Don't like, don't read, u can click "back" icon if u don't like this fanfic

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Warning!

Gaje, hampir semua tokoh OOC, sarat dengan misstypo,etc -_-

Read and enjoy, then!

She is Mine

4th Chapter

© Yoruichi Shihouin Kuchiki

"Hiks hiks.." Sakura masih menangis di pelukan Sasuke. Sasuke sendiri membiarkan gadis pink itu menangis di pelukannya sambil mengelus rambutnya.

"Tenanglah, jangan menangis lagi.." Sasuke mencoba meredakan tangis Sakura yang belum reda.

"Semuanya gara-gara kau bodoh!" omel Sakura disela tangisnya. Sasuke hanya bisa menghela nafas panjang dan menggaruk-garuk kepalanya.

'Dasar! Lagi nangis masih juga sempet ngomel..' batin Sasuke dalam hati.

"KRUYUUUKKK" bunyi perut Sakura tiba-tiba menciptakan keheningan diantara mereka berdua.

"HAHAHAHA..." Sasuke tertawa terbahak-bahak mendengar suara perut Sakura yang berbunyi keras. Sakura tertunduk malu, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Sakura memang sudah menahan laparnya daritadi. Tapi perutnya malah tidak bisa diajak kompromi dan malah berbunyi di saat yang tidak tepat.

"Jadi kau lapar?" tanya Sasuke sambil menahan tawanya.

"Gara-gara kau istirahat tadi aku tidak makan tahu!" omel Sakura sambil menahan malunya.

Sasuke masih tertawa terpingkal-pingkal sambil menepuk-nepuk tanah. Sementara Sakura menggembungkan mulutnya sebal dengan Sasuke yang tidak berhenti menertawainya.

"Ayo.." Sasuke berdiri dan mengulurkan tangannya ke Sakura yang masih duduk di tanah. Sakura bengong melihat tangan Sasuke. Pemuda itu tersenyum tipis. Beberapa saat kemudian Sakura membalas uluran tangan Sasuke. Sasuke menarik tangan gadis itu dan membuatnya ikut berlari mengikuti irama langkahnya.

"Kita mau kemana?" tanya Sakura bingung.

"Tentu saja makan.." seringai khas itu kembali terukir di bibir Sasuke.

Sakura sebenarnya ingin sekali menolak, tapi apa daya perut berkata lain. Mau sangat mau akhirnya dia malah mengikuti langkah Sasuke.

Mereka pun sampai di sebuah restoran terdekat. Mereka masuk dan mengambil tempat duduk di dekat jendela luar. Sasuke melambaikan tangannya kepada pelayan restoran itu.

"Nasi goreng spesial dan es teh dua.." ujarnya kepada pelayan itu.

"Baik, tunggu sepuluh menit lagi ya tuan.." jawab pelayan itu setelah selesai mencatat pesanan Sasuke.

Tidak berapa lama kemudian pesanan mereka pun datang. Sakura makan dengan lahap mirip seperti orang yang tidak makan selama 7 hari 7 malam. Sasuke cekikikan melihat cara makan Sakura.

"Kenapa ketawa?" protes Sakura sambil tetap mengunyah makanan.

"Tidak.." Sasuke tertawa kecil. Sakura menatap tajam ke arah pemuda itu kemudian kembali melanjutkan makannya yang sempat terhenti.

"Oya, ngomong-ngomong kau sedang apa keluar malam-malam begini?" tanya Sakura penasaran sambil menyentuh mulutnya dengan sendok makannya.

Sasuke terdiam sejenak, "Sedang kebetulan lewat saja kok.." jawabnya sambil memalingkan wajahnya.

"Oh.." seakan tidak peduli Sakura kembali makan dengan lahap.

"Huff, kenyaaaangg.." katanya sambil mengelus-ngelus perut yang serasa hampir meledak. Sasuke melirik piring Sakura yang bersih tanpa ada sisa nasi satu butir pun. Berbeda dengan piringnya yang malah hampir tidak disentuhnya daritadi. Wajar saja, Sasuke memang baru saja makan malam. Jadi sebenarnya perutnya masih sangat kenyang.

"Jangan lupa bayar ya.." sahut Sasuke sambil tersenyum jahil.

"Gleekk"

Sakura menelan ludah. Daritadi dia tidak sadar kalau dia makan tanpa memikirkan kantungnya sudah tidak ada uang sepeser pun.

"U—uangku sudah habis.." kata Sakura setengah tertunduk.

"Wah, lalu bagaimana dong?" Sasuke pasang tampang polos sambil mengaduk-ngaduk es tehnya dengan sedotan. Sakura menggeleng-geleng cemas.

"Tenang saja, aku yang bayar.."

"Eh, benar?" Sakura langsung semeringah. Sasuke mengangguk-angguk tersenyum.

"Tapi tidak gratis lo.." lanjut Sasuke datar.

"Hah? Maksudnya?" Sakura bingung.

"Sebagai gantinya Minggu ini kau harus kencan denganku." Sasuke merapatkan jemari-jemarinya untuk memangku wajahnya.

"UAPAA?" sahut Sakura histeris mendengar ganti rugi nasi goreng dan es teh yang telah dimakannya.

"Kenapa?" tanya Sasuke dengan tampang tanpa dosa.

"AKU TIDAK MAU!" protes keras Sakura.

"Ya, kalau begitu aku juga tidak mau bayar makanannya.." kata Sasuke cuek sambil menengadahkan tangannya di belakang kepalanya.

Sakura mengerucutkan bibirnya, "IYA! BAIKLAH! AKU MAU!" jawabnya geram.

Dengan amat sangat terpaksa dia harus mengiyakan permintaan Sasuke. Apalah daya, saat ini dia memang tidak mempunyai uang maupun barang berharga yang bisa digadaikannya sedikit pun.

"Nah, begitu dong.." Sasuke tersenyum puas. Dia lalu meminta nota kepada pelayan restoran itu kemudian membayarnya. Mereka kemudian keluar restoran tersebut.

