Disclaimer : If I own Durarara! Our cute Shizuo and Izaya would've been married now. Durarara! Is Ryohgo Narita's :)
a/n - halo, saya memutuskan untuk me-resume fic ini pada akhirnya :') maaf it took me forever to finish chapter 4 due to keadaan in hell bernama 'persiapan UN'. Kalau ada yang masih ingat ceritanya, yang masih mau ngikutin, ataupun baru gabung, terimakasih banyaaak ya. *big hug and kisses*. Setelah ini, bakalan apdet berkala dalam jangka waktu yang pasti. Saya janji. Dan chapter ini saya dedikasikan untuk my-partner-in-crime, yang lagi berulang tahun. Chiharu Yayoi, Happy birthday deaaaaar.
.
HEAVEN KNOWS
Chapter 4 : I will protect you, Flea!
-by kiriohisagi-
.
.
Kehidupan Izaya setelah jadi mahasiswa, tidak begitu buruk. Mata kuliah yang dia ambil semuanya bisa dia ikuti tanpa kesulitan. Dan yang terpenting, entah sejak kapan, sepertinya dia punya teman. Yah, kalau menghabiskan waktu bertiga secara tidak jelas setiap hari bisa disebut berteman.
"Kau sedang jatuh cinta, apalagi memangnya?" ucapan Kadota membuat Izaya melepaskan matanya sebentar dari laptop. Mereka bertiga, Izaya, Kadota, dan Shinra sekarang sedang berada disebuah meja batu didekat kampus mereka, sama seperti hari-hari sebelumnya.
"Jatuh cinta ya… hei, Izaya. Apa menurutmu aku sedang jatuh cinta?"
Izaya menoleh ke arah Shinra dan menyadari kalau topik mereka sekarang adalah tentang gadis-gadis. Dan Izaya tidak keberatan, lagipula, sejak SMA dia tidak punya waktu untuk memikirkan gadis-gadis. Jadi ini adalah waktu yang tepat.
"Jadi, siapa gadis yang kalian bicarakan ini?" tanya Izaya, mencoba terdengar tertarik. Shinra menyeringai ke arahnya lalu menyebutkan tentang gadis bernama Sturluson-something yang suka berpakaian hitam ketat. Sejujurnya, Izaya tidak tahu itu siapa.
Tapi kalau Shinra sudah bilang dia cantik, Izaya jadi ingin memastikannya.
"Kau tahu, saat aku pertama kali melihatnya, dia benar-benar terlihat cantik, dan seksi, dan hot, dan seksi—"
"Kau menyebut kata seksi dua kali." Kadota mendengus.
"Duh, karena dia memang seksi, Dotachin! Kalau kau tidak percaya, lihat saja sendiri. Kalau setelah melihat kau masih bilang dia tidak seksi, berarti kau homo."
"Hei… hei." Kadota tidak percaya dengan apa yang Shinra katakan. Dan Izaya, harus menahan tawanya sepanjang sisa siang itu. Izaya baru menyadari, melihat bagaimana manusia berinteraksi itu sangat menyenangkan. Manusia punya banyak sisi di dalamnya, dan mengamati sisi manusia disekitarnya, tidak pernah membuat Izaya bosan. Oke, kecuali Shizuo. Manusia satu itu tidak pernah bisa Izaya tebak, jadi mengamatinya pun menjadi sangat melelahkan.
Agenda mendengarkan cerita Shinra tentang Sturluson seksi-nya sebenarnya cukup menyenangkan, sebelum ponsel Izaya bergetar, menandakan kalau ada email sialan yang baru saja dia terima.
Aku melihatmu. Jangan kemana-mana, aku kesana.
Bunyi email itu. Dan Izaya tahu, orang yang gaya bicaranya terdengar semenyebalkan itu hanya ada satu di dunia. Heiwajima Shizuo namanya.
Omong-omong, sejak hari itu—kau taulah, hari waktu Shizuo berbicara tentang harus menjaganya blablabla—Heiwajima Shizuo benar-benar menjadi semacam bodyguard-nya. Mengantar-jemputnya setiap hari lah, menemaninya kemanapun lah. Awalnya, Izaya mencoba sabar dengan tidak menghiraukan eksistensinya, tapi makin lama, dia semakin menyebalkan.
"Hei, sudah waktunya pulang."
