Chapter 3 : Memori

Tittle : We Are Different

Author : Yue m00nlight

Pair : HunHan & ChanBaek

Cast : Temukan Seiring Waktu

Genre : Romance, Angst

School life

Rate : T

Lenght : Chaptered

Disclaimber : Semua cast milik orang tua mereka masing-masing, SM Entertainment, dan pastinya milik EXO L, hehehehe. Sedangkan ceritanya asli dua kelinci dan murni keluar dari otak Yue, setelah bertapa dan berpuasa di EXO Planet.

Warning : GS (for uke), typo(s) berserakan, OOC, cerita gaje plus abal & mungkin membosankan serta jangan bash para tokoh karena Yue Cuma pinjam nama mereka.

.

.

.

.

This is GS, if you dont like this story, cast or me

please close the tab now!

.

.

.

NO BASH, NO FLAME, NO PLAGIATOR

AND DON'T BE SIDERS

.

.

.

.

.

.

.

~Hope you enjoy this story chinguuu~

Baekhyun menghentak-hentakkan kakinya kesal, sementara Tao yang berjalan di sebelahnya hanya terkikik melihat tingkah Baekhyun. Ini hiburan menarik bagi panda, bagaimana tidak bayangkan saja kau langsung mendapatkan pernyataan cinta dari seorang namja populer di kantin dengan cengiran bodohnya kurang dari 24 jam sejak kepindahanmu. Apa kau tahu apa jawaban dari si cerewet baekhyun? 'Kau gila' itulah umpatan yang diterima Chanyeol karena sudah mengungkapkan perasaannya.

Chanyeol cengo. Kai terbahak keras. Sehun tersenyum tipis. Tao melotot. Baekhyun kesal. Dan seisi kantin menganga tak percaya.

Seorang Park Chanyeol, namja yang digilai banyak yeoja ditolak mentah-mentah.

Mau ditaruh mana image dirinya sekarang?

"Berhenti tertawa sebelum aku menyumpal mulutmu dengan sepatuku panda" ancam Baekhyun memberi death glare yang membuat Tao diam seketika.

Death glare mengerikan juga Baekhyun hadiahkan pada si namja tiang listrik bertelinga lebar, ketika dia masuk ke kelas. Awalnya Chanyeol ingin melanjutkan niat tertundanya tadi (?) namun di urungkan saat bel masuk berbunyi.

'Pulang sekolah nanti, juga bisa dilanjutkan' mungkin orang-orang menganggap dia gila. Tapi salahkah Chanyeol yang mengungkapkan cinta nya pada Baekhyun? Tiang listrik itu sudah kena sindrome aneh dan menggelitik hati serta pikirannya sejak melihat Baekhyun pertama kali.

Sindrome aneh itu bernama cinta. Cinta pada pandangan pertama. Atau istilah kerennya 'Love at the first sight'

Lupakan harga diri, karena Chanyeol tidak perduli hal itu. Bukankah cinta sering membuat kita gila bahkan bertingkah konyol seperti kejadian tadi? Untung saja Chanyeol mendapat umpatan tiga oktaf dari Baekhyun, kalau dia mendapat hadiah plus-plus seperti di drama bagaimana? Seperti di siram minuman atau ditampar mungkin.

"Seharusnya kau tidak perlu mengumpat seperti tadi Baek. Kau kan bisa menolaknya secara halus" Tao bergumam pelan disamping Baekhyun yang sibuk memperhatikan pelajaran. Bukannya menjawab. Dia hanya memutar bola mata sambil mendengus kesal.

Dan sisa hari itupun dilanjutkan dengan belajar hingga nanti sore.

.

.

.

.

"Baekki, tunggu aku! Yak!" Chanyeol berteriak-teriak frustasi sambil mengejar Baekhyun ke arah gerbang sekolah. "Hosh hosh, cepat sekali hosh larinya" Chanyeol menumpukkan kedua tangan di atas lutut. Kelelahan.

Kai dan Sehun menyusul, "Bagaimana?" tanya Kai setelah menormalkan napasnya yang memburu karena mengejar ChanBaek couple. "Sial, aku tidak bisa mengejarnya. Walaupun kecil tapi larinya sangat kencang" chanyeol menegakkan kembali tubuhnya.

Sehun berdecak, bagaimana mungkin seorang namja kalah dengan yeoja. "Kau payah" sia-sia saja mereka kejar-kejaran dari tadi, kalau nyatanya Baekhyun berhasil kabur.

