Final Exam
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha Corp.
Warning: AU, and other things.
Rin masuk ke rumahnya dengan suara yang terdengar sampai dapur. Pipinya memerah saat Leon menegur sikapnya. Dengan langkah kaki pelan, ia dan kakaknya berjalan ke arah sang ayah yang duduk di sofa krem. Rin mencium singkat pipi kepala keluarga tersebut, sebelum ikut duduk bersebelahan dengan kakaknya.
"Gimana sekolah?" Leon bertanya. Ia mengalihkan pandangannya dari TV ke Rin sejenak. Leon menatap wajah Rin yang hanya fokus pada wajah penyiar berita di TV—lantas, ia kembali dengan TV yang menampilkan penyiar berita tua. Leon menghela napasnya agak keras untuk kembali mendapat perhatian Rin dan mengulang pertanyaannya.
Rin kaget, "Oh, sekolah?" Leon mengangguk. "Baik. Semuanya baik, Papa," ia tersenyum di akhir kalimat dan kembali ke TV. "Tadi sekolah pulang lebih cepat," Rin kembali pada Leon yang menanti lanjutan kalimatnya, "Jadi aku main sebentar sama temen—" Rin memaksakan senyumnya. Matanya bisa melihat ayahnya yang tersenyum jahil, "—Uh, oke. Tadi aku main agak lama."
"Rin abis pacaran, Pa."
"Rinto-nii!"
Ibunya keluar secara tiba-tiba dari dapur, "Lui?"
"Mama!"
"Bukan, namanya Len."
Lily dengan apron putihnya hanya mengangguk dan mengangkat bahunya, "Nanti kamu kenalin ya!"
"Sama Papa jugaaaa!"
Rin mendelik saat kakaknya tertawa keras. Ia pergi ke kamarnya cepat, lalu membanting pintu dengan keras.
"Rin kenapa?"
Rinto mengangkat bahunya. Ia menekan remote TV, "PMS kali."
—
Rin melempar tas sekolahnya asal sebelum blazernya ikut bergabung dengan tas. Tubuhnya yang ringan menyentuh permukaan kasur. Rin mengangkat kedua kakinya dan menurunkannya—ia melakukan itu beberapa kali, sebelum daun telinganya menangkap suara dari ponselnya.
Ia berdiri kembali, lalu berjalan ke arah tas yang berada di atas lantai. Rin merendahkan tubuhnya untuk menjangkau tas yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Jarinya dengan cepat menarik salah satu ritsleting di sisi tasnya. Tangannya masuk untuk mengambil benda yang ia cari, saat permukaan ponsel pintar tersebut menyentuh telunjuknya, ia segera mengambil ponsel tersebut. Masih dalam posisi yang sama seperti beberapa menit yang lalu, Rin membuka notification yang tertulis di layar ponselnya.
Kagamine Len
Rin, udah sampe rumah? 03.22 pm/read.
Gadis berambut pirang itu tersenyum. Jemarinya bermain di atas layar ponsel. Ia menjawab dengan cepat chat yang baru ia dapat. Masih dengan senyum di wajahnya, ia berdiri. Rin bergerak ke arah kasurnya dan langsung duduk di pinggir. Jarinya kembali bergerak, menutup chat dari Len dan membuka kontak di friends list miliknya. Matanya menatap kontak yang ia buka saat ini—Hibiki Lui. Ponselnya kembali bergetar, tetapi Rin masih tetap bergeming di kontak Lui. Bahkan saat ponselnya kembali bergetar dengan tempo lebih cepat, Rin masih menatap kontak Lui yang tidak menggunakan potret dirinya sendiri sebagai pengenal. Rin masih tidak mengubris getaran di ponselnya, ketika menyentuh tulisan chat di kontak Lui.
Kagami Rin
Lui, udah di rumah? 03.31 pm/delivered.
Bahkan saat nama Len mengisi notificationnya dengan brutal, Rin masih tahan menatap satu pesan yang baru dikirimnya. Entah kenapa, ia ingin berkomunikasi dengan Lui melalui aplikasi chat yang digunakannya. Tiga menit terlewati, Rin masih tahan dengan menatap chatnya yang belum dibalas. Ini jelas tidak biasa—tiga menit adalah waktu terlama Lui untuk membalas chatnya. Rin mengambil kesimpulan sepihak, Lui punya pekerjaan lebih penting daripada membalas chat darinya. Rin kembali ke daftar chat dengan nama Len yang langsung menggeser nama Lui di urutan pertama—angka tiga puluh menghiasi sisi namanya. Ia menyentuh nama Len dan mengikuti perubahan layar dengan chat yang penuh dengan namanya.
Kagamine Len
...
Rin 03.36 pm/read.
