I Hate Him, But I Love Him!
Kamichama Karin©Koge-Donbo
T/Romance & H/C
Warning: Typo(s), OOC!
-KazuRin-
Haruka Hitomi 12 proudly presents...
-Chapter 4-
"Kenapa... kau memilih gadis itu dibanding aku? Apa hanya karena aku tak memainkan nada-nada ini cukup baik untukmu?"
"Kau tak mengerti apapun. Diamlah."
"Setidaknya berilah alasan jelas kenapa kau menolak pernyataan cintaku?"
"Bukan urusanmu."
"Kau... kau itu... errr... eh? Apa tadi?"
"CUUTTTT!"
Suasana mulai ramai. Beberapa orang menggelengkan kepalanya karena ini sudah take entah yang keberapa kalinya hari ini. Kirio—sang sutradara—mulai mengomel kesal diujung sana pada Karin yang ditanggapi gadis itu dengan ringisan penyesalan dan ucapan maaf. Jin menggeleng pelan, "Sedang tidak fokus?" tanyanya.
Karin tertawa hambar, "Ahaha... maaf, maaf..." karena sebenarnya, pikirannya tertuju pada insidennya dan Kazune semalam di agency Micchi. Ia menjitak kepalanya sendiri.
"ISTIRAHAT SEPULUH MENIITT!" teriakan Kirio menggema diruangan studio besar itu, "Karin! Perbaiki dialogmu! Hafalkan yang betul!"
"A-ah! I-iya! Baik Kirio-san!" seru Karin sambil membungkukkan badannya lalu berjalan keluar dengan Jin disampingnya.
"Ada masalah apa?" tanya lelaki itu. Karin tersentak. Buru-buru ia menggeleng, "Tidak apa!" serunya. Baru saja mereka akan keluar, tanpa sadar, emerald gadis itu bersirobok dengan sepasang safir yang menatapnya datar namun dalam. Membuat wajahnya bersemu merah dan buru-buru menunduk.
'Kazune-kun... ya?'
"Karin?" suara ringan dari Jin saja mampu membuatnya berjengit kaget.
"Y-ya...?"
"Nanti... pulang syuting... aku ingin bicara berdua."
.
.
Kedua anak Adam dan Hawa berlainan gender itu duduk berhadapan. Sang gadis memesan lemon tea dan roti belut favoritnya sementara sang pemuda memesan segelas mocchiato panas. Seperti biasa. Jika dua bintang idola ini sudah bersama, tak ada yang sanggup untuk berpaling dari keduanya.
"Jadi ada apa Jin-kun?" sang gadis memulai percakapan diantara keduanya.
Jin Kuga menarik napas panjang lalu menatap gadis dihadapannya lurus-lurus, "Karin... jadilah kekasihku. Aku mencintaimu."
Dan seketika, angin yang mulanya berhembus pelan di cafe outdoor itu terhenti dan semua suara seakan senyap. Matahari yang hampir tenggelam menciptakan sebuah suasana temaram nan hampa disana. Karin terpaku. Iris emerald nya membola kaget sementara dihadapannya pemuda dengan iris onyx itu menatapnya dalam—meminta jawaban.
Bibir gadis itu seakan kelu, "—Eh?" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Aku benar-benar mencintaimu. Sejak dulu. namun baru sekarang aku sanggup menyatakannya. Kau mau kan? Jadi kekasihku?" tanya lelaki itu lagi.
Karin menunduk. Ia hanya menganggap Jin sahabat baiknya tak lebih. Ia tak pernah merasakan apapun bersama Jin. Hanya rasa suka sebatas teman. Entah kenapa, pikirannya tiba-tiba tertuju pada lelaki bersurai pirang yang baru ia temui beberapa kali. Itupun perjumpaan yang tak berarti. Lelaki itu, dia—cukup! Karin menggeleng. Ia tak boleh memikirkan lelaki lain disaat seperti ini—apalagi lelaki pirang yang tak ia begitu kenal itu.
"Aku mohon," ucapan Jin itu seolah menjadi cambuk baginya untuk menerima pernyataan ini. Entah kenapa ia tak tega melihat dan mendengar lelaki ini memohon.
"Baiklah... Jin-kun..."
.
.
