IN A VERGE OF A LOVE

Pairing: ichiruki or byakuruki ...let time decides

Disclaimer: Tite Kubo lah, siapa lagi. I only unleash my imagination

Chapter 4

WHAT IS LOOSING?

Karakura. Karakura High School.

Kurosaki Ichigo duduk di bawah pohon sakura di halaman belakang sekolahnya dengan tubuh penat. Tak peduli seberapa kuatnya ia sebagai shinigami, betapa hebat dirinya dalam Bankai, tetap saja ia babak belur menghadapi ujian akhir sekolah yang harus dilaluinya 3 hari terakhir ini. Bagaimana pun juga ujian tetap salah satu momok terbesarnya sebagai seorang manusia. Ia sibuk mengipasi rambutnya yang orange dan berantakan. Rasanya otak manusianya overloaded setelah menghajar soal-soal matematika. Aahh..seandainya aku bisa mengerjakan soal matematika dalam bentuk Bankai, pasti aku punya banyak energi untuk menjawab pertanyaan seteliti mungkin.

Pemuda berambut orange itu menengadahkan wajahnya menatap pohon sakura kesayangannya itu. Sekuntum bunga sakura yang berwarna merah muda dan putih jatuh tepat di wajahnya. Ia tersenyum tipis. Ia masih ingat betapa Rukia menyukai bunga sakura. Rukia senang sekali melihat bunga sakura yang berguguran dari pohon, bagaikan hujan yang turun dengan warna yang lebih indah. Perlahan ia mengingat percakapannya dengan gadis mungil itu. Musim semi yang lalu.

" Kau tahu filosofi bunga sakura, Rukia?" tanya Ichigo yang memperhatikan Rukia yang terpukau melihat hujan bunga sakura.

" Tidak."

" Pohon sakura itu tumbuh sepanjang tahun, melewati 4 musim yang berbeda. Akan tetapi bunga sakura yang indah itu hanya bermekaran di musim semi, tidak lama Rukia..hanya di musim semi. Itulah saat yang paling tepat untuk mengagumi keindahannya. Tapi tidak lama.... di musim gugur, ia kan gugur. Meranggas. Menguning dan jatuh ke tanah, hanya menyisakan onggokan-onggokan dedaunan di tanah yang kita pijak. Kemudian pohonnya akan menjadi pohon yang jelek. Gundul dan tidak dipedulikan siapapun sampai akhirnya, musim semi datang dan ia kembali menjadi putri yang cantik jelita, dan mata-mata yang mencemooh padanya selama musim dingin, kembali menatap terpesona matanya."

Rukia menatap Ichigo dengan pandangan yang penuh dengan keheranan.

" Maksudmu?"

Ichigo terkekeh sebentar," Bodohmu itu memang susah sembuhnya ya Rukia?"

Gadis itu melotot," Kau! Aku kan tidak tinggal di sini. Mana ada pohon sakura di Soul Society..! Jadi jelaskan sejelas-jelasnya padaku apa yang kau maksud."

Ichigo kembali memandangi bunga sakura yang ada di pohonnya," Hidup itu sangat pendek, Rukia. Sangat pendek. Tidak selamanya kita bahagia. Ada kalanya kita mengalami masa-masa sulit, ada kalanya masa bahagiamenghampiri kita. Tapi bukankah indah, jika di masa hidup kita yang singkat ini... kita menjalaninya dengan kebahagiaan seperti bunga sakura. Meski pendek hidupnya, tapi memberi kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya."

Rukia tertegun. Tak pernah didengarnya Ichigo berkata sepuitis itu. Ia tidak tahu bahwa Ichigo, si Rambut orange yang kasar dan kurang tahu sopan santun itu, bisa menjabarkan makna kehidupan yang begitu dalam.

" Indah sekali, Ichigo.."

Ichigo ganti memandangi wajah Rukia dan tersenyum.

" Musim semi yang akan datang kita lalui bersama di bawah pohon sakura ini ya, Rukia..." bisiknya seraya mengambil sekuntum bunga sakura yang terjatuh di tanah.

" Ya, Ichigo.... arigatou."