Rin 03.36 pm/read.
Rim 03.36 pm/read.
Rib 03.37 pm/read.
Run 03.37 pm/read.
Rum 03.37 pm/read.
RIN 03.37 pm/read.
Kagami Rin
Ya? 03.43 pm/read.
—
Len menatap lama chat terakhir dari Rin yang ia dapat. Jarinya kembali lincah di layar ponsel miliknya, merangkai kalimat muntahan perasaan kekinya kepada Rin. Wajahnya yang ditekuk sembari mengetik terlihat oleh ibunya yang duduk di samping.
"Len," suara lembut ibunya menarik setengah perhatian Len, "Kaa-san minta tolong, tante kamu lagi sakit," kali ini Len benar-benar fokus pada ibunya, "Jadi tolong—stop main hape!"
Len menarik napas panjang, "Aku gak main hape!" ia meninggikan suaranya, "Aku nanya tugas sama temen!"
Sang ibu yang sudah malas berdebat dengan anak sulungnya memilih untuk kembali pada pikirannya. Sedangkan Len, ia langsung kembali mengetik kalimat panjang lebar untuk Rin. Dimulai dengan salam, ucapan puji syukur, isi, dan akhirnya penutup. Dan percayalah wahai saudara-saudara, isinya sama sekali gak penting.
Ini semua cuman karena Rin gak bales chatnya dalam jangka waktu enam menit. Harap dicatat baik-baik, enammenit. Bahkan Len yakin, lebih cepat Ussain Bolt berlari sejauh 100 m dibandingkan Rin membalas chatnya. Yang Len bingung, dia gak peka apa gimana sih? Kalo Len itu lagi bosen abis cuman duduk di dalem mobil yang mengarah ke rumah sakit tanpa hiburan. Ya jadi wajar aja dong, Len sebagai teman Rin membutuhkan percakapan dengan respon cepat.
Kagamine Len
Lo jawab lama amat sih. 03.54 pm/read.
Gue lama banget sumpah nungguin. Malah lagi bosen juga. 03.54 pm/read.
Lo gak peka banget deh. 03.54 pm/read.
Emangnya lo ngapain? Sibuk banget emang? Sampe gak punya waktu buat gue? Gue tau deh Rin, kita emang baru temenan beberapa hari, tapi gak gini juga. Gitu-gitu lo udah gue anggep kenal dari orok. Beneran deh tapi, lo sibuk banget emang? Fyi aja, gue juga hari ini ada yang nantangin, cuman karena lo temen gue, gue rela deh dibatalin. 03.55 pm/read.
Kagami Rin
Bukan gitu. Tapi tadi ada yang nanyain tugas. 03.55 pm/read.
Kagamine Len
OMG. Mau tau sesuatu gak? 03.55 pm/read.
Enam belas cewek ngechat gue, nanya yang lebih penting dari tugas. 03.56 pm/read.
Picture sent. 03.56 pm
Len harus capek-capek ke chat list cuman untuk screen capture ajakan ngobrol dari cewek-cewek yang ngantri buat dia. Dan semuanya, dia diemin cuman buat ngobrol sama Rin. Tapi di satu sisi, Rin malah mementingkan tugas daripada seratus persen atensi yang ia curahkan padanya.
Bagi Len yang sudah terbiasa dengan menjadi prioritas utama, ini jelas gak adil. Dirinya yang selalu didahulukan merasa gak adil. Keadaan ini gak adil. Masa demi tugas, Rin rela membuatnya menunggu enam menit? Apalagi, Len itu temannya! Masa lebih penting tugas dari temennya sendiri?
Masih dengan api baper di hatinya, Len masih asyik menuntut keadilan pada Rin—dia bahkan udah gak sadar mobil udah berhenti di tempat tujuan. Ibunya udah marah-marah nyuruh Len buat turun dari mobilnya. Tepat saat mobilnya menghilang ke tempat parkiran, Len masih berdiam di tempatnya. Membiarkan dirinya tertinggal oleh ibu dan adiknya yang duluan pergi.
Dengan mood yang belum berubah, dia mengecek ponselnya lagi. Belum ada balasan dari Rin—padahal dia yakin, Rin sudah membaca pesannya. Len menghela napas kasar sebelum masuk mengikuti ibunya yang sudah jauh. Baru saja ia ingin bernapas tenang, tetapi pemandangan di depan matanya sudah mencekal seluruh oksigen di sekitarnya.
Pertanyaan menghinggapi otak Len. Sebuah kata meluncur dari bibirnya, "Hah?"