Seperti sekarang, saat tiba-tiba si pirang sialan sudah berada di sebelahnya dan menarik lengannya dengan tidak sabar. Padahal jelas-jelas, dia sedang berbicara dengan dua temannya.
Kadota dan Shinra tidak terlihat kaget saat melihat Heiwajima Shizuo datang untuk menjemput Izaya. Beberapa minggu berteman dengan Izaya membuat mereka cukup terbiasa dengan scene jemput paksa ini.
Izaya menghela nafasnya.
"Aku masih ada kelas, kau tahu. Jam satu siang aku harus mengumpulkan tugas." Izaya berbohong tentu saja. Dia hanya tidak mau pulang cepat dan terperangkap di dalam apartemen bodoh bersama si bodoh ini.
"Ya, ya. Teruskan berbohongnya. Tapi asal kau tahu, aku sudah hafal jadwal kuliahmu di luar kepala."
Oh, crap! Izaya memaki dalam hati.
"Sudahlah, kenapa tidak pulang saja?" Shinra nyengir ke arah Izaya. "Daripada Shizuo-san ngamuk, kan?" yang terakhir Shinra berbisik, tampak khawatir. Dan Izaya hanya mempunyai satu pilihan, pulang bersama Heiwajima Shizuo atau si bodoh ini akan mengamuk. Jadi dia berdiri, menyentakkan tangannya agar Shizuo berhenti mencengkeramnnya, kemudian berjalan menuju ke jalan raya.
Inilah yang Izaya maksud dengan menyebalkan. Dia sama sekali tidak bebas dengan Shizuo yang mengawasinya bagai dua puluh empat jam penuh. Seperti sekarang, Shizuo berjalan di belakangnya dan Izaya berani bertaruh, matanya pasti sama sekali tidak lepas untuk mengawasinya.
Begini loh, memangnya Izaya itu apa? Anak kecil yang selalu butuh pengawasan?
Pada akhirnya, Izaya yang tidak tahan, berhenti berjalan. Dia menoleh dan menatap bengis pirang dibelakangnya.
"Apa?" tanya Shizuo.
"Kau… pengganggu kesenangan."desis Izaya.
.
.
Yang mereka lakukan setelah sampai di apartemen hanyalah diam-diaman. Izaya sudah terlalu muak dengan Shizuo, jadi dia memutuskan untuk menonton televisi se-tidak-jelas-apapun acaranya.
"Kau sudah makan?" tanya Shizuo tiba-tiba. Izaya mendengus.
"Memangnya urusanmu? Lagipula kau bukan bertanya karna kau peduli."
Shizuo diam, sepertinya dia sedang menahan kesal. Tapi Izaya sama sekali tidak peduli. TIDAK PEDULI!
"Tentu saja, siapa yang peduli denganmu? Aku hanya menjalankan tugasku, bodoh. Kalau tidak karena ayahku menyuruhku menjagamu, kau belum makan setahunpun aku tidak peduli."
Ya, benar. Ini semua karena Ayah Shizuo. Yang Izaya herankan adalah, kenapa Shizuo repot-repot menyanggupi permintaan Ayahnya untuk menjaganya? Shizuo bahkan tidak terlihat sebagai anak yang sepatuh itu pada orang tua.
Sebenarnya itupun bukan urusan Izaya, jadi pada akhirnya dia cuma bisa menyibukkan diri dengan menata buku-buku di tasnya. Tapi sebuah buku membuat alisnya terangkat.
Buku tulis itu bersampul abu-abu metalic, selintas terlihat mirip dengan buku catatannya. Tapi Izaya tahu, itu bukan bukunya. Jadi ketika dia membuka dan menemukan nama orang lain disana, Izaya tidak terkejut.
Celty Sturluson.
Heh? Membaca namanya, entah kenapa terasa familiar. Kalau tidak salah, Izaya pernah mendengar nama—oh! Ya! Izaya ingat sesuatu. Shinra mengatakan sesuatu tentang Sturluson kan? Sturluson yang kata Shinra seksi itu.
Tapi tunggu, kenapa buku catatan gadis Shinra bisa ada di tas Izaya, huh?
"Hei, belum makan, kan? Aku keluar sebentar membeli makan, kau disini saja. Oke?" suara Shizuo hanya bisa dicerna separuhnya oleh Izaya, dia mengangguk secara tidak sadar.
