Disclaimer : I do own nothing.

.

.

Youth Hurts (Love In The Ice)

Author: Nakki Desinta

.

.


Chapter 4 : In The Cold Night


.

.

Detik berlalu, tiap hitungan yang aku hitung dalam benakku seperti membawaku semakin terkubur kebencian dan dendam yang sudah mengabutkan akal sehatku, perlahan tapi pasti. Mataku ingin berkedip, menunduk atau sejenisnya, ingin menghindari sorot matanya yang seolah tanpa dosa melihatku. Muak, aku sangat muak melihat sosok Ulquiorra saat ini. Sial!

"Perlu kau tahu, ini tidak akan menjadi liburan yang menyenangkan jika kau memilih untuk menunjukkan wajah menjijikkanmu di depanku!" desisku dengan wajah tersenyum mencemooh.

Ulquiorra mencondongkan tubuh dan berbisik padaku yang tidak bergerak sedikitpun. "Silahkan," desisnya tanpa tersirat sedikitpun emosi dalam suaranya, sehingga aku tidak mengetahui apa yang tengah ia pikirkan, dan apa yang sedang ia rencanakan, sampai-sampai dia berani menunjukkan wajahnya di depanku.

Akhirnya aku hanya bisa menatapnya penuh-penuh, dalam hati menertawakan keberaniannya yang membuatku justru semakin ingin menghancurkan wajahnya. "Kalau saja kau tidak muncul hari ini, mungkin aku akan menghilangkan dirimu dari ingatanku. Sayangnya kau memilih untuk menerima pembalasan dendamku!" sambungku dengan alis terangkat tinggi menatang keberaniannya yang tidak juga habis.

"Karena itu aku datang." Lagi-lagi suara datarnya itu mengikis kesabaranku yang sudah mencapai batas.

Aku mendengus keras, mencemoohnya, menistakan keberaniannya yang tidak tahu tempat sama sekali. "Kau seharusnya sudah tahu, aku orang yang pendendam. Jika seseorang membuatku sakit, aku akan membalasnya ratusan kali!"

"Aku terima dendammu dengan tangan terbuka, karena aku yakin, dendammu adalah bagian dari cintamu kepadaku."

Gelap!

Seluruh duniaku gelap seketika, tertutup kemarahan yang tidak pernah aku rasakan seumur hidupku. Sekujur tubuhku gemetar menahan ledakan amarah dalam diriku. Mendengar kata menjijikkan itu mengalir dari mulutnya, justru membuatku ingin menghabisinya detik ini juga. Kebencian dan dendam itu mengabutkan pikiranku, hingga aku lepas kendali dan mendorong dadanya penuh tenaga, membuatnya hampir terjatuh.

"Cinta?! Jangan pernah menyebut kata menjijikkan itu jika kau tidak pernah sungguh-sungguh, Brengsek!" selorohku penuh kemarahan dan amukan kesedihan dalam hatiku telah menelan habis seluruh kesabaranku. Napasku memburu, membakar seluruh pembuluh darah yang berusaha menenangkanku. Manusia menjijikkan sepertinya bicara seperti itu di depanku. Aku sudah menghancurkan mimpi yang kukira begitu nyata, dan sekarang ia ingin membuat kepingan mimpi itu menjadi debu? Yang benar saja!

Orang-orang langsung menoleh padaku. Uryuu yang berdiri paling dekat langsung melangkah mendekat, tapi ia berhenti ketika aku melempar sorot mata peringatan agar ia tidak ikut campur dalam permasalahan ini. Keigo sampai berpegangan pada Hanatarou, mungkin mereka tidak pernah melihat Rukia yang hidup di Hueco Mundo. Inilah aku, lihat aku dengan mata kalian. LIHAT! Rukia yang besar di Hueco Mundo memang seperti ini, aku bisa membunuh siapapun yang mengancam ketenangan hidupku, karena dengan itulah aku bisa hidup! Berani menyakitiku, berarti kalian sudah bosan hidup tenang. Berani mempermainkanku, berarti kalian berniat menghancurkan hidup kalian untuk selamanya.

Ulquiorra tersenyum, matanya melihatku penuh tanpa gentar, lalu ia berkata, "Sejak pertama sudah kubilang kau seharusnya pergi, kan?" ucapnya tanpa mengurangi ketegasan dan cemoohan dalam suaranya yang bergetar. Aku tidak peduli ketika semua penghuni kelas jauh lebih terkejut saat mendengar suara Ulquiorra menyapa telinga mereka. Entah ini untuk yang pertama kalinya atau apa, tapi raut wajah kaget mereka adalah bukti bahwa Ulquiorra tidak bisu seperti yang mereka kira selama ini. Ya, kalian telah melihat satu bukti betapa busuknya seorang Ulquiorra!

Aku jadi teringat ketika ia berkata tidak akan bicara jika bukan hanya aku yang mampu mendengarnya.

Persetan! Betapa bodohnya aku termakan semua omong kosong dan terbuai kebohongannya yang terasa begitu nyata.

Api dalam hatiku semakin besar.

"Bajingan! Hentikan semua permainanmu! Persetan dengan semua kata-katamu. Jangan pernah tunjukkan wajahmu di depanku lagi!" pekikku putus asa menahan luapan emosi.

Dadaku mendadak sesak. Semakin lama aku menatapnya, semakin aku merasakan ruang di dadaku mengecil. Rasa sakit ini... aku tidak ingin! Bagaimana caranya agar aku mampu membuang semua perih ini? Mungkin aku harus memukulinya hingga wajahnya tidak berbentuk, masuk penjarapun aku tidak peduli. Asalkan sakit ini, sesak ini, perih ini, tidak lagi bersarang di hatiku.

"Bencilah aku dengan sepenuh hatimu, tapi aku benar-benar mencintaimu, Rukia!" tangan Ulquiorra terulur, dia menyentuh pipiku, sontak aku mundur, tapi terlalu lambat karena aku bisa merasakan telapak tangannya yang bergesekan dengan pipiku, dan ketika aku melihat tangannya yang masih menggantung di udara, aku melihat jejak basah di sana.

Aku menangis?

"Cukup! Mati saja kau! Mati! Jangan pernah berikan harapan kosong padaku!" hardikku lagi dan kali ini aku membiarkan emosiku meledak, melayangkan tinjuku tepat ke wajah Ulquiorra. Dia tidak limbung sama sekali ketika menerima hantaman di wajah, dia menerima tinjuku dengan sangat tegar, seolah membuktikan bahwa dendamku tidak akan mampu menumbangkannya, membuatku makin berapi-api untuk menghabisinya. Aku mengangkat tanganku lagi, tidak peduli dengan nyeri yang berdenyut hebat, tapi entah darimana datangnya Uryuu, dan dengan tenaga penuh dia menarikku , mencegahku mengamuk dan menghancurkan wajah Ulquiorra.

"Tahan emosimu, Kuchiki! Ada apa denganmu?" Uryuu mengunci tanganku ke belakang dan memberi jarak beberapa langkah antara aku dan mangsaku.

"Aku berharap tidak pernah bertemu denganmu, Bajingan! Mati saja kau! Mati!" pekikku lagi, dan airmataku semakin banyak menetes.

Ulquiorra tersenyum tipis.

Apa yang lucu baginya?

Tangisanku?

Kemarahanku?

Kenapa dia memberikan sorot mata seperti itu padaku? Kesedihan macam apa yang ingin dia tunjukkan lewat sorot matanya yang penuh luka itu? Seharusnya dia senang karena telah berhasil menghancurkanku, mengembangkan harapanku ke langit dan membantingku ke tanah tanpa belas kasih. Aku begitu membencinya dengan sepenuh hatiku.

"Kau tertawa? Aku akan membuatmu tidak bisa tertawa lagi seumur hidup! Tersenyumlah selagi bisa, Bajingan!" seruku penuh dendam.

"Kuchiki!" Seluruh penghuni kelas boleh jadi membeku karena mendengar suara Pak Omaeda memecah aura marah dan kebencian yang aku biarkan membuat orang yang melihatku ketakutan, dan aku tidak mengurangi sedikitpun keinginanku untuk menghajar bajingan di hadapanku. Mereka punya mata, biarkan mereka melihat semuanya. Urusanku dengan Bajingan bermata hijau itu belum selesai, dan tidak akan pernah selesai sampai aku puas melihatnya menderita!

"Apa kau begitu ingin melihatku mati?" bisik Ulquiorra, masih menantangku dengan wajah sedihnya.

"Jaga emosimu, Kuchiki!" bisik Uryuu seolah membaca apa yang sedang bergolak dalam benakku.

Jaga emosi?! Persetan dengan semua itu! Aku membencinya dan akan menghajarnya, tapi Uryuu menahanku. Aku ingin menyerapah sepuasku, tapi Pak Omaeda dengan cepat mendekat, dan aku berbisik lewat bahasa bibir, membisikkan kata 'mati' padanya.

Sekali lagi senyum tipis terukir di wajah pucatnya, membuatku semakin membencinya. Ingin aku hancurkan dia sekarang juga, detik ini juga!

"Ada apa ini?" Pak Omaeda, dengan badan besarnya langsung membuat jarak antara aku dan Ulquiorra, menjejalkan dirinya hingga aku terpaksa harus mundur.

"Tidak ada apa-apa!" tandasku seraya menggeliat untuk lepas dari kuncian Uryuu, dan dia melepaskanku begitu mendengar nada datar dalam suaraku. Uryuu terlihat bingung, sekalipun ragu-ragu dia membiarkanku lolos dari kekangan, aku bisa melihat kecurigaan dalam bahasa tubuhnya. Aku tidak peduli lagi dan melangkah pergi meninggalkan kekacauan yang aku ciptakan. Beberapa orang penghuni kelas berbisik-bisik sambil melirikku, dan aku tidak akan membuang waktu untuk mendengarnya, aku kenal dengan baik cemoohan, desisan sinis dan jijik yang mereka tujukan padaku.

"Apa?! Kalian tidak pernah lihat orang ngamuk, hah?!" semburku sambil melotot pada mereka.

