Disclaimer: Kuroshitsuji © Toboso Yana. Judul fic yang telah diganti diambil dari lagu milik Taylor Swift dengan titel sama.

Warning: AU OOC OCs Fem!Ciel Don't Like Don't Read Abalan Agak lebay

Title: Love Story

Pair: Sebastian M. x Fem!Ciel P.

Genre: Romance/Tragedy/Drama

Rate: T

Summary: Kedua cincin itu bertaut di masing-masing jari manis mereka. Tragedi yang sebenarnya dimulai, dari sekarang.

*u*

Love Story, Chapter 4

Washington DC, 2008. Few Weeks Later.

Jennifer Michaelis melihat dari luar ruangan. Matanya mengikuti Ciel—yang kini adalah atasannya—yang sedang menandatangani dokumen-dokumen kasus yang telah diselesaikan Vincent atau olehnya sendiri. Wajah putihnya itu terlihat pucat. Terkadang ia juga menutup penanya dan menyenderkan punggungnya di kursi.

Wanita itu akhirnya masuk ke dalam ruangan Ciel. Perempuan yang lebih muda darinya itu menengok. Gurat wajahnya menandakan kalau ia terkaget.

"Hai, Ciel," sapa Jennifer.

"Hai," jawab Ciel. Ia memaksakan sebuah senyum.

"Ini sudah malam. Sebastian pasti tengah mengkhawatirkanmu," kata Jennifer sambil menarik kursi di depan Ciel.

"Tapi aku masih memiliki banyak pekerjaan, Michaelis," kata Ciel sambil melirik ke tumpukan dokumen yang belum ia tanda tangani.

"Bisa kau lanjutkan nanti. Yang penting sekarang adalah kau harus istirahat. Penggerebekan tadi pasti amat melelahkan. Aku bisa mengantarmu," tawar Jennifer.

"Tidak, aku bisa menyetir sendiri," tolak Ciel.

"Menyetir sambil mengantuk? Itu pelanggaran hukum, Sayang," Jennifer memberitahu.

"Baiklah. Tapi tidak usah jika kau keberatan," kata Ciel. Jennifer menggeleng sambil tersenyum. Ia berdiri dari kursinya dan menunggu Ciel yang sedang mengusap-usap wajahnya. Perempuan berambut kelabu panjang itu berdiri dan menghampiri Jennifer. Ibu Sebastian Michaelis itu merangkul tubuh Ciel erat sambil terkikik kecil melihat wajah pucat mengantuk anak perempuan itu.

Tepat saat suara pip yang berbunyi dua kali, ponsel Jennifer berbunyi. Wanita itu memasuki mobil sebelum mengangkatnya.

"FBI Special Agent Jennifer Michaelis," sahut Jennifer.

"Ibu?" panggil sebuah suara dari ujung sana. Sebastian.

"Ada apa?" tanya Jennifer. Ia yakin pembicaraan ini pasti mengenai Ciel.

"Ciel masih di sana?" Benar, kan, perkiraannya?

"Ibu baru saja akan mengantarnya pulang," jawab Jennifer.

"Baguslah. Ia tidak kenapa-napa, kan, Ibu?" tanya Sebastian. Dari nadanya, terlihat lelaki itu cemas.

"Tidak. Ia baik-baik saja. Tunggu ia pulang," jawab Jennifer.

"Baiklah. Malam, Ibu," putus Sebastian. Jennifer tersenyum sebentar sebelum kembali mengembalikan ponselnya ke sakunya.

"Sebastian?" tanya Ciel. Jennifer mengangguk dan mulai memutar kunci mobilnya. SUV hitam miliknya itu mulai membelah jalanan Washington DC.

*u*

Tek.

Suara sebuah jari yang menyalakan lampu kamar Sebastian. Pria itu menoleh dan melihat tubuh ramping kekasihnya yang berdiri memunggunginya.

"Jangan menonton teve," kata Ciel sambil meraih remote controller teve flat di kamarnya dan mematikannya. Acara teve yang ditonton kekasihnya itu adalah berita tentang penggerebekan FBI yang tadi ia lakoni.

"Kukira agen yang terluka tadi itu kau," kata Sebastian. "Aku melihat helaian rambut kelabu panjangmu yang berterbangan saat kulihat tubuh agen yang ambruk itu," lanjut lelaki bermata merah itu sembari menelan ludahnya.

"Bukan …," desis Ciel. Nadanya tiba-tiba melemah. "Itu … itu … Lawrence Tyler …," lirih Ciel.

"Memangnya kenapa dengan Tyler?" tanya Sebastian. Ia turun dari ranjangnya dan memegang kedua pipi Ciel, menatapnya penasaran.