"Aku antar pulang.." kata Sasuke datar sambil melayangkan pandangannya ke jalanan yang mulai lengah itu. Sakura masih terbengong di belakang Sasuke.

"Aku tidak bawa motor, jadi kita naik taksi saja.." onyxnya celingk-celinguk kalau-kalau ada taksi lewat.

Sementara di seberang jalan sana tak jauh dari tempat merka berada, Neji masih mencari sang adik. Dengan kecepatan mobil yang lambat, dia terus memasati setiap jalan yang dilaluinya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari Sakura di jalanan yang mulai lenggang.

Kedua irisnya mendadak membulat ketika matanya menangkap bayangan Sakura dengan Sasuke sedang berdiri di pinggir jalan. Neji langsung banting stir dan memutar arah.

"Ckiiittt" mobil Neji berhenti tepat di depan mereka. Keduanya menoleh kaget. Mata Sakura membulat ketika melihat orang yang keluar dari mobil tersebut.

"Kak Neji.." Sakura tersenyum senang melihat kakaknya.

Neji mendekati mereka. Mata teduhnya menatap Sasuke dingin kemudian menarik lengan Sakura yang membuat gadis itu terkejut.

"Bagaimana kau bisa bersama Sakura?" tanya Neji menyelidiki.

"Aku hanya kebetulan lewat dan menolong Sakura yang sedang diganggu preman." jawab Sasuke santai.

"Kakak, tenang dulu.. Sasuke berkata benar kok. Justru aku yang sudah banyak merepotkannya. Jadi kakak jangan marah padanya..." Sakura berusaha menjelaskan kesalahpahaman kepada kakaknya.

"Tadi dia mau mengantarku pulang. Ini salahku yang ceroboh meninggalkan tasku di kantor ibu. Jadi kakak jangan marah padanya ya.." jelas Sakura panjang lebar.

Neji menghela nafasnya, "Semuanya menunggu dan mengkhawatirkanmu.." dia kemudian menatap adik kecilnya itu. Tersirat ada perasaan cemas sekaligus lega yang terpancar dari sorot matanya.

"Maafkan aku kak.." Sakura tertunduk dan merasa bersalah.

"Yang penting kau baik-baik saja. Itu sudah cukup." Neji tersenyum lembut dan mengusap-usap rambut adiknya.

"Aku berterima kasih padamu karena telah menolong adikku.." ucap Neji kalem.

"Tidak masalah, lagipula sudah jadi kewajibanku untuk menjaga tunanganku." Jawab Sasuke sambil menyeringai.

"..." Neji tidak menjawab melainkan hanya memberi tatapan dingin seolah-olah dia masih belum bisa merestui hubungan mereka. Sasuke masih pasang tampang coolnya.

"Ini sudah malam, Sakura harus segera pulang. Kami permisi dulu.." pamit Neji lalu masuk ke dalam mobil.

Sementara itu Sakura dan Sasuke masih saling bertatapan.

"T—terima kasih telah menolongku.." ucap gadis itu terbata-bata.

"Ingat hari Minggu ya.." ledek Sasuke sambil mengembangkan senyum kemenangannya.

"Weeekk.." Sakura meleweki Sasuke kemudian masuk ke dalam mobil.

Limousine hitam itu pun melaju meninggalkan Sasuke. Pemuda itu hanya tersenyum tipis menatap mobil yang perlahan-lahan menghilang dari kedua onyxnya.

oOo

"Tuk tuk tuk.." Sasori mengetuk-ngetuk jari telunjuknya ke meja. Raut wajahnya masih terlihat cemas dan gelisah. Sementara Gaara malah asyik menonton TV, walaupun sebenarnya Gaara juga tak kalah khawatir dengan Sasori. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang dan percaya kalau kakak sulungnya itu akan menemukan Sakura.

"Agh, aku sudah tidak sabar lagi! Aku juga akan keluar mencari Sakura!" Sasori bangkit dari tempat duduknya dan langsung mengambil jaket hitam serta helm dan kunci motornya, persis seperti tukang ojek yang mau mangkal malam-malam.

"Kau mau kemana?" Gaara menoleh ke arah Sasori.

"Tentu saja mau mencari Sakura!" omel Sasori yang sudah tidak tahan lagi karena Neji belum kunjung pulang dan memberikan kabar.

"Aku pulaaaaanngg.." suara cempreng nan khas yang ditunggu sejak tadi tiba-tiba menyeruak. Sasori dan Gaara spontan menoleh. Nampak Sakura sudah berada di depan pintu dengan wajah tertunduk dan Neji di belakangnya.

"Sakura kau akhirnya pulang." Gaara tampak lega dan memalingkan perhatiannya dari acara TV yang sedang ditontonnya.

"Kau ini kemana saja sih? Semua orang menkhawatirkanmu bodoh!" omel Sasori yang daritadi sangat mencemaskan keadaan adiknya.

"Maafkan aku.." ucap Sakura lirih. Dia masih menundukkan kepalanya merasa bersalah karena telah membuat kakak-kakaknya cemas.

Sasori menghela nafasnya kemudian menatap adiknya itu lembut, "Lain kali jangan diulangi lagi. Kau mengerti kan?" ujarnya lembut sambil mengusap mahkota adiknya.

Sakura mengangguk dan tersnyum.

"Kembalilah ke kamar. Kau pasti lelah. Oya, tadi orang suruhan ibu mengantar tasmu yang tertinggal ke kamarmu." lanjut Sasori.

"Terima kasih kak Neji, kak Sasori dan kak Gaara. Maaf aku telah merepotkan dan membuat kalian cemas.." mereka bertiga hanya tersenyum lembut kepada adik kecilnya itu. Walau bagaimana pun juga tidak ada seorang pun dari mereka yang marah pada Sakura. Mereka hanya sangat mencemaskannya.

"Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu ya.." lanjutnya ceria seperti biasa kemudian berlari menaiki tangga rumah menuju kamarnya.