Pikiran Ichigo kembali ke saat ini, saat di mana ia terduduk di bawah pohon sakura di belakang sekolahnya. Seharusnya ia tidak sendiri. Rukia berjanji bahwa musim semi ini mereka berdua akan kembali menyaksikan gugurnya bunga sakura bersama-sama. Ia berjanji bahwa bersamanya, bersama Kurosaki Ichigo, ia akan mengkaji makna kehidupan bersama-sama.

Ichigo merasa ada yang hilang dari relung batinnya. Ia tak tahu apa yang hilang, selain Rukia. Rukia sudah tidak ada lagi bersamanya, tidak lagi menemaninya melewati hari-hari yang ceria di sekolah, tidak lagi menemaninya membasmi hollow, tidak lagi meledeknya setiap ada kesempatan, tidak lagi menendangnya tiap ia kesal, dan tidak lagi, tidak lagi yang lain. Rukia tidak lagi ada. Ia menghilang dan ia, si bodoh Kurosaki Ichigo tidak bisa berbuat apa-apa.

" Kurosaki…" sebuah suara berat terdengar menyebut namanya.

Ichigo mengangkat wajahnya dan mendapati sahabatnya, Yasutaro Sado memandangnya dengan tanpa ekspresi. Sudah lama sekali rasanya ia tidak melihat Sado.

" Hai Chad, apa kabar? Lama tidak bertemu denganmu."

Sado terdiam. Lama tidak bertemu dengannya? Tiap hari ia bertemu Ichigo dan tiap hari ia menyapa Ichigo. Ichigo lah yang tidak melihat dia. Ichigo-lah yang tidak pernah menyapanya. Entah kenapa sejak pertempuran dengan Aizen tempo hari, Ichigo seperti pindah ke dimensi lain. Selalu termenung dan tidak semangat. Ia seperti berada di dunianya sendiri. Ichigo berubah menjadi bukan Ichigo. Sado memutuskan tidak akan mempermasalahkan hal itu. Sedikit banyak ia tahu kenapa Ichigo berubah. Kuchiki Rukia.

" Baik. Kau?" jawab Sado singkat.

" Yeah……kurasa."

Tiba-tiba Ichigo menyadari bahwa Sado sedang membawa bungkusan yang besar di tangannya. Apa Sado sedang ingin pergi ke suatu tempat?

" Kau mau pergi, Chad? Itu… kau bawa bungkusan besar."

Sado mengangguk," Ya, ke tempat Urahara-san. Akhir-akhir ini ia sangat sibuk dan memintaku membantu."

Mendengar Sado menyebutkan nama Urahara Kisuke, pemilik toko perlengkapan shinigami, Ichigo jadi merasa tertarik. Ia cepat beranjak dari duduknya.

" Wah, sudah lama aku tidak main ke tempat Urahara. Bagaimana kalau aku ikut denganmu? Aku sudah selesai dengan ujian yang memuakkan tadi dan saatnya aku sedikit berolahraga. Pasti ada banyak hal yang bisa aku bantu di toko Urahara. Aku boleh ikut kan, Chad?"

Sado mengangguk dan dengan cepat keduanya berjalan beriringan menuju toko Urahara.

Toko Urahara Kisuke.

Sado benar. Toko Urahara tampak sibuk. Paling tidak tampak berantakan. Ada banyak kotak-kotak besar di dalam toko, bahkan sampai ke luar toko. Jinta dan Ururu terlihat mondar-mandir ke dalam lalu ke luar toko. Benar-benar tidak seperti biasanya kesibukan toko Urahara siang itu.

" Aku datang!" teriak Ichigo mengumumkan pada seisi toko tentang kehadirannya.

Seorang pria tinggi berambut putih dan memakai topi melongokkan kepalanya dari balik tumpukan kotak. Ia tersenyum lebar melihat kedatangan Ichigo dan Sado.

" Kurosaki! Sado! Selamat datang!"

" Wah Urahara, sibuk sekali. Bisnis sedang lancar ya?" Tanya Ichigo dengan semangat," Wah kalau begini terus, kau bisa cepat kaya."

Urahara tertawa," Hahahahaha… bisa saja kau. Sudah lama kau tidak main kemari. Apa sibuk dengan ujianmu?"

" Ya.. aku terlalu sibuk belajar dengan giat, jadi tidak bisa sering-sering main, Urahara. Eh, itu Sado membawakan barang pesananmu ya?" ujar Ichigo mengingatkan. Sado beringsut maju ke depan dengan bungkusan besar yang sedari tadi dibawanya. Dengan cepat bungkusan besar itu berpindah tangan.