Tak ada yang lebih sempurna selain berada bersama orang yang kau cinta. Seperti Torimaru Himeka dan Michiru Nishikiori saat ini. Malam hari, di bukit kecil di dekat taman hiburan paling terkenal se-Tokyo, dengan dua gelas lemon tea, permen kapas di tangan sang gadis, sekotak takoyaki diantara keduanya, dua potongan karcis taman hiburan, lengan sang pemuda yang melingkar di bahu sang gadis seolah menyatakan gadis itu miliknya, wajah sang gadisy nag merona merah dan uh-oh, jangan lupakan senyum yang terulas di wajah keduanya.
"A-aku senang Micchi..." ucap Himeka—gadis itu—pelan dengan nada gugup.
"Syukurlah kalau begitu," balas sang lelaki dengan senyum hangatnya yang membuat pipi sang gadis makin merona merah.
"Mi-Micchi... apa kau melakukan ini karena diminta Karin-chan?" tanya Himeka dengan raut wajah kecewa.
Micchi menggeleng, "Tidak sama sekali. Ia hanya menyarankan agar aku sesekali mengajakmu jalan-jalan bersama. Dan hari ini, kita adalah kekasih—yang artinya, ini kencan pertama kita. Jangan berpikiran begitu. Aku sekarang sudah sadar. Aku ini mencintaimu. Oke?"
Himeka merasa pipinya lagi-lagi memerah lalu ia mengangguk pelan, "Micchi... a-aku belum sempat ke tempat syuting The Love Tone, tapi aku sudah janjian bertemu dengan Karin-chan sore hari itu di cafe. Ja-jadi..."
"Sudahlah. Tak apa. Hei, aku minta takoyaki mu ya~!" seru Micchi dan ditanggapi anggukan serta senyum dari Himeka.
.
.
"Kazuunee~~! Kapan kau akan mengatakan semua ini padanya HAH?!"
Kazune berdecak pelan lalu kembali fokus pada jalanan didepannya dan satu jari menutup telinganya. Demi Tuhan, ia salah apa sampai harus mengantar sang nona Karasuma Rika pulang ke mansion gadis itu? Salahkan Kirio yang seenak jidat meninggalkan adiknya. Padahal kalau hal buruk terjadi pada adiknya ini, ia yang paling panik.
"Diamlah Rika," dengan suara dingin itu, mungkin tiga perempat orang akan lebih memilih untuk diam. Tapi, Rika berada di bagian seperempatnya—yang artinya, suara tajam Kazune sudah tak mempan lagi padanya.
"Coba kalau kau ada di posisi Karin dan tak mengetahui apapun soal masa lalu kalian yang memusingkan itu, bagaimana perasaanmu?!" seru Rika.
Kazune mengangkat bahu, "Biasa saja."
"Lihat dari sisi gadis itu Kujyo!"
"Ahh! Sudahlah! Diam kau!" seru Kazune dan tanpa sengaja hal itu membuat mobil mereka oleng—tentu saja Rika berteriak histeris.
Kazune menyeringai, "Harusnya tadi pintumu itu tidak kukunci. Di sisi kirimu jurang."
"Sial kau..."
CIITTT...!
"Kujyo Kazune?! Kau itu bisa menyetir ti—oh...?" Rika menghentikan ucapannya kala melihat seorang gadis bersurai brunette di sisi jalan tengah melambai pada seorang lelaki bersurai gelap di sisi jalan lainnya lalu sang lelaki pergi berlari dengan agak tergesa, "Hanazono Karin."
Rika ternsentak ketika Kazune tiba-tiba membuka pintu mobil dan berjalan kearah gadis itu—membuat Rika memasang senyum kecil, 'Kau masih mencintainya walau kau sekarang tengah menaruh hati pada Torimaru Himeka. Dasar egois kau Kujyo...'
.
"Tadi itu Kuga kan?"
Hanazono Karin menoleh kala mendengar sebuah suara baritone memasuki pendengarannya dan lalu gadis itu tersentak dan memalingkan wajah, "Kazune..." gumamnya.
"Aku sudah bilang padamu."
"Ya, aku tahu," balas Karin, "Kazune-kun," entah kenapa ia merasa tak bisa melawan ucapan lelaki itu.
"Ayo," ucap Kazune. Karin menoleh kaget, "Kau ikut mobilku saja," lanjut Kazune menyadari kebingungan gadis itu. Dalam hati, ia sendiri tak tahu kenapa ia masih saja mau berurusan dengan gadis ini. Ia hanya mengikuti firasatnya.