—
Rin memakan teriyakinya dengan satu suapan. Ia mengunyah pelan, tidak berniat menimbulkan suara di tengah diskusi keluarga. Ia hanya malas jika harus membahas topik pelajaran-pelajaran mengenai kedokteran. Lagipula, makan malam keluarga seharusnya menjadi momen paling tenang yang tidak bisa diganggu oleh topik berat seperti anatomi tubuh. Menurutnya, seandainya harus membahas sebuah topik saat makan malam, Rin lebih suka dengan topik yang ringan—seperti, berita kekinian.
"Aku sih sekarang lagi belajar sistem kardiovaskular, Pa. Agak susah sih, cuman aku suka aja gitu."
"Wah, dulu Papa juga suka tuh sistem kardiovaskular."
"Alah, kamu juga dulu paling susah ngapalnya—gaya banget sok-sok suka sistem kardiovaskular."
Lalu mereka semua tertawa, membiarkan Rin yang lebih suka mengunyah suapan teriyakinya dalam diam. Rin sendiri tidak merasa terganggu jika ia harus ditinggal diam di diskusi keluarga. Toh, keluarganya tahu jika Rin tidak suka diajak bicara saat makan malam—walaupun akhirnya mereka akan mencoba melibatkan Rin dalam lingkup diskusi keluarga.
"Rin," Leon mulai melibatkan Rin. Semua orang di meja makan melihat ke arah Rin yang langsung memberikan fokus ke ayahnya, "Kamu gak apa-apa?" ia mengikuti rambut Rin yang bergerak karena gadis itu mengangguk, "Coba Papa tanya—sistem kardiovaskular itu apa?"
Rin tersenyum mendapati kesan ramah yang terselip di setiap ucapan ayahnya, "Anatomi tubuh—peredaran darah."
Ayahnya langsung terkekeh ramah, "Kamu pinter deh! Emang kamu udah masuk?"
Rin menatap ayahnya lama, "Baru sebentar, tapi aku udah—"
"Oh, baru sebentar?" ayahnya langsung menyela. "Papa pikir kamu udah lama masuk pelajaran itu. Soalnya kemarin, pas ketemu Mayu—kamu inget kan? Sepupu kamu yang pinter—Papa tanya-tanya soal sistem kardiovaskular, dia lancar banget! Papa pikir udah masuk," Leon tertawa, "Katanya sih belum, dia belajar sendiri. Hebat ya, belum diajarin udah belajar sendiri." Dan ia kembali tertawa.
Rin hanya tersenyum, sebelum kembali pada makanannya. Ini alasan kenapa dia gak suka ikut dalam diskusi meja makan—dia bakal dibanding-bandingin sama sepupunya yang memang Mary Sue. Dan jika sudah seperti ini, dia perlu usaha ekstra untuk mengendalikan amarahnya—
"Papa tau gak?"
—yang terkadang terlalu sulit untuk dikendalikan.
"Aku baru masuk sistem kardiovaskular, tapi aku juga baca bukunya Rinto-nii yang susahnya minta ampun," Rin membuka mulutnya saat sang ayah ingin menyela, "Tapi aku tetep baca. Sampai akhirnya aku ngerti sedikit demi sedikit. Tapi Papa muji usahaku nggak?" ia membiarkan ayahnya menunduk, "Nggak!"
Suaranya yang tinggi menggema di setiap sudut ruangan. Dari posisi duduk, Rin berdiri—ia menghirup napasnya panjang, lalu mengeluarkannya. Saat ia merasa lebih baik, tangannya yang dekat dengan piring langsung mendorong benda tersebut. Suara prang yang keras memenuhi ruangan itu.
Mata Leon yang penuh sesal menatap Rin takut-takut. Suara langkah gadis itu menandakan bahwa dirinya tidak ingin diganggu oleh siapapun. Leon menatap pecahan piring yang tersebar. Seharusnya dia sadar, anak gadisnya mempunyai anger management yang buruk.
—
Di kamar, Rin langsung mendudukan dirinya di kasur. Agak merasa bersalah telah memecahkan piring—ia berharap ibunya mau memafkannya. Dengan helaan napas pelan, ia berjalan ke arah lemari bajunya. Mencari celana pendek dan baju tidur yang biasa ia pakai saat tidur. Selama beberapa menit selesai mengganti bajunya, Rin kembali ke kasurnya.
Ia menghela napas sebentar sebelum menghempaskan dirinya ke kasur. Rin menggoyangkan kakiknya, ada rasa ganjal di hatinya saat memikirkan kejadian yang barusan terjadi. Apalagi saat ia sempat melihat sang ayah sempat tertunduk dalam tadi. Belum lagi raut wajah ibu dan kakaknya yang kaget sekaligus khawatir. Ia hanya berharap semuanya akan menjadi lebih baik esok hari.
