Léift

.

.

BTS fanfiction

.

.

Namjin, with another BTS Members

Part 4: Just Once

(I love you, you love me, kan?)


Mau setampan apapun, mau harumnya tiada tara, setiap orang sudah pasti ada kebiasaan buruknya. Yang orang-orang tahu Namjoon itu memiliki rupa seperti dewa, kharismatik, dengan tubuh sempurna yang membuat siapapun bisa hilang akal. Tapi mereka tidak tahu bahwa seorang Kim Namjoon kalau tidur pasti mengorok, perokok (walaupun sudah jarang sejak mendapat ultimatum dariku), dan yang paling membuat kesal adalah kebiasaan buruknya yang kalau mengambil pakaian di lemari selalu membuat lemari seperti terkena angin topan. Urghh.

Aku berangkat ke Jepang itu kemarin sore dan siang ini sudah pulang. Langsung shock begitu aku membuka lemari untuk mengambil pakaian, lemari sudah acak-acakan. Siapa lagi pelaku utamanya kalau bukan Tuan Kim Namjoon suamiku. Padahal aku sudah menyiapkan pakainnya di sofa. Antisipasi agar dia tidak membongkar-bongkar lemari lagi. Saat aku sampai di bandara tadi, yang bersangkutan menelpon katanya ada pertemuan penting, jadi dia harus memakai jas. Aku sudah paham, pasti lemari akan hancur. See, terbukti.

Lelah dari Jepang, pulang-pulang aku haus merapikan lemari lagi. Jadi istri Kim Namjoon tidak semenyenangkan yang diangan-angankan memang.

Selesai.

Aku mandi dan siap-siap ke butik. Ada pekerjaan gaun yang harus di-fitting hari ini. Yoongi dari tadi sudah ribut mengirimkanku pesan. Harus buru-buru ini.

###

Tinggal gunting ini, jahit ini, tambahkan ini, siap. Aku tersenyum puas melihat gaun yang dipakai Jiyeon—sepupu Yoongi—untuk pernikahannya minggu depan. Begitu pas di tubuhnya yang sempurna. Yoongi datang membawa gunting dan jarum. Ku gunting tile-tile yang kepanjangan, dan kuberi jarum pentul bagian pinggangnya. Jiyeon mengangguk-angguk setuju saat kutanya dia menyukainya atau tidak. Fitting gaun pengantin memang sedikit repot. Repot di designer-nya dan repot di calon pengantinnya. Walau pakaiannya sudah jadi, ada saja yang harus di bedah lagi.

"Kenapa calon suamimu tidak di ajak sekalian, Jiyeon-ah?" Tanya Yoongi sambil mengkat tali heels di betis Jiyeon.

"Katanya sedang ada urusan. Dia akan ikut lusa untuk fitting."

Yoongi memberikan minuman untuk Jiyeon. "Iya, bagusnya dia juga ikut, biar sekalian. Biar nanti bisa difoto untuk koleksi di butik."

Aku mengangguk sambil tersenyum. "Sudah. Bagaimana? Bagus tidak? Kau suka?"

Jiyeon mengangguk antusias. "Setelah memakai sepatu jadi kelihatan semakin cantik."

Hampir serentak kami tertawa. Yoongi menjelaskan tentang administrasinya pada Jiyeon, saat aku mendengar telepon dari ruanganku berbunyi. Aku langsung buru-buru lari ke dalam ruanganku.

"Ya, Halo, selamat sore." Aku mengatur nafas. "Namjoon? Kenapa menelpon ke sini?"

"Handphone-mu tidak aktif." Balas Namjoon dengan nada agak kesal. Astaga, roman-romannya akan ribut lagi ini. "Kau sedang apa memangnya? Sampai tidak memberiku kabar. Kebiasaan."

Aku duduk di sofa. Lelah. "Kan tadi sudah kukatakan aku sudah di bandara, Namjoon-ah."

"Kau tidak mengatakan kalau akan ke butik."

Aku menghela nafas berat. Benar-benar ribut kan. "Iya, sayang, iya. Maaf. Tadi aku terburu-buru."

"Yasudah, kau sudah selesai di butik? Masih sibuk?" Tanya si tukang merajuk itu dengan nada yang benar-benar tidak enak. Bukannya bertanya istrinya sudah makan atau belum, ini malah mengomel.

"Sedang ada yang fitting."

"Masih lama?"

"Lumayan."

"Beri jawaban yang pasti, Jinseok." Namjoon menggerutu.

Rasanya ingin kubanting gagang telepon ini. "Memangnya kenapa, Namjoon?" Tanyaku sesabar mungkin. Duh, anak ini seperti kalah taruhan saja.

"Lima belas menit lagi ku jemput, bisa?"

Lima belas menit? Aku melihat jam. Ada apa memangnya?

"Hari ini launching mixtape terbaruku."

Aku terkejut. "Bukannya besok?"

"Dipercepat. Kau bisa tidak?"