Karin menggeleng, "Tidak, terimakasih. Kalau Jin-kun melihat, dia bisa salah paham," tolaknya tegas.
"Memang apa pedulimu pada Kuga?" Kazune menggertakkan giginya.
"Dia kekasihku sekarang."
Kazune tersentak. Ia menatap Karin dalam sedang gadis itu mengangkat alis. Bingung atas reaksi Kazune, "Kenapa?" tanyanya.
Kazune mendecak kesal. Ia mengepalkan tangan dan mendorong Karin sampai punggungnya menabrak tembok dibelakangnya. Seperti kemarin. Karin merasa takut. Kenapa dua hari ini, sikap Kazune berubah. Ia menatap lelaki itu. Tidak, ia tidak sedang mabuk. Semua normal dan dibawah kesadaran seutuhnya.
"A-apa... apa yang kau lakukan?!" seru Karin berusaha melepaskan diri. Sayang, hari sudah malam. Sudah pukul sembilan sehingga jalanan itu sepi. Ia makin takut dan menatap lelaki dihadapannya dengan tatapan memohon untuk dilepaskan.
Kazune menyeringai. Sudah lama ia tak mendapati ekspresi macam ini dari mantan kekasihnya itu. Sedetik kemudian, yang Karin tahu, bibir mereka sudah bersentuhan sementara Rika hanya menganga menonton kejadian itu dibalik kaca mobil lalu dengan kaku menyilangkan jarinya didepan mulut yang berarti, ini rahasia.
Satu kata bagi Kazune, manis. Satu kata bagi Karin, bingung.
'Aku egois. Ya, walau aku sudah menaruh hati pada gadis lain, setengah hatiku masih kau tawan. Aku tak bisa menolakmu...'
.
.
Malam itu, di mansion Karin, gadis itu berguling kesana kemari diatas kasurnya. Ia bingung dan kalut. Ciuman tadi itu, bukanlah mimpi. Ia masih ingat ketika setelahnya Kazune menariknya kedalam mobil yang didalamnya ternyata sudah ada Rika lalu lelaki itu mengantarkannya sampai ke mansion.
Tapi demi Tuhan! Sekarang ia sudah punya kekasih! Jin Kuga kekasihnya! Jika Jin sampai tahu Karin berciuman dengan orang lain di hari pertama mereka pacaran... entah apa tanggapan lelaki itu nantinya.
'Tidak... Jin-kun terlalu baik... dia tak boleh tahu... Kami-sama... tadi itu ciuman pertamaku... kenapa Kazune? Siapa dia? Siapa dia? Seseorang tolong beritahu aku tentang masa laluku...'
Karin menyentuh bibirnya. Ia menjilat bibirnya itu pelan, 'Masih... terasa... sensasi yang tadi... seakan begitu kuat... deja vu... aku seakan pernah melakukan ini dengannya... demi Tuhan Kazune... siapa kau...?'
Ia terus menjambak rambutnya frustasi sampai akhirnya jatuh tertidur dengan setetes liquid bening meluncur mulus menuruni pipi chubby-nya.
.
.
Jin masih saja asyik menatap layar TV plasma dihadapannya dengan sebuah konsol PS di tangannya sedangkan disampingnya, seorang lelaki bersurai caramel juga tak kalah semangatnya dengan dia, "Hei, Jin!" panggil Micchi. Jin hanya menoleh sekilas, "Tadi aku habis kencan dengan Himeka lho!"
TRAK!
"HAH?!"
Micchi terkejut mendengar seruan Jin. Ia menoleh dan mengangkat alis. Lalu menoleh kedepan dimana karakter yang dipilih Jin seketika tepar karena terkena serangan dari karakternya, "Saking kagetnya, karaktermu kalah tuh..." ucapnya sambil mengatur permainan baru.
Tak lama, Jin kemudian berhasil mengendalikan pikirannya. Ia lalu menatap Micchi bingung, "Lalu bagaimana dengan Kujyo Kazune!"
Krik, krik...
Micchi terpaku,Jin menahan tawa.
"ASTAGA, KAZUNE-KUN! BENAR JUGA! AKU LUPA KALAU DIA MENYUKAI HIMEKA!" dan suara teriakan Micchi bergema di mansion itu. Sedangkan Jin tertawa terbahak-bahak menyadari betapa bodohnya sahabatnya ini, "Aku harus bagaimana Jin?!" seru Micchi lagi sambil memulai game mereka.