"Kuchiki!" Pak Omaeda kembali menggemakan suaranya yang membahana, tapi aku bertingkah seolah tidak mendengarnya dan melangkah cepat menuju pemandian umum untuk wanita. Darahku berdesir hebat, panas mengumpul di puncak kepalaku, dan tanganku gemetar hebat menahan kemarahan yang tidak terlampiaskan. Berulang kali aku mengatur napas, menghitung dalam hati, tapi tidak ada yang mampu meredakan kemarahan dalam diriku. Akhirnya aku merendam diri, menenggelamkan semua kemarahan, kebencian, dendam dan air mata yang tidak masuk akal ini. Aku pernah begitu membenci hidupku yang sulit, namun tidak pernah membenci seseorang hingga membuatku ingin menghilangkannya dari muka bumi. Membuatku ingin menghapus keberadaannya, termasuk dalam ingatanku.

Aku harus menenangkan diri, jangan pikirkan lagi, dan biarkan dia hilang bersama uap air panas di sekelilingku. Kebencian ini, kemarahan ini, akan aku pastikan dia menerima balasan yang setimpal. Hidupnya akan menderita bagaikan di neraka, salah besar jika ia berpikir aku hanya akan menjadi perempuan cengeng yang meratapi sakit hati hingga kehabisan air mata.

Tunggu saja, Ulquiorra. Sakit hati ini, akan aku ingat seumur hidup, dan kau akan merasakan pahit yang sama!

.


.

.

Selesai berendam, aku memboyong diriku ke tempat penjual jajanan. Beberapa pedagang sempat melihatku ketakutan, aku tidak peduli. Aku terlalu lapar, karena hari sudah sangat sore, matahari hampir terbenam, dan sebentar lagi kami harus berkumpul untuk acara makan malam dan kembang api, sementara aku belum makan apapun sejak siang.

Acara hari ini seharusnya menyenangkan, hanya saja kemunculan si brengsek Ulquiorra telah mengacaukan semuanya. Ke luar negeri bersama keluarganya? Baru pulang akhir bulan? Omong kosong macam apa yang diberikan kepada Senna? Dia datang tiba-tiba dan menghancurkan semua pertahanan diriku yang sebenarnya masih cukup hingga acara liburan ini selesai. Seharusnya aku ikuti kata hatiku yang menolak untuk hadir dalam acara ini, hanya saja wajah memelas Senna benar-benar bisa menggerakkan hati dan kekerasan kepalaku. Jadi sekarang aku terdampar di tempat festival, melihat beberapa baris penjajah makanan, dan akhirnya pilihanku jatuh pada takoyaki. Satu porsi takoyaki sudah cukup untuk mengisi kekosongan lambungku, tapi entah kenapa rasanya aku enggan sekali mau masuk ke kamar lagi.

Sesuai informasi Senna, bahwa kami berada di deretan kamar khusus, yang dia sebut sebagai 'pahlawan kelas', dan karena ada orang satu itu, aku yakin dia akan ada di kamar bersama Uryuu. Ada kemungkinan dia menyewa kamar lain, tapi mengingat dia sangat berniat untuk memancing amarahku, jadi aku bisa jamin dia akan tinggal di kamar bersama Uryuu. Karena kamar itu adalah tempat terdekat ke kamarku, kamar yang ada tepat di sebelah kamarku dan Senna.

Aku menyeruput teh oolong di tanganku, meminumnya sedikit demi sedikit, seraya menikmati langit yang perlahan berubah gelap. Angin malam mulai berhembus, rasanya dingin menembus kulitku di balik yukata yang tidak bisa dibilang tebal. Dingin seperti ini tidak sebanding dengan dingin yang harus aku hadapi ketika harus tidur di jalanan dengan kaos tipis.

Ya... seharusnya aku ingat, bahwa aku hidup dan besar di tempat keras seperti Hueco Mundo. Karena itu cerita Cinderella tidak akan cocok untukku, jangankan cocok, terlintaspun seharusnya tidak. Tidak akan ada uluran tangan yang tanpa pamrih. Seperti proses adopsiku, semua hanya akal-akalan Kuchiki Byakuya untuk membawaku masuk dalam keluarga bangsawannya, namun pada kenyataannya dia hanya tertarik karena aku mirip dengan mendiang istrinya.

Apakah aku ini pengganti? Mungkin bisa dibilang begitu.

Lalu muncul tokoh yang aku kira pahlawan. Orang yang aku biarkan masuk ke hatiku karena uluran tangannya yang sepertinya tulus, orang yang aku yakini mengerti dengan apa yang aku rasakan, orang yang aku izinkan untuk menyentuh hatiku. Namun sekali lagi aku buta! Buta dan terkena amnesia. Buta, karena aku tidak melihat kebodohan yang aku lakukan sendiri, buta karena tidak mendengarkan keraguan dalam hatiku. Amnesia atas pengalaman pahit yang seharusnya menjadi pelajaranku seumur hidup.

Pertama! Berjuang seperti apapun, aku tidak akan diterima dan tidak akan dapat masuk dalam lingkungan bangsawan seperti Kuchiki. Kerja kerasku hanya membuahkan cibiran dan cemoohan. Seharusnya aku tidak usah dengar kata-kata Kuchiki Byakuya yang memintaku untuk terus bertahan, dan berusaha, kesalahan besarku adalah percaya dengan buaian harapan kosong yang ia katakan padaku.

Kedua! Ketika kenyataan itu begitu jelas, bagaimana Kuchiki Byakuya berusaha mendekatiku, dia bahkan hampir menciumku, dan dia juga menamparku. Itu hal terpenting yang harus digarisbawahi, dia berteriak padaku ketika aku memintanya membatalkan status adopsiku, dan mengembalikanku ke Hueco Mundo. Kenyataan begitu jelas, dan aku masih saja lemah hati.

Ketiga! Ulquiorra... Mungkin aku awalnya tertarik pada pribadinya yang misterius, hingga aku tidak menjaga jarak seperti orang lain, namun akibatnya jauh lebih fatal. Karena dia memanfaatkan semua kebodohanku, mempermainkanku dalam genggaman tangannya, bahkan berhasil membuatku terluka hingga seperti ini. Cinta? Akan aku bakar habis kata itu dari hatiku, akan aku kunci hatiku dari perasaan menjijikkan itu. Dalam hidupku hanya akan ada perjuangan dan kerja keras, cinta dengan makhluk bernama pria hanya omong kosong. Jika memang ada cinta di dunia ini, kenapa aku tidak pernah merasakannya? Aku bahkan terluka karenanya, jadi sebaiknya aku buang semua pikiran itu.

Aku menarik napas panjang dan menghelanya sangat perlahan, memejamkan mata dan menikmati hembusan angin dingin yang semakin menusuk kulit. Mataku menerawang melihat bulan purnama di ujung jarak pandangku, sinarnya masih redup, tapi pesonanya tidak hilang sama sekali.

Tuhan. Jika memang aku memiliki ayah atau ibu yang masih hidup, mungkinkah hidupku tidak akan seperti ini?

Ah... lagi-lagi aku membayangkan hal yang tidak-tidak.

Tidak ada hal yang khusus untukku di dunia ini, jadi tidak akan ada 'jika' dan 'bila'. Hanya akan ada 'karena' dan 'maka' dalam kamus hidupku.

Karena aku tidak mendengar kata hatiku, maka perih ini aku rasakan.

Karena Kuchiki Byakuya berusaha mendekatiku, tapi aku menutup mata, maka aku menerima tamparan dan cemoohan dari keluarganya.

Karena aku membiarkan Ulquiorra masuk dalam hidupku, maka aku harus bersedia menelan perih ini.

Aku memang tidak diperbolehkan bermimpi, karena semua mimpiku hanya akan berubah menjadi mimpi buruk.

Seluruh hidupku sudah ditakdirkan seperti itu. Bukan karena aku putus asa, tapi aku hanya realistis. Mungkin salah satu penyebab adanya sikap realistis dalam hidupku, karena ada sejumput putus asa yang melatarbelakanginya. Bagaimana hidupku menjadi sesuatu yang sangat berat ketika aku mengharapkan hal-hal yang jauh dari jangkauanku. Hidupku, kebahagiaanku, senyumku, semua aku peroleh dengan kerja keras. Semakin aku keras mencambuk diri, maka semakin besar kebahagiaan yang aku rasakan. Tidak ada yang cuma-cuma dalam setiap langkahku. Aku harusnya menyadari hal itu. Aku harusnya melihat jelas kenyataan ini sebelum aku menerima proses adopsi Kuchiki.

Hidupku, sudah seharusnya hanya menjadi milikku, aku perjuangkan sendiri dan aku nikmati sendiri. Mereka, orang lain, tidak akan mengerti...

"Kuchiki!"

Kepalaku langsung tersentak menoleh ke arah datangnya suara nyaring itu, dan kudapati Keigo berlari sambil melambai padaku. Aku langsung berdiri, merapikan yukata dan langsung melangkah mendekati Keigo sambil menghabiskan tetes-tetes terakhir teh oolongku.

"Aku menang!"

Aku menoleh pada penjual takoyaki yang sedang berhadapan dengan penjual teh oolong. Me;ihat senyum sang penjual takoyaki, aku langsung malas dan melangkah lagi.

"Sial! Aku tidak menyangka anak perempuan itu bisa berdiri sambil bengong sampai hampir satu jam!" sahut si penjual teh.

Sontak langkahku terhenti.

"Ha, ha, ha! Aku sudah bilang anak perempuan itu agak unik, tadi saja dia adu mulut dengan anak laki-laki! Jadi aku bisa tebak dia cukup kuat..."

"Ah... hilang deh setengah uang jualanku hari ini!" keluh sang penjual teh oolong.

Wah... mereka menjadikanku bahan taruhan?! Keterlaluan!

Tapi memangnya aku bengong selama itu ya? Sampai hampir satu jam aku terbengong sambil berdiri dan memegangi gelas berisi teh oolong? Mereka pasti mengira aku sudah gila! Kenapa mereka bukannya menyadarkanku cepat-cepat?

Dasar! Sakit Jiwa!

Aku hanya bisa menyerapah dalam hati. Kesal sih, tapi mau bagaimana lagi kalau memang aku bisa berdiri sambil bengong selama hampir satu jam?

"Kita mau mulai acara kembang api!" pekik Keigo, dan kali ini dia mengulang aksinya yang sok akrab, alias merangkul bahuku dan menggiringku pergi bersamanya.

Langit memang sudah sangat gelap, bahkan bulan purnama yang tadi seingatku masih bersinar redup, sekarang sudah bulat penuh dengan sinar terang.