Sesampainya di kamar, Sakura langsung merebahkan dirinya ke kasur. Rasanya dia benar-benar lelah sekali hari ini. Tiba-tiba dia teringat dengan senyum Sasuke dan kejadian yang barusan terjadi bersama dengan Sasuke. Kalau Sasuke tidak ada saat itu, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Sekilas Sakura merasakan kelembutan dari sosok yang akhir-akhir ini sering membuatnya sebal. Entah kenapa, memikirkannya membuat dada Sakura berdegup kencang dan wajahnya merona.

Sakura langsung bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Dia kemudian menepuk-nepuk kedua pipinya yang memerah karena memikirkan pemuda yang selalu dipanggilnya pantat ayam itu. Dia berusaha menepis jauh-jauh perasaan itu dan malah meyakinkan dirinya kalau Sasuke adalah pemuda yang sangat menyebalkan. Emeraldnya kemudian beralih ke tas sandangnya yang sekarang sudah berada di meja kecil di sampingnya. Dirogohnya ponsel yang berada di dalam tasnya.

"Ah, ada satu pesan.." gumamnya.

From: +xxxxxxxx

Ingat janjimu, ku tunggu jam 10 di taman ria hari Minggu nanti. By Sasuke

"Heeehh?" Sakura mendelik dan terbelalak lebar membaca SMS yang ada di ponselnya.

"Tahu dari siapa dia nomor handphoneku?" gumam Sakura heran.

Sakura mengernyitkan dahinya yang lebar, "Bodo' agh!" gumamnya cuek kemudian membaringkan dirinya lagi di kasur.

Perlahan-lahan dia mulai menutup matanya dan tertidur dengan lelap. Mungkin sekarang dia sudah berada di alam mimpi yang dibuatnya sendiri.

Skip Time – hari Minggu

Hari Minggu yang sangat cerah dan dinanti-nanti dimana semua orang bisa bersantai sebentar melepaskan penat setelah seminggu beraktivitas. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk pasangan suami—istri Hatake yang sekarang malah tetap sibuk bekerja sampai-sampai sama sekali tidak bisa menyempatkan diri bersantai dengan anak-anaknya di rumah. Tapi bagi keempat Hatake bersaudara itu meraka tidak terlalu mempedulikannya, mungkin karena mereka sudah terlalu terbiasa. Apalagi ketiga putra mereka.

Di ruang keluarga yang ukurannya bahkan hampir menyamai lapangan bola itu, tampak tiga beradik laki-laki Hatake sedang bersantai ria. Neji juga tampak sedang menyolojorkan kakinya di atas sofa. Tidak biasanya Neji ada di rumah di hari Minggu karena biasanya kedua orangtua mereka selalu meminta Neji untuk membantu pekerjaan mereka di hari liburnya.

"Sakura mana? Daritadi belum keluar dari kamarnya.." kata Gaara memulai pembicaraan.

"Apa dia sakit?" tebak Sasori.

"Ng, anu—sepertinya nona Sakura sedang melakukan sesuatu di kamar jadi tidak bisa diganggu.." jawab Shizune sambil meletakkan teh hangat untuk ketiga bersaudara itu.

"Melakukan apa?" tanya Neji datar sambil menyeruput teh hangatnya.

"Saya juga kurang tahu tuan Neji.." jawab Shizune sopan lalu pamit kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Apa yang dilakukannya sih?" gumam Sasori lalu menyenderkan tubuhnya ke sofa.

Sakura tiba-tiba muncul dan berjalan menuruni tangga. Ketiga kakaknya menoleh dan betapa terkejutnya mereka melihat penampilan Sakura yang benar-benar cantik saat itu dengan setelan cardigan hitam dengan dalaman putih serta rok rompi mini. Sebelah rambutnya yang tergerai dihiasi dengan jepitan manis. Sakura menghampiri ketiga kakaknya yang masih mangap melihat penampilan Sakura yang tiba-tiba berubah drastis dengan langkah canggung.

"Tumben-tumbenan kau dandan begitu Sakura." celetuk Gaara heran.

"Mau pergi dengan Ino ya? Penampilanmu cantik sekali.." puji Neji lembut.

"Bukan dengan Ino.." jawab Sakura sambil memicingkan matanya ke bawah.

"Lalu dengan siapa?" Neji membulatkan kedua matanya tampak penasaran ada angin apa adiknya yang terkenal paling ogah-ogahan kalau urusan dandan tiba-tiba berdandan secantik itu.

"Itu—d—dengan S—sasuke.." jawab Sakura dengan segenap keberaniannya karena dia sudah bisa menebak bagaimana reaksi ketiga kakaknya kalau tahu dia akan berkencan dengan Sasuke.

"JGEERRR"

Petir kembali menyambar kediaman Hatake di siang bolong. Gaara langsung membatu di tempat ketika mendengar jawaban si adik. Sementara Sasori yang hendak menyeruput teh hangatnya langsung tersedak dan menyemburkan teh hangat itu tepat di wajah Neji. Sontak Sasori langsung pingsan seketika setelah Neji melancarkan tinju maut dengan mulusnya tepat di muka Sasori.

"K—kau sedang bercanda kan Sakura?" tanya Neji yang masih tidak percaya dan berharap kalau tadi dia hanya salah dengar atau adiknya hanya bercanda.

"A—aku serius! Aku tidak sedang bercanda! Jadi aku mohon kepada kakak untuk mengizinkanku pergi sekali ini saja! A—aku harus pergi sekarang! Aku akan segera kembali jadi kakak tidak perlu khawatir!" ujar Sakura terbata-bata lalu langsung ambil langkah seribu menghindari berbagai macam reaksi kakaknya. Dengan cekatan Sakura langsung berlari sekencangnya hingga akhirnya ketiga kakaknya tidak dapat lagi melihat bayangannya.

