The Last Train: Horizon
BTS Fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
.
.
.
[3]
November 2016, a few days before
Mereka hanya sedang bersantai di bawah pohon mapple. Hari tanpa hujan membuat daun-daun kering yang menumpuk di atas tanah itu menjadi hangat. Sinar sore yang berwarna jingga menjadi pemandangan tak terhalang, sebab siluet bangunan-bangunan tinggi hanya jadi sebatas atap-atap yang sedikit mencuat dari garis meridian. Di atas bukit di kompleks kampus, mereka berebahan menghadap matahari yang mulai beristirahat.
"Pergilah berkencan, Tae." kata Jimin pada Taehyung yang menaruh tangan di belakang kepala, menyamankan sandarannya.
"Kau sendiri? Malah tiduran di bawah pohon, kurang kerjaan sekali." cibirnya. Sudah tahu dia tak punya kekasih, malah menyuruhnya berkencan.
"Lalu kenapa juga kau mengikutiku?"
"Karena aku juga kurang kerjaan."
Jawaban Taehyung mengundang tawa ringan dari Jimin. Mereka melepaskan tawa bersama. Bukan gelak seperti ketika candaan kasar terucap, hanya kekeh-kekeh yang mengisi sore.
Sepasang earphone menyumbat telinga Jimin, hanya saja Taehyung tak yakin kalau lelaki itu benar sedang mendengarkan lagu, sebab bagaimana bisa dia bertanya dan menjawab? Jika tak mendengarkan lagu, mungkin juga musik yang diputarnya hanya disetel dengan volume kecil. Satu kebiasaannya, mendengarkan lagu dengan suara yang nyaris seperti bisikan. Entah kenapa dia suka akan itu.
Karena penasaran, akhirnya Taehyung mencabut sebelah earphone Jimin dan memasangkannya di telinganya sendiri. Dia mencoba mendengar apa yang Jimin dengar. Ah, benar, sebuah lagu dengan volume kecil yang nyaris seperti bisikan. Sebuah lagu rock-ballad.
Jimin mencabut earphonenya hanya untuk dia pindahkan ke telinga satunya, supaya kabel yang menghubungkan sebelah earphone yang Taehyung ambil tidak harus tertarik terlalu jauh.
Lantas mereka berdua sama-sama mendengarkan lagu.
Mungkin jika ada orang yang melihat, mereka akan disebut romantis. Mendengarkan lagu dari sepasang earphone berdua. Tapi tidak, mereka hanya sahabat yang senang berbagi. Sebab berbagi adalah sebuah kemakluman bagi keduanya.
"Ini lagu lama, kenapa kau masih dengarkan?"
"Karena aku suka."
"Seleramu kolot ya."
"Memang."
I hate it, i hate it, when you're not around, when you're gone
I hate it, i hate it, when you said the truth
Taehyung tahu lagu itu. Sudah lama sekali dia tak mendengarnya. Meski begitu, kata-kata dalam lirik lagunya masih membekas, pernah dia hapal di suatu ketika, hingga saat telinganya diperdengarkan lagu yang sama, bibirnya tanpa sadar menggumamkan nada dan liriknya.
"I woke up and i found that i was sleeping on the couch, if i was dreaming or not..."
Lagu itu berakhir juga ketika Taehyung mengatupkan bibirnya. Tak ada lagi yang terdengar dari earphone itu. Mungkin lagu tadi adalah yang terakhir dari daftar putar yang Jimin buat di ponselnya.
Taehyung memandang langit yang semakin jingga, semakin merah, dan bertambah dengan warna keunguan di bagian yang paling tinggi. Mungkin matahari benar-benar akan beristirahat sebentar lagi, maka warna keunguan itu adalah awal dari datangnya biru dan hitam malam.
"Bukankah sudah seharusnya kita pulang, Jim?" pertanyaannya tak langsung mendapat jawaban, hanya ada gemerisik daun mapple yang terusik ketika Taehyung menggerakkan kepalanya untuk menoleh pada Jimin.
"Jimin-ah?"
Lelaki itu diam tak bersuara. Matanya terpejam rapat. Dadanya naik turun pelan dan dia bernapas teratur. Dia meninggalkan Taehyung ke alam mimpi begitu saja. Tidur dibuai sepoi angin musim gugur.
"Jim...?"
Taehyung hanya memandang seraut wajah damai itu dalam keheningan. Apa yang tiba-tiba dia rasakan mengganjal di ulu hatinya? Mengapa memandang Jimin yang tertidur bukannya membuatnya merasa damai juga, tapi malah... gelisah?
.
.
.
The Last Train: Horizon
.
.
.
Now
"Pertanyaannya, kau ingin dia kembali atau tidak?"
Taehyung tak bisa menjawab. Segala keanehan ini sudah cukup membuatnya merasa logikanya dipermainkan.
"Mom." bocah itu menggapai lengan ibunya. Dia mendapat satu sentuhan yang menangkup tangan kecilnya—gestur yang menyuruhnya untuk diam dan bersabar.