Chanyeol melotot tidak terima, "Hei, kau pikir mudah menangkapnya. Dia bahkan sudah lari duluan begitu bel berbunyi" sengit Chanyeol tak mau kalah.

Sepulang sekolah tadi, Baekhyun berlari keluar sekolah menuju mobil jemputannya dengan kecepatan tinggi. Mengabaikan Chanyeol yang berlari mengejar sambil berteriak-teriak. Tujuan Baekhyun memang meninggalkan si namja tiang listrik bertelinga lebar, karena sudah bisa menduga apa yang akan dilakukan si namja jika dia tidak kabur.

Kai segera bertindak, dia tidak mau kedua temannya ini mulai berdebat. "Sudahlah, toh masih ada hari esokkan? Ayo kita pulang saja" dengan paksa Kai menarik tangan Chanyeol menuju parkiran. Sehun mengikuti dibelakang. Namun langkah kakinya berhenti ketika melihat Luhan berjalan ke arah toilet, memang tidak ada yang aneh. Kecuali jika dibelakangnya ada serombongan yeoja mengikuti, dengan gelagat yang mencurigakan.

Tanpa aba-aba Sehun mengikuti mereka –Luhan dan segerombolan yeoja- ke kamar mandi. "-jadi bagaimana menurutmu Sehun?" tanya Kai sambil menoleh ke belakang, namun sayangnya dia tidak bisa menemukan sosok putih pucat dibelakangnya.

"Pergi kemana dia?" tanya Chanyeol ikut membalikkan badannya kebelakang dan tak menemukan si albino. "Molla" jawab Kai acuh sambil mengedikkan bahu. "Lupakan saja albino itu, toh dia juga sudah besar sudah tahu jalan pulang" Kai kembali melanjutkan langkah nya ke mobil bersama Chanyeol.

Sesampainya di toilet, Sehun bingung harus melakukan apa.

Inikan toilet cewek, kalau dia masuk bisa gawat. Tapi kalau tidak masuk dia jadi khawatir sendiri. Apalagi terdengar suara beberapa yeoja membentak-bentak seseorang dan suara sesuatu jatuh ke lantai.

Sehun harus melakukan sesuatu, instingnya mengatakan demikian.

Dan akhirnya, "Ah, Yuri seonsaengnim. Anda mau masuk ke toilet murid yeoja ya!" karena suara Sehun yang memang sengaja di kuatkan apalagi didepan pintu. Terdengar suara gaduh dari dalam, setelahnya para yeoja itu keluar dan lari terbirit-birit tanpa melihat situasi di luar toilet yang sesungguhnya.

"Yehet!" seru Sehun kegirangan di depan pintu toilet wanita, setelah bersembunyi.

Apa yang ditakutkan Sehun terjadi. Luhan keluar dengan penampilan yang berantakan. Rambut mencuat keluar dari kepangan, seragam kusut dan kotor, dan siku tangannya yang lecet mengeluarkan sedikit darah. "Gwenchana?"

Luhan diam dan melangkahkan kakinya menuju gerbang. Mengabaikan tatapan Sehun yang mengkhawatirkan dirinya. "Ya! Aku bertanya padamu" Sehun menarik lengan kanan luhan kuat, sampai si gadis meringis kesakitan. Sehun baru ingat kalau lengan gadis ini terluka. "Mian" ujarnya menyesal.

Namun Luhan acuh. Mulai berjalan kembali.

Sehun mengerang frustasi, kenapa gadis ini sangat keras kepala. "Ya! Berhentilah membuatku khawatir dan jawab pertanyaanku" bujuk Sehun mengimbangi langkah Luhan di sebelahnya.

Luhan menghentikan langkahnya, otomatis membuat Sehun ikut berhenti. Mereka bertatapan lama, namun berbeda pemikiran. "Aku tidak pernah memintamu untuk mengkhawatirkan aku Sehun-ssi" desis Luhan dingin. Sehun menatap tidak percaya Luhan, bagaimana mungkin gadis ini masih bersikap arogan pada orang yang telah menolongnya dari pembullyan tadi. "Setidaknya kau bisa mengucapkan terima kasih" balas Sehun sabar. Setidaknya itu adalah tindakan tepat untuk menghadapi Luhan sekarang.