"Kau mau makan apa? Nanti ku belikan. Atau kau mau makan berdua diluar bersamaku?" Sampai disini, Izaya baru sadar. Dia buru-buru menjawabnya dengan nada tersinis yang ia punya.
"Tidak, terimakasih. Dan jangan membuatnya seperti ajakan kencan, aku jadi geli." Izaya bahkan memasang wajah mau muntah. Dalam hati Izaya tertawa saat melihat wajah Shizuo yang tertekuk karena menahan kesal.
"Siapa yang mengajakmu kencan, flea!"
Izaya mengernyit mendengar dirinya disebut flea.
"Jangan sok pintar lah, menyebutku dengan flea segala."
"Sudah diputuskan, kau memang flea. Kau kutu, membuatku gatal."
"Kalau begitu kau protozoa."
"Hah?"
"Tidak ada hewan bersel satu yang pintar kan? Well, cocok sekali seperti dirimu."
Izaya menyunggingkan senyum terbaiknya pada Shizuo.
"Kau…" Shizuo mati-matian menahan amarahnya, dan Izaya selalu suka melihat ekspresi bodoh Shizuo disaat seperti ini. "Terserahlah." Bentak Shizuo akhirnya. Menyerah, lalu pergi meninggalkan apartemennya untuk mencari makanan.
Sedangkan Izaya tertawa terbahak-bahak di dekat sofa. Dia menang!
Lima detik kemudian, dia baru sadar tentang sesuatu. Tentang buku Sturluson tadi. Jadi tanpa menyia-nyiakan waktu lebih banyak, dia mengontak ponsel Shinra.
"Ada apa Izaya?" suara Shinra menyambutnya.
"Uh, kau dimana sekarang?"
"Di flat-ku, tentu saja. Ada apa? Shizuo-san tidak marah-marah padamu kan?"
"Lupakan Shizuo. Aku ingin bertanya. Apa gadis yang kau bilang seksi tadi siang bernama Celty Sturluson?"
Ada jeda sepuluh detik yang panjang, sampai kemudian Shinra berteriak kelewat antusias.
"Kau tahu darimana kalau nama sweetheart-ku adalah Celty? Aku tidak ingat aku menyebutkannya tadi siang. Oh, atau aku menyebutnya ya? Ah, kau sudah melihatnya jangan-jangan? Seksi kan? Uhh—"
"Tidak. Maksudku…" Izaya bingung menjelaskannya. "Aku tidak tahu bagaimana, tapi kurasa bukuku tertukar dengannya. Siang ini aku menemukan buku dengan nama Celty Sturluson di tasku. Jadi kupikir aku bisa memberitahumu dan yah… kau mengembalikan buku ini ke dia atau bagaimana lah,"
"Kau… kau memang malaikat!" diujung sana, Shinra sudah terlihat sangat terharu. Izaya tertawa mendengar tingkah temannya satu ini. Menyukai perempuan ternyata bisa membuat manusia se-tidak-masuk-akal ini.
"Alamat flat-mu dimana? Shizuo sedang keluar sekarang, jadi sebelum dia kembali dan aku tidak ada waktu keluar lagi, aku akan memberikannya padamu."
"Kau yakin?" nada suara Shinra terdengar khawatir. "Bagaimana kalau ketahuan Shizuo-san?"
"Sudahlah. Lagipula dia bukan siapa-siapaku dari awal. Oke, kirim alamat flat-mu dan sepuluh menit lagi aku akan sampai."
.
.
Shizuo menghirup rokoknya dalam-dalam sambil menunggu pesanan Sushi-nya. Dia sedang berada direstoran Sushi langganannya sekarang. Tapi matanya menerawang ke jalan raya, memandang jalanan Ikebukuro yang tidak pernah sepi.
"Sushi, beli banyak. Dua orang? Kenapa?" suara Simon, salah satu pegawai restoran dengan bahasa jepang aksen spanyolnya menyadarkan Shizuo.
"Ah, aku membelinya untuk seseorang juga." Kata Shizuo.
"Seseorang? Pacarmu? Temanmu?"
Shizuo tertawa. "Tidak, Simon. Tidak dua-duanya."
"Dia sushi menyukai? Sushi memang enak. Beli banyak lagi. Ya?"
Shizuo tersenyum. "Sushi disini memang enak. Sushi terenak kedua di dunia." Kata Shizuo.
"Kedua? Yang pertama, apa?"
