Baekhyun menghela napasnya dan merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya. Ia kembali terbangun pada jam tiga setelah kembali dari rumah sang Nenek. Seakan sudah menjadi kebiasaannya untuk bangun pada jam tiga dini hari. Namja mungil itu menatap langit malam yang masih disinari oleh sinar bulan dan sedikit bintang yang nampak. Ia juga mencoba untuk menghirup udara malam yang membuatnya merasa tenang.
Ia sudah memutuskannya.
Ia akan menerima tawaran Chanyeol kala itu sesuai dengan apa yang diinginkan hatinya. Persetujuan Neneknya sudah cukup membuatnya tenang dan ia tidak peduli lagi jika dirinya harus mendapat kemarahan besar dari Ibunya. Ia ingin bebannya terangkat, beban yang begitu menyesakkan di dalam dadanya. Baekhyun menyadari bahwa selama ini dirinyalah yang selalu membatasi apa yang diinginkannya. Bukan karena Ibunya yang melarang atau karena dirinya yang harus melindungi Kyungsoo. Ia hanya membatasi keinginan hatinya agar ia tidak terluka kembali.
Terluka untuk kedua kalinya.
Ia tatap sang bulan yang menyinari malamnya bumi dan tanpa sadar ia memejamkan matanya. Berdoa kepada Sang Rembulan yang Agung akan pilihan hatinya. Berdoa untuk segala kemudahan dan ketepatan dalam pilihannya agar tidak ada rasa menyesal dalam pilihannya. Kali ini ia tidak ingin keraguan mengambil hatinya dan membuatnya menyesal. Tidak untuk kesempatan besar yang diberikan Chanyeol. Kesempatan yang akan membawa banyak hal baru dalam hidupnya.
.
.
.
.
-Melody-
.
.
.
.
Melody
ChanBaek, HunKai, little bit -SuDo.
School-life, Romance (maybe), Aneh
T
Cerita ini asli milik pemain cuma minjam imajinasi cerita keluar dari otak gila saya terima kritikan apabila ada salah kata, saya minta .
Warn: YAOI, TYPO, cerita abal-abal, dan efek samping yang lain.
Kalimat bergaris miring berarti pemikiran dari orang itu, oke?
.
.
.
.
-Melody-
.
.
.
.
Sehun memelankan laju mobilnya sesaat setelah mobilnya memasuki halaman depan rumah Keluarga Kim. Ia beranjak keluar dari mobilnya dan berjalan dengan santai menuju ke dalam rumahnya. Kali ini ia disambut oleh kakak Jongin, Joonmyeon yang sepertinya akan berangkat ke kantornya. Namun ini masih terlalu pagi bagi seorang CEO untuk datang ke perusahaannyakan?
"Aku ada jadwal meeting di Jepang jadi aku harus segera berangkat. Aku titip Jongin ya Sehun-ah. Aku pergi." Ucap Joonmyeon yang seakan bisa membaca pikiran Sehun. Namja tampan itu hanya menganggukkan kepalanya dan menatap kepergian Joonmyeon. Ia langkahkan kakinya memasuki rumah Jongin dan saat kedua orang tua Jongin melihatnya, seperti biasa mereka mengajaknya untuk sarapan.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Sehun-ah?" tanya Bibi Kim yang sedang menuangkan jus buah ke dalam gelas sang suami yang asyik dengan koran paginya. Sehun membalas seperlunya sambil menunggu Jongin turun dan tak lama kemudian, namja itu turun bersama sang kakak pertama yang bernama Minseok. Namja manis dan mungil yang akan menikah dua bulan lagi dengan kekasihnya yang berasal dari China. Sehun lupa nama namja itu namun untuk sekarang semua itu tidaklah penting.
Yang terpenting adalah sosok Jongin yang entah bagaimana nampak begitu manis di mata Sehun. Kali ini Jongin mewarnai rambutnya dengan warna hitam alami, membuatnya tampak semakin manis bahkan terlihat begitu sempurna. Menyadari arah pandangan Sehun mampu membuat Jongin dengan sengaja menendang kaki Sehun dari bawah meja. Membuat namja yang sedang meminum jusnya itu tersedak dengan tingkah Jongin. Sedangkan Tuan Kim dan Minseok mencoba untuk tidak melepas tawanya. Mereka sangat menyukai saat-saat dimana Sehun akan memandang lekat Jongin dengan tatapan terpesonanya dan Jongin akan memukulnya karena ia malu. Oh tentu saja kedua namja itu tahu apa yang bisa membuat sosok jongin berubah menjadi sedikit bar-bar hanya karena dipandang seperti itu.
"Sehun-ah, kau baik? Astaga kenapa bisa kau tersedak seperti itu." Ucap Nyonya Kim sambil memberikan sekotak tissue kepada Sehun. Namja tampan itu segera membersihkan tumpahan jus dari mulut hingga yang berada di atas meja. Membuat ia tidak menyadari bahwa diam-diam Jongin menyunggingkan senyuman tipisnya. Sehun merutuk sikap Jongin yang seenaknya menendang kakinya. Dengan berbekal kesabaran yang tinggi namja itu mencoba melupakan tindakan Jongin.