"Dia … agen yang dipercaya ayahku …," desis Ciel. "Dia … dia … yang amat membantuku … menjadi agen pengganti ayahku … dia—" Tak diminta. Ciel menangis.

"Ssshh. Diamlah, Ciel. Diamlah. Ayahmu pasti mengerti," bisik Sebastian. Ia tahu mengapa Ciel menangis—ia juga pernah, saat George, dokter bawahan ayahnya, meninggal karena menolongnya. Ia menangis begitu keras.

"Ia pasti punya alasan bagus untuk meninggal demi menyelamatkanmu, Sayang. Dia tahu, ayahmu akan sedih dan hanya memikirkanmu jika kau meninggal. Ia pasti memiliki alasan bagus," jelas Sebastian sambil mengelus-elus rambut kelabu Ciel. "Aku tahu perasaanmu. Aku juga pernah merasakannya."

Ciel melepaskan pelukan Sebastian dan menyeka air matanya. Ia mendongak dan tersenyum samar.

"Kau, tidurlah. Aku akan mengganti pakaianku sebentar," kata Ciel sambil membuka lemari yang ada di sebelah kirinya. Sebastian terkekeh kecil sebelum kembali ke kasurnya.

"Eh, kau terluka?" tanya Sebastian saat ia memutar tubuhnya dan melihat ke pinggang ramping Ciel yang diperban ala kadarnya.

"Tidak, hanya luka ringan—aw …," rintih Ciel saat tangan Sebastian melepas perlahan perban yang melingkar di pinggangnya itu.

"Ini bukan luka ringan, Ciel Phantomhive." Sebastian memperingatkan kekasihnya itu. Ia lalu mencari kotak putih yang biasa ia taruh di lemari dan mengambilnya. P3K. Ia membersihkan luka itu dengan alkohol dan menutupnya lagi dengan rapi.

"Terima kasih, ya," ucap Ciel.

"Mm, Ciel?" panggil Sebastian.

"Ya?" sahut Ciel. Sebastian terlihat ragu-ragu, namun ia tetap mencari sesuatu di saku celananya. Ia memejamkan matanya sejenak dan mengangkat barang itu. Kotak kecil hitam.

Sebastian membukanya dan terlihat sepasang cincin berlian. "Aku tahu ini bukan saat yang cocok, namun, maukah kau menikahiku? Please?" lamarnya.

"Waktunya memang tidak pas," kata Ciel sambil terkikik kecil. "Namun kuterima." Bibirnya melengkung, membuat senyuman.

Kedua cincin itu bertaut di masing-masing jari manis mereka. Tragedi yang sebenarnya dimulai, dari sekarang.

*u*

In a Villa at Annapolis, Maryland, US

Sebuah acara keberhasilan FBI yang menangkap Jessica Ng untuk kedua kalinya dengan arsip-arsip pemberontakan terhadap SSA(Supervisory Special Agent) dan Unit Chief Vincent Phantomhive dan perlawanan pada rakyat sipil—yang diarahkan pada Ciel Phantomhive dan Sebastian Michaelis.

Ciel yang kini resmi bekerja untuk FBI dan keluar dari kantor advertising FLAND datang dengan tunangannya. Perempuan itu berbincang dengan banyak orang dengan gelas wine yang tetap berada di tangannya.

Di tengah gemerlap lampu dari vila yang lumayan besar itu, langit malam tidak memunculkan sedikitpun bintang ataupun bulan. Dan itu juga membuat gemerisik dari semak-semak di seberang vila.

Ciel secara diam-diam menyelinap keluar dari vila. Ia menghembuskan nafas lega dan tersenyum sambil melihat sekeliling. "Akhirnya aku keluar dari ruangan pengap itu!"

Tapi kesenangannya tidak berlanjut lama. Ia mendengar gemerisik dari semak-semak tak jauh dari ia berdiri. Handbag-nya langsung ia buka dan mengeluarkan pistol yang biasa ia pakai, mengarahkannya berputar.

Ia langsung memutarkan tubuhnya setelah mendengar frekuensi langkah kaki. Ia sebisa mungkin tidak menarik pelatuk pistolnya, namun kunci dari pistol otomatis itu telah ia buka.

"Wow, wow. Easy, lady. Easy." Sebuah suara mendekatinya.

"Siapa kau?" seru Ciel.

"Bukan siapa-siapa. Omong-omong, jika didekatkan, kau cantik, ya," goda suara itu. Suara laki-laki muda seumurannya.

"Diam atau kutarik pelatuknya!" seru Ciel lagi.

Tiba-tiba mulai banyak langkah mendekatinya. Lelaki-lelaki haus nafsu.

Ciel langsung menarik pelatuk pistolnya ke langit. Membuat gerakan mereka semua terhenti dan sebuah tangan yang menariknya kembali ke dalam vila.