"Senna sudah mencarimu di onsen khusus perempuan, tapi tidak ketemu, makanya sekarang dia mencari di onsen campuran. Aku sih sudah punya firasat kalau kau akan datang ke sini. Soalnya seingatku tadi siang kau mau makan, kan? Tapi gara-gara si... yah... kau tahu kan!" Keigo pasang tampang nggak enak begitu mulutnya sudah membentuk huruf 'U', dan aku hargai simpatinya itu. Untung dia tidak menyebutkan nama orang itu, kalau tidak, pasti aku sudah melayangkan tanganku ke perutnya.

"Umm... ngomong-ngomong, ada masalah apa sih antara kau sama si 'antara ada dan tiada' itu!"

Aku hampir memuntahkan tawaku, begitu mendengar sebutan Keigo untuk si brengsek itu. Habisnya dia menyebutnya 'antara ada dan tiada', sebenarnya itu menggambarkan bagaimana mereka memandang keberadaan orang licik itu dalam kelas dan sekolah.

"Aku tidak harus menjawab, kan?" balasku setengah tertawa, dan Keigo langsung nyengir lebar, terlihat sekali dia mengerti dengan keberatan dalam hatiku.

Keigo menarikku masuk lebih dalam dalam lengkungan tangannya, sontak aku terjepit di ketiakknya, dan tanpa permisi lagi dia mengacak-acak rambutku. Tentu saja aku berusaha lepas dari sikap semena-menanya.

"Kau memang menggemaskan, Kuchiki..." serunya sambil tertawa dan membiarkanku hampir tercekik karena bau ketiaknya. Yah, bukan bau juga sih. Wangi deodoran, tapi terlalu menyengat di hidungku.

"Lepaskan aku, Keigo! Ketiakmu bau tujuh selokan!" protesku sambil terus memberontak, dan parahnya dia malah tertawa makin keras sambil terus mengacak-acak rambutku. Sial benar deh ketemu Keigo. Apa iya dia sebegitu gemasnya melihatku? Memangnya aku ini bayi atau balita?

Kami berbelok ke deretan kamar, dan begitu sampai di persimpangan koridor, dia baru melepaskanku.

"Sebaiknya kau setor muka dulu ke Senna atau Pak Ketua! Baru nanti ketemuan di taman, soalnya kita akan makan malam sambil nonton kembang api! Ok?" Keigo mengangkat jempolnya di udara, menunggu jawabanku dengan cengirannya yang super lebar. Mau tidak mau aku ikut menarik sudut bibirku. Hidup seperti Keigo tidak buruk juga, bisa tanpa beban, bahkan menularkan keceriaannya kepada orang lain. Aku menjawabnya dengan satu anggukan kepala.

"Begitu baru, Kuchiki!" serunya kegirangan, nada senangnya dia suarakan dalam siulan ringan seraya ia melangkah menuju kamarnya. Sementara aku berjalan ke arah berlawanan, menuju kamar dengan ukuran besar dan berhias lampion – lampion indah.

Ah... senangnya aku bisa merasakan ringan seperti ini. Anggap saja Keigo adalah sedikit hiburan untukku, setelah kesal karena dijadikan objek taruhan oleh bapak-bapak paruh baya, semua juga gara-gara aku yang bengong lama sambil melihat langit.

Setelah ini aku akan makan malam sambil menikmati kembang api, dan aku harap tidak melihat dia, jadi aku bisa menelan dengan baik. Kalau nanti aku melihatnya, yang ada aku bukan ingin menelan makanan, tapi malah menelan manusia! Hatiku selalu panas setiap kali aku mengingat sosoknya, seolah seluruh kebencian dalam hatiku hanya bisa aku berikan padanya. Habis untuknya!

Oh, itu Senna! Dia berdiri di depan kamar... Ha? Dia di depan kamar Uryuu? Sedang apa dia? Bukannya Keigo bilang dia sedang mencariku?

"Senna!" seruku seraya berlari ke arahnya. Dia tidak menoleh, makanya aku memanggilnya lagi. Aku sudah memanggilnya tiga kali dan dia tidak juga memberikan reaksi, bahkan ketika aku begitu dekat dia masih saja diam.

"Senna! Kata Keigo kau men-"

Langkahku berhenti tepat ketika tanganku mencapai bahu Senna, tanganku yang mendarat di bahunya tidak lagi menjadi harapan bagiku agar ia meresponku. Sekalipun Senna menoleh padaku, namun dalam hati aku meneriakkan ketakutan dan kengerian yang tak pernah ingin aku lihat sepanjang hidupku. Hidup di dunia keras seperti Hueco Mundo, bukan menjadikan aku seseorang yang kuat ketika dihadapkan pada kenyataan sekejam ini.

"Kuchiki..." cicit Senna antara kaget, sedih dan ada sedikit nada sakit dalam suaranya, karena aku begitu erat mencengkram bahunya.

Mataku membelalak lebar hingga pada tingkat puncaknya, jantungku seperti menolak untuk bekerja, bahkan napasku tertahan hingga aku tercekik tanpa ada satu tanganpun yang mencekal leherku. Lututku lemas, tidak mampu lagi menopang bobot tubuhku, kepalaku kosong, terlebih lagi ketika mataku bertemu dengan sapasang kolam emerald yang menatapku penuh kesedihan.

Sebuah langkah berderap menghampirku dan Senna, di detik yang sama Senna berteriak begitu keras, histeris dan memecahkan gendang telinga, memecahkan akal sehatku.

"ARGHHHH...!" pekik Senna lagi, seluruh akal sehatnya seperti ikut terbang bersama seluruh tenaga dalam diriku.

"Pak Omaeda!" teriakku putus asa, dadaku sakit, mataku basah oleh air mata yang membludak.

Bagaimana mungkin...

Ini tidak nyata, kan? Ini hanya mimpi buruk lain yang harus aku hadapi. Iya, kan?

Ulquiorra merangkak mendekatiku, dan aku menggeleng sebanyak mungkin, memintanya untuk tidak bergerak dari tempatnya, karena semakin ia bergerak, jejak darah itu semakin membanjiri tatami kamar, merembes ke kayu dan yukata putihnya.

Tangan kirinya... tangan kirinya... tangan kirinya yang begitu kurus tengah mengalirkan darah dan menetes lewat ujung-ujung jarinya. Dia telah mengiris nadinya, dan dia tengah menggigit sebuah pisau dimulutnya. Aku ingin berlari dan merebut pisau itu dari mulutnya, karena aku bisa menebak apa yang akan ia lakukan dengan pisau di mulutnya itu. Dia...

"Ulquiorra! Aku akan panggil ambulans!" suara tenang bercampur panik Uryuu menjadi satu-satunya pemecah pikiranku, tapi aku tidak sedikitpun mengalihkan perhatianku dari Ulquiorra. Uryuu segera meraih ponselnya dan berlari menuju kamar Pak Omaeda.

Aku berusaha bangun dan mengulurkan tanganku padanya, tapi sudah terlambat, karena di detik yang sama ia mengangkat tangan kanannya, dan menggesekkan pergelangan tangannya di badan pisau.

"Ulqui..." rintihku dengan dada sesak.

"ARGH... TOLONG! ULQUIORRA! ULQUIORRA!" pekik Senna frustasi, tangannya memegang kepala, tangis membasahi pipinya.

Darah segar mengalir dari kedua tangan Ulquiorra, dan dia jatuh berlutut di lantai kamar. Matanya tidak sedikitpun menyiratkan perasaan yang aku harapkan. Aku berharap dia melakukan hal mengerikan ini untuk menghukumku, namun tidak ada kebencian dalam matanya. Hanya ada kesedihan yang mendalam, mata yang meminta belas kasih, mata yang mengharapkan uluran tangan.

Aku menguatkan diri dan menghampirinya. Persetan dengan kaki pendekku, ditambah lagi seluruh badan yang tidak mau menurutiku, membuatku hanya mampu bergerak lambat, langkah demi langkah dari tempatku. Tanganku ingin sekali meraihnya, ingin mencekal tangannya, mencegah darah mengalir semakin banyak, karena dia bisa mati, mati kehabisan darah, dan...

"Apa ini sudah cukup, Rukia?" ucap Ulquiorra sambil menjulurkan tangannya yang meneteskan darah.

Aku menggeleng keras.

Teriakan histeris membuatku kembali terjatuh ke tanah. Seluruh darahku berhenti mengalir, seolah dunia telah runtuh bersama tubuh Ulquiorra yang terkapar di lantai, menciptakan kolam merah berbau anyir di sekelilingnya.

Tuhan... jika ini mimpi, aku mohon bangunkan aku detik ini juga. Hilangkan sesak ini, hilangkan tangisku, kesedihanku, bahkan jangan tunjukkan aku wajah sedih Ulquiorra, kembalikan aku pada waktu aku masih berusaha melawan rasa sakit ketika dihantam mobilpun aku tidak akan keberatan. Merasakan sakit itu dua kali tidak apa-apa, asal jangan hadapkan aku pada kenyataan ini. Ini bukan kenyataan, kan? Ini mimpi! Tapi kenapa perih ini begitu nyata, begitu sakit menusuk ulu hatiku?

Aku memaksa tubuhku merangkak mendekati Ulquiorra. Setiap gerakan seperti siksaan yang memaksaku menyerah di detik yang sama. Air mataku tak pernah berhenti mengalir, membuat pandanganku kabur, hingga akhirnya aku berhasil meraih tangan kanannya, mencengkram kuat luka yang terus mengalirkan darah. Rintihan kecil terus mengalir dari mulutku, aku harus merintih untuk mengurangi beban di hatiku. Tubuhku menunduk dan meraih tangan kiri Ulquiorra yang terkulai lemah, sekarang aku sudah berhasil mengurangi darahnya. Sudah, kan? Seseorang, tolong cepat bantu! Siapa saja, tolong...

"Jangan mati..." rengekku di antara isak tangis, dan tidak sengaja kalungku keluar dari balik yukata, hampir menyentuh pipinya, tetapi aku tidak cukup berani melepaskan tangan Ulquiorra hanya untuk memasukkan kalungku. Setiap sepersekian detik begitu berharga, karena jika aku melepaskan tangan Ulquiorra, maka darahnya akan semakin banyak yang hilang.

Bagaimana ini? Apa yang-

Ulquiorra tersenyum lemah.

"Jangan tertawa! Kau sekarat!" pekikku histeris, dan bibirnya semakin lebar tertarik.

"Tidak ada yang lucu! Kau akan mati, Bodoh!"