"Kami berangkat." Ucap Jongin tiba-tiba setelah menghabiskan segelas penuh susu kesukaannya dan melangkah meninggalkan Sehun. Sehunpun langsung berpamitan kepada semua keluarga Kim dan menyusul Jongin yang sudah masuk ke dalam mobilnya. Sehun membuka pintu mobil lalu menutupnya. Ia nyalakan mesin mobilnya lalu terdiam sejenak saat memikirkan sesuatu.
"Kenapa?" tanya Jongin heran saat ia melihat Sehun terdiam. Namja tan itu menatap ke arah Sehun yang kini menatapnya. "Ada apa?"
"Kenapa kau menendangku tadi?" tanya Sehun yang hanya dibalas dengan dengusan oleh namja tan itu. Namun entah kenapa dadanya bergemuruh mendengar pertanyaan dari Sehun tersebut. 'Karena kau membuatku malu, sialan. Dasar tidak peka.'
"Karena kau melihatku dengan tatapan anehmu itu."
"Lalu kenapa jika aku melihat dengan tatapan anehku? Aku sedang melihat tunanganku sendiri, bukan melihat tunangan orang lain." Balas Sehun cepat. Ia tidak mengerti dengan tindakan Jongin tadi. Apakah salah jika dirinya memandangi tunangannya sendiri? Ia merindukan Jongin tentu saja karena itulah ia memandangnya intens untuk mencetaknya dalam setiap memori indah di dalam kepalanya. Sedangkan Jongin namja tan itu berdehem sejenak saat ia merasa jantungnya berdetak lebih keras saat Sehun menyebutnya 'Tunanganku'. Jongin mengutuk dirinya yang malah bersikap seperti seorang gadis yang baru saja mendapatkan ajakan berkencan dari sosok yang ia suka.
"Po-pokoknya tidak boleh. Bu-bukankah kita selalu bertemu jadi kau ti-tidak usah memandangku seperti itu. Sudahlah, ayo berangkat nanti kita terlambat." Sial. Bagaimana bisa Jongin berubah menjadi sosok yang gagap seperti itu. Ia alihkan pandangannya keluar jendela tanpa mau melihat Sehun yang menatapnya lekat. Namja tampan itu sepertinya masih belum bisa mengerti alasan kenapa Jongin menendangnya hingga ia lebih memilih untuk menghela nafasnya.
"Jongin." Panggil Sehun yang langsung ditatap balik oleh Jongin. Dengan cepat, Sehun mendekatkan dirinya ke arah Jongin yang terpaku atas tindakannya. Meraih sabuk pengaman yang belum terpasang lalu memasangkannya. Dalam jarak sedekat itu, Jongin bisa menghirup aroma kuat dan menenangkan dari Sehun. Ia juga bisa melihat garis wajah Sehun yang tegas dan saat Sehun kembali ke tempat duduknya. Wajah memerah Jongin tidak bisa tertutupi lagi.
"Kau baik Jongin?" tanya Sehun sambil mengernyitkan alisnya bingung. Ia baru saja akan melajukan mobilnya saat melihat wajah Jongin memerah. Entah kenapa Sehun merasa sikap Jongin aneh kali ini dan Sehun tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. "Apa kau sakit?"
Jongin menggelengkan kepalanya dan langsung mengalihkan pandangannya. Sehun yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dan menjalankan mobilnya menuju ke sekolah mereka. Menghiraukan kekhawatirannya, Sehun mencoba untuk memfokuskan dirinya selama ia mengendarai mobilnya. Tanpa menyadari wajah Jongin yang semakin memerah dengan senyuman tipisnya. Tampak begitu manis dan menggemaskan.
'Oh Sehun sialan. Jantung sialan.'
-Melody-
Chanyeol baru saja bertemu dengan Song-songssaenim saat ia melihat sosok Baekhyun berdiri di ujung koridor sekolah mereka. Namja itu mengernyitkan alisnya bingung saat melihat Baekhyun. Pasalnya, bel istirahat belum berbunyi dan sekitar tiga puluh menit lagi bel akan berbunyi dan Baekhyun sudah berada di luar kelas. Dengan perlahan namja tinggi itu berjalan mendekati Baekhyun yang sedang bersandar di dinding koridor. Namja mungil itu mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke atas lantai, seakan memberi isyarat bahwa ia sedang bosan dan gelisah.
"Baekhyun." Panggil Chanyeol yang langsung mendapat atensi namja mungil itu. Melihat Chanyeol yang sedang berjalan ke arahnya, Baekhyun langsung menegakkan tubuhnya dan menunggu namja tinggi itu berdiri tepat di hadapannya. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku menunggumu." Jawab Baekhyun cepat membuat Chanyeol mengernyitkan alisnya sedangkan Baekhyun, ia mengutuk dirinya yang menjawab pertanyaan Chanyeol dengan cepat. Namja mungil itu memang sedang menunggu Chanyeol namun entah bagaimana saat Chanyeol sudah berada di hadapannya, ia malah merasa gugup, sangat gugup. Jantungnya berdetak begitu cepat dan Baekhyun tidak tahu kenapa.