"Yah..." Jin bergumam sambil terus menggerakkan konsol PS-nya menghindari serangan Micchi, "Rahasiakan saja," ucapnya santai.
Micchi mendengus, "Yang benar saja. Itu tak membantu dan lagi, Kazune itu juga sahabat dekatku. Ngawur kau!"
"Hei, hei, ini hanya sara, tahu?" balas Jin.
Micchi terdiam. Ia berpikir. Masa demi sahabatnya itu baru sehari ia berpacaran dan menyadari bahwa ia mencintai Himeka ia sudah harus memutuskan gadis itu? Hell, no! Tapi, kalau Kazune tahu, bisa dibunuh dia karena mengambil gadis incarannya.
"Asal kau tahu," Micchi menoleh kearah Jin yang masih sibuk saja menjalankan serangan-serangannya pada karakter Micchi, "Hari ini, Karin dan aku adalah kekasih."
TRAK!
"HAH?!"
Karakter Micchi tepar terkena tendangan telak dari Jin. Lelaki itu tertawa lagi melihat keterkejutan Micchi serta permainannya yang begitu payah, "Tak usah berlebihan begitu," ucapnya.
"Kau curang sekali!" seru Micchi, "Kalau tahu begini, harusnya dari dulu aku mencoba mendekatkan diri pada Hanazono agar kemarin ia menerimaku!"
Jin mendengus, "Hei, hei, kau itu masih punya rasa pada Karin atau sudah seluruhnya pada Himeka? Kuhajar kau kalau sampai mengambil dua gadis sekaligus!"
"Haha..." Micchi menggaruk belakang kepalanya, "Yare-yare, Himeka cukup. Dia imut juga kok! Mungkin benar, soal Himeka dan aku, akan kurahasiakan."
Jin mengangguk lalu keduanya kembali sibuk dengan game PS mereka.
.
.
Pagi sudah datang. Cahaya matahari mulai menelisik setiap sudut yang mampu dijangkau sinarnya. Termasuk kamar gadis ini yang sudah mulai terang. Gadis bersurai pirang itu bangkit, menguap dan mereggangkan otot-ototnya yang kaku lalu berjalan malas kearah kamar mandi.
Tak lama, terdengar suara air dinyalakan dan sekitar lima belas menit kemudian, sang gadis sudah keluar dengan kaos oblong biru dengan hot pants hitam yang ia kenakan. Gadis itu—Kujyo Kazusa—duduk dengan malas didepan TV plasmanya dan melirik kalender, 'Hari Minggu... artinya, kuliahku libur,' pikirnya lalu mulai menyalakan televisi dan asyik dengan acara yang ia lihat.
Sedetik kemudian, ponselnya berdering nyaring, "Moshi-moshi?" tanyanya.
"K-Kazusa?"
Suara diseberang sana membuat Kazusa terlonjak, "Karin? Ada apa? Kau belum berangkat syuting?"
"Tidak, hari ini libur dulu—Kirio sakit. E-em... bo-boleh aku ke rumahmu?"
Kazusa mengangguk, "Tentu. Datang saja kukirim alamatnya nanti atau kau bisa pakai GPS. Memang ada sesuatu?"
"Ya... kuceritakan nanti. Aku akan kesana bersama Himeka, boleh?"
Senyum terulas di bibir gadis dengan bando kelinci itu, "Torimaru Himeka?! Wah! Pasti keren! Cepatlah, datang saja!" dan sambungan diputuskan.
.
Torimaru Himeka berjalan dengan khawatir dibelakang sahabatnya. Mungkin pikiran Karin sedang konslet—berhubung tadi pagi gadis itu datang ke rumahnya dengan mata bengkak—seperti habis menangis. Hei, hei, mereka itu sekarang artis dan apa Karin serius ingin pergi ke rumah Kazusa dengan bis umum? Karena mereka sekarang tengah menuju halte tanpa penyamaran.
"Karin-chan, kau serius?" tanyanya namun tak kunjung mendapat respon, "Karin-chan? HOI KARIN-CHAN!"