"Se... seperti yang kau h... harapkan..." desisnya pelan. "A... aku mencintaimu, d..dan aku lak-lakukan apapun ya-yang kau minta."

Aku menggeleng cepat. Aku dendam, sangat dendam. Aku juga sangat membencinya. Aku ingin membalasnya, agar ia merasakan sakit hati yang aku rasakan, tapi... tapi... bukan ini yang-

"Ulquiorra!"

Ibu Matsumoto berdiri di sebelahku, dia langsung melilitkan sebuah kain pada pergelangan tangan Ulquiorra. Dia sempat memintaku untuk mengikat tangan Ulquiorra yang satu lagi, tapi sekujur tubuhku gemetar, aku bahkan tidak bisa memegang kain dengan benar.

Tangan Ulquiorra bergerak lemah, aku menarik tangannya yang sepertinya hendak menyentuhku, dan saat tangannya mencapai pipiku, dia mendenguskan tawa samar.

Jangan tersenyum... aku mohon...

Tuhan... aku cabut kata-kataku, aku bukannya ingin orang ini mati, jangan...

Dadaku sesak sekali, aku ingin mengucapkan kata-kata yang menyeruak dalam benakku, namun lidahku kaku, dan aku hanya mampu menggeleng, membiarkan tangan Ulquiorra yang berlumuran darah hanya menempel lemah lewat bantuan tanganku. Aku mendongak dan melihat Ibu Matsumoto, seketika wanita itu hanya mampu menatapku dengan tatapan iba, dan aku bisa melihat seberkas putus asa dari sorot matanya.

Aku tidak bisa terima jika Ibu Matsumoto yang merupakan dokter saja, tidak bisa memberikan harapan. Lalu bagaimana aku harus berharap Ulquiorra akan bertahan?

"Minggir semuanya! Tim medis datang!" suara Pak Omaeda menggelegar, dan aku sontak menoleh ke arah kerumunan orang yang menghalangi tiga orang berpakaian rumah sakit. Para penghuni kelas membuka jalan cepat, dan Ulquiorra langsung dibawa dengan menggunakan tandu. Aku hanya mampu terduduk lemas, melihat iring-iringan orang yang mengawal Ulquiorra. Uryuu berlari mendampingi para petugas medis, bersama Pak Omaeda.

Apa yang harus aku lakukan?

Berdo'a. Aku harus berdo'a? Mungkinkah dia akan selamat? Darahnya banyak sekali yang mengalir, mungkinkah dia selamat?

"Kuchiki! Apa yang kau lakukan! Ayo ke rumah sakit!"

Sepasang tangan berjemari lentik tiba-tiba saja menarikku hingga aku terpaksa berdiri. Aku ditarik menuju parkiran, tidak peduli darah dan bau anyir, tidak peduli tatapan para penghuni kelas dan pekerja onsen yang melihatku dengan mata lapar dan menuduh milik mereka. Mereka mungkin sedang mengutukku dalam hati mereka.

Karena kata-kataku, maka Ulquiorra berusaha mati.

Karena ingin mewujudkan kata-kataku, dia berusaha mati dengan cara mengiris pergelangan tangannya.

Karena aku yang memintanya mati, maka ia melakukannya di depanku.

Karena aku yang memintanya mati, maka ia bertanya, 'apa ini cukup?' dengan tangan bersimbah darah.

Karena aku tidak pernah percaya padanya, maka ia ingin memastikan apakah dia cukup membuktikan kata-katanya padaku.

Aku tidak butuh bukti.

Aku tidak ingin kau mati karenaku.

Aku tidak ingin melihat darahmu.

Aku tidak ingin percaya semua kata-kata dan sikapmu!

Mana dirimu yang sebenarnya, Ulquiorra?

Kau mempermainkanku, memintaku pergi darimu, tapi kau mengatakan kau mencintaiku dan melakukan apapun yang aku minta. Bahkan ketika aku begitu membencimu dan memintamu mati...

Kau benar-benar berusaha mati di depanku…

Kenapa kau melakukan semua ini padaku?!

Dosa apa yang telah aku perbuat hingga kau begitu ingin membuatku mengalami semua ini?

.


.

.

Koridor ruang ICU begitu kosong.

Aku terduduk di kursi tunggu. Aku mungkin terlihat lebih tenang daripada Ibu Matsumoto yang terus mondar mandir di depan ruang ICU. Namun ada badai besar melanda hati dan ketenangan otakku. Seluruh bagian dari hatiku seperti terkoyak, terguncang, dan bayangan Ulquiorra yang mengiris nadinya di depanku terus berulang seperti kaset kusut. Bagaimana ia tersenyum, bagaimana ia mengatakan bahwa dia melakukan semuanya seperti yang aku minta.

Apa hebatnya diriku, hingga aku bisa meminta nyawa seseorang?

Aku bukan Tuhan! Aku bukan dewa! Aku hanya berteriak karena kebencian dalam diriku. Aku hanya menyuarakan sakit hati yang ingin aku buang jauh-jauh.

Rasa bersalah ini menghimpitku, sesak, dadaku terlalu sesak hingga aku sulit bernapas. Perutku melilit sakit, dan kepalaku hanya dipenuhi oleh darah Ulquiorra di lantai.

Tidak!

Bagaimana jika Ulquiorrra benar-benar mati?

"Kuchiki!"

Jangan sebut nama itu.

Semua tragedi ini karena aku menerima nama itu. Andai saja aku tidak menerima tawaran adopsi itu, aku tidak akan mengalami ini semua. Aku tidak akan mengenal Ulquiorra. Aku tidak akan membiarkannya masuk dalam hidupku. Aku tidak harus sakit hati. Terlebih lagi, Ulquiorra tidak akan mencoba bunuh diri.

"Kuchiki?"

Jangan sebut! Itu bukan namaku!

"Kuchiki."

"JANGAN SEBUT NAMA ITU!" pekikku lepas kendali.

Aku menatap marah pada orang di depanku, tidak lain adalah Ibu Matsumoto. Dia terlihat keget, namun senyum menenangkan muncul di wajahnya kemudian, dan tangannya terulur meraih bahuku.

"Itu bukan namaku..." isakku putus asa. "Aku Rukia... Jika saja aku tidak diadopsi, maka semua tidak akan seperti ini..." aku tertunduk dalam, merasakan beban itu semakin berat menggelayut di bahuku, menghimpit dadaku hingga oksigen semakin sulit masuk ke paru-paruku.

"Tenanglah..." bisik Ibu Matsumoto, dan dia meraih yukataku. Jari lentiknya merapikan kerah yukataku yang sudah tertarik ke samping dan menunjukkan kaos dalam yang aku gunakan. Aku tidak lagi peduli apa yang terjadi padaku, aku hanya ingin Ulquiorra selamat.

"Ayo kita bersihkan dirimu dulu. Yukatamu berlumuran darah, bahkan darah di wajahmu sudah mengering. Ayo... Hmm?" bisik Ibu Matsumoto perlahan. Dia sangat berhati-hati ketika bicara, seolah tiap kata telah ia pikirkan dengan baik, tapi aku terlalu kaku untuk bergerak dari tempatku. Sekali lagi Ibu Matsumoto menarikku untuk berdiri.

Ibu Matsumoto merangkul bahuku, dan membantuku agar tetap tegak berdiri. Setiap langkah terasa begitu berat, ada ribuan beban diikat ke kakiku.

"Ulquiorra! Ulquiorra!"

Aku dan Ibu Matsumoto berbalik, dan mendapati kakek Yamamoto bersama dua orang berjas hitam. Lalu di belakangnya berdiri Kuchiki Byakuya. Syarafku semakin tegang ketika melihat wajah kedua orang yang aku kenal itu.

"Kau Pembunuh!" hardik kakek Yamamoto, dan dia melangkah cepat hingga tanpa aku sadari dia sudah di depanku, lalu melayangkan sebuah tamparan tempat ke pipiku yang bernoda darah Ulquiorra.

"Tuan!" Ibu Matsumoto berseru kaget, mengeratkan rangkulan tangannya dan membawaku mundur satu langkah. Aku berusaha kuat. Aku tetap berdiri tegak dengan mata menatap kakek Yamamoto. Bukan maksudku untuk menantangnya, sebaliknya, aku justru mengharapkan pengampuan darinya. Mungkin dengan ampunan darinya bisa sedikit melegakan hatiku, memberi ruang lebih untukku bernapas. Jujur saja aku sudah sampai pada batas kemampuanku, aku tidak sanggup bertahan lagi. Jika dengan menerima tamparannya dapat membuat Ulquiorra bertahan hidup, maka ratusan tamparan pun akan aku terima dengan lapang dada.

"Rukia..." calon mantan kakakku itu berusaha mendekatiku, tapi dua orang berjas hitam tadi mencegahnya.

"Apa yang kau lakukan pada cucuku?! Sudah cukup kesialan yang dialami cucuku, tidak perlu kau tambah!" sembur kakek Yamamoto, dan kembali melayangkan tangannya. Dua kali, dan itu cukup membakar pipiku.

"Tuan Yamamoto!" pekik Kuchiki Byakuya marah. Dia menerobos dua orang yang tengah menghadangnya itu, belum sampai dua langkah dia kembali dijegal.

"Cukup, Tuan!" pekik Ibu Matsumoto seraya menarikku lebih jauh, dan menyembunyikanku di balik tubuhnya. "Kuchiki juga terguncang melihat Ulquiorra mengiris tangan di depannya! Harap Anda mengerti!" kata Ibu Matsumoto.

"Tapi Ulquiorra melakukan hal bodoh itu karena anak sial ini memintanya!" jawab kakek Yamamoto jauh lebih marah.

"Seharusnya Ulquiorra lebih menggunakan akal sehatnya!" sahut Ibu Matsumoto jauh lebih emosi. Kakek Yamamoto merenggut bagian depan jubahnya, dan mundur beberapa langkah, terpukul dengan pernyataan Ibu Matsumoto.

"Mohon mengertilah, Tuan Yamamoto. Kita sama-sama tidak mengerti apa yang Ulquiorra pikirkan sampai dia bisa melakukan semua ini. Jadi lebih baik kita berdo'a agar Ulquiorra bisa melewati masa kritisnya," ucap Ibu Matsumoto lebih bijak.