"Sssssh. Ini aku, Ciel. Ini aku," kata orang yang menariknya itu. Ciel membalikkan tubuhnya setelah mulutnya yang tadi dibekap dilepaskan dan melihat wajah poker Sebastian yang menatapnya sambil tersenyum. Ia memeluk tunangannya itu.

"Jika kau akan keluar lagi, lebih baik kau ajak aku bersamamu," kata Sebastian. Ciel hanya mengangguk patuh.

_._._._._._._._._._

"Brengsek! Mengapa kalian semua tidak bisa mendapatkannya?" seru Claude Faustus yang mengemplang kepala seluruh orang suruhannya itu.

"Ma-maaf, Tuan! Ia begitu cepat menarik pelatuk dan ada yang menariknya ke dalam vila!" jawab salah satu dari lima orang suruhan Claude yang bernama Rembrandt.

"Diam kalian! Aku tak perlu alasan!" gertak Claude.

"Bulan ini bayaran kalian tidak kubayar!" seru Claude sambil meninggalkan sekelompok suruhan bodohnya itu. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan langkah besar-besar, kembali ke minivan-nya.

Ia lirik lighter yang terdapat di dasbor mobil. Ia meraih itu dan melemparnya rendah ke udara dan mendecakkan lidahnya.

"Kembalilah padaku, Phantomhive."

*u*

Washington DC

FBI Office

Vincent kembali bekerja. Namun, ia tetap menyerahkan pangkatnya pada anak semata wayangnya itu. Laki-laki tampan dengan umur yang terbilang muda untuk memiliki anak berumur 25 tahun—52 tahun, tepatnya—itu memiliki alasan rasis: Kalau aku mati, nanti kalian tidak akan bingung siapa yang akan menggantikanku.

Tumpukan dokumen yang menunggu ditandatangani Ciel makin banyak, dan karena separuhnya dikerjakan oleh ayahnya, ia memaksa Vincent untuk ikut membantunya. Walau Vincent bukan unit chief lagi.

Agen Dev tiba-tiba datang ke ruangan yang pintunya tidak tertutup tersebut. Ia membawa satu map dokumen.

"Dokumen yang harus ditandatangani lagi?" tanya Ciel.

"Bukan, bukan," Dev hanya terkikik kecil mendengar pertanyaan polos Ciel tadi, "ada kasus baru."

"Itu sama saja dengan dokumen yang harus ditandatangani, bodoh." Ciel memaki pelan bawahannya itu, namun seketika pula ia mengambil map yang diserahkan Dev.

"Presentasikan sekarang. Panggil tim." Ciel kembali menyerahkan map cokelat ke tangan Dev lagi. Dev langsung keluar dari ruangannya.

"Emm, Nak," panggil Vincent.

"Ya?" sahut Ciel.

"Hubunganmu dengan Sebastian tidak renggang, kan?" tanya Vincent.

"Ini disebut renggang?" tanya Ciel sambil menunjukkan cincin pertunangannya. Vincent terbelalak lebar.

"Ka-kau bertunangan dengannya?" seru Vincent tertahan. Ciel mengangguk. "Sejak beberapa hari lalu."

"Kenapa kau tidak bilang?" tanya Vincent.

"Hmm, aku menunggu waktu yang tepat. Lagipula Ibu sudah kuberitahu, kok, Yah." Ciel menutup dokumen yang tadi ia tandatangani.

"Ayo. Tim pasti sudah menunggu," Gadis itu bangkit dari duduknya dan membuka pintu ruangan kerjanya, membiarkan ayahnya keluar terlebih dahulu.

_._._._._._._._._._

"Pemboman di daerah ramai, atau dekat pos polisi di Georgetown, Chinatown, dan beberapa daerah ramai lainnya, atau dekat 1258 Hudson," jelas Dev.

"Jelas sepertinya dia mengejek aparat hukum dan seakan berkata 'Kau tak akan bisa menangkapku'." Vincent buka mulut.

"Sepertinya bukan begitu," tolak Ciel. Vincent menatap anaknya itu. "Dia menarik perhatian dengan cara mengebom daerah dekat pos polisi, dan di tempat lain saat polisi-polisi berdatangan, ia mengebom lagi. Jadi ia mencari perhatian untuk mendapat perhatian lainnya. Menurutku, pelaku ini narsisme," jelas Ciel.

"Lalu," Ciel berdeham, "Dari daerah yang ia pilih, aku yakin dia adalah lelaki pengusaha yang berhasil, memiliki selera bagus dalam berpergian, mungkin seorang yang ingin membalas dendam pada salah satu aparat hukum; entah CIA, FBI, polisi lokal, koroner, atau konsultan-konsultan yang berhubungan dengan aparat hukum."