"A-ah? Maaf Himeka, ada apa?" great, gadis itu baru sadar sedangkan mereka sudah ada didepan halte. Untung ini masih pagi jadi belum ada terlalu banyak orang walau begitu, beberapa orang yang sedang berjalan pun sesekali menoleh kearah mereka. Himeka mengerucutkan bibirnya, "Demi Tuhan, Karin-chan! Kita akan ke rumah keluarga Kujyo dengan kendaraan umum tanpa penyamaran? Kau mau dikejar paparazzi atau terjepit oleh fans saat di bis?" tanyanya.
Karin berkedip sesaat lalu menepuk dahinya—menyadari kebodohannya, "Ya, sudah! Kita panggil taksi saja!" ucapnya lalu mengeluarkan ponsel.
.
Tak lama, keduanya sampai didepan sebuah rumah besar. Himeka berbicara dengan satpam sebelum mereka diijinkan masuk. Tampak didepan pintu beberapa orang maid dan butler berdiri berjejer, "Karin-sama, Himeka-sama? Silahkan, Kazusa-sama sudah menunggu," ucap salah satu dari mereka lalu meminta Karin dan Himeka mengikutinya.
Karin bersumpah, ia melihat banyak pintu dalam satu ruangan. Bagai sebuah labirin dibanding sebuah rumah—menurutnya. Naik tangga, menyusuri lorong penuh lukisan dan foto, naik tangga, lorong lagi, masuk sebuah ruangan, naik tangga, lorong dan mereka berhenti di depan sebuah pintu bercat biru muda, "Silahkan," ucap maid yang mengantar mereka.
Karin dan Himeka tak tahan untuk tak berkata 'Wow.' Lihat? Kamar itu bercat biru muda dengan ornamen keemasan, dinding dengan pemandangan pantai dan pohon kelapa—terlalu indah untuk dijadikan wallpaper, sebuah lampu gantung besar diatap, kaca blok besar yang memperlihatkan sepertiga pemandangan Jepang, TV plasma serta beberapa kaset musik, rak buku tinggi dengan berbagai jenis buku mulai dari komik sampai kamus besar bahasa Jepang, kasur King-size dengan seprai torquoise, kamar mandi disudut ruangan—dan Karin berani bertaruh, kamar mandinya tak jauh mewah, sebuah lemari putih dari kayu yang tampak indah, karpet beludru warna biru melapisi lantai marmer yang dingin, foto-foto keluarga Kujyo serta beberapa lukisan yang dibuat oleh pelukis terkenal di dinding, meja dengan berbagai gadget diatasnya, meja belajar, lampu tidur klasik, bahkan kulkas dengan meja makan kecil pun ada! Yah, tipikal rumah para konglomerat. Keluarga Kujyo memang unggul di bidang hiburan, industri, bahkan mode dan masih banyak lainnya. Tak heran mereka sekaya ini.
"Wah! Kalian berdua sudah datang! Silahkan masuk~!" keduanya tersenyum melihat Kazusa dengan bando kelincinya seperti biasa. Gadis itu lalu mendekati Himeka dan memeluknya, "Lama tak berjumpa."
"Yah," Himeka terkikik, "Sama."
"Ayo! Kalian duduklah disini," ucap Kazusa sambil menunjuk karpet beludru biru tadi yang ada meja kecil pendek bulat diatasnya. Ketiganya duduk membentuk lingkarang di sisi-sisi meja, "Nee, ini ada teh dan cemilan. Maaf, hanya ini yang kupunya. Aku lumanyan suka makan," adik Kujyo Kazune itu tertawa, "Karin, kau bisa cerita kalau kau sudah siap."
Kazusa dan Himeka menoleh kearah Karin, "Kazusa, apa kau tahu sesuatu tentang masa laluku?"
Hening. Seketika disana hening. Kazusa menggeleng, "Tidak sama sekali. Memang kenapa?"
"Kemarin, Kazune menciumku," Himeka membelalakkan matanya—terkejut. Sedang Kazusa memandang tak percaya, "Aniki?" tanyanya, "M-memang apa tujuannya?"
"Aku tak tahu," Karin menunduk lalu terisak, "Tapi itu sangat menggangguku. Beruntung hari ini tak ada syuting, aku sama sekali tak fokus. Tapi, yang kukhwatirkan Jin-kun..."
Himeka mengangkat alis, "Kenapa bisa sampai menyangkut pautkan Jin segala, Karin-chan."
