Chappiee opaatt...

OC muncull...

Seperti janji saya kemarin...

Huhuhuhu...

I don't own Naruto


Hunting

Setelah pengemuman resmi keluarnya Karin dari All Stars yang terpampang secara langsung di situs All , berbagai macam gosip dan asumsi-asumsi tidak penting pun mulai berseliweran dari berbagai pihak. Ada yang mendukung, ada juga yang menyayangkan. Desas-desus penyebab dikeluarkannya Karin dari geng cewek paling berkuasa di Konoha itu kontan menjadi hal paling booming saat ini. Maklum saja, tidak ada satu pun dari para All Star yang berani memaparkan secara gamblang penyebab hengkangnya salah satu anggotanya tersebut. Apalagi pernyataan terakhir yang menyatakan bahwa mereka sedang menjadi anggota baru, makin banyak saja gadis-gadis Konoha yang berlomba-lomba menarik perhatian All Stars. Siapa sih yang tidak mau masuk kalangan it girltersebut?

"Loe yakin ngeluarin Karin dari All Stars adalah keputusan yang baik?" tanya Ino ketika mobil Sakura sudah mulai memasuki pelataran parkir Konoha Leaf High.

"Dia udah mencoreng nama baik All Stars. Kelakuan dia itu udah nggak bisa ditolerir lagi." tutur Sakura pendek, lalu menyembul keluar dari mobilnya sambil memutar-mutar kunci mobil dengan jari telunjuknya. Murid-murid yang mulai menyadari kedatangan para pentolan itu segera menyingkir dan sesegera mungkin menjauh dari mereka.

"Hanya karena dia tidur sama Suigetsu?" cetus Tenten sambil menclangklongkan Coach Belted Leather Postman Bag coklatnya yang sedikit melorot.

"Kalau loe semua nggak mau diam, nggak cuma Karin yang bakal keluar dari All Stars hari ini!" Sakura mendelik kesal yang langsung membuat ketiga temannya diam. Meskipun tidak ada pernyataan resmi, secara tidak langsung Sakura adalah ketua All Stars yang mempunyai hak untuk menentukan apapun. Termasuk mengeluarkan anggota yang—dianggap—sudah tidak layak menjadi anggota All Stars. Mereka berempat berjalan menelusuri koridor sekolah yang panjang diiringi tatapan segan dari murid-murid lainnya. Namun mereka sudah terbiasa dengan 'sambutan pagi' seperti itu. Para anggota All Star memang selalu terlihat mencolok dari murid-murid lainnya, jadi wajar saja kalau semua orang mengenalinya. Salah satu ciri yang selalu serempak mereka perlihatkan adalah seragam sekolah yang diperketat, rok di atas lutut, dan tentu saja, ciri utama anggota All Star, opera-length necklace(1) keluaran Harry Winston bermotif bintang dengan berlian berwarna berbeda-beda—Temari sempat melihat Karin sudah tidak memakai kalungnya--Namun untuk menunjukkan keeksisan masing-masing, mereka juga mempunyai trademark yang berbeda-beda.

"Pulang sekolah mau ke mana, nih? Gimana kalau ke Loulou Lounge?" usul Ino sambil mengeluarkan make up kit-nya ketika mereka sudah berada di kamar mandi. Ya, tempat pertama yang mereka kunjungi ketika tiba di sekolah bukanlah kelas, melainkan kamar mandi.

"Boring..." sahut Temari, asyik me-roll poninya ."Gue harus nyari baju...minggu depan gue harus ngikut acara pertemuan bokap ama perdana menteri...gimana kalau kita ke Valentino? Atau hunting-hunting dress terbaru Victoria's Secret?"

"Hih, ngapain ke butiknya ibu-ibu gitu?" Tenten langsung sewot. Ia paling tidak suka kalau harus menemani teman-temannya yang shopaholic berkeliling butik-butik--yang menurutnya--merupakan kawasan ibu-ibu.