"Bel istirahat sekolah belum berbunyi dan kau- Apa kau membolos?" tanya Chanyeol cepat. Namja tinggi itu tidak tahu apakah Baekhyun memang membolos atau tidak namun entah kenapa dadanya bergemuruh dengan cepat saat ia menyadari bahwa Baekhyun sedang menunggunya.
"Tidak. Aku tidak membolos. Kim-ssaem tadi memberikan tugas dan ternyata aku selesai terlebih dahulu. Karena itulah aku meminta ijin kepada beliau dan beliau menginjinkanku untuk meninggalkan kelas terlebih dahulu." Jelas Baekhyun yang langsung mendapat anggukan dari Chanyeol.
"Kita bicara di kantin saja kalau begitu. Toh, sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi." Ucap Chanyeol yang langsung mendapat persetujuan Baekhyun. Keduanyapun berjalan bersampingan namun tak ada kata yang terucap. Hanya diam sambil memandang lurus ke arah jalan di depan.
Kantin sekolah mereka berada di lantai satu bagian barat sekolah. Walaupun sekolah mereka menyediakan makanan sesuai dengan ketentuan, ada beberapa kios jajanan yang terjual disana. Memilih untuk berdiskusi di kantin pada jam segini adalah hal yang tepat karena kantin masih sepi oleh para siswa. Mungkin hanya ada beberapa siswa yang membolos namun Chanyeol rasa itu lebih baik daripada mereka harus bicara ditempat lain pada jam sekolah seperti ini. Baekhyun berjalan terlebih dahulu dan mendudukkan dirinya di salah satu meja kantin yang menjadi tempat favoritnya. Chanyeolpun lebih memilih untuk berjalan menuju salah satu kios minuman, memesan dua buah minuman sebelum mendudukkan dirinya di depan Baekhyun.
"Jadi, kenapa kau menungguku? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku?" tanya Chanyeol penasaran. Menekan rasa gugupnya dengan berbincang berdua bersama Baekhyun seperti ini membuat tangan Chanyeol berkeringat. Ia tidak menyangka bahwa Baekhyun akan terlihat begitu manis jika duduk berhadapan seperti ini. Baekhyun yang mendengar hal itupun menganggukkan kepalanya dan menatap Chanyeol lekat.
"Aku ingin menjawab permintaanmu waktu itu." Hening sejenak sebelum Baekhyun kembali melanjutkan ucapannya. Ia bersyukur karena Chanyeol mau mendengarkan ucapannya tanpa menyela. "Aku bersedia menjadi partnermu tapi aku mempunyai 3 persyaratan untuk itu."
Baekhyun tidak tahu apakah dirinya sudah bersikap lancang dengan berkata seperti itu atau tidak. Yang jelas ia sedang mencoba untuk memantapkan hatinya bahwa ia akan merasa baik-baik saja. Ia tahu bahwa seharusnya ia bersikap profesional namun hatinya masih belum bisa melepas rasa takut yang entah kenapa muncul begitu saja. Tanpa sadar Baekhyun menundukkan kepalanya saat Chanyeol terus menatapnya. Ia tidak tahu apakah Chanyeol sedang menimbang ucapannya barusan atau malah sedang memikirkan berbagai cara untuk menyumpahinya.
"Apa saja persyaratan itu?" tanya Chanyeol yang langsung membuat Baekhyun mendongak. Chanyeol tidak tahu apakah dirinya memilih pilihan yang tepat dengan memenuhi semua syarat dari Baekhyun. Namun jika dipikirkan adalah Baekhyun akan menjadi partnernya nanti dan sepertinya memenuhi persyaratan namja mungil itu terdengar tidak buruk.
Baekhyun berdehem sejenak sebelum menatap balik Chanyeol. "Pertama, aku tidak ingin siapapun tahu bahwa aku akan melakukan pementasan itu denganmu sampai waktu festival tiba, kecuali Song-songssaenim yang memang mengurus hal semacam itu. Lalu yang kedua, aku tidak ingin kita berlatih di sekolah kecuali jika ada keadaan yang mendesak. Terakhir, aku ingin… memakai topeng saat pementasan berlangsung,"
Lirihan Baekhyun diakhir kalimat membuat Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung. Bagaimana bisa Chanyeol membiarkan Baekhyun memakai topeng disaat ia bisa membuat namja mungil itu untuk tampil bersamanya dan menunjukkan kemampuannya? Tidak mungkinkan jika Chanyeol harus memakai topeng juga untuk menyamakan penampilannya dengan Baekhyun. Chanyeol rasa untuk syarat terakhir terdengar mustahil bagi Chanyeol untuk disetujuinya.