"HOHOHO, BEGITU YA.. HAHAHA.. BAIKLAH AKU MENGERTI.. HOHOHO.." gumam Neji entah kepada siapa dengan hawa membunuh yang luar biasa. Gaara langsung mundur seribu langkah sambil menyeret Sasori yang masih pingsan—melihat kakak sulungnya sudah benar-benar berubah jadi malaikat pencabut nyawa.

oOo

Sementara itu di depan taman ria tempat mereka janjian, tampak Sasuke sudah menunggu disana dengan baju biru dongkernya. Penampilannya yang lumayan mencolok dengan kerah baju yang tegak serta tampangnya yang memang keren membuatnya menjadi pusat perhatian di depan pintu gerbang wahana bermain itu. Sesekali onyxnya menoleh ke kanan dan kiri mencari sosok yang sudah ditunggunya hampir setengah jam yang lalu.

Dari kejauhan tampak sosok Sakura yang sedang berlari-lari ke arahnya. Onyx kelamnya semakin membulat mendapati gadis yang ditunggu-tunggunya daritadi datang dengan penampilan yang lain dari biasanya.

"Ma—maaf aku terlambat.." kata Sakura yang masih ngos-ngosan.

"..." Sasuke diam. Sakura memberanikan diri menatap pemuda di hadapannya itu, takut kalau dia marah padanya.

"Tidak apa-apa kok.." Sasuke kemudian tersenyum lebar.

"Heh?" Sakura malah cengo, bingung melihat sikap Sasuke yang tidak bisa ditebak.

"Ayo masuk, kita kesini kan untuk bersenang-senang.." lanjutnya kembali kemudian menggandeng tangan Sakura masuk ke wahana tersebut.

"Ayo, kita juga harus masuk." ujar seseorang yang menggunakan setelan jaket dan celana jeans serta memakai kacamata dan masker hitam di wajahnya. Orang itu tampak sedang berdiri di depan wahana tersebut sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya. Penampilannya benar-benar mirip kriminal penculik anak kecil.

"Kau yakin mau melakukan semua ini Sasori?" tanya seseorang yang berada di belakang pria tadi dengan menggunakan jaket merah yang resleting depannya dibuka dan memakai tudungan jaket itu di kepalanya serta kumis palsu.

Yah, siapa lagi kedua orang itu kalau bukan Sasori dan Gaara yang sebenarnya diam-diam mengikuti adiknya. Mereka sengaja berpenampilan seperti buronan agar tidak ketahuan oleh sang adik. Alih-alih ingin mengawasi adiknya dengan Sasuke padahal sebenarnya mereka hanya ingin mengganggu perjalanan kencan mereka berdua.

"Memangnya kau rela Sakura berduaan dengan si pantat ayam itu hah?" sewot Sasori yang melihat Gaara tidak bersemangat sama sekali.

"..." Gaara diam sejenak. Keduanya saling bertatapan. Tiba-tiba Gaara teringat akan bagaimana pertemuan Sakura dengan Sasuke yang pernah membuat emosinya memuncak waktu itu.

"Sedang apa disitu? Ayo kita masuk." Celetuk Gaara tiba-tiba lalu masuk mendahului Sasori yang masih geleng-geleng melihat kelakuan adik kembarnya.

oOo

"Kita mau main apa dulu?" tanya Sakura.

Mata Sasuke celingak-celinguk mencari wahana permainan yang menarik perhatiannya. Irisnya terhenti di sebuah wahana permainan megah yang selalu digandrungi dan diminati orang. Terbukti dengan banyaknya kerumunan orang yang sedang mengantri disana.

"Itu saja." Jawabnya sambil menunjuk permainan roller coaster yang ada di depan mereka.

"Hah?" Sakura melongo pasalnya dia ingin naik permainan kuda-kudaan yang ada di ujung sana.

Tanpa basa-basi Sasuke langsung menarik tangan Sakura dan mengajaknya menaiki permainan itu.

Sementara itu di tempat lain yang tak jauh dari mereka, Sasori dan Gaara yang masih dalam misi penguntitan itu mengikuti mereka untuk naik permainan itu juga.

"Ayo Gaara! Kita juga naik!" ajak Sasori berapi-api.

"A—aku tidak mau kalau naik itu." jawab Gaara yang mulai ciut.

"Kau ini bagaimana? Kalau tidak ikut naik kita bisa kehilangan jejak mereka! Ayo cepat!" sewot Sasori lalu langsung menarik Gaara tanpa harus mendengar protesnya terlebih dahulu.

Akhirnya mereka pun duduk manis di bangku roller coaster tersebut. Sakura dan Sasuke duduk paling depan. Sementara Sasori dan Gaara duduk selang beberapa bangku di belakang mereka. Terlihat wajah Gaara sudah pucat duluan sambil memegangi pengaman yang tersangkut di dadanya. Padahal permainan belum saja dimulai tapi keringat dingin Gaara sudah mengucur dengan deras.

Roller coaster itu pun mulai berjalan lambat, perlahan-lahan kereta panjang itu menaiki lintasan yang sangat tinggi. Sampai akhirnya kereta itu tiba di puncak tertinggi lintasan itu dan meluncur ke bawah dengan kencang. Sontak saja hal itu langsung disambut dengan teriakan keras para penumpangnya. Tidak terkecuali Sakura yang berteriak histeris begitu kereta tersebut meluncur dengan tajamnya serasa dirinya benar-benar akan terjatuh ke bawah. Apalagi ketika kereta itu harus melewati lintasan yang membentuk lingkaran membuat dirinya serasa diputar-putar. Sasori dan Gaara juga menjerit tidak kalah hebohnya. Mengingat permainan ini memang yang paling dihindari oleh mereka terutama Gaara yang pasti langsung muntah-muntah setelah turun dari sini. Sementara Sasuke? Pemuda itu malah tampak tertawa senang menikmati permainan yang dipilihnya itu.

Kereta mini panjang itu pun akhirnya berhenti. Seluruh penumpangnya turun darisana. Sakura masih menahan mualnya akibat diputar-putar gak keruan di kereta itu. Sementara Sasuke malah turun dengan riang seolah tidak terjadi apa-apa.