Pertanyaan Simon kali ini, tidak diawab oleh Shizuo. Alih-alih menjawabnya, dia malah memandang jalan raya dengan tatapan menerawang. Mungkin dia memang tidak pernah bisa menjawabnya. Karena sushi terenak di dunia, adalah milik Ibunya. Dan Shizuo, sudah tidak bisa merasakannya lagi.
Entah kenapa, rokoknya tiba-tiba terasa pahit. Shizuo mengumpat, lalu membuangnya dalam asbak. Mengingat Ibunya selalu membuatnya menjadi seperti ini. Sialan!
"Ini, sushi enak. Beritahu padaku, kalau seseorangmu suka sushi disini." Kata Simon menyerahkan bungkusan berisi dua porsi sushi pesanan Shizuo. Shizuo tersenyum sambil menerima bungkusan dari Simon.
"Thanks." Kata Shizuo kemudian berjalan keluar dari restoran sushi ini. Tapi yang dilihat Shizuo pertama kali ketika dia melangkahkan kaki keluar, adalah Izaya yang sedang menyeberang jalan beberapa meter di depannya.
Apa yang dilakukan flea bodoh itu di sini? Menyusulnya? Tapi dia bahkan tidak tahu dimana Shizuo membeli makanan.
Sepertinya Izaya tidak menyadari Shizuo, dia tetap menoleh kekanan dan kekiri, terlihat kebingungan hendak menyeberang. Ketika Izaya sudah akan menyeberang, Shizuo bersumpah melihat truk sedang melaju ke arah Izaya.
Shizuo beku. Tubuhnya mendingin. Bibirnya memucat.
"Mulai besok kau akan tinggal dengan anak dari teman Tou-san. Namanya Orihara Izaya. Ayah tidak main-main, pastikan kau menjaganya dengan baik, Shizuo. Temani dia duapuluh empat jam sehari. Jangan biarkan dia lepas dari pandanganmu, demi apapun.."
Kata-kata Ayahnya terngiang di telinga Shizuo. For God's Sake! Shizuo sudah bersumpah untuk menjaga Izaya. Dia… se-menyebalkan-apapun Izaya, dia tidak boleh membiarkannya kenapa-napa. Tidak setelah eskpresi serius Ayahnya ketika memohon padanya. Walaupun Shizuo tidak tahu alasannya.
Shizuo menggerakkan kakinya secepat yang dia bisa sebelum truk itu menabrak Izaya.
Jaga!
Jaga Izaya!
"IZAYA!" Shizuo berteriak, tapi terlambat, Izaya sudah menyebrang ketika dia menoleh kearah Shizuo.
TEEEEEEEET. Shizuo bisa mendengar suara klakson truk yang panik itu.
SIALAAAAAN!
Shizuo melompat, menyambar Izaya dalam sekali hentakan, dan menarik Izaya keras ketepi jalan. Tidak ada yang tahu, sekeras apa jantung Shizuo memompa waktu itu.
Ketika Shizuo membuka matanya, orang-orang sudah mengerumuninya. Tapi sialnya, Shizuo tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dia melihat Izaya yang masih berada dalam pelukannya. Kondisinya pucat, sama kagetnya seperti dirinya.
Beberapa orang menanyai keadaan mereka, tapi Shizuo hanya menggeleng sesopan mungkin, mengisyaratkan kalau mereka berdua tidak apa-apa. Shizuo kemudian melepaskan pelukannya pada Izaya dan menuntunnya berdiri. Dia lalu mencengkram lengan Izaya erat dan menariknya.
"Kita pulang." Kata Shizuo dingin. Shizuo tahu, Izaya sedang meringis menahan sakit karena, well, cengkramannya tidak lembut sama sekali. Tapi Shizuo tidak peduli. Rasa kagetnya kini berangsur hilang berganti marah. Marah pada Izaya.
Ketika akhirnya mereka sampai ke apartemen Shizuo, Shizuo menyentakkan Izaya ke sofa.
BRUKK!
Shizuo bahkan menutup pintu dengan cara terkasar yang pernah ia tahu. Sedangkan Izaya?
Dia terlalu takut untuk berbicara sepatah katapun. Dari sorot matanya, Izaya tahu, Shizuo sedang sangat marah padanya. Dan Shizuo yang seperti ini—Shizuo yang menakutkan— adalah Shizuo yang selalu membuat Izaya bahkan tidak berani berbicara.