"Aku menerima dua syaratmu dan menolak syarat terakhir-,"
"Jika kau tidak bisa menerima semua syarat itu, maka kau harus menerima kenyataan kalau aku tidak akan pernah tampil bersamamu dalam pementasan itu," Baekhyun tahu ia sangat egois dengan memaksakan persyaratannya namun hanya itu yang bisa membuatnya sedikit lega. Entahlah Baekhyun tidak pernah merasakan perasaan bimbang yang berlebih seperti ini. bahkan tadi pagi saat dirinya sudah memutuskan untuk menerima permintaan Chanyeol, sekarang dirinya malah memberikan beberapa persyaratan. Ah, apa yang sedang terjadi dengannya?
"Baiklah, tapi berikan aku satu alasan kenapa kau harus memakai topeng saat pementasan berlangsung?" Chanyeol dapat melihat bagaimana gelisahnya Baekhyun mendengar pertanyaannya barusan. Namun, Baekhyun hanya diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Namja mungil itu akhirnya menundukkan kepalanya sejenak sebelum mengambil nafas dengan perlahan. Baekhyun tahu apa yang akan ia lakukan dan ia akan menerima segala konsekuensinya.
"Aku akan memberitahumu nanti, setelah pementasan berakhir. Aku janji,"
-Melody-
Ruang latihan dance kali itu sangat ramai. Banyak sekali siswa yang sedang meliuk-liukan tubuhnya mengikuti alunan lagu yang di putar. Ada juga yang sedang memberikan pengarahan kepada temannya yang lain tentang beberapa gerakan. Semua orang sibuk dengan tarian mereka tanpa menyadari sosok Sehun yang datang memasuki ruangan. Namja itu duduk di salah satu bangku disana dan mengamati semua orang yang sedang menari. Hingga perhatian sang pelatihpun tertuju kepadanya dan segera menyuruh semua siswanya untuk mendekat.
"Baik, anak-anak. Sebelum festival sekolah akhir tahun nanti, sekolah kita akan memberikan kesempatan kepada kita untuk mengikuti Lomba Tari Tingkat Nasional. Karean itulah, Song-ssaem akan membantu kita untuk mempersiapkan segala keperluan untuk lomba besok. Sesuai dengan pengumuman yang kalian lihat tadi pagi, kita akan berangkat dengan 10 orang dan 7 orang tambahan untuk lomba besok."
Semua siswa yang disana langsung berbisik dan penasaran dengan apa yang diucapkan oleh sang pelatih namun bagi Jongin, ia sudah tidak terkejut lagi karena ia memang sudah mengetahuinya. Ia hanya akan diam menunggu sampai sang guru berbicara langsung kepada mereka. Melihat antusias para siswanya, sang pelatihpun hanya tersenyum dan mempersilahkan Sehun untuk mendekatinya. Membuat pekik kehebohan langsung memenuhi ruangan dan Sehun hanya bisa memasang wajah datarnya.
"Dia adalah Oh Sehun, dia yang akan mengatur segala keperluan kita selama lomba berlangsung. Dialah kepala manager disini jadi aku harap kalian tidak melakukan hal-hal aneh. Apa kalian mengerti?" semua siswa serempak menjawab pertanyaan sang pelatih sebelum latihan di bubarkan. Sang pelatihpun hanya memanggil para siswa yang menjadi peserta lomba dan menunggu sejenak.
Jongin tidak terkejut lagi jika Sehun akan menjadi managernya dalam perlombaan kali ini, ia tahu bahwa ada campur tangan dari kedua orang tua mereka. Karena itulah, ia hanya diam dan menunggu. Setidaknya ia tidak akan melakukan apapun sendiri lagi selama lomba berlangsung seperti sebelumnya. Ia bisa fokus kepada tarian yang akan ia tampilkan. Ia edarkan pandangannya ke sekitarnya dan mengamati beberapa anak yang sedang serius mendengarkan ucapan sang pelatih.
"Jongin-ah, kau yakin akan melakukan kontem seperti yang kita rencanakan?" tanya sang pelatih. "Ya, ssaem. Aku sudah mencari beberapa lagu yang pas dan juga gerakannya. Ah, aku juga beberapa hal yang bisa dimasukkan ke dalam kriteria yang ssaem inginkan."
"Benarkah? Kalau begitu perlihatkan kepadaku nanti. Oh iya, kau akan langsung di urus oleh Sehun karena disini tingkatmu lebih mendapat banyak perhatian. Yang lainnya, jangan mengira kalian berada di tingkat yang biasa sehingga kalian bisa bersantai. Aku tidak akan pernah melakukannya, jadi kerahkan seluruh tenaga kalian. Mengerti?"
Serempak merekapun menjawab dengan lantang dan penuh semangat. Sehun bahkan berusaha untuk menahan senyumnya karena entah bagaimana keadaan mereka mengingatkannya kepada masa-masa ia mengikuti lomba basket awal tahun lalu. Dengan penuh semangat terus berlatih hingga akhirnya membuahkan hasil walaupun menjadi runner-up di Kejuaraan Nasional. Namun tetap saja itu adalah hal yang membanggakan tentunya dan ia harap tahun depan mereka akan mendapatkan juara pertama.