Beralih ke duo kembar yang masih setia membuntuti mereka. Gaara yang sudah tidak kuat lagi langsung muntah-muntah di pojokan. Sementara Sasori jalan dengan langkah sempoyongan membuat orang-orang menjauhinya karena mengira dia orang gila mabuk yang nyasar ke dalam sini.

"Ayo, jalan lagi Sakura." ajak Sasuke anteng kepada Sakura yang mukanya masih setengah pucat.

"Ayo.." Sasuke kemudian merangkul pinggang gadis itu tanpa ada perlawanan sama sekali. Mungkin tenaga Sakura sudah terkuras habis setelah naik roller coaster tadi.

Melihat Sakura dan Sasuke yang kembali jalan langsung menyadarkan Sasori yang masih setengah muyeng, "Ayo Gaara! Kita juga ikuti mereka lagi!" Sasori kemudian menggeret paksa Gaara yang masih mual-mual persis seperti ibu-ibu yang lagi hamil 2 bulan.

oOo

"RUMAH HANTU"

Melihat tulisannya saja sudah membuat Sakura merinding disko dan menelan ludahnya sendiri. Maklum saja,segarang-garangnya Sakura tapi dia paling takut dengan segala hal yang berbau mistis, hantu, setan dan sebagainya.

Sasuke berkacak pinggang sambil tersenyum puas di depan pintu masuk rumah hantu itu. Entah apa yang ada di pikiran pemuda pantat ayam itu yang daritadi selalu mengajaknya ke permainan yang bisa memacu jantungnya. Padahal sebenarnya Sakura ingin sekali naik kuda-kudaan yang ada di ujung sana.

"Mau masuk?" tawar Sasuke meskipun sebenarnya itu tidak bisa dikatakan sebagai tawaran karena seberapa pun kerasnya Sakura menolak, Sasuke akan tetap berusaha untuk mengajaknya masuk ke dalam sana.

"TIDAK MAU!" protes Sakura keras.

"Ho, jadi kau takut?" Sasuke memanas-manasi.

"ENAK SAJA!AKU TIDAK TAKUT!" sanggah Sakura cepat.

Sasuke menyeringai lebar, "Kalau begitu ayo masuk." jawab Sasuke sambil menarik Sakura cepat memasuki rumah hantu itu.

Sementara itu Sasori dan Gaara masih setia menguntit dua sejoli itu. Sasori yang juga takut akan hal-hal gaib sama seperti Sakura meneguk ludahnya sendiri ketika melihat Sasuke dan adiknya masuk ke dalam wahana tersebut.

"A—ayo Gaara! K—kita juga harus masuk!" ucap Sasori sambil berusaha menyembunyikan rasa takutnya.

"Kau yakin?" tanya Gaara datar.

"T—tentu saja! Kau ini b—bagaimana sih? Kau kira aku takut? Jangan bercanda! Seorang Sasori tidak akan mungkin takut!" ucapnya sambil tertawa dibuat-buat lalu dengan semangat membara kemudian masuk ke rumah hantu itu.

Beberapa Menit Kemudian—

"KYAAAAAAAAAAA" Sakura langsung menjerit ketakutan ketika sesosok makhluk dengan rambut panjang tergerai dan baju panjang putih mendekatinya.

Tanpa sadar dia langsung mencengkram kuat lengan Sasuke dan menutup wajahnya ke dada pemuda anteng itu. Sementara Sasuke hanya menatap hantu jejadian itu datar tanpa ekspresi sedikit pun.

Hantu jejadian yang senang melihat ekspresi ketakutan Sakura malah semakin menjadi-jadi menakutinya hingga Sakura terjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil bibirnya tidak berhenti komat-kamit entah apa yang diucapkannya.

"Swuuuutt" tiba-tiba Sasuke menarik wig hantu jejadian tersebut. Sang hantu yang menyadari ada sesuatu yang hilang langsung memegangi kepala plontosnya dengan raut malu. Sementara Sasuke malah tersenyum lebar sambil menggoyang-goyangi wig panjang itu kemudian melemparnya jauh ke sembarang arah tanpa dosa. Sang hantu yang panik langsung mengejar wignya tersebut dan meninggalkan mereka.

Sasuke kemudian jongkok di depan Sakura dan menatap gadis yang masih setia menutup wajahnya itu. Sesaat kemudian pemuda itu malah terkikik geli.

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAA" suara teriakan yang tidak kalah besar dari Sakura menggema di rumah hantu tersebut.

'Ternyata ada orang yang lebih heboh lagi daripada Sakura.' batin Sasuke.

Sebenarnya suara jeritan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah suara Sasori yang sedang ketakutan setengah mati melihat jejadian yang mirip pocong sedang mengusilinya. Dengan sangat terpaksa Gaara harus rela dipeluk-peluk Sasori yang teriak-teriak heboh tepat di samping telinganya. Sementara sang pocong sweatdrop melihat sikap Sasori yang tidak sesuai dengan penampilannya yang mirip gembong teroris.

oOo

"Aku sudah lelah Sasori.." keluh Gaara yang tampangnya kucel hanya saja tidak begitu terlihat karena tertutup kumis palsunya. Sesekali ia membuka tudung jaketnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang gatal akibat kepanasan.

"Kau pikir aku tidak capek? Tapi aku tidak bisa membiarkan Sakura berduaan saja dengan si pantat ayam itu! Kita harus tetap membuntutinya! Kalau si pantat yam itu berani macam-macam lagi akan langsung kubunuh dia!" oceh Sasori berapi-api membuat Gaara semakin kepanasan.

Sasori masih sibuk mengintip dua sejoli itu dari balik semak-semak sambil mengipas-ngipasi dirinya dengan tangannya sendiri.

"Nih.." Sasuke menyodorkan jus kaleng dingin kepada Sakura yang sedang memanjangkan kakinya di kursi taman ria itu.

"Ah, terima kasih." Sakura mengambil kaleng jus itu kemudian mulai meminumnya. Sasuke duduk di sampingnya lalu meneguk isi kaleng jus itu.