"Aku kekasihnya sekarang," bagai ditembak dengan sebuah anak panah tepat di jantung, kedua gadis dihadapannya kembali tak bisa menghilangkan keterkejutan mereka, "Itu ciuman pertamaku..." sambung Karin.
Semua terdiam. Himeka berpikir, Karin mendapat surat cinta Micchi lalu menolaknya dan saat Jin, ia menerimanya. Itu artinya, kemungkinan Karin menyukai Jin. Sedang Kazusa, ia masih tak percaya anikinya itu seenaknya saja mencium seorang gadis yang bahkan sudah punya kekasih.
"Onee-san?" sebuah suara imut membuat ketiganya menoleh. Karin dan Himeka membelalakkan mata melihat sosok seorang anak kecil berumur lima sampai enam tahun yang menyerupai Kazune.
"Wow," Himeka berdecak kagum, "Aku tak tahu Kazune punya replika...?"
Kazusa tertawa kecil, "Dia adik kami, Kujyo Suzune. Kau mau apa heh?" tanya Kazusa pada adiknya—dengan nada suara berbeda, "Belajarlah untuk mengerti suasana!" sambungnya.
"Aku minta jatah permen karetku kemarin yang kau maling dariku," ucapnya dengan nada sangar yang terdengar imut lalu menatap para tamu kakak perempuannya satu-persatu. Himeka? Normal-normal saja di matanya. Karin? Normal. Tapi sedetik kemudian, Suzune menelisik Karin dari atas sampai bawah. Tentu hal itu membuat karin gugup, "E-eh? Ada apa?"
"Aku pernah melihat foto onee-san ini di album foto Kazune-nii-san saat dia masih memakai seragam SMA," seketika semua perhatian tertuju pada bocah pirang itu, "Aku tanya pada nii-san, 'Siapa dia?' dan nii-san bilang, nee-san yang ini adalah bagian dari masa lalunya."
Emerald Karin membola, "L-lalu? Apalagi? Apalagi yang ia bilang?"
"Aku tak begitu ingat. Yang jelas, onii-san bilang, nee-san penting sekali baginya. Walau ia sudah menyukai orang lain, ia bilang, ia tetap tak bisa menghilangkan sosok nee-san semudah itu dari pikirannya. Kira-kira begitu. Nah, mana permenku Kazusa-nee-san?" tuntut Suzune.
Kazusa mendecak lalu berdiri dan mengambil sebuah toples kaca berisi berbagai permen dan memberikannya pada adiknya itu, "Kau harus jelaskan lebih dalam," ucapnya tajam.
Suzune menghela nafas melihat tingkah kakaknya, "Sumpah. Hanya itu yang kutahu, setelahnya, Kazu-nii-san mengusirku. Mau belajar katanya."
"Wah..." Himeka berdecak kagum setelah Suzune pergi, "Adikmu masih berumur lima tahun tapi ia pintar sekali..."
Kazusa terkekeh, "Entahlah... tapi kurasa, ingatannya memang bagus. Mungkin, saat itu nii-san menganggap Suzune masih kecil jadi bisa menjaga hal ini baik-baik sehingga ia menceritakan semuanya—yah, dia memang sangat memanjakan Suzune—kadang-kadang. Lalu... bagaimana Karin?" tanyanya sambil beralih pada Karin.
"Aku akan menemui Rika. Aku berhak tahu masa laluku. Kalau Jin atau Kazune tak mau menjelaskannya, akan kucari tahu sendiri."
.
.
'Yes, i'm selfish. I love somebody else but i don't want to let you go...'
.
.
-TSUZUKU-
.
Abal. Saya tahu itu. Sumpah, kesannya maksa banget ngikutin alur. Oh ya, disini yang tahu masa lalunya Karin cuma Kazune, Jin, Rika dan... Suzune *watados* soalnya, Kazune kan pernah pacaran sama Karin semasa SMA, Jin juga satu SMA sama mereka, Rika pernah pacaran sama Kazune, jadi Kazune pernah cerita ke dia tapi disuruh tutup mulut (Tapi tuh cewek keceplosan terus), Suzune diceritain sama Kazune. Sebenarnya, Kazune gak maksud sengaja kok. Dia ngiranya Suzune masih umur lima tahun, masih cuek-bebek aja, dikirain belum ngerti. Eh, ternyata... muka watados itu menipu. Iya nggak? Entar deh, gue mau bacot apalagi ya? Oh ya, repiunya ya sodara-sodara. Hehe...