Taehyung menelan ludah dengan sulit. Seolah kerongkongannya kering kerontang. Sebelum menjawab apa yang jadi pertanyaan lelaki berkulit putih itu, dia ingin tahu sesuatu, yang setidaknya bisa meyakinkannya untuk percaya walau hanya sedikit.
"... sebetulnya kau ini siapa? Kalian... siapa?"
Awalnya dia menganggap biasa bocah yang lututnya terluka itu hanyalah seorang pasien biasa—yang mungkin dirawat karena terjatuh atau tertabrak mobil. Awalnya. Tapi sejak anak itu menunjukkan gelagat aneh, juga perkataannya tentang Jimin, dia makin tak yakin kalau anak itu hanya sekedar pasien biasa. Apalagi dengan kedatangan seorang lelaki yang disebutnya ibu itu, mereka punya nada yang sama tentang topik yang menyangkut Jimin. Mereka... siapa?
"Hanya seorang pelayan Tuhan."
Jawaban itu tak cukup membuat Taehyung mengerti. Ia mencari faktor lain yang benar-benar dapat meyakinkannya. Ia cari lewat sepasang manik sehitam arang dengan bulu mata yang panjang dan lurus itu.
"Lalu... anakmu... dia... terus bicara padaku kalau Jimin masih ada di sana..."
"Namanya Jimin?"
Lelaki itu menjawab pengakuan Taehyung dengan tanya. Lantas kedua tangan putihnya menangkup tangan Jimin. Dia memejamkan matanya sejenak, lalu memandang lima jari itu dengan tatapan yang tak Taehyung mengerti. Seolah kosong, tapi tidak juga. Mungkin dalam, itu yang lebih tepat disematkan pada matanya.
"Dia berada di garis batas..." ucapnya. "Tapi aku tidak tahu persis dia di mana."
"Mom, temukan dia..."
Lelaki itu bukannya menanggapi ucapan anaknya, malah memandang Taehyung dengan wajah serius yang dia pasang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
Kau ingin dia kembali atau tidak?
Pertanyaan itu terngiang di telinga Taehyung, persis ketika lelaki itu merepetisi. Jawabannya hanya ya atau tidak. Tapi dua kata itu menjadi pilihan yang teramat sulit, bahkan otaknya tak mampu lagi dia ajak kerjasama. Seperti mendadak dungu, atau kacau karena logika dan kenyataan yang ada di depan matanya tidak sejalan.
Dia mendunduk dalam, mengeritkan gigi. Marah pada dirinya sendiri.
"Aku..."
Sekelebat bayangan Jimin yang tidur nyenyak di bawah pohon mapple terlintas di kepalanya.
"Aku ingin dia kembali..."
Akhirnya dia menjawab. Hatinya yang menjawab. Dia buat satu keputusan. Dia buat satu pilihan.
Lalu dia mengangkat kepalanya, mencari pegangan keyakinan pada sepasang mata kelam yang menatapnya dengan sayu. Ada seulas senyum tipis yang pelit dia beri.
"Aku ingin dia kembali..."
Lelaki itu mengangguk satu kali. Dia pun bangkit berdiri. Sebelah tangannya masih mengamit tangan Jimin, namun tangannya yang lain benar-benar menyibak kain itu sampai ujung kaki, sampai tubuh Jimin terlihat sepenuhnya.
Betapa wajah itu, pakaiannya yang masih melekat utuh, membuat Taehyung seketika mencelos. Dia ingin sekali menyentuh Jimin tapi ada sesuatu yang menahannya. Apa itu, dia tak mengerti. Mungkin... takut?
"Kalau begitu kita harus pergi, aku tidak bisa membawanya kembali jika keadaannya seperti ini."
"Kita akan pulang ke gereja, Mom?"
"Iya." jawabnya singkat.
Membawa Jimin pergi?
"Lalu... bagaimana dengan orangtuanya? Mereka akan datang menjemputnya."
"Mereka datang menjemput untuk menguburkan jasadnya, bukan? Kalau kau tak mau itu terjadi, segera bawa dia pergi."
Diam-diam?
"Apa yang—!"
Taehyung hampir menjerit ketika lelaki itu menaruh tangan putihnya di belakang tengkuk Jimin dan membuat kepalanya sedikit terangkat. Lalu diselipkanlah sebuah mantel hitam tebal lewat sedikit celah antara punggung Jimin dan permukaan ranjang. Dia memakaikan mantel miliknya itu dengan pelan, lembut dan telaten pada Jimin—seolah Jimin hanyalah orang tidur yang dipakaikannya baju.
Bagaimana bisa...?
Dia begitu tenang seolah dia memang terbiasa melakukan ini pada jasad manusia yang telah mati.
"Kau bisa gendong dia keluar."
Menggendong Jimin? Taehyung seketika membayangkan jasad itu berada di punggungnya.
"Tidak apa. Aku percaya orang tidak akan curiga karena jasadnya masih terlihat sangat baik. Hanya sedikit pucat seperti orang sakit."
Bagaimana dia bisa seyakin dan setenang itu?
.