"Maaf," bisik Izaya parau, mengeluarkan sisa keberaniannya. Lewat sudut matanya, Izaya melihat Shizuo mendekat kearahnya dan menjulurkan tangannya. Izaya memejamkan matanya, pasrah Shizuo akan memukulnya.
Satu detik.
Dua detik.
Tapi yang dirasakan Izaya malah telapak tangan yang membelai kepalanya. Izaya membuka matanya, memandang tidak percaya Shizuo yang terlihat… ketakutan?
"Jangan keluar tanpa aku lagi, oke?" kata Shizuo, tampak memohon.
"Ma… maaf." Hanya itu yang Izaya bisa katakan. Dia tidak tahu, dalam hidupnya, tidak pernah dia merasa bersalah sebesar ini pada seseorang. Yang benar saja, dia sebenarnya juga tidak berbuat salah pada Shizuo kan? Tapi kenapa dia merasa bersalah seperti ini?
Dan, kenapa Shizuo sekalut ini?
"Tadi kau hampir… kau tahu. Kalau aku tidak disana, kalau aku tidak menyeretmu." Shizuo melihat Izaya tepat dimanik mata, sangat ketakutan. Izaya tidak tahu apa yang membuat Shizuo begitu takut dia kenapa-napa. Tapi diperlakukan seperti ini, seolah-olah Shizuo begitu takut kehilangannya, membuat Izaya sedikit… tersentuh.
Jangan salah paham. Dengar ini Izaya, aku menjagamu demi diriku sendiri.
Izaya teringat satu kata yang diucapkan Shizuo waktu itu. Itu… apa maksudnya? Jangan bilang yang membuat Shizuo seperti ini ada hubungannya dengan kata-katanya waktu itu?
"Kau… bisa cerita padaku, Shizuo." Kata Izaya tiba-tiba. Izaya sendiri kaget dengan kata-katanya. Tapi semuanya tidak bisa ditarik kembali, sayangnya. Lagipula, Izaya ingin tahu, alasan dibalik sikap Shizuo selama ini. Mengapa Shizuo begitu keras kepala ingin menjaganya?
Tapi Shizuo malah menggeleng.
"Kau tidak akan mengerti ini, flea." Kata Shizuo. "Anak dari keluarga bahagia sepertimu…"
"Keluarga bahagia apa?" tanya Izaya tidak mengerti. Entah sejak kapan, tangan Shizuo kembali mencengkram lengannya erat. Kali ini Izaya tidak keberatan. Dia tidak pernah melihat Shizuo dalam keadaan selemah ini.
"Kau, dan dua adik kembarmu." Lanjut Shizuo. "Ayah dan Ibumu memperhatikanmu, ayah dan ibumu bangga padamu. Keluargamu sempurna. Aku tahu sejak aku datang ke pesta ulang tahunmu." Suara Shizuo semakin lemah dan bergetar. Izaya tidak tahu, tapi dadanya sakit tiba-tiba.
"Ayahmu juga bangga padamu kan? Aku ingat waktu itu dia memperkenalkanmu pada—"
"Dia cuma laki-laki tua payah yang tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri." Kata-kata Shizuo penuh kebencian. Izaya terkejut mendengarnya. "Dia cuma… dia…" Shizuo tampak kepayahan berbicara. Dan Izaya tidak bisa melihatnya lebih jauh lagi.
"Jangan dilanjutkan, aku mengerti." Izaya menepuk punggung tangan Shizuo yang mengcengkram tangannya berkali-kali, hingga Shizuo merasa tenang. "Aku mengerti." Kata Izaya lagi, terdengar lembut di telinga Shizuo. Shizuo merasakan tepukan itu. Hanya tepukan berulang-ulang. Tapi aneh, hatinya berangsur tenang.
Kali ini, ketika dia mengingat keluarganya lagi, ada seseorang disampingnya. Dan seseorang itu menenangkannya.
Shizuo mendengus, dia ingin tertawa.
Ini ironis.
Ayah Shizuo sama sekali tidak pernah melihatnya. Dia mungkin malah tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Seperti membelikannya apartemen hanya agar supaya dia tidak repot-repot bertemu Shizuo, contohnya.
Tapi, suatu hari, setelah delapan tahun yang lama, tiba-tiba Ayahnya menghubunginya, meminta Shizuo untuk ikut dengannya ke sebuah kota kecil di luar pulau untuk menghadiri pesta ulang tahun dari anak temannya. Dan beberapa minggu setelahnya, Ayahnya meminta bantuannya, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun.