Baru saja Rin menutup matanya, suara ponselnya yang bergetar membangunkannya. Ia mendudukkan dirinya di atas kasur, sedangkan tangannya menggapai ponsel yang tidak jauh darinya. Matanya membaca tulisan yang tertera di sana—nama Lui menghiasi layarnya. Dengan senyum yang tidak dapat ditahan, ia menyentuh kata 'answer' yang diselimuti warna hijau.
Dengan pelan, ia mendekatkan ponselnya ke telinga, "Halo Lui?" Rin membiarkan suara di seberang memenuhi telinganya. Senyum yang tadi hinggap di wajahnya menghilang seketika. Cepat-cepat Rin memutuskan panggilan itu sepihak. Kakinya spontan langsung bergerak ke blouson yang menggantung. Beberapa menit selanjutnya yang terdengar adalah suara Lily yang memanggil nama Rin.
—
Suara pintu kamar rumah sakit dibuka. Pertama kali yang Rin lihat di kamar itu bukan tujuannya. Ia sendiri menautkan alisnya, berpikir kenapa ada Len di sini.
"Len?"
"Rin?" Len berkedip beberapa kali, sebelum memaklumi tindakan Rin. Ia hanya menunjuk tirai biru yang menggantung sebelum bergerak ke arah tirai tersebut. Dengan pelan, Len menggeser tirai itu. "Tuh Lui."
Wajah Lui yang penuh dengan luka jelas membuat Rin shock seketika. Tetapi lelaki berambut oranye itu hanya cengengesan menerima raut wajah panik dari Rin. Ia hanya meminta maaf saat Rin menanyai cerita di balik lebam-lebam tersebut—tidak berniat memberi informasi.
Sebagi ganti Lui, Len membocorkan ceritanya pada Rin. Menurut cerita Len, Lui sedang sakit tetapi masih ingin bentrok dengan sekolah lain. Lui hanya cengengesan saat menerima amarah dari Rin. Len hanya tertawa mengejek sebelum bertanya lebih lanjut dengan siapa Rin kemari. Rin hanya memasukkan tangannya ke saku jaket dan mengangkat bahunya.
Len yang sigap langsung keluar dan menelpon Rinto tentang keadaan adiknya—meninggalkan Rin dan Lui di kamar. Rin tertunduk, ia siap jika harus menerima amarah dari temannya yang sudah ia anggap kakak.
"Lo pulang," suara Lui yang berat menakuti Rin. "Gue di sini ada Len. Gue lagi sakit jadi dia gak bakal bentrok sama gue—faktanya, malah tadi dia bantuin gue," matanya melihat Rin yang tertunduk, "Ya, walaupun tadi kita sempet adu nyolot—tapi untuk sekarang kita baik-baik aja."
"Tapi—"
Lui menarik sisi jaket Rin, lalu mengaitkan setiap kancingnya untuk menutupi tubuhnya yang hanya diliapisi baju tipis. "Gue tau lo pasti lagi berantem. Kalo nggak, lo pasti ke sini dianter," detik selanjutnya pipi Rin menerima bibir Lui yang dingin dan rambutnya diacak-acak oleh tangan Lui yang besar. "Percaya sama gue, semua pasti bakal baik-baik aja."
Rin tersenyum. Ia percaya dengan Lui.
—
Rin keluar dari kamar Lui. Len menyambut dengan helaan napas dan janji Rinto untuk menjemputnya. Ia bergabung dengan Len di tempat duduk tunggu yang sudah disediakan. Len berbicara bahwa kakaknya sudah memberitahu tentang dirinya yang terlibat sesuatu dengan keluarganya dan anger management dirinya yang buruk.
"Anger management gue juga jelek," ia mencibir dalam hati, "Dan biasanya, gue selalu megangin tangan gue kayak gini," ia mengangkat kedua tangannya yang saling menggengam satu sama lain, lalu menjatuhkannya. Selang beberapa detik, Len menggenggam tangan Rin diam-diam, lalu mengangkatnya. "Gimana? Lo masih mau ngamuk?"
Rin tersenyum lebar, "Masih."
Tawa mereka mengambang di udara.
Kehangatan menyelinap di tengah udara dingin rumah sakit.
Entah karena tawa atau genggaman tangan yang tidak ingin mereka lepas.
tbc.
eyy, sudah lama tidak saya tidak update fic ini! /insert awkward silence here/
yes, i know—ini udah lama banget gak update. alasannya adalah... TUGAS—the end. iya tugas menumpuk banget, mati satu tumbuh serebay. dan saya juga gak bisa melalaikan tugas dan fic saya. jadi, saya mengupdate fic ini di tengah tugas banyak, dan maaf kalo ini kurang memuaskan.
itu aja deh—like always, fic ini masih kurang dari kata bagus, so, reviewnya! :3