Dia sedang berbicara dengan istrinya atau dengan pembantunya, huh? Aku menggaruk-garuk kening bingung. Mana bisa aku siap-siap dalam lima belas menit. Ini acara launching mixtape suamiku. Aku tentu harus tampil sempurna. Sedangkan sekarang penampilanku seperti orang yang akan pergi ke pasar. Hanya menggunakan celana jins belel dan kaus.

"Setengah jam ya, Namjoonie?"

Namjoon berdecak. "Yasudah, iya. Tapi supir studio yang jemput, ya?"

"Aku datang sendiri saja. Acaranya di tempat yang kau katakan tadi kan?"

"Iya. Sudah ya."

Sambungan diputus. Benar-benar seperti sedang berbicara dengan pembantunya. Aku kembali ke tempat Jiyeon dan Yoongi. Ku tarik Yoongi dan mengatakan bahwa aku harus pergi. Yoongi mengangguk mengerti.

"Lalu kau mau memakai pakaian apa? Tidak akan sempat kalau kau harus pulang ke apartment lagi." Yoongi menatapku sambil berpikir. "Pakai pakaian yang kita modifikasi kemarin saja, bagaimana?"

"Yoon, itu tipis sekali. Aku bisa dilindas Namjoon nanti."

Yoongi tersenyum aneh. "Kau lihat dulu pakaiannya, Jin. Nanti wajahmu biar aku yang urus. Kau kalau sedang panik begini mana bisa berdandan dengan benar."

Aku tertawa. Yoongi memang terbaik. Aku basa-basi sedikit dengan Jiyeon lalu langsung bergegas kembali ke ruanganku. Mengambil pakaian yang kemarin lusa kami bongkar habis. Dan aku terkejut. Pakaiannya sudah siap pakai. Sudah dipakaikan lapisan oleh Yoongi, sehingga tidak terlalu tipis. Jadi cantik sekali. Warnanya juga warnaku sekali. Aku ke kamar mandi, bersih-bersih sedikit.

Setelah aku keluar dari kamar mandi, Yoongi masuk membawa tas make up. Cekatan Yoongi mendandaniku. Rambutku ditatanya sedemikian rupa. Aku berkaca dari atas ke bawah. Perfect. Aku melihat jam, tidak sampai setengah jam ternyata. Semoga Namjoon menyukai dandananku.

###

Begitu aku sampai, tempatnya sudah sangat ramai. Penjaga yang melihatku langsung paham kalau aku istri Kim Namjoon dan dia langsung membawaku ke pintu masik belakang. Dia mengantarku ke ruang tunggunya Namjoon. Aku mengatur nafas dulu sebelum masuk. Lalu pintu kubuka. Namjoon yang sedang berada di sudut ruangan—dia sedang memasang dasi—belum merasakan kehadiranku. Padahal staf-stafnya yang lain sudah heboh menyambut kedatanganku.

"Namjoonie…" Kusentuh bahu Namjoon. "Sini kupasangkan."

Namjoon terkejut, dia menoleh. "Jinseok?" Namjoon menghela nafas lega. "Aku sudah frustasi mencoba memakai dasi ini."

Aku mengambil alih memasangkan dasi Namjoon. "Jangan gugup begitu, Namjoonie. Nanti penampilanmu malah tidak maksimal."

Namjoon menatapku dari atas sampai bawah. Dia tersenyum hangat dan meneduhkan. "Kau cantik sekali malam ini, sayang."

"Kau suka?"

Namjoon mengangguk dan mencium keningku. "Aku selalu menyukaimu seperti apapun dirimu."

"Dasar mulut manismu. Nah, sudah."

"Terima kasih, sayang." Namjoon menarikku pelan supaya berdiri di sampingnya. "Hanseol, kau antar istriku ke kursinya, ya. Yang paling depan." Namjoon merapikan poniku. "Doakan aku ya, Jinseok. Biar Hanseol yang mengantarmu."

Ku cium pipi suami tampanku ini. "Pasti, Namjoonie. Kau pasti bisa. Baiklah, aku keluar dulu, ya."

Aku keluar ruangan tunggu diantar oleh Hanseol. Dia menunjukkan kursiku. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih padanya. Lalu aku duduk. Sudah sangat ramai ternyata. Tribun sudah dipenuhi penggemar Namjoon. Astaga, sudah berumur begitu Namjoon masih banyak saja penggemarnya. Aku terkekeh pelan. Bangga bisa menyandang marga yang sama dengan Kim Namjoon.

"Hei, Seokjin. Lama tidak bertemu, ya?"

Aku menoleh. Sialan, apa yang sedang dilakukan nenek sihir ini di sini?

.

.

.

Load more...

TBC

.

.

.

Hai, maaf kalau plotless dan alurnya kemana-mana. Aku bikinnya sesuai mood, hehe.

Makasih banget buat | Rrn49 | dewiaisyah | JinnieJin4 | ZiFanNamJin | yang sudah meluangkan jempolnya buat meninggalkan jejak di story ala-ala ini. Maaf ya kalau mengecewakan. See ya on next story! Jangan bosan-bosan buat meninggalkan jejak ya, hehe.