Ayahnya memintanya untuk menjaga Orihara Izaya. Anak dari temannya.
Shizuo tidak pernah tahu kenapa dia harus menjaga Izaya. Maksudnya, apa yang membuat Izaya harus dijaga? Izaya bukan anak kecil, itu yang Shizuo tahu. Izaya juga tidak suka dijaga olehnya, jadi harusnya Shizuo tidak perlu repot-repot menjaganya.
Tapi itu kalau Shizuo adalah orang yang tidak se-menyedihkan ini.
Benar, Shizuo pernah bilang, dia memutuskan menjaga Izaya untuk dirinya sendiri kan?
Itu adalah karena dia merasa dibutuhkan oleh Ayahnya. Itu adalah karena dia ingin membuktikan pada Ayahnya, bahwa dia, sebagai anak laki-laki, bisa diandalkan. Jadi dia… ingin menjaga Izaya. Hanya agar supaya dia merasa dibutuhkan oleh Ayahnya.
Dan tadi ketika truk hampir menabrak Izaya, Shizuo ketakutan setengah mati. Dia takut Izaya kenapa-kenapa. Dia takut…
"Hei, sikumu!" Suara panik Izaya menyadarkan Shizuo. Shizuo melihat sikunya dan meringis ketika melihat darah keluar dari sana.
"Kuso!" Shizuo mengumpat, dia baru menyadari perihnya.
"Perih?" tanya Izaya.
"Apa kau butuh aku menjawabnya? Tentu saja, bodoh."
"Dimana Alkohol?" kata Izaya berdiri, terlihat panik. Shizuo berjengit mendengar kata alkohol. Dia sendiri sudah berada di kamar mandi untuk mencuci lukanya dengan air mengalir.
"Jangan alkohol, bodoh! Ambilkan obat merah saja di kamarku."
"Kamarmu?" tanya Izaya lagi, tidak yakin kalau kata itu yang keluar dari mulut Shizuo. Kemana Shizuo yang phobia kalau kamarnya dimasuki?
"Kau mendengarku, flea! Sudah masuk saja ke kamarku."
Pada akhirnya Izaya menurut. Dia masuk ke kamar Shizuo, meninggalkan Shizuo yang meringis ketika aliran air menyentuh luka goresnya dan turun menjelma merah bercampur darah. Setelah memastikan lukanya terbasuh, Shizuo duduk di sofa menunggu Izaya yang lima detik kemudian keluar dari kamarnya membawa sekotak peralatan untuk merawat luka.
Shizuo melihat Izaya, dan seketika dia tahu kalau Izaya sudah melihat sesuatu dalam kamarnya. Terlihat dari ekspresinya yang setengah mati ingin terlihat 'biasa saja'.
Awalnya Shizuo pura-pura tidak menyadarinya, lalu meminta kotak P3K itu sedangkan Izaya duduk dilantai, mengamati Shizuo yang mulai mengobati lukanya sendiri.
Tapi pada akhirnya, Shizuo menyerah juga.
"Sudahlah," kata Shizuo, gusar. "Tidak usah memaksakan diri terlihat biasa. Aku tahu itu aneh." Lanjutnya.
Izaya menghela nafasnya, pada akhirnya menyerah mencoba memasang wajah biasa saja. Dia mengakui dalam hati. Benar. Itu aneh.
Dengar ini, begitu Izaya masuk ke kamar Shizuo, dia bisa merasakan atmosfer kehangatan tapi juga kesepian. Di dinding di tengah kamar, tepat diatas tempat tidur Shizuo, tergantung besar sebuah foto berukuran 1x1 meter. Foto seorang perempuan cantik yang sedang dirangkul oleh laki-laki berjas menggendong balita berumur 3 tahun yang menggemaskan.
Tidak hanya itu, dimeja belajarnya, diatas komputernya, penuh dengan foto-foto itu. Foto yang sama, hanya dicetak di ukuran yang berbeda-beda. Dan jujur, itu… aneh.
"Itu Ibuku." Kata Shizuo datar, masih fokus mengobati lukanya. Izaya tidak tahu harus bagaimana ketika Shizuo memberitahunya hal sepenting itu.