" Tapi kau tidak sibuk untuk membasmi hollow kan, Ichigo," sindir Urahara. Ia tahu kalau untuk urusan menghalau hollow, Ichigo selalu bisa diandalkan.

" Hahahahaha…." Ichigo Cuma bisa tertawa.

" Karena kau dan Sado sudah di sini, tolong bantu angkat kotak-kotak yang masih banyak di luar itu ke dalam ya," kata Urahara setengah memerintah. Ichigo langsung mengernyitkan dahinya yang memang sudah berkerut. Ia sudah hafal kebiasaan Urahara. Jangan harap kau bisa makan gratis di rumahnya, kalau kau tidak bekerja. Tanpa banyak bicara ia dan Sado langsung memindahkan kotak besar dan kotak kecil yang jumlahnya tidak sedikit dari luar rumah ke dalam rumah.

Setelah semua pekerjaan selesai, Urahara mengajak mereka berdua ke ruang makan. Ururu sudah menyiapkan makanan kecil dan minuman di meja. Tanpa menunggu waktu lebih lama, Ichigo dan Sado menyantap hidangan yang disediakan dengan lahap.

" Sebenarnya aku heran, kok banyak sekali daganganmu sekarang, Urahara. Apa sekarang kau juga berjualan barang dagangan untuk manusia?"

Ichigo paham benar bahwa Urahara Kisuke yang mantan Captain di Gotei 13 itu cuma menjual barang-barang perlengkapan shinigami, oleh karena itu dia heran banyak sekali barang-barang jualannya jika ia hanya menjual barang untuk shinigami.

" Oh tidak..tidak, Ichigo. Itu bukan barang-barang yang akan kujual pada manusia. Semuanya untuk shinigami."

" Untuk shinigami? Barang sebanyak itu?" Ichigo terdengar heran.

Urahara menyeruput isi cangkir dengan perlahan, " Ya, semuanya itu pesanan."

" Pesanan? Aku tidak tahu shinigami butuh barang sebanyak itu."

Urahara terkekeh," Memang, ini kan karena ada perhelatan akbar di Soul Society. Itu sebabnya mereka butuh banyak barang untuk acara itu. Aku harus menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk acara itu. Belum lagi pesanan dari shinigami yang ingin memberikan kado khusus…."

Belum sempat Urahara menyelesaikan omongannya, Ichigo yang tambah penasaran memotong perkataannya.

" Wah… seru sekali. Sepertinya ada pesta. Ada acara apa memangnya, Urahara?"

Urahara tersenyum," Memang akan ada pesta, Kurosaki kun dan kau tahu sendiri betapa jarangnya ada pesta diadakan di Seireitei. Seingatku sudah puluhan tahun tidak ada pesta di sana."

" Wah sampai seserius ini shinigami merayakan pesta. Pesta apa, Urahara?" Ichigo makin semangat. Setahu dia, shinigami itu kerjaannya hanya membasmi hollow, bertarung, melatih bankai dan aktivitas lain yang jauh sekali dari kata pesta.

" Pernikahan Byakuya."

Mendengar nama kakak angkat Rukia disebut, Ichigo tertawa senang.

" Apa? Byakuya akan menikah? Kuchiki Byakuya?"

Urahara ikut tertawa," Ya.. Kuchiki Byakuya, memang ada orang lain dengan nama Byakuya di Soul Society? Ichigo Baka! Itu sebabnya semua orang sibuk. Semua anggota Gotei 13 sibuk mempersiapkan pernikahan Kuchiki. Apalagi orang-orang dari divisi 6, sibuknya bukan kepalang. Aku harus bolak-balik ke Seireitei, ada pesanan ini, pesanan itu, wah tidak ada habis-habisnya."

" Tentu saja semua sibuk. Byakuya itu kan perfeksionis, pasti dia mau semuanya yang paling bagus, betul kan Urahara?" tukas Ichigo. Ia teringat betapa dingin dan tak banyak omongnya sosok Byakuya itu. Bukan sosok favorit dia pastinya, tapi karena ia kakak angkat Rukia ia harus menjaga perasaan Byakuya yang dingin itu.

" Ya, dia memang mau yang terbaik," jawab Urahara.