Sakura tiba-tiba menoleh ke arah kerumunan yang ramai dengan pasangan muda-mudi. Nampak penasaran dengan apa yang ada disana. Sasuke melirik sebentar ke arah Sakura. Kemudian segera bangkit dari tempat duduknya.

"Mau kesana?" tanya Sasuke sambil menunjuk tempat itu. Sakura hanya mengangguk kecil. Mereka pun pergi ke tempat itu.

Sementara di balik semak-semak tadi Sasori dan Gaara pun juga mulai bergerak dan kembali menguntiti mereka.

"Ah, mereka jalan lagi. Ayo Gaara kita ikuti lagi." Sasori menarik Gaara dan kembali mengikuti mereka.

Sasuke dan Sakura sampai di sebuah stand yang nampak ramai sekali. Tampak seorang bapak-bapak separuh baya dengan wajah brewok sedang mempromosikan standnya.

"Ayo, ayo, silahkan dicoba. Bagi yang bisa memasukkan bolanya tepat di dalam lubang itu maka akan mendapatkan boneka beruang basar ini." Promosinya sambil menunjukkan boneka beruang yang tingginya hampir menyamai Sakura.

Mata Sakura langsung berbinar-binar dan tergoda melihat boneka beruang imut nan super besar itu. Dalam hati dia ingin mencoba melempar bola itu tapi niatnya langsung ciut ketika dia melihat lubang itu hampir sama dengan besar bolanya.

'Pasti akan susah sekali untuk memasukkannya.' batinnya dalam hati. Terlebih lagi banyak sekali cowo-cowo yang berusaha untuk memasukkan bola itu demi mendapatkan boneka tersebut untuk sang pacar, namun semuanya gagal dan belum ada satu pun yang bisa mendapatkan hadiah utama itu.

"Aku mau mencobanya." Kata Sasuke kepada sang pemilik stand.

"Ah, untuk sang pacar ya?" goda bapak-bapak itu sambil melirik Sakura.

Sasuke hanya tersenyum tipis. Sementara wajah Sakura mulai merona.

"Kesempatannya hanya 3 kali. Nah, semoga beruntung ya.." ujar bapak itu sambil menyerahkan tiga buah bola kecil ke Sasuke.

"Lebih baik tidak usah Sasuke. Pasti susah untuk memasukkannya." cegah Sakura.

"Kita tidak tahu kalau belum mencoba kan? Lagipula kau juga ingin boneka itu." Jawab Sasuke santai.

"Ah—i—iya sih.." Sakura sedikit malu. Sasuke mulai ancang-ancang melempar bola itu dan—

Lemparan pertama gagal.

Sasuke kembali bersiap untuk lemparan kedua—

Nyaris saja bola itu masuk. Sakura sudah hampir heboh menyangka kalau bola itu akan masuk.

Lemparan terakhir—

Sasuke memicingkan matanya dan kembali melempar bola itu dengan mantap dan MASUK!

"WAH, SELAMAT! KAU BERHASIL!" sorak bapak itu sambil menyalami Sasuke.

Semua mata langsung tertuju pada pemuda onyx itu. Decak kagum dan iri dari para pengunjung yang melihatnya tertuju pada pemuda itu. Bapak itu kemudian menyerahkan boneka beruang itu kepada Sasuke. Sasuke nampak tersenyum puas. Sementara Sakura malah masih melongo seolah tidak percaya kalau Sasuke berhasil melakukannya.

"Terimalah.." Sasuke menyerahkan boneka yang hampir seukuran dengan Sakura itu kepadanya. Sakura menerimanya masih dengan ekspresi setengah melongo.

"T—terima kasih.."

Sasuke tersenyum lembut membuat jantung Sakura berdegup lebih cepat dari biasanya. Waktu terasa berjalan lambat bagi mereka berdua. Sakura tidak bisa melepaskan pandangannya dari Sasuke seakan dirinya telah terbius oleh pesona pemuda itu.

Sementara itu di balik tiang besar di dekat stand itu, Sasori dan Gaara masih sibuk mengintip kegiatan mereka berdua. Tampak Sasori yang mulai geram melihat dua orang itu malah semakin lengket.

"Sialan! Dia sekarang malah tebar-tebar pesona pada Sakura!" oceh Sasori.

"..." Gaara tidak memberikan respon.

"Kau ini diam terus! Memangnya kau senang melihat Sakura berduaan begitu dengan si pantat ayam?" gerutu Sasori tanpa menoleh ke arah Gaara.

"Itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab Sasori."

"Nah, semustinya kau begitu daritadi!" lanjut Sasori tambah bersemangat sambil tetap mengawasi mereka berdua.

"B—bukan aku yang menjawab tadi.." ucap Gaara yang mulai merasakan hawa mistis di belakangnya.

"Kau ini bicara apa sih?" tanya Sasori tidak mengerti dan menatap tajam ke arah Gaara.

"Sudah aku bilang bukan aku yang jawab pertanyaanmu tadi." Jawab Gaara yang mulai merinding.

"Hahaha.. Kau jangan bercanda Gaara." Lanjut Sasori yang mulai ikut-ikutan merinding.

'Mana mungkin ada hantu sing bolong begini kan?' batin Sasori yang masih rada takut sehabis masuk dari rumah hantu tadi.

Keduanya mulai memberanikan diri menengok ke arah belakang mereka. Memasati sosok yang sedang berdiri di hadapan mereka yang masih jongkok—dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"K—kak Neji!" jerit keduanya berbarengan melihat kakak sulung mereka sedang melipat tangannya di depan dada dan berada di hadapan mereka.

"K—kak Neji, apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Sasori yang masih kaget melihat sosok kakaknya dengan baju casualnya dan topi serta rambut panjangnya yang dimasukkannya ke dalam bolongan yang ada di belakang topi itu.