Sehun kembali mengamati sang pelatih sebelum pandangannya beralih kepada Jongin. Namja itu sedang sibuk menjelaskan beberapa gerakan kepada salah satu temannya. Entah kenapa saat Sehun melihat Jongin terlihat serius mengatakan sesuatu yang ia suka, namja itu terlihat begitu menggemaskan. Bahkan saat ia menukikkan alisnya atau membenarkan gerakan temannya dengan helaan nafas terlihat sangat lucu baginya. Sisi seorang Jongin yang lain dan Sehun bersyukur karenanya.
"Baiklah. Latihan kali ini cukup sampai disini. Sampai ketemu dua hari lagi." Akhir sang pelatih. Para siswapun mulai berjalan keluar disusul sang pelatih meninggalkan Sehun dan Jongin berdua di ruangan itu. Sehun berjalan mendekati Jongin yang sedang membereskan barang-barangnya.
"Kau tidak marah?" tanya Sehun tiba-tiba yang mampu membuat alis Jongin mengernyit. Ia alihkan pandangannya sejenak sebelum mengemasi barangnya kembali. "Kenapa aku harus marah? Toh aku sudah bisa menduga bahwa ini akan terjadi."
"Oh iya? Lalu kenapa saat dulu aku menawarkan diri untuk menjadi managermu kau menolaknya? Bahkan kau dengan kasarnya mengusirku keluar." Ucap Sehun tanpa pernah mengalihkan pandangannya kepada Jongin. Namja tan itu bergumam sejenak sebelum menatap penuh kepada Sehun.
"Karena waktu itu status kita berubah dan aku tidak menyukainya. Lagipula untuk lomba kali ini, aku memang membutuhkan manager jadi aku tidak menolaknya." Jawab Jongin yang langsung memanggul tasnya. Berjalan keluar ruangan meninggalkan Sehun yang terdiam. Entah kenapa perkataan Jongin tadi mampu membuat Sehun merasa sesak di dalam dadanya.
'Lalu apa sekarang status itu bisa kau terima Jongin-ah?'
-Melody-
Baekhyun memainkan ponselnya sejenak sebelum memandang keluar kamar. Pikirannya tidak bisa diajak bekerja untuk memahami pelajaran untuk hari esok. Ia bimbang apakah dirinya harus menelpon Neneknya atau tidak. Ia selalu mengatakan segala keputusan yang ia buat kepada Kyungsoo dan juga Nenenknya. Karena keduanyalah orang yang selalu memahami dirinya bahkan Neneknya hanya melihat ke dalam mata Baekhyun, maka ia tahu apa yang sedang terjadi kepada Baekhyun. Namun apakah masalah ini harus ia beritahukan kepada sang nenek?
Baekhyun beranjak dari kursi belajarnya menuju balkon kamarnya. Duduk di atas ayunan sederhana yang ada disana dan merapatkan selimut di tubuhnya. Angin malam yang berhembus tidka terlalu kencang namun menghantarkan hawa dingin yang sedikit tidak ia suka. Tangannya kembali menatap ponselnya yang menampakkan kontak rumah sang Nenek. Ia amati dengan seksama konta nomor itu sebelum ponselnya berbunyi. Telepon dari rumah sang Nenek.
"H-hallo." Panggil Baekhyun dengan gugup. Membuat suara sang Nenek dari seberang ponselnya yang sedang tertawa mampu membuatnya malu. Bahkan pipinya sedikit merona karenanya. "Hallo, sayangku Baekhyun. Apa kau sedang menunggu telepon dari Nenek?"
"Ah, t-tidak. Bukan itu Nek, aku hanya kaget saja kenapa Nenek menelponku malam-malam begini." Kilah Baekhyun sambil menyamankan duduknya di atas ayunan. Senyumnya tidak pernah menghilang dari bibir tipisnya. "Benarkah? Seharusnya aku menelponmu sejak tadi tapi aku sadar bahwa mungkin kau sedang belajar. Ah, kau sudah belajar?"
"Tentu saja sudah, jika belum selesai aku mungkin akan membiarkan telepon Nenek." Ucap Baekhyun yang langsung mendapat tawa dari sang Nenek. Ah, ia bahkan dapat membayangkan dengan jelas bagaimana Neneknya itu tertawa. Padahal mereka baru saja bertemu kemarin namun sekarang entah kenapa perasaan rindu itu sudah datang.
"Ah iya, Nek. Ada yang ingin aku beritahu," ucap Baekhyun ragu. Tidak ada jawaban maupun balasan dari sang Nenek dan Baekhyun rasa ia sudah tidka bisa menahannya lebih lama lagi. Ia harus memberitahukannya. "A-aku akan bermain pinao lagi. Saat festival akhir tahun nanti, aku akan bermain piano bersama temanku. Kami akan berduet."
Tidak ada jawaban maupun suara apapun dari seberang telepon membuat Baekhyun merasa khawatir. Ia tidak tahu apakah Neneknya akan mendukungnya atau tidak yang jelas sesuai dengan ucapan Neneknya kemarin, ia akan memilih untuk kembali bermain piano. Ia ingin bermain setidaknya satu kali lagi dalam hidupnya agar ia tidak menyesal. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya dan Baekhyun tidak ingin menyia-nyiakannya.