Namun- "Aku juga tidak pernah meminta pertolonganmu" tuh kan, selalu saja Luhan bersikap ketus pada orang lain. Sehun tak habis pikir dengan sikap Luhan, sebenarnya hati gadis ini terbuat dari apa? Es, atau mungkin batu.

"Aku peringatkan kau Luhan, sebaiknya kau berhenti membuat aku khawatir atau-" namun suara Luha lebih dulu memotong. "Atau apa?" potong Luhan secepat kilat, bahkan nadanya menantang.

Baiklah, jangan salahkan Sehun sekarang. "Hiyaaaa, APA YANG KAU LAKUKAN OH SEHUUUUUNNN" teriak Luhan sambil memukul-mukul punggung Sehun dengan brutal. Sehun berjalan santai ke parkiran, mengambil mobil. Mengabaikan teriakan protes yang keluar dari mulut Luhan.

Kai dan Chanyeol menganga lebar. Setelah cukup lama menunggu si albino di parkiran –dengan alasan setia teman- malah ini pemandangan yang mereka lihat ketika si albino muncul. "Daebak!" seru Kai tidak percaya. Chanyeol memijit pangkal pelipisnya bingung, bagaimana mungkin si albino alias Sehun datang dengan menggendong Luhan di bahu kanannya seperti karung beras. Bahkan mengabaikan semua tatapan tidak terima atau shock lebih tepatnya dari para murid yang masih di sekolah.

Tadi Chanyeol kejar-kejaran dengan Baekhyun di koridor, seperti adegan pelecehan seksual karena sepanjang berlari Baekhyun terus berteriak 'Tuhan, tolong selamatkan aku dari psikopat gila itu!'.

Sekarang Sehun yang datang dengan Luhan, ala karung beras –untuk Luhan. Dan yeoja tersebut terus berteriak, 'Kau gila!', 'Turunkan aku Sehun pabo!', 'Otakmu sudah konslet!' dan 'Kenapa yeoja aneh itu digendong Sehun!' baiklah abaikan yang terakhir karena itu teriakan dari fansnya Sehun tak terima.

"Kalian pulang duluan, aku masih ada urusan" ujar Sehun sambil masuk kemobil, setelah sebelumnya memasukkan Luhan ke kursi penumpang yang terus berteriak.

WHAAATT ?! Setelah menunggu lama, mereka di abaikan? "Yak! Tidak bi-" sayang belum sempat Kai menyelesaikan protesnya, Sehun sudah pergi dengan mobilnya membawa Luhan entah kemana.

.

.

.

~ We Are Different ~

.

.

.

"Appo..." rengek Luhan pelan, sedangkan Sehun sibuk menuip-niup pelan. Berharap setidaknya sakit yang dirasakan Luhan berkurang. "Selesai" jari Sehun berhasil menepelkan sebuah plester luka bermotif rusa di sikunya yang terluka.

Ditatapnya mata tersebut, terlihat berkaca-kaca di balik kacamata bulat besar. Hati Sehun terenyuh melihatnya. Bagaimana mungkin mereka bisa berlaku sekejam itu pada Luhannya? Luhan-nya, sejak kapan dia menjadi milikmu Sehun -_-

"Masih sakit?" tanya Sehun lembut sambil mengelus kepala Luhan.

Luhan mengangguk, membuat Sehun tersenyum sedih. "Kajja" dengan lembut Sehun menarik Luhan berdiri dari bangku taman. Yah, Sehun memang membawa Luhan kemari. Mengobati luka Luhan, walaupun sebelumnya sempat ada adegan tarik-tarikan karena Luhan tidak mau diobati Sehun –sakit katanya. Namun dengan sedikit ancaman seperti 'Kalau tidak bisa diam, aku akan menciummu tanpa ampun' membuat Luhan tertunduk patuh.

Tangan Sehun menggenggam erat tangan Luhan. Seolah takut Luhan menghilang jika mengendurkan tautan di antara mereka berdua.

Ada perasaan hangat menjalar dihati Sehun, ketika melirik jari-jemari mereka yang saling mengait erat. Tanpa sadar sudut-sudut bibirnya terangkat ke atas, membuat senyuman tampan nan langka dari seorang Oh Sehun.

Dan itu semua karena yeoja aneh yang dijadikan taruhan, Xi Luhan.

Kaki Sehun berhenti, ketika merasakan tidak ada pergerakan dari kaki Luhan. Mata tajamnya memandang Luhan, yang melihat ke arah lain.