"Bukankah jawabannya sama seperti kalian? Tentu saja mengawasi kedua orang itu." mata lavendernya kemudian beralih ke arah Sakura dan Sasuke. Kemudian mengeluarkan tawa mautnya untuk yang kedua kali di hari itu—membuat duo kembar ngeri. Bahkan lebih ngeri daripada melihat setan sungguhan.

oOo

"Wah, ada Cafe Ice Cream." mata Sakura langsung berbinar-binar melihat tempat yang menyediakan makanan favoritnya.

"Masuk kesana yuk Sasuke.." ajak Sakura riang. Sekilas Sasuke tampak gemas melihat wajah Sakura yang nampak imut-imut dengan boneka beruang besar yang ada di gendongannya. Ingin sekali rasanya Sasuke mencubit gemas kedua pipi putih itu tapi tidak jadi dilakukannya karena tahu bakalan seperti apa reaksi Sakura setelah itu. Sasuke hanya tersenyum manis kemudian mereka masuk ke dalam.

Sementara itu tak jauh dari cafe itu, anggota misi penguntitan pun bertambah seorang setelah duo kembar itu bertemu dengan Neji—si sulung. Ketua anggota itu pun langsung diambil alih ileh Neji tanpa basa-basi. Sasori hanya bisa pasrah menjadi anak kedua yang ratingnya juga masih kalah jauh dibandingkan Neji.

"Kita juga harus masuk ke dalam." perintah Neji yang sudah ambil langkah duluan.

Sasori dan Gaara pun mengikuti dari belakang.

"BUKK"

"Ah, ma—maaf.." tanpa sengaja Gaara menabrak seorang pemuda yang nampaknya seumuran dengan kakaknya. Pemuda itu diam saja dan membenarkan topinya.

"Loh?" Gaara memandangi wajah pemuda itu dan tampak mengenalinya. Pemuda itu menatap Gaara. Iris mereka sama-sama membulat ketika kedua orang itu beradu pandang.

"Kau kan.." Gaara menunjuk pemuda itu. Neji dan Sasori pun menoleh dan menghentikan langkah mereka.

"K—kau! Apa yang kau lakukan disini?" Neji langsung kaget melihat orang yang ditabrak Gaara tidak lain adalah Itachi—kakak Sasuke.

"Wah, kebetulan sekali bertemu kalian disini. Kalian sendiri sedang apa?" sahut Itachi santai.

"Hei! Kak Neji itu sedang bertanya padamu! Kenapa jadi kau yang balik tanya?" omel Sasori sewot melihat pemuda yang tampangnya mirip sekali dengan bocah pantat ayam itu.

"Kalau aku sih hanya ingin mengawasi kencan pertama adikku dengan tunangannya. Hm, kalian past juga kan? Ah, tidak kalau kalian sih lebih tepat mengganggu daripada mengawasi." jawab Itachi tanpa dosa membuat ketiga saudara itu langsung tertohok dengan jawabannya yang tepat sasaran.

"Ternyata tebakanku benar ya." lanjutnya sambil menyeringai kecil.

"Hahaha, tentu saja. Kau pikir aku rela kalau adikku yang paling manis itu harus berduaan dengan ayam mesum seperti adikmu itu?" Neji maju ke depan dan berhadapan langsung dengan Itachi.

"Apa kau bilang?" sahut Itachi yang mulai geram.

"Aku bilang adikmu itu A—YAM ME—SUM!" tegas Neji yang membuat suasana keduanya saling memanas dan bersitegang satu sama lain. Sementara si duo kembar itu malah mundur jauh ke belakang melihat kondisi keduanya semakin panas.

Sementara di dalam cafe itu, Sasuke dan Sakura duduk berhadapan di dekat jendela luar. Boneka beruang itu juga harus memenuhi satu kursi karena ukurannya. Tampak Sakura asyik menyantap menu favoritnya itu. Sedangkan Sasuke malah tampak asyik memperhatikan ke arah luar ketika onyxnya tidak sengaja menangkap bayangan empat orang pemuda yang sepertinya sangat ia kenali. Dia memicingkan matanya berusaha melihat dengan jelas siapa keempat orang itu. Yah, sebenarnya empat orang yang sedang dilihat Sasuke tidak lain adalah ketiga kakak Sakura dan juga kakaknya sendiri—Itachi. Penampilan mereka yang sangat mencolok di tengah jalan seperti itu malah menarik perhatian Sasuke.

"Ada apa Sasuke?" tanya Sakura heran.

"Ah, tidak apa-apa." Sasuke mengalihkan pandangannya ke semangkuk es krim yang ada di depannya kemudian mulai memakannya lagi.

Sakura nampak bingung melihat sikap Sasuke yang aneh.

"Sasuke, setelah ini kita naik komedi putar ya." ajak Sakura riang.

"Hn.."

"Soalnya kalau ke taman ria aku paling senang naik itu." lanjut Sakura bersemangat.

"Kalau begitu ayo kita naik sekarang.." Sasuke bangkit dari tempat duduknya kemudian meletakkan beberapa lembar uang di meja itu. Sasuke langsung menarik tangan Sakura keluar dari tempat itu.

"Ah, t—tunggu dulu Sasuke.." Sakura mengambil bonekanya dengan tergesa-gesa dan menggendongnya dengan satu tangan.

Duel maut yang hampir terjadi antara Neji dan Itachi pun batal dilaksanakan ketika mereka melihat kedua daik mereka keluar dari tempat itu dan nampak tengah berlari ke tempat lain. Itachi dan Neji pun langsung berlari menyusul mereka diikuti oleh Gaara dan Sasori.

"Tidak akan kubiarkan kau mengganggu kencan Sasuke." ancam Itachi sambil berlari di samping Neji.

"Aku juga tidak akan membiarkan adikmu menyentuh adikku!" balas Neji. Keduanya pun balap-balapan dan saling tidak mau mengalah seakan ada pertandingan lari saat itu. Gaara yang sudah tidak tahan lagi malah pingsan di tengah jalan—tidak sanggup lagi menyusul kecepatan mereka. Sementara Sasori malah tenggelam di tengah-tengah kerumunan orang yang makin memenuhi wahana itu.