"Daripada hunting Victoria's Secret, mendingan kita hunting anggota baru, kan?" seru Sakura yang langsung mendapat perhatian ketiganya. Merasa diperhatikan, Sakura melanjutkan kata-katanya."Gue gak mau jumlah All Stars genap. Kita harus dapet pengganti Karin secepatnya. Gue yakin banyak cewek-cewek lain yang pantas gabung ama kita." Ia sendiri sedang sibuk memulas pipinya yang kemerahan dengan loose powder MAC keluaran terbaru.

"Caranya?" Temari mengerutkan keningnya penasaran.

Sakura hanya tersenyum dikulum menanggapi pertanyaan temannya itu.


Kini mereka berempat telah berkumpul di kantin, tepatnya di meja pojok tempat biasa mereka tempati. Kantin Konoha Leaf High memang luas--bisa dibilang lebih mirip food court di salah satu mall terkenal dibanding kantin sekolah--ambiance-nya yang enak, dan beberapa tempat-tempat strategis untuk menghabiskan waktu makan siang. Di deretan meja pojok itu lah kita bisa ngerumpi sampai puas, melihat pemandangan taman sekolah yang terbentang luas di balik dinding kaca, bahkan merokok—tanpa ketahuan guru ataupun penjaga sekolah. Namun tentu saja, tempat-tempat istimewa tersebut hanya bisa diduduki orang-orang yang istimewa juga.

All Stars contohnya.

"Hmmm...let me see...Gimana kalau Akasuna Jezz? Adiknya Sasori?" seru Temari sambil membolak-balik daftar murid perempuan kelas 11 Konoha Leaf School. Bagaimana mereka dapat arsip sekolah dengan mudahnya? Money talks tentu saja.

"Are you kidding me? Gue denger dia anak baik-baik. Runner-up Olimpiade Sains malah! Yang kayak gitu mana mau diajak clubbing?" Sakura menegak iced cappucino-nya sambil melengos malas.

"Kalau Rin Kajuji? Ceweknya si Kiba? Mau nggak?" ujar Tenten yang sedang mengemut sebatang lolipop oranye."Bokapnya yang punya Kajuji Advertising."

"Orangnya yang kayak gimana?" Ino mengangkat sebalah alisnya. Sesekali matanya melirik sosok lelaki berambut hitam yang tengah asyik merokok bersama gerombolan cowok-cowok lain.

"Mmm...kalau di sini sih gambarnya...warna rambutnya ungu tua...matanya oranye..." tutur Tenten sambil melirik foto Rin Kajuji yang terpampang di salah satu lembaran kertas.

"I see..."

"Gimana kalau si Yvne? Gue panggil ke sini, ya!" Sakura berseru riang sambil mencari-cari sosok gadis berambut kebiruan dengan hightlight soft white yang tengah berjalan keluar kantin sambil memainkan ponsel."Yvne! Yvne!"

Yvne Devolnueht, yang merasa namanya dipanggil, spontan menoleh ke arah Sakura. Gadis berambut pendek itu tersenyum simpul, menghampiri Sakura."Ada apa nih? Tumben pentolan manggil gue?"

"Gini, pasti loe tahu kalau Karin udah hengkang dari All Stars..." Sakura berbicara sambil memintir-mintir ujung rambutnya,"dan kayaknya loe cocok buat jadi pengganti dia."

"Hah? Gue? Jadi All Stars?" Yvne terbengong-bengong."Serius?"

"Dua rius." Tenten menjawab simpel, nyengir.

"Tapi...ya, gue pikir-pikir dulu, yah." jawab Yvne seadanya. Tubuh skinny-nya tampak serasi dibalik cropped vest yang dikenakannya. Sebagai putri salah satu pejabat Kejaksaan Tinggi, gadis itu cukup terkenal di kalangan kelas 11 dan 10.

"OK. Tapi besok udah ada final answer-nya, darling..." ujar Sakura sambil tersenyum manis. Gadis berambut merah muda itu terlihat begitu cantik dan menarik, kalau saja saja aksesori yang ia kenakan tidak terlalu berlebihan.