Sedikit penasaran, Sehun mengikuti arah pandang Luhan dan bingo! Dia tahu apa penyebabnya. Sehun menarik Luhan mendekat ke arah objek yang mereka pandangi barusan. "Satu" pesan Sehun sambil menyerahkan lembran uang kepada penjaga.

Mata Luhan terlihat berbinar-binar lucu, saat Sehun memberikan permen kapas yang baru saja dibelinya. "Gomawo Sehun-ssi" Luhan tersenyum ceria ke arahnya setelah menerima permen kapas.

DEG

DEG

DEG

Jantung Sehun berdegup kencang, hanya karena melihat senyum manis Luhan yang tidak pernah dia tunjukkan selama ini.

Sejak kejadian taruhan konyol, Sehun memang lebih sering mengawasi Luhan tanpa sadar. Seakan-akan mata tajamnya tidak bisa lepas dari sosok aneh Luhan.

.

.

.

.

Luhan baru saja siap mandi, setelah diantar pulang Sehun dia segera masak dan juga mandi karena bulan mulai naik ke singgasananya.

TING TONG

Suara bel apartemen berbunyi. Luhan yang sedang mengeringkan rambutnya berjalan ke pintu. Tanpa melihat intercom, yeoja itu membuka pintu dan menunjukkan wajah tidak suka terang-terangan pada si tamu. "Sedang apa kau disini? Dari mana kau tahu alamatku?" tanya Luhan sinis.

Tamu tersebut menerobos masuk kedalam, setelah sebelumnya menggeser tubuh Luhan dari depan pintu. Dia mendudukkan dirinya dengan nyaman di sofa. Membuat Luhan mendelik kesal.

Sungguh tamu yang sangat tahu sopan santun.

"Apa yang kau inginkan?" ketus Luhan tanpa basa-basi. Tamu tersebut tidak tersinggung dengan sikap Luhan, "Memangnya aku tidak boleh mengunjungimu?" dia sudah terbiasa dengan sikap jutek dan ketus Luhan, jadi untuk apa di permasalahkan.

Luhan mendengus sebal, tentu saja jawabannya karena dia terusik dengan kehadiran si tamu tidak diundang ini. Apalagi coba. "Aku tidak ingat kalau kita cukup dekat, hingga kau datang mengunjungiku". Si tamu tertawa renyah. Ternyata Luhan masih marah padanya –atau mungkin masih membencinya. Matanya terus menatap tubuh Luhan yang duduk bersebrangan dengannya.

"Mian, aku lupa kalau kau masih membenciku" bahkan saat mengucapkan kata tersebut hati nya berdenyut sedih. Tatapannya berubah sendu, ingatan tiga tahun silam kembali ke dalam pikirannya.

Luhan mengerti tatapan itu. Dia membuang muka, menolak untuk mengenang kejadian tersebut. "Pulanglah, kau tidak perlu mengkhawatirkanku" ujarnya dingin.

Tamu tersebut tersenyum simpul. "Tentu saja aku mengkhawatirkan mu terutama oemma dan appa" Luhan menyipitkan matanya, semakin lama dia semakin tidak menyukai kehadiran tamu ini. "dan juga apa kau lupa? Sebagai kembaranmu, bukan kah sudah tugas kita untuk saling menjaga satu sama lain?"

Kembar? Tentu saja, tamu tak diundang ini adalah kembaran Luhan. Separuh jiwanya. Separuh hidupnya. Orang yang ikut merasakan apa yang dia rasakan. Dia juga orang yang paling Luhan sayangi. Sekaligus orang yang paling dia benci. Karena telah merusak hidupnya yang dulu terasa sempurna dan indah.

.

.

.

.

Setelah berhasil mengusir si tamu keluar apartemennya. Luhan membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Bertemu dengan kembar sialnya membuat ingatan buruk itu kembali, bahkan membuat Luhan minum obat penenang untuk menghilangkan perasaan cemas yang melanda.

Sayang, bahkan setelah meminum obat itu. Ingatan buruk itu tetap kembali, mengusik tidur si rusa kecil. Matanya bergerak-gerak gelisah dibalik kelopak matanya yang tertutup. Selapis keringat terlihat di dahinya.

Ingatan menakutkan yang merubah hidupnya seperti sekarang.