Berada dalam mobil, pada pagi buta di mana gelap ujung malam masih merajai, seharusnya menjadi hal yang biasa. Tapi tidak ketika Taehyung duduk di kursi belakang bersama jasad Jimin—orang yang telah meninggal dan sebelumnya tertutup kain putih di rumah sakit itu bersandar di pundaknya. Terkulai. Bila lelaki itu masih menghembuskan napas, sandarannya adalah hal yang biasa. Tapi ketika tak ada deru napas hangat yang terasa, ketakutan Taehyung menjadikan duduknya begitu gelisah. Cemas. Bahkan dia tak bisa melupakan bagaimana dirinya menggendong Jimin di punggungnya sebelum ini.
Meski ia memutuskan untuk percaya pada lelaki cantik yang tengah memegang kemudi di depannya itu, tapi tetap saja ada sisian lain dirinya yang sangsi. Membawa mayat dalam mobil? Apa yang dia pikirkan? Apa yang lelaki itu pikirkan? Ya, apa yang mereka pikirkan?
Taehyung meremat buku-buku jarinya yang tak pernah menghangat semenjak mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit. Dia selalu melempar pandangannya ke depan, atau ke samping kiri, bukan ke kanan sama sekali. Karena ia tak berani untuk menengok ke arah itu dan menemukan Jimin lewat matanya. Tidak... ini seperti sebuah candaan.
Duduk bersebelahan dengan mayat, pergi ke tempat yang tak ia tahu pasti , bersama orang yang baru dikenalnya kurang dari 3 jam lalu, Taehyung merasa sinting.
Saat dia menjatuhkan pandangannya pada kepala bocah yang duduk di samping kemudi, tak dinyana dia mendapat balasan. Anak itu menoleh padanya, menatapnya dengan tanda tanya yang inosen. Segera saja Taehyung membuang pandangnya ke luar kaca jendela.
"Jungkook, tidurlah." kata lelaki yang sedang mengemudi itu pada si bocah yang tak juga memejamkan mata. Dia yang memecahkan keheningan pertama kali. Sebelumnya bahkan tak ada yang angkat bicara. "Kau pasti lelah..."
Tangan yang bergerak mengusap rambut cokelat bocah itu menampakkan gestur lembut seorang ibu. Taehyung hanya memerhatikan bagaimana gerak halusnya membuat sang anak menggeliat mencari sandaran yang nyaman di kursinya. Lalu tak terdengar apa-apa lagi. Hanya deru mesin mobil. Mungkin anak itu tertidur dalam belaian.
"Siapa namamu?"
Tanpa perlu Taehyung tanyakan, ucapan itu jelas tertuju padanya.
"Kim Taehyung."
"Berkenalan menjadi sesuatu yang terlupakan. Namaaku Min Yoongi." kata lelaki itu, tanpa memutus matanya dari jalanan.
"Kau akan membawa kami ke mana?"
"Ke gereja tempat tinggalku dan Jungkook."
Hening yang mengisi kekosongan setelah satu kalimat terakhir yang diucapkan lelaki itu. Langit mulai menampakkan tanda-tanda bahwa fajar akan segera menyingsing. Di garis yang nun jauh di sana, ada cahaya yang membuat langit berubah lebih terang sedikit.
"Temanmu itu..."
Telinga Taehyung menangkap dengan jelas apa yang lelaki itu katakan.
"... membuatku teringat pada mendiang suamiku. Wajah mereka mirip. Dia meninggal dengan cara tak wajar, dan sekarang temanmu juga sama begitu... Kebetulan yang aneh, bukan?"
Ada satu fakta yang baru Taehyung ketahui dari lelaki itu. Apa ini? Takdir sedang apa?
"Aku tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan, yang jelas, kurasa Dia membuat kita semua bertemu supaya saya tidak mengulangi kesalahanku dahulu... ketika aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan suamiku."
Entah kenapa ketika lelaki bernama Yoongi itu bercerita, Taehyung merasakan ada gelenyar yang menjalar di dadanya, berat menggelayut, sakit. Dan itu membuatnya berani untuk menoleh pada Jimin yang masih tersandar di bahunya, terpejam.
"Mungkin bisa kutebus dosaku dengan menyelamatkannya, membawa temanmu kembali."
.
.
.
CONTINUED TO CHAPTER 4
Note: lagu yang dinyanyikan Taehyung itu lagunya Ellegarden-I Hate It
Hola. Maafkan saya karena fanfic ini updatenya lama pake banget. Akhir-akhir ini saya jarang dapet wangsit, mungkin karena nggak dicari juga sih ahehe.
Siapa mom yang dipanggil Jungkook itu udah jelas ya di sini.
Betewe kalo dimintain biar Vmin jadi couple in romantic way, rasa-rasanya saya nggak bisa nyanggupin. Maaf banget. Karena Vmin di sini hanya friendship. Saya sangat menghargai hubungan pertemanan, jadi saya nggak bisa belokin jadi hubungan romantis (khusus untuk mereka). Jadi, maafkeun.
Oh ya, saya memutuskan untuk ganti genre. Karena horror tidak akan sesuai dengan jalan cerita.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Salam, penghuni kamar penjaga kasur.