"Tapi anak ini... gara-gara dia... karena dia cucuku satu-satunya... Ulquiorra... Ulquiorra..." rintih kakek Yamamoto lagi, wajahnya memucat tiba-tiba. Aku membelalak begitu melihatnya tiba-tiba kesulitan bernapas sambil merenggut dadanya, dia terlihat sangat kesakitan.

"Dokter! Dokter!" pekik Ibu Matsumoto tiba-tiba, dan kemudian aku melihat lagi seseorang yang terkapar. Kakek Yamamoto tidak bergerak, tangannya jatuh lunglai setelah berusaha keras memegangi dadanya, tongkatnya terjatuh, dan dua orang berjas tadi langsung memboyong kakek Yamamoto menerobos ruang ICU.

Ya Tuhan... Apa yang sudah aku lakukan?

Lututku kembali lemas. Aku terduduk di lantai, merasakan jantungku kembali mengecil dan kehilangan fungsinya.

"Rukia?" Kuchiki Byakuya meraih bahuku, dan aku biarkan dia merangkulku erat. Aku tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Kepalaku hanya mampu berputar di tempat yang sama, hati dan seluruh akal sehatku masih tertinggal di onsen, di kamar Uryuu, di tempat aku melihat senyum Ulquiorra dan tragedi itu terjadi.

"Tenanglah, aku di sini, tenang..."

Lewat celah di antara lengkungan lengan Kuchiki Byakuya, aku melihat Ibu Matsumoto menangis. Akhirnya wanita dewasa itu menangis, aku kira dia cukup kuat dan tidak akan meneteskan air mata. Namun hati manusia tidak terbuat dari batu, aku yakini itu ketika aku mendapati kenyataan bahwa aku tanpa sadar membiarkan Ulquiorra masuk dalam hatiku. Itu adalah bukti betapa lemahnya hati manusia ketika mengharapkan sebuah uluran tangan dan pertolongan.

Tuhan... bagaimana jika aku membuat sebuah pertukaran denganMu? Aku bersedia melanggar takdir macam apapun, tempatkan aku di nerakapun aku tidak peduli. Jika aku memintaMu untuk menukar nyawaku dengan nyawa Ulquiorra, bisakah Engkau mengabulkannya?

Memang tidak ada kata 'jika' dalam kamus hidupku, tapi aku mohon sekali ini saja... Buktikan bahwa hukum itu bisa dilanggar. Bahwa Kau akan merubah semua ketetapan hidup atas diriku.

Aku mohon... Selamatkan Ulquiorra...

Bukan karena aku memaafkannya, bukan juga karena aku tidak ingin membuang perasaanku padanya. Tapi jika dia hidup, mungkin aku tidak akan mengutuk diriku sendiri. Aku memang egois, aku lakukan semuanya demi diriku sendiri, karena aku hanya sendirian di dunia ini. Dan karena keegoisanku, aku meminta siapapun untuk mengampuniku. Ringankan bebanku. Hilangkan rasa bersalahku.

Jika aku mati nanti, mungkin aku bisa tahu apa yang menyebabkan Ulquiorra melakukan ini.

Jadi biarkan dia hidup...

Biarkan

Biarkan

Seperti aku membiarkan sakit hatiku padanya...

.


.

.

Suara kicau burung menyapa telingaku.

Berat sekali rasanya untuk membuka mata, tapi aku memaksakan seluruh syaraf dalam diriku untuk tidak kalah dengan lelah yang melanda ini. Wangi lavender memenuhi hidung dan seluruh kesadaranku. Tidak ada lagi bau anyir darah, bukan lagi teriakan histeris, namun ketakutan itu masih membayangiku.

Aku memaksakan diri untuk terduduk, dan aku begitu mengenal dekorasi ruangan serba mewah ini. Terlebih lagi pintu kamar yang begitu klasik di seberangku. Seumur hidupku, aku hanya sekali menemukan rumah yang menggunakan pintu klasik seperti itu. Hanya di tempat dimana aku berada sekarang.

Di rumah keluarga Kuchiki.

Tidak perlu aku pungkiri, karena Kuchiki Byakuya pasti akan membawaku ke sini. Apakah ada pilihan lain untuknya? Dia tidak akan membawaku kembali ke Hueco Mundo. Jujur saja aku juga tidak ingin kembali ke Hueco Mundo saat ini. Kepalaku masih berputar pada ingatan yang sama. Aku tidak akan mampu melanjutkan hidupku jika aku belum mengetahui dimana aku akan menjejak kaki.

Di neraka tanpa rasa bersalah, atau di bumi tapi dengan ketakutan yang terus menghantui.

Aku menoleh ke kananku, dan melihat keluar jendela. Langit pagi begitu cerah, dan dari pohon rindang di tengah taman keluarga Kuchiki, aku melihat tiga ekor burung sedang mematuk dahan.

Dunia luar tetap tenang, berjalan sebagaimana mestinya, hanya duniaku yang terguncang dan berada pada titik menjelang kehancuran.

Pintu kamarku tergeser perlahan, dan wajah lega seorang pelayan muncul di jarak pandangku. Aku tidak mengenali siapa namanya, tapi sepertinya dia cukup senang melihatku sudah bangun, sekalipun sudah hampir siang. Jika saja aku masih seorang Kuchiki yang normal, mungkin aku sudah habis diteriaki para tetua. Karena sudah mempermalukan keluarga dengan membatalkan status adopsi dan kembali ke Hueco Mundo, sekaligus berani kembali ke rumah kebanggaan mereka, tepat setelah aku membuat kekacauan yang tidak kecil.

"Nona, Ibu Matsumoto datang menjenguk Anda," ucap sang pelayan, dan aku hanya mampu mengangguk perlahan untuk menjawabnya. Mulutku terlalu kering untuk digerakkan, seolah celah bibirku telah dilem, sampai perih sekali rasanya.

Pelayan mundur sejenak, dan tidak lama wajah cantik bertutupkan make up Ibu Matsumoto menyapaku. Dia tersenyum lemah. Dia telah kehilangan setengah dari unsur kehidupannya, karena selama ini aku tidak pernah melihatnya yang lemah seperti ini. Mungkin dia tidak terlihat pucat karena bantuan make up, tapi dia terlihat sangat lelah. Baju hitam yang menyerupai jas dan dress selutut yang ia gunakan, membuatnya terlihat seperti orang yang sedang berkabung.

"Bagaimana kondisimu?" tanyanya seraya mengambil tempat di sisi tempat tidurku, menarik kursi belajar dan meraih tanganku, yang baru aku sadari ternyata tertanam jarum infus.

Aku hanya menggeleng dan menunjuk bibirku yang tidak bisa aku buka.

Ibu Matsumoto meraih segelas air dan selembar tissue di meja samping tempat tidurku, dia membasahi tissue yang kemudian dia tempelkan di bibirku. Perlahan bibirku basah, dan bisa aku buka. Lalu tanpa banyak bicara, Ibu Matsumoto membantuku meneguk air.

"Kau punya kebiasaan tidur lama ya, Kuchiki?" celetuk Ibu Matsumoto begitu aku selesai minum.

"Tidak, aku bahkan bisa tahan tidak tidur sampai tiga hari berturut-turut!" sangkalku.

"Iya, tapi sebagai gantinya kau akan tidur seperti beruang yang berhibernasi!" candanya, dan kalau dipikir-pikir mungkin ada benarnya juga... "Sudah dua hari kau tertidur, dan selama kau terpejam, dunia di sekelilingmu banyak berubah, Kuchiki," bisik Ibu Matsumoto purau. Sedih dan sesal tergambar jelas dari nada suaranya.

Dua hari? Aku tidur selama dua hari?

Aku menegakkan badan dan memusatkan perhatianku pada Ibu Matsumoto, bersiap menerima cerita yang akan ia sampaikan. Aku harus tahu bagaimana kondisi Ulquiorra. Apakah dia selamat, ataukah...

"Kau sudah cukup kuat untuk mendengarnya? Aku sebenarnya datang untuk menjengukmu, tapi kebetulan kau sudah bangun. Matamu menunjukkan keingintahuan yang tidak bisa aku sangkal."

Aku mengangguk dalam, menelan ludah sendiri dalam kepahitan.

Entah bagaimana nanti aku harus bersikap setelah mendengar cerita Ibu Matsumoto? Nada suaranya mengindikasikan berita buruk, dan aku harus bersiap menghancurkan duniaku sendiri. Ya, itu harga yang harus aku bayar atas perbuatanku sendiri, atas kebencianku, dan atas kebodohanku sendiri.

"Ulquiorra berhasil bertahan. Kondisinya stabil setelah ditangani dokter selama lebih dari lima jam."

Reflek aku menghela napas, satu beban terlepas dari bahuku, dari hatiku dan dari duniaku. Terima kasih Tuhan...

"Tapi Tuan Yamamoto meninggal karena serangan jantung, hanya beberapa jam sejak di bawa ke ICU. Aku bersyukur Ulquiorra hidup, tapi dengan kepergian Tuan Yamamoto aku begitu terpukul. Dua orang itu adalah penolong dalam hidupku. Melihat Tuan Yamamoto meninggal saat Ulquiorra kritis, membuatku berpikir bahwa Tuhan telah menukar nyawa Tuan Yamamoto dengan Ulquiorra," tutur Ibu Matsumoto, suaranya hampir hilang terbenam dalam keputusasaan.

Deg!

Besi panas itu tepat menembus ulu hatiku. Perih dan nyeri itu menjalar hingga seluruh syaraf dalam tubuhku.

Seperti itukah kenyataannya?

Seperti itukah Tuhan menjawab permohonanku?

Bukannya menukar nyawa Ulquiorra dengan nyawaku, tapi malah mengambil nyawa kakek Yamamoto.

Ini tidak adil... Aku telah membuat kakek Yamamoto meninggal, aku telah mengambil nyawanya.

Kenapa... Kenapa...

"Kuchiki?" Ibu Matsumoto mengguncang tanganku.

Tidak seharusnya... Jangan biarkan hal ini terjadi...

Semuanya harus hidup, jika ada yang harus mati, maka orang itu seharusnya aku!

"Kuchiki! Kau mau apa?"

Aku harus menemui Ulquiorra, aku harus mencarinya! Dia...

"Kuchiki! Kendalikan dirimu!"

Ini tidak boleh terjadi, kakek Yamamoto tidak seharusnya mati...

"KUCHIKI!"

"Argh!" aku berteriak ketika tubuhku terhempas ke lantai.

Kenapa aku ada di lantai? Ibu Matsumoto mengunciku di lantai.