FLASHBACK ON

Mereka masih duduk di Junior High School saat itu. Tampilan si kembar memang menakjubkan, setiap mata yang melihat sosok mereka pasti berdecak kagum dan iri.

Saat itu jam istirahat, dengan langkah santai Luhan dan kembarannya melangkahkan kaki menuju taman sekolah mereka. Luhan dan kembarannya memang dekat, bahkan selalu menempel kemana-mana berdua. Setiap siswa dan siswi di lorong menyapa mereka ramah. Namun tidak sedikit juga pandangan sinis didapat dari beberapa yeoja yang iri. "Abaikan saja" itulah yang dikatakan kembaran Luhan ketika gadis rusa tersebut menggerutu karena tatapan sinis yang mereka dapatkan.

BRUGGHHH

Langkah Luhan terhenti begitu juga dengan kembarannya. Mata mereka membelalak kaget, dan tiba-tiba saja sekeliling mereka jadi ramai dengan kehadiran murid yang mendengar suara barusan. Beberapa guru telihat berlari mendekati mereka, pasti ada siswa yang melapor. Begitu para guru mendekat, mereka kaget dengan pemandangan yang tersaji.

Sesosok tubuh namja, salah satu siswa disana terbaring telungkup di dekat kaki Luhan yang pucat. Dari mulutnya mengalir darah segar, karena tindakan nekat nya yang melompat dari atap gedung sekolah. Matanya sayu, hidungnya kembang-kempis, darah berceceran di sekitar wajahnya, bibirnya bergetar melihat Luhan. "Ka-kalau...uhuk" darah muncrat keluar. "Kau ti-tidak...bisa menjadi yeo-yeojachinguku...maka...l-lebih baik...aku uhuk...mati...s-saja" Ujarnya terbata-bata sambil melirik Luhan.

Seorang guru menelpon ambulance, wajahnya terlihat panik karena kondisi mengenaskan siswanya. Namun terlambat, selesai berkata demikian siswa nekat tersebut menghembuskan napas terakhir dan menutup mata selamanya.

Teriakan dan air mata terlihat dimana-mana, para siswi panik tak terkecuali Luhan.

Tubuhnya bergetar ketakutan, wajahnya pucat, dan air mata mengalir di pipinya. Kembarannya dengan cepat memeluk Luhan, berusaha menenangkan Luhan yang mengalami shock. Sesekali terlontar kalimat bahwa ini bukan salah Luhan dan berusaha meyakinkan dia kalau semua akan baik-baik saja.

Luhan tahu siapa siswa yang bunuh diri ini.

Dia sangat tahu, karena namja tersebut sunbaenya yang tadi pagi menembak Luhan. Namun dengan halus Luhan menolak sunbae tersebut.

Sayang, sunbae tersebut sangat bodoh. Hanya karena nasibnya sama dengan namja lain yan telah jatuh ke dalam pesona Luhan dan berakhir penolakan. Dia malah bunuh diri, melompat dari atap tepat ketika Luhan melintas di bawahnya.

Melihat seseorang meregang nyawa di depanmu sangatlah menakutkan. Apalagi alasannya karena kau menolak perasaannya.

Itulah yang terjadi pada Luhan, dia mengurung dirinya selama seminggu penuh. Membuat orang tua dan kembarannya khawatir dan juga takut. Takut Luhan melakukan hal serupa karena merasa bersalah.

Setelah perjuangan yang melelahkan dari keluarganya, Luhan mau keluar kamar dan menjalani aktifitas seperti biasanya walau trauma masih menghantuinya.

Respon setiap orang tidaklah sama.

Begitu paginya Luhan sekolah, dia di serang oleh seorang wanita paruh baya. Wanita itu mengamuk, mencakar dan menganiaya Luhan tanpa ampun. Membuat kembarannya dan satpam kerepotan untuk menolong Luhan yang menangis ketakutan. Begitu terlepas, dengan terburu-buru kembarannya menarik dia ke kelas. Berharap Luhan aman dari wanita tersebut.

Dan sekali lagi harapan mereka pupus. Karena tatapan tidak suka, menuduh, kebencian mendalam didapat mereka selama di koridor, kelas bahkan ketika di kantin.

Mereka semua terang-terangan membully Luhan. Melempar telur busuk, tepung bahkan sisa makanan mereka tanpa perasaan.