"Guys, abis ini kita cabut, yuk? Pelajaran sosiologi ini, nothing important." ujar Temari sambil mengambil ponselnya yang bergetar dari saku bajunya.

"Don't tell me we're going to Versace or somekind of them." cibir Tenten, melipat kedua tangannya yang bertumpu pada meja.

Setelah memandangi monitor HP-nya sesaat, Temari kembali membuka suara."Nope. Gue mau ketemuan ama kak gHee di The Ritz-Carlton Hotel. Wanna join?"

"Lumayan...gue bisa sekalian nebeng nyicip wine di sana...katanya satu-satunya hotel yang mendatangkan wine langsung dari Chateau de Malle itu hanya Ritz, lho!" seru Ino sambil tersenyum excited.

"Siang-siang gini negak wine?" Sakura memutar bola matanya malas."Tapi gue ikut, kok. Kakak loe itu kan punya preferred membership di Angelo, lumayanlah entar malem gue bisa nongkrong di situ."

"Kalau loe?" Temari mengarahkan kepalanya pada gadis berambut coklat yang duduk di sebelahnya."In...or out?"

"Ritz kan adanya seberangan ama Rodeo's Candy Bar...jadi pulangnya gue bisa sekalian mampir ke sana. Hehehe..."

"Dasar Tenten, nggak bisa jauh-jauh dari permen dan coklat!" Ino menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Ia tak habis pikir mengapa temannya yang candy-fetish ini bisa mempunyai postur tubuh yang cenderung slim, padahal dirinya sendiri harus berusaha mati-matian untuk mempunyai potongan tubuh yang ideal nan curvy dengan menghindari berbagai makanan berkalori dan berlemak tinggi.

"Loe harus ngurangin porsi ngunyah permen, honey." sahut Sakura sambil menyilangkan kakinya anggun."Loe punya penyakit turunan diabetes, kan? Gimana kalau mulai ngemil seaweed snack?"

"Emangnya gue vegetarian, apa?" gumam Tenten, menguburkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan yang menangkupi rambutnya."Lagipula peluang kena diabetes nggak lebih dari 3, kok."

"Jeez, Sakura. Bocah ini tuh udah ketergantungan ama permen! Nggak makan permen sehari aja mulutmu langsung kerasa pahit, kan?" Temari mencolek jahil tangan Tenten.

"Whatever." Tenten sudah malas mendengar berbagai komentar dari teman-temannya mengenai kesukaannya (yang cenderung berlebihan—at least, itu kata teman-temannya) pada permen. Apa salahnya sih doyan permen? Wong enak kok, batinnya.

"Enough, girls. Jangan gangguin Tenten lagi, kasian tuh, mulutnya udah maju lima senti. Bentar lagi monyongnya nyaingin donal duck, nih! Ha-ha-ha!" Sakura tertawa lepas disertai cekikikan yang lainnya.

Well, what a beautiful scene of 'friendship'.

To be continued


(1) : Kalung yang panjangnya 80 cm dan sampai di dada

OK, ok, ok!

Di chapter ini saia banyak mengumbar merek-merek barang kelas atas agar nuansa snobbish-nya makin keliatan...

Btw ada yang udah nonton Naruto Shippuuden Movie yang terbaru blom yang judulnya Bonds?? Saia lagi nunggu dipidi bajakannya nih...coz cuplikannya keren abis (Sasuke-nya ganteng banget, bo! Ya ampun...-drooling-)

PS: Kak gHee dan OC lainnya muncul chapter depan, yya...hehehehe...-peace sign-

Untuk yang udah rajin ngeripiu Unfab, saia JAMIN akan muncul beberapa kali dalam beberapa chapter ke depan..hehehehe...

Buat penggemar Hinata, harap sabar! Hinata akan muncul di chapter depan! I promised!

Thanks for reading...and dund forget to leave me a review!