Sepasang mata redup Ibu Matsumoto menatapku putus asa, bahkan tangannya yang mencengkram bahuku ikut gemetar. Ibu Matsumoto meneteskan air matanya, antara putus asa dan tidak percaya, lalu ia menarikku hingga kembali terduduk untuk menarikku masuk dalam pelukannya. Dadanya naik turun mengganjal napasku karena ia terlalu erat memelukku.

"Kendalikan dirimu..." bisiknya lirih.

"A-aku harus menemui Ulquiorra. Harus! Aku harus menemuinya!" aku mendorong badan Ibu Matsumoto, membuatnya terhempas, sementara aku berdiri dan melangkah menuju pintu.

"Ulquiorra menghilang! Dia pergi dan menyerahkan semuanya padamu!" pekik Ibu Matsumoto frustasi, dia kembali mencengkram bahuku, dan mengunci tanganku ke belakang.

"Jangan sakiti dirimu lagi, Kuchiki... Ini bukan salahmu..."

Aku menyakiti diriku? Kapan?

"Rukia!"

Kali ini aku kembali dikagetkan dengan kedatangan orang lain ke kamarku. Kuchiki Byakuya menerobos masuk kamar dan langsung merangkulku. Perasaan jijik menyelubungiku, sontak aku memberontak, namun aku tidak bisa banyak bergerak ketika kedua tanganku dipegangi Ibu Matsumoto, dan lengkungan tangan Kuchiki Byakuya begitu erat. Aku membelalak pada Kuchiki Byakuya. Dia melirik Ibu Matsumoto sesaat sebelum kembali melihatku. Wajah kakunya membuatku ingin muntah. Aku ingin dia enyah dari pandanganku.

"Lepaskan aku..." geramku, siap untuk menyerangnya.

"Aku akan lepas jika kau berhenti mencakar tanganmu..." bisiknya tenang dan perlahan.

"A-aku mencakar..."

Sekujur tubuhku kaku. Aku menghentakkan tanganku dari kekangan Ibu Matsumoto. Darah menyeruak keluar dari luka berbentuk tiga garis panjang kemerahan di pergelangan tangan kiriku. Entah tubuhku yang memang sudah tidak bisa berinteraksi dengan normal, atau memang otakku yang tidak mampu lagi mengartikan rasa sakit, karena perih ataupun sakit dari tanganku tidak terasa sama sekali.

Kuchiki Byakuya merengkuh wajahku, dan menatap mataku penuh-penuh. Tidak mampu aku alihkan pandanganku, ketika sorot matanya hampir sama dengan tatapan Ibu Matsumoto.

Kenapa semua orang harus berwajah sama?

"A-" erangku ketika lukaku bergesekan dengan bajuku sendiri.

"Lihat aku, Rukia..." bisik Kuchiki Byakuya lagi, dan aku menurutinya, karena nada dalam suaranya adalah memohon, bukan memerintah seperti yang selalu ia lakukan sebagai kepala keluarga bangsawan Kuchiki. "Tenang dan dengarkan semua dengan baik. Kau besar di Hueco Mundo, kan? Kau kuat, kan? Sekarang aku minta kau membuang semua tatakrama keluarga bangsawan, buang semua akal sehatmu sebagai seorang Kuchiki Rukia, dan gunakan instingmu agar kau tetap bertahan. Kau tidak akan bisa menerima semua ini jika bukan ketegaran hatimu sendiri yang kau gunakan. Hmm?" desisnya dengan pancaran mata penuh, berusaha sangat keras meyakinkanku.

Seketika itu juga aku kembali mendengar suara kicauan burung dari luar ruangan, aku bisa mendengar isak tangis Ibu Matsumoto, aku bahkan bisa merasakan sakit dari tanganku. Apa yang baru saja terjadi padaku?

Lututku lagi-lagi kehilangan pertahanan, aku lunglai begitu saja begitu wajah tersenyum Ulquiorra yang bersimbah darah menyeruak masuk dalam benakku.

"Aku akan minta kotak P3K!" seru Ibu Matsumoto seraya berlari meninggalkanku yang ditopang tangan Kuchiki Byakuya.

Aku dipapah kembali ke tempat tidur, dan selang infus teronggok tak berdaya di lantai, meneteskan sia-sia cairan yang seharusnya masuk ke badanku.

Gelap sama sekali.

Aku tidak ingat apa yang aku lakukan selama beberapa menit sebelumnya.

Hanya ada perasaan bersalah yang semakin menghimpit dadaku. Aku tidak tahu kapan aku mencabut jarum infus dari tanganku, aku juga tidak sadar kalau aku telah mencakar tanganku sendiri sampai berdarah.

"Rukia..."

Tanganku terangkat dan menyingkirkan tangan Kuchiki Byakuya yang menyentuh bahuku. Rasa jijik itu membuat perutku bergolak hebat.

"Bencilah aku... Aku tahu apa yang aku harapkan darimu sama sekali tidak pantas. Aku salah, dan aku bersumpah tidak akan melakukan hal yang sama." Dia menghela napas berat penuh iba, dan kembali menatapku setelahnya.

"Sampai mana kau mendengar berita ini?" bisiknya hati-hati.

Mataku menerawang menatap lantai dan mengingat kata demi kata yang telah diucapkan oleh Ibu Matsumoto, dan sekujur tubuhku kembali mengalami gempa, aku gemetaran dan menggigil.

"Kakek Yamamoto meninggal dan Ulquiorra menghilang..." gumamku seraya kembali menatap kedua matanya, berharap aku salah dengar, atau memang Ibu Matsumoto salah ucap.

"Aku akan katakan semuanya, tapi apa kau bisa mengendalikan dirimu?"

Aku mengangguk cepat.

Kuchiki Byakuya tersenyum tipis. "Jangan paksa dirimu. Jika kau ingin menangis atau berteriak silahkan, tapi jangan menyakiti dirimu."

Aku kembali mengangguk dengan patuh. Aku hanya ingin mendengar semua kenyataannya dan segera mengakhiri degub jantung yang hampir membuat dadaku meledak.

"Ru-"

Kuchiki Byakuya menghentikan mulutnya tepat ketika Ibu Matsumoto masuk kamar dan menutup pintu rapat-rapat, seolah takut ada orang lain yang tahu kondisiku saat ini.

Ibu Matsumoto meraih tanganku dan langsung merawat lukaku. Tidak banyak bicara, namun tangannya sama gemetarnya denganku, jadi aku tidak akan memaksa bicara dengannya.

"Rukia..."

Kuchiki Byakuya kembali mengalihkan perhatianku, begitu dia menyebutkan namaku, sontak aku menoleh padanya, dan membiarkan Ibu Matsumoto membalut lukaku.

"Kau bisa ceritakan penyebab kau dan Ulquiorra bertengkar?"

"Kenapa?" aku bingung dengan pertanyaannya.

"Karena..." Kuchiki Byakuya tampak ragu, tapi setelah jeda beberapa saat ia melanjutkan, "Sebenarnya… Polisi menyelidiki kasus ini, hanya saja kami berusaha meredamnya dan mengatakan bahwa ini masalah internal dua keluarga serta akan diselesaikan secara damai. Tapi sebenarnya kami sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan kalian berdua bertengkar sampai Ulquiorra berusaha bunuh diri, dan..."

"Aku tahu!" potongku cepat, dan Kuchiki Byakuya mengerutkan alisnya dalam-dalam. "Aku penyebabnya, jadi salahkan saja aku. Silahkan penjara aku dan anggap aku sebagai pembunuh kakek Yamamoto. Selesai, kan?" tandasku cepat, dan tidak luput aku memberikan seringai merendahkan padanya.

Ibu Matsumoto mengguncang tanganku, membuatku kehilangan fokus untuk menggertak Kuchiki Byakuya. "Kau tidak bisa begini terus! Jujurlah pada dirimu sendiri!" seru Ibu Matsumoto dengan wajah memelas, napasnya yang tidak teratur seiring dengan frustasi yang terlihat jelas di wajahnya. Yang sekarang kehilangan kendali sepertinya malah Ibu Matsumoto.

Aku membisu, membiarkan badai hebat menerpa ketenangan yang begitu keras aku pertahankan. Melihat Ibu Matsumoto yang menganggukkan kepala, seolah memberiku izin agar membiarkan badai itu meruntuhkan semua kekerasan hatiku.

"Aku sudah jujur, Bu..." ucapku dengan memohon kepercayaan sepenuhnya, karena aku sudah membuka diriku sepenuhnya pada Ulquiorra, tapi dia yang memulai semuanya, dia yang mempermainkanku dan menjadikanku bahan tertawaannya.

"Tidak apa, menangislah sebanyak yang kau mau."

Aku tidak akan menangis, menangis hanya akan membuatku semakin tak berdaya.

"Kau menangis bukan karena kau kalah, Rukia. Kau menangis karena kau harus melepaskan bebanmu, dan kembali bangkit..." bisik Ibu Matsumoto seraya mengusap pipiku.

Hancur sudah!

Pertahananku hilang seluruhnya!

Aku membiarkan air mataku menetes, tapi aku tidak bisa biarkan gemetar ini terus melandaku.

"Aku mencintainya. Aku mencintai, Ulquiorra," bisikku tegas sekalipun dengan suara bergetar.

Kuchiki Byakuya terperanjat ketika aku selesai mendeklarasikan kalimat itu, tapi dengan cepat ia menguasai diri dan menatapku dengan tenang. Aku biarkan dirinya melihat keruntuhanku, menjadi saksi atas kejujuran yang tidak pernah bisa aku ungkapkan di depannya.

Kepalaku tertunduk dalam, mengingat bagaimana pertama kali Ulquiorra bicara padaku, bagaimana ia bersikap lembut padaku.

"Aku biarkan dia masuk dalam duniaku. Seharusnya aku tidak melakukannya, karena dia hanya mempermainkanku. Aku sudah berusaha tidak bertemu dengannya setelah aku pergi dari rumah sakit, tapi tiba-tiba dia muncul di onsen dan mengatakan semua omong kosongnya. Aku tidak akan tinggal diam jika orang lain menyakitiku. Aku marah dan memukulnya, mengatakan agar dia mati saja." Aku berusaha menarik napas banyak-banyak, berusaha melegakan ruang di dadaku, karena merasakan tusukan itu kembali menghujamku, sebuah tangan tak terlihat tengah mencekik leherku, meyesap tiap detik yang memudarkan ketegaranku.