"Okay. Korban-korban sudah dibawa koroner dan kebanyakan berumur 25 sampai 40 tahun." Dev berdeham, mengikuti Ciel, "jelas ia mencari korban yang mungkin sekitar umurnya."

"TKP terakhir ada di …?" tanya Tiara, agen yang tiba-tiba berdiri di ujung dinding ruang presentasi.

"Ah, kau, Tiara. TKP terakhir ada di dekat … kantor advertising FLAND," jawab Dev.

"Claude!" seru Ciel tiba-tiba. Setelah tahu ia membuat kaget seluruh timnya, ia cengengesan dan mengambil ponselnya, menekan beberapa tombol dan tombol hijau. Ia bangkit dari duduknya dan pergi dari ruangan presentasi ke ruangnya sendiri.

"Faustus," sahut Claude di ujung sana.

"FLAND ditutup?" tanya Ciel riang.

"Tahulah kau, ada bom yang meledak di sana. Dan tahu begitu kau malah riang? Urgh, kau harus tahu rasanya tidak bekerja. Stuck di apartemen ini tidak enak, tahu!" protes Claude.

"Aku tak akan membicarakan ke arah sana. Korban?" tanya Ciel.

"Tak ada korban jiwa. Tapi luka parah, banyak. Termasuk Terrance," jawab Claude.

"Jumlahnya ada berapa?" Ciel meraih memo dan pena, menempelkan ponselnya di antara telinga dan bahunya.

"34 luka parah dan 12 luka ringan. Oh ya, kalau tak salah, kata 'saksi' yang diinterogasi polisi bomnya ada di dekat lukisan yang ada di dekat tangga dan elevator," jelas Claude.

"Okay. Terima kasih, ya, Claude." Ciel menutup flip ponselnya dan kembali ke ruang presentasi dengan memo yang dibawa.

"Claude memberikan beberapa info tentang pengeboman di FLAND Ad." Ciel mengipas-ngipas memo yang ia pegang.

"Bagaimana kau tahu Claude berhubungan dengan FLAND?" tanya Tiara.

"Come on, Tiara. Dulunya aku bekerja di sana, tahu." Ciel menurunkan nada bicaranya. Namun setelah tiga orang dari mereka mengambil kunci SUV …

BANGG!

Bom, diledakkan di lobi kantor FBI.

*u*

"Yap! Bom FBI diledakkan. Jadi … tinggal di seberang rumah Ciel, gathering Sebastian, dan tempat penculikan, ya?" desis pemuda berkacamata itu sambil tertawa keras. Bahagia dengan hasil kerjanya.

"Bagaimana kukerjai, hum, P-h-a-n-t-o-m-h-i-v-e?"

*u*

To Be Continued to Love Story Chapter 5

*u*

Few Notes about this Chapter:

Pertama, kenapa saya selalu menggambarkan ponsel characters adalah flip? Karena, satu, ponsel saya flip jadi saya bisa lebih cepat ngertiin. Dua, karena di Criminal Minds juga ponselnya Hotch, Haley Hotchner, Prentiss, dll itu semuanya flip. Jadi saya kira mending pakai aja flip, takutnya kalau yang biasa saya salah.

Kedua, kenapa saya bilang umur 52 itu muda karena waktu saya itung, waktu Ciel lahir umur si Vincent 30-an kayaknya #KAYAKNYABEGO!

Ketiga, kenapa ini nanggung banget ficnya? Soalnya tadinya mau dibuat panjang tapi ya…ditambah details AN ini itu udah sampe 2100-an words gitu. –" /gasadar dia chapter-chapter awal Tiga Kata Saja ampe berapa halaman

*u*

Author Notes:

Hore. Akhirnya bisa menyelesaikan fic ini, uwooo! Padahal CM belum mulai loh /trus?

Oh iya. Mungkin AN sekarang pendek banget karena gak niat nulis tapi yang pasti …

Ya know who's the suspect/unsub huh? XD

Ini udah malem, mau sibuk nonton en pelajarin UUD 45 dulu! Jadi gak diedit atau dicheck, jadi maaf kalau cacat -.-

Oke, tanpa panjang lebar.

Review, please?

*u*

CHAPTER 3 REVIEWS ANSWER:

Meadoresgayguys: Ah biar. Bacanya sisen ini kok /mekso /plak!

Ohoho iya doooooong! XDD /kenapadia?/ Ya udahlah no reason for it (?)

Uhuhu, udah kok! Nanti baca aja di chapter-chapter setelah ini =D

Sara Hikari: Yak. Iyalah, masa Ciel yang jatuh luka gitu gara2 ngelindungin Sebas? Lucu amat.

No, not a secret agent but special agent yang berarti agen khusus, Sayaaang =)

Udah, nih! /IYA UDAH INI SEBULAN LEBIH LU APDET BEGOK