"Itu artinya, balita itu… kau kan?" tanya Izaya. Shizuo mengangguk. "Kau tahu, kau cukup menggemaskan waktu kecil." Kata Izaya kemudian. Shizuo terkekeh sebentar.
"Ya. Dan yang menggendongku, Ayahku."
"Keluarga bahagia." Hanya itu yang dapat Izaya tangkap dari foto itu. Tapi Shizuo menggeleng, dia sudah selesai mengobati lukanya sekarang.
"Ibuku sudah meninggal, kalau tidak salah saat aku 13 tahun." Kata Shizuo. Izaya diam mendengarkan. "Klise, ayahku menyimpan wanita lain, jadi Ibuku yang sakit-sakitan makin parah dan akhirnya meninggal. Begitulah."
Izaya tidak percaya Shizuo menceritakannya seolah-olah itu bukan hal yang penting sama sekali, seolah tanpa beban.
"Seperti yang kau tahu, ayahku berubah sejak ibuku meninggal. Sepertinya dia merasa bersalah, jadi dia merubah dirinya menjadi seseorang yang gila kerja. Dan… melupakanku?"
Izaya terdiam mendengar semua cerita Shizuo. Izaya tidak tahu apa yang membuat Shizuo memutuskan menceritakan semua ini padanya. Izaya tidak tahu, tapi dia bersyukur Shizuo cerita padanya.
"Aku tidak akan panjang-panjang menceritakannya. Aku kehilangan Ibu, dan juga Ayah. Jadi ketika akhirnya Ayahku menghubungiku setelah delapan tahun lamanya dan memintaku menjagamu, aku tidak akan menyia-nyiakannya." Kata Shizuo serius, menatap Izaya lekat-lekat.
Itu alasannya.
Izaya seperti mendapat sebuah pencerahan.
Itu alasan kenapa Shizuo menjaganya.
Shizuo… ingin Ayahnya melihatnya lagi.
Dan Izaya… dia tersenyum.
"Terimakasih." Katanya.
"Hah, untuk apa?" Shizuo bingung.
"Untuk cerita padaku?" tanya Izaya, pertanyaan retoris. "Setidaknya sekarang aku tahu alasanmu sebegitu keras kepalanya mengaturku. Kurasa aku bisa terima, alasanmu cukup masuk akal." Izaya nyengir. Melihat cengiran Izaya, Shizuo membuang muka.
"Sialan kau. Ingat ya, jika tidak karena Ayahku aku tidak akan mau menjaga kutu sepertimu." Kata Shizuo, membuat Izaya tertawa.
"Iya… iya, aku paham." Katanya.
Lalu, mereka terdiam. Tidak tahu topik apalagi yang harus mereka angkat. Tapi kemudian, Shizuo teringat sesuatu.
"AAAAAAH!" Dia berteriak, membuat Izaya terkejut. "Sushinya! Sialan, aku menjatuhkannya saat aku menolongmu. Shit, padahal aku susah-susah membelinya."
Izaya melebarkan matanya. Pantas, perutnya kerucukan. Rupanya, dia belum makan.
"Uh, mau kugorengkan telur?" tawar Izaya takut-takut.
"Ini semua gara-gara kau!"
Izaya hanya bisa beringsut ke dapur sebelum amukan Shizuo makin parah.
.
TO BE CONTINUED
.
Omake
"Uhuk!" Shinra terbatuk. Dia sudah empat jam menunggu Izaya, tapi Izaya sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Padahal Shinra sudah mengiriminya email puluhan kali dan meneleponnya lebih dari sepuluh kali. Mana buku sweetheart yang dijanjikan Izaya tadi hah?
.
.
Kirio's note
Saat saya mempublish chapter ini dua tahun lalu, saat itu adalah ulang tahun teman saya. Chiha namanya. Saya mendedikasikan chapter ini buat dia… since she's so amazing! Saya nulis begini dua tahun lalu : Happy Birthday, dear Chiharu Yayoi (aka Shiro Shiro420 in FFN). Thanks for being my fangirling-friend over Shizaya this past 2 years xD maybe our meeting is a fate like Shizaya does! 3 haha.
and now, I miss her so much. We met through internet but she's a real friend, serius deh. We used to talk for hours about everything and nothing. And I remember one day when we had a date at Surabaya Zoo. Haha… masa-masa itu. Kangen banget sama dia :) *oke, stop ngerambling. Buat kalian, Makasih udah baca ya!