Rentetan kejadian tersebut semakin menambah trauma yang di alami Luhan. Semua orang menuduh dia adalah penyebab sunbae itu bunuh diri. Menghujat dia sebagai pembunuh. Sedangkan wanita yang menyerang Luhan adalah oemma dari si sunbae yang bunuh diri.

Dengan semua tekanan yang didapat anak mereka, orang tua Luhan memutuskan untuk pindah ke tempat yang jauh. Bahkan memanggil seorang psikiater pribadi untuk Luhan karena trauma yang dialaminya. Perubahan disekitarnya, membuat pribadi Luhan yang ceria, ramah, dan menyenangkan berubah menjadi tertutup, dingin, dan penyendiri. Bahkan sang kembaran yang selalu bisa menenangkan Luhan pun terkena dampaknya. Dia seolah-olah tidak bisa mendekati kembarannya yang rapuh dan ketakutan serta penyendiri.

FLASHBACK OFF

Luhan terbangun dari mimpi buruknya, terduduk di atas ranjang. Napasnya memburu, keringat dingin mengalir di wajahnya, mata tersebut membelalak ketakutan.

Tangan kanannya meremas rambutnya kuat, berharap bisa menghilangkan ketakutan yang dia rasakan. Terdengar isakan kecil dari bibir Luhan. Kenapa mimpi buruk itu harus kembali, dia ingin melupakan semua yang terjadi dan hidup tenang. "Itu semua hanya mimpi" gumamnya berulangkali, berusaha menenangkan diri.

.

.

.

Other side

Dadanya terasa nyeri, bukan karena penyakit. Melainkan karena sesuatu, terasa seperti –ketakutan. Dia tahu ini pasti perasaan Luhan, kembarannya. Mata tersebut menatap figura di dinding kamarnya. Senyum miris dan penuh luka serta penyesalan tersaji.

"Seandainya waktu bisa diputar, aku janji tidak akan menambah lukamu Luhan" lirihnya sedih menatap foto Luhan.

Namun dia tahu itu tidak mungkin terjadi.

Dia berjalan ke depan lemari, membuka pintu nya dan melihat seragam sekolah yang tergantung rapi. Sebelah tangannya terulur mengelus permukaan seragam barunya. "Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku padamu Luhan"

Walaupun reaksi Luhan tidak begitu baik padanya ketika berkunjung, namun dia memang pantas mendapatkannya atas luka yang dia berikan pada Luhan.

Beberapa hari yang lalu dia pindah ke sini, dan besok dia akan kembali bertemu dengan Luhan di sekolah. Dia berjanji akan memperbaiki dan menebus semua kesalahan yang diperbuatnya dulu. Pasti.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Haaaaaiiiiiii, i'm come back again^^ baiklah buat kemarin yg minta masa lalunya Luhan udah di kasih ya. Mari kita balas reviewnya chingu^^

~ .96: Udah di kabulin ya masa lalunya Luhan walau belum semuanya. Gomawo reviewnya, keep review chinguuu~

~Kimyori95: Sama, kasihan Luhan #elapingus Hahahha... bener tuh Hun jgn lupain Luhan. Gomawo reviewnya, keep review chinguuu~

~Taenggoo: Di bully, karena udah nasibnya kali ya #baliknanya iya kemarin emang dikit karena yah gitu lah, tapi ini udah di normalkan chapnya. Masa lalu Luhan udah di kasih nih, tapi ga semua nya yah. Gomawo reviewnya, keep review chinguuu~

~Ruixi1: Duh, ini maksudnya apa ya? Yue ga ngerti nih. Gomawo reviewnya, keep review chinguuu~

~ .58: Kalau itu biar Chanyeol yg menjawab^^ Luhan emang ketus disini tapi tenang aja semua pasti ada alasannya kok, flashback Luhan juga udah di kasih walau belum semua ya. Gomawo reviewnya, keep review chinguuu~

~Exo L: Ini udah di lanjut chingu. Gomawo reviewnya, keep review chinguuu~

~Oh Hunhan Zelus: Waeyo Ly? Masa iya mape lemas, perlu tenaga bantuan? #smirkevil mama Luhan emang nasibnya kaya gitu, eonni ga jahat kok sayang Cuma kejam aja ^^v. Gomawo reviewnya, keep review chinguuu~

.

.

.

.

Gomawooo utk yg meRiview, Fav / Follow

Sekali lagi

Please reviewnya chinguuu^^

~Yue m00nlight~