"Baekhyun-ah." Panggil sang Nenek yang langsung mendapat atensi dari Baekhyun. Namja mungil itu menunggu sang nenek mengutarakan pendapatnya dengan jantung berdetak begitu cepat. "Baekhyun-ah, apapun keputusanmu untuk bermain piano atau tidak, Nenek dan Kakek akan selalu mendukungmu. Jika kau ingin mencobanya untuk kali ini maka Nenek akan mendukungmu. Nenek akan selalu mendukungmu dalam segala hal yang kau pilih karena tulah, jangan menyerah dan ragu-ragu lagi. Nenek akan selalu ada untuk melindungi dan mendukungmu."
Entah kenapa Baekhyun ingin menangis rasanya. Menangis dalam rasa bahagia yang meluap bahkan Baekhyun ingin berteriak untuk mengutarakan perasaan bahagianya. Mendengar persetujuan dari Nenek dan juga Kakeknya membuat Baekhyun merasa lega. Setidaknya akan ada orang yang mendukungnya apapun keputusan yang dipilih oleh Baekhyun dan ia berjanji tidak akan merasa ragu lagi. Ia akan terus berusaha untuk mewujudkan keinginannya.
"Terima kasih banyak, Nek. Terima kasih banyak. Aku menyayangimu."
-Melody-
Chanyeol memainkan gitar kesayangannya sambil memejamkan matanya. Alunan nada yang sejak dulu dimainkan oleh ayahnya kini ia mainkan. Nada itu adalah salah satu dari sekian banyak nada yang dimainkan oleh ayahnya dan Chanyeol jatuh cinta sejak pertama kali mendengarnya. Ada sebuah kenangan tersendiri jika ia mendengar nada tersebut, beribu momen kebersamaan ayahnya sewaktu kecil dahulu terekam dengan baik di dalam otak Chanyeol. Hah, memikirkannya ia jadi rindu dengan kedua orang tua mereka.
Namja tinggi itu menghentikan permainannya dan memandang keluar kamarnya. Memikirkan lagu apakah yang harus ia tampilkan untuk pementasan nanti. Mengingat ia sudah mendapat persetujuan dari Baekhyun bahwa namja itu akan menjadi partnernya. Namun, ia sedikit bingung dengan sikap Baekhyun tadi. Chanyeol bertanya-tanya dalam hatinya apakah Baekhyun memiliki masalah dengan piano ataukah masalah itu datang dari keluarganya. Jika salah satu di antara dugaannya benar maka Chanyeol bisa memahaminya.
Semua persyaratan yang diberikan kepada Baekhyun akan ia lakukan. Karena ia sadar bahwa mungkin ia sudah membuat Baekhyun berada di luar zona amannya. Memikirkan hal itu mampu membuat Chanyeol mendesah berat dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia berharap bahwa pilihannya untuk mengajak Baekhyun bermain piano bersamanya adalah pilihan yang tepat. Ia tidak ingin Baekhyun mendapat masalah karenanya. Dengan cepat namja itu duduk dari posisi sebelumnya dan meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Mencari nomor kontak Baekhyun disana.
To: Baekhyun
Hey, ini aku Chanyeol. Apa kau sudah tidur?
Chanyeol tidak tahu apakah dirinya melakukan hal yang benar. Entah kenapa dia bisa mengirim pesan kepada Baekhyun. Chanyeol melempar ponselnya ke atas kasur dan mengacak rambutnya hingga berantakan. Tapi, bukankah alasan lain dari ajakannya kepada Baekhyun karena memang ia ingin dekat dengan namja itu? namja itu kembali menghela nafasnya dan saat ponselnya bergetar, dengan cepat ia raih ponselnya itu.
From: Baekhyun
Aku belum tidur. Ada apa?
To: Baekhyun
Dua hari lagi kita akan berlatih jadi bersiaplah. Aku akan menunggumu sepulang sekolah besok.
Chanyeol meletakkan ponselnya dan kembali berbaring. Pandangannya lurus menatap ke langit-langit kamarnya. Memikirkan dirinya yang bisa dengan puas melihat Baekhyun bermain piano adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Ah, Chanyeol bahkan tidak tahu kenapa bisa dirinya memikirkan bagaimana permainan namja mungil itu besok. Chanyeol tahu sejak pertama kali ia melihat permainan Baekhyun tanpa ia sengaja, ia memiliki perasaan kepada namja itu. Ia tidak tahu apakah nama dari perasaan yang tumbuh itu dan ia tidak tahu bagaimana bisa perasaan itu muncul.
"Memikirkan Baekhyun-hyung pastinya."
Chanyeol langsung menegakkan tubuhnya dan menatap kaget sosok Sehun yang berdiri di dekat pintunya. Namja itu hanya mengenakan kaos pendek berwarna putih dan celana longgar selutut. "Kau disini? Sejak kapan?"
"Tentu saja sejak tadi, hyung. Aku melihatmu tersenyum sendiri lalu diam dan tiba-tiba saja memandang murung langit-langit kamarmu. Apa kau sedang melihat film bergenre sedih?" tanya Sehun sambil berjalan mendekati Chanyeol. Mendengar ucapan sepupunya itu mampu membuat Chanyeol kesal. Bagaimana bisa sepupunya itu mengatakan sesuatu yang jelek tentangnya dengan wajah datarny itu?