Kembali lagi ke Sasuke dan Sakura—

"Sasuke berhenti sebentar.." Sasuke menghentikan langkahnya dan melepaskan genggamannya.

Sakura nampak mengatur langkahnya yang masih ngos-ngosan akibat diajak lari-lari dengan Sakura. Apalagi dia juga harus membawa boneka besar yang berat itu.

"Capek tahu!" rengek Sakura. Sasuke hanya mendengus. Lalu tanpa basa-basi langsung menggendong Sakura bak seorang putri plus boneka berat itu.

"Kyaaaa, apa yang kau lakukan?" jerit Sakura kaget.

"Pegangan! Aku tidak mau ada seorang pun yang mengganggu acara kita." jawabnya singkat lalu langsung berlari secepat kilat ke arah permainan komedi putar itu.

"Kami mau naik." ucap Sasuke angkuh kepada penjaga pintu komedi putar yang bengong melihat Sasuke bersama dua bawaannya itu.

"Eh—itu—iya—silahkan.." katanya kemudian membuka pintu komedi putar itu dan perlahan-lahan bianglala besar itu pun mulai berjalan.

Tidak lama setelah itu Neji dan Itachi pun sampai di depan komedi putar itu dengan nafas ngos-ngosan karena lari-larian.

"AKU MAU NAIK!" ucap mereka serempak dengan wajah super angker.

"Ma-maaf tuan-tuan, tapi tadi kereta yang terakhir." jawab petugas itu setengah ngeri.

"AKU TIDAK PEDULI! AKU MAU NAIK!" sahut mereka lagi berbarengan dan akhirnya terjadilah keributan antara kedua orang barbar itu dan petugas malang tersebut.

Kembali ke Sasuke dan Sakura—

Sasuke yang tampaknya sudah menyadari kehadiran kakak-kakak Sakura beserta kakaknya hanya bisa menghela nafas panjang ketika melihat pemandangan Neji dan Itachi yang tengah membuat keributan di bawah.

"Lihat Sasuke, langit sorenya sangat indah.." kata Sakura nampak senang sambil menunjuk langit yang berwarna orange-kemerahan itu.

Sasuke mengalihkan onyxnya ke arah langit senja saat itu. Sesaat kemudian dia melirik Sakura yang duduk di depannya. Gadis itu nampak gembira. Sasuke tersenyum lembut menatap Sakura. Lalu memainkan anak rambut gadis itu yang membuat pemiliknya menoleh.

"Sasuke?" ucapnya sedikit terkejut.

"Terima kasih ya sudah menemaniku hari ini.." kata Sasuke lembut dan menatap Sakura dalam. Wajah Sakura sedikit merona atas perlakuan lembut Sasuke kepadanya.

"Ah—i—itu tidak perlu berterima kasih. Aku kan sudah berjanji padamu." jawab Sakura seddikit gugup.

"..." Sasuke tidak menjawab. Dia malah mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.

Tidak sampai semenit kemudian, bibir mereka pun bertemu. Sakura tidak memberontak sedikit pun. Entah kenapa, kali ini dia malah menenggelamkan dirinya pada ciuman itu. Dia merasakan kelambutan dan kehangatan dalam ciuman itu. Berbeda dengan ciuman yang sebelumnya. Tanpa sadar wajah Sakura memerah. Sakura melepaskan ciumannya karena sudah tidak bisa bernafas. Tapi Sasuke kemudian menariknya lagi untuk kembali merasakan bibir mungil gadis itu.

Keduanya pun terhanyut dalam kehangatan itu. Dan senja pun kini menjadi saksi bisu betapa indahnya kisah mereka saat itu.

~TBC~

Bacotan author:

Yeay, chapter 4 kelar juga..

Gimana menurut kalian chapter ini?

Padahal lagi bulan puasa tapi akhir chapter ini malah di buat kaya' gitu.. =="
Mudah2an kagak batal dah..
#plaakk XD

Oya, untuk 3 chapter berikutnya rencananya aku pengen ngebahas tentang kakak2nya Sakura d setiap chapternya dan mungkin alurnya juga sebagian besar bakalan aku buat make' sudut pandang orang pertama tapi tetep bakalan ada SasuSakunya coq..

Kalau menurut kalian gmna?

Aku butuh pendapat kalian.. kalo banyak yang kurang suka bakalan aku ganti coq ide ceritanya.. u.u

Oya aku mau bales review untuk yang gak pake' akun dulu seperti biasa..

kithara : makasih, nie dah apdet lagi.. review please.. :D

FairyFly : ya, kamu benar sekali.. XD
ini apdet lagi.. mind to RnR again? :D

hiruma hikari : makasih, ini udah apdet lagi.. minta reviewnya lagi ya.. :D

hime hime chan : makasih.. gmna sasusakunya d chapter ini?review lagi please.. :D

miyank : makasih, gmna sasusakunya? Masih belum puaskah? XD
minta reviewnya lagi ya.. :D

Uchiha-kun: sebenarnya d fic ini aku pengen buat Sasuke karakternya mirip dengan Takishima Kei dari manga Special A.. tapi aku bakalan usahain juga biar Sasuke nya gak terlalu OOC.. kalo masalah Sakura ma Sai sebenarnya itu karena Sakura emang gak punya pengalaman dalam percintaan jadi intinya karena Sakura emang masih amat sangat polos.. XD
kalau masalah saingan Sakura, itu emang lagi d pikirkan.. jadi kutampung dulu idemu.. :D
gmna menurutmu chapter ini? Makasih atas reviewnya dan review lagi please.. :D

me: makasih, review lagi please.. :D

Khairi : makasih, aku gak mau nyium Sakura maunya nyium Neji nya aja..
#geplaakk XD
minta review nya lagi ya.. :D

Ucucubi : makasih, nih dah apdet lagi.. review again please.. :D

dedev03 : makasih, review for this chapter please.. :D

Makasih untuk review dari kalian semua..

Minta pendapat kalian untuk chapter depan n review nya juga ya untuk chapter ini..

Thanks for reading minna n review please.. :D