Ichigo mendadak tersentak," Wah aku kenapa belum diundang ya? Apa undangan untukku ada padamu, Urahara?" Suara Ichigo terdengar agak panik. Ia ingin sekali datang. Ia ingin bertemu Rukia. Ini adalah kesempatan terbesarnya untuk bertemu Rukia. Kesempatannya untuk mengatakan hal yang belum pernah dikatakannya pada Rukia. Perasaannya pada gadis itu.

Urahara menggeleng," Tidak. Memangnya Rukia belum mengundangmu secara langsung? Kau kan sahabatnya." Ia terdengar sedikit heran.

" Belum. Si bodoh itu belum mengundangku ke pernikahan Byakuya," Ichigo menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Kebiasaannya jika ia sedang kebingungan.

Urahara terdiam untuk beberapa saat. Ia seakan menyadari sesuatu. Ichigo tidak tahu apa-apa. Ditatapnya Ichigo dalam-dalam, mencoba melihat apakah benar Ichigo tidak tahu tentang pernikahan itu. Yang dilihatnya hanya seorang pemuda berumur 18 tahun, berambut orange yag menatap dia keheranan seperti orang bodoh.

" Rukia tidak mengatakan apa-apa padamu ya, Kurosaki?"

" Tentang pernikahan Byakuya? Belum. Dasar bodoh. Masa ia tidak cerita apa-apa soal pernikahan kakaknya. Awas kujitak dia kalau aku bertemu dia nanti," wajah Ichigo terlihat sebal. Ia merasa sebal bahwa Rukia tidak cerita apapun tentang pernikahan itu.

" Kurosaki…. yang menikah itu Rukia," ujar Urahara sangat lirih.

Mendengar perkataan terakhir Urahara, Ichigo merasa ia seperti mendengar petir di siang bolong. Mengagetkan dan di waktu yang sama dirinya merasa seperti diestrum oleh listrik bertegangan tinggi. Apa ia tidak salah dengar? Urahara baru saja mengatakan bahwa yang akan menikah adalah..RUKIA?

" Urahara-san…. Tadi kau bilang Rukia?"

" Ya, Rukia."

" Tapi tadi pertama kali kau bilang yang akan menikah Byakuya, kenapa sekarang kau bilang Rukia?" Ichigo sudah kehilangan hampir seluruh senyum dari mulutnya yang sejak tadi berkembang terus.

Urahara menatapnya tajam, lalu berkata dengan sangat jelas," Aku cukup heran Rukia tidak mengatakan apa-apa padamu, tapi biar aku jelaskan. Yang akan menikah itu memang Byakuya….."

Ichigo langsung merasa lega, berarti tadi dia salah dengar. Akan tetapi kata-kata yang keluar dari mulut Urahara berikutnya membuatnya hampir kehilangan udara.

'" …………… dan Byakuya akan menikahi Rukia. Kuchiki Rukia sahabatmu."

Udara di sekitar Ichigo mendadak menipis. Semua oksigen seakan terbang menjauh. Paru-parunya tak bisa menangkap oksigen di sekitarnya. Ruang geraknya perlahan menyempit. Tidak ada lagi Sado yang sedari tadi diam mendengarkan percakapannya dengan Urahara. Tiada lagi sosok Urahara yang flamboyant itu. Tiada lagi Jinta dan Ururu yang sedari tadi sibuk membereskan barang-barang. Yang hanya dirinya sendiri. Seorang Ichigo yang sedang kehilangan nafasnya. Perlahan tapi pasti ia kehilangan nafas kehidupannya. Rukia-nya. Rukia nafas kehidupannya. Lalu ruang gerak itu menghitam dan menghilang. Gelap.

+++++++++++++++++++#############+++++++++++++++++##########

Akhirnya chapter 4, selesai juga sesuai dengan permintaan para Readers-tercintaku sekalian hehehehhehe, jam 2 pagi nih baru selesai.

Untuk:

Ruki chan 'pippy'

Sarsaraway20

Zangetsuichigo 13

Riztichimaru

Hwarang ichikurasaki

Girlinlightblue

Yanz Ichiruki-chan

Kuroi no yukii

Thanks for spending your time reading this fict..... review dari kalian semua-lah yang memberiku semangat untuk menulis tiap malam *lebay mode on* hehehehehehe...

Keep Read n Review! Domo arigatou...