"Ya! Jika kau ke sini hanya ingin menghinaku, maka pergilah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, muka datar." Sergah Chanyeol cepat dan langsung membaringkan tubuhnya kembali. Membiarkan Sehun yang tersenyum meringis kepadanya dan ikut berbaring disamping Chanyeol.
Hening beberapa saat terjadi di antara mereka. Tidak ada suara apapun kecuali deru nafas mereka yang mengalun. Memberikan mereka ketenangan layaknya seorang saudara yang saling mengerti tanpa perlu berkata apapun. Tanpa sadar Chanyeol menyunggingkan senyumannya dan menolehkan kepalanya kepada Sehun. Membuat Sehun juga ikut menoleh dan menatap aneh ke arah Chanyeol.
"Ada apa dengan senyummu, hyung? Kau membuatku takut." Ucap Sehun yang langsung mendapat gelengan kepala dari Chanyeol. "Tidak ada. Hanya saja tadi aku terkenang dengan masa lalu. Saat kita mendapat masalah sewaktu kecil dulu. Kau dengan kesadisanmu yang membuat semua anak kecil menangis dan aku yang selalu mencari masalah dengan berbagai barang yang ku temukan untuk aku mainkan menjadi sebuah nada. Kau ingatkan saat kita di hokum, kita melakukan hal yang sama seperti sekarang."
Perkataan Chanyeol mampu membuat Sehun tersenyum tipis. Namja itu mengingat dengan jelas setiap momen semasa kecil mereka. karena mereka adalah sepupu yang paling dekat dengan yang lain, memiliki beberapa hal yang sama mampu membuat mereka dekat begitu juga dengan kedua orang tua mereka yang dekat satu sama lain. Tentu saja momen itu tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Chanyeol maupun Sehun. Mereka adalah saudara dan selamanya akan selalu seperti itu walaupun ada masalah besar yang menghadang.
"Hyung." Panggil Sehun tiba-tiba dan hanya di balas deheman oleh Chanyeol. Sehun menghela nafasnya sejenak dan Chanyeol merasakan kerisauan di dalamnya. "Apakah aku harus menyerah?"
Lirihan itu mampu membuat Chanyeol merasa kaget. Namja tinggi itu dengan cepat mendudukkan dirinya dan menatap Sehun yang kini memejamkan matanya. Namja pucat itu terlihat begitu lemah, menahan tangis yang akan keluar untuk ke sekian kalinya. Tanpa sadar Chanyeol menepuk lembut kepalanya dan tersenyum kepada Sehun.
"Kau boleh menyerah, Sehun-ah. Tentu saja kau bisa melakukannya namun apakah hatimu benar-benar ingin menyerah untuk mendapatkan sosok Kim Jongin? Setelah sekian lama kau berusaha mendapatkan hatinya apa kau ingin menyerah tanpa tahu arti dirimu baginya?"
Pertanyaan itu mampu membuat Sehun menghela nafas lelah. Ada banyak sekali pikiran yang melintas tentang dirinya dan Jongin. Semua hal yang ia lakukan bersama Jongin membuat perasaannya kian bertambah bahkan rasa sakitnyapun ikut bertambah. Segalanya menjadi rumit setelah mereka bertunangan lalu haruskah dirinya menyerah begitu saja? Jika memang seperti itu bukankah sejak dulu ia seharusnya menolak? Namun nyatanya tidak. Hatinya memilih seorang Kim Jongin dan hanya Kim Jongin.
"Aku.. " ucap Sehun terpotong karena rasa sesak di dadanya. Ia hembuskan nafasnya sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. ".. aku bahkan tidak tahu hyung apa artinya aku baginya. Apakah statusnya denganku berbeda. Aku merasa kalau semuanya hanya akan berakhir sia-sia."
"Lalu apa yang hatimu katakana?" tanya Chanyeol membuat Sehun terdiam membisu. Namja pucat itu membuka matanya dan menatap balik kea rah Chanyeol. "Aku menginginkannya. Aku ingin dia menjadi milikku dan aku menjadi miliknya. Aku.. aku mencintainya."
"Kalau begitu buktikan, Sehun-ah." Balas Chanyeol cepat. "Buktikan bahwa kau bisa membuatnya jatuh cinta kepadamu seperti kau jatuh cinta kepadanya. Buktikan seberapa besar cinta yang kau miliki untuknya."
Sehun terdiam mendengar ucapan sang sepupu tingginya itu. memikirkan kembali apa yang selama ini ia perbuat dan belum ia perbuat. Membuktikan bahwa ia mencintai Jongin bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ada banyak sekali halangan yang akan ia dapatkan namun hatinya selalu mengatakan bahwa ia akan mendapatkan Jongin. Entah berasal darimana perasaan itu muncul yang jelas senyum bahagia tercetak di bibirnya. Membuat Chanyeol merasa lega karenanya.