Ibu Matsumoto menekap mulutnya, kepalanya bergerak begitu lambat untuk bisa melihat ke arah Kuchiki Byakuya. Sementara pria bangsawan itu tetap tenang, dia hanya sesaat berjengit ketika aku menyebut kata mati.

"Aku begitu marah dan memakinya, tapi dia masih saja bicara. Mengatakan kalau dia mencintaiku dan akan melakukan apapun yang aku minta. Aku hampir menghabisinya jika saja Pak Omaeda tidak datang. Aku begitu yakin kalau semua tentangnya adalah kebohongan. Bukan hanya setiap kata yang ia ucapkan, tapi juga semua janji dan sikapnya," lanjutku tanpa menunjukkan wajah menyesal sedikitpun pada mereka, sekalipun pada kenyataannya aku merasakan dadaku semakin sempit karena mengingat bagaimana Ulquiorra berkata, 'Seperti yang kau harapkan...' dengan tangan bersimbah darah.

Itu benar-benar menyiksaku.

"Lalu saat aku akan kembali ke kamar... aku melihat Senna di depan kamar Uryuu dan Ulquiorra. Dan... Tangan kiri Ulquiorra sudah terluka meneteskan darah, lalu dia mengiris tangan kanannya di depanku," cicitku lagi. Aku begitu takut mengingat bagaimana Ulquiorra menggesekkan tangannya di pisau yang tengah ia gigit. Wajah tenangnya, senyum yang melengkung di bibirnya, seolah Ulquiorra telah memasrahkan seluruh hidupnya hanya untuk bisa membuktikan kesungguhan hatinya padaku.

"Ya Tuhan..." Ibu Matsumoto lagi-lagi terkesiap. Dia sampai terduduk lemas di lantai, matanya membulat sempurna sambil menatap kosong.

Pandanganku kabur, airmata mengumpul di pelupuk mataku sebelum akhirnya jatuh ke pangkuanku, menetes tanpa henti sementara aku menyiapkan diri untuk kembali bicara pada dua orang dewasa di hadapanku. Dewasa… Mungkinkah aku tidak akan berkata semudah itu jika aku sudah dewasa seperti mereka? Mungkinkah aku akan lebih memikirkan akibat dari semua kata-kataku, sehingga tidak menyebabkan Ulquiorra mencoba mati di hadapanku? Tapi Ulquiorra juga salah, kenapa dia harus melakukan hal bodoh itu? Apakah ini semua karena kami sama-sama masih sangat muda? Karena kami tidak pernah berpikir panjang tentang apa yang akan terjadi atas apa yang kami lakukan di masa lalu? Haruskah kami menggoreskan duka sedalam ini sementara kami sama-sama belum mengetahui seperti apa dunia akan bersikap pada kami.

Namun sekali lagi rasa bersalah jauh lebih kuat menggelayut di dadaku. Kata-kata itu yang pertama kali meluncur dari mulutku, kesalahanku tidak akan dengan mudah terhapuskan. "Aku yang memintanya mati, dia hanya melakukan apa yang aku minta... Tepat seperti ucapannya kepadaku. Dia akan melakukan apapun yang aku minta. Aku yang sudah mendesaknya dan dia hanya membuktikan kata-katanya," lanjutku lagi seraya mengusap air mata yang terus saja mengalir membasahi pipiku.

Selang beberapa menit kemudian aku hanya meneteskan air mataku, sementara Ibu Matsumoto terus meremas tanganku.

"Kau ingin menceritakan hal lain?" tanya Kuchiki Byakuya. Aku mencoba membaca arti dari pertanyaannya, entah apa yang bisa aku tangkap darinya. Kata-katanya hanya memberi kesan bahwa semua ceritaku hanya akan menjadi cerita belaka, dan aku harus meninggalkan semua cerita itu sebagai masa lalu. Seketika saja kebencianku padanya semakin membuncah. Dia mengucapkan sebaris kalimat itu dengan sangat tenang.

Aku menggeleng tegas. Tidak ada lagi yang bisa aku luapkan, semuanya terpatri jelas dalam hatiku. Sakit, perih, pedih, pilu. Semua jenis perasaan yang selalu aku hindari seumur hidup, sekarang memenuhi seluruh aliran darahku, meyiksaku dengan perasaan bersalah yang mendalam dan terus menggrogotiku. Aku membenci Kuchiki Byakuya, tapi sudah tidak ada lagi ruang dalam hatiku yang telah dipenuhi rasa bersalah yang tidak ada habisnya.

"Kalau begitu sekarang kau harus mendengarkan kami..." ucapnya lagi. Dia sempat menoleh pada Ibu Matsumoto sebelum kembali menatapku tanpa berkedip. Nada suaranya sedingin es, membuatku makin mayakini bahwa tangan besinya-lah yang berhasil membawa nama bangsawan Kuchiki makin besar, dan aku tidak membutuhkan simpati darinya.

"Setelah aku membawamu pulang, dan memintamu membersihkan badan... Kau pingsan di lantai kamar mandi."

Aku berusaha mengingat saat dimana aku pingsan, tapi semuanya gelap. Tidak ada yang bisa aku ingat.

"Tepat tengah malam, kami menerima kabar bahwa Ulquiorra telah melewati masa kritisnya, dan keadaannya stabil, namun berita duka juga datang. Tuan Yamamoto meninggal tidak lama setelah masuk ruang ICU."

Aku tetap diam dan tidak bereaksi. Bukan karena aku telah berubah menjadi manusia tanpa hati, tapi hatiku sudah terlalu lelah untuk memberikan reaksi apapun. Terlalu sempit sudah ruang di dadaku untuk bisa memberikan perasaan lain pada apa yang diucapkan Kuchiki Byakuya. Dadaku sakit dan sesak, hanya itu yang bisa aku rasakan sekarang.

"Pemakaman Tuan Yamamoto dilaksanakan tadi, pagi-pagi sekali untuk menghindari kejaran wartawan."

Aku mengangguk dan menunggu lanjutan kalimat Kuchiki Byakuya.

"Tapi jam 7 tadi ada kabar dari rumah sakit, bahwa Ulquiorra..."

"Menghilang!" selorohku menyelesaikan kalimatnya yang tertahan di ujung lidah. Mungkin dia mengira aku belum tahu, tapi Ibu Matsumoto lebih dulu memberitahuku dan karena itu juga aku mencakar tanganku sendiri. Entah apa yang tengah aku pikirkan hingga aku sendiri tidak mampu mencegah apa yang aku lakukan.

"Bukan hanya itu..." ucap Ibu Matsumoto yang ragu-ragu melanjutkan kalimatnya, dan aku bersiap untuk menerima hal yang lebih buruk dari ini semua.

"Pihak RS mengatakan mereka hanya menemukan ponsel Ulquiorra dan sebuah surat."

Aku bingung dengan arah penjelasan ini, karena kemudian Kuchiki Byakuya bersikap aneh dengan membuang wajah dan menghela napas panjang, seolah tengah berusaha untuk melegakan hatinya.

"Sebaiknya kau baca sendiri," ucap Ibu Matsumoto seraya meraih sesuatu dari balik blazer yang ia kenakan.

Aku menerima amplop berwarna putih yang ia berikan. Tidak berpikir banyak, aku langsung membuka amplop dan menarik keluar selembar kertas berwarna gading. Ada tulisan tangan di sana, tapi aku tidak mengenali tulisan siapa itu. Sontak aku mengangkat wajah dan melihat Ibu Matsumoto, hendak bertanya. Namun sepertinya semua kata-kata telah tertulis di dahiku, karena Ibu Matsumoto langsung mengangguk dalam seraya berkata, "Aku dapat mengenali tulisan Ulquiorra walau hanya dalam sekilas pandang. Memang tidak masuk akal jika Ulquiorra menuliskannya sendiri padahal tangannya sedang terluka. Makanya aku membawa surat itu ke seorang detektif, dan mereka bilang bahwa surat itu sudah ditulis seminggu sebelumnya."

Aku makin tidak mengerti.

"Kepolisian bahkan membenarkannya, Kuchiki..." Ibu Matsumoto menarik napas panjang dan ikut memberikan wajah bingung padaku. "Mungkin kau bisa bilang Ulquiorra memiliki indra keenam atau kenal dengan seorang peramal, tapi dia menuliskan semuanya dengan detail di surat itu."

Aku kembali menatap surat di depanku, membacanya perlahan dengan hati mengerut sakit.

Aku, Ulquiorra Schiffer, menyatakan bahwa aku menuliskan surat ini dengan sebenar-benarnya, dengan keinginanku sendiri dan tanpa paksaan dari pihak manapun.

Kepada pengacara Hisagi Shuhei. Aku minta, tepat setelah kakek Yamamoto dimakamkan, seluruh bentuk warisan yang diberikan kakek Yamamoto padaku, agar diberikan kepada Kuchiki Rukia. Adik adopsi dari Kuchiki Byakuya. Lakukan seluruh proses berdasarkan surat ini.

Kepada Kuchiki Byakuya. Aku mohon lakukan perananmu sebagai sesungguhnya seorang kakak bagi Rukia.

Kepada Ibu Matsumoto. Aku tidak memiliki banyak orang yang mengerti diriku, karena itu aku minta agar kau membantuku untuk menjaga Rukia. Karena hanya dia seseorang yang ingin aku jaga, tapi aku tidak mampu, karena aku hanya akan melukainya terlalu dalam.

Kepada Rukia.

Aku tahu ini akan menyusahkanmu, tapi aku akan tetap melakukannya… Jadi, aku mohon maafkan aku.

Aku mencintaimu. Selalu. Karena itu aku melakukan ini. Semua ini tidak lain adalah keegoisanku, keserakahanku atas dirimu. Hiduplah dengan baik. Bahagialah, agar aku tidak mengutuk diriku atas kesedihanmu.

Terima kasih atas semua yang kau berikan padaku. Aku tidak akan bisa mengembalikan waktu dan menghilangkan semua dendam, juga sakit hatimu padaku. Aku terima semuanya, karena aku yakin itu semua adalah bukti lain bahwa kau juga mencintaiku. Sekalipun kau tidak mencintaiku lagi, aku akan hidup dalam keyakinanku sendiri, bahwa kau akan selalu mencintaiku. Dengan mimpi itu aku akan mempertahankan sisa hidupku.