Yeyy, makasih banyak yang sudah repiu ya~! Saya senang sekali! Hehe... oke, ayo balas repiu~~!
Guest: wah, wah... benarkah? Makasih banget ya! Hehe, ini dah updated, semoga puas ya! ^^
dci: ini sudah updated, moga puas~! Hehe...
mila: hehe, saya kan gak sadis2 banget~ hehe, iya, iya, ganbatte mo Mila-chan! Makasih banyak ya~! Ini dah lanjut, smeoga puas~!
Kit-chan: makasih banyak ya~! Hehe... nih, Suzune kumunculin. Biar tiap karakter dapat peran :3 hehe... makasih dah repiuuu~!
Miss 16Silent: iya, dia emang... bodoh *watados* Kazune gak gitu playboy, dia bener2 cinta ma Karin tapi... Himeka juga sih, tapi yah, jelas lebih dalam ke Karin lah~! Makasih banyak ya! Hehe, ini dah updated, semoga puas~! ^^
vivi srf: haha, begitukah? Makasihhh~~~ hehe, pastinya lanjut dong~! Iya! Karin harus sama Kazune~! Hihi... makasih dah repiuuu~!
nuri: benarkah? Wah, saya senang sekali~! Hehe, ini dah lanjut, moga puas~!
Guest: ini dah update nii... lama gak? *watados* ini ada adegan kiss-kiss gitu, masuk standarnya romance situ ya? Moga puas deh, saya gak gitu bisa ngetik adegan kiss, kaku banget, sumpah (._.)V hehe... makasih banyak ya, keep RnR~!
yui: iya, ya, Kazune gak tahan sake~! Hehe... baru inget saya... yang dipikiran saya tuh, ceritanya pas karin ma Micchi ngomong ada staff nawarin sake gitu, terus Kazu nerima aja~! Hehe... makasih banyak ya dah repiu, keep RnR~! ^o^
AnandaPtrAbsri: wah, makasih banyak~! Ini dah updated, masih telat kah? *watados* makasih dah repiu, keep RnR ya~!
alya: wah... makasiiihh~! Hehe.. iya dong, jadinya KazuRin. Iya, ya, bagus juga tuh kalo ada adegan cium Karin sama Jin. Biar Kazune makin terbakar api cemburu gituuu *nyalainkorek* *ditimpukKazuneFg* disini dah ada adegan cium Kazurin. Masih belum puas? Saya akan buat yang banyak~! BWAHAHA... *ketawalaknat* *dibakar* tapi maaf kalo kaku ya, saya gak bisa ngetik adegan cium sebegitu WOW-nya. Hehe... ni dah updated, kelamaan gak? Oke, salam kenal juga! Ganbatte mo, makasih dah repiu, keep RnR ya~! Stay tuned-?-~!
syifa: sabar deh, chap depan, Rika akan mengungkapkan segalanya~! Hehe... ehm, kalo gak benci gimana ya? Paling sebatas jengkel deh... soalnya Kazune seenak jidat berima taruhan Jin yang mempertaruhkan hubungan mereka~! Nanti Jin juga kena marah kok. Hehe... ini dh updated, moga puas ya~! Makasih dah repiu, keep RnR~!
.
Fyuhh... capek gue. Hehe... oh ya, minna, karena besok senin dah masuk, saya mau pengumuman dulu nih biar gak pada nuntut updated cepet. Saya kan banyak tugas pastinya, tugas liburan aja belum disentuh sama sekali, jadi... maaf ya, kalo gak bisa updated terlalu cepet, tapi nanti saya ganti deh, pake apa gitu... tambahan adegan romance? Oke. Kazune jadinya ma Karin? Pasti. Apa aja deh... tapi... kalo perpanjangan fic... maaf ya, saya gak sanggup... (-_-")V #PLAK!
Yah, itu sekedar lewat info saja. Hehe, makasih buat yang sudah review, maafkan segala kekurangan fic ini, saya juga manusia jadi pasti ada salahnya dalam hal mengetik. Nah, gimana chap ini? Kerenkah? Jelekkah? Taruh di kolom review ya~! Kalo ada yang punya ide tuk chap selanjutnya, silahkan juga taruh aja. Bebas berpendapat~! Yey~!
Nah, oke, no more bacot, mind to review? (silent readers, tobat ya~? *puppy-eyes*)