"Terima kasih, Chanyeol-hyung. " ucap Sehun yang langsung mendapat anggukan dari Chanyeol. "Kau ini, jika aku membantumu kau akan memanggilku, hyung dan jika tidak, kau bahkan tidak memanggil namaku sama sekali. Dasar."
Sehun hanya tertawa dan menghindar dari pukulan bantal yang dilayangkan Chanyeol kepadanya. Kedua namja itu saling melepas tawanya sebelum salah satu pelayan mengetuk pintu kamar Chanyeol. Membawakan dua buah gelas jus jeruk dan sepiring buah-buahan. Chanyeol mengucapkan terima kasih dan segera membawanya ke hadapan Sehun. Keduanya kali ini duduk diam di atas kasur sambil menikmati hidangan yang diberikan.
"Oh iya, hyung. Apa rencanamu untuk mengajak Baekhyun-hyung berhasil?" tanya Sehun tiba-tiba karena ia sudah lama tidak mendengar Chanyeol bercerita tentangnya. Selalu saja dirinya yang bercerita kepada sang sepupu karena itulah ia merasa bersalah karena sudah mengesampingkan Chanyeol. Sehun memandang lekat sang sepupu yang tersenyum kepadanya.
"Tentu saja berhasil. Dua hari lagi aku akan berlatih bersamanya." Ucap Chanyeol bangga. Membuat Sehun langsung mencibirnya. "Dasar pamer. Lalu apa yang akan hyung lakukan selanjutnya?"
Chanyeol terdiam sejenak sebelum meletakkan garpunya di atas piring. "Entahlah., aku tidak yakin. Hanya saja, aku ingin hubungan kami berjalan perlahan dan mengalir begitu saja. Aku tidak ingin memaksanya. Lagipula dia memilik banyak rahasia, Sehun-ah."
"Rahasia?" tanya Sehun dengan alis mengerut. Namja pucat itu menatap Chanyeol yang menghela nafasnya dan menganggukkan kepalanya. "Dia masih belum mau terbuka untukku. Karena itulah aku hanya akan mengikuti kemana arus ini akan berjalan."
Sehun menganggukkan kepalanya dan meletakkan garpunya. Ia tepuk pundak sang sepupu untuk menyemangatinya dan mampu membuat Chanyeol tersenyum. "Hyung, kau pasti berhasil. Aku jamin itu."
"Ya. Ya, anak kecil. Mau bermain game malam ini?"
.
.
.
.
TBC
Hi hi ketemu lagi…
Maaf ya karena sudah molor selama satu bulan lebih. Ada alasan di balik semua itu tentunya dan aku kembali dengan dua chap sekaligus. Aku lagi kena keterpurukan ide buat lanjutin ff ini ditambah ponselku meninggal alias rusak. Karena itulah aku molor banget. Aku bahkan masih belum bisa bikin ff oneshoot dan itu membuatku kesal entah kenapa TT. Maafkan diriku yang masih labil ini ya..
Dan juga aku gak tahu apa kalian suka atau tidak sama dua chap yang aku bawa ini, aku harap kalian menyukainya. Oh iya, makasih banget buat yang udah fav/follow and review, sama yang baca juga ff ini. Aku berterima kasih banget sama kalian karena udah mau berparitisipasi dalam pembangkitan mood-ku dan bisa upload next chapnya. Aku bener-bener berterima kasih sekali pokoknya.
Oh iya, aku mau balas review kalian yang bikin aku senyam-senyum sendiri pas baca. Salam kenal ya buat kalian:
HunHan for lyfe: Aku tidak tahu apakah ini bagus atau tidak, tapi terima kasih sudah mau review. Aku harap ff ini memang bagus sesuai sama reviewmu..
RookiePeanutCookie: iya ini udah dilanjut kok. Makasih udah mau nungguin dan tungguin aja ya si Baekhyun salting-nya…
Hysha04: terima kasih sudah mau menyukainya. Ini udah dilanjut kok..
Byunsex: iya ini sudah di lanjut kok..
Dinda94: Aku gak yakin ini beneran keren atau nggak tapi yang jelas makasih banget ya udah mau review. Aku harap ff ini memang keren sesuai sama reviewmu. Sudah dilanjut…
chalienBee04: terima kasih karena sudah menyukainya. Dan aku harap ff ini memang menarik dan bagus. Aku akan bekerja lebih keras lagi jadi ditunggu ya…
Untuk yang lainnya, aku harap kalian mau memberikan respon tentang dua chap ini karena dari review kalian, aku bisa membuat cerita yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi jangan sungkan ya kalo mau kritik aku karena orang yang belajar itu memang harus ada salahnya hahahaha *plak
Oh ya, jangan panggil aku thor ya soalnya aku bukan penulis WOW yang bisa mendapat julukan author. Pangil dengan nama 'Saya' saja oke walaupun sedikit aneh tapi aku suka hehehe.. Oke, sekian aja deh bacot dariku. Yang jelas, aku usahakan untuk fast-update chap selanjutnya jadi sampai jumpa….
Aku sayang kalian.
Saya sayya.
