa, Jongin seolah hilang ditelan bumi. Di pagi hari, ia mendadak menghilang dari apartemen Kris dan kini ia sama sekali tidak terlihat di kampusnya. Bukankah tadi, Jongin mengatakan bahwa ia sedang ada urusan di suratnya? Lalu, urusan yang dimaksud oleh Jongin itu seperti apa, jika bukan pergi ke kampus?

Kris menghela nafas. "Mungkin dia sedang bekerja," batinnya dalam hati. Kris pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobilnya dan segera mengemudikannya ke tempat-tempat dimana Jongin biasanya bekerja.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin terduduk di halte bis di dekat kampusnya. Ia sama sekali tidak memiliki semangat untuk masuk kuliah hari ini, karena masalah yang terlalu banyak dan membebaninya. Ia masih memikirkan bagaimana caranya ia mendapat kerja baru dan tempat tinggal untuk dirinya. Yah, setidaknya, ia masih bisa mengandalkan pekerjaannya di bar malam, sehingga ia tetap mendapatkan pendapatan. Namun gajinya di bar malam tidak selamanya mencukupi kebutuhan hidupnya.

Tiba-tiba saja, ponsel milik Jongin pun berdering. Jongin segera mengambil ponselnya di dalam saku celana dan mengangkat panggilan tersebut. "Yoboseyo?"

"Kai!"

Jongin tersenyum cerah ketika mengenali suara sang penelepon. "Minseokie Hyung?" balas Jongin senang.

"Bagaimana kabarmu eoh? Kau baik-baik saja setelah insiden semalam, bukan?"

"Hm, ya, Hyung," balas Jongin seadanya. Karena kenyataannya, ia tidak baik-baik saja saat ini. "Hyung aku ingin bicara―"

"Bos menyuruhku menghubungimu dan mengatakan―"

Kedua berkata dalam waktu yang sama.

"Ah, kau dulu yang bicara, Kai-ah."

"Ani. Minseok Hyung dulu saja," pinta Jongin―memutuskan untuk mengalah.

"Hm baiklah. Sungguh, aku tidak ada ikut campurnya dalam masalah ini. Bos hanya menyuruhku untuk memberitahukan bahwa―"

Dada Jongin berdegup kencang saat menantikan Minseok menyelesaikan kalimatnya. Ia penasaran dengan pesan apa yang dititipkan bos di bar tempatnya bekerja pada Minseok untuk disampaikan pada dirinya.

"―kau terpaksa dipecat karena insiden semalam."

Jongin seperti mendapat petir di siang bolong.

Ya Tuhan, cobaan macam apa lagi yang diturunkan untuknya?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Dia baru saja datang kemari, Tuan."

Kris merasa kalah cepat. Ia datang setelah Jongin pergi meninggalkan rumah Park Ahjussi―tempat Jongin bekerja untuk mengantarkan korang setiap pagi. "Ah, begitu ya?" gumam Kris yang nampak menyesal. "Apakah dia mengatakan sesuatu bahwa ia akan pergi ke suatu tempat setelah dari sini?" tanya Kris penasaran. Mungkin ia bisa mencari tahu keberadaan Jongin saat ini.

"Hm dia berencana mencari kontrakan, sebelum berangkat kuliah. Begitu katanya," jelas Park Ahjussi.

"Mencari kontrakan?" Kris nampak bingung. Seingat dia, Jongin sudah menyewa sebuah kamar kontrakan di kawasan kumuh di pinggiran kota Seoul.

"A-ah, kau belum tahu? Jongin diusir dari kontrakannya pagi ini," jelas Park Ahjussi yang nampak sedih. "Kasihan sekali, anak itu. Kai adalah anak yang baik, tapi akhir-akhir ini, hidupnya benar-benar harus diuji," tutur Park Ahjussi.

Dalam hati, Kris sangat setuju dengan ucapan pria paruh baya itu. Ya, Jongin adalah anak yang baik, namun kadang keadaan membuatnya harus hidup dengan susah payah seperti ini. "Terima kasih atas informasinya, Ahjussi," ucap Kris akhirnya. "Aku permisi dulu. Annye―"

"Urm, maaf." Park Ahjussi memotong ucapan Kris.

"Ne?"

"Kalau aku boleh tahu, kau memiliki hubungan apa dengan Kai?" tanya Park Ahjussi nampak penasaran.