Aku belum mati, tapi dengan ini aku ingin semua orang menganggapku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku hanya berharap bisa bertahan hidup dalam hati satu orang saja... hanya di hati Rukia.

Ulquiorra Schiffer

Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.

Seluruh tubuhku kehilangan pertahanan. Aku menangis, meraung, merintih, aku hanya mampu membiarkan nyeri di ulu hatiku semakin dalam. Tanganku terkepal kuat menggenggam surat yang baru saja aku baca. Ulquiorra menuliskan sebuah surat yang tidak dapat aku terima dengan akal sehatku sendiri.

Aku menangis sejadi-jadinya, aku ingin semua ini hanya mimpi, tapi mimpi macam apa yang bisa memberikan rasa sakit yang begitu nyata?

Ulquiorra mencintaiku, tapi cinta macam apa yang membuatnya tega melukai dirinya sendiri? Cinta macam apa yang berusaha membuat orang yang ia cintai, membencinya? Cinta macam apa yang menyakitkan begini? Cinta macam apa?!

Aku begitu membenci cinta, dan aku tidak berharap jatuh dalam kubangan bernama cinta. Semuanya hanya akan berakhir luka, seperti sekarang ini. Semua hanya berujung pada kekecewaan. Kami tidak bisa memiliki kebahagiaan, karena cinta!

Rantai di hatiku tidak pernah bisa aku putuskan, selama sisa hidupku aku hanya akan terikat padanya. Keegoisan dan keserakahannya padaku, telah membuatku merasa begitu bersalah. Karena dia terluka, karena dia ingin membuktikan kata-katanya, karena ia mencintaiku dan melakukan yang aku minta, dan karena itu pula aku telah membuat kakek Yamamoto meninggal. Aku pembunuh, dan sekarang ia mengatakan itu semua karena cinta? Omong kosong! Semua hanya omong kosong!

"AGRHHHH...!" aku berteriak begitu keras, hingga tenggorokanku perih, hingga aku kehabisan napas dan terengah dalam isakan tangisku sendiri.

"Rukia..."

"JANGAN SENTUH AKU!" pekikku seraya beranjak dari ranjang. Aku ingin kembali pada Yammy, aku ingin ia menghancurkan semua panggung sandiwara ini dengan tangan besarnya, aku ingin ia memelukku dalam kehangatan seorang kakak dan pelindung. Aku ingin Nnoi memukulku, dan membangunkanku. Aku ingin ia meyakinkanku bahwa ini adalah mimpi.

"Kau harus menerima semua ini!"

"Tidak, ini hanya omong kosong!"

"Rukia!"

"Aku harus menemukan Ulquiorra, dia harus mempertanggungjawabkan semua ini denganku. Kami harus bertanggungjawab, harus... harus... hiks, hiks, hiks..." aku menyerah ketika Kuchiki Byakuya menarikku dalam kekangannya sekalipun aku memberontak habis-habisan, membuatku jatuh terduduk di depan kamar, dan menangis dalam pelukannya.

Seluruh duniaku hancur. Jika aku menerima ini semua, aku akan hidup sebagai Kuchiki Rukia dan menerima semua takdir ini. Selamanya aku akan terikat pada keluarga Kuchiki dan kakek Yamamoto, serta... Ulquiorra.

Neraka bagaikan ada di depan mataku.

Tangan Kuchiki Byakuya mengusap puncak kepalaku, terus berusaha menenangkanku, namun desakan airmataku tidak juga mau berhenti. Berapa banyak airmata yang harus aku teteskan untuk bisa melegakan hatiku? Berapa lama lagi aku harus merasakan sakit ini hingga aku cukup untuk menebus semua kesalahanku?

Ulquiorra, kenapa kau begitu ingin hidup dalam hatiku?

Inikah caramu untuk mengikatku?

Kau sakiti aku, kau buat aku membencimu, dan merasa bersalah, lalu sekarang kau ingin aku menerima semua takdir yang seharusnya kau terima sebagai penerus kakek Yamamoto?

"Maafkan aku, Rukia..." bisik Kuchiki Byakuya.

Aku tidak memberikan reaksi. Kepalaku hanya dipenuhi Ulquiorra, dan kilas balik peristiwa yang aku alami dengannya. Semua datang seperti sambaran petir, bahkan kali ini jauh lebih hebat.

"Selama ini aku berhasrat padamu karena kukira kau memiliki perasaan yang sama denganku. Ketika keserakahanku terhadapmu terus tumbuh, kau malah semakin menjauh dariku. Aku tidak ingin kau terluka, karena itu aku tidak akan berusaha menyentuhmu, seperti yang Ulquiorra minta." Jeda dalam suaranya membuatku mendongak untuk melihat wajahnya dengan mata basahku, dan kesungguhan dalam binar matanya tidak mampu aku pungkiri.

Kenapa dia harus menggunakan kata yang sama dengan Ulquiorra?

'Keserakahan'

Semua manusia memiliki hal itu, karena manusia sulit untuk mencapai kata puas.

Karena keserakahan Ulquiorra atas diriku, aku harus menjalani hidup seperti ini?

Karena keserakahan Kuchiki Byakuya aku harus menerima semua sakit hati sebagai orang rendahan yang diadopsi dalam keluarga bangsawan?

Lalu aku harus diam menerima semuanya? Jangan bercanda! Aku ingin hidupku sendiri! Tidak dalam skenario siapapun, tidak dalam kekangan siapapun, tidak dalam pengaturan siapapun. Hanya Tuhan dan diriku sendiri yang boleh mengatur hidupku!

"Aku tahu ini berat. Kesedihanmu, sakit hatimu, rasa bersalah, dan kau mungkin tidak ingin menerima semua ini, tapi aku mohon... sebagai wujud tanggung jawabmu pada kakek Yamamoto dan Ulquiorra, tinggallah. Jadilah seorang Kuchiki dan meneruskan apa yang telah diperjuangkan kakek Yamamoto seumur hidupnya. Hanya itu cara untukmu menebus semua rasa bersalahmu."

Aku ingin berteriak saat itu juga, tetapi tidak ada yang bisa keluar dari pita suaraku.

Tidak ada yang bisa aku sangkal dari kata-katanya. Dia benar. Benar bahwa aku merasa bersalah, benar bahwa aku tidak bisa hidup dalam rasa bersalah seumur hidup. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini aku menebus semuanya? Bukan aku sendiri yang salah, Ulquiorra yang membuat semua cerita menyedihkan ini. Dia yang memulai semua ini. Bukan aku!

"Kuchiki... Ulquiorra mungkin terdengar sangat tidak masuk akal, dan kata-katanya seolah mengatakan kalau dia akan pergi untuk selamanya. Anggap ini sebagai permintaan terakhirnya, kau bisa melakukannya, kan? Ada puluhan ribu karyawan yang hidup dari bekerja di beberapa perusahaan milik kakek Yamamoto, dan kau tidak bisa mengabaikan nasib mereka begitu saja," tutur Ibu Matsumoto dengan wajah memohon.

Hidup puluhan ribu orang?

Sehebat apa diriku ini hingga bisa menjadi penentu hidup puluhan ribu orang?

Lalu bagaimana dengan hidupku sendiri?

Sampai beberapa menit lalu aku hanya seorang Rukia yang besar di Hueco Mundo, aku bisa menjalani hidupku sebagai orang biasa, aku bisa sekolah dan bekerja sampingan sesukaku, aku bisa menghabiskan waktu dalam kelaparan jika aku mau, lalu sekarang...

"Mengertilah, Rukia..." gumam Kuchiki Byakuya lagi.

Bahuku terasa berat. Sebanyak itukah tanggungjawabku sekarang?

Ulquiorra... kau ingin hidup dalam hatiku?

Sangat ingin hingga kau melakukan ini semua?

Sangat ingin hingga kau biarkan aku menyebabkan kakek Yamamoto meninggal?

Sangat ingin hingga kau membuatku begitu tersiksa seperti ini?

Baik! Aku akan mengabulkannya, namun sebagai gantinya, biarkan aku membalasmu ketika kita bertemu nanti. Di dunia ataupun di alam baka, aku tidak peduli. Kau harus bertanggungjawab! Kau juga harus merasakan neraka yang aku rasakan!

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucapku datar, berusaha tenang sekalipun air mataku masih saja mengalir.

"Rukia?" mata Kuchiki Byakuya membelalak lebar.

Aku beranjak dari lengkungan tangan Kuchiki Byakuya, berdiri dengan kaki gemetar, namun aku masih memiliki sisa tenaga yang harus aku gunakan untuk menebus rasa bersalahku. Aku mungkin besar di Hueco Mundo, dunia yang begitu keras, tapi bukan berarti aku tidak lagi memiliki hati. Rasa bersalah adalah mimpi buruk, dan aku tidak ingin hidup dalam mimpi buruk. Jika dengan memikul tanggungjawab ini bisa membuat rasa bersalahku berkurang… Baik! Akan aku lakukan.

"Aku harus menjadi Kuchiki Rukia dan penerus kakek Yamamoto, kan? Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menjadi keduanya?"desisku lagi dengan mata menatap tajam. Kebulatan tekad dalam hatiku tak tergoyahkan. Dosa besar yang telah aku lakukan, harus aku pertanggungjawabkan.

Ibu Matsumoto meraih tanganku, dan meremasnya pelan. Aku hanya mengerjap, dan mengembalikan pandanganku pada Kuchiki Byakuya. Wajah tenang dan penuh keyakinan Kuchiki Byakuya adalah pertanda bahwa mulai sekarang aku tidak akan menjadi Rukia yang sama. Kilat dimatanya menyiratkan bahwa duniaku, kebebasanku telah terenggut sepenuhnya. Aku harus membuang semua harapanku sebagai jiwa bebas yang berhak melakukan apapun semauku. Ketika tanggungjawab itu dilimpahkan kepadaku hanya lewat secarik kertas. Aku hanya yakin pada satu hal…

Nerakaku akan segera dimulai.

.

.

To Be Continue….


.

.

Hai semua, terima kasih banyak sudah mau membaca karya saya.

Chapter 4 ini kelam beut auranya.

Jujur saja alur cerita untuk fanfic kali ini menguras otak banget. Banyak faktor juga sebenarnya, tapi yang paling berat ya… karena lama vakum dari dunia tulis menulis. Maaf untuk typos. Udah bolak balik di baca ulang sebelum publish new chapter, tetap aja banyak koreksi.

-:- -:- Nakki Desinta -:- -:-

27.03.18