Kris meringis. Ia bingung harus menjawab bagaimana―mengingat bahwa hubungannya dengan Jongin memang sulit dijelaskan. Entah teman, musuh, kenalan, atau justru orang asing. "Urm, dia temanku. Teman spesial," balas Kris akhirnya.

Park Ahjussi tersenyum kecil. "Hm teman spesial ya? Kuharap, kau bisa menjaga Kai dengan baik." Park Ahjussi mengukir senyum misterius di wajahnya.

Dan membuat Kris bertanya-tanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin benar-benar bingun, apa lagi yang harus ia lakukan setelah ini. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa masalah-masalah ini datang secara bertubi-tubi. Dimulai dari diusir dari kontrakannya dan dipecat dari dua pekerjaan yang menjadi sumber utama hidupnya. Jika bisa, mungkin ia sudah menangis sekeras-kerasnya dan membiarkan dunia mengetahui seberapa mendeitanya hidup seorang Kim Jongin. Namun, jika dipikir-pikir, apa untungnya menangis? Menangis tidak dapat menyelesaikan masalah―apalagi mengembalikan kontrakan dan pekerjaannya.

Jongin mendesah keras. Ia mendekap erat tas jinjingnya di depan dada. Tiba-tiba, matanya tertuju pada kertas kusut yang terselip di bagian samping tasnya. Samar-samar, ia mampu mengingat kertas apa itu. Ia pun mengambilnya dan membaca deretan tulisan kecil di atasnya.

"Kris Wu, haruskah aku bergantung padamu?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kris sudah berkeliling kesana kemari untuk mencari keberadaan Jongin. Semakin lama, ia semakin mengkhawatirkan keadaan pemuda itu. Ia khawatir jika Jongin melakukan hal-hal yang tak diinginkan―seperti menjual diri atau bunuh diri mungkin? Ah, mungkin Kris terlalu berlebihan. Kris tahu, Jongin tidak mungkin mengambil resiko seperti itu.

Kris masih mondar-mandir di dalam apartemennya saat ponselnya berdering nyaring. Ia melangkah malas untuk menghampiri ponsel yang diletakkannya di atas meja. Ia melihat layarnya yang hanya menampilkan deretan angka yang berarti bahwa nomor penelepon itu tidak terdaftar dalam kontak teleponnya di ponsel. Ia mengangkat panggilan tersebut dengan enggan. "Yoboseyo?"

"K-kris?"

Kris sepertinya mengenali suara pria dalam telepon tersebut.

"Apakah benar ini nomor Kris Wu?"

Kris mengernyit. Ia benar-benar mengenali suara tersebut. "Jongin-ah? Kim Jongin?" Ya, menurut Kris, itu adalah suara milik Jongin.

"N-ne."

"Syukurlah, kau meneleponku! Aku mencarimu seharian ini," ucap Kris yang kedengaran begitu bahagia. Ia sangat ingin melompat-lompat atau berlari mengelilingi lapangan untuk meluapkan rasa bahagianya.

"K-kau mencariku?"

"Ah, sudahlah, itu tidak penting." Kris terkekeh. "Ada apa kau menghubungiku, Jongin-ah?" tanya Kris penasaran. Kris sungguh berharap jika ini akan membuka pintu sehingga ia lebih dekat lagi dengan Jongin.

"Sebelumnya, a-aku ingin minta maaf, jika aku mengganggumu. Tapi, b-bolehkah aku meminta bantuanmu, Kris?"

Ya Tuhan! Demi apapun! Kris ingin sekali mencubit gemas pipi Jongin, jika saja pemuda itu berada di dekatnya. "Tentu saja, aku akan membantumu dengan senang hati, Jongin-ah!"

.

TBC

.

Sejauh ini, ini adalah chapter tergagal Mianhae yang aku buat -_-

Kemarin, di review Marry Me ada yang ngingetin buat ngelanjutin ff ini. Makasih ya. Aku emang belum lanjutin ff ini, karena aku belum punya feel buat ngelanjutinnya. Dan sebelum ff ini semakin terbengkalai, jadi aku putusin buat lanjutin ff ini dengan feel seadanya.

Dan tadaa! Inilah jadinya ._. Maaf kalo ancur hehe. Aku bakal berusaha update cepet dan lebih baik lagi dari ini. Aku cuma butuh review buat semangatin aku.

Tenang aja, next chap bakalan banyak moment KrisKai ^^

So, mind to leave your review?

with love